Luluh

Luluh
Episode 64


__ADS_3

Didepan cermin terlihat Mira yang tengah memandang dirinya di cermin dengan tatapan ragu. Hari ini adalah kencannya dengan tuan Arbie Setevano Gauram. Mereka sudah bertukar informasi mengenai kencannya hari ini. Sebuah destinasi wisata yang terletak di kota kembang adalah pilihan Mira dan Arbie.


Dengan di balut pakaian jeans sobek warna ice blue, baju lengan panjang warna putih bertuliska NIKE, sepatu putih dan ada sedikit campuran coret hitam, tas ransel mini dan rambut yang di kepang samping menambah kesan santai untuk seorang Mira. Ditambah dengan riasan yang sederhana menambah kesan jika Mira lebih cocok di bilang remaja.


"Kakak !". Seru Lili yang berlarian masuk ke kamar Mira bersama Ayub sang kaka sulung.


" Hei. Udah pada siap nih". Sapa Mira ramah seraya menyambut kedatangan Lili dengan pelukan hangat.


"Udah dong kan mau liburan bareng-bareng". Sahut Lili dengan semangat.


" Tan, om Arbie sudah nungguin di bawah bareng mama sama papa". Ucap Ayub memberi tahu namun dengan nada enggan yang kentara.


"Iya, ya udah yuk turun". Ajak Mira kepada Ayub dan Lili.


Mereka bertiga pun berjalan keluar menuju lantai bawah menemui Arbie bersama Maya dan Royan.


" Nah itu dia Mira sudah siap". Ucap Maya memberi tahu.


Arbie pun melihat kearah Mira dengan pandangan terpana. Mira yang cantik semampai telah berhasil mencuri hati Arbie pada pandangan pertama. Membuatnya langsung memiliki banyak mimpi dan angan bersama Mira. Tentunya di negara asalnya kelak. Dan Arbie pun begitu berharap banyak kepada Mira.


Dan dimata Mira. Arbie memang sesosok lelaaki tampan dengan waajah khas indianya juga badan tegapnya. Mirip aktor bollywood yang ia sukaai. Tetapi entah mengapa perasaanmya merasa biasa saja akan pesona dari Arbie. Tidak seheboh dan segemuruh saat ia bertemu dengan seorang Aryasha Leonard.


Arbie pun tersenyum lembut kearah Mira yang di balasi senyum ringan oleh Mira dan lirikan maut dari Ayub sang keponakan yang sepertinya tidak menyukai keberadaan dari seorang Arbie.


"Jadi, kita bisa berangkat sekarang ?". Tanya Arbie memastikan. Membuat Maya dan Lili mengangguk antusias.


" Kita tunggu satu orang lagi". Ucap Royan santai seraya mengotak-atik ponsel pintarnya.


"Siapa mas ?". Tanya Maya penasaran dan melirik curiga kearah sang suami.


" Nanti kamu juga tahu". Ucap Royan santai.


Tak lama datang lah seseorang yang Royan tunggu dengan pakaian santai senada dengan yang di pakai Mira, tak lupa dengan kuncir kuda serta topi sport yang menambah kesan simpel elegan.


"Hai selamat pagi semua". Sapa seseorang itu dengan lembut keibuan.


Menampilkan raut beragam diwajah masing-masing orang yang berada di ruang tamu itu. Arbie dengan wajah santun dengan tersenyum menyapa sesorang itu, Ayub dengan raut terkejut namun sedikit memoncingkan mata merasa ada sesuatu, Mira dengan raut tak percayanya, Royan dengan senyum kalem, Maya dengan raut terkejut bercampur marah, serta Lili dengan muka polos yang bertanya-tanya.


"Pah, dia itu siapa ?". Tanya Lili dengan raut polos. Royan pun menggeneong Lili yang kebetulan ada di sampingnya. Membawanya kehadapan seseorang itu.


" Kenalin ya Li, ini namanya tante Anya. Anya Giselda. Anaknya oma Erna yang bungsu". Ucap Royan lembut memperkenalkan anak bungsunya itu ke pada seseorang yang bernama Anya.


Dan DUUARR seketika Mira merasakan seperti ada petir yang menyambar fikirannya mengingat jika mereka, Royan dan Anya adalah yang dulunya sepasang kekasih yang tidak jadi bersatu karena cita-cita dari si perempuan yang bernama Anya yang ingin mengejar cita-citanya ke negri bambu untuk mengejar gelar master di salah satu universitas ternama disana. Dan kabarnya setelah tahu jika Royan sudah move on dan menikahi kakanya Maya. Seseorang yang bernama Anya ini sempat kembali dari negri tirai bambu itu ke indonesia. Hanya ingin memastikan kabar itu benar atau tidak. Dan setelah kabar itu benar, akhirnya mereka memilih memutuskan untuk berteman baik yang sayangnya sering di anggap lain oleh Maya.


Maya dengan kecemburannya dulu lebih parah dari kecemburuannya yang sekarang terhadap Mira. Dan sekarang dengan terang-terangan Royan sang kakak iparnya itu membawa kembali Anya ke rumah ini kehadapan sang istri.


"Ada apa ini. Kenapa kak Roy akrab kembali dengan kak Anya. Dan tunggu, jadi Nya yang di sebut tempo hari itu. Kak Anya". Batin Mira dengan menebak tepat.


" Hallo cantik. Sudah besar ya kamu padahal dulu tante inget bayinya kamu imut mungil di gendong sama Ayub yang waktu itu juga lagi lucu-lucunya". Jawab Anya dengan senang dan antusias.


"Memangnya tante ini siapanya papah ?". Tanya Lili dengan muka polosnya.


" Temennya papah sayang". Ucap Royan lembut.


"Ayub, sini". Sapa Anya saat menyadari keberadaan Ayub yang tengah berdiri santai. Ayub pun mendekat kearah Anya dan menyaliminya dengan sopan dan tersenyum singkat.


" Duh duplikatnya kamu banget loh mas. Persis banget kamu pas remaja kaya ngga ada yang dibuang sedikit pun". Ucap Anya dengan mata berbinar senang.


"Ya lah kan aku bapaknya". Ucap Royan santai dengan tersenyum miring. Membuat Anya langsung menepuk ringan lengan Royan.


" May, apa kabar kamu ?". Sapa Anya ramah kepada Maya yang di balasi tatapan tajam dari Maya.


"Baik". Ucap Maya acuh dan merasa tidak baik jika mengabaikan Anya di depan Arbie calon jodoh Mira.


" Hai Ra, kamu juga gimana kabrnya. Masih sama aja nih wajahnya dari beberapa tahun lalu awet muda ya kamu". Ucap Anya dengan mendekat kearah Mira dan memeluknya dengan hangat.


"Baik kak Anya. Kaka gimana kabrnya". Ucap Mira ramah.


" Baik Ra, semakin sehat dan bersemangat tentunya". Ucap Anya seraya melepas pelukannya dan mengedipkan mata sebelah dengan centilnya kearah Mira.


Mira yang melihatnya pun hanya menggeleng maklum akan tingkah Anya yang memang sudah sesikit jail sedari dulu. Mira sudah paham akan sikap dan sifatnya itu.


"Ough apa aku tengah bermimpi. Ada artis bollywood disini". Ucp Anya saat melihat keberadaan Arbi yang tengah berdiri memperhatikan.


" Dia calon jodohnya Mira". Ucap Maya memberi tahu dengan nada sedikit memperingati.


"Masih jaman ya, di era sekarang ini jodoh-jodohan. Duh jadi ingat dulu rasanya". Ucap Anya seraya mengerling kearah Royan yang tengah berdiri sambil menggendong Lili.


Maya yang melihatnya pun menjadi kesal dan dongkol seketka. Rasanya acara liburan hari ini akan terasa mdnjengkelkan. belom lagi kota kembang adalah kenangan terindah antara Anya dan Royan.


" Pantas saja Mas, kamu nurut saja. Ternyata kamu mau membuat ku kesal. Silahkan saja mas, toh yang kamu sukai sekarang bukan lagi Anya. Tetapi Mira. Toh kamu sudah lama tidak berhubungan dengannya dan sekarang tiba-tiba kamu mengundangnya. Rencana manipulatif mu ketebak sudah Mas". Batin maya dengan sinrik sinisnya menatap kearah sang suami yang tengah menatap kearahnya dengan raut tenang.


"Hari ini Anya ikut liburan ya. Tidak masalah kan Mira, Arbie ?". Tanya Royan memastikan.


" Oh, engga masalah ko. Lebih rame malah lebih seru. Lagian sepertinya kak Anya ini orangnya asik juga". Ucap Arbie mengizinkan.


"Wah, makasih loh udah baik banget mau ajakin aku". Ucap Anya senang.


" Sama-sama kak, Ya sudah. Kita naik mobil masing-masing atau satu mobil saja. Kebetulan aku bawa mobil alpard yang bisa nampung banyak orang". Ucap Arbie sedikit menawarkan.


"Engga masalah, nanti biar lamborgini ku aku suruh orang rumah bawa pulang saja". Ucap Anya santai dan antusias.


" Ok lets go". Ucap Arbie bersemangat dan berjalan keluar seraya merangkul pundak Mira dengan bersemangat di susul Ayub, Lili dan Anya yang sepertinya sudah mulai akrab.


Saat Royan hendak keluar menyusul Mira dan Arbie yang sudah menunggu di mobil bersama Ayub, Lili dan Anya. Tiba-tiba langkahnya di cegah oleh perkatasn Maya.


"Rencana licik apa lagi ini Mas. Apa tujuan mu membawa mantan mu kehadapanku ?". Tanya Maya menuding.


" Tidak ada. Aku hanya kasihan saja. Anya baru putus dari calon suaminya dan pulang ke indonesia untuk menenangkan diri. Apa salahnya jika aku sebagai temannya menghibur". Ucap Royan santai.


"Menghibur atau membuat Mira cemburu". Ucap Maya sinis.


" Mira atau kamu". Ucap Royan dengan terkekeh lucu dan berlalu pergi meninggalkan Maya yang terpaku di tempat.

__ADS_1


"Mana mungkin aku cemburu mas. Selera mu buka Anya. Aku tahu itu". Ucap Maya dan berjalan menyusul.


Dimobil mereka pun mulai melaju dengan posisi duduk Arbie yang menyetir mobil dan Mira pun duduk di kursi sebelahnya. Sementara Anya dibangku tengah duduk bersama Maya dan Royan yang berada di tengah. Sementara Ayub dan Lili berada di jok belakang yang satu bermain game online yang satu bermin musik di ponsel masing-masing.


Hanya butuh perjalanan satu jam saja untuk mencapai wisata kota kembang karena perjalanan yang padat merayap. Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Dengan antusiasnya Lili langsung bersemangat saat tau kalau akan sarpan dulu di restoran tersebut. Restoran yang terkenal akan makanan khasnya juga keindahan alamny yang menghadao langsung kerah hamparan pepohonan yang lebat dan gunung yang menjulang tinggi. Disertai dengan cuaca yang dingin asri.


Setelah selesai sarapan yang menjelang siang. Mereka pun memilih bermain wahana permaina yang sudah ada di sana. Sedangkan Mira hanya duduk diam seraya melihat Anya, Royan, dan Ayub bermain ayunan gantung yang nantinya akan meluncur kesuatu titik.


Sedangkan Lili dan kak Maya tengah asik bermain komedi putar yang berada tak jauh dari Mira berada.


"Engga ikut main ?". Tanya Arbie saat ia selesai bermain ayunan yang meluncur ke bawah.


" Masih terlalu kenyang rasanya". Ucap Mira dengan santai. Membuat Arbie tersenyum lucu.


"Ya bagai mana engga kekenyangan. Kamu habisin makanannya Lili dan kak Maya yang tinggal setengah". Ucap Arbie seraya terkekeh.


" Sayang makananaya". Ucap Mira seraya mengerucutkan bibirnya.


"Haha kamu lucu juga kalau sedang merajuk. Gemes lihatnya". Ucap Arbie dengan pandangan lucu.


" Ayolah kita main wahana bareng". Ucap Arbie seraya menarik tangan Mira sedikit memaksa.


"Eh eh apa-apan itu tangan nona Mira di tarik-tarik. Huh dasar pemaksa". Gerutu Roni yang melihat dari kejauhan dengan posisi menyamar sebagai bapak-bapak yang membawa anak yang tak lain keponakannya sendiri.


" Aku masih malas Arbie". Ucap Mira enggan.


"Ayolah, wahana permainan disini sangat menyenangkan. Ayo kita naik rolingroster". Ucap Arbie seraya menujuk kearah wahana.


" APA !". seru Mira sedikit syok.


Masalahnya wahana itu yang Mira hindari tapi kali ini sepertinya si tuan bollywood ini sangat memaksa.


"Ah tidak Arbie. Aku tidak mau menaiki wahana itu. Yang lain saja please". Ucap Mira sedikit memohon.


" Kalau begitu ayunan putar itu saja. Dibawahnya ada pemandangan bagus. Itu pasti menyenangkan. Ayo kita kesana". Ucap Arbie seraya menarik Mira mendekati wahana.


"Menyenangkan gundul mu". Lirih Mira seraya berjalan malas.


Dan akhirnya Mira pun mengikuti semua permainan yang di inginkan oleh Arbie sampai kelelahan dan pucat pasi.


Melihat hal itu Royan pun menghampiri Mira seraya membawakan satu botol air mineral dan memberikannya untuk Mira yang terlihat kehausan itu. Mira pun langsung menerimanya dan meneguknya hingga habis setengah botol.


"Duduk lah bersama kakak mu disana. Kakak sudah pesankan makan siang untuk mu dan yang lainnya. Magh mu nanti kambuh kalau sampai telat makan". Ucap Royan serya menunjuk kearh tempat dimana Maya, Ayub, Lili, dan Anya berada dengan lirikan mata.


" Ummh, iya ka. Kesana dulu ya". Izin Mira dan langsung berjalan ke tempat stand. Setelah Mira pergi, Royan pun langsung menatap tajam kearah Arbie yang terdiam bingung.


"Saya rasa anda kurang begitu peka terhadap Mira". Ucap Royan dengan tatapan mengintimidasi.


" Maaf kak. Saya terlalu bersemngat dan bahagia hari ini. Sampai tidak sadar akan keadaan Mira". Ucap Arbie sedikit merasa bersalah.


"Mira kondisi tubuhnya sangat rapuh. Butuh perhatian khusus juga asupan gizi yang baik. Maghnya juga sudah terlalu akut. Jadi dia butuh pasangan yang benar-benar peka akan keselanatannya dan kesehatannya". Ucap Royan memberi tahu akan kondisi dan keadaan dari Mira yang membuat Arbie sedikit menimbang.


"Iya kak, Maaf kalau saya sudah lalai". Ucap Arbie sedikit menyesal.


" Heh, Mira memang sering berada bersama pria-pria lalai yang ujungnya akan berakhir merugikannya". Ucap Royan sinis dan berlalu pergi menuju kestand makanan yang di mana ada keluargannya disana.


Makan siang pun berlalu dengan santainya. Terlihat Mira yang masih sedikit pucat tengah duduk dengan menyandar lelah. Rasanya perutnya begitu tidak enak dan banyak sekali kunang-kunang kecil yang menghampirinya. Namun ia enggan mengatakan apa pun terhadap semua orang. Ia takut jika ia mengatakannya akan membuat suasana menjadi panik dan acara kencannya pun batal.


Anya yang menyadari keterdiaman Mira pun langsung mendekati Mira dan menggenggam tangan Mira dengan lembut.


"Ra, Are you ok ?". Tanya Anya memastikan.


" Umh, baik ko kak, hanya sedikit kekenyangan mungkin". Ucap Mira mengelak.


"Seriusly, kamu makan sedikit tadi". Ucap Anya merasa bingung.


Royan pun datang sembari membawa tas selepangnya dan mengeluarkan beberapa bungkus obat. Yang membuat Anya terkejut dan heran.


" Hei boy. Obat itu untuk siapa ?". Tanya Anya penasaran.


"Mira". Ucap Royan singkat dan membuka beberapa bungkus obat. Anya pun ikut membantu seraya membaca setiap bungkua obat ysng Royan buka.


" Mira punya magh aku. Sejak kapan ?". Tanya Anya kaget. Masalahnya Mira itu anak yang gesit dan tidak mau diam. Dia tidak terlihat seperti orang sakit dulunya.


"Sudah dari sekolah menengah atas. Hanya saja terlalu diabaikan jadi lah akut". Ucap Royan memberi tahu.


" Oug Roy, you are sosweet. Kakak ipar atau kakak kandung sih kamu hahaha". Ucap Anya seraya bercanda untuk memecah suasana. Namun terkesan menyindir Maya.


"Keduanya". Ucap Royan seraya menyerahksn beberapa butir obat kepada Mira.


Mira pun menerimanya dan meminumnya dengan sekali teguk. Tak lupa dengan obat cair yang sangat pahit itu.


" Ough beruntungnya kamu Ra". Ucap Anya sedikit mendramatir. Membuat Mira tersenyum lucu.


"Tetapi tidak selamanya Mira diurus oleh kami. Apa lagi mas Roy yang memiliki banyak tanggung jawabnya. Jadi mau tidak mau Mira memang sudah harus mencari pendamping. Setidaknya untuk mengurus hidupnya biar tidak bergantung ke kakak dan kakak iparnya". Ucap Maya dengan sedikit tekanan yang membuat Mira merunduk sedih.


" Pasti kak Maya cemburu". Batin Mira merasa bersalah.


"Yah kalau bicara bertanggung jawab. Kan Mira udah engga punya orang tua. Dia punyanya saudara kandung. Udah wajib kakak laki-laki sebagai ayah dan kakak perempuan sebagai ibu". Ucap Anya sedikit menasehati karena tahu jika perkataan Maya sangat nyelekit.


" Ya memang sih Anya. Tapi kan seengganya kalau ada pasangan kan lebih baik. Engga selamanya juga saudaranya harus urusin. Ada tanggung jawab lain kan selain itu". Ucap Maya tidak ingin kalah.


"Justru sebaik-baiknya tanggung jawab adalah mereka yang memiliki ikatan darah. Jika pasangan, ya kalo dia baik tulus. Kalo engga kan kasian di Mira". Ucap Anya lagi sedikit tidak setuju.


" Kami tahu kok yang terbaik dan engg baik buat Mira. Orang luar tidak perlu ikut campur harusnya". Ucap Maya sarkas.


"Umh, sudah lah kak aku sudah baik-baik saja. Ayok kita ke tempat lainnya. Masih banyak yang belum kita kunjungi kan". Ucap Mira menengahi.


Royan, Anya, Ayub, dan Arbie pun menatap tak yakin kepada Mira yang semakin pucat dan lemah saja keadaannya. Sementara Maya terlihat acuh dan membereskan tasnya memasukan ponselnya dan berdiri seraya menggeneong Lili yang terlihat mengantuk lelah.


Mereka pun lalu berdiri semua bersiap-siap untuk menuju ke wahana lain dengan Mira yang di gandeng Anya dan di dampingi Arbie. Sementara Rotan dan Ayub mengekori dibelakang Mira.


Saat kesemuanya tengah asik melihat beberapa objek. Tiba-tiba tubuh Mira ambruk yang langsung dirangkap dengan sigap oleh Arbie dan langsung menepuk pelan pipi Mira.

__ADS_1


"Ra...Miranda...". Ucap Arbie dengan panik.


Anya pun ikut berusaha menyadarkan Mira. Sedangkan Royan yang tengah berbicar serius dengan Ayub pun lngsung berlari panik menuju kearah Mira yang tergeletak di pngkuan Arbie. Dan Maya pun langsung berlari seraya menggeneong Lili yang tertidur di gendongannya.


Royan langsung membawa Mira menuju mobil dan mereka pun segera pulang ke rumah dengan raut panik dan cemas.


"Roy, bagaimana ini. Denyut nadinya sangat lemah. Tangannya pun dingin". Ucap Anya seraya menggosok pelan tangan Mira memberi sedikit rasa hangat.


Arbie yang menyetir pun menjadi kalut dan panik. Sempat beberapa kali mobilnya hampir menabrak mobil lain. Membuat Royan sedikit gemas kepsa pria muda ini.


"Arbie fokus Arbie !". Seru Royan saat lagi-lagi mobilnya hampir menabrak mobil lain.


" Iya kak maaf saya terlalu panik". Ucap Arbie dengan tangan gemetar.


Ayub yang berada di depan duduk di kursi depan bersama Arbie pun di buat gereget oleh tingkah Arbie yang panik dan tidak fokus. Ingin rasanya ia saja yang menyupiri namun tidak akan mungkin ia berani menujukan skil pembalapnya. Bisa-bisa ia bakalan diintrograsi habis-habisan oleh ibu dan ayahnya.


Sesampainya di rumah Royan pun bergegas membawa Mira ke dalam kamarnya. Membaringkannya diatas kasur dan bergegas memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Mira. Anya pun tak tinggal diam. Ia pun menyiapkan semangkuk air hangat serta handuk kecil guna mengompres tangan dan kaki Mira yang terasa dingin.


selang lima belas menit dokter Johan pun datang. Memeriksa keadaan Mira. Royan sudah tidak kaget lagi saat yang datang adalah dokter pribadi milik keluarga Leonard. Pasti Yash sudah tahu keadaan dan kondisi dari Mira.


"Bagaimana kondisinya Dok ?". Tanya Royan penasaran.


" Hanya kelelahan saja. Biarkan dia istirahat cukup dan berikan obat ini saat dia sudah bangun". Ucap dokter Johan seraya menyerahkan resepnya ke Royan.


"Kalau begitu saya permisi dulu". Pamit dokter Johan dan berlalu pergi.


"Aku mau keapotik dulu menebus obat. Bisa aku titip Mira ?". Tanya Royan kepada Anya yang di balasi anggukan oleh Anya.


" Terima kasih". Ucap Royan dan berlalu pergi meninggalkan Anya, Ayub dan Arbie yang duduk terdiam. Sementara maya sibuk mengurusi Lili yang ingin tidur di pelukan Maya.


Arbie yang terdiam pun menimbang lebih banyak akan kondisi dan keadaan Mira. Apa jadinya jika Mira,nanti ikut kenegaranya. Disana satu rumah besar dihuni oleh banyak pasangan saudara, ayah, ibu dan yang lainnya. Disana pekerjaan rumah banyak dan harus bekerja melayani suaminya. Keadaan Mira,dan kondisinya sangat tidak mungkin untu bisa hidup di sana.


"Kak, dek. Saya pamit dulu ya. Mendadak ada sesuatu yang tidak bisa ditinggal sore ini". Ucap Arbie dengan sopan.


"Ya hati-hati di jalan". Ucap Anya lembut dan sopan. Arbie pun mengangguk dan berlalu pergi meninggalksn kediaman Rahardian.


" Ayub. Tante tinggal dulu ya kedapur. Mau siapin makanan buat makan malam". Ucap Anya meminta izin.


"Iya tante. Kalau ada yang rngga tahu. Tsnya saja ke mbok Inah. Dia pembantu disini tapi kerjanya cuma beberes rapih-rapih. Kalo yang masak biasanya tante mira". Ucap Ayub memberi tahu.


" Mamah kamu memangnya engga pernah masak ?". Tanya Anya penasaran.


"Dulu sih sering. Tapi sekarang sudah jarang. Semakin sibuk di dunia bisnis tante". Ucap Ayub dengan raut sendu.


"Ough kasian. Memang kadang siapapun bisa berubah. Tinggal gimana berubahnya saja, mau yang baik atau buruk hihi. Ya sudah tante masak dulu ya". Ucap Anya sembari berlalu meninggalkan Ayub yang terdiem mematung.


Maya sang ibu kandungnya itu memang sudah banyak berubah semenjak mempunyai karir bagus dan teman-teman sosialitanya. Lebih banyak menghabiskan waktu diluar bersama teman dan teamnya. Melupakan keluarga dan kewajibannya. Kalau tidak ada tante Mira, semua pasti kacau. Terutama Lili yang butuh banget bimbingan juga asuhan sang ibu. Dan sekarang tante kesayangannya pun telah terbaring lemah diatas tempat tidur.


Ayub pun menunduk sedih seraya sedikit mengeluarkan air mata. Merasa perasaan kalut, marah, sesih bercampur menjadi satu akibat perubahan yang berawal dari ibunya itu.


Ponsel Ayub pun bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ia pun memhapus air matanya dan lalu membuka panggilan video callnya.


"Ya Om Yash". Ucap Ayub sedikit parau membuat Yash sedikit takut.


" Ayub, apa tante mu baik-baik saja ?". Tanya Yash dengan mata paniknya.


"Baik om, hanya saja sekarang ini tante masih tertidur". Ucap Ayub memberi tahu seraya menujukan keadaan Mira pada layar ponselnya.


Yash yang melihatnya pun sedikit tertegun di tempat. Melihat keadaan Mira membuat hatinya sakit dan gelisah.


" Mata yang indah dan teduh itu. Apa bisa terbuka dengan cahaya binarnya. Apa masih bisa memancarkan teduh sendunya". Batin Yash yang terlihat memperhatikan Mira dari layar ponselnya dengan rau kacau.


"Mira, bangun lah sayang. Jangan membuat ku khawatir". Ucap Yash dalam hatinya dengan menuduk sedih.


Ingin rasanya ia langsung terbang menemui Mira dan merengkuhnya dengan lembut. Menungguinya dengan sedikit usapan lembut pada tangan dan rambutnya. Mengurusnya dengan baik dan penuh kehati-hatian.


"Sudah, aku tutup dulu. Jaga baik-baik tantemu ya. Jadi lah laki-laki yang baik Ayub". Ucap Yash menasehati.


" Tentu om".Ucap Ayub dengan pasti. Dan panggilan pun terputus.


"Ngapai kamu disana Anya !". Hardik Maya dari atas tangga,saat tahu Anya berada di dapurnya.


" Masak lah, apa lagi". Ucap Anya,santai.


"Dirumah ini sudah ada pembantu. Aku tidak butuh pembantu baru". Ucap Maya pedas membuat Anya sedikir terpaku di twmpat menyaksikan sikap Maya yang banyak berupah.


" Sikap Maya ini hampir Mirip seperti Zoya". Batin Anya merasa curiga dan melihat langsung kearah Maya.


"Apa ?". Tanya Maya sedikit menantang.


" Tidak perlu menjadi pembantu kok May, aku hanya sedikit membantu saja tidak lebih". Ucap Anya santai seraya mengaduk bubur beras khas negri tirai bambu.


"Terserah". Ucap Maya dan berlalu kelantai atas.


Selang beberapa jam, seluruh masakan pun terhidang di meja makan dengan rapih dan tersusun rata. Anya juga menyiapkan satu mangkuk bubur beras, satu mngkuk kecil sup sumsum, dan satu cup salad buah juga satu gelas air putih di nampan dan membawanya ke kamar Mira dengan hati-hati.


Terlihat Mira yang sudah siuman dari pingsannya dan tengah terduduk menyandar pada senderan tempat tidur di temani Ayub yang saat itu seoerti tengah berbicara dengan Mira.


"Aduh, ganggu ya. Maaf deh hihi". Ucap Anya dengan riang.


" Ayok Ra dimakan buburnya. Sebentae lagi mas Roy pulang dari apotik nebus obat kamu. Bisa langsung di minum obatnya". Ucap Anya dengan penuh perhatian.


"Iya kak, maaf ngerepotin kakak" . Ucap Mira sungkan.


"Engga masalah Ra". Ucap Anya santai.


Mira pun memakan bubur buatan Anya dengan perlahan dan hanya bisa menghabiskan setengah mangkuk saja. Begitupun dengan sup dan saladnya. Dan benar saja, tak lama Royan datang sembari membawa beberapa bungkus obat yang Mira butuhkan. Dan langsung meminumnya. Setwlah lima belas menit akhirnya Mira pun tertidur kembali akibat efek obat yang ia minum.


Anya pun langsung mengajak Royan, Ayub, Lili dan Maya untuk makan malam. Dan mereka pun majan dengan lahap dan santainya. Mengingat hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi mereka.


Tak lupa setelah makan malam usai. Royan menghubungi Lukman Sastrawan untuk menunda kencan bersama Mira karena kondisi Mira yang tidak memingkinkan untuk pergi.


Namun hal itu ditanggapi sinis oleh seorang Lukman Sastrawan dan menganggap jika Mira itu penipu yang licik yang hanya bisa bersembunyi di balik Royan.

__ADS_1


Tentu saja hal ini membuat Royan Marah dan memutuskan membatalkan perjodohannya itu. Dan malam itu adalah malam yang menguras banyak energi dan emosi bagi seorang Royan.


Tak tega melihat Anya pulang malam sendirian. Akhirnya Royan pun mengantarkan Anya pulang dengan selamat dan mengucapkan terimakasih atas bantuannya memasakan makanan dan mengurus Mira dengan baik.


__ADS_2