Luluh

Luluh
Episide 29


__ADS_3

Ini adalah kali kedua bagi Mira bertemu lagi dengan dokter Jodi. Ia pun merasa senang karena kondisi sikisnya juga rasa terahumanya semakin membaik.


Setelah tiga jam melakukan berbagai macam tritmen yang diajukan oleh dokter Jodi untuknya. Kini Mira yang sedikit lelah pun tengah berduduk santai di gazebo milik Jodi. Suasana yang asri dan angin yang berhembus pun membuat perasaan Mira sedikit membaik.


"Kau disini ?". Tanya Yash setelah berhasil menemukan keberadaan Mira.


"Ya tuan, apa ada hal yang penting atau anda butuh sesuatu ?". Tanya Mira dengan raut lelahnya.


Yash lalu ikut duduk disamping Mira dan menghela nafas saat sudah mendudukan dirinya pada kursi gazebo berdekatan dengan Mira.


"Tidak, aku kira kau kemana". Ucap Yash santai.


Yash pun memandang ekspresi wajah Mira yang terlihat sangat lelah lalu ia pun menggeser tubuhnya lebih merapat kearah Mira. Sementara Mira yang tak fokus pun hanya terdiam seraya melihat air nan jauh di depan.


"Kau terlihat sangat lelah. Apa lebih baik jika kau ambil cuti kerjamu saja lagi satu minggu. Agar kau bisa fokus terhadap kesembuhanmu juga berlatih nenari dengan Vikram". Ucap Yash memberi masukan.


"Saya bisa di pecat jika seperti itu tuan. Dalam satu bulan ini saya sudah banyak sekali ambil cuti dan izin". Ucap Mira sedikit memberengut membuat Yash kian merasa gemas dibuatnya.


"Jadi kau mau mengambil kerja setengah hari saja selama kau berlatih dengan Vikram ?". Tanya Yash nemastikan.


"Tidak full selama satu minggu tuan, paling beberapa hari saja. Saya tidak enak jika harus full. Meskipun tuan Atmaja mengizinkannya". Ucap Mira menjawab pertanyaan dari Yash.


Yash pun hanya mengangguk mengerti dan mengambil ponselnya mengecek ada kah email masuk yang penting atau tidak.


"Tuan muda Yash". Ucap Mira mencoba memanggil. Membuat Yash mengarahkan pandangannya yang terfokus ke ponsel menjadi kearah Mira.


"Anda menjadi tidak bekerja karena saya. Jika memang anda merasa keberatan dan benar-benar tidak bisa untuk mengantar saya ke tempat ini. Bagi saya tidak apa tuan. Lebih baik anda...". Ucapan Mira terhenti saat jari telunjuk Yash berada tepat di bibir Mira yang menempel.


"Aku sungguh tidak merasa keberatan" Ucap Yash seraya melepas jari telunjuknya yang menempel pada bibir ranum Mira.


Namun seolah enggan Yash pun merubah posisinya lebih mendekat kearah Mira dan mengusap bibir ranum Mira dengan ibu jarinya. Sedangkan keempat jari Yash yang lain menempel pada anatara leher dan pipi Mira.


Dengan gerakan pelan Yash pun mengusap ibu jarinya pada bibir bawah Mira yang terlihat sedikit terbuka. Dirasakannya oleh Mira usapan ibu jari Yash yang sangat menggelitik dirinya. Membuat Mira seketika memejam tanpa sadar.


Yash yang melihat ekspresi dari Mira yang terkadang memejam kan matanya itu pun tersenyum lembut. Ia merasa sangat bahagia dan senang saat bisa melihat ekspresi Mira yang terlihat lain. Nafasnya pun terkadang naik turun. Seolah tengah menikmati sesuatu yang menyenangkan


"Mudah sekali membuatnya seperti ini. Sangat seksi dan menggoda,,". Batin Yash dengan tatapan intens dan sedikit senyuman evil.


"Sentuhan ini membuat tubuhku terasa aneh. Ada apa dengan diriku". Batin Mira merasa bingung.


"Lagi pula, aku itu adalah bosnya. Semua pekerjaan aku yang mengendalikan. Jadi, aku tidak akan pernah merasa takut akan sebuah pekerjaan. Tidak akan ada yang memecatku".


Bisik Yash di telinga kanan Mira yang masih setia mengusap lembut bibir bawah Mira dan merayap kearah leher belakang Mira guna menarik tengkuk belakang Mira menuju kearahnya yang terlihat mendekat secara perlahan.


Dan tanpa mereka sadari dari kejauhan terlihat Jodi dan Vikram serta Raman tengah mengintip di balik jendela ruang keluarga.


"Apa mereka aka berciuman ?". Tanya Jodi dengan mengernyit.


"Sepertinya". Sahut Vikram dengan raut seolah tengah berkata ayo berciunan lah ayo.


Sementara Ram yang berada di belakang mereka hanya mendengar dan melihat saja dengan raut datar dan menggeleng heran.


"Mengapa kedua orang ini mendadak menjadi seperti kaum ibu-ibu yang tengah ingin tahu terhadap tetangganya sendiri. Sungguh menggelikan".


Batin Ram seraya memandang sang tuan muda dan temannya yang tengah duduk dikursi sofa seraya bersandar ke sandaran sofa menghadap kearah jendela. Mengintip Tuan muda Yash dan Nona Mira di sana.


Sementara Yash yang hampir mencium bibir Mira yang beberapa senti itu. Seketika mengubah menjadi memeluknya dan membuat kepala Mira bersendel di bahu kekar Yash.


Keduanya pun memejam merasakan perasaan masing-masing. Yash dengan rasa menyesalnya karena hampir dua kali mencium Mira. Sementara Mira dengan perasaan ternyamannya seumur hidupnya.


"Keterlaluan sekali kamu Yash. Kamu akan mencium seorang wanita yang tidak kamu cintai. Tolol. Bodoh. Idiot". Batin Yash merasa geram pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sementara ketiga orang yang mengintip itu pun hanya bisa mengeluh kecewa saat melihat dua insan yang mereka intip tidak jadi berciuman. Namun yang paling kentara ya Vikram dan Jodi. Sementara Raman hanya menghela saja.


Merasa pelukan Yash hampir Mirip dengan pelukan dari seoeang ayah dan kakak bagi Mira. Tanpa sadar Mira pun menangis dalam diam seraya mempererat pelukan itu.


Yash yang menyadari bahwa Mira tengah menangis pun lalu mengelus surai rambut Mira dengan lembut dan bertanya.


"Ada apa. Mengapa kamu menangis. Apa pelukan ku terlalu menyakitimu ?".


Tanya Yash merasa penasaran. Mendengar perranyaan dari Yash Mira pun hanya menggeleng dan mempererat pelukannya lagi. Membuat Yash akhirnya mengurai pelukannya dan menangkup wajah Mira. Mengarahkan wajah Mira untuk menghadapnya dan menatapnya.


"Lalu kenapa ?". Tanya Yash lagi.


"Saya sangat rindu dengan Ayah. Pelukan anda mengingatkan saya kepada mendiang ayah saya dan kak Marko". Ucap Mira dengan tersedu-sedu. Membuat Yash dengan reflek menghapus air mata Mira dengan lembut dan hatinya pun merasa tersentuh.


"Setelah ibu tiada. Ayahlah yang selalu berada di sisi saya. Dan saat Ayah tiada. Kak Marko lah yang berada di sisi saya. Tetapi sejak saya keluar dari rumah sakit itu. Saya tidak pernah melihatnya. Dia seakan hilang dan entah kemana. Padalah saya ingin memeluk kak Marko dengan erat meluapkan segalanya dan bercerita banyak". Ungkap Mira dengan rasa sedihnya.


"Kenapa setiap orang yang menyayangi saya selalu pergi dan menghilang. Apa saya tidak pantas bersama mereka dan mendapatkan kasih sayang selamanya dari mereka".


Ucap Mira masih dengan derai air mata yang begitu deras. Yash pun langsung menarik tubuh Mira kedalam pelukkannya dan memeluknya begitu erat.


"Sttt jangan bilang sepeeti itu. Ada masanya setiap orang itu peegi. Kita tidak bisa egois dalam hal ini Mira. Kau harus tahu. Seorang kakak kelaki itu memiliki tanggung jawab yang begitu besar untuk adik-adiknya. Kau juga harus tahu seorang kakak laki-laki sama seperti seorang ayah bagi adik perempuannya".


Ungkap Yash mencoba menenangkan dan memberikan nasihat baik guna menenangkan perasaan Mira yang terlihat sangat rapuh dan butuh dorongan semangat.


"Marko pasti memiliki alasan tersendiri yang belum bisa ia bicarakan padamu. Dan suatu waktu nanti dia pasti akan kembali dan memberi tahu kan mu semua alasannya. Kenapa dia pergi, kenapa dia tidak menengokmu di rumah sakit dan mengapa ia tidak selalu ada lagi untuk mu". Ucap Yash lagi dan mencoba mengusap punggung belakang Mira


Ini adalah salah satu alasan Yash mengapa ia selalu berada di dekat Mira dan mengesampingkan segalanya untuknya. Bahkan hal yang belum pernah Yash lakukan keperempuan lain selai Raina. Seperti memeluk Mira contohnya, berusaha untuk mencoba berbicara dulu kepada Mira, dan mencoba untuk selalu menjaga Mira dengan nyawanya. Karena Marko telah mengorbankan dirinya sebagai bahan incaran dari Yossa Maravin demi nyawa adiknya. Dan Mira juga telah banyak berkorban terutawa nyawanya hampir melayang karena berusaha melenyamatkan Raina juga menjadi korban salah sasaran oleh ibu tiri Yash karena dianggap Pasien yang keritis itu adalah Raina. Padahal Mira.


Marko hanya meminta satu hal dari Yash. Sebelum ia pergi meninggalkan negaranya. Agar ia menjaga Mira sang adik yang sangat ia sayangi dengan nyawanya. Dan bagi seorang Aryasha Akhsen Leonard pantang untuk mengingkari janjinya.


Perginya seorang Marko juga bukan hanya sekedar melarikan diri saja. Melainkan ia juga tengah berlatih strategi untuk menghancurkan gengster Random X pipmpinan yang kini di pegang oleh Yossa Maravin.


"Ekhem..Ekhem...". Suara deheman dari seseorang di samping Yash dan Mira yang tengah berpelukan itu pun seketika membuat Mira tersadar dan langsung melepas pelukannya dari Yash. Membuat Yash merasa sedikit tak rela.


"Apa aku mengganggu ?". Tanya Vikram dengan cengiran tanpa dosanya.


Yash pun langsung memandang Vikram dengan tatapan membunuhnya, sedangkan Mira hanya menunduk malu.


"Mira hari ini kau berlatih menari dan menyanyi denganku. Apa kau sudah menemukan lagu yang pas untuk kita bernyanyi dan menari ?". Tanya Vikram kepada Mira.


"Tuan, apa anda yakin akan melakukan ini di pesta pernikahan nona Martha. Saya merasa itu tidak baik tuan". Ucap Mira merasa tak enak.


"Ck ayolah Ra, aku hanya ingin memberi kejutan saja untuk mantan terindahku itu". Ucap Vikram seraya memohon denfan raut wajahnya.


"Tetapi saya tidak tahu lagu apa yang cocok tuan". Ucap Mira beralasan


"Ekhem coba kamu bernyanyi. Lagu bollywood loh yah. Coba nyanyi di depan ku dan Yash" Uxap Vikram mencoba untuk mengenali suara dari Mira.


"A...Aku. Bernyanyi ?". Tanya Mira setengah gugup.


"Yap kau bernyanyi, lalu aku yang memainkan gitar". Ucap Vikram seraya mengambil gitar dari Ram.


"Tetapi tuan, saya tidak bisa". Tolak Mira setengah gugup.


"Ayo lah aku ingin kau jadi patner bernyanyiku. Aku ingin menyanyikan lagu di pernikahan mereka. Dan tentunya ini juga lagu kenangan". Ucap Vikram mendesak


"Tuan Vikram ini sangat kekanakan sekali". Keluh Mira dalam hatinya.


Melihat raut dari Mira yang seperti sedikit kesal dan terganggu. Vikram pun mulai menatap Mira dengan serius dan raut andalannya.


"Aku tahu jika ini sangat kekanakan". Ucap Vikram begitu mengena pada Mira yang baru saja mengatainya kekanakan dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastik. Apa kah dia masih mencintaiku atau tidak. Aku ingin melihatnya langsung dari matanya. Karena jujur, aku masih sedikit tak rela jika ia bersama orang lain". Ucap Vikram dengan sendu membuat Mira sedikit tersentuh di buatnya.


"Jika nona Martha masih mencintai anda. Anda akan berbuat apa. Dan jika nona Martha tidak mencintai anda. Anda pun akan bagaimana ?". Tanya Mira mencoba ingin memastikan.


"Jika dia tidak mencintaiku lagi. Yaa apa boleh buat. Maka aku akan merelakan cinta ku bersama orang lain. Karena cinta memang tidak harus memiliki kan. Untuk apa aku memaksa cinta yang tidak pernah ada untuk ku".


Ucap Vikram menjawab pertanyaan Mira seraya memandang kearah Yash di akhir kalimat. Yang Yash tahu betul jika sahabatnya itu juga swbenarnya tengah menyindirnya dengan halus. Sehingga Yash pun langsung membuang muka swketika. Sementara Mira terlihat mengernyit heran.


"Dan jika dia masih mencintaiku. Maka aku akan melakukan apa pun untuk membawanya bersamaku. Akan aku lawan mereka yang menghalangiku. Toh aku saat ini adalah Vikram D Latthore. Bukanlah Vikram Davis si pria jalanan yang menjijikan. Orang sekelas Fredi Firmansyah hanyalah debu kecil bagiku". Ucap Vikram dengan tersenyum sinis. Membuat Mira pun ikut tersenyum kecil.


"Berhati-hatilah tuan. Biarpun kecil, swbuah debu ya debu. Dia bisa dihilangkan namun bisa juga membuat kita merasa kesulitan. Saat sang debu di bantu angin dan masuk kedalam matamu. Maka percayalah ia bisa membuat mu menjadi lemah dan mudah untuk dilukai".


Ucap Mira dengan nada dingin dan tatapan kosong. Membuat Ram, Yash dan Vikram sedikit terbengong akan ungkapan dari Mira. Mereka berfikir jika ucapan Mira ada benarnya.


Fredi adalah orang tua yang berpengalaman dalam segala hal. Meski pun Vikram tergolong muda ia tidak akan pernah tahu jalan fikiran dari seorang fredi. Kemampuannya dalam memanipulatif serta kelicikan yang tiada tanding membuatnya begitu di waspadai oleh banyak orang.


Vikram pun tidak bisa meremehkannya. Ia pun menjadi ingat sesuatu. Ada dua kemungkinan si tua bangka itu sampai berani menyekapnya san menyiksanya. Yang pertama mungkin fredi memang benar-benar tidak tahu siapa itu Vikram sehingga ia pun berani menyekapnya. Atau kemungkinan yang kedua bisa saja ia tahu siapa itu Vikram dan memanfaatkan keadaan saat markas utamanya di india berhasil di serang. Sehingga membuat orang-orangnya pun sedikit yeralihkan dan akhirnya ia pun dapat menangkapnya dan menyekapnya dengan mudah.


Vikram pun akhirnya menengok kearah Ram dan mencoba berbicara melalui tatapan mata mereka. Yang Ram tangkap adalah jika tuan mudanya itu menyuruhnya untuk mengorek lagi lebih banyak informasi mengenai seoeang Fredi Firmansyah. Agar ia dapat mempelajari dan menganalisa mengenai seorang Fredi Firmansyah.


Ram pun akhirnya mengangguk paham akan tatapan dari tuan mudanya dan lalu memohon untuk pamit kepada tuan mudanya serta Yash dan Mira. Dan Vikram pun dengan senang hati mengangguk mengizinkannya. Saat Raman sudah menjauh, Vikram pun tersenyum seraya melihat punggung Ram dengan bangga.


"God job Ram. Kau paling bisa ku andalkan". Batin Vikram merasa bangga.


"Jadi, bisa kau bernyanyi di depanku Mira. Come on sweety, kau pasti bisa. Anggaplah aku ini kakakmu dan Yash itu ayahmu. Bernyanyi lah swlayaknya Mira,yang dulu. Yang manis, yang energik, yang memiliki suara indah". Bujuk Vikram pantang menyerahm


"Baik lah, saya akan bernyanyi. Tetapi jangan di tertawakan kalau suara saya jelek". Ucap Mira sedikit malu.


"Yaa baikah. Ok lagu apa yang ingin kau nyanyikan biar aku coba cari kincin-kunci gitarnya dan berlatih sebentar". Ucap Vikram seraya mengeluarkan ponselnya dan menyentuk aplikasi Google.


"Emmm bollywood ya. Lagu apa ya ?". Ucap Mira sedikit bingung. Membuat Yash yang sedari tadi memperhatikan pun tersenyum lucu.


"Haiisss kau ini. Di dunia bollywood kau sangat mengidolakan penyanyi siapa ?:. Tanya Vikram sedikit gemas.


"Banyak tuan, ada Arjit Shing, Srheya Goshall, Neha Kakar, Sonu Nigam. Emmm banyak pokoknya". Ucap Mira dengan bingung.


"Pecinta bollywood juga rupanya". Guman Vikram saat mendengar Mira berbicara.


"Sya sering menyanyikan lagu ini dulu tuan. Saat masih remaja. Judulnya Haan hasi ban gaye yang nyanyi itu Shreya Goshall". Ucap Mira mencoba mencari usul dan Vikram pun langsung mengetik judulnya pada kolom Google di ponselnya.


"Ok aku pelajari dulu kunci-kuncinya sebentar" Ucap Vikram dan langsung berkutat pada gitar dan ponselnya.


Sementara Yash lalu mengambil satu cangkir teh hangat dan di berikannya kepada Mira. Membiat Mira,yang tengah terdiam pun menengok seketika kearah Yash.


"Minum lah, agar perasaanmu membaik dan kau dapat bernyanyi dengan baik". Ucap Yash seraya menyerahkan cangkir teh hijau dan di sambit oleh Mira dengan senyuman lalu meminumnya.


"Ok yuk aku udah bisa kunci-kuncinya. Are you ready mu sweety ".


Ucap Vikram dengan bersemangat membuat Mira mengangguh mantap dan berusaha untuk berdehem kecil guna menetralkan tenggorokannya lalu mulai bernyanyi di iringi gitar dari Vikram.


Di awal suara Mira memang sudah terlihat lembut dan merdu. Suara Mira berbaur menjadi satu bersamaan suara angin laut dan gitar milik Vikram menambah suasana menjadi sedikit tenang dan damai bagi Yash.


Sementara Vikram yang sanfat nengenali arti dari lirik lagu itu pun tersenyum. Apa yang Mira nyanyikan sangat pas dengan kondisinya saat ini. Tanpa di minta tuhan telah menghadirkan seseorang sebagai alasan Mira untuk tertawa dan menitikan air mata. Dan tanpa Yash sadari ia pun juga menemukan seseorang yang bisa membuatnya melupakan Raina yang selalu tersarang diotaknya.


Hal itu pun yang membuat Vikram semakin bersemangat untuk membuat Mira dan Yash benar-benar dekat satu sama lain. Agar mereka bisa salong mengerti satu sama lain dan melengkapi satu sama lain.


Yaa Vikram hanya mencoba dan berencana. Berhasil tidaknya hanya tuhan menentukan dan mengetahui. Ia hanya ingin Yash dicintai seseorang agar cintanya yang salah dapat berubah dan hilang.


Sementara Yash hanya bisa mengangguk-angguk menikmati lagu yang Mira nyanyikan seraya membaca arti dari lagu itu melalui ponselnya.


Dan terkadang Yash pun bersangga tangan seraya melihat kearah Mira yang tengah bernyanyi dengan raut tersenyum dan sedikit membayangkan sesuatu. Sebuah bayangan dimana masa-masa ia dan Mira menghabiskan waktu bersama. Dari awal pertemuanya sampai saat ini swmua tergambar jelas di benak seorang Aryasa Akhsen Leonard.

__ADS_1


__ADS_2