Luluh

Luluh
Episode 15


__ADS_3

Satu minggu kemudian Mira pun sudah berkerja kembali di butik Madam Ghina. Swmua para pekerja yang mengenal Mira selalu menanyakan kabar dan bersikap ramah padanya.


Mira pun bekerja dengan baik dan giat hari itu. Mengingat jika ia sudah lama beristirahat di rumah dan berdiam diri tanpa melakukan apa pun. Hanya makan dan tidur lalu bermain ponsel. Jika ingin membantu atau berkemas rumah pun dilarang oleh kakak petempuannya. Pasti Mayya selalu mengingatkan Mira dengan luka di lengan atas bawah pundaknya itu.


"Wiiihhh Mira udah masuk kerja nih. Semangat pula kerjanya. Baik-baik tuh lukanya ntar ngga sembuh loh". Ucap Mba Laras penjahit baju di butik.


"Iya Mba ini juga hati-hati ko. Udah mulai menngering juga". Sahut Mira dengan senyum ramah.


"Ya udah Mba mau masuk dulu ya keruangan jahit". Pamit Mba laras.


"Iya Mba semangat yah". Ucap Mira menyemangati.


"Pasti". Sahut Mba Laras seraya berjalan kedalam ruang jahit.


Memang butik dari Ghina Colection termasuk butik besar. Para pekerjanya pun banyak. Ada ruang-ruang khusus bagi para pekerja. Misal ruang jahit, ruang desain, ruang mewarna, ruang membatik, ruang pemrosesan kain dan banyak lagi. Semua peroses pembuatan baju di lakukan di tempat yang sama.


Namun untuk di lantai satu dan lantai dua ruang untuk dipajangnya baju serta ruang kerja madam Ghin, ruang kerja nona Martha dan ruang menejer pak Er.


Selebihnya seperti ruang jahit, ruang desain, ruang membatik dan sebagainya ada di lantai satu bagian belakang. Jadi jika ingin masuk keruangan itu harus melewati ruang utama tempat dipajangnya baju-baju untuk di jual.


"Mira...". Ucap seseorang memanggil.


Mira yang kala itu tengah menaruh lebel harga swrta menata baju pun menengok kearah sumber suara yang memanggilnya.


"Pak menejer Er. Selamat pagi". Ucap Mira dengan ramah.


Erlangga pun mendekat kearah Mira dan melihat Mira dengan tatapan sulit diartikan.


"Kau sudah sembuh. Luka mu sudah tidak apa-apa ?". Tanya menejer Er dengan sedikit khawatir.


"Sudah pak menejer". Ucap Mira dengan sedikit tersenyum.


"Nanti....Bisa kita bicara berdua. ?". Tanya menejer Er kepada Mira.


Mira yang mendengarnya pun mulai bimbang untuk bilang bisa tidaknya ajakan dari sang menejer. Mira hanya takut jika terjadi kesalah fahaman nanti.


"Di cafe Lubis jam dua belas siang saya tunggu kamu disana".


Ucap menejer Er lalu pergi meninggalkan Mira yang terkejut akan ucapan sang menejer yang memutuskan sepihak tempat dan waktu pertemuan mereka tanpa menunggu persetujuan dari Mira dulu.


Mira pun memandang sedih kearah punggung tegap Erlangga yang menjauh darinya. Sekarang ia merasa sangat aneh setelah mengetahui pertunangan antara menejer Er dan nona Martha.


"Dooorrr ngelamun terus".


Ucap Shila tepat di telinga Mira. Membuat Mira terkejut dan memejamkan matanya sejenak guna menormalkan kembali rasa terkejutnya.


"Shilaaa, masih pagi loh. Udah mau bikin orang jantungan di tempat". Ucap Mira dengan sedikit kesal.


"Muehehe sory deh Ra. Lagian lu juga pagi-pagi udah melamun. Kesambet setan pagi entar". Ucap Shila.


"Emang ada setan pagi ?". Tanya Mira dengan raut bodoh.


"Ada tuh lagi jalan kemari". Tunjuk Shila kepada seseorang yang tengah berjalan dengan lemah gemulai.


"Ya ampun Shil, gitu amat kamu ke Oji pake bilang setan pagi segala". Ucap Mira dengan tersenyum lucu.


"Aay ney Mira selamat pagi ney, and you princess setengah matang selamat pagi ney". Ucap Oji dengan suara khas kemayunya.


"Gua bilang apa kan. Dia itu emang setan". Bisik Shila kepada Mira dengan raut sebal setengah mati.


Mira pun menjadi tertawa mendengar perkataan Shila yang terdengar konyol namun ada benarnya juga bagi Shila yang selalu bertengkar jika bersama dengan Oji. Jika bukan Shila yang memulai pasti Oji yang memulai duluan dan selalu begitu sepanjang setahun ia bekerja di butik Madam Ghin.


"Pagi juga Mas Oji yang ganteng". Ucap Imelda secara tiba-tiba dari belakang.


Ucapan Imelda pun sukses membuat Shila tertawa dengan puas. Sedangkan Oji yang diketawai itu pun langsung melirik kearah Shila dengan tajam.


"Lu lagi belek apa Mel matanya". Tanya Shila disertai dengan tawanya.

__ADS_1


"Iya kayanya Shil. Berasa kaya ada yang ngeganjel nih di mata". Ucap Imelda menimpali.


Dan lagi-lagi Shila tertawa dengan keras mendengar jawaban dari Imelda yang secara kompak bermaksud membuat sang desainer Oji murka.


"Ney berdua ini yak udah bikin Gua emosi di pagi hari hiih sebel. Udah lah gua mau masuk saja behay".


Ucap Oji dengan sedikit nada tinggi di akhir kalimat dan berjalan masuk dengan gaya angkuh. Sedangkan Shila dan Imelda pun tertawa puas karena,telah membuat Oji bad mood di pag8 hari.Lain hanya dengan Mira yang sedari tadi hanya tersenyum ringan melihat kelakuan para teman kerjanya itu.


Saat jam makan siang tepatnya pukul dua belas siang. Mira yang baru menyelesaikan tugasnya pun mulai membuka ponsel yang sedari tadi berdering itu.


Dilihatnya layar ponsel yang tertera sebuah panggilan dari menejer Er itu. Mirapun mulai mengangkat panggilan telfon dan menempelkan ponselnya di telinga.


"Tidak lupakan jika siang ini kita ada janji temu". Ucap menejer Er disebrang telfon.


"Pak,,Saya...". Ucapan Mira terpotong sebab Erlangga sudah memukuai berbicara lagi.


"Aku akan datang. Dan kita pergi bersama". Ucap Erlangga dengan tanpa bantahan membuat Mira langsung menolak dengan keras.


"Jangan pak, biar saya yang akan kesana. Tunggu saja sebentar".


Ucap Mira dengan paniknya dan langsung mematikan televon. Membuat Erlangga yang berada disebrang sana tersenyum senang sebab berhasil membuat Mira mau menemuinya.


Mira pun langsung bergegas keluar dengan terburu-buru. Membuat keempat temannya yang melihat dari jauh terheran-heran.


"Itu Mira mau kemana ?". Tanya Nuri yang melihat Mira berjalan keluar dengan terburu-buru.


"Iya yah, tumben engga makan siang bareng kita". Ucam Imelda dengan raut heran.


"Lagi ada urusan kali ney". Ucap Oji menebak.


"Ya udah si kita tanyain saja nanti kalau Miranya udah balik". Ucap Shila menengahi.


"ok lah, kuy kita makan". Ucap Imelda menyudahi.


Akhirnya mereka berempat pun memulai makan siangnnya di salah satu tempat makan dekat butik dengan khidmat.


Sejujurnya Mira terasa sedikit minder untuk memasuki cafe itu. Apa lagi hanya dengan pakaian kerja biasa. Sementara yang di dalam memakai pakaian kerja rapih dan berkelas. Ia pun sempat berdiam diri di depan pintu cafe dengan menimsng.


"Aku fikir ini cafe biasa". Ucap Mira dalam hatinya.


Ponsel Mira pun bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk pada ponselnya. Setelah dilihat ternyata itu pesan dari menejer Er.


From Menejer Er to me : Masuk lah. Aku ada di meja nomor 9.


Mira pun menghela nafas dengan panjang. Mau tak mau Mira pun harus masuk kedalan untuk menemui sang menejer.


Saat sudsh di dalam Mira pun mulai menyapukan pandangan matanya guna melihat sang menejer atsubmeja nomor sembilan. Setrlah pandangannya bertemu dengan pandangan sang menejer yang kala itu tengah memberikan isyarat untuknya mendekat.


Mira pun mulai berjalan mendrkat dan duduk di seberang sang menejer. Membuat Erlangga selaku sang menejer menghela dan lalu berpindah duduk menjadi di samping Mira.


Namin tanpa mereka sadari, pertemuan mereka di lihat oleh seseorrang yang mengenal betul Mira dan menejer Er.


"Kita pesan makan dulu ya, setelah ini baru kita bocara. Kamu mau pesan apa ?". Tanya menejer Er dengan lembut.


"Saya...Samakan saja". Ucap Mira tanpa minat.


Sementara seseorang yang tengah mengawasi mereka pun mulai mendekati meja makan yang berada di belakang Mira. Ia pun duduk trpat di belakang Mira dengan membelakangi Mira.


Akhirnya menejer Er pun memesan dua piring sepagheti bolones untuk mereka makan siang dengan lemon tea untuk Mira dan orange jus untuk menejer Er. Tak lupa juga salad buah krdukaan Mira.


Tak lama pesanan makanan mereka pun datsng. Mira pun memandang semua makanan itu dengan tatapan kosong.


"Makan siang dengan spagheti ?". Pikir Mira merasa aneh.


"Ufff semoga perutku tidak syok deh karena diisi dengan pasta". Batin Mira berucap dengan melas.


"Selamat makan Mira". Ucap sang menejer Er dengan senang lalu menyantap makanannya.

__ADS_1


Mira pun menyuap makanannya tanpa minat dan terasa aneh. Bukannya Mira itu kampungan. Dia memang tahu betul rasa dari sepagheti itu namun ia lebih suka mie ayam yang super pedas atau bakso urat yang ukuran sedang di tambah nasi.


karena meski pun Mira tinggal bersama Royan dan Mayya pasangan suami istri yang termasuk orang berada. Tidak membuat Mira mengubah dirinya menjadi wanita berkelas dan elegan.


Sepuluh meni sudah mereka menyelesaikan makan siang mereka dan Mira pun terlihat tidak menghabiskan makan siangnya. Hal itu pun di lihat oleh menejer Er dengan tatapan bersalah. Seharusnya sebagai seseorang yang menyukai Mira harusnya ia tahu betul kemana makan siang yang pas dan enak untuk Mira. Namun tempat itu tidak cocok untuk menejer Er mengutarakan maksud hatinya.


"Mira...Bisa kita bicara sekarang ?". Tanya menejer Er kepada Mira.


Mira pun menanggapi peryanyaan sang menejer dengan mengangguk ringan.


"Saat kita sedang berdua. Panggil aku dengan nama,saja. Jangan ada embel-embel pak, menejer atau tuan. Bisa ?". Pinta sang menejer Er kepada Mira.


Kali ini Mira tida mengangguk kan kepala atau pun berkata-kata. Ia hanya diam memamndang kearah sang menejer dengan ekspresi seperti tengah merasa tak enak akan permintaan sang menejer.


"Bagaimana Mira ?". Tanya sang menejer lagi saat tak ada ucapan sekatapun untuknya.


Erlangga merasa semenjak Mira mengetahui akan perjodohannya dengan Martha. Sikap dan perilaku Mira berbeda padanya. Mira terasa semakin jauh darinya. Dulu setiap Erlangga mengirim pesan selalu di balas cepat dan berujung dengan saling bicara di ponsel atau bertemu untuk makan bareng. Dulu saat bertemu dengwasn Mira sengaja atau tidak pasti Mira akan tersenyum hangat padanya, akan menyapanya duluan dengan ramah dan tersenyum senang.


Namun sekarang rasanya berbeda. Mira sudah tidak mau lagi tersenyum padanya. Sikap dan cara bicaranya seperti orang asing dan ini sungguh mengusik Erlangga. Rasanya ia tak tenang melihat perubahan sikap Mira.


"Mira.... Do you love me ?".


Ucap sang menejer dengan tatapan serius kepada Mira. Membuat Mira yang ditanyakan pun menjadi tertegun di tempat.


"Jujur sikap mu kepadaku belakangan ini berbeda. Kamu seprrti menjauh dariku. Apa ini karena perjodohan ku dengannya". Ucap Menejer Er terus terang.


"Jika benar demikian. Katakan pada ku. Apa kau menyukai ku". Ucap sang menejer dengan rasa,penasaran.


Mira yang cukup terkejut dan belum siap dengan pertanyaan sang menejer pun hanya bisa diam membisu dengan raut terkejut.


Erlangga pun memberanikan diri untuk menggenggam tangan Mira dengan lembut dan menatapnya dengan serius. Sementara,Mira yang di genggam tangannya dengan lembut oleh sang menejer pun mulai memancarkan semburat merah di kedua pipinya. Perasaan yang campur aduk serta rasa was-was seperti ada yang mengawasi dirinya pun bercampur menjafi satu.


"Mira, sejujurnya aku....Mencintaimu sejak lama". Ungkap sang menejer tentang kejujuran hatinya.


"Jika kamu pun memiliki perasaan yang sama padaku. Bisakah kamu tidak bersikap dingin dan seolah tidak mengenal ku lagi. Aku merasa tak sanggup jika harus melihatmu tidak seperti biasannya. Tersenyum pada ku, berbicara dengan ramah dan penuh rasa suka". Ungkap lagi sang menejer.


"Aku....Memang menyukai mu Er". Ucap Mira dengan jujur. Membuat Erlangga menjadi senang sebab rasa sukanya terbalaskan.


"Tetapi pantaskah aku terus menyukai seseorang yang sebentar lagi akan bertunangan dengan orang lain". Ucap Mira dengan raut sedih.


"Bahkan nona Martha pun seperti sangat menyukainu". Ucap Mira lagi.


"Kita hanya dijpidohkan. Aku juga tida menginginkan hal itu. Hanya kedua orang tuaku dan orang tuanya yang menginginkan perjodohan ini. Sementars Martha dia hanya menjadikanku sebagai pelampiasan. Dia memiliki kekasih dan merasa frustasi karena kekasihnya yang menghilang entah kemana". Ucap Erlangga dengan raut frustasinya.


Sementara seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka pun merasa terkejut atas perkataan Erlangga mengenai kekasih calon tunangannya yang menghilang itu.


Seseorang itu pun mulai membuka ponselnya dan menuliskan pesan untuk seseorsng yang ia tuju.


**To Agen Darko widodo:


from Aryasha Leonard:


Cari tahu keberadaan Vikram Daviz Lathoore. Aku tunggu secepatnya**.


Perintah Aryasha sang tuan muds Leomard kepada Darko asisten ayahnya si agen rshasia.


Ya seseorang itu adalah Aryasha Leonard. Sang tuan muda yang tak sengaja tengah menemui seseorang di cafe itu dan secara kebetulan melihat Mira yang tengah bertemu dengan calon tunangan orang.


Dan entah mengapa semua hal yang dilakukan Mira dan Erlangga di cafe itu dukses membuat diri Yash merasa kesal dan jengkel sekaligus khawatir kepada Mira jika sanpai mereka berdua menjalin hubungan itu. Karena secara tiba-tiba ia pun mengingat perjalana cinta segi tiga di antara mendiang ibunya, ayahnya, dan mendiang ibu dari Raina yang berujung dengan kehilangan.


"Lalu, apa yang kamu inginkan dari semua ini Er ?". Tanya Mira dengan nada lelah.


"Aku ingin menjalin hubungan denganmu secara rahasia sampai aku berhasil membatalkan perjodohan ini". Ucap Erlangga dengan serius.


"Apa ini benar. Apa aku bisa menjalaninnya. Biar bagaimana pun menjalin hubungan dengan calon tunangan orang itu salah. Cinta tidaknya mereka tetap saja posisiku akan selalu salah. Apa aku sanggup jika nanti hubungan rahasia ini terbongkar. Apa Erlangga sanggup intuk mempertahankan keinginannya".


Ucap Mira dalam hati merasa bimbang akan keputusan yang ia ambil sekarang. Dia memang menyukai sosok Erlangga. Namin apakah mungkin Mira menjadi bodoh karena rasa sukanya. Benarkah menyukai sama dengan mencintai. Semua itu hanya tuhan dan hati nurani Mira saja yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2