
Sore harinya setelah nenguras energi yang panjang menurut Mira. Padalah hanya bercerita di bawah sadar namu rasanya setelahnya lelah. Seolah ia telah berusaha menyingkirkan batu besar.
Yash, Mira, dan yang lainya pun pamit pulang. Vikram yang katanya ada urusan pun pamit pulang terlebih dahulu. Sementara Mira, Yash dan Jio pun pulang terakhir setelah cukup lama berbincang dengan Santi istri dari Jodi si dokter kandungan yang humbel dan ceria.
"Kami pamit pulang ya nona Jodi. Senang bisa berkenalan dengan anda". Ucap Mira sopan membuat Santi tersenyum senang.
"Hati-hati ya di jalan. Yash jaga baik-baik loh anak orang soalnya bukan anak kucing". Ucap Santi sedikit nyeleneh.
"Yang bilang kaya gitu siapa ?". Ucap Yash sedikit kesal. Dan santi pun hanya tersenyum bodoh.
"Jadwal terapi mu di dua hari sekali ya jangan sampai lupa. Ambil di jam pulang kerja saja minta antar kakakmu atau Yash". Ucap Jodi mengingatkan. Mira pun mengangguk patuh.
Dan mereka pun akhirnya menaiki mobil menembus jalan yang hampir petang. Jalanan menuju vila Jodi tergolong cukup seram menurut Mira. Karena dalam waktu satu jam mereka harus melewati jalanan yang rindang seperti hutan tanpa ada rumah dan penduduk membuat Mira sedikit terbayang sesuatu yang tidak-tidak. Seperti pembantaian, pesikopat, mutilasi, hantu penunggu dan yang lainnya.
Dan Ekspresi takut Mira pun tertangkap oleh Yash kala itu.
"Apa yang kau takutkan ?". Tanya Yash penasaran membuat Mira sedikit terlonjak di buatnya.
"Ti..Tidak tuan". Lirih Mira dengan menunduk.
Merasa tak percaya Yash pun lalu memandangi wajah Mira dengan intens guna membuat Mira membuka mulut.
"Sejujurnya bayangan dari film-film yang banyak darah yang pernah tak sengaja saya tonton lah yang membuat saya merasa takut tuan". Jujur Mira dengan rasa canggung.
"Film banyak darah. Seperti apa contohnya ?". Tanya Yash penasaran.
"A.. Aaaah, sudah lah tuan jangan dibahas. Saya benar-benar merasa takut sungguh" Ucap Mira mencoba menghindar.
"Vampir, Zombi, manusia setengah serigala, pesikopat humm". Ucap Yash seraya mendekat kearah Mira yang tengah ketakutan.
Mira pun langsung menutupi telinganya mencoba tidak mendengar ucapan dari Yash yang terang-terangan tengah menjahilinya.
Yash pun seketika tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi dan kekonyolan fikiran Mira. Yang alhasil membuat Jio dan sang sopir yang berada di depan pun saling pandang. Karena baru kali ini setelah sepuluh tahu Jio dapat mendengar tawa lepas Yash.
"Khau ini lucu sekali. Itu hanya sebuah film yang gunannya untuk mengasah mental. Meski pun diambil dari kisah nyata, tidak usah merasa takut dan berfikir jika aku akan seperti itu". Ucap Yash lalu menggeleng lucu dengan tersenyum.
"Bagai mana dia tahu tentang fikiranku ?". Batin Mira heran.
"Haaah, perutku rasanya sakit. karena terlalu banyak tertawa". Ucap Yash dengan kekehan lucu.
Mira. yang melihatnya pun mengerucut sebal. Dan Yash pun diam-diam memegang telapak tangan Mira lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut menggunakan ibu jari.
Dan apa yang dilakukan Yash pun sukses membuat Mira yang tadinya terdiam kesal seraya melihat lurus kedepan dengan bersandar di jok mobil pun menoleh seketika. Dan terlihatlah wajah manis Yash yang begitu dekat dengan tersenyum.
"Sorry, aku keterlaluan mentertawakanmu. Jangan marah ya". Ucap Yash dengan lembut dan tersenyum manis
Baru kali ini Mira melihat senyum tulus Yash yang begitu menawan. Karena biasanya Yash itu berwajah tegas dan dingin. Membuat Mira ikut tersenyum dan mengangguk menjawab ucapan dari Yash. Yash pun tersenyum senang dan bernafas lega. Karena entah mengapa saat melihat raut kesal Mira yang seperti tadi membuat Yash merasa resah dan gelisah. Seakan tak ingin jika Mira marah padanya dan mendiaminya begitu saja.
"Bagaimana perasaanmu setelah berkonsultasi dengan Jodi ?". Tanya Yash masih dengan menggenggam lembut tangan Mira.
"Saya rasa, menjadi lebih baik tuan. Seperti batu besar yang menindihku hilang dan saya pun merasa bebas". Jawab Mira dengan lembut.
Yash pun merasa bersyukur dan senang. Setidaknya tindakannya itu membuahkan hasil baik. Mira adalah kesayangan semua orang. Ia juga menjadi perhatian penuh oleh ayahnya. Jika ayahnya tahu tentang masalah ini. Pasti ayahnya akan bertindak jauh dan ikut campur dalam masalah ini. Dan Yash tak ingin itu terjadi. Biarlah ia dan orang-orang yang mendukung Mira lah yang bertindak. Sekaligus memberi rasa puas bagi Mira nantinya karena dapat memberi pelajaran untuk si tua bangka ambisius itu.
"Biar aku yang mengantarmu untuk konsultasi rutin besok. Dimana ponselmu ?". Tanya Yash santai.
Mira pun langsung mengambilnya dari tas gendong miliknya dan menunjukannya kepada Yash.
"Ini tuan, kenapa ya ?". Tanya Mira bingung.
Yash pun lalu mengambilnya dan langsung mengorak-atiknya. Setelah selesai ia pun menyerahkannya kepada Mira.
"Aku sudah menyimpan nomor telfon ku di ponsel mu. Dan nomormu juga sudah ku simpan". Ucap Yash seraya nenunjuk ponselnya iphon 12 yang layarnya bertuliskan nama Miranda Nur beserta nomor ponselnya.
Mira pun melihat layar ponselnya dan tersenyum begitu melihat layar ponsel yang terdapat tulisan Tuan Yash tampan beserta nomor telfonnya.
"Baik lah". Ucap Mira dengan tersenyum.
"Mira...". Panggil Yash kepada Mira seraya melihat serius ke wajah Mira.
"Ya tuan ?". Tanya Mira dengan raut bertanya.
"Kau cantik bila tersenyum. Setelah ini jangan biarkan senyumu hilang. Karena akan ada banyak orang yang bersedih bila senyum mu hilang". Ungkap Yash tanpa sadar dan merasa terkejut sendiri akan perkataanya.
Sedangkan Mira yang mendengarnya pun hanya mampu terdiam. Dirinya merasa senang, bingung, lucu dan aneh dalam waktu yang bersamaan dan jantungnya pun terasa ingin melompat membuatnya merasa sulit untuk bernafas juga perutnya seolah-olah terdapat ribuan kupu-kupu yang menggelitik. Rasanya sungguh aneh namun sangat menyenangkan.
Dan mereka berdua pun menjadi saling diam setelahnya. Seperti ada rasa malu tersendiri di antara keduanya. Dan sungguh bagi Yash ini seperti terlalu kekanakan. Mengapa dirinya bisa menjadi seperti tadi. Menyebut seorang wanita dengan sebutan cantik saat tersenyum dan memintanya untuk tidak menghilangkan senyuman itu.
"Ekhem...Kamu nanti dianternya sampai rumah ya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mu". Ucap Yash dan lagi-lagi ia merasa bahwa mulutnya memang tidak pernah sejalan dengan fikirannya.
Niat hati ingin mencairkan suasana lewat topik lain malah berujung dengan kata-kata yang menggelikan menurut Yash.
"Dasar mulut sialan". Geram Yash merasa kesal sekaligus bingung.
"Tapi tuan. Bagaimana dengan sepada motor saya. Dan jika tidak saya ambil, bagaimana besok saya akan berangkat bekerja ?". Tanya Mira bingung membuat Yash sedikit terdiam.
Maaf menyela tuan mudan dan nona Mira". Ucap Jio sedikit menoleh membuat Yadh langsung tersadar penuh.
"Aiiss sial. Kenapa aku lupa jika ada Jio dan supir pribadiku. Perkataanku...Sikapku..Mati aku. Siaal...Sial...Sial...". Batin Yash merasa kecolongan.
"Sepeda motor anda sudah diantar oleh keempat teman kerja anda. Dan mereka pun sudah memberi tahu tuan Royan akan keberadaan anda. Saya juga sudah menjelaskan dimana nona berada dan dengan siapa nona pergi. Tuan Royan hanya menitipkan salam kepada tuan muda serta nona Mira agar tidak pulang terlalu larut. Juga saya menyampaikan pesan dari keempat teman kerja nona Mira atas ucapan terima kadi karena tuan muda sudah membayari makan siang mereka".
Lapor Jio panjang lebar dengan sopan dan sedikit tersenyum penuh arti seraya melihat kearah Yash dan Mira secara bergantian. Yash pun hanya mengangguk ringan dan mendelik tajam saat tahu jika Jio tengah melihatnya dan Mira dengan senyuman penuh arti. Membuat Jio langsung bergegas menghadap ke depan.
"Hhhhh syukur lah". Ucap Mira merasa lega dan tenang.
"Jio setelah jalan ini carikan sebuah tempat makan untuk ku dan Mira makan malam. Dia memiliki riwayat sakit magh. Tak baik jika sampai telat makan". Ucap Yash memberi tahu.
"Baik tuan". Ucap Jio dengan sopan.
"Dari mana anda tahu tentang riwayat sakit saya tuan ?". Tanya Mira penasaran membuat Yash menoleh melihat kearah Mira dengan tatapan lembut.
"Dirumah sakit aku tak sengaja mendengarnya". Jawab Yash santai.
Mira pun mengangguk mengerti dan tersenyum tulus seraya berkata.
"Terima kasih tuan, anda sangat baik". Ucap Mira dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Itu sudah menjadi tanggung jaeabku. Kau sedang bersamaku maka sudah mrnjadi tugasku untuk menjagamu". Ucap Yash seraya tersenyum tipis.
Saat sudah berada di jalan raya yang ramai lancar dan begitu banyak ruko serta rumah dan gemerlap lampu kota yang terang. Mira pun merasa tidak semenakutkan saat melewati jalan yang gelap gulita hanya lampu jalan di beberapa meter saja yang menerangi. Serta kanan kiri jalan yang hanya terdapat pepohonan rindang membuat Mira selalu berfikir yang tidak-tidak dan merasa tak nyaman.
Saat tengah berada di kemacetan akibat ada beberapa buah truk besar yang hendak menyebrang. Tak sengaja Mira melihat ke arah pedagang kaki lima yang tengah berjualan beragam macam sate. Tidak hanya daging sapi, kambing dan ayam saja. Tapi ada sate usus, jamur, ati ampela, sate lilit, sate cumi, udang, sosis banyak macamnya. Membuat Mira sedikit menelan ludah di buatnya.
Yash yang sedari tadi memperhatikannya pun mulai mengerti akan keinginan Mira yang sepertinya sangat ingin menikmati beragam macam sate itu.
"Kau ingin sate itu ?". Tanya Yash to the poin.
Mira yang mendengarnya pun seketika menoleh dan berfikir sejenak.
"Jika aku iya kan, apa tuan muda Yash mau makan di pinggiran gitu. Tapi jika tidak rasanya perutku sangat lapar". Batin Mira merasa bimbang.
"Iya atau tidak ?". Tanya Yash sedikit tegas membuat Mira langsung mengangguk dengan raut muka lucu. Membuat Yash sedikit merasa bersalah akan pertanyaanya yang sedikit tegas.
"Tepikan mobilnya Jio. Aku ingin makan malam di warung sate itu". Perintah Yash seraya menunjuk sebuah tempat pedagang sate yang bertuliskan Warung Sate Campur.
"Baik tuan". Ucap Jio dan langsung mengangguk kearah sang sopir. Dan sang sopir pun langsung membelokan mobil itu dengan hati-hati.
Setelah mobil itu terparkir dengan baik. Jio pun bergegas turun dan berdiri di pintu tengah mobil seraya menunggu pintu mobil yang terbuka otomatis. Setelah itu Yash dan Mira pun turun dan langsung berjalan kearah warung sate.
Sesampainya disana ternyata warung itu tidak seperti yang Mira bayangka. Ia fikir hanya ada bangku kayu meja kayu dan sebagainya layaknya di kaki lima lainnya. Dan ternyata pada saat masuk kedalam. Ruangan dan tempat makannya rapih, bersih, dan tertata dengan apik. Bangunannya pun seperti bangunan rumah makan moderen.
Mira pun duduk di meja nomor tiga di pojok sementara Yash duduk di sebelah Mira. Sedangkan Jio dan sang sopir ikut duduk dan memesan namun tidak satu meja dengan Yash dan Mira.
"Selamat malam mas, mba. Mau pesan sate apa ?". Tanya sang pelayan cantik dengan ramah.
"Semua macam sate yang ada disini". Ucap Yash dingin tanpa senyuman apa lagi melihat kearah sang pelayan.
"Baik, emm kalau minumnya ?". Tanya sang pelayan lagi.
Yash yang bingung pun melihat kearah Mira meminta Mira untuk memesan minum yang ia inginkan dan Mira pun menjawab.
"Es teh saja ya mba dua tapi minta yang jumbo ya". Ucap Mira dengan tersenyum. Membuat sang pelayan balik senyum dengan ramah.
"Ok ditunggu ya mba. Permisi". Pamit sang pelayan dengan sopan.
"Untung mbaknya cantik plus ramah. Ngga kaya masnya. Lurus kaya jalan tol". Batin sang pelayan dengan sedikit kesal akan sikap Yash.
"Kenapa pesan satenya banyak sekali tuan. Jika tidak habis bagaimana ?". Tanya Mira merasa bingung.
"Bungkus saja, buat kakak mu sama keponakanmu". Ucap Yash santai.
"Lagian tempat ini juga engga jauh dari tempat tinggalmu". Ucap Yash lagi membuat Mira langsung diam tak berkata.
"Emm tuan Yash". Ucap Mira mencoba berbicara.
Yash yang sedari tafi diam seraya melihat kearah abang-abang yang tengah membakar sate pun langsung menengok kearah Mira dengan tatapan tanya.
"Maaf jika tadi siang saya sudah lancang membentak tuan dan tidak sopan kepada tuan muda Yash". Ucap Mira merasa tak enak dan sekaligus bersalah.
"Tak masalah bagiku. Aku cukup mengerti dengan perasaanmu tadi siang. Tak ada yang bisa menerima jika dirinya dibawa ke pesikiater. Pasti banyak yang memiliki fikiran seperti mu. Jika aku berada di posisimu. Mungkin aku juga akan melakukan hal itu dan berfikiran demikian". Ucap Yash dengan dantai.
"Terima kasih tuan atas pengertiannya". Ungkap Mira dengan perasaan lega.
"Silahkan di nikmati ya mba mas. Semoga kalian puas dan berkesan. Kami permisi".Ucap sang pelayan dan lalu pergi dengan sopan.
Tak jarang banyak pasang mata yang mencuri pandang kearah Yash dan Mira yang tengah bersantap seraya mengobrol. Banyak yang berfikir jika ada bidadari dan pangeran yang tengah makan malam bersama di kaki lima. Karena Yash lupa tidak memakai topinya. Sementara Jio dan sang sopir memakai topi guna menutupi wajah mereka dari pandangan orang-orang.
"Ahh memang benar ya. kalau orang yang tengah jatuh cinta itu suka lupa daratan sama lautan. Lihat saja besok pasti berita anda dan nona Mira akan viral. Dan sudah pasti aku yang repot" Batin Jio seraya memakan makanannya.
"Tuan Yash cocok ya tuan dengan nona Mira. Semoga saja mereka berjodoh". Ucap sang sopir dengan tulus membuat Jio tersenyum dan berharap sama.
"Amin". Ucap Jio mengamini.
"Nyonya Cinthiya, nyonya Rianthi apa kalian juga mensetujui mereka. Jika ya tolong hadir lah ke dalam mimpi saya dan berikan saya senyuman kalian. Jika itu benar-benar terjadi saya akan mati-matian untuk mempersatukan mereka dan saya akan selalu menjaga nona Mira denga nyawa saya untuk tuan muda Yash". Batin Jio dengan penuh tekad.
Namun seolah menjawab batin Jio. Dari meja belakang nomor empat terlihatlah dengan jelas di mata Jio bahwa kedua nyonyanya hadir menggunakan gaun putih dan tersenyum sangat manis kearah Jio. Membuat Jio seketika mematung dan tak percaya. Ia pun sanpai menampar pipinya dengan kuat dan merasa sangat sakit sanpai pipinya memerah.
Sang sopir yang melihatnya pun menatap horor kearah Jio yang menjadi aneh dengan menampar sendiri pipinya dengan kuat. Pandangan Jio pun seolah tengah melihat hantu membuat sang sopir pun ikut melihat kearah yang Jio lihat. Namun tidak ada siapapun di sana. Hanya ada meja dan kursi kosong.
"Tuan Jio. Anda kenapa ?". Tanya sang sopir seraya melambai kearah Jio.
"Nyo...Nyonya...Mereka ada. Mereka tersenyum". Ucap Jio yang merasa tak percaya.
"Nyonya siapa tuan. Tak ada siapa pun di sana. Atau anda melihat nyonya Yasmine kah ?". Tanya sang sopir semakin penasaran. Membuat Jio langsung melihat kearah sang sopir dengan tatapan heran..
"Jadi yang bisa melihatnya hanya aku. Jadi ini nyata. Kedua Nyonya besar ku hadir menjawab pertanyaanku langsung. Mereka tidak datang di mimpi. mereka juga mendukung ku yang ingin mempersatukan tuan Yash dengan nona Mira". Batin Jio merasa senang luar biasa.
"Ekhm...Tidak. Lupakan saja. Tadi saya hanya berhalusinasi". Ucap Jio mencoba bersikap biasa membuat sang sopir menggeleng lucu lalu memakan kembali makanannya.
Jio pun melirik kembali kearah tempat dimana kedua nyonyanya berada dan nereka pun masih berada disana dengan kondisi tubuh yang terlihat samar membuat Jio langsung mengerti dan tersenyum.
"Terimakasih nyonya. Anda berdua telah menjawab batin saya. Entah itu karena halusinasi saya atau tidak. Namun saya tetap akan menepati janji batin saya. Tenang lah dan damailah kalian disana". Batin Jio seraya memejam dan membukanya kembali dan dua wanita itu pun telah menghilang penuh.
Terakhir yang Jio lihat bahwa keduanya mengangguk dengan tersenyum senang lalu melambaikan tangan dan hilang.
Setelah setengah jam kemudian berbagai macam sate yang telah di pesan Yash pun ludes tak tersisa di lahap oleh Yash dan Mira tanpa ampun. Mereka berdua pun tak menyangka akan sanggup menghabiskan semuanya.
"Apa kau sudah kenyang atau masih mau pesan lagi ?". Tanya Yash mencoba memastikan
"Emmmh tidak tuan. Saya sudah sangat kenyang sekali". Ucap Mira dengan tersenyum bodoh.
"Tunggu disini. Aku mau membayar dulu dan berbicara sebentar dengan Jio". Titah Yash kepada Mira dan Mura,pun mengangguk.
Yash pun lalu mendekat kearah sang penjual dengan tersenyum ramah.
"Berapa pak semuanya. Sekalian pesanan di meja nomor satu ya. Mereka teman saya soalnya". Ucap Yadh kepada sang penjual.
"Satenya 18 ya sama meja nomor satu. Satu porsinya 15 ribu, Nasinya empat 20 ribu, es tehnya empat yang jumbo satunya 6 ribu jadi 24 ribu, totalnya jadi 314 ribu mas". Ucap sang pedagang lelaki.
"Minta dibungkus 15 ya mang sambal bumbu pisah ya buat orang rumah soalnya. Satenya yang daging kambing 3, sapi 3, ayam 3, sisanya sosis 2, cumi 1, udang 1, usus 1, ati ampela 1 ya. Terus nanti di pisah yang sepuluh bungkus isi sate kambing, sapi, ayam, sosis, udang, cumi sama usus ati ampela. Yang lima bungkus sate kambing, sapi sama ayam ya mang. Pisah bungkusnya ya mang". Ucap Yas panjang lebar membuat si pedagang pun menulis di kertas agar tidak lupa.
"Iya siap Mas di tunggu ya". Ucap si penjual dengan ramah.
"Ini bayar dulu mang jadi totalnya berapa ?". Tanya Yash memastikan.
__ADS_1
"Oh jadi 314 sama tadi masnya pesan lagi 15 porsi lagi jadi 150. Jadi toralnya 464 mas". Ucap sang penjual.Yash pun mengambil uang pecahan limaratus ribu dan menyerahkannya ke penjual.
"Ambil saja kembaliannya mang. Satenya enak saya suka dan merasa puas". Ucap Yash ramah membuat si penjual pun tersenyum senang.
"Terima kasih mas. Ditunggu dulu ya mas. Saya akan buatkan". Ucap sang penjual dengan senang.
Yash pun mengangguk dan lalu berjalan menuju Jio dan berbincang sejenak mengenai pekerjaan dan jadwal kerjanya besok.
Setengah jam kemudian pesanan Yash pun jadi dan lalu si penjual pun menyerahkanya je meja yang Yash tempati.
"Mas ini sudah saya bungkuskan semua sesuai pesanannya". Ucap si penjual.
"Ok makasih mang". Ucap Yash santai membuat Jio dan sang sopir mengernyit heran.
"Ini buat di bagi kan ke pekerja lain di rumah". Ucap Yash kepada Jio dan berlalu pergi menuju meja yang di duduki Mira seraya nembawa bungkusan besar.
Sadar jika ada yang nendekat. Mira yang tengah bermain hago di ponselnya pun mendongak dasn tersenyum saat yang menghampirinya adalah Yash.
"Untuk kakak dan keponakanmu". Ucap Yash seraya menyerahkan bungkus besar sate.
Mira pun tertegum melihatnya. Sebab yang Yash berikan terlalu banyak dan di rumah hanya,ada lima orang termasuk dirinya saja.
"Ini...banyak sekali tuan ?". Tanya Mira heran.
"Emmm di bagi dua saja ya. Untuk raina dan tuan besar juga yang lainnya. Kalau untuk saya semua terlalu banyak tuan maaf". Ucap Mira merasa tak enak.
Yash pun seketika tersenyum saat mendengar Mira yang memikirkan adiknya dan ayahnya serta ingin membagikan makanan itu.
"Yaah sudah atur saja". Ucap Yash pasrah. Mira pun langsung membukanya dan menghitung.
"Jumlahnya 17 tuan ada sate apa aja ?". Tanya Mira.
"Semua yang yang tadi kita pesan. sate udang, cumi, usus ati ampelanya buat kamu saja Raina tidak suka begitu juga ayah ku. Ada sosi juga 2. selebihnya sate kambing, sapi dan ayam". Jelas Yash.
Mirapun lalu mengambil dua sate ayam karena ingat jika Ayub dan Lili sangat suka ayam. Dua sate kambing karena kak May dan kak Roy pasti suka. dan satu sate sapi untuknya jika ingin makan lagi.
"Udah tuan ini saja". Ucap Mira.
"Itu udang, cumi, sosis, ati, ampelanya, sama jamurnya gimana ?". Tanya Yash lagi.
"Tuan kan suka udang dan cumi, sosisnya untuk Raina saja. Ini sudah terlalu banyak tuan". Ucam Mira menolak dengan lembut.
"Ya sudah aku bawa kerumah saja. Ayok pulang". Ajak Yash kepada Mira,dan di balasi anggukan oleh Mira.
Mereka pun akhirnya berada di dalam mobil. Karena kekenyangan Mira pun akhirnya mengantuk dan terlelap tidur dengan bersandar pada kaca mobil. Namun saat mobil itu melewati tikungan tajam tubuh Mira pun tak sengaja terhempas kearah samping dan menubruk pundak Yash yang kala itu dengah mengecek pekerjaan pada layar laptoonya.
Menyadari jika Mira bersandar pada pundak kirinya. Yash pun menoleh dan mendapati Mira sudah terlelap pulas di pundaknya. Ia pun lalu tersenyum gemas. Dan mengusap rambut wangi Mira dengan lembut lalu melanjutkan pekerjaaanya lagi.
Sesampainya di kediaman kakak ipar Mira. Yash dengan hati-hati pun menggendong tubuh Mira diikuti dengan Jio yang membawa bungkusan sate seraya memencet bell rumah.
Dan tak berapa lama kemudian muncul lah Royan dan Mayya dari balik pintu dengan raut sedikit khaeatir.
"Kenapa dengan Mira tuan ?". Tanya Mayya khawatir.
"Hanya tertidur, karena kekenyangan. Kami habis makan malam soalnya". Ucap Yash yang madih setia menggendong Mira.
"Mari masuk tuan, tolong yah antarkan Mira ke kamarnya. Biar istri saya siapkan minum dulu". Ucap Royan dengan ramah.
Yash pun lalu berjalan kedalam menuju kekamar Mira yang berada di lantai dua dan membaringkannya dengan lembut diatas tempat tidur. Ia pun menyelimuti tubuh Mira dan mengatur suhu ruangan agar terasa nyaman. Setelah itu ia pun nengusap kepala Mira dengan lembut dan meninggalkannya.
"Cuma kamu yang sanggup membuatku mau direpotkan. Mimpi indah...Mira". Batin Yash merasa
Yash pun lalu turun kelantai satu dan duduk di kursi bersama Jio dan Royan. Setelah itu Mayya pun datang seraya membawa nampan berisikan tiga cangkir teh hangat.
"Silahkan di minum tuan". Ucap Mayya dan lalu duduk di samping Royan sang suami.Yash dan Jio pun langsung neminum teh hangat buatan Mayya dengan santai.
"Saya membelikan beberapa bungkus sate untuk nona Mayya dan yang lainnya. Mohon di terima". Ucap Yash dengan sopan setelah meneguk beberapa teguk teh manis hangat di tenggorokannya.
"Terimakasih tuan sudah repit-repot". Ucap Mayya dengan ramah lalu menerima bungkusan sate.
"Kalian tentu sudah mendengar semua yang Mira ceritakan tadi siang pada dokter Jodi kan. Apa itu sesuai dengan yang Zoe ucapkan ?". Tanya Yash memastikan.
"Sesuai tuan, Zoe juga mengatakan hal demikian". Ucap Royan membenarkan.
"Baguslah". Ucap Yash dengan puas.
"Ada satu hal lagi yang perlu kalian ketahui. Temanku Vikram juga memiliki dendam yang sama kepada Fredi. Ia ingin Mira ikut bekerja sama untuk rencanannya. Saya harap kalian setuju". Ucap Yash memberi tahu.
"Asal anda bisa menjamin keselamatan Mira. Saya tidak ada masalah untuk itu". Ucap Royan santai dan diangguki setuju oleh Mayya.
"Tentu. Mira adalah tanggung jawabku". Ucap Yash meyakinkan membuat Royan dan Mayya pun mengangguk mengerti.
"Ok kalau begitu sudah malam saya permisi pulang dulu". Pamit Yash seraya berdiri.
"Terimakasih tuan atas bantuannya". Ucap Royan seraya berdiri dan menjabat tanggan Yash.
Yash pun hanya mengangguk dan melepas jabatan tangannya lalu berjalan keluar memasuki mobilnya dan berjalan menembus keramaian jalan.
Setelah sampai di rumah besar ia pun mendapati ayahnya, Raina, Jadson dan kedua adik kembarnya,Attala dan Artaniel tengah berkumpul di ruang keluarga tanpa,adanya dua tua bsngka dan satu penyihir jahat.
"Kakak". Sapa Raina yang tengah duduk manja di samping sang ayah.Yash pun berjalan mendekat dan menaruh bungkusan sate di atas meja.
"Wiiihh bau-baunya enak nih". Ucap Jasson dengan mata berbinar.
"Buka saja. Sengaja ko beli buat kalian. Rain panggil bibi buat siapin piring dan minum". Ucap Yash memetintah.
"Siap kak..Asyiik makan-makan". Seru Raina seraya berjalan kedapur memanggil sang bibi sesuai permintaan sang kakak.
Jonathan yang sudah tahu pun tidak merasa heran sebab semua informasi mengenai Yash dan Mira serta kesehariannya pun sudah ia ketahui. Maka tak heran jika putra sulungnya kini lebih banyak berubah.
Begitupun denga ketiga adik lelakinya juga Raina Karena seja mereka dengar jika ada gadis yang bernama Miranda masuk ke kehidupan Yash dan Raina. Semuanya menjadi berubah. Kakanya sudah sedikit menjauh dari Raina dan tidak bucin lagi kepadanya. Dan lagi seperti sekarang ini. Yash yang biasanya pulang dengasn tangan kosong dan terkadang mabuk pun menjadi berubah. Pulang dengan wajah fres serta buah tangan pula. Membuat Jonathan dan keempat anakknya merasa senang.
Dan akhirnya mereka pun makan makanan mereka denga khidmat dan bersendau gurau seperti tak ada beban dan masalah di kehidupan mereka. Sunggu malam yang seperti ni lah yang Jonathan inginkan.
Miranda Nur.....
__ADS_1