Luluh

Luluh
Episode 60


__ADS_3

Di saat Mira sedang memasang beberapa pakaian baju di anak patung. Ia pun di hampiri oleh dua orang yang sepertinya sepasang kekasih. Mira pun langsung berusaha untuk sesopan mungkin menyambutnya dan melayaninya.


"Selamat siang tuan dan nona. Ada yang bisa saya bantu". Ucap Mira ramah dengan menunduk hormat. Karena yang Mira tahu, orang-orang yang memasuki butik madam Ghin adalah orang-orang dari kalangan elit.


Tak kunjung ada jawaban dari kedua orang itu. Mira pun akhirnya mencoba untuk menatap kedua orang itu dan betapa terkejutnya Mira saat ysng ia lihat adalah Raina dan Vikram.


"N...Nona Rain, tuan Vikram". Ucap Mira gugup.


Raina pun langsung tersenyum dan memeluk Mira dengan hangat. Sedangkan Vikram hanya tersenyum ramah kepada Mira.


"Kak, tolong jangan menghindar lagi. Aku merasa sedih jika kak Mira seperti ini. Aku memangnya punya salah apa ke kakak". Ucap Raina dengan sedikit berkaca dalam pelukan Mira.


"Maaf kan saya nona. Kemarin-kemarin saya memang sangat keterlaluan kepada anda". Ucap Mira merasa bersalah.


Raina pun langsung memeluk Mira dengan erat dan menangis seperti seorang anak yang baru saja bertemu ibunya. Vikram pun hanya menghela nafas saat melihat Raina menangis sesenggukan di pelukan Mira.


"Kamu beruntung Mira. Karena kamu adalah gadis kesayangan Yash dan Raina. Jika tidak, aku pastikan akan menghukummu karena telah membuat Rainaku menangis. Heh dan sayangnya aku pun tidak bisa melakukannya, kau terlalu baik untuk ku hukum". Ucap Vikram dalam hatinya.


"Nona, sudah lah jangan menangis lagi. Aku takut dengan tuan Vikram yang menatapku dingin seperti itu". Bisik Mira memberi tahu. Dan Raina pun langsung melepas pelukannya lalu menghadap kearah Vikram dan menatapnya dengan tatapan peringatan.


"Apa yang kau fikirkan kak ?". Tanya Raina tajam kepada Vikram.


"Tidak ada, aku hanya merasa terharu saja". Ucap Vikram berbohong dengan senyuman lembutnya kepada Raina.


"Terharu ko tatapanya dingin. Dasar pria tua yang aneh". Ucap Raina mengejek. Membuat Mira yang mendengarnya pun langsung menahan tawanya dengan menggigit pipi bagian dalam pipinya.


"Hmmm untung cinta". Batin Vikram mengalah dan menerima ejekan sang kekasih.


"Kami ingin melihat-lihat baju untuk pesta malam. Jika pun bisa, kami ingin membuatnya untuk acara pesta ulang tahun perusahan ku. Sekaligus mengumumkan pertunangan kami yang akan diadakan tiga bulan lagi". Ucap Vikram.


"Jadi, kalian akan bertunangan. Selamat ya". Ucap Mira dengan senang dan riang.


"Masih lama". Ucap Vikram masam.


"Iya ko tumben. Engga di percepat saja ?".Tanya Mira penasaran.


"Aku ingin menyelesaikan skripsiku dulu ka. Setelah selesai dan lulus aku akan bertunangan. Baru deh setelah itu mau lanjutkann kuliah lagi untuk mengrjar S2 atau brkerja". Ucap Raina jujur.


"Yang terpenting tidak membuat nona susah pasti akan saya dukung. Semangat ya nona". Ucap Mira lagi.


"Jika kau menjadi istriki. Kau tidak pusing-pusing masalah skripsi sayang. Kau tinggal duduk manis dan melayani aku dengan baik saja. Semua yang kau butuhkan dan inginkan akan aku berikan. Calon tunanganmu ini kan billioner muda". Ucap Vikram dengan percaya dirinya. Membuat Raina mengulum senyum dan Mira hanya menggeleng dengan senyuman misteriusnya.


"Jangan berbohong sayang, kau adalah si kancil mafia ku yang cerdik". Bisik Raina di telinga Vikram. Membuat Vikram langsung tersenyum nakal dan menepuk bokong sintal milik Raina.


"KAU...". Ucap Raina sambil melotot tajam.


"Apa ?". Tanya Vikram dengan tatapan polosnya.


"Nakal sekali". Ucap Raina seraya mencubit perut Vikram. Yang membuat Vikram langsung berjengit seperti cacing kepanasan.


Bukan apa-apa, jika boleh di katakan cubita milik seorang Raina adalah cubitan maut yang terpedas. Terkadang bisa membuat kulinya membiru. Sumgguh luar biasa.


Mira yang melihatnya pun hanya tersenyum maklum dan menunggui mereka sampai mereka tersadar jika telah mengabaikan Mira yang sedari tadi hanya tersenyum melihat mereka.


"Aayo kak tunjukin gaun malam terbaaik yang ada disini. Aku ingin mencobanya dan harus kakak Mira yang melayani". Ucap Raina dengan nada tanpa bantahan.


"Tapi nona Rain, disini peraturannya sudah berubah. Karena sekarsng bos kami bukan lagi madam Ghin. Tetapi pak Erlangga dan ibu Martha nona". Ucap Mira memberi tahu.


"Lalu..... ?". Tqnya Vikram seraya menaikan sebelah alisnya.


"Anda harus meminta izin dulu kepada salah satu dari mereka. Karena jika tidak, maka pekerjaan saya yang akan di pertaruhkan disini". Ucap Mira memberi tahu.


"Tak masalah Mira. Kau di depak dari sini. Aku bisa menempatkanmu berkerja di mana pun yang kau inginkan". Ucap Vikram sedikit menyombongkan diri.


"Kau ini ya...". Tegur Raina dengan menampar bahu tegsp Vikram.


"Kak Mira tidak akan tergiur dengan pekerjaan yang kau tawarkan itu. Dia calon kakak iparku sudah pasti jika dia di depak dari pekerjaannya, ya dia akan menjadi nona Leonard". Ucap Raina dengan bangga.


Membuat Raina mendapat cubitan lembut di pipi sedangkan Mira langsung memerah pipinya.


Martha yang melihatnya dari jauh pun merasa kesal akan tingkah Vikram dan Raina yang seperti mengumbar kemesraan itu.


"Cih. Setelah menghilang, lalu muncul di acara pernikahanku, dan sekarang bermesraan dengan anak manja itu. Sunggu manis sekali". Ucap Martha sinis.


Ia pun lalu berjalan mendekat kearah mereka bertiga dengan angkuh. Membuat ketiganya langsung melihat kearah Msrtha yang kebetulan suara sepatu hellsnya terdengar oleh Vikram, Mira dan Raina.


Martha pun langsung menaikan sebelah alisnnya dengan angkuh dan merasa kesal saat mengingat jika anak manja itu. Si putri bungsung yang bernama Raina Agatha itu adalah kesayangan bagi para pangeran Lronard termasuk ayah kandungnnya. Membuatnya harus berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Jika tidak maka butique yang sudah lama dibangun oleh ibunya itu pasti akan tamat. Dan sialnya lagi marga Leonard memegang kuasa penuh atas butique itu. Sebab ibunya dan istri ketiga dari Jonathan Leonard berteman baik.


Martha pun menghela dalam mencoba membuat dirinya untuk tenang dan terlihat profesional. Meski pun sangat sulit. Sebab ia memiliki dendam kesumat kepada lelaki sialan yang berdiri di samping Raina.


"Selamat siang nona Raina. Apa ada masalah disini ?". Ucap Martha sedikit tegas dan serius.


"Siang nona Martha. Tidak ada, saya hanya ingin melihat-lihat dan mencoba gaun malam yang terbaik di butique ini. Tetapi aku ingin pegawai anda yang bernama Mira lah yang melayani saya". Ucap Raina dengan sopan dan lembut. Membuat Martha langsung melirik Mira dengan tajam.


"Dia memang banyak menarik pelanggan akhir-akhir ini". Batin Martha sedikit kesal. Karena ia tidak bisa mencari kesalahan Mira untuknya jadikan pelampiasan.


"Bisakan nona ?". Tanya Raina memastikan.


"Tentu...". Ucap Martha dinginnya. ia pun berjalan kearah Mira.


"Layani mereka dengan baik. Pasti kau senangkan karena dapat menjilat mereka dengan gampang". Ucap Martha dengan nada rendah yang menurut Martha hanya bisa di dengar oleh Mira dan Martha saja. Dan berlalu pergi dengan berjalan angkuh. Meninggalkan Mira yang terdiam membisu. Tetapi lain halnya dengan Vikram. Ia justru malah menatap tajam Martha karena berkata-kata demikian.


"Mata di jaga ya". Bisik Raina sedikit mengancam saat melihat Vikram menatap martha dengan tajam. Vikram pun tersenyum lembut kearah Raina dan menatapnya dalam.


"Kau cemburu". Ucap Vikram menebak.


"Menurut mu. Harus ya aku jelaskan atau berteriak kepada seluruh dunia. Huh menyebalkan". Ucap Raina dengan tersungut marah dan berjalan mendekati Mira.


"Ayo ka, tunjukan gaunnnya".Ajak Raina dengan lembut. Dan Mira pun langsung menunjukan kearah lantai dua tempat dimana gaun-gaun terbaik yang limitted berada.


"Dia sangat sexy jika sedang cemburu". Ucap Vikram dengan tatapan nakalnya dan langsung berjalan mengekori Mira dan Raina.


Mira pun berjalan menunjukan kederetan gaun malam yang terlihat indah dan elegan. Dan Raina pun mulai melihat-lihat dan memilih di bantu oleh Mira. Sedangkan Vikram duduk di sofa panjang dengan santai seraya bermain ponsel.


Setelah menemukan lima stel baju yang menurut Mira dan Raina pas dan cocok. Raina pun langsung menuju keruangan ganti untuk mencobanya.


Raina pun memakai gaun pertamanya yaiitu long dres ketat yang berwarna peace yang memiliki belahan kaki sampai paha atas dan kedua tangan yang terbuka. Dan berjalan keluar ruangan menunjukan bajunya kepada Vikram dan Mira.


"Ekhem...jadi, gimana sayang". Ucap Raina lembut.


Vikram pun langsung melihat kearah Raina dan sedikit melotot tajam kearah Raina lalu beralih kearah Mira yang langsung menunduk paham.

__ADS_1


"Mati aku...Sudah ku duga pasti ekspresi tuan Vikram akan seperti ini". Batin Mira takut-takut.


Vikram pun lalu beralih lagi menatap Raina dan menilai dari atas sampai bawah. Ia pun juga melihat belahan kaki yang memperlihatkan kaki mulus dan jenjang Raina dari bawah sampai paha atas dan menghela.


"Ganti. Kau mau menggoda para tamu pria dengan memakai baju itu. Jika iya, tentu aku tidak akan mengajakmu". Ucap Vikram tegas.


"Jika bukan aku. Lalu siapa yang akan kau ajak humm". Ucap Raina menantang.


"Mira...". Ucap Vikram menjawab dengan santai.


Membuat Mira yang tengah berdiri di samping Vikram pun langsung menatap Vikram dengan melotot horor. Sedangkan Raina nampak berfikir.


"Ck bisa mati aku kalau sampai kak Yash tahu. Huh". Ucap Raina dan lalu masuk kembali kedalam ruangan ganti.


Raina pun kembali dengan baju dress diatas lutut berwarna hijau tua yang memiliki lengan terbuka. Dan Vikram pun langsum memijat pelipisnya saat melihat baju yang Raina kenakan.


"Ganti. Aku pusing jika melihat baju warna hijau di kulitmu itu. Sangat kontras sekali Rain". Ucap Vikram tak mensetujui membuat Raina langsung menghela kesal dan berbalik lagi keruangan ganti.


Mira yang paham akan keadaan Vikram pun mulai mengambil satu botol kecil air mineral yang sengaja diperuntukan untuk para pria yang menunggui wanitanya memilih baju dan mencobanya.


"Diminum dulu tuan". Ucap Mira sopan seraya menyerahkan satu botol air mineral itu.


Vikram pun menerimanya dan langsung meneguknya dengan rakus. Ia benar-benar tidak menyukai warna hijau tua. Sangat menyakiti matanya dan kepalanya.


"Hhhh.... Terimakasih Mira" Ucap Vikram tulus.


"Iya tuan". Ucap Mira sopan.


"Heh, kau sangat berbeda sekali ya saat bekerja. Sangat sopan dan patuh. Duduklah, ini pasti akan memakan waktu yang sangat lama". Ucap Vikram mengajak Mira yang sedari tadi berdiri sopan untuk menemaninya duduk.


"Ini sudah peraturannya tuan". Ucap Mira menolak dengan lembut.


"Duduk lah, temani aku mengobrol dan bersikaplah biasa seperti di luar kerja. Aku ingin mengobrol dengan mu". Ucap Vikram pantang menyerah.


Mira pun teringat akan kats-kata Martha untuk melayani mereka dengan baik. Tetapi bagaimana jika ada yang salah paham nanti. Mira pun sedikit ragu dan berfikir. Vikram yang notabenya tidak sabaran pun langsung berdiri, berjalan kearah Mira dan menariknya kearah sofa lalu memaksanya untuk duduk seraya menekan pundak Mira lalu menatapnya dengan tegas. Membuat Mira terpaksa harus menurutinya dan duduk dengan patuh.


"Aissshh tuan Vikram ini benar-benar...". Batin Mira sedikit kesal.


"Kenapa. Kau ingin memukul ku. Silahkan saja". Ucap Vikram yang tahu isi fikiran Mira. Membuat Mira sedikit canggung.


"Tidak tuan". Ucap Mira canggung. Vikram pun langsung tersenyum lucu dan menjitak pelipis Mira sedikit keras membuat Mira mengaduh dan tanpa sadar memukul lengan Vikram dengan keras.


"Awww...Sakit. Kau ini...Aku sedang bekerja tidak bisakah kau ikuti aturan". Ucap Mira kesal.


"Hhh...Melanggar aturan adalah hobiku dan ketiga sahabatku". Ucap Vikram santai dan lalu duduk dekat dengan Mira. Ia pun lalu menaruh kepalanya di pundak Mira. Membuat Mira langsung melotot dan menyingkirkan kepala Vikram.


"Sana...". Ucap Mira seraya menyingkirkan kepala Vikram.


"Ck kau kan akan menjadi kakak ipar ku". Ucap Vikram tidak mau menyerah dan tetap menaruh kepalanya di pundak Mira.


"Tuaan, menyingkir lah. Kau akan membuat nona Raina cemburu kepada ku nanti. Argghh". Ucap Mira sedikit kesal. Namun Vikram yang dasarnya jail itu pun masa bodo akan peringatan Mira.


Raina yang mendengar kegaduhan itu pun mencoba mengintip dan langsung memberengut kesal kearah Vikram.


"Dasar kadal tua. Berani-beraninya kau menggoda calon kakak ipar ku. Huh lihat saja". Ucap Raina kesal lalu meraih ponselnya dan merekam kejahilan Vikram kepada Mira dan mengirimkannya ke Yash dan ayahnya.


"Lihat kak kelakuan si kadal tua itu. Kau tidak ingin kan gadis mu terkena rayuannya. Cepat lah pulih dan pulang. Beri sahabat gilamu itu pelajaran". Ucap Raina dalam isi pesannya. Membuat Yash yang membacanya pun langsung tersenyum misterius.


"Ayah, lihat lah kelakuan calon mantumu itu". Ucap Raina dalam pesannya. Jonathan yang melihatnya pun tersenyum lucu dan langsung mengetikan sesuatu pada ponselnya itu.


"Nanti akan ayah beri dia pelajaran". Ucap Jonathan di dalam pesannya. Membuat Raina langsung tersenyum puas.


"Kena kau. Kadal tua". Ucap Raina dengan tersenyum puas.


Raina pun langsung keluar dengan gaun berwarna kuning selutut yang memiliki kerah yang menyilang memperlihatkan punggung mulus Raina.


Mira pun langsung buru-buru hendak berdiri nanun di tahan oleh lengan Vikram yang melingkar di pundaknya. Membuat Mira langsung melototi Vikram dan menatap Raina dengan was-was.


"Tak apa kak, kau duduk saja di situ. Akan sangat lelah jika kau terus berdiri menunggui ku yang entah kapan selesainya". Ucap Raina lembut namun tatapannya seolah memperingati kearah Vikram.


"Yang ini gimana ?". Tanya Raina memastikan.


"Kau pasti akan terlihat mencolok dan aneh sayang. Ini pesta resmi. Carilah gaun yang elegan. Ganti". Ucap Vikram tidak setuju.


"Hhh... baiklah". Ucap Raina lelah dan langsung berbalik lagi kearah ruang ganti.


Mira pun yang tadinya berusaha untuk sopan pun menjadi tidak memperdulikan rasa sopannya lagi dan langsung memukuli Vikram dengan kesal menggunakan bantal sofa. Membuat Vikram langsung tertawa lirih.


Hal itu pun di lihat oleh Erlangga dari jauh. Ia pun mengernyit heran saat melihat kedekatan yang diperlihatkan oleh Vikram dan Mira. Ia pun bertanya-tanya. Sudah sejauh manakah Mira mengenal seorang Vikram.


Raina pun keluar lagi mengenakan dres warna merah yang panjangnya selutut dengan bawahan yang merumbai indah dan lengan yang jatuh memperlihatkan bahu Raina.


Mira pun sedikit tercengang saat melihatnya. Karena Raina terlihat cantik sekali. Di tambah kulit putih mulusnya yang apik. Sementara Vikram melihat Raina tanpa berkedip.


"Ini bagaimana". Ucap Raina sambil bergaya.


"No bad honey. But ammm aku ingin melihat baju yang terakhir. Kau bisa menggantinya lagi". Ucap Vikram dengan lembut. Raina pun mendengus kesal.


"Pilih lah salah satu baju yang ku coba tadi. Alu tidak ingin mencoba baju yang lainya lagi". Ucap Raina tegas dan langsung berbalik berjalan kearah ruang ganti.


Vikram pun hanya tersenyum lebar dan menunggu dengan santai. Dan tak berapa lama Raina pun keluar dengan dres selutut berwarna hitam yang memiliki lengan jatuh kebawah mempeelihatkan bahu mulus putihnya. Mira pun tercengang melihat penampilan Raina. Tidak hanya bahu putihnya yang terlihat. Sedikit belahan di dadanya pun terlihat membuatnya semakin dewasa dan sexy.


"Nona, baju ini membuat anda terlihat dewasa dan sexy" Ucap Mira dengan tatapan kagum.


"Benarkah ?". Tanya Raina dengan tatapan membulatnya. Mira pun mengangguk meyakinkan.


"Kalau begitu aku pakai yang ini saja di pesta". Ucap Raina mutlak.


"Itu terlalu sexy Rain aku tidak suka". Ucap Vikram merasa tidak setuju.


"Menurutku yang merah itu lebih baik". Ucap Vikram lagi.


"Kau ini, sama saja seperti kak Yash. Pakai yang ini terlalu mencolok, yang itu terlalu terbuka, yang lain apa lagi". Ucap Raina merasa jengah.


"Pokoknya aku mau pakai yang ini titik". Ucap Raina tegas seraya menunjuk baju yang ia pakai. Dan berlalu masuk kedalam ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.


Vikram pun hanya bisa melotot dengan kesal. Dirinya itu seorang bos mafia yang ditakuti. Bagaimana bisa seorang putri bungsu yang terkenal manja dan sedikit kekanakan itu membuatnya luluh dan tidak bisa menolaknya. Mira yang melihatnya pun hanya bisa menahan tawanya saat Vikram tidak berkutik atas ketegasan dari seorang Raina.


"Apa huh ?". Tanya Vikram saat mendapati Mira tengah menahan tawanya. Mira pun langsung menggeleng dengan menahan tawanya.


"Kau ingin tertawa huh. Ayo teetawa. Tertawa saja". Ucap Vikram dengan melangkah mendekat kearah Mira yang berjalan mundur. Sampai ia pun terpojok di dinding dan Vikram pun langsung mengunci Mira dengan menaruh kedua tangannga di sisi kiri dan kanan Mira.

__ADS_1


"Tuan anda mau apa". Ucap Mira sesikit tegas. Membuat Vikram langsung menaikan sebelah alisnya dengan senyuman nakal. Namun tatapan matanya tidak menuju kearah Mira. Melainkan kearah objek lain yaitu Erlangga yang tengah mengepal kuat di ujung ruangan menatap kearah Vikram dan Mira.


Vikram pun langsung tersenyum sinis saat tatapan mata mereka bertemu. Ia seakan mencemooh Erlangga dan menantangnya.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu hal". Ucap Vikram yang masih menatap sinis kearah Erlangga.


Martha yang baru datang pun sedikit bingung saat melihat Erlangga sang suami tengah mengepal penuh amarah. Dan setelah melihat kearah Vikram yang tengah memojokan Mira di dinding ia pun menjadi bertanya-tanya. Akan hubungan Mira dan para lelaki yang baru-baru ini bersama Mira.


Martha pun lalu memiliki ide dan kesempatan untuk bisa menghasut Erlangga untuk membenci Mira. Bagaimana pun caranya, Erlangga harus bisa membenci Mira.


"Heh rupanya begitu ya wanita yang kamu cintai dengan sangat". Ucap Martha sinis


"Apa maksudmu". Ucap Erlangga penuh emosi.


"Hari itu dia bersama tuan muda Yash, Hari kemarin dia juga bersama Dareen si senimam muda yang terkenal. Dan sekarang dia bersama Vikram. Kekasih dari nona Raina". Ucap Martha dengan ekspresi tak menyangkanya


"Heh dia juga mantan mu". Ucap Erlangga sinis.


Martha pun hanya menghela nafasnya dan tersenyum lembut dan berkata. "Itu dulu, sekarang hanya kau yang ku cintai Er". Membuat Erlangga langsung berdecih jijik.


"Lihat itu, Mira sangat intim disana. Apa...Dia tengah menggoda Vikram ?". Tanya Martha memancing.


"Tutup mulut mu !". Ucap Erlangga sedikit keras. Membuat Mira langsung menengok kearah sumber suara dan membuat Raina yang baru saja selesai berganti pakaian pun tertegun di tempat.


"Apa yang terjadi ?". Batin Raina saat membuka tirai dan mendapati Mira dan Vikram yang tengah berdiri di pojokan sedangkan Martha dan Erlangga pun berdiri tak jauh dari mereka.


Melihat Mira yang menatapnya dengan bingung dan bertanya. Erlangga pun sedikit melembut tatapannya dan mengontrol emosinya. Raina pun mendekat dan langsung merangkul lengan Vikram.


"Ada apa ini Kak ?". Tanya Raina penasaran.


"Tidak nona, kami hanya tengah memergoki seseorang yang tengah menggoda kekasih orang". Ucap Martha sinis dan melirik kearah Mira.


"Seseorang....Siapa yang anda maksud nona Martha ?". Tanya Raina penasaran.


"Tanyakan saja kepada pegawai saya itu". Ucap Martha yang nenunjuk Mira melalui ekor matanya.


Mira pun sedikit terperanjat dan bingung. Ia lalu menunduk merasa tidak mengerti akan bos barunya yang nenuduhnya demikian. Raina pun langsung menatap Mira meminta penjelasan.


"Saya, tida tahu nona. Dan saya juga tidak mengerti". Ucap Mira jujur.


"Heh sangat naif sekali". Ucap Martha sinis.


"Biar aku yang memberi tahu. Dia tadi terlihat tengah menggoda kekasih anda nona. Hati-hati, daya pikatnya kuat. Suami saya saja sampai detik ini tidak bisa melupakannya. Dia penggoda yang ulung". Ucap Martha dengan penuh keyakinannya.


"Apa ?". Ucap Raina sedikit tercengang akan ucapan Martha.


Mira pun menjadi hawatir dan sedikit cemas akan nona Raina yang sepertinya percaya akan ucapan dari nona Martha yang belum tentu benar.


"Tidak nona, anda salah paham". Ucap Mira membela diri.


"Hati-hati dengan ucapan mu itu nona". Ucap Vikram seraya menunjuk kearah Martha dengan tajam.


Erlangga pun langsung memperingati Martha dengan memelototinya dan berusaha untuk membawa Martha pergi. Namun Martha menolak dan berusaha untuk tetap berada disana. Dia belum puas untuk menjatuhkan Mira dan mempermalukannya.


"Hati-hati saja dengannya nona". Ucap Martha memperingati.


Raina pun hanya tersenyum misterius dan mengangguk atas peringatan dari Martha. Ia pun lalu memendekati Mira dengan tatapan mata seriusnya. Membuat Mira langsung terdiam ia pasrah akan apa yang terjadi nanti. Toh sebagaimana kuatnya ia membela diri. Tetap saja posisinya itu salah. Sedangkan Vikram hanya menatap Raina dengan tatapan penasaran.


Raina pun langsung menggenggam kedua tangan Mira dengan lembut dan tersenyun kearah Mira.


"Kau tidak akan mungkin melakukan itu. Aku percaya kepadamu kak. Kau adalah seorang Miranda Nur. Wanita yang tegar, kuat, dan sangat baik hati. Disaat wanita lain mau menjalin hubungan dengan suami orang karena masa lalunya. Kau justru malah bersikap profesional akan pekerjaanmu dan tidak teelibat skandal apa pun dengannya". Ucap Raina membela.


"Kak Mira tahu perasaan ke sesamanya. Jadi jika kau memperingatiku akan seorang Mira. Aku tidak akan percaya itu". Ucap Raina dengan tegas membuat Martha langsung terbengong di tempat.


"Kecuali, jika kau memperingatiku akan seorang Vikram D Latthore. Aku baru mau mempercayainnya. Karena apa...". Ucap Raina menjeda kata-katanya. Membuat Martha dan yang lainnya terdiam penasaran.


"Karena kau yang dulu kekasihnya saja bisa di tinggalkan tanpa jejak. Ahapalagi aku". Ucap Raina telak. Membuat Martha dan Erlangga terkejut.


"Da...Dari mana anda tahu nona. Jika dia adalah mantan kekasih saya". Ucap Msrtha terkejut.


"Di malam pesta pernikahanmu. Kau menyeretnya menuju keatas balkon gedung. Dan disana lah aku tahu semuanya". Ucap Raina telak.


Martha pun langsung terdiam membisu. Sedangkan Erlangga hanya menatap kosong dan masam. Sementara Vikram hanya tersenyum lucu dan bangga kepada Raina. Dan Mira sendiri hanya bisa diam sendu.


Erlangga pun lalu berdehem untuk mencairkan suasana. Ia pun mulai menatap hormat kearah Raina. "Maaf atas kelancangan istri saya nona. Dia hanya tidak tahu awal mula dari apa yang ia lihat". Ucap Erlangga sopan.


"Saya yang menjamin jika Mira tidak betul-betul menggoda kekasih anda. Maaf untuk kekacauan ini. Maaf untuk tuduhan yang telah istri saya peebuat Mira". Ucap Eelangga berusaha untuk mengakhiru perdebatan ini.


Martha pun sedikit luluh akan kata-kata Erlangga yang mengatakan dan nengakuinya sebagai istrinya. Ia pun menjadi sedikit senang dan selalu menatap Eelangga dengan penuh cinta.


Sedangkan Raina dan Mira pun hanya mengangguk mengiyakan peemintaan maaf dari Eelangga atas nama Martha istrinya itu. Dan Erlangga pun langsung pamit untuk undur diri seraya menggandeng Martha dan berjalan cepat.


"Er, terima kasih kau telah mengakuiku sebagai istrimu tadi. Aku bahagia Er" Ucap Martha dengan berjalan cepat. Erlangga pun hanya nenanggapi ucapan senang Martha dengan tersenyum sinis dan langsung mendorong tubuh Martha keatas sofa di ruangannya.


"Kau sangat senang rupanya". Ucap Erlangga dengan tatapan tajamnya. Dan Martha pun mengangguk dengan antusias.


Erlangga pun langsung menendang meja yang ada di depan sofa hingga gelas-gelas bekas minumnya berjatuhan. Membuat Martha berteriak kager. Tidak hanya menendang ia pun melempar botol bekas minumnya ke sembarang arah. Meluapkan amarahnya akan perlakuan dan tatapan mencemooh dari Vikram. Belum lagi rasa keinginannya yang tertahan kepada Mira. Semuanya membuatnya merasakan tak adil.


Sementara Vikram sendiri langsung mendekati Raina dan nencium puncuk kepalanya dengan sayang. Ia merasa bangga akan pemikiran dewasa sang kekasih ysng sangat langka itu.


"God gril". Bisik Vikram di telinga Raina.


Raina pun tersenyum manis kearah Vikram. Dan dengan tanpa aba-aba ia pun langsung menginjak kaki Vikram dengan weddges hellsnya yang tebal. Nembuat Vikram langsung nengerang kesakitan seraya terjengit-jengit di tempat.


"Rasakan itu. Siapa suruh kau selalu saja menggodai calon kaka iparku. Itu baru hukuman dari ku. Terimalah hukuman dari ayah dan kak Yash nanti". Ucap Raina dengan penuh amarahnya dan berjalan menghampiri Mira yang ternganga akan keberanian dari seorang Raina terhadap Vikram.


"Ayo kak kita pergi dari sini. Biarkan dia yang nembawa dan membayar barang belanjaan ku". Ucap Raina dengan tersenyum misterius.


"Hhhh....Kau cantik jika sedang cemburu honey. Aku jadi semakin cinta". Ucap Vikram gemas. Dan berjalan menuju kearah kasir.


"Ehh tapi kita mau kemana nona. Aku belum selesai berkerja". Ucap Mira panik. Raina pun langsung berhenti dan melihat jam tangannya.


"Ini sudah sore dan tepat di jam kakak pulang sesuai jadwal butique. Jadi, mari kita makan malam bersama. Aku ingin menghabiskan waktu banyak dengan kak Miira. Juga bercerita banyak". Ucap Raina memaksa.


"Tunggu dulu, aku ambil tasku dulu dan mengganti pakaian kerja ku dulu ok". Ucap Mira meminta izin. Dan Raina pun mengangguk dengan semangat.


"Ok. Aku tunggu disini". Ucap Raina dengan semangat. Mira pun langsung berjakan keruangan ganti.


Vikram pun langsung merangkul Raina dengan gemas seraya menenteng tujuh kantung baju yang harganya hampur menguras isi donpetnya itu.


"Kau benar-benar ingin membuat ku bangjrut sayang. Untuk apa tujuh baju yang kau beli itu humm" Ucap Vikram gemas.

__ADS_1


"Untuk ku lima stel dan dua stel untuk ka Mira. Lagian uangmu itu banyak jangan berpura-pura denganku". Ucap Raina dengan tatapan yang menggemaskan. Nembuat Vikram kangsung memeluk Raina dengan sayang.


__ADS_2