Luluh

Luluh
Tangisan Anak


__ADS_3

Pov. Rama.


Tubuhku tegang, mataku menajam, nafasku seakan berhenti dan jantungku seakan tak lagi terpompa. Saat aku mendengar ucapan Yanna.


Nana bukan anak Papa Rama?


Apa maksudnya Yanna. Kenapa ucapan Nana pada Naufal seperti itu? Dan.. siapa?


Oh Tuhan. Apa karena ini putriku berubah pendiam. Apa karena ini putriku tidak semanja dulu. Apa karena ini juga, putriku menangis setiap malam tanpa aku dan Yanna tau.


Inilah yang aku takutkan Tuhan.


Di saat aku belum mengatakan pada Nana dan Yanna. siapa sebenarnya Nana dan apa hubungannya denganku. Nana dan Yanna sudah terlebih dulu mengetahuinya. Terlebih lagi Yanna mengetahuinya dari Naufal, karena Nana selalu bercerita dengan Naufal. Dan Nana menyembunyikannya dari aku dan juga Yanna.


Kenapa Nana tidak bertanya?


Kenapa? Apa Nana takut. Hingga anak kecil itu lebih baik memendamnya diam dalam hati. Tanpa mau mendengar penjelasan dan juga kenyataan.


Kenyataan bila dia bukan anakku?


Tuhan. Aku tidak sanggup dan aku belum siap untuk mengatakan semuanya pada Nana. Aku tidak tega, sungguh. Aku tidak tega. Lebih baik aku yang sakit hati dari pada aku melihat Nana menangis.


" Mas? Jawab. apa maksud Nana bilang sama Naufal seperti itu. Apa maksudnya Mas?" Desak Yanna, melepas pelukanku dan membuatku tersadar untuk menatap Yanna kembali.


Yanna menangis?


" Yan?"


" Pasti Nana sakit tau tentang ini semua dan itu bukan dari papanya. Melainkan dari orang lain. Aku gak tau gimana anak sekecil Nana bisa nyimpan masalah ini sendirian, aku yang enggak kamu ceritakan dan tau dari orang lain, sakit loh mas. Sakit! Apa lagi Nana, anak sekecil itu." Kata Yanna. " Aku seperti gak kamu angg-,"


" Enggak Yan, enggak gitu!" Potongku cepat, menyentuh tangan Yanna dan menggenggamnya dengan lembut. Aku tidak ingin Yanna salah paham tentang ini.


" Aku memang ingin cerita sama kamu, tapi belum waktunya Yan. Dan ini aku enggak tau, Nana tau dari mana soal dia.., bukan anakku." Lirihku, menundukkan kepala.


Saat aku juga sakit mengucapkan Nana bukan putri kandungku. Walaupun begitu, gadis kecil itu sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Yang aku rawat sejak bayi, dan bibir kecil itu yang memanggilku Papa untuk pertama kali bisa berbicara.


" Ayo kita temui Nana di kamar. Putri kita pasti belum tidur." Kata Yanna, mengusap ke dua matanya dan mengajakku untuk menemui Nana. Membuatku menatap lekat istriku.


" Dia pasti menangis." Imbuhnya lagi, membuatku menarik nafas panjang. Sungguh, aku ingin menghajar orang yang sudah memberitahukan rahasia yang aku dan ibuku tutupi selama ini Pada Nana. Rahasia yang membuat putriku menangis setiap malam dan juga pendiam.

__ADS_1


Aku mengangguk, dan ada rasa takut saat aku melihat putriku menangis dalam tidur malamnya. Takut aku tidak bisa menjelaskan, takut bila nanti putriku bertanya siapa orang tua aslinya dan di mana sekarang berada.


Aku buka pintu kamar Nana dengan pelan, di ikuti Yanna dari belakang. Dan pandangan pertama yang aku lihat saat ini, putriku duduk bersandar di ranjang bersama adiknya, Naufal.


Naufal yang setengah mengantuk saat menenangkan Kakaknya. dan Nana yang mengusap matanya dengan ke dua tangannya. Untuk menghapus air mata saat melihatku dan Yanna.


" Nana kenapa Nangis sayang?" Tanya lembut Yanna, duduk di sisi ranjang dan mengusap pipi Nana.


" Sebentar. Adik pasti sudah ngantuk, Mama tidurin adik sebentar ya, di kamar. Nana sama Papa dulu." Ucap Yanna, membuat Nana mengangguk. Menggendog Naufal dan membawanya menuju kamar.


Mungkin kali ini Yanna ingin tidur bersama anak-anak di kamar kami. Dan memberikan aku kesempatan untuk berdua dengan Nana. Serta tak ingin Naufal mendengar percakapan aku dan Nana yang terbilang sensitif.


" Nana?" Panggilku lembut putriku yang duduk menunduk bersila di tempat di tidur. seperti takut denganku.


Ku usap lembut puncak kepala Nana, beralih tangan kecil yang dulu selalu aku genggam mengajarinya berjalan. Tanpa terasa air mataku jatuh, tidak sanggup melihat kerapuhan putriku yang kini menangis di hadapanku.


" Peluk Papa." Pintaku, membuat Nana menghambur kepelukanku tanpa paksaan. Menumpahkan tangisannya di dalam pelukanku, Terasa sangat pilu dan menyakitkan bagiku mendengar tangisan Nana.


Aku usap lembut kepala Nana, aku ciumi puncak kepalanya berkali-kali dan aku dekap putriku dengan erat. Seakan aku tak ingin kehilangannya. Aku pun merasa sakit bila Nana menangis. Hatiku merasa tidak terima bila Nanaku di sakiti. Bagaimana pun Nana sudah menjadi setengah hidupku. Menjadikanku seorang ayah yang wajib menjaga dan melindunginya.


Nana lah yang mengajarkan aku sebagai seorang ayah.


" Apa benar Nana bukan anak kandung papa?" Tanya Nana, dalam pelukanku.


" Anak kandung atau tidak. Nana akan tetap menjadi putri Papa, dan tetap menjadi anak pertama papa." Jawabku lembut.


" Berarti benar, aku bukan anak papa." Ucapnya lagi. Membuatku diam, dan sulit menjawab kebenarannya.


" Aku anak yang gak di harapkan ya pa sama orang tuaku? Sampai-sampai mereka membuangku."


" Enggak begi-,"


" Terus kenapa mereka gak mau sama aku!! Kenapa aku di buang Pa! Kenapa!! " Sela Nana, kembali terisak dalam pelukan. membuatku kembali memeluknya dan mengepalkan tangan saat aku mengingat kembali.


Mengingatku kembali, di mana baj*ngan itu memperk*sa calon istriku, di saat dia sedang mabuk berat. karena pengaruh alkohol, kala menghadiri pesta perayaan cabang kerjanya di surabaya.


Kala itu calon istriku datang ke rumah mamaku sendiri di malam hari, di saat aku sedang mengantar Mama ke rumah sakit. Menjenguk saudara yang sakit.


Hanya tinggal satu bulan lagi aku dan calon istriku akan menikah. Tapi pernikahan ku kandas saat aku melihat dengan mataku sendiri, Kakakku yang bajing*n memperk*sa calon istriku dengan brutal. tangan yang di ikat, baju yang sudah tidak ada di tubuhnya dan semua cumbuan di begitu banyak di tubuh calon istriku. Di tambah darah segar mengalir di pangkal pahanya. hingga tak sadarkan dirinya.

__ADS_1


Biad*b.


Siapa yang tidak marah, jelas aku marah. Aku memukulnya hingga membabi buta dan nyaris membunuh kakakku, bila mama tidak menghadang dan menahan tanganku saat aku mengambil vas bunga yang pecah.


Bukan mama membela, tapi bila aku membunuhnya. Mama bukan hanya kehilangan kakakku, tapi juga aku yang akan di penjara hingga puluhan tahun.


Tubuhku bergetar menundukkan wajah dan menangis saat tak sengaja melihat mama melepas ikatan tangan di calon istriku, menutupi tubuhnya dengan selimut dan menyuruhku untuk mengangkat tubuhnya ke dalam mobil agar segera di larikan ke rumah sakit. Dan aku tidak peduli bagaimana nasib kakak bajinganku yang tak sadarkan diri karena pukulanku bertubi-tubi.


Bagaimana perasaanku.


Hancur.


Ya, itulah perasaanku dulu. Hancur dan sakit hati karena kakakku memperkosa calon istriku.


Tanggung jawab?


Tidak, kakakku tidak mau bertanggung jawab. Karena si baj*ngan itu sudah mempunyai istri dan anak di jakarta.


Dan siapa yang harus bertanggung jawab.


Aku?


Ya aku yang bertanggung jawab atas kebiad*ban kakakku pada calon istriku. Tapi calon istriku, seakan tidak mau denganku lagi, dan tidak mau aku nikahi. Karena dirinya sudah tidak suci lagi. dan di tambah mentalnya sedikit terganggu saat mengingat kembali dirinya di perkosa oleh kakakku dengan brutal.


Positif hamil?


Hamil di saat spikologisnya belum sembuh total, membuat mantan calon istriku semakin terganggu dengan kehadiran janin yang tidak di inginkan. Aku masih setia menemaninya, menenangkannya dan mengantarkannya ke rumah sakit jiwa untuk mengontrolkannya setiap bulan. Hingga perutnya membuncit sampai sembilan bulan.


Dia wanita yang cantik berseri meskipun dalam keadaan pucat saat akan melahirkan.


" Tolong jaga anakku Rama. anggap dia sebagai anak kamu. makasih, sudah menemaniku sampai saat ini."


Mengingat kejadian dulu, membuatku kembali menitikan air mata. dan kembali aku memeluk erat Nana yang sudah aku anggap sebagai anakku sendiri.


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2