
Tatapan sendu dari seorang ibu sekaligus nenek saat mendengarkan ucapan menantu. meminta membawa Yanna dan cucunya pulang ke kota, meninggalkan rumah bersama dengan anak ke duanya.
Bukan tidak senang Yanna sudah mempunyai suami baik dan tanggung jawab. Hanya saja rasanya berat seorang nenek melepas cucu yang di rawatnya sedari bayi dan sayangnya melebihi anak sendiri.
Yanna pun juga sudah tidak bekerja dan anaknya juga ingin merawat putranya. Rasanya juga tidak adil memisahkan ibu dan anak karena keegoisan seorang nenek. Apalagi Yanna sudah trauma dengan kejadian putranya di ambil paksa oleh mantan suaminya. Masih ada rasa takut, bila nanti akan terulang kembali. Dan tidak ingin mengulangi kesalahan lagi.
" Bila ini demi keamanan dan kebaikan Naufal, ibu rela Naufal kamu bawa ke kota Nak Rama?" Jawab ibu, terdengar sangat pilu di telinga Rama dan Yanna.
" Ibu Ikut saya ya?" Pinta Rama.
" Ibu di sini saja. Rumah enggak ada yang bersihin nanti."
" Kan ada paklek buk? Anaknya juga akan nikah, biar nanti nempati rumah kita saja, dari pada harus ngontrak." Kata Yanna. Mengingat anak saudara ibunya yang akan nikah dan ingin hidup berpisah dari para orang tua.
" Sigit katanya ingin kuliah di kota buk." Imbuhnya.
" Nunggu Sigit lulus sekolah saja. Nanti ibu akan nyusul ke kota." Jawab Ibu, dengan senyum. Meskipun ibu Yanna masih bimbang memikirkan ajakan anak serta menantunya itu untuk tinggal di kota.
Tidak ingin memaksa lagi, Yanna juga tau bila ibunya sangat berat meninggalkan kampung halamannya. Apa lagi rumah yang penuh dengan kenangan di dalamnya. Sungguh ibunya sangat tak rela itu.
Untuk Naufal, Naufal mau tinggal bersama ibunya dan tak merasa berat dirinya tinggal dengan siapa saja. Lagi pula Naufal anak penurut dan tidak sulit sekali memberikan pengertian pada Naufal. Ya meskipun anak itu belum terbiasa untuk memanggil Rama papa saat ini. Dan juga Naufal seperti ingin bersama ibunya, seperti anak-anak lain yang mempunyai ibu dan ayah yang selalu ada di setiap hatinya.
"Asalamualaikum."Ucap dari ambang pintu rumah, membuat semua orang yang ada di dalan menoleh ke arahnya.
" Walaikum salam." Jawab bersamaan.
" Pak Minto? Mari silahkan masuk pak." Sapa Ibu Yanna, kedatangan tamu mantan mertua Yanna sekaligus kakek Naufal.
Rama dan Yanna berdiri, menyalami pria tua dengan sopan. dan kembali duduk saat tamu sudah duduk di hadapannya.
Tidak perlu lagi Rama bertanya, siapa pria tua itu. Karena sudah dua kali Rama bertemu dengan beliau. Saat pertama kali Rama melamar Yanna dan yang ke dua datang sendiri di acara nikahan mantan menantunya.
Melihat raut waja sedih pak Minto saat Yanna menikah membuatnya sedikit iba, tapi tidak mungkin juga dirinya bersalah. Karena Yanna dan Naufal juga butuh kebahagian, meskipun itu bukan dari mantan mertua.
" Aku ke dapur dulu buk." Pamit Yanna pada ibunya. Yang tau apa tujuan Yanna ke dapur saat ini.
" Jangan repot-repot Yanna." Kata Pak Minto.
" Enggak ngrepotin pak, sebentar ya pak." Kata Yanna, melenggang ke dapur membuatkan minuman hangat untuk mantan bapak mertuanya.
" Naufal mana Bu Yan?" Tanya Pak Minto.
__ADS_1
" No-,"
" Asalamualaikum?" Ucap Riang Sigit menggendong Naufal, membuat ibunya Yanna menatap mereka.
" Naufal?" Panggil Pak Minto, membuat Naufal segera turun dari gendongan Sigit, berjalan menuju kakeknya dengan senyum.
" Mbah kung?" Sapa Naufal, di sambut hangat pelukan Pak Minto dan mendudukkan cucunya di pangkuannya.
" Dari mana Fal?" Tanya Pak Minto.
" Tumbas jajan." Jawab Naufal.
" Jajan apa? Akung minta boleh." Naufal menunjukkan jajan yang di bawa dan mengangguk, memperbolehkan akungnya minta.
Perlakuan Pak Minto pada Naufal selalu di perhatikan oleh Rama. Dengan Rama yang tersenyum melihat keakrapan Naufal dengan kakeknya. Meskipun dirinya sedikit canggung dengan kehadiran mantan mertua Yanna.
" Makasih Nak?" Ucap Pak Minto, melihat Yanna menaruh teh hangat di hadapannya.
" Akung bawakan jajan sama mainan untuk Naufal." Kata Pak Minto.
" Makasih Mbah kung." Jawab Naufal tanpa harus di tegur oleh ibunya.
Sama seperti Rama, pak Minto juga tidak tahu harus berbicara apa dengan Rama, Papa tiri Naufal. Rasanya juga sama canggungnya dan bingung harus memulai dari mana dulu.
" Pak?" Sapa Yanna.
" Hmm." Gumam pak Minto beralih menatap Yanna.
" Aku pamit, Besok aku sama Mas Rama kembali ke kota. Naufal akan aku bawa pak." Kata Yanna, Membuat mata Pak Minto sedikit melebar mendengarnya.
" Mau kembali ke kota, besok?"
" Iya pak?" Jawab Yanna, dengan Rama yang juga tersenyum mengangguk.
" Naufal di ajak?"
" Iya pak, Nuafal aku ajak ke kota. Tinggal sama aku dan mas Rama. Mas Rama sudah belikan rumah buat aku dan Naufal." Jawab Yanna.
" Berarti naufal akan sekolah di sana, gak akan kembali lagi ke sini."
" Iya pak?" Jawab Yanna. membuat Pak Minto sedih.
__ADS_1
Sama halnya dengan Ibunya Yanna. Pak Minto pun Berat juga harus melepaskan cucunya di bawa ke kota oleh mama dan papa tirinya. Tidak rela cucunya pergi jauh darinya. Dan siapa yang harus di salahkan atas semua ini.
Putranya.
Ya putranya yang harus di salahkan. Istrinya, yang juga harus di salahkan. Karena istri dan anaknya itu sudah membuat cucunya harus pisah dengannya.
" Ijinkan saya bawa Naufal pak." Ucap Rama, menatap pak Minto yang memeluk cucunya. Seakan tak rela di bawa olehnya.
" Aku rasane berat, gak rela putuku di bawa ke kota. Aku cuma punya putu satu, meski aku ngerti anakku salah, gak tanggung jawab sama ibunya sama anaknya. Setidaknya mbah akungnya ini ya jangan di jauhkan juga sama putune. Naufal ini penghiburku, kalau aku gak betah di rumah. Sepi, gak ada yang bisa buat aku tertawa, buat aku senang." Ucap Pak Minto.
Membuat hati Yanna mencoles begitupun ibu Yanna mendengarnya pun langsung menundukkan kepala, seakan sama seperti Pak Minto yang sulit melepas cucunya di bawa ibunya sendiri.
" Seminggu dua tiga kali aku menuin Naufal, itu pun aku ya rasane gak puas. Apa lagi ini, mau di bawa ke kota. Ketemunya pasti lama, berbulan-bulan. Kalau ke kota nemuin Naufal, terus aku nginep di mana? Gak mungkin juga aku nginap di rumah suami kamu Yan?" Imbuhnya lagi. mencurahkan isi hati yang terberatnya.
Pak Minto ingin seperti teman-temannya, di mana sudah mempunyai cucu. seharusnya bisa menghabiskan setengah waktunya dengan cucunya. Tapi ini tidak, justru Pak Minto sangat kesepian dan sangat menyedihkan dengan kehidupannya yang tak ada manis-manisnya. Rumah yang megah, tapi di dalamnya sangat sunyi.
Anak sudah tumbuh dewasa tapi masih saja selalu menyusahkannya. Istrinya, terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Pilu sangat pilu, berat dan sangatlah berat. tak ada yang ingin memisahkan cucu dengan nenek dan kakeknya. Hanya saja kehidupan Yanna sudah berubah, tidak lagi sendiri dalam membesarkan anak. Ada yang mau menerima anaknya seperti anaknya sendiri dan ada yang mau bertanggung jawab atas kehidupan barunya sekarang bersama putranya.
" Bapak sudah menganggap Yanna seperti anak bapak sendiri. Bisa bapak anggap saya seperti menantu bapak, seperti anak bapak juga. meskipun saya tau, saya tidak ada ikatan darah dengan Naufal." Kata Rama.
" Bila bapak kangen Naufal, bapak bisa telpon Yanna. Biar Yanna bilang ke saya dan biar sopir toko saya nanti menjemput Bapak dan ibu, tidak perlu sendiri ke kota naik bus. Tolong jangan merasa sungkan dengan saya, itu rumah Yanna dan Naufal. kapanpun bapak mau menginap, rumah Yanna akan tetap terbuka buat akungnya naufal. Bapak bisa pegang omongan saya." Imbuhnya lagi.
Tegas dan juga bijaksana dalam situasi yang terasa berat untuk melepaskan.
" Tolong percaya saya." Kata Rama.
tersenyum menatap pak Minto dengan mata beliau yang berkaca-kaca. Hingga pak Minto hanya bisa sedikit tersenyum dan mengangguk. mempercayai dan memegang ucapan suami Yanna. Yanna dan Naufal berhak bahagia meskipun bukan dengan anaknya.
Ibu Yanna pun Merasa lega dan juga menitikan air mata. melepas kepergian putri dan cucunya tanpa adanya drama kekerasan atau adu mulut dengan pak Minto.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1