Luluh

Luluh
Batin seorang ibu


__ADS_3

Pov. Yanna.


Hari ini, pagi ini. Aku sudah menjadi seorang ibu tiri untuk Nana. Awal aku melihat Nana, anak perempuan itu sangat senang sekali denganku dan aku menikah dengan papanya pun Nana selalu tersenyum, menunjukkan rasa bahagianya saat Aku dan Papanya resmi menjadi suami istri.


Impian Nana, ingin mempunyai keluarga lengkap. Ingin mempunyai Mama seperti teman-temannya yang lain. Nana tidak mempersalahkan kehadiran Naufal, Anak perempuan ini senang dengan Naufal. Sebelum aku menikah, Nana selalu vidio call aku dan mengobrol dengan Naufal putraku.


Tapi, kali ini ada yang berbeda. Wajah Nana tidak seceria dulu, jarang tersenyum dan pendiam. Tidak pernah manja padaku dan Mas Rama. Perubahan Nana sangat membuatku khawatir.


Apa Nana tidak suka dengan Naufal di sini? Tentu tidak. Aku perhatikan Nana bila bermain dengan Naufal, anak perempuanku tersenyum dan perhatian dengan adik barunya. Serta tertawa bersama saat mereka melihat kartun tv yang lucu. Bila aku dekati Nana bermain dengan Naufal, Nana menjadi pendiam dan tersenyum pun seakan di paksa.


Ada apa? Apa aku membuat salah dengan anak perempuanku?


Apa anak perempuanku cemburu, karena Papanya sudah menjadi milikku dan jarang memanjakannya?


Kini aku menjadi serba salah, dan juga sedih dengan perubahan Nana yang sudah aku anggap putriku sendiri.


" Nana?" Panggilku, saat berada di gerbang sekolah dengan dia yang sedang menunggu aku menjemputnya.


Sekolah Nana sedikit jauh dan keluar dari komplek. Mas Rama membelikanku motor matic baru, agar aku tidak lagi menaiki ojek atau becak saat menjemput Nana sekolah.


Awalnya mas Rama tidak setuju denganku, bila aku menjemput Nana sekolah. Alasannya terlalu berlebihan.


Nanti kamu tambah capek jemput Nana Yan. Pagi-pagi kamu masak? Belum lagi ngurusin aku sama Anak-anak.


Mana ada aku capek, Hanya memasak dan sedikit membantu bibik baru membersihkan rumah. Sempat mogok bicara pada Mas Rama, hingga mas Rama sendiri tak betah dengan mogokanku hingga akhirnya papa Nana menyetujui permintaanku.


" Naufal mana ma?" Tanya Nana, menghampiriku yang sendirian menjemputnya.


" Naufal sama bibik di rumah sayang." Jawabku.


Sengaja, aku menitipkan Naufal pada bibik sebentar kala aku ingin berdua dengan putriku.


" Sini, tasnya Nak. Nana duduk di depan ya." Ucapku, menyuruh Nana untuk duduk di depan. Yang biasanya Naufal di depan kini berganti Nana. Karena Nana akan duduk di jok belakang dengan memelukku erat.


Nana menurut, dan duduk di depan. Aku cium rambut putriku sebelum memakaikan topi agar tidak kepanasan.


" Mampir ke indomart dulu ya sayang."


" Iya ma." Jawab Nana.


Aku nyalakan motor meticku dengan kecepatan sedang. " Nana tadi belajar apa?" Tanyaku dalanm perjalan menuju indmart terdekat.


" Berhitung Ma?"


" Bisa?"


" Bisa?"


" Dapat bintang berapa?"


" Bintang Lima?" Jawabnya

__ADS_1


" Pinter donk anak mama ini?" Sorakku senang, mematikan kendaraan saat sudah sampai di depan mini market.


" Nana dapat nilai bagus, mau ice cream?" Tawarku.


" Boleh Ma?" Tanyanya, turun bersama dari motor.


" Boleh? Tapi cuma boleh ambil satu."


" Dua?" Pinta Nana. " Buat aku sama adik Naufal." Imbuhnya lagi, membuatku tersenyum mendengarnya.


Ternyata Nana tidak melupakan Naufal. Membeli sesuatu selalu ingat adiknya, meskipun mereka tidak sedarah.


" Kenapa adik Naufal di belikan juga? Kan adik naufal belum sekolah, belum dapat nilai juga dari guru."


" Naufalkan adik aku, selalu menemin aku, selalu meluk Nana kalau Nana nangis. jadi aku pengen belikan adik naufal, sebagai terima kasihku sama Naufal Ma." Jawab Nana, membuatku mengerutkan kening.


Nana sering nangis?


Kenapa?


Ada apa?


Dan apa masalahnya? Sampai anak perempuanku menangis tanpa aku dan Mas Rama tau?


Tidak mungkin aku memberondong pertanyaan yang sensitif bagi Nana di luar rumah. Aku pun mengusap pipi anak perempuanku, tersenyum hangat padanya.


" Ya sudah ayo, Nana boleh ambil jajan apa saja nanti di rumah bagi dua sama adik Naufal." Ujarku, membuat Nana tersenyum mengangguk.


" Sama-sama sayang." Jawabku, menggandeng tangan Nana untuk masuk ke dalam mini market dan mulai belanja keperluan serta jajan keinginan Nana.


Aku masih memikirkan ucapan Nana, aku tidak tenang karena putriku menyimpan kesedihannya sendiri.


Sampai di rumah, Nana masuk terlebih dulu ke dalam rumah membawa kantong plastik jajanannya dan menemui Naufal.


Aku melihat Nana begitu antusias menunjukkan jajanannya dan membaginya pada Naufal. Raut wajahnya seakan kembali ceria bila bersama Naufal.


" Maaf ya bik lama?" Ucapku pada Bibik yang menjaga Naufal.


" Enggak pa-pa mbak?" Jawabnya dengan senyum. " Kalau begitu bibik mau nerusin nyetrika dulu mbak." Ujarnya lagi.


" Iya bik." Jawabku.


" Nana? Ganti bajunya dulu sayang." Perintahku pada Nana. Membuat Nana mengangguk, berdiri dari duduknya dan menaiki tangga menuju kamarnya.


Aku yang melihat Nana sudah masuk ke dalam kamar. Kini menghampiri Naufal yang sedang asyik memakan jajan pemberian dari Nana.


" Fal?" Sapaku dengan lembut. duduk di sofa dan mengusap kepala putraku.


" Iya Ma?"


" Katanya mbak Nanan. Mbak Nana sering menangis? Emang iya? "

__ADS_1


" Iya." Jawabnya, masih setia mengunyah makanannya.


" Naufal yang buat mbak Nana nangis?"


" Enggak Ma?" Jawab cepat Naufal, sambil menggelengkan kepala.


" Terus karena apa Mbak Nana nangis?" Tanyaku lagi. Membuat Naufal terdiam mengerutkan kening. Seperti sedang mengingat-ingat sebab apa mbaknya itu menangis.


" mbak Nana cuma bilang, mau jadi saudaraku gak fal. meski aku bukan anak papa Rama. Gitu Ma! " Tiru Naufal ucapan Nana. membuat mengerutkan kening mendengar ucapan Naufal.


Bukan anak papa Rama?


Apa maksudnya? Hingga mataku membulat sempurna saat kembali mengingat, ucapan Rama.


Makasih? Ini yang pertama bagiku.


Rama masih bujang.


Bukan anak papa Rama?


Aku tercengang, menutup bibirku dengan ke dua tangan saat menyimpulkan semuanya sendiri tentang Rama dan Nana.


Bila Nana bukan anak Rama, siapa orang tua Nana yang asli. Dan dari mana Nana tau Rama bukan papanya.


Apa Rama memberitahukannya?


Tidak mungkin, Rama tidak akan mungkin mengatakan itu pada Nana dan tidak mungkin Rama menyakiti Nana yang sudah seperti anaknya sendiri.


Tapi siapa?


Mama?


Apa mama. Itu juga tidak akan mungkin. Aku terperanjat saat tangan kecil menyentuh tanganku. Dan aku tersenyum melihat Nana yang sudah berganti baju.


" Mama kenapa?" Tanya Nana.


" Enggak kenapa-napa sayang?" Jawabku dengan mata berembun. " Sini Mama mau peluk Nana." Imbuhku lagi, menarik Nana ke dalam pelukanku. Mengusap lembut rambut putri dan juga punggungnya.


Anak seperti Nana kenapa bisa kuat memendam kesedihannya sendiri. Kenapa bisa tegar mendengar kenyataan yang pahit. Sungguh aku tak kuat menahan air mata, aku lepas pelukanku dan aku ciumi wajah Nana yang bingung melihatku menangis.


" Mas Rama, cepat pulang." Gumamku.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2