Luluh

Luluh
saling berpelukan


__ADS_3

Kedatangan teman kerja seakan menambah keramaian di rumahnya. Sari, Mbak Indri, Amel dan juga Eko datang di saat yang tepat. Hidangan makan malam masakan ibunya begitu banyak. Ya, teman-temannya datang sore hari sepulang bekerja, di mana mereka pastinya sedang kelaparan selesai bekerja. Hingga tak merasa malu makan begitu lahap di hadapan ibu atau suaminya.


Kenapa harus malu?


Ibu dan Rama sudah memahami teman-teman Yanna dan sudah terbiasa melihat mereka jaim tanpa di sembunyikan sifat asli mereka.


Sudah seperti saudara, tak ada yang harus di sembunyikan dalam sifat pertemanan.


" Eko gak mau nambah lagi?" Tanya ibu Yanna.


" Jangan di tawarin terus buk. Itu saja sudah nambah tiga piring. Bisa-bisa nasinya habis nanti kalau di suruh nambah." Saut Sari. menatap Eko dengan peringatan. Yang di peringatkan malah meringis di samping Rama dan Sigit yang juga ikut makan bersama.


" gak apa-apa habisin, nanti ibu bisa masak lagi. Ini juga masih banyak." Kata Ibu Yanna.


" Nambah lagi Ko." Suruh Rama.


" Sudah Mas makasih, sudah kenyang aku?" Tolak halus Eko malu-malu garangan.


" Gimana gak kenyak, wong tiga piring." Gumam Indri.


" Yang terakhir gak perlu di cuci, sudah kinclong." Tambah Amel, melihat piring bekas makan Eko tak ada sebutir nasi. Hanya noda-noda sedikit yang tersisa.


" Gila. Laper beneran ini anak." Imbuh Sari, menggelengkan kepala. Menatap tak percaya piring bekas Eko.


" Biar calon istriku nanti gak brewokan. Mangkanya harus bersih." Kata Eko.


" Itu nyapu!! Bukan nasi." Seru Sari, membuat eko tertawa. sedangkan yang ain hanya menggelengkan kepala.


" Ya sudah ibu tinggal dulu ke belakang, kalian. terusin saja ngobrolnya. Sudah lama kan kalian gak ngumpul-ngumpul gini?" Pamit ibu Yanna.


" Kita bantuin ya buk?" Ucap Indri.


" Enggak perlu. Sudah ada Sigit yang bantuin ibu? Sudah. Kalian di sini saja." Larang Ibu Yanna.


" Sigit lagi, sigit la..gi!" Lesu Sigit, mendengar namanya di sebut oleh ibunya.

__ADS_1


" Sabar? Nanti aku kasih tips." Ucap Rama, membuat Sigit bersemangat.


" Oke. Ayo buk, yang mana yang harus di bersihin." Semangat Sigit. Mulai mengambil piring-piring kotor yang sudah di tumpuk di tengah-tengah orang.


" Aku juga mau Mas Ram. Gak nolak aku." Kata Sari semangat. Ikut membantu menumpuk piring kotor dan serahkan ke Sigit.


" Aku juga!" Kata Indri bersamaan dengan Amel. Hingga membuat semuanya tertawa.


" Gak nambah Mel? Makan kamu dikit tadi. Diet?" Tanya Yanna. Memperhatikan wajah dan tubuh yang tidak seperti dulu.


Sedikit kurus dan sedikit hitam.


" Dikit apanya.. Masih sama, banyak kayak dulu makannya." Jawab Amel.


" Makan banyak tapi kok bisa kurus, muka kamu juga kenapa sedikit kucel gitu." Tanya Yanna, sudah lama tidak pernah bertemu dengan Amel. Sedikit ada perubahan dan juga tidak pernah tau kabar Amel dari teman-temannya.


Mungkin mereka semua tidak suka membicarakan teman dekat. Karena itu juga bisa terpengaruh dalam pertemanan dan bisa membuat terpecahnya persahabatan karena hal sepele.


" Dia kerja tambahan sekarang." Kata Indri, membuat Yanna mengerutkan kening. Dan menatap Amel yang sedang memeriksa ponselnya.


Entah sedang mengetik apa.


" Pulang kerja? Ngojek online?" Tanya Yanna. Dan di anggukkan Amel.


Mungkin inilah penyebabnya kenapa amel jarang sekali mengangkat vidio call bersama atau membalas chat di grub. Dan sebab itu juga Amel sedikit kurus serta wajah kusam tapi masih tetap terlihat manis.


" Kita sudah seperti saudara. Tapi kenapa kamu menyelesaikannya sendiri. Bukannya dalam pertemanan kita harus berbagi? Apa Kita semua, sudah gak di anggap sama kamu atau ada sebab yang lain." Kata Yanna. membuat Indri dan Sari ikut menatap Amel.


Ini yang Sari dan Indri ingin sekali menanyakan. Tapi sulit sekali kata-kata itu di keluarkan. Bukan tidak berani, hanya saja takut Amel tersinggung. Dan kali ini Yanna mewakilkan Perasaan Sari dan Indri.


Amel Tersenyum kecil menatap tiga temannya. " Kita memang sudah seperti saudara, tapi bukan berarti aku harus memanfaatkan pertemanan kita hanya karna keluargaku kan. Aku juga tidak ingin saja, pertemanan kita hancur hanya karna sedikit kesalah pahaman. Kamu pasti tau Yan. Gimana dengan posisiku." Ucap Amel.


Bukan menyinggung dan bukan juga untuk mengingatkan kembali Yanna di masa lalunya sebelum menikah dengan Rama.


Ya, Yanna juga pernah berada di posisi Amel. Dan juga pernah tidak ingin merepotkan pertemanan yang sudah di bangun dengan baik, hancur karena kerepotan dan kesulitannya. Tapi, bukan berarti temannya tidak mau membantu. Dirinya saja yang menolak, selagi dirinya bisa berusaha sendiri.

__ADS_1


Yanna pernah merasakan itu.


Tapi tak separah Amel, yang memendam kesedihannya sendiri dan berjuang dengan sendiri juga.


" Kita tau gimana dengan perasaan kamu sekarang. Tapi setidaknya kamu bisa berbagi dengan kita Mel?" Ucap Indri. " Kita seperti sahabat yang enggak berguna buat kamu, di saat kamu membutuhkan." Imbuhnya.


" Aku yang paling sedih, juga paling gak berguna. meskipun kita satu kerjaan. Kamu memperlakukan aku seperti orang asing saja. " Tambah Sari dengan mata yang mulai mengembun. Sangat sensitif dan juga rasa marah terpendam begitu lama pada sahabatnya.


Entah kenapa, Amel yang tak pernah menangis di depan tiga temannya. Kini air matanya mengalih di pipinya. Seakan dirinya juga sama sedihnya. Sama memendam perasaan marah yang sulit sekali untuk di ceritakan.


Sari memeluk Amel dari Samping kanan, di ikutin Indri yang juga menangis dan memeluk Amel sebelah kiri. Tak ketinggalan Yanna juga ikut memeluk ketiga sahabatnya dari belakang indri serta ikut menangis berjamaah.


Eko dan Rama yang mendengar dan melihat para wanita saling berpelukan. Saling memandang ikut terharu dan merasakan kesedihan untuk apa yang di alami Amel.


" Kita gak akan saling meninggalkan. Kita akan saling bersama, saling membantu dan saling mendukung. Jangan anggap diri kamu beban buat kita. Jangan ya? Kita gak ingin lihat sahabat kita seperti ini." Ucap Sari dalam tangisannya.


" Iya. Makasih. Dan maaf kalau selama ini aku mendam sendiri. Maaf buat kalian khawatir." Ucap Amel.


" Kita suka di repotin, dan kita gak suka di diamin." kata Yanna dan di anggukkan indri masih dalam pelukan bersama.


" Iya-iya, aku janji bakalan cerita ke kalian lagi. dan gak akan ada yang di sembunyikan." Ucap Amel mengusap air matanya.


" Janji kita akan selalu bersama." Ucap Indri.


" Janji." Jawab Yanna dan Sari.


" Janji." Jawab Amel dengan senyum dan kembali berpelukan dengan erat.


" Boleh ikut gak." Ucap Eko dengan senyum, membuat para wanita menatapnya dengan horor.


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2