Luluh

Luluh
Episode 13


__ADS_3

Dua hari kemudian Mira yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya di bantu oleh suster jaga yang menyuapinya sebab tangan kanan yang terkena luka tembak masih belum diperbolehkan untuk bergerak dulu.


Tak lama setelah Mira menyelesaikan sarapan paginya dan meminum obatnya. Mayya dan sang suami pun datang memasuki ruangan.


Mayya pun langsung berlari dan memeluk Mira dengan sayang.


"Miraaaa....Syukurlah kau sudah sadar. Kaka seneng banget". Ucap Mayya dengan nada senang.


"Iya ka, tapi ngmong-ngomong berat nih kak. Bisa lepasin pelukannya". Ucap Mira dengan jujur.


"Terus saja May, siksa saja terus Mira". Ucap Royan seraya duduk di sisi ranjang pasien menghadap kearah Mira.


Mayya yang mendengar eluhan dan sindirina dari adik dan suaminya pun langsung melepas pelukan eranya dan memberengut lucu seraya duduk di kursu dekat ranjang pasien.


"Kalian tuh..." Sungut Mayya dengan lucunya.


Royan pun tidak memperdulikan sungutan sang istri justru ia fokus pada bibir sang istri yang terlihat menggemaskan baginya. Dan hal itu pun sukses membuat Mira tersenyum lucu. Kakak iparnya itu memang benar-bener menggilai kakak perempuannya. .


"Maaf ya Ra, belakangan ini kakak sama mas Roy jarang banget nemenim kamu di rumah sakit. Bahkan saat keritis pun kakak tidak selalu menemani mu". Ucap Mayya dengan raut bersalahnya. Sementara Mira menanggapinya dengan tersenyum.


"Ayub masuk rumah sakit Ra. Lili pun juga". Ucap Royan memberi tahu Mira.


"Kenapa...?".Tanya Mira sedikit terkejut.


"Lili terkena diare sementara Ayub terkena DBD. Kondisinya sih sudah membaik semua. Tinggal nunggu kapan dibolehin pulang sama dokternya". Ucap Mayya.


"Syukur lah kalau begitu. Sampaikan salam ku buat mereka ya kak. Ucapin maaf karna tantenya belum bisa jenguk". Ucap Mira menitiokan salam.


"Mereka belom tahu kondisimu Ra. Mungkin nanti setelah mereka sembuh bakalan kakak kasih tahu". Ucap Mayya.


"Mereka juga sering tanyain kamu Ra. Tapi kakak jawab kalau kamu lagi ada kerja jauh belum bisa pulang". Ucap Royan.


"Lagian kok bisa sih mereka terkena diare sama DBD. Perasaan pas ditinggal baik-baik saja". Ucap Mira merasa heran sekaligus khawatir.


"Iya itu ditempat neneknya waktu acara keluarga kan kakak sma mas Roy ngga ikut. Kita lagi panik-paniknya dengan keadaan kamu. Eeeh malah denger dari Zoya kalau Ayub main bola di pekarangan bareng anak-anak lain sama Lili ikut-ikutan makan rujak nanas pula. Tahu sendiri kan musim hujan tempatnya mamih kan lembab belom lagi Lili ngga bisa makan pedes di tambah nanas udah lah muncrut jadinya ngga berhenti-henti". Ucap Mayya menceritakan sebab musababnya..


"Kesel kakak tuh sama Zoya. Seengganya kalau ngga bisa negur Ayub ya kasih pengertian lah sama Lili. Apa yang boleh dan tidak boleh ia makan. Sebel udah gede masih aja kaya anak kecil". Gerutu Mayya merasa kesal.


"Keponakan kamu tuh Mas selalu banget bikin gara-gara. Kekanakan". Sungut Mayya kepada sang suami.


"Tau tuh paman Zian bikinnya kaya gimana sampe dapet anak modelnya kaya Zoya". Ucap Royan merasa heran. Membuat Mira langsung tertawa lucu dan Mayya memukul pelan lengan sang suami.


"Emmm Mira, apa tuan muda Yash selalu menungguimu di sini ?". Tanya Mayya dengan serius.


"Tuan muda Yash ?". Ucap Mira merasa bingung.


Mayya pun mengangguk menanggapi pertanyaan bingung dari Mira. Sementara Mira pun bingung harus menjawab apa.


"Kakak dua hari lalu meminta tolong kepada tuan muda Yash. Saat itu dia menelfon kakak menanyakan keberadaan kakak yang tidak menemanimu saat kamu sedang keritis".Ucap Mayya memberitahu.


"Jadi, yang ku lihat dua hari lalu itu benar. Saat aku sadar orang yang pertama kali kulihat itu benar-benar tuan muda Yash". Batin Mira berucap.


"Emmm ya ka, dia menjaga ku dengan baik". Ucap Mira lalu tersenyum pasti.


"Syukurlah...". Ucap Mayya dengan senang.


..."Lalu jika aku di rumah sakit ini dan terluka seperti ini. Bagaimana dengan pekerjaanku. Apa mungkin aku dikeluarkan ya dari tempat kerjaku. Mengingat bahwa sudah beberapa hari ini aku tak masuk kerja". Batin Mira merasa cemas akan nasib pekerjaannya....


Mayya dan Royan yang sedari tadi melihat Mira yang tengah melamun pun memutuskan untuk bertanya tentang apa yang tengah Mira fikirkan.


"Kenapa Ra ?". Tanya Mayya dengan lembut dan menggenggam tangan sang adik.


"Pekerjaan ku....Aku sudah tidak masuk kerja beberapa hari. Madam Ghin pasti sangat kecewa". Ucap Mira terus terang dengan fikirannya.


Mayya yang mendengarnya pun menghela dengan rasa terkesannya kepada sang adik akan fikirannya itu.


"Kamu itu baru sembuh Ra, jangan fikirkan tentang itu dulu. Fikirkan lah kesembuhanmu. Masalah pekerjaan, jika memang madam itu tidak bisa memaklumi keadaanmu biarkan saja. Toh pekerjaan kan banyak engga cuma disana doang kan ". Ucap Mayya menasehati.


"Tapi aku sudah nyaman disana kak. Para pekerjanya baik-baik aku seperti memiliki keluarga keduaku disana". Lirih Mira dengan rasa sedihnya.


Mayya pun hanya diam seribu bahasa mendengar alasan dari sang adik. Bagaimanapun seorang Mira jika sudah merasa nyaman akan satu hal pasti selalu di pertahankan. Ia pasti akan tetap berada dizona nyamannya. Apalagi Mayya juga menyaksikan sendiri bagaimana perhatiannya teman-teman kerja Mira terhadap adiknya itu.


"Aku sudah meminta izin tidak masuk kerjamu kepada pemilik tempatmu bekerja". Ucap Royan dengan santai.


Mendengar perkataan dari Royan. Mira dan Mayya pun melihat kearah Royan dengan ekspresi terkejutnya.


"Kamu menemui Madam itu Mas ?". Tanya Mayya sedikit cemburu.


"Engga lah. Buat apa juga". Ucap Royan dengan kalemnya.


"Kan pemilik dari butik itu Madam Ghina Kak". Ucap Mira merasa sedikit aneh.


"Ya memang, pemiliknya bernama Ghina. Tapi yang seponsorin, mendanai dan membiayai kan tuan Kusuma Atmaja. Jadi ya mumpung di dalam butik itu ada suaminya kakak masuk saja sambil meminta ijin dengan baik. Kakak jelasin kaka beri bukti dan...Ya sudaah...Mereka memberi mu izin cuti kerja sampai kamu sembuh".


Jelas Royan panjang lebar membuat Mayya ternganga di tempat dan Mira tersenyum bangga kepada Royan.


Memang sedari dulu Namanya Royan Rahardian itu the best untuk Mayya dan Mira. Sikapnya yang tenang dan ide serta strategi yang bagus yang ia miliki selalu sukses membawanya pada kesuksesan.


"Ko kamu bisa punya ide serta waktu yang tepat sih Mas ?". Tanya Mayya sedikit heran.


"Engga sengaja sayang. Awalnya juga Mas males kalau nemuin pemilik butik itu sendirian. Apa lagi mendengar rumor kalau dia juga sugar momy. Mas nunggu lama di mobil buat nimbang-nimbang dan kebetulan saat itu tuan Kusuma Atmaja datang. Jadi yaah sudah, mas jadi lah masuk kedalam buat memintai izin". Ucap Royan.


"Syukur lah, terima kasih ya kak". Ucap Mira dengan tulus.


Royan pun hanya mengangguk senang menerima ucapan tulus dari sang adik ipar.


"Sudah siang nih Ra. Kakak sama Mas Royan pergi dulu ya. Mau ngurusin Ayub sama Lili. Gantian juga sama Mamih kasihan udah nungguin dari pagi".Ucap Mayya memberi penjelasan.


"Iya kak, salam ya buat Mamih, Ayub, Lili, sama semua yang ada disana". Ucap Mira.


"Iya nanti kakak sampaikan. Nanti juga Marko bakalan kesini katanya. Bilang sama kakak ya kalau dia sampai berani nelantarin kamu". Ucap Mayya sedikit kesal.


Mira pun hanya tersenyum maklum atas perkataan kakaknya itu.


Setelah mencium kedua pipi Mira dengan penuh kasih sayang. Mayya pun keluar ruangan bersama Royan menuju kerumah sakit dekat rumah mereka untuk merawat juga menemani kedua anak mereka.


Dan kembali Mira pun merasa sendiri disana. Tempat yang sepi dan terasa asing serta bau obat-obatan yang terkadang membuat Mira tak tahan.


Beruntung disana tersedia telivisi yang menemaninyya sehingga Mira pun dapat menonton serial drama bollywood kesukaannya sembari beristirahat siang.


Tiga puluh menit Mira menonton ia pun merasakan panggilan alam pada tubuhnya. Karena seorang Mira sangat sulit untuk bisa menahannya dan selang kencingnnya pun telah di cabut jadilah ia dengan segera mencoba berdiri dari ranjang ke lantai rumah sakit lalu berjalan pelan seraya menikmati lagu bollywood yang tengah diputar di drama yang ia tonton.


Namun naas saat Mira berjalan hampir mendekati kamar mandi ia pun terpleset hendak membentur lantai jika saja tidak ada tangan seseorang yang menyelamatkannya.


Dengan posisi setengah khayang dan mata terpejam takut Mira pun sadar dengan kondisi rubuhnya yang tidak merasa terjatuh dan sakit. Ia pun mulai membuka matanya perlahan dan saat kedua matanya terbuka secara sempurna pada saat itu juga ia melihat seorang Aryasha Leonard tengah berhadapan dengannya seraya menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Tangan kiri melingkar di punggung sampai bawah pundak tangan kiri Mira sementara tangan kanan Yash melingkari pinggang Mira dengan erat.


Di tambah dengan lagu bollywood yang sialnya entah sejak kapan berbunyi pada televisi rumah sakit.


Mereka pun akhirnya saling pandang menikmati ketertarikan masing-masing. Yash yang kala itu berbalut kemeja putih gading dan celana bahan coklat serta tatanan rambut yang rapi menambah kesan apik dipandang oleh Mira.Belum lagi wangi mint segar yang menguar di tubuh Yash membuat Mira semakin menyelam kedunia khayal.


"Alis yang tebal, mata yang tajam, hidung yang runcing daann....Bibir yang seksi sedikit tebal. Ohhh mengapa sang tuan muda sesempurna ini". Batin Mira berucap seraya terus memandangi muka Yash.


Yash yang kala itu pun memandang wajah Mira yang mulai segar alami itu pun merasa terpaku dengan tatapan tenangnya jugaa...Bibir ranum Mira yang kemerahan.


Saat Mira tersadar akan keterpakuannya serta lagu bollywood yang hampir habis terputar ia pun langsung berdehem ringan dan mencoba untuk sedikit menjauh dari pelukan Yash. Namun usahanya gagal sebab beban tubuh dan pelukan Yash yang teramat kuat membuat Mira tak bisa menjauh.


Akhirnya Mira pun menyerah dan sedikit menepuk dada sang tuan muda seraya berkata "Tuan muda". Ucap Mira sedikit canggung.


Yash yang mulai tersadar dan terkejut itu pun langsung menormalkan air mukanya dan berkata.


"Berhati-hati lah, Kau hampir saja terjatuh tadi". Ucap Yash dengan nada dinginnya.


Mira pun hanya mengangguk malu dan mulai berjalan kembali. Namun pada langkah kedua Yash kembali menarik siku Mira dengan lembut membuat Mira sedikit kesal dan berbalik kearah Yash.


"Kau tidak istirah. Mau kemana ?". Tanya Yash.


Mira pun menjadi antara bingung dan malu untuk mengatakan tujuannya sementara panggilan alamnya sedari tadi sudah ingin keluar. Akhirnya tanpa diduga ia pun berbalik dan berlari kekamar mandi tanpa berbicara dan membanting pinntu dengan kuat membuat Yash setengah terkejut dan tersenyum saat tahu tujuan Mira.


Ia pun mulai berjalan mendekati pintu dan berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding dekat pintu kamar mandi dengan menyilangkan tangannya di dada menunggui Mira menyelesaikan tugasnya.


Saat Mira keluar dengan perlahan dan menutup pintu ia pun terkejut melihat sang tuan muda yang berdiri menungguinya disana.


"Sudah ?".


Tanya Yash dengan suara beratnya membuat Mira sedikit merinding dan mengangguk menjawab pertanyaan dari Yash.


Yash pun dengan santai menyudahi posisi berdirinya dengan menghela ia pun beejalan kearah Mira lalu menggendongnya di depan ala bridal membuat Mira sedikit terkejut namun tidak bisa reflek menyilangkan kedua tangannya sebab tangan yang terkena tembak sudah lebih dulu di pegang oleh Yash secara erat berbarengan dengan diangkatnya tubuh mira dan tangan satunya lagi sudah Yash taruh di pundaknya. Gerakannya pun sangat cepat dan sukses membuat Mira sedikit menahan nafas atas keterkejutannya.


Tahu jika Mira tengah menahan nafasnya Yash pun tersenyum tipis lalu melihat tepat dimata Mira.


"Bernafaslah. Kau ingin mati huh". Ucap Yash dengan dingin. Membuat Mira langsung bernafas saat itu juga.


"Aku berat tuan, kau inih tidak tahu kalau aku merasa canggung, bodoh dan tolol". Batin Mira berucap.


Yash pun mendudukan Mira diranjang rumah sakit dengan lembut dan Mira pun mulai memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas ranjang dengan duduk bersender pada bantal.


Sementara Yash duduk di kursi tunggu dekat ranjang pasien dengan kalem dan sedikit mengernyit aneh saat melihat drama yang di lihat Mira di televisi rumah sakit tak jauh dari sana.


"Orang india ?". Ucap Yash sedikit bingung.


"Itu drama Bollywood tuan kisah percintaan". Ucap Mira menjelaskan.


Yash pun hanya mengangguk saja tanpa mengerti dengan yang ia lihat.


"Raina juga suka drama percintaan. Tetapi bukan orang india yang di lihat tapi orang yang berkulit putih seperti orang asia". Ucap Yash sedikit bingung.


Mira yang paham dan tahu betul pun hanya tersenyum maklum. Wajar jika orang seperti Yash jarang tahu soal drama-drama semacam ini. Dia kan orang sibuk. Pasti seluruh waktunya ia buat untuk bekerja dan bekerja. Pewaris Leonard sekaligus putra tersulung tidak menjamin hidupnya tenang dan cukup untuk istirahat apa lagi bersantai.


"Itu namanya drakor tuan. Drama korea. Memang biasanya film-film itu banyak disukai oleh para perempuan. Sama juga dengan film-film bollywood. Di drako ada Suga, Lee Min Ho, Jun kok, chanyeol, dan di bollywood juga ada syahrukh khan, Amir Khan, Tiger Slof, Krithikh dan banyak lagi". Ucap Mira memulai bercerita.


Yash pun hanya tersenyum singkat menanggapi ucapan dari Mira dan mulai mencoba fokus kepada film yang sedang mereka tonton.

__ADS_1


"ketiga kakakmu belum datang ?". Tanya Yash memecah keheningan.


"Tadi pagi kak May sma kak Roy sudah datang ko nemenin saya sampai siang. Barusan saja pergi sebelum anda datang tuan". Ucap Mira.


"Lalu kakak mu yang satu lagi ?". Tanya Yash dengan melihat serius kearah Mira.


"Hmm, emmm belum tuan. Mungkin dia sedang sibuk". Ucap Mira dengan tersenyum.


Yash yang mendengarnya pun merasa sedikit kesal akan tingkah Marko. Dia mengakui menyayangi adiknya namun jika sudah bersama wanita itu pasti lupa dengan semuanya.


TOK TOK TOk


Suara ketukan pintu yang diketuk dari luar membuat Yash dan Mira langsung menengok kearah pintu dengan ekspresi masing-masing. Yash dengan kernyitannya sedangkan Mira dengan senyumannya.


Saat pintu terbuka muncullah suster jaga yang bertugas mengantarkan makan siang beserta obat untuk di minum oleh Mira.


"Selamat siang nona Mira dan Tuan muda, Sekarang jadwal nona makan siang dan minum obatnya ya". Ucap sang suster dengan ramah.


"Iya sus". Ucap Mira dengan tersenyum.


Yash yang memperhatikan gerak gerik sang suster dengan tajam itu pun sukses membuat sang suster merasa ingin cepat-cepat keluar dari sana. Nanun tugasnya untuk menyuapi makan sang nona pun belum di mulai.


"Keluar lah".


Ucap Yash dengan nada dingin tanpa bantahan membuat sang suster sedikit terkejut dan bingung.


Mira pun merasa tak enak dengan sang suster yang diusir oleh tuan muda sekaligus bingung dengan ucapan Yash. Sebab jika suster itu keluar maka siapa yang akan menyuapinya makan. Sementara tangan kanannya pun belum diperbolehkan untuk bergerak.


"Tapi tuan...". Ucapa sang suster merasa ragu.


Yash yang melihaynya pun mulai menajamkan matanya kepada sang suster sehingga sang susterpun langsung menunduk hormat lalu pergi meninggalkan mereka.


Mira pun menjadi bingung sekarang. Yang ia tengah fikirkan bagaimana caranya ia akan makan dan meminum obatnya. Namun seketika Mira mendapat ide bagus. Jika tangan kanannya tidak bisa lalu bagai mana dengan tangan kirinya. Pasti tidak akan sulit makan dengan tangan kiri.


Mira pun akhirnya mengambil sendok diatas nampan yang berada di atas pangkuannya. Nampan itu di alasi meja kecil untun memudahkan pasien saat akan memakan makanannya.


Terlihat sup bihun lengkap dengan sayurannya yang nasih mengepul, nasi hangat, salad buah dan dua gelas air putih.


Mira pun memulai menyendok kuah sup dengan tangan kirinya dan meniupinya dengan hati-hati. Semua yang Mira lakukan di perhatikan oleh Yash dengan baik.


Dan pada sendokan ketiga, Yash pun menghentikan tangan Mira lalu mengambil sendok ditangan Mira serta duduk di ranjang pasien tepat disamping Mira dengan memegang mangkuk sup yang ia campur dengan nasi.


"Biar ku suapi".


Ucap Yash seraya menyodorkan satu sendok makanan ke arah mulut Mira.


"Buka mulut mu".


Perintah Yash kepada Mira yang tak kunjung membuka mulutnya.


Mira pun langsung membuka mulutnya menerima suapan dari Yash dengan rasa canggung yang kentara diwajahnya.


"Minum lah, kau pasti ingin minum kan". Ucap Yash seraya menyodorkan satu gelas air putih.


Mira pun menerimanya dan meminumnya dengan pelan. Memang sejujurnya ia merasa haus hanya saja jika memerintah orang yang baru beberapa hari ia kenal juga seorang tuan muda rasanya tak pantas bagi Mira yang hanya seorang perempuan biasa tanpa ada embel nama besar dibelakangnya.


Setelah memastikan Mira cukup dengan minumannya Yash pun mulai melanjutkan menyuapi Mira lagi. Tak jarang Yash juga mengelap sudut bibir Mira saat makannya belepotan. Yash pun sejujurnya tidak mengerti dengan tindakannya yang begitu memperhatikan Mira seperti ini. Yang ia rasakan pada dirinya sendiri hanya menuruti nalurinya. Melihat Mira yang sudah sangat jelas kesulitan memakan makan siangnnya dengan tangan kiri tak ayal membuat Yash merasa ingin sekali membantu Mira dan memperhatikannya dengan baik.


Selang beberapa menit makan siang Mira pun sudah habis dengan bersih. Yash pun merasa puas. Dalam fikirannya jika Mira itu sama dengan adiknya Raina yang sangat sulit untuk memakan makanannya. Raina termasuk pemilih dalam hal makanan. Tapi nyatanya Mira tidak seperyi itu. Ia justru selalu menghabiskan makanannya dengan baik.


"Bagaimana rasa makan yang tadi kau makan ?". Tanya Yash setelah menaruh mangkuk di atas meja kecil di depan Mira.


"Lumayan, meski sedikit hambar". Ucap Mira.


"Saladnya tidak kau makan ?". Tanya Yash saat melihat salad buah yang masih utuh.


"Nanti saja buat cemilan. Masih kenyang banget soalnya". Ucap Mira menjelaskan.


"Minum lah, setelah ini istirahat". Ucap Yash seraya menyuapi obat ke mulut Mira.


"Semua saja tuan, kebetulan obatnya juga kecil-kecil". Ucap Mira.


"Kau yakin ?".


Tanya Yash dengan raut tak yakinnya. Mira pun mengangkuk pasti dan Yash pun akhirnya menuruti perintah Mira yang meminum obatna lima butir sekaligus.


Mira akhirnya meminum lima butir obat dari dokter sekaligus dan mendorongnya dengan air satu gelas. Dan hasilnya pun berhasil obat itu meluncur dengan baik ke dalam tenggorokan Mira.


Hal itupun juga membuat Yash merasa takjub sebab yang ia lihat pada Raina jika obatnya tidak berbentuk bubuk atau cair tidak akan bisa ditelan olehnya. Cair pun jika yang kental malah akan membuatnya muntah banyak saat itu juga. Sementara Mira langsung meminumnya dengan mudahnya.


"Kenapa cara minum obat mu seperti itu ?". Tanya,Yash kepada Mira.


"Kalau satu-satu kelamaan tuan, bisa kembung perutku". Jawab Mira dengan tersenyum.


"Kalau obat cair atsu bubuk kau bisa menelannya ?". Tanya Yash lagi.


"Bisa, asal ada air putih obat apapun bisa aku telan". Ucap Mira memberi tahu.


"Lalu tentang makanan itu. Kau bilang itu hambar. Kenapa dihabiskan ?". Tanya Yash lagi.


"Inget saja sama pesan ibu dulu. Ibu selalu bilang ambil lah makananmu dengan cukup dan habiskanlah makananmu dengan baik. Sebab kita tidak tahu bagaimana orang-orang diluaran sana mendapatkan makan dengan layak atau tidak. Bagaimanapun rasanya makanan tetap lah bersyukur dan jangan sampai tidak dihabiska. Nanti nasinya menangis".


Ucap Mira disertai tawa di akhir kalimat. membuat Yash pun ikut tersenyum dengan lucu mendengar kalimat terakhir Mira.


"Yang terakhir itu apakah masuk akal ?". Tanya Yah dengan sedikit terkekeh. Mira pun hanya mengendikan bahu seraya terkekeh juga.


"Haahh". Terdengar yash menghela nafasnya.


Yash pun berdiri membereskan nampan menaruhnya di bawah kolong ranjang pasien setelahnya menghadap Mira.


"Aku pinjam kamar mandinya ya ?".


Tanya Yash meminta izin. Membuat Mira sedikit mengernyit heran atas tindakan sang tuan muda yang terlihat sopan. Karena yang ia fikir bagi seorang tuan mudak tidak lah perlu hal demikian. Akhirnya Mira pun menganggku mengizinkan kamar mandinya untuk digunakan oleh Yash. Dan Yash pun akhirnya berjalan memasuki kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Didalam kamar mandi Yash pun berdiri menyadar di balik pintu lalu tertawa lucu dengan pelan mengingat perkataan Mira tentang nasi yang bisa menangis karena tidak dihabiskan.


"Bukannya nasi menangis karna akan dikunyah di mulut dan maduk kedalam perut ". Batin Yash berucap seraya tertawa dan mulai duduk diatas walk in closet menuntaskan panggilan alamnya.


Sementara Mira menunggu dengan masih menonton serial bollywood pada televisi rumah sakit.


Tak berapa lama muncul lah suara keras yang di timbulkan dari pintu yang di buka secara keras oleh seseorang.


BRAAAKKKK !!!!


"MIRAAAA...!!!!!!".


Teriak seseorang dari ujung pintu membuat Mira terjengit kaget untuk kedua kalinya setelah insiden pintu yang di buka secara kasar.


Sementara Yash yang tengah berada di dalam kamar mandi pun mengernyit heran.


"Ck orang hutan mana yang berteriak di rumah sakit". Batin Yash berucap sedikit kesal.


"Shilaaa". Ucap Mira dengan gemas kepada pemilik suara itu.


Yas seseorang yang bertindak bar-bar dan bersuara cempreng melengking siapa lagi kalau bukan Shila Adisti.


Shila pun masuk lalu memeluk Mira dengan erat disusul dengan Imelda, Nurinda, dan Oji.


"Geblek lo shil jadi bocah ngga ada akhlak. Rumah sakit dikira habitat lo kali ya pake teriak gitu. Untung ngga ada satpam yang nyamperin". Ucap Nuri merasa kesal sekaligus malu.


"Ia loh ney shila. Untung juga tuh Mira lagi sendiri. Coba tadi pas buka pintu ada kakaknya. Bisa-bisa diusir ney dari rumah saki heem mamam ney". Ucap Oji dengan logat kemayunya.


"Tahu nih shila beloon pisan jadi orang". Ucap kesel Imelda.


Shila yang di marahi itu pun bersikap cuek dan langsung duduk di ranjang samping Mira seraya melihat perban di pundak bawah tangan Mira.


"Serius loh luka tembak benera". Ucap Shila dengan raut takjub.


"Lu pikir lah shil luka kek gitu luka apa. Cakaran, gigitan. Bege shila ikh". Ucap imelda seraya duduk di kursi tunghu dekat ranjang pasien.


Sementara Nurinda sibuk menaruh buah tangan dan kue serta camilan untuk Mira dan teman-temannya makan dibantu oleh Oji.


"Apa si lu pada sensi banget sama gua !". Ucap Shila dengan suara cemprengnya.


"Lu yang kenapa Shila Adisti. Suara lu tuh biki gua pengin kuliti nih kya buah apel ini".


Ucap Nurida seraya menunjukan aksinya yang tengah mengupas apel merah. Membuat Shila langsunh merengut sebel.


"Ya gua kangen lah sama Mira ngga ada tenen gibah ngga rame ngga ada enaknya kaya kalian tuh ngga,ada enak-enaknya". Ucap Shila.


"Ya udah ney semua jangan dikasih temen tuh Shila besok-besok. Kita kan ngga enak". Ucap Oji mengompori membuat Shila langsung menendang tulang kening Oji yang tengah duduk santai di sofa panjang.


Hal itu pun sukses membuat Oji menjadi kelimpungan merasakan nyeri akibat tendangan dari Shila yang tepat mengenai tulang keningnya. Sementara Mira pun hanya tertawa lucu melihat kelakuan Shila dengan Oji.


Yash yang mendengarnya dari dalam kamar mandi pun merasa semakin penasaran akan keributan di luar yang seperti menyenangkan.


Nuri pun sudah menyelesaikan dua piring potongan buah dan dua piring kue bolu serta satu toples snack yang ia tata di meja dekat sofa. serta dua piring isi buah dan kue ia berikan kepada Mira.


"Terserah Lu Ra, mau makan yang mana dulu". Ucap Nuri dengan santai.


"Makasih ya Nuri". Ucap Mira dengan tulus seraya memakan buah yang ada di piring dengan tangan kiri.


Tak lama kemudian datang lah empat orang lagi menjenguk Mira. Kokoh Erlangga, Marthania, Madam Ghina dan Tuan Kusuma Atmaja.


"Selamat Siang menjelang sore Mira". Ucap Tuan Kusuma dengan suara rentanya.


"Selamat siang menjelang sore juga tuan atmaja, Madam Ghi, Nona Martha dan tuan Er". Ucap Mira dengan ramah dan sedikit rasa cemburu terhadap kokoh Er yang datang bersama nona Martha.


"Bagai mana keadaan mu Mira ?". Tanya Madam Ghi dengan enggan.


"Mulai membaik Madam". Ucap Mira dengan lembut.

__ADS_1


"Haaahh sejujurnya malas sekali aku harus menjenguk orang ysng tidak penting ini. Dia hanya pelayan di butik ku. Tak perduli sekaya apa kakanya. Namanya pelayan ya pelayan. Rendah dan tak selefel. Karena suamiku saja sehingga aku mau kesiini menjenguknya". Batin Mafam Ghina berucap.


"Syukur deh. Seengga lo cepet masuk kerja ngga makan gaji buta. jangan jadiin alesan tuh sakit".


Ucap nona Martha dengan ketuh dan sedikit keras. Membuat semua orang disana menampilkan ekspresi yang berbeda-beda.


"Inih kami bawakan bingkisan untuk mu Mira". Ucap Tuan Atmaja seraya menyerahkan parsel buah dan kue kering.


"Terima kasih tuan, anda seharunya tidak perlu repot-repot seperti ini kepada saya". Ucap Mira dengan rasa canggung.


"Tak apa, sudah sewajarnya dan sepatutnya kita menjenguk dan memperlakukan para pekerja dengan baik. Kau sejauh ini bekerja dengan baik di butik istriku. Kau juga belum pernah melakukan kesalahan yang merugikan dan mengecewakan. Aku merasa terkesan dengan pekerjaanmu". Ucap Tuan Atmaja dengan tulus membuat Mira menjadi tersenyum pula.


"Apa-apaan ayahbini. Memuji seorang pelayan sampai segitunya. Menyebalkan. Puji saja terus orang lain. Anak sendiri boro-boro di puji. Tuh lihat kan si Mira jadi brsar kepala kan. Dasar muka dua". Batin Martha berucap dengan sebalnya.


Erlangga pun langsung mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya. Sebuah buket bunga mawar merah yang indah dan segar.


"Mira, ini untuk mu. Dari ku dan...Martha. Semoga lekas sembuh ya". Ucap Kokoh Er dengan sedikit canggung dan tak enak.


Mira pun menerimanya dengan baik dan menghirup wangi bunga mawar yang di berikan oleh kokoh er.


"Terima kasih kokoh Er dan nona Martha". Ucap Mira dengan sedikit tersenyum.


Shila pun diam-diam menyikut siku Nuri dengan pelan dan berbisik kepada Nuri.


"Gua kasihan sama Mira. Dia pasti sedih banget tuh melihat kokoh sama Marthabak telor". Ucap Shila dengan berbisik.


"Iyah, ngga ada pantes-pantesnya juga tuh anak lampor sama kokoh". Bisik Nuri merasa sebal.


"Denger-denger mereka dijodohin". Bisik shila lagi.


Bisikan Shila kepada Nuri pun sukses membuat Nuri langsung berteriak kencang tanpa sadar.


"Seriously !!!". Teriak Nuri dengan Raut syoknya.


Teriakan Nuri pun sukses mengundang beberapa perhatian dari semua orang yang ada du sana. Sadar dengan kebodohannya, Nuri yang di tatap sedemekian rupa oleh orang-orang pun tersenyum canggung dan meminta maaf.


"Ntar gua ceritain". Bisik Shila dan di balasi anggukan dari Nuri.


"Oiya Mira, Aku tuh kesini juga mau ngadih ino nih". Ucap Martha seraya menfambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Nih pegang". Titah Martha seraya menyerahkan sebuah kartu undangan mewah.


Mira pun menerimannya dengan tangan kirinya dan melihatnya. Terlihat dua buah nama yang sangat sukses membuat Mira merasa tertusuk hatinya dengan kuat.


PERTUNANGAN Erlangga Firmansyah & Marthania Putri Atmajha.


Terpampang jelas di kartu undangan mewah milik mereka berdua. Mira pun seketika melihat tepat di wajah Erlangga dengan raut terluka dan sedih. Sementara Erlangga pun tak kuasa melihat wajah milik Mira dan merasa sangat bersalah.


Entah lah, hubungan keduanya memang tidak resmi tidak ada ungkapan cinta namum saling menyukai diam-diam dan merasa nyaman. Saat badai datang mereka pun juga merasa sedih.


Se mentara Nuri,Imelda dan Oji pun sama terkejutnya dengan Mira. Sedangkan Shila malah menampilkan raut murung.


"Saya harap anda bisa datang di pesta pertunangan putri ku. Bawa juga kedua kakak dan kakak ipar mu ya". Ucap Tuan Atmaja dengan senang.


Mira pun langsung menormalkan air mukanya dan sedikit berdehem menormalkan suaranya yang entah mengapa seperti menghilang.


"Baik tuan Atmaja, Saya pasti datang. Terima kasih atas undangannya nona Martha dan tuan Er".Ucap Mira dengan tulus.


Tak lama kemudian Yash pun keluar dari kamar mandi milik Mira seraya mengucek mata yang terasa gatal dengan ibu jarinya lalu melihat kesekeliling ruangan dengan sedikit terkejut melihat banyaknya orang disana.



Semua yang hadir disana pun terbengong dengan sempurnanya melihat Yash keluar dari kamar mandi pasien mikik Mira.


"Itukan tuan muda yang menyebalkan. Kenapa ada disini ? Batin Shila merasa heran.


"Demi apa si tuan tampan Aryasha ada di sini. Ya tuhaaann". Batin Nuri dan Imerda bersamaan.


"Wiihh si tuan overprotektif ada di dese ney. Ya ampuuun". Batin Oji seraya bertingkah centil.


"Itu kan tuan muda yang terkenal itu. Langganan butiknya mamih. Kok bisa si ada di dalam kamar mandi si muka dua". Batin Maetha dengan kesal.


"Tuan muda Yash". Batin tuan Atmaja dan kokoh Er.


"Apa-apaan ini. Kenapa tuan muda Yash ada disini". Batin Madam Ghin merasa heran juga kesal.


"Selamat Siang menjelang sore tuan muda Yash". Sapa hormat semua orang kecuali Mira.


Yash yang disambut oleh sapasn hormat itu pun mengannguk singkat dan berjalan mendekati ranjang Mira yang kosong dan duduk bersandar di sebelah Mira dengan acuhnya.


Membuat ke semua yang hadir pun dibuat heran sekaligus takjub melihat seorang tuan muda yang mau duduk di dekat seorang Mira. Hal ini pun menimbulkan banyak pertanyaan di fikiran masing-masing orang yang ada disana.


Mira yang merasa canggung dan panas itu pun mencoba mengalihkan rasa tak enaknya dengan memakan buah apel dengan tangan kirinya. Dan hal itu pun di perhatikan lagi oleh Yash. Dengan sigap ia pun mengambil garpu yang tergeletak di piring buah. Menusuk buah melon yang di potong dadu dan menyodorkannya di mulut Mira.


Mira yang sedikit terkejut pun mencoba untuk menolak namun kembali merasa tak enak saat ingat jika yang disampingnya itu seorang tuan muda leonard. Akhirnya Mira pun menerima suapan buah melon itu dengan canggung.


Dan lagi-lagi yang diperbuat Yash sukses membuat berbagai ekspresi di masing-masing wajah semua orang yang ada di sana.


"Gua kasihan sama Mira. Kalau nanti Mira jadian sama ini makhluk laknat. Hidupnya pasti ngga tenang dan ngga bebas. Keadiknya sendiri juga overprotektif banget. Apa lagi ke orang sepesialnya. Hufff engga kebayang dah gimana jadinya". Batin Shila merasa melas kepada Mira.


Mira pun terus menerima suapan buah dari Yash sembari sesekali melirik kearah Kokoh Er yang melihatnya dengan mata kecewa sekaligus cemburu.


"Sejak kapan Mira dan tuan muda Yash saling mengenal. Bukannya selama Mira kerja di butik tidak pernah sekali pun ia bertemu dengan tuan muda Yash saat tuan muda datang untuk memesan baju . Pasti Mira selalu tengah libur kerja".


Batin kokoh Er merasa heran sekaligus merasa panas melihat sang pujaan hati di perlakukan sepesial oleh laki-laki lain.


Yash yang sedari tadi selalu memperhstikan gerak gerik Mira pun mencoba melihat kearah seseorang yang selalu dilirik oleh Mira. Dan pada saat pandangan mereka bertemu Yash mulai paham dan mengerti jika di antara Mira dengan sang menejer butik saling suka.


Yash juga melihat sebuah kartu yang di pegang Mira dengan erat serta mata Mira yang memandang kartu dengan tatapan kosong.


"Apa itu ?". Tanya Yash kepada Mira dengan suara dinginnya. Membuat Mira langsung melihat kearah Yash dengan bingung.


Yash pun melirik kearah kartu yang di pegang Mira guna memberi tahu kan apa yang ia tanyakan kepada Mira.


"Undangan pertunangan nona Martha dan tuan Erlangga tuan. Anak dari pemilik butik tempat saya bekerja. Tuan Atmaja dan Madam Ghina". Jelas Mira kepada Yash.


Yash pun mengambil kartu itu dan melihatnya dengan kerutan bingung. Masalahnya Martha kan kekasih dari Vikram sahabatnya. Tapi ia pun sedikit bingung akan kabar dari sahabatnya itu yang menghilang bak ditelan bumi.


Yash mungkin bisa mengenal Martha dari Vikram sebab Vikram selalu menceritakan Martha dan memuja Martha. Sampai foto dan orangnnya pun di tunjukan oleh Vikram kepada Yash. Saat itu di acara lomba fashion show. Martha yang mewakilkan butik ibunya untuk di ikut sertakan keacara fashion membawa kemenangan bagi butik Ghina. Semua model baju karya para desainer yang bekerja padanya mendapat banyak pujian dan peminat. Dan dari acara show itu Yash tahu kekasih sahabatnya itu. Namun Yash tak sempat menemui Martha saat itu karena Raina lagi-lagi mendapatkan masslah di sekolahnya yang mengharuskannya turun tangan.


"Saya juga mengundang anda dan sekeluarga untuk hadir di acara pertunangan anak kami tuan. Saya harap anda akan datang di acara kami". Ucap tuan Atmaja dengan nada sopan dan rentanya.


Yash yang mendengarnya pun hanya mengangguk singkat menanggapi ucapan dari tuan Atmaja. Namun merasa jika yang berbicara padanya adalah orang tua lebih tua dari ayahnya Yash pun akhirnya menjawab.


"Tentu saya akan datang paman". Ucap Yash kepada tuan Atmaja. Membuat tuan Atmaja tersenyum senang.


"Kalau begitu saya beserta istri dan kedua anak saya mohon pamit tuan. Mira semoga lekas sembuh ya". Ucap tuan Atmaja memohon pamit.


"Terima kasih tuan, madam, dan nona sudah mau menjenguk saya". Ucap Mira dengan sopan.


Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan. Tinggalah Mira, tuan Yash dan keempat teman kerja Mira. Keempat teman Mira pun memandang perihatin kearah Mira yang tahu betul perassan Mira saat ini.


"Yang sabar ya Ra". Ucap Nuri memulai pembicaraan.


"Janur kuning belum melengkung ney. Mereka juga mau tunangannya satu bulan lagi. Jadi bisa saja kan ney kamu punya tuhan nunjukin keajaibannya". Ucap Oji dengan lemah gemulai.


"Lagian juga mereka dijodohin ko tunangannya. Kalau yang aku lihat dari koko Er sih ngga ada minat-minatnya tuh sama si martabak. Tahu lah napa martabaknya kaya minat banget sana si kokoh. Padahal udah ada cowok dia tuh ganteng pula. Kadal betina emang tuh marthabak". Sungut Shila dengan sebalnya.


"Ney Shila. Ney kok tahu bener tentang marthabak. Ney fans beratnya ya". Ucap Oji sedikit meledek.


"Amit-amit jabang monyet iikkhh. Gua ngefansnya sama Liza blackpink dan Lee Min Ho yah. Bukan kadal betina macam marthabak telur busuk". Sungut Shila dengan suara nyablak khasnya kepada Oji.


"Ya gimana Shila ngga tahu. Dia kan keponakan jauhnya tuan Atmaja. Tinggalnya saja satu atap sama Marthabak". Ucap Nurinda memberi tahu. Membuat Mira dasn yang lainnya melotot kaget.


"Lu juga keponakannya bego". Sungut Shila kepada Nuri.


"Eitz tapikan gua kaga tinggal satu atap neng". Elak Nurida kepada Shila.


"Tau lah emak gua yang nyuruh. Berasa kaya jadi anak terbuang gua sebel". Ucap Shila dengan raut merajuknya.


Mira pun menjadi tersenyum melihat tingkah lucu dari para teman-temannya. Hal ini yang membuat Mira enggan untuk berhenti bekerja di butik. Karena sekesal dan selelah apa pun Mira. Selalu ada obat yang membuatnya kembali bersemangat. Salah satunya ya mereka ini keempat teman-temannya juga seseorang yang ada di dalam hatinya. Erlangga Firmansyah.


"Eh udah sore nih Gua ada acara ntar malem. Ketemuan sama ayang embeb emmm". Ucap Imelda dengan susrs manjanya.


"Jijik gua dengernya Mel". Sahut Shila dengan raut mau muntah. Membuat imelda langsung memberrngut lucu.


"yaa yaa kang mas Jojo tersayoong". Ejek Nuri dengan nada geli.


"Tau akh kalian mah suka sirik saja huuh". Ucap Imelda lalu berdiri mendekati Mira.


"Beb, gua pulang dulu ya. Nanti aku jenguk lagi bareng Mas jojo. Cepet sembuh ya beb". Ucap Imelda seraya memeluk Mira dengan lembut.


"Iya Mel, makasih. yah. Salam buat Jojo ya. Sama pullangnya hati-hati". Ucap Mira dalam pelukannya imelda.


"Kita juga pamit pulang yah Ra. Udah sore pegel juga bbadan pengin istirahat". Ucap Nuri kepada Mira.


"Looh pulang juga. Ya udah hati-hati ya pada. Jangan pada kebut-kebutan. Terutama kamu tuh Shil bawa motor guede gitu". Ucap Mira menasihati teman-temannya.


"Siaap ibunda Miranda Nur". Ucap semuanya dengan berbarengan.


"Apa si kalian". Jawab Mira dengan terkekeh.


Mereka semua pun memeluk Mira satu persatu dan saat Oji hendak memeluk Mira. Mata Yash langsung menajam melihat kearah Oji dengan penuh peringatan. Membuat Oji pun langsung kicep dibuatnya dan berakhir hanya mengelus puncuk rambut Mira dengan lembut dan berlalu pergi dengan cepat.


Dan Kini tinggallah Mira dan Yash berdua di dalam kamar pasien.


"Kau jadi tidak istirahat sianng". Ucap Yash kepada Mira. Mira yang mendengarnya pun hanya tersenyum lembut.


Kembali Mira melihat kartu undangan itu dengan raut sedih dan murung. Membuat Yash merasa sedikit terusik akan perasaan Mira terhadap seseorang itu.


Yash pun akhirnya merebut kartu undangan itu dan menyimpannya di laci meja. Membuat Mira sedikit bingung dan terkejut.

__ADS_1


"Fokys saja pada kesembuhanmu. Jangan fikirkan yang lain. Apa lagi calon tunangan orang". Ucap Yash dengan nada dingin.


Akhirnya Mira pun menuruti perkataan Yash. Ia pun mulai membaringkan tubuhnya dan mulai memejam kan matanya untuk tidur. Sementara Yash masih setia menunggui Mira sampai seorang suster datang mengantar makan malam dan obat untuk di minum.


__ADS_2