
Sore itu Mira pun ikut ke cafe elit yang favorit bagi Raina. Mereka pun duduk di meja nomor lima tepat berada di lantai dua. Suasana cafe yang tenang dan memperlihatkan keindahan langit sore yang begitu menawan. Membuat Mira sedikit terpesona dibuatnya.
"Sayang, sepertinya Mira menyukai tempat ini". Ucap Vikram dengan nada lembut kepada Raina yang kalau itu tengah sibuk dengan ponsel pintarnya.
" Aku tahu. Tempat ini memang semempesona itu". Ucap Raina santai yang masih berkutat dengan ponselnya.
Merasa sedikit terabaikan. Vikram pun dengan rasa penasarannya mencoba mengintip ponsel yang sedari tadi telah membuat kekasihnya itu sibuk dan mengabaikannya.
Sedikit mengernyit heran saat mengetahui jika kekasihnya itu tengah mengabadikan potret seorang Mira yang tengah menatap terpesona kearah langit senja.
"Ekhem... Apa, sekarang kamu sudah beralih perasan sayang ? ". Tanya Vikram dengan sedikit ragu.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang kekasih membuat Raina sedikit mengernyit bingung.
"Huh.. Maksudnya ?". Tanya Rania bingung.
" Untuk apa kau memotret Mira semenawan itu humm... Sambil senyum-senyum pula". Ucap Vikram heran.
"Untuk kak Yash lah. Agar bisa mengobati rsa rindunya. Memangnya kau fikir untuk apa lagi ?". Ucap Raina dengan nada ketuas.
Vikram pun langsung tersenyum senang dan memeluk sang kekasih dari belakang dengan mesra.
" Permisi nona, tuan. Anda semua ingin memesan sesuatu ? ".Tanya sangat pelayan cafe dengan ramah.
" Kamu ingin pesan apa sayang ?". Tanya Raina kepada Vikram.
"Pilih saja yang kamu mau sayang. Aku ikut saja". Ucap Vikram santai.
" Aku pesan kan tenderlion steak saja mau ?". Tanya Rania. Vikram pun hanya tersenyum lembut dan mengangkuk.
"Tenderlion steak dua, minumnya blue sques dua". Ucap Raina kepada sang pelayan cafe.
Sang pelayan pun mencatat pesanan dari Raina. Lalu si pelayan itu pun melihat kearah Mira yang sedari tadi masih terdiam di tempat.
"Kak.. ". Ucap Raina mencoba untuk membutarkan lamunan Mira.
Tersadar dari lamunannya, Mira pun menengok kearah Raina dengan raut linglung. Dan melihat kearah Sang pelayan yang tersenyum maklum. Mira lalu menyadari jika Sang pelayan menunggunya untuk memesan sesuatu.
"A... Ku, pesan.. ". Ucap Mira sedikit bingung lalu membaca buku menu yang ada di hadapannya.
" Chicken katshu sama minumnya lemon tea mba".Ucap Mira memesan.
Si pelayan pun langsung mencatatnya dan berpamitan pergi dengan sopan menuju ruang koki untuk memaksakan makanan yang di pesan oleh mereka.
Suasana pun kembali hening. Raina pun lalu mengarahkan ponselnya yang tengah melakukan panggilan video call dengan Yash kearah Mira yang masih setia memandangi langit sore.
Dari seberang sana Yash pun melihat Mira dengan rasa rindunya. Lama mereka saling diam. Akhirnya Yash pun mulai berbicara kepada Mira yang masih setia memandangi pemandangan langit sore tanpa tahu jika di depannya sudah ada ponsel Raina yang tengah memperlihatkan wajah Yash.
"Apa langit sore itu sangat indah Mira ?". Ucap Yash di seberang sana.
Mira yang mendengarnya pun sedikit mengernyit heran dan bertanya-tanya.
"Suara itu ?". Batin Mira berucap sembari mencari-cari sumber suara dengan mata yang berbinar.
"Disini... ". Ucap Yash yang tahu jika Mira tengah mencarinya.
Merasa aneh Miara pun melihat kearah Raina dan Vikram. Dan mereka berdua pun hanya tersenyum misterius sembari melirik kearah ponsel Raina yang sedari tadi berada di hadapan Mira.
Saat Mira melihat kearah ponsel betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Yash yang terlihat segar dengan rambut basah dan sedikit berantakan itu. Dibalut dengan stelan santai tengah duduk di kursi santai bergaya Jepang.
"Tuan., ". Lirih Mira sedikit gugup dan malu.
Yash pun tersenyum melihat tingkah Mira yang terlihat menggemaskan itu. Sikap tersipu malunya membuat Yash semakin ingin cepat menyelesaikan tugasnya itu.
*Apa langit sore itu sangat indah. Sampai-sampai kau begitu terpusat padanya ". Tanya Yash dengan sedikit rasa cemburu.
Mira pun hanya tersenyum simpul dan mengangguk singkat.
"Indah tuan. Sangat indah. Seperti anda". Ucap Mira dalam hatinya.
Namun seolah dapat mengetahui ungkapan dari batin Mira, Yash pun tersenyum senang seraya menaikan satu alinya keatas.
"Pantas saja kamu sampai tidak menyadari aku. Ternyata langit sore itu lebih indah rupanya. Sampai-sampai bisa menyita perhatianmu dariku". Goda Yash dengan raut seriusnya.Membuat Mira langsung terdiam dengan raut tak enak.
" Bukan seperti itu tuan, saya hanya tidak tahu". Ucap Mira dengan rasa bingungnya.
"Kamu telah melupakan sesuatu Mira. Jika aku ada disana, kupastikan kamu menerima hukumannya". Ucap Yash dengan tersenyum misterius.
Mira pun sedikit melotot kearah Yash dan melihat kearah depan tepatnya dimana Raina dan Vikram berada. Namun sedikit mengernyit heran saat kedua orang tersebut telah menghilang.
"Cari apa ? ". Tanya Yaah yang menyadari raut wajah Mira yang sedikit kebingungan.
"Nona Raina dan Tuan Vikram". Jawab Mira dengan bingung.
"Ada di arah jam sembilan". Ucap Yash santai.
__ADS_1
Dan saat Mira menengok kearah kiri tepat kearah jam sembilan. Benar saja kedua pasangan itu berada disana dengan tersenyum jenaka kearah Mira.
" Kenapa mereka berada disana ?". Tanya Mira dengan heran.
"Biarlah, jadi kita bisa bebas mengobrol apa pun dan kamu tidak perlu seformal itu kepada ku". Ucap Yash dengan tersenyum manis. Membuat Mira terpana melihatnya.
"Ahh manisnya tuan. Kenapa kamu bisa terlihat semanis ini. ". Ucap Mira dalam batinnya seraya memandangi Yash yang tengah melihatnya juga.
Tak lama pelayan cafe pun datang membawa pesanan yang sudah dipesan Mira. Ia pun menyajikannya dengan sopan. Dan berlalu pergi setelah itu.
Dan diseberang sana Yash pun sama tengah disajikan beberapa makanan yang sama seperti yang Mira makan.
"Anggap saja ini makan malam kita bersama". Ucap Yash dengan tersenyum. Sementara Mira pun ikut tersenyum malu.
*Kurasa Yash lebih banyak tersenyum saat bersama Mira". Ucap Vikram yang melihat dari kejauhan.
"Itu karena kak Yash menyukai kak Mira". Ucap Raina santai.
" Kamu tidak cemburu ?". Tanya Vikram memastikan.
"kenapa harus ?". Tanya Raina dengan tatapan bingungnya.
"Kan dulu Yash pernah mencintaimu. Memperlakukanmu dengan penuh kuasanya yang begitu besar. Apa kau tidak merasa kehilangan ?". Ungkap Vikram merasa penasaran.
"Aku justru sangat takut dengan hubungkan kita Vik. Aku takut jika kak Yash tidak akan pernah menemukan seseorang yang mampu membuatnya suka dan menggila". Ungkap Raina dengan mata teduhnya.
" Dan jika saat itu kak Yash tahu tentang seseorang yang sangat aku sukai itu adalah kamu. Aku tidak yakin akan bisa seperti ini denganmu". Ucap Raina dengan seriusnya.
"Aku sangat bersyukur, pertemuan ku dengan kak Mira waktu itu. Membuat jalan hidup ku berubah. Dia bisa membuat luluh kak Yash yang begitu dingin dan kaku. Menjadi seorang yang hangat. Meskipun itu hanya kepada kak Mira". Ucap Raina dengan raut bahagianya.
"Aku harap Yash benar-benar menyukai Mira Rain. Kau tidak lupa kan jika Yash itu sulit ditebak. Dia juga pandai menyembunyikan sesuatu. Aku hanya tidak ingin gadis sebaik Mira akan tersakiti akhirnya". Ucap Vikram mengingatkan.
"Aku tahu Vik. Maka dari itu aku juga sedikit merasa takut. Aku tidak akan pernah mau memaafkannya jika sampai ketakutanku terjadi". Ucap Raina sedikit murung.
" Sudah lah, mungkin ini hanya ketakutan kita saja. Seberapa dalam hati seseorang memang kita tidak akan pernah mengetahuinya. Mudah-mudahan saja itu memang benar cinta". Ucap Vikram mencoba menenangkan.
Raina pun hanya mengangguk samar dan menyandarkan kepalanya di bahu Vikram. Seraya melihat kearah Mira yang tengah tersenyum malu di hadapan ponselnya.
"Kamu bisa tahu keberadaan mereka. Bagaimana caranya Yash ? ". Tanya Mira penasaran.
Yash pun hanya tersenyum misterius dan mengambil ponsel pintarnya lalu mengarahkannya ke pada Mira.
" Kau...? ". Ucap Mira sedikit terkejut saat melihat Yash memiliki rekaman pemantau yang menunjukan semua aktifitas di cafe itu.
Dan baru lah Mira mengerti mengapa tidak ada pengunjung selain dirinya, tuan Vikram dan Raina. Rupanya Yash lah pelakunya.
Sedangkan Mira hanya bisa diam terpaku. Yash dengan kuasanya memang sangat luar biasa.
"Jadi, kenapa tidak melanjutkan makanmu. Habiskan, aku ingin melihat kau menghabiskannya". Ucap Yash sedikit tegas.
Mira pun melanjutkan makannya dengan santai sedangkan Yash masih setia memandangi Mira dengan teliti. Memastikan Mira untuk benar-benar menghabiskan makanannya.
Setelah habis Mira pun menaruh sendoknya dan meminum habis lemon tea yang ia pesan.
"Sudah ?". Tanya Yash memastikan. Dan Mira pun hanya mengangguk.
" Bagaimana kabar mu ?". Tanya Yash dengan menatap sendu.
"Ekhem, baik. Aku baik disini". Jawab Mira santai.
"Bagaimana dengan mu ?". Tanya Mira balik.
" Tidak baik". Jawab Yash cepat.
"Kenapa ?". Tanya Mira penasaran.
" Karena disini aku menghawatirkan seseorang". Ucap Yash sendu.
"Humm.... Siapa ? ". Tanya Mira penasaran.
" Kamu". Ucap Yash singkat. Namun mampu membuat Mira sedikit terpaku di tempat.
"Aku disini baik-baik saja ko. Tidak ada sesuatu yang terjadi". Ucap Mira setenang mungkin.
Yash pun hanya tersenyum singkat seraya menatap Mira tajam. Sedangkan Mira yang di perhatikan seserius itu oleh Yash pun menjadi gelisah sendiri.
Mira mersa jika dirinya telah ketahuan berbohong. Dan bagaimana bisa seorang Yash dapat mengenali ekspresi berbohongnya itu. Mira lupa akan kemampuan dari seorang Yash yang sangat tajam dan teliti.
"Umh, bagaimana dengan pengobatan mu ? ". Tanya Mira yang mencoba mengalihkan suasana.
" Cukup membosankan. Hanya terapi dan terapi". Jawab Yash santai namun tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Mira.
"Apa... Itu menyakitkan ?". Tanya Mira lagi.
" Tidak semenyakitkan dari mendengar mu dihukum oleh atasan mu dan berakhir di ruang kesehatan di tempat mu bekerja". Jawab Yash yang langsung membuat Mira tertegun.
__ADS_1
"Bagaimana... kamu tahu Yash ? ".Tanya Mira dengan rasa bersalahnya.
Yash pun hanya tersenyum singkat dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Membuat Mira sedikit merasa kecewa. Karena ia tidak bisa melihat mata menawan dari seorang Yash.
" Itu... Aku yang salah Yash. Jangan marah seperti itu. Aku pantas mendapatkan hukuman itu". Ucap Mira dengan sedikit memelas.
Yash pun menatap Mira kembali dengan raut tegasnya. Membuat Mira sedikit merasa takut dan canggung. Ia pun lalu menunduk tak berani melihat wajah Yash yang tetap menawan walau sedang marah.
"Lain kali, aku pastikan tidak akan ada lagi hukuman untuk mu di sana". Ucap Yash dengan seriusnya.
" Huh ?". Sahut Mira yang membuatnya langsung menatap wajah Yash di layar ponsel dengan linglung. Sedangkan Yash hanya tersenyum misterius seraya menatap Mira dengan mata emangnya yang tajam memikat.
"Mira... ". Ucap Yash setelah lama mereka saling pandang dalam diam.
" Ya.. ". Sahut Mira dengan nada lembutnya.
Dan Yash pun hanya tersenyum saja. Membuat Mira menjadi salah tingkah di buatnya.
"Boleh aku katakan.... ". Ucap Yash gamblang. Membuat Mira langsung menatap Yash penasaran dan mengangguk singkat.
" Hhhhh.... Aku rindu. Kamu... ". Ucap Yash dengan terkekeh seraya menatap tepat kearah mata Mira.
Mira pun tak kuasa menahan senyumnya. Dan akhirnya senyuman itu pun merekah bersamaan dengan semburat merah dikedua pipinya yang sedikit menirus itu. Membuat Yash merasa gemas melihatnya dan ingin sekali memeluknya dengan erat.
" Jangan telat makan, jangan banyak fikiran. pipimu mulai hilang, tidak segembil dulu". Ucap Yash menasehati. Dan Mira pun hanya mengangguk saja.
Tak lama dering ponsel Mira pun berbunyi ia pun lalu mengambil ponsel nya dan melihat ke layar ponsel guna melihat siapa yang telah menelfon nya itu. Dan rupanya Maya lah yang tengah melakukan panggilan telepon kepadanya. Membuat Miara langsung terdiam di tempat dengan raut sedikit panik. Mira lupa tidak mengabari Maya atau orang rumah terlebih dahulu karena ia akan pulang malam dan akan makan malam dengan nona Raina dan tuan Vikram.
"Siapa ? ". Tanya Yash yang penasaran akan perubahan wajah Mira yang terlihat jelas berbeda.
" Umhh, kak Maya". Ucap Miara memberi tahu.
"Angkat saja. Jawab saja yang sejujurnya, dan tenang lah. Dia itu kakak mu kan. Bukan malaikat maut mu". Ucap Yash sedikit bercanda. Membuat Mira sedikit berdecak kesal. Dan Yash pun malah tertawa lepas.
Mira pun menjawab panggilan telfon dari Maya dengan hati-hati. Dan hrlendak mengarahkan ponselnya ke telinga. Namun Yash terlebih dahulu mengatakan.
"Losepeaker sayang". Dengan nada berbisik yang terdengar jelas di telinga Mira. Membuat Mira sedikit melotot akan perkataan Yash yang terakhir.
Mira lalu memvolumekan suara ponselnya dan mulai angkat bicara kepada Maya yang menunggu jawaban dari Mira.
" Ekhem... Ya kak ? ". Tanya Mira berusaha setenang mungkin.
" Dimana kamu ? ". Tanya Maya balik dengan nada sedikit ketus. Membuat Yash langsung mengernyit heran.
" Emmm... Dicafe kak. Aku diajak makan malam sama nona Raina dan tuan Vikram. Emmm maaf ya kak, aku lupa kasih kabar ke kakak". Jawab Mira dengan lembut dan penuh hati-hati.
"Batu banget kamu ya Ra. Kaka udah sering mengingatkan kamu. Jangan berhubungan dengan mereka". Ucap Maya sedikit kesal.
"Pulang cepat. Jangan buat kakak tambah kesal. Kakak pastikan kamu akan menikah secepatnya". Ucap Maya dengan nada marah dan langsung menutup panggilan telvonnya secara sepihak.
Mira pun langsung murung di buatnya dan Yash pun langsung menatap Mira dengan penuh prihatin.
" Ada apa dengan kalian. Bertengkar kah ? ". Tanya Yash penasaran.
" Entah lah, akhir-akhir ini. Kak Maya sangat berbeda. Mudah marah, emosian, mudah tersinggung dan selalu memaksa. Aku jadi tidak mengenal kak Maya". Ucap Mira sendu.
"Ajang perjodohan itu. Apa masih dilanjut ? ". Tanya Yash lagi dan Mira pun hanya mengangguk lesu.
" Jalani saja. Toh kalau jodoh juga ngga akan kemana". Ucap Yash dengan tersenyum penuh arti. Membuat Mira langsung terdiam dengan raut piasnya.
"Ya sudah, aku tutup obrolannya ya. Kamu harus pulang. Jangan melawan kakakmu. Dan jalani saja". Ucap Yash menasehati dan Mira pun hanya mengangguk samar.
Yash pun melambaikan tangannya dengan tersenyum lembut dan Mira pun membalasnya dengan sedikit senyuman saja dan melambaikan tangan tanpa minat. Lalu panggilan videocall itu pun berakhir. Menampilkan layar gelap di depan mata.
Raina dan Vikram pun langsung menghampiri Mira yang tengah terdiam dengan tatapan kosong.
"Kak.. ". Panggil Raina dengan lembut. Membuat Mira tersadar dari lamunannya dan menatap Raina.
"Kenapa ? ". Tanya Raina penasaran.
" Umhhh, engga. Itu tadi kak Maya menelfon suruh pulang cepat. Ada pekerjaan rumah yang harus di bantu". Ucap Mira mencari alasan yang aman.
"Ohh, aku kira kenapa kak. Tapi benerkan karena disuruh pulang cepat. Bukan karena kak Yash kan ? ". Tanya Raina memastikan.
" Engga ko". Ucap Mira seraya tersenyum.
"Ya udah yuk kak aku antar kakak pulang". Ajak Raina dengan lembut.
Mereka pun akhirnya berjalan keluar cafe dan memasuki mobil mewah milik Vikram. Da melaju menembus jalanan malam yang terlihat ramai lancar.
"Ada apa dengan ku. Mengapa aku merasa sesedih ini". Batin Mira berucp bingung akan perasaan hatinya. Dengan menyenderkan kepalanya di sisi jendela mobil seraya melihat gemerlap lampu gedung yang terlihat apik.
" Ya Mira. Jalani saja semua itu. Jangan lah kamu melawannya. Biar aku yang bertindak untuk mu". Ucap Yash di atas tempat tidurnya seraya memandangi foto Mira di layar ponselnya.
Pikirannya sudah dipenuhi banyak rencana dan ide yang diyakini tidak akan pernah gagal.
__ADS_1
"Kita memang tidak menjalin hubungan apa pun Mira. Tapi kamu, adalah miliku. Milik Yash". Ucap Yash dengan tersenyum evil dan lalu memejamkan matanya dan terlelap tidur seraya memegangi ponsel yang masih menyala menampilkan potret seorang Mira yang tengah melihat keindahan langit sore.