Luluh

Luluh
Episode 8


__ADS_3

Setelah memastikan bahwa para dokter telah menangani mira di ruang UGD. Yash pun mulai mendudukan dirinya di tempat duduk panjang yang tak jauh dari ruang UGD.


Terlihat wajah lelah nan sayunya mulai merasa jengah akan sikap dan perbuatan dari helena. Ia pun merasa tak habis fikir tentang perbuatan helena yang hampir mencelakakan orang lain dan juga adiknya.


"Tuan...". Sapa jio yang tengah berjalan sembari membawa dua botol air mineral.


Yash yang tengah menyandarkan punggungnya serta menutup matanya dengan lengannya pun mulai memposisikan dirinya menjadi duduk.


"Saya sudah mengurus data diri nona mira tuan".


Ucap jio memberi tahu seraya menyerahkan satu botol air mineral pada tuannya.


Yash pun hanya mengangguk menerima laporan dari jio lalu menerima air mineral itu dan meminumnya dengan rakus.


"Bagaimana dengan keadaan raina". Tanya yash setelah meneguk air mineralnya.


"Nona raina berada di rumah sakit ini tuan. Keadaanya cukup memprihatinkan. Kakinya harus di gips dan kemungkinan harus betres dari aktifitas untuk menjalani terapi". Jelas jio mendetail.


Mendengar laporan dari jio yash pun hanya bisa memejamkan matanya dengan rasa lelah.


"Ruangan nona rain ada di lantai dua tuan. Kamar beogenvil nomer dua". Ucap jio memberi tahu.


Namun ada yang aneh dari pandangan jio kepada sang tuan mudanya itu. Biasanya luka sekecil apa pun itu yang menimpa nona raina akan membuat yash kelimpungan setengah mati. Namun sekarang jio memberi tahu tentang keadaan nona raina yang bisa di bilang cukup parah itu pun. Tuan yash seperti biasa saja. Malah seperti terlihat khawatir ke mira. Terlihat dari cara tuan yash yang selalu memandang pintu ruang UGD dengan raut penasaran dan gelisah.


"Sudah kau hubungi keluarganya jio ?". Tanya yash yang masih terus saja melihat ke pintu UGD.


"Sudah tuan, mungkin sebentar lagi mereka akan datang". Jawab jio lalu ikut duduk disamping sang tuan mudanya dan meminum air mineralnya.


Selang beberapa menit, terlihat marko yang tengah berlari menuju ruang UGD yang telah diberi tahu kan oleh jio.


Saat sudah sampai di ruangan itu marko pun langsung menuju pintu UGD hendak melihat sang adik dari kaca pintu. Dan terlihat samar-samar mira yang tengah di tangani oleh para dokter dan suster.


"Mira..". Lirih marko dengan tangan terkepal pada kaca.


Yang terlihat dari raut marko saat ini ialah kesedihan dan kecemasan yang kentara. Bahkan air mata yang turun dengan sendirinya pun membuat jio dan yash yang melihatnya pun merasa simpati.


Dengan tubuh yang lunglai lemas marko pun memerosot kan tubuhnya dan bersandar pada pintu ruang UGD dengan rasa pasrah.


"Apa yang terjadi mira, Kenapa bisa...". Lirih marko yak menyangka.


Jio pun langsung mendekat berinisiatif untuk membawa marko duduk di bangku sebelah tuan yash.


"Marko. Bangun lah, duduklah disana. Ayo...". Ajak jio kepada marko.


Sementara marko pun menuruti ajakan jio dengan langkah lemas tak berdayanya.


"Adikmu pasti akan baik-baik saja ko". Ucap jio setelah mereka duduk bersamaan.


Msrko yang dilanda panik dan bingung itu pun hanya diam membisu menanggapi ucapan dari jio.


"Apa yang terjadi dengan mira tuan ?". Tanya marko setelah beberapa menit berlalu.


"Dia terkena luka tembak pada lengan kanannya. Mira...Adikmu telah menolong dan menyelamatkan adik ku Raina. Yang tengah di buru oleh Helena putri seorang gengster". Jelas yash dengan suara kelamnya.


"Tertembak...Gengster...". Cicit marko tak menyangka bahwa mira berada disituasi itu.


"Apa nama gengster itu ?". Tanya marko dengan tangan terkepal marah.


"Random X..". Sahut yash seraya melihat marko dengan tajam.


Marko yang mendengarnya pun sedikit mengernyit merasa tak asing dengan nama gengster yang di ucapkan oleh sang tuan muda.


"Ingat dengan seseorang bernama Tomi Geraldi. Dunia malam menyebutnya Tom Gerald dia terkenal dengan nama itu". Jelas yash dengan mata menerawang.


Sementara marko yang tahu betul dengan nama Tom Gerald itu pun langsung memelototkan matanya merasa syok dan tak percaya. Pasalnya Tom Gerald adalah salah satu pelanggan terbesarnya setelah keluarga leonard. Dan beberapa waktu lalu ia pun melihat ayah dari tuan yash tengah bertemu dengan tom di salah satu bar berkelas miliknya.


""lalu apa masalah di antara kedua putri tuan leonard dengan tuan geraldi ". Batin marko merasa bingung.


"Dan apa katanya tadi. Tuan geraldi adalah ketua darri gengster Random X". Batin marko lagi merasa kaget akan informasi ysng di berikan oleh tuan muda yash.


"Ingat...Random X yang hampir saja membuat mu berada diambang kematian satu tahun lalu". Ucap yash memncoba mengingatkan.


"Tetapi setahu ku yang memrngang Random X itu adalah Yosa Maravin". Ucap marko dengan heran.


"Dia hanya memegang kendali dan yang mengendalikan adalah Tom sang bos besar". Tutur yash dengan tersenyum singkat.


"Sialan..". Lirih marko tak terima dengan perbuatan para gengster itu.


"Sangat sulit untuk bisa menemukan helen dan para bawahanya. Karna kemungkinan meteka memanfaatkan lambang dari marga leonard untuk bersembunyi dan mengelabuhi ku". Jelas yash dengan raut dinginnya.


"Bagai mana bisa mereka mempunyai lambang itu ?". Tanya marko heran.


"Bisa. Dengan mencurinya dari raina dan juga... Mira". jelaa yash.


"Mira...". Ucap marko tak mengerti.


"Ayah ku mungkin sudah tahu apa yang terjadi pada raina sebelumm pesta itu. Dia juga mungkin sudah tahu siapa yang menolong putrinya. Adik mu sebelum ini pernah tak sengaja menemukan adikku yang kacau dan menolongnya".


Ungkap yash kepada marko yang di balasi dengan raut tak menyangka oleh marko.


"Mengapa bisa kebetulan seperti ini". Batin marko merasa heran.


"Dan aku baru mengerti mengapa ayah ku dengan mudah memberikan kalung bermarga Leonard kepa mira dengan dalih kemenangan atas kontes dansa yang di buat oleh ayahku. Saat itu raina bilang jika mira adalah orang yang menolongnya". Ungkap yash lagi.


Marko yang mendengar cerita dari yash pun menjadi resah akan adiknya itu. Berurusan dengan gengster Random X dan diakui secara khusus oleh tuan besar leonard. Sungguh sebuah keberuntungan sekaligus kutukan bagi marko untuk mira.


"Dan sekarang...Sekali lagi mira menyelamatkan adikku juga membuat ku mengerti akan teka teki yang di lakukan helena untuk membuatnya tidak bisa di jangkau oleh ku dan jio. Meski pun keberadaannya sangat dekat sekalipun".


"Dengan memanfaatkan kalung liontin berbentuk L milik raina. Kalung itu memiliki kode akses untuk bisa kemanapun. Dan sialnya aku baru mengingatnya sekarang. Satu-satunya cara untuk memblock akses itu dengan memberitahu ayahku. Sebab ia yang memiliki wewenang atas itu". Jela yash dengan detail kepada marko.


Marko yang sedari tadi diam menyimak pun ssmpat merasa tercengang atas pemikiran yash yang luar biasa itu. Dia dengan mudah dapat memecah teka teki itu dan membaca rencana helen dengan mudah.


"Tuan besar juga sepertinya sudah tahu masalah malam ini tuan. Aku sudah tidak bisa lagi melacak akes dari semua kode-kode yang anda berikan. Dan kemungkinan nona helen dan yang lainnya sudah ada di tangan tuan besar". Jelas jio memberi tahu.


Yash pun hanya bisa tersenyum tipis mendengar laporan dari jio. Ayahnya memang selalu bergerak cepat dan lebih dulu darinya.


Tak lama kemudian datang lah mayya dan juga royan dengan raut cemas dan langsung menghampiri ketiganya.


"Dimana mira..?". Tanya mayya dengan air mata bercucuran.


"Apa yang terjadi ?". Tanya mayya lagi.


Tak ada jawaban dari ketiganya namun semua mata ketiganya mmenuju pintu UGD yang tertutup. Membuat mayya ikut melihat kearah pintu itu dan berjalan menghampiri sang pintu lalu berusaha melihatnya.


Setelah melihatnya msyya pun langsung menghampiri marko dengan raut muka tajam seperti orang yang ingin menghajar marko.

__ADS_1


PLAAAKKK !!!!


Sebuah tamparan keras berhasil mayya layangkan kepada kakaknya itu. Membuat marko, jio, yash dan royan pun terkejut atas sikap mayya.


"Kauu..".


Tunjuk mayya dengan jari telunjuknya tepat di depan muka marko yang menunduk sedih.


""Berapa kali aku bilang kepadamu. Jaga dia baik-baik. Jangan biarakan dia ikut serta dalam masalahmu sialan !!".


Ucap mayya dengan lantang dan penuh amarah. Membuat royan dengan sigap membawa mayya kepelukannya guna menenangkan amarahnya yang sedang memuncak.


Sedangkan marko yang dimarahi habis-habisan oleh sang adik pun hanya bisa diam menerimanya. Dalam fikirannya ucapan mayya pun ada benarnya.


"May, sudah ini dirumah sakit. Kendalikan amarahmu itu". Hardik royan dengan lembut.


"Dia bilang akan menjaga mira dengan baik. Tidak akan terjadi apa pun padanya. Tapi sekarang, lihat apa mira baik-baik saja". Ucap mayya kepada sang suami disertai dengan tangisan.


"Sampai kapan dia berhenti untuk selalu membawa masalah dalam hidupku dan mira. Sampai kapan mas ?".


Ucap mayya dengan rasa perih. Mengingat dulu dirinya, adiknya juga orang tuanya selalu di buat bahaya oleh ulah kakak sulungnya itu.


Sejak SMA marko sudah selalu membuat masalah. Gaya hiduonya yang urakan, selalu ikut tawuran, geng motor, juga balap liar. Sering sekali keluar masuk sekolah akibat ulah nakalnya dan puncaknya pada saat maya kuliah dan mira SMA kelas satu.


Maya melihat sang ibu Mirna Safitri 40 tahun tengah meregang nyawa di bahu jalan akibat tertabrak yang pelakunya sendiri tak lain adalah musuh bebuyutan marko dari geng motornya.


Sang ibu yang memiliki riwayat sakit jantung itu pun tewas di tempat. Dan saat itu sebelum meninggal ibunya selalu berpesan untuk menjaga mira dengan baik dan bertanggung jawab atas hidupnya sampai dia menemukan pendamping hidup yang tepat.


Mayya dan Marko pun mengiyakan pesan sang ibu dengan hati berat. Sejak saat itu hubungan mayya dan marko mulai renggang dan selalu terjadi kesalah pahaman diantara mereka.


Marko pun menjadi jarang sekali pulang ke rumah bahkan hampir tidak pernah. Mengingat keselamatan keluarganya lebih penting. Dan ia pun tak ingin apa yang dialami oleh ibunya terjadi kepada mira dan mayya juga ayahnya.


Saat tiga tahun kemudian ayahnya yang bernama Sandi Sanjaya pun meninggal akibat sering sakit-sakitan sebab terpuruk di tinggal sang istri serta anak-anaknya yang tidak bisa akur satu sama lain. Hanya mira si putri bungsu yang terlihat lebih dewasa dari kedua kakanya yang sering bertengkar itu.


Bahkan mira lah yang selalu merawat dan menemani sang ayah di kala sakitnya. Sebab marko hidup tak jelas di luaran sana. Sedangkan mayya sibuk berkuliah dan kerja paruh waktu. Sementara mira yang msih sekolah pun terkadang sering membantu mayya membuat kue, nasi kota dan lainya pesanan untuk acara syukuran di kala waktu lenggang.


Hidup Mayya dan Mira pun menjadi sangat perih dikala ayahnya telah meninggal dunia. Maya yang masih berkuliah mengejar sarjananya itu pun harus merelakan mira sang adik berkerja paruh waktu dan mengurus rumah sendirian.


Terkadang marko menemani mira dikala mayya sibuk membuat sekripsi, dan kuliah malam. Namun sayang tepat di malam itu mayya yang hendak pulang kerumah diculik oleh anak buah musuh dari marko dan hampir dijual olehnya. Dan beruntungnya saat malam itu Mayya di selamatkan oleh Royan si putra sematawayang dari keluarga ternama.


Marko yang bsru mengetahui hal itu pun lsngsung pergi kemarkas musuhnya untuk memberikannya pelajaran. Terbukti ia pun dapat melumpuhkan mereka bersama kawanannya di bantu dengan kelima temannya.


Marko akui sifatnya yang angkuh dan selalu berkata menusuk itu selalu membuat semua orang di sekitarnya merasa berang bahkan musuhnya. Namun sayang tak ada satupun yang dapat melumpuhkan seorang Marko Manuel dalam hal apa pun. Kecuali Yosa Maravin di gengster terkenal itu berhasil menjebak Marko dengan cara liciknya. Dan berintungnya marko dapat terbebas dari rencana licik Yosa berkat tuan besar Leonard yang kala itu tengah melihatnya yang sedang di tahan di kantor polisi.


Marko pun tak mengerti apa alasannya si tuan besar yang terkenal dingin dan berwibawa itu menolongnya. Yang marko tahu saat dia membangun dan memiliki bar ternama di kota. Tuan besar Leonard itu sudah menjadi pelanggan tetapnya. Dia biasa menyewa privat room untuknya meething bersama koleganya juga teman bisnisnya. Marko membangun bar itu sejak lulus sekolah dari uang hasil balap liar, jualan obat terlarang, dan menjadi barista di cafe milik temannya. Dan uang yang ia berikan untuk mira secara diam-diam bukan dari pekerjaan terlarangnya. Tetapi ia selalu bangun pagi dengan setelan trening dan topi serta sepeda gunung miliknya untuk mengantar susu murni segar kepara pelanggan yang sudah memesan dari bosnya si ayah dari teman sekolahnya. Dan juga membantu Rudi temannya sebagai montir di bengkel.


Keinginannya untuk bangkit itu lah yang membuatnya bekerja pantang menyerah. Dia ingin menjadi orang besar dan banyak uang. Dan semenjak marko memiliki bar dan cafe ternama. Ia pun mulai bisa menats hidup dan penampilannya. Dan sedikit bocoran untuk kalian, Marko diam-diam membangun lestoran untuk membantu mira dan menghidupi keluarganya nanti.


"Maaf apa ada keluarga dari pasien ?". Tanya sang suster yang baru keluar dari ruangan UGD.


Semua yang tadinya diam duduk dengan pemikiran masing-masing pun langsung berdiri menyambut sang suster dengan raut penasaran.


"Saya kakaknya dok". Ucap Mayya, Marko dan Royan berbarengan.


Suster yang mendengarnya pun mengangguk paham dan berkata "Pasien membutuhkan golongan darah AB negatif. Apa di antara kalian ada yang bergolongan darah AB negatif ?". Tanya sang suster memastiksn.


Mayya dan Marko yang mendengarnya pun langsung merasa lemas seketika. Masalahnya darah mira coco dengan ibunya. Sementara Mayya dan Marko bergolongan darah B sama dengan ayah mereka.


"Apa disini rumsh sakit ini tidak menyediakan golongan darah AB negatif ?". Tanya yash kepada sang suster.


"Dari PMI pun belum ada golongan darah AB negatif". Tutur sang suster lagi.


"Bagsimana ini, golongan darah ku dan kak marko berbeda dari Mira". Ucap mayya merasa khawatir.


"Golongan darah ku A ". Ucap royan dengan lesu.


Sementara yash dan jio pun bergolongan darah B. Yash pun tak tinggal diam. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menelfon kepala pelayannya.


"Carikan para pelayan, bawahan dan para bodygusrd yang nemiliki golongan dara,AB negatif. Jika ada bawa ke rumah sakit HARAPAN. Akan aku kasih imbalan berapapun yang mereka minta".


Perintah yash kepada paman Gun ssng kepala pelayan mansionnya pada saat panggilsn telfonnya terangkat. Dan langsung menetupnya setelah ucapannya selesai.


Jio yang mendengarnya pun semakin di buat tercengang akan perubahan sikap sang tuan muda malam ini.


Mayya pun juga tak tinggal diam. Ia berjslan diikuti oleh suaminya kepada para penghuni rumah sskit. Yanh sialnya saat itu berjumlah sedikit sebsb sudah waktu tengah malam pukul dua dini hari.


Sementara Marko pun menghubungi para temannya guna menanyakan perihal golongan darah itu.


Satu jam mereka berusaha tak ada satu pun orang yang memiliki golongan darah itu. Swmentara para suster pun sudah terlalu sering bertanya mengenai kesediaan golongan darah itu kepada Yash, Mayya, Royan,Jio , dan Marko.


Mayya pun merasa putus asa dan terduduk menangis di bangku lain yang jauh dari ruang UGD.


Marko , yash dan jio pun hanya bisa pasrah dengan posisi masing-masing. Yash dengan terus memukul pelan dahinya dengan bersender pada bangku, Jio yang berdiri menyender pada tembok dengan memejamkan mata lelah, dan Marko dengan terduduk seraya menutup mukanya dengan satu tangan.


"Ya tuhan, selamatkanlah mira. Jangan ambil dia dariku dan dari mayya. Dia lah satu-satunya sumber semangatku. Dia lah satu-satunya alasanku untuk bertahan dan berjuang untuk hidup ku". Batin marko memohon kepada sang pencipta.


Meski sejujurnya marko pun merasa malu meminta kepada sang pencipta sementara hidupnya banyak sekali dosa.


"Jika boleh ditukar aku ingin yang didalam sana adalah aku bukan mira". Lirih marko dengan tatapan sayu menatap ruang UGD.


Yash dan jio yang mendengarnya pun langsung menepi mendekati marko dan memberikan tepukan semangat kepadanya.


"Wajahnya, rambutnya, bentuk tubuhnya dan tutur katanya. Sangat mirip dengan mendiang ibuku. Dia wanita yang pengertian, dapat mengatasi masalah dengsn sendirinya, dan tidak manja". Ucap marko dengan menerawang.


"Meski terkadang sikapnya yang terlihat cuek dan tenang. Namun ia menyenangkan jika sudah kenal dekat. Aku saja lebih menyayangi Mira ketimbang dengan Mayya". Ucap marko dengan tersenyum perih.


"Pasti Mira begitu sangat di cintai banyak orang". Ucap Jio menebak.


"Sifatnya unik perilakunya santun dan baik. Aku pernah merendahkannya di saat ia menolong nona muda raina. Dengan memberinya imbalan cek yang bebas tertulis nominal berapa pun. Dan yang mira lakukan malah membuatku terkejut. Ia malah mengembalikan cek itu dengan sopan dan malah mendoakan nona muda supaya baik-baik saja". Ungkap Jio dengan mata menerawang.


Yash yang mendengar cerita dari Jio dan marko tentang mira. Diam-diam tersenyum tipis membayangkan keunikan yang dilakukan mira. Ia pun menjadi teringat tentang raina yang memiliki sifat yang berbeda dari mira. Raina si bungsu yang banyak dimanja, di berikan kemewahan dan sangat di jaga oleh yash.


"Permisi Tuan muda Yash". Ucap paman Gun yang baru datang itu.


Yash, Jio dan Marko yang mendengarnya pun langsung menoleh melihat kearah sumber suara. Dan begitu terlihat bahwa ysng datang itu sang kepala pelayan bersama kelima orang lainnya. Yash pun langsung berdiri menghampiri sang kepala pelayan dengan sinar mata yang penuh harap.


"Bagaimana paman Gun ?". Tanya Yash dengan tak sabaran.


"Saya membawa lima orang yang memiliki golongan dara itu tuan muda ". Lapor paman Gun kepada Yash.


Terlihat lima orang dua diantaranya perempuan muda dan tiga lainya lelaki ada yang masih muda ada yang sudah berumur.


Kebetulan pada saat itu suster pun tengah keluar guna mempertanyakan lagi soal ketersediaan darah yang mereka cari.


"Tuan apa....".Ucap sang suster terpotong oleh Yash yang langsung menjawab.

__ADS_1


"Suda ada sus. Kelima orang ini memiliki golongan darah yang sama dengan pasien. Cari yang sehat dan bersih dari penyakit".


"Baik tuan. Mari semua pendonor darah ikut saya". Ucap sang suster memberi arahan.


Terlihat raut kelegaan di antara Jio, Marko dan Yash. paman Gun yang melihatnya pun merasa senang dapat membantu majikannya dengan tepat waktu.


Setelah lima belas menit berlalu sang suster pun terlihat membawa dua kantung darah dikedua tangan masing-masing. Dan kelima orang itu pun mengekori sang suster.


"Bagaimana sus ?". Tanya Yash setelah sang suster berada di hadapannya.


"Sudah dapat tuan dari dua orang nona itu dan satu orang peria muda itu. Yang lainnya kondisinya sedang tidak baik dan ada riwayat gula darah juga tuan". Lapor sang suster.


"Kalau begitu says permisi tuan". Ucap sang suster lalu berjalan masuk kedalam ruang UGD.


"Jio kau tahu tugasmu kan ?". Tanya Yash seraya duduk dengan menyandar. Sementara jio yang paham akan pertsnyaan tusn mudanya itu pun langsung sigap memberi arahan kepada Mister Gun dan kelima orang itu untuk menjauh dari Yash dan Marko.


"Mira pasti akan baik-baik saja. Tenang lah". Ucap Yash kepada Marko mencoba menguatkan.


Marko yang melihat sisi lain dari seorang Aryasa Leonard itu menjadi senang. Sebab dari yang orang dengar jika anak sulung dari tuan Jhonatan Leonard itu terkenal dingin, irit bicara dan acuh. Ia tidak pernah berbada badi dalam hal apa pun juga terkenal mengerikan jika sudah melakukan kesalahan. Tapi yang Marko lihat sekarang lain dari yang sering di bicarakan.


Semenrara di sisi lain ada jio yang tengah bicara kepada Mister Gun dan kelima orang itu dengan santai.


"Terima kasih Mister Gun atas bantuannya. Dan untuk kalian berlima. Mulai hari besok gajih kalian akan bertambah tiga kali lipat . Oh yaa untuk yang terkena gula darah. Kalian bisa mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit milik tuan Leonard".


Ucap Jio kepada kelima orang itu dan dibalasi tatapan senang dari kelima orang itu.


"Terima kasih tuan Jio". Ucap semuanya serempak.


"Antar mereka pulang paman. Dan berikan ysng terbaik untuk mereka". Perintah Jio kepafa Mister Gun.


"Baik tuan Jio". Hormat paman Gun lalu pergi menuju tempat parkir mengantar pulang kelima pelayan mansion.


Saat Jio hendak menuju ke ruang UGD. Ia tak sengaja melihat Mayya dan Royan yang masih berusaha kesana kemari mencari bantuan untuk Mira.


"Tuan dan nyonya Rahardisn". Sapa Jio kepada keduanya.


"Tuan Jio...Apa yang terjadi. Bagaimana dengan Mira ?". Tanya Mayya dengan khawatir.


"Tuan muda Yash sudah menemukan pendonornya. Dan sekarang Mira sudah mendapatkan tambahan darah. Ia masih ditsngani oleh dokter".


Tutur jio menjelaskan. Membuat Mayya dan Royan bernafas lega dan saling berpelukan menyalurkan rasa bahagianya masing-masing.


"Syukurlah...". Tutur Mayya dan Royan bersamaan.


"Mari tuan Jio, kita kesana bersama".


Ajak Roysn kepada Jio yamg di balasi anggukan setuju. Dan mereka pun berjalan bersama menuju ruang UGD.


Saat di tengah jalan Jio mendapat sebuah panggilan pada handphonenya mengharuskannya untuk berhenti berjalan membiarkan Mayya dan Royan untuk jalan duluan.


Jio pun mengangkat panggilan telfon itu dan mencoba mendengarkan apa yang hendak disampaikan si penelfon.


"Tuan besar meminta kau dan tuan muda Yash untuk datang ke markas besar sekarang". Ucap suara bass di sebrang telfon.


Jio yang paham dan mengerti maksud dari suara itu pun hsnya berguman ringan dan menutup telfonya lalu berjalan menuju ruang UGD untuk memberi tahu tuan mudanya.


Sesampainya disana terlihat Mayya yang tengah duduk bersandar di bahu sang suami dengan muka lelah. Marko yang duduk melamun serta Yash yang tengah duduk dengan tangan terlipat di antara dada dan perutnya dengan raut seriusnya.


Jio pun langsung menghampiri sang tuan muda dan berbisik di telinga sang tuan muda dengan sopan.


"Tuan besar meminta tuan untuk datang ke markas besar tuan". Lirih Jio memberi tahu dan di balasi anggukan oleh Yash.


Jio mun mulai mendekat kearah Mayya dan Royan. Sedang kan Yash Mendekat kearah Marko.


"Kau ingin ikut aku atau tidak ?". Tanya Yash kepada Marko yang di balasi kernyitan bingung.


"Kemana ?". Tanya Marko


"Berburu..". Ucap Yash seraya tersenyum evil.


Marko yang baru paham dengan ucapan Yash pun langsung mengangguk untuk ikut serta dalam hal berburu.


"Tuan Hardian. Saya dan tuan muda meminta maaf tidak bisa menemani anda dan nona Mayya untuk menunggui nona Mira. Ada yang harus kami selesaikan". Jelas Jio dengan sopan.


"Tak apa tuan Jio. Terima kasih atas bantuannya". Ucap Royan tak kalah sopan kepada Jio.


Yash dan Jio akhirnya pun pamit pergi diikuti oleh Marko yang ikut berdiri hendak menyusul Jio dan Yash.


"Mau kemana kau". Tanya Mayya dengan raut sengit.


"Berburu..". Ucap Marko singkat membuat Mayya mengernyit bingung.


"Dasar gila. Adikmu tengah berjuang di dalam kau malah ingin berburu. Sialan ngga ada otak".


Gerutu Mayya dengan sebal. Membuat Yash dan Jio yang belum jauh berjalan itu pun tersenyum lucu atas tanggapan dari Msyya tentang Marko.


Sementara Marko yang di gerutui hanya bisa mengendikan bahunya dengan acuh mensnggapi ucapan adik keduanya.


"Berhati-hati lah..". Tutur Royan yang tahu maksud dari ucapan Marko.


Mayya yang mendengar sang suami mendukung Marko dengan kesal memukul bahu sang suami seraya merengut. Membuat Royan tersenyum manis dan langsung mencium sang istri dengan sayang. Dan Marko ysng melihat tingkah mereka pun memutarkan kedua bola matanya dengan jengah lalu pergi begitu saja.


Setelah menunggu satu jam akhirnya Mira pun sudah selesai di tangani oleh dokter dan para suster pun mendorong bangkar yang Mira tiduri untuk di pindahkan keruang perawatan.


Mayya dan Royan pun mengikuti para suster dan dokter keruang Melati kelas satu ruang nomor satu guna menjalani perawatan lebih lanjut.


Setelah semua alat bantu seperti infus, selang untuk kencing, baju pasien, selang darah dan alat detak jantung sudah berfungsi baru lah dokter menemui Mayya dan Royan yang tengsh menunggu di depan ruangan.


"Bagaimana keadaan adik saya dok ?". Tanya Mayya kepada sang dokter.


"Cukup buruk, kehilangan banyak darah, dan peluru yang hampir menembus tulang menyulitkan kami untuk mengambilnya. Butuh peroses dan waktu panjang. Keadaanya pun masih keritis. Berdoa saja tuan, nyonya. Agar adik anda dapat melewati masa keritisnya". Jelas sang dokter yang di ketahui bernama Dokter Efan Sardianto itu.


Mayya pun merasa syok berat atas keadaan dari adiknya itu dan mulai menangis lagi di peluksn sang suami.


"Ajaklah adik anda berbicara tuan mungkin dengan begitu ia akan berswmangat untuk melewati masa keritisnya". Ucap Dokter Efan kepada Royan.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan. Jika ada masalah saya ada di ruang jaga tuan". Pamit Dokter Efan sopan.


"Terima kasih dok". Ucap Royan dengan sopan dan langsung memasuki ruangan tempat dirawatnya Mira.


Saat sudah di dalam Mayya pun tak kuasa melihat kondisi Mira yang terlihat pucat. Bibirnya yang kering serta perban yang menggulung di lengan atasnya membuat Mayya langsung terduduk lemas di samping tempat tidur Mira.


"Sabar sayang, Mira adalah orang yang kuat. Mas yskin dia pasti bisa melewati masa keritisnya". Ucap Royan kepada sang istri menguatkan.


"Aminn...". Jawab Mayya mengamini ucapan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2