
Di malam yang sunyi dan gelap di suatu gudang yang pengap. Telah terikat seoraxng lelaki muda yang entah sejak kapan dirinya sudah dibawa dan di sekap di gudang itu. Dirinya merasa jika setelah kencan buruknya dengan wanita biasa dan udik bernama Mira.
Dirinya di buat pusing tujuh keliling karena tiba-tiba saja dalam sekejap perusahaannya bangkrut. Banyak infestor yang mencabut infestasinya di perusahaan resoot dan perhotelannya itu. Dan mulai besok semua hotel dan tesoot milik perusahaannya terancam di tutup. Belum lagi pemecatan tidak hormatnya di rumah saki X yang membuatnya semakin tambah pening. Semua karena dirinya yang terlalu mengumbar kesombongan di depan publik terhadap Mira. Sehingga ada yang mungkin saja orang yang mengenalnya itu melihatnya tengah memaki Mira waktu itu.
Jika sudah begini Rico pun mulai bingung. Apa yang akan dia katakan kepada sang kedua orang tuanya mengenai perusahaanya juga prmecataan tidak hormatnya juga gelar dokternya yang sudah pasti akan di cabut. Hal itu lah yang membuat Rico langsung memutuskan untuk minum sebentar di salah satu klub malam. Berharap jika ia bisa mendapat ketenangan sejensk. Nami naas bukanya ketenangan yang ia dapat. Malah penyekapan lah yang ia dapatkan.
***TAAP P
TAAPP***
Suara langkah kaki yang menggema pun membuyarkan renungan Rico kala itu. Indra pendengarnya pun ia pertajam guna merasakan keberadaan seseorang yang mengusik rasa penasarannya.
KLIKK
Suara saklar lampu yang di nyalakan pun terdengar nyaring. Dan sorot lampu yang menerangi indra penglihatan Rico yang mulai menyipit karena silau.
Terlihat seorang pria yang berdiri tertunduk mengenakan setelan serba hitam juga topi hitam yang menutupi wajahnya membuat Rico sedikit penasaran akan seseorang yang dengan beraninya telah menyekapnya di tempat kumuh dan jorok itu.
"Siapa kau ?". Tanya Rico denfan nada penuh amarah.
Seseorang yang memakai topi itu pun tersenyum evil saat mendengar nada marah yang di lontarkan oleh Rico yang tengah bertanya itu.
"Berani-beraninya kau menyekapku di tempat kumuh seperti ini. Kau tidak tahu siapa aku HAH !". Ucap Rico lagi dengan penuh amarah.
"Sudah kehilangan segalanya. Masih tetap saja sombong. Sungguh menarik sekali". Ucap Pria bertopi itu dengan nada mengejek.
"Kau juga picik. Beraninya main keroyok dan bius. Dasar lemah mental. Jika kau mampu lawan aku seorang diri dengan tangan kosong". Tantang Rico dengan sombongnya.
Seseorang itu pun tersenyum lucu melihat tingkah Rico yang masih saja sombong. Namun ia pun sedikit kagum akan keberaniannya itu.
"Apa jaminannya jika kau dan aku berkelahi dengan tangan kosong ?". Tanya pria muda bertopi itu.
"Jika aku kalah, aku akan menjadi budak mu. Dan jika kau yang kalah. Maka kau harus menjadi budak ku dan menyerahkan segala kekuasaanmu juga hartamu". Ucap Rico menantang.
"Heh... Memangnya kau tahu siapa aku ?". Tanya pria bertopi hitam itu dengan nada mengejek.
"Gengster sepertimu sudah ku hafal". Ucap Rico asal dan mencoba untuk menakuti lawan.
"Syaratnya tidak asyik. Jika hanya budak aku pun punya banyak. Aku tidak ingin menambah budak lagi. Tetapi jika kepalamu sebagai taruhannya. Cukup menarik bagi ku". Ucap Pria bertopi itu dengan senyuman iblisnya.
Rico yang mendengarnya pun sedikit tertegun mendengar kata-kata pria bertopi itu yang menginginkan kepalanya sebagai bahan jaminan atau taruhanya itu.
"Kenapa diam. Apa... Kau takut heh ?". Ucap pria bertopi itu dengan tersenyum sinis dan kekehan remeh.
"Ciihh siapa takut". Ucap Rico menantang.
Seseorang bertopi itu pun tersenyum senang. Dalam benaknya sudah lama ia tidak melatih ototnya dan kemampuannya. Sekarang saatnya ia berlatih.
Anak buah dari pria bertopi pun melepas ikatan yang terlilit dan terikat pada Rico. Dan setelah terlepas rico pun berdiri dengan sedikit sempoyongan karena pengaruh alkohol yang belum hilang sepenuhnya.
Seseorang bertopi itu mengambil satu botol air mineral dari meja rapuh yang terdapat dalam gudang itu dan menyodorkannya ke arah Rico. Sementara Rico hanya menaikan sebelah alisnya.
"Barang kali kau butuh untuk meredakan rasa pusing mu". Ucap pria bertopi itu dengan santainya.
"Yang benar saja. Aku akan menerima air dari seseorang yang menantangku bahkan menculik ku". Batin Rico dengan mengernyit tak suka.
"Heh aku tak butuh". Ucap Rico sombong. Dan pria bertopi itu pun hanya mengangguk santai dan malah meminum air mineral itu dengan santai.
Terlihat pria bertopi itu meneguknya dengan santai seraya melirik kearah Rico yang diam-diam sedikit ingin minum air.
"Aku malah sebaliknya. Tubuhku akan terasa lebih ringan jika meminum air terlebih dulu". Ucap pria bertopi itu dan lalu membuang botol mineral itu keswmbarang arah.
Rico pun langsung mengambil ancang-ancang untuk menyerang sementara pria bertopi itu hanya diam dengan santai seraya memperhatikan gerak gerik Rico yang bisa di bilsng cukup menarik.
__ADS_1
Rico akhirnya maju menyerang pria bertopi itu dengan jurus judo andalannya. Sementara pria bertopi itu hanya menghindar saja seraya tersenyum remeh. Seolah bahwa Rico hanya sebuah mainan yang menarik.
Lelah dengan serangannya Rico pun terdiam sejenak seraya mengatur nafas yang terasa sempit dan sulit. Ia pun lalu memandang si pria bertopi dengan marah. Sementara pria bertopi itu hanya memandang tajam dan sedikit memperlihatkan wajahnya.
Rico pun sedikit tertegun. Ia merasa tidak asing dengan pria bertopi itu. Ia merasa sangat mengenalnya. Namun ia sedikit lupa dan susah untuk mengingat.
"Lawan aku brengsek !". Seru Rico menantang.
"Kau yakin ?". Tsnya si pria bertopi meragukan.
"YA. Sebenarnya apa maumu HAH. Urusan mu denganku APA !". Seru Rico merasa penasaran.
Si pria bertopi itu pun tersenyum senang menanggapi seruan dari Rico yang mempertanyakan apa kesalahannya. Ia pun mendekat kearah Rico memegang dagu Rico dan menatapnya dengan tajam.
"Miranda Nur. Apa....Kau mengingatnya". Ucap pria bertopi itu dengan sakratis.
Rico pun langsung tertawa terbahak mendengar ucapan dari si pria bertopi itu. Ia tak menyangka jika ia harus berhadapan dengan suruhannya wanita lemah itu.
"Haahaahaa kahau suruhan darinya kah heh ?". Tanya Rico dengan tersenyum remeh.
"Wanita rendahan itu. Benar-benar !". Ucap Rico geram dan langsung menyerang pria bertopi dengan membabi buta. Meluapkan segala kekesalannya.
Si pria bertopi itu tidak tinggal diam namun ia tidak melawan. Yang ia lakukan hanya menghindar dan menangkis saja tanpa mau membalas. Ini adalah salah satu cara dan triknya agar lawan kelelahan dan lemah. Permainan emosi memang sungguh ampuh.
PAAKKKK !!!!
Suara adu kepalan tangan Rico dan telapak tangan pria bertopi itu pun menggema di gudang kosong itu. Mereka berdua saling menahan satu sama lain.
"Dimana wanita itu huh ?". Tanya Rico dwngan nafas memburu dan tatapan mata tajam.
"Berani-beraninya ia menggunakan gengster rendahan sepertimu. Akan aku tunjukan seberapa menjijikannya wanira itu !". Seru Rico lantang sampai menggema di seluruh gudang.
Si pria bertopi itu pun tak tinggal diam. ia pun mengencangkan cengkramannya lalu dengan sekuat tenaga menarik kepalan tangan Rico kebawah lalu memelintirnya kebelakang. Sehingga tubuh Rico langsung membelakangi pria bertopi dan terdengar bunyi.
Yang cukup keras sehingga membuat Rico langsung berteriak dengan lantang. Merasakan sakitnya pergelangan tangan dan bahu yang seperti patah.
"Arrrgghhh ! Lepaskan bangsat. Sialan kau Arrgghhh !". Seru Rico merasa kesakitan.
"Melepaskan mu ?". Tanya si pria bertopi dengan raut terkejut.
"Tidak akan". Ucap pria bertopi itu lagi dengan tajamdan menambah sakit pada kaki Rico yang ia injak hingga Rico berlutut dengan berteriak.
"Kau tahu. Kau sudah sangat berani sekali menghina dan mempermalukan milik ku di depan orang banyak. Menghina milikku sama saja kau mencari kehancuranmu sendiri". Ucap pria bertopi itu dengan menghempas tubuh Rico hingga tersungkur.
Rico pun mengerang sakit dan seperti berkunang hingga rasanya ia mau pingsan. Namun pria bertopi itu malah menyiram muka Rico dengan air es hingga membuat kesadarannya yang tadinya akan hilang menjadi pulih dengan tergagap.
Rasanya pun seperti di kejutkan oleh sesuatu yang mengakibatkan jantungnya berdetak kencang dan nafasnya pun terasa tak beraturan.
"Siapa kau....Siapa milik mu ?". Tanya Rico lemah.
"Aku...Aryasha Leonard. Dan milikku adalah Mira". Ucap si pria bertopi itu mengakui jati dirinya.
Rico yang mendengarnya pun langsung melotot di tempat. Ia merasa terkejut dengan pengakuan dari pria bertopi itu.
"Tidak mungkin". Ucap Rico tak percaya.
Yash pun lalu mendekat kearah Rico. Ia pun berjongkok di hadapan Rico yang masih terjerembab di lantai. Ia pun lalu menjepit kedua pipi Rico dengan tangan kirinya dan mengarahkan wajah Rico ke wajah Yadh untuk menatspnya.
"Lihat aku baik-baik Rico". Ucap Yash tajam dan langsung membuka topinya.
Dan sungguh Rico pun terkejut bukan main saat wajah pria bertopi itu benar-benar Aryasa Leonard. Dan ia pun mulai menunduk takut.
__ADS_1
"Tuan muda Yash". Lirih Rico dengan tertunduk takut.
"Jika iti didunia perkantoran dan di luar gedung ini. Kau boleh memanggilku dengan sebutan Yash. Tetapi di dunia kriminal. Panggil aku Leon". Ucap Yash dengan tersenyum iblis.
Rico yang tahu betul siapa itu Leon di dunia gelap malah menjadi gemetar takut dan bertanya-tanya. Dari mana seorang gadis biasa seperti Mira. Sanggup membuat seorang Leon tunduk dan luluh.
"Jadi. Semua kekacauan yang ku hadapi. Semua itu..". Ucap Rico sedikit tak percaya. Dan Yash pun hanya tersenyum jenaka kearah Rico yang sudah melemas.
GREEPPP
Yash pun langsung menarik kerah baju Rico dengan tiba-tiba dan berkata.
"Pelajaran untuk pria sombong sepertimu. Kau tahu Rico. Hari ini kau menghina seorang gadis. Kau permalukan dia dimuka umum. Ingat saat nanti jika kau menemukannya. Kau akan benar-benar terjatuh dengan tak tahu malu dan tak diri". Ucap Yash memperingati Rico yang mulai berfikir waras dengan menarik kerah baju Rico dengan Kasar.
"Sampai-sampai kau akan merasa malu dengan sendirinya". Ucap Yash lagi dan langsung mendorong tubuh Rico hingga terlentang di lantai gudang yang pengap dan kotor.
Tubuhnya sudah sangat lemas dan sakit. Kesadarannya pun sudah mulai menghilang akibat patah tulang yang ia rasakan.
"Tuan. Dia pingsan". Ucap Roni yang memeriksa keadaan Rico.
Yash yang berdiri membelakangi pun hanya tersenyum simpul dan memakai topinya kembali. Ia pun menatap lurus kedepan dengan tajam.
"Bawa ia ke parkiran klub malam itu. Beri tahu kedua orang tuanya jika putranya telah mabuk berat dan berkelahi dengan seseorang tak dikenal di dalam klub. Bukti dan rekamannya kau ataur dengan baik Roni. Aku tidak ingin ada kesalahan". Ucap Yash memerintah dan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Roni dengan beberapa orangnya dengan Rico di sana.
"Hhhh pria bodoh yang malang. Seharusnya kau cari tahu dulu siapa orang-orang yang berada di belakang wanita yang kau bilang...". Ucap Roni yang bahkan tak berani melanjutkan ucapannya karena sangat menghormati tuan mudanya yang sangat memuja Mira.
"Ini baru tuan Leon yang memperingatimu dan memberi mu pelajaran. Tunggu saja swlanjutnya dari kakak ipar nona Mira juga kakak kandungnya. Benar-benar pria bodoh". Ejek Roni dan langsung berdiri.
"Bawa dia". Titah Roni kepada empat orang-orangnya.
"Baik bos". Ucap empat orang itu dengan patuh.
Dan akhirnya empat orang itu berserta Roni langsung membawa Rico ketempat klub dan menjalankan rencananya.
"Kerjai baik Troy. Tusn Leon merasa senang dengan kerja mu itu". Ucap Roni seraya melempar amplop coklat yang berisi uang.
"Heh. Senang bisa bekerjasama dengan tuan Leon dan anda". Ucap Troy dan langsung pergi.
Sementara Yash pun melajukan mobilnya sendiri menembus gelapnya malam menuju rumah besar dengan hati senang. Setidaknya ia sudah sangat puas memberikan seorang pria muda angkuh nan sombong itu pelajaran.
"Berani-beraninya kau. Mempermalukannya. Di depanku dan di hadapan orang. Sehingga membuatnya menangis". Ucap Yash dengan tatapan tajam kearah jalan raya.
Sesampainya di rumah besar leon pun langsung maduk ke pintu kedua yang menuju langsung ke lif otomatis yang membawanya ke kamar pribadinya.
Sesampainya di kamar yash pun ingin membersihkan bafannya dan istirahat. Namun kehadiran sang ayah di dalam kamarnya membuat Yash mengurungkan niatnya dan memandang bingung ke arah sang ayah.
"Sudah pulang rupanya". Ucap Jonatan dengan santai. Namun matanya terlihat tajam.
"Ayah dengar. Putri ku sudah di permalukan oleh seorang pemuda. Apa itu benar Leon ?". Tanya Jonathan dengan tegas.
"Dia bukan putrimu. Berhenti lah menyebutnya putrimu. Itu sangat menggangguku. Dan ya memang benar dia dipermalukan oleh Rico Orlando". Ucap Yash menjawab pertanyaan sang ayah yang tak kalah tegas pula.
"Kau sudah memberinya pelajaran. Perlukah ayah turun tangan ?". Tanya Jonathan memastikan.
"Semua sudah ku bereskan. Aku ingin istirahat ayah. Bisakah kau pergi". Ucap Yash tanpa,ada rasa hormat.
Jonathan pun tersenyum maklum dan ia pun mengangguk dengan santai.
"Kerja yang bagus nak". Ucap Jonathan dan langsung melangkah keluar.
Namin sebelum benar-benar mencapai pintu. Jonathan pun berbalik dan menghadap kearah Yash yang masih berdiri seraya melepas aksesoris yang ia kenakan.
"Yash. Semarah apa pun kau kepada Raina. Tolong jangan jauhi dia dan mengabaikannya. Dia hanya ingin bersama Vikram yang telah berhasil merebut hatinya". Ucap Jonathan menasehati.
__ADS_1
"Karena itu. Aku ingin menjaga jarak dengannya. Ayah tahu sendiri. Sulit bagiku untuk menjauh darinya. Aku tidak ingin nenggoyahkan tekad ku. Aku tidak ingin meragukan kenyamananku. Dan aku juga tidak ingin membuatnya meragu kepadaku ayah". Ucap Yash dengan sakratis.
Jonathan pun hanya mengangguk saja dan mengerti posisi dari anak sulungnya itu. Ia pun juga ingin melihat Yash dan Mira bersatu demi Raina.