
Dua hari kemudian tepat disabtu pagi mira yang baru menyelesaikan pekerjaanya menata gaun model terbaru di buat heran akan tingkah teman kerjanya yaitu shila.
"Kenapa shil ?". Tanya mira dengan muka bingung.
"Tau akh kesel gua sama pelanggannya Madam Ghi". Adu shila dengan muka kesal.
"Yang mana si ?". Tanya mira penasaran.
"Anaknya nyonya Yasmine tuan muda Aryasa Leonard. Sumpah kalau lu kemarin masuk kerja udah gua pastiin bakalan nangis sama tuh orang". Jelas shila masih dengan kekesalannya.
"kenapa gitu ?". Tanya mira lagi masih tidak paham dimana letak kekesalan yang shila alami.
"Ya gimana ngga kesel coba ra. Dia nyobain baju pesta buat adiknya dari 20 baju yang termahal sampai yang terbrended sekalipun. Dia bilang tidak ada yang cocok buat adiknya". Ucap shila muka kesal.
"Yang katanya itu terlalu terbuka saya tidak suka, itu terlalu rendah di bagian dada ganti, itu terlalu pendek, itu terlihat punggung belakangnya saya tida mengizinkan adik saya dilihat oleh mata jahat, Hitam tidak cocok, itu terlalu cerah dan maasih banyak lagi huuufff". Tutur shila dengan meragakan cara bicar sang tuan muda.
Mira yang melihat kelakuan shila yang tengah memperagakan cara bicara shila yang terlihat sok cool itu pun hanya bisa tersenyum dan menggeleng maklum.
"Keliatan sayang banget ya sama adiknya. Kaya lagi sama pacarnya". Ucap mira dengan tersenyum simpul.
"Emang. Keliatannya juga posesif banget. Masa si ozi mau ngukur badan adeknya aja ngga boleh. Bilangnya harus perempuan yang ngukur. Edan itu orang". Sungut shila.
"Lah kok emang ngga jadi beli baju yang udah jadi ?". Tanya mira heran.
"Ada satu sih yang di pilih dan disetujui oleh tuh orang. Cuma rada kegedean, jadi ya dikecilin hari itu juga. Nah masalhnya pan harus diukur dulu biar tahu gitu ukuran pasnya". Jelas shila panjang lebar.
"Oh, kirain mau bikin bajunya aja biar sesuai selera". Tutur mira dengan santainya.
"Mana sempet embul. Acaranya aja malam ini. mereka datengnya kemarin siang". Jawab shila dengan nada gemas. Membuat mira tersenyum bodoh.
"Eh Bay the way ntar malam nongkrong yuk. Ngerumpi-ngerumpi cantik kita". Ajak shila kepada mira.
Mira yang tengah menaruh lebel harga pun menengok ke shila dengan raut tak enak.
"Nanti malam aku ngga bisa ikut shil. Kakak aku minta di temenin kondangan soalnya". Jelas mira dengan lembut.
"Elah, pan kaka lu ada suami. Masa iya kondangan aja minta temenin lu si. Bohong ya, jangan-jangan mau malam mingguan sama koko er nih ngaku". Ungkap shila dengan curiga.
"Bukan ka mayya shila, tapi kak marko kakak pertama ku. Dia belum nikah jadi ya gitu minta di temenin". Jelas mira.
"Owww kak marko yang dulu makan siang bareng lu itu ya di cafe depan itu". Tanya shila memastikan.
"Betul 100 buat shila". Ucap mira dengan semangat. Membuat shila langsung mencebikkan bibirnya.
"Ya uda deh paling cuma duaan nongkrongnya gua sama si nuri doank. Imelda udah jelas dia mah malam mingguan sama tunangannya". Ucap shila dengan nada tidak bersemangat.
"Ozi ngga di ajak shil ?". Tanya mira yang masih dengan mencantumkan lebel harga pada pakaian.
"Emang dia cewe ?". Tanya shila dengan melirik galak. Membuat mira tertawa lepas.
"Disini tempat buat kerja. Bukan tempat buat ngobrol apa lagi makan gajih buta". Ucap seseorang dengan suara sakratisnya.
Mendengar ada yang menegur dengan suara judes. Mira dan shila pun menengok kearah sumber suara. Terlihat sang meneger muda tengah menatap shila dan mira dengan tatapan sadisnya dengan berdiri angkuh.
"Maaf bu martha, atas kelalaian kami". Ucap mira dengan sopan. Sementara shila hanya diam dengan tatapan acuh.
Memang diantara semua pegawai dan pekerja shila dan nuri lah yang paling berani untuk melawan bu martha. Sang meneger sekaligus putri dari Madam Ghi.
Mengingat shila dan nuri masih saudara sepupu jauh dari ayah martha yaitu tuan atmaja.
"Kerja yang benar". Ucap bu martha seraya berjalan melewati mira dan shila dengan gaya angkuh.
"Isshh pengen rasanya gua garuk tuh muka". Ucap shila dengan kesal.
"Shil, udah lah nanti bakalan panjang masalahnya. Kalau martha di lawan ngga bakalan ada benernya". Ucap mira memperingati.
"Lagian sifatnya ngga kaya bapaknya sebel gua. Kalau paman atma beehh baek bener berwibawa lagi dermawan". Ucap shila memuji sang paman.
"Ya udah kerja lagi aja yuu". Ucap mira sembari berjalan kearah deretan baju yang harus ia kadih lebel harga.
Pada sore harinya pukul empat mira pun dijemput oleh kak may dari tempat kerjanya untuk berangkat kesalon. Menemani sang kaka sekaligus mempercantik diri.
Sambil menunggu rambut yang tengah di creambath mira pun bertanya "Ka may emang udah nemu baju buat kepesta ?". Tanya mira mengingatkan.
"Udah, mas roy yang milihin hiihii". Ucap mayya dengan senyum bahagianya.
"Senangnya yang dipilihin baju sama suami". Celetuk mira.
"Gimana ya ra. Kalau kakak yang milih pasti ada aja kurangnya. Terlalu seksi lah, terbuka lah ini itu aah ribet". Ucap mayya dengan santai.
Mendengar ucapan sang kakak mira pun menjadi teringat tentang ucapan shila yang bercerita tentang tuan muda itu. Posesifnya kalau di denger-denger kaya suami ke istrinya. Padahal kan katanya kakak adik.
"Kenapa, iri. Bilang bos". Ucap sang kaka dengan raut mengejek membuat mira langsung berucap.
"Yeeee Tarik sis". Seru mira dengan muka jutek.
Dan tanpa mira duga sang kakak beserta para pegawai salon pun serempak berucap "Semongko".
Membuat mira, mayya dan semua orang disana menjadi tertawa lucu.
__ADS_1
Setelah dua jam melakukan kegiatan di salon tepat pada pukul tujuh malam mayya, royan dan mira pun sudah bersiap.
Mayya dengan long dres duyung yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping, berwarna hitam, berlengan panjang, memperlihatkan bahu yang terbuka sedikit namun tidak rendah di dada dan tidak terbuka di punggung. Dipadukan dengan hells putih kaca dan tas clot abu-abu glosy. Juga rambut yang di ikat kuda dan di beri hiasan rambut apik.
Sementara kak roy dengan setelan jas abu-abu, kemeja putih, celana abu-abu, jam dior asli warna hitam serta sepatu fantofel pria warna hitam.
Sedang kan mira dengan dres brukat selutut yang di berikan oleh marko memiliki lengan panjang, rambutnya yang di gelung apik memperlihatkan leher jenjangnya. Warna baju merah maroon, memakai wedges merah dan clot besar warna hitam.
"Cantiknya adiknya siapa ini". Goda mayya terhadap mira.
"Lebih cantik kak may lah, Anggun, semampai, riasan sempurna, seksi lagi. Tuh liat kak roy aja sampai ngga berkedip". Ucap mira dengan senyum simpulnya.
"Mau gimana lagi ra. Kakamu terlalu cantik. kaka jadi nyesel milih baju itu". Ucap royan dengan tampang frustasi.
"Bukanya bangga malah nyesel. Gimana sih mas ini". Gerutu mayya kepada sang suami
"Ngga gitu sayang, mas ngga ikhlas aja lelaki lain liat kamu pake baju itu. Ksmu kan punya mas". Jelas royan dengan lembut membuat mayya tersenyum merona.
"Aku juga punya mas". Sahut mayya dengan tersipu malu.
"Bucin banget sih mereka". Ucap mira seeaya merengut lucu.
Tak lama terdengar suara deru mobil dan suara pintu mobil terbuka. Menandakan bahwa sang pemilik mobil telah turun hendak memasuki rumah.
Saat sudah di dalam rumah sang pemilik mobil pun duduk dengan santai memandangi ketiga insan yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Dan ternyata seseorang itu ialah marko manuel yang tengah siap menjemput sang adik. Dengan blezer warna hitam, kaus polos putih, dan celana jeans hitam.
"Are you ready honey". Ucap marko kepada mira.
Mira pun hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan sang kaka.
"Aku ingin satu mobil dengannya. So, kalian bisa bawa mobil masing-masing kan. Karna aku tidak ada niatan untuk mengajak kalian untuk satu mobill dengan ku dan mira". Ucap marko dengan sedikit angkuh kepada mayya dan roy.
"Ciih, siapa juga yang ingin ikut dengan mu". Ucap mayya dengan sinis.
Memang bukan lagi rahasia umum untuk seorang mayya dan marko. Jika sudah bertemu ya layaknya kucing dan anjing. Selalu ribut, selalu berdebat, dan selalu bermusuhan akibat tidak sepaham.
Marko yang sebenarnya cukup baik, namun terkadang dia bisa juga sombong, angkuh dan memiliki gengsi yang cukup tinggi.
Sementara mayya yang sebenarnya lemah lembut namun suka baperan juga rapuh dalam hal perasaan. Pencemburu dan tidak suka dengan orang yang angkuh dan sombong.
"Bagus kalau begitu. Ayo mira, kita berangkat". ajak marko kepada mira.
Mira yang diam pun akhirnya mengangguk mensetujui ajakan sang kaka. Saat mereka hendak beranjak pergi tiba-tiba mayya mencegahnya.
Melihat keseriusan yang diperlihatkan oleh sang adik kedua terhadapnya. Marko pun mengerti dan menyuruh mira untuk menunggu di mobilnya.
"Tunggi kaka di mobil". Ucap marko dengan lumbut.
Sementara mira yang tak ingin terlibat pun hanya mengikuti perintah dari kaka pertamanya untuk menunggunya di dalam mobil.
"Jadi ?". Tanya marko meminta penjelasan. Setelah melihat mira telah berada di dalam mobilnya.
"Untuk apa kau membawa mira kepesta orang penting itu". Tanya maya penuh selidik.
"Untuk menemani ku lah. Memangnya apa lagi". Jawab marko dengan santai.
"Bohong. Diantara banyaknya wanita malam, teman perempuan dan teman bisnismu. Kenapa harus mira yang kau ajak". Tanya mayya lagi.
"Karna dia saudaraku. Aku hanya ingin dekat dengannya. Apa itu salah. Lagian aku suka jika adikku hanya mira. Bukan kau". Ucap marko dengan sinisnya.
"Awas jika kau macam-macam dengannya. Dia juga masih memiliki satu orang kaka yaitu aku. Jangan pernah menyakitinya dan jangan pernah memanfaatkannya demi apa pun itu termasuk kepentinganmu". Ancam mayya dengan penuh tekanan.
Mendengar ucapan mayya yang menyiratkan akan hal-hal buruk yang akan ia lakukam terhadap mira membuat marko sedikit terusik. Ia pun menghela nafas dan berkata.
"Jika aku memiliki niat buruk terhadapnya. Mungkin aku tidak bisa pergi dengannya malam ini. Karna sudah dipastikan hewan penjaganya akan bertindak lebih dulu". Ucap marko seraya melirik kearah royan di akhir kalimat.
"Apa maksudmu ?". Ucap royan dengsn tatapan menusuk.
Mendengar hal itu, marko pun tersenyum senang seraya berkata "Tersinggung uuhh". Ejek marko terhadap royan.
"Ada yang ditanyakan lagi. Jika tidak aku akan pergi. Kasihan my litle angel ku sudah menunggu". Ucap marko seraya berdiri lalu pergi meninggalkan dua insan yang tengah menahan kesal.
"Orang itu". Ucap mayya dengan geram.
Mengetahui sang istri tengah menahan kesal. Royan pun berusaha menenangkan sang istri dengan memeluknya seeta mengelus punggung sang istri.
"Sudah lah. Kau kan tahu bagaimana sifat kaka lelakimu itu. Yang harus kita waspadai adalah mira. Jangan sampai marko melakukan hal gila terhadap mira". Ucap royan mengingatkan.
"Ayo kita pergi". Ajak sang suami kepada mayya dan di balasi setuju drngan menggandeng tangan sang suami.
Sementara di dalam mobil marko yang tengah melaju itu mira pun merasa sedikir canggung. Sudah hampir satu tahun ia tak jumpa dengan kakaknya. Berbicara via telfon pun tidak. Setahun itu antara mira dan marko seperti orang asing.
"Apa kabar ka ?". Tanya mira memecah suasana.
"Seperti yang kamu lihat". Ucap marko dengan santainya.
"Hampir satu tahun kakak menghilang. Kakak kemana saja. Apa benar yang kak may bilang. Kalau satu tahun lalu kaka di penjara karna kasus barang terlarang. Kenapa kaka diam". Ucap mira bertubi-tubi kepada sang kakak.
__ADS_1
Marko yang mendengarnya pun tersenyum senang memang mira lah yang paling bisa membuatnya senang.
"Pertanyaanmu itu terlalu banyak ra, dan butuh waktu panjang untuk menceritakannya. Next time ya kakak jawabnya". Jelas marko seraya membelai pipi mira dengan lembut.
Mendengar hal itu pun membuat mira langsung terdiam tidak berani menuntut dan memarahi sang kaka. Dan ini yang membuat marko begitu berbeda memperlakukan kedua adiknya itu.
"Bagaimana dengan mu ra. Masih sering sakit kah. Kelihatannya suami kakakmu juga sangat khusus memperlakukanmu". Tanya marko memecah kesunyian.
"Baik ka, aku sudah membaik ko. Aku juga sudah bekerja. Kalau kak roy memang dia baik banget ke aku. Dia malah memperlakukan aku seperti adik kandungnya sendiri". Ucap mira dengan raur ceria.
Marko yang melihat itu pun hanya tersenyum simpul
"Syukur lah kalau begitu". Jawab marko sekenanya.
"Ka marko sekarang rada beda ya. Jadi lebih bersih dan rapih". Ucap mira seraya melihat penampilan sang kaka.
"Weeh nyindir nih". Cibir marko dengan raut lucu.
"Serius. Dulu kan kaka serampangan ngga ada rapih-rapinya juga gondrong". Sahut mira dengan raut muka cemberutnya.
Marko yang dikatai oleh adiknya itu pun tidak merasa terusik sedikit pun. Malah merasa senang dan terhibur. Entah mengapa jika dengan mira rasanya berbeda. Mira bisa membuatnya senang mira juga bisa membuatnya luluh. Padahal hanya krlakuan sederhana yang ia lakukan. Tapi rasanya berbeda. Sangat berbeda dari sang adiknya satu lagi yaitu mayya.
"Sudah sampai. Ingat yah ra, di dalam nanti terus gandeng lengan kaka. Jangan kemana-mana selain dengan kaka. Kecuali dengan mayya dan roy". Jelas sang kaka kepada mira.
Mira pun hanya mengangguk mengerti apa yang di ucapkan oleh sang kkaka kepadanya.
Marko pun langsung turun dari mobil tepat di depan gedung. Memutari mobil lalu membukakan pintu untuk sang adik dan beranjak memasuki gedung.
Sesampainya di pintu gedung salah satu petugas meminta kartu undangan yang telah di berikan oleh pihak LeonGrup. Sesudah itu marko pun memberikan kunci mobilnya kepada petugas satunya lagi.
"Bawa dengan baik mobil ku". Ucap marko dengan angkuh.
"Baik tuan Manuel". Ucap sang petugas dengan hormat.
Membuat mira tersenyum maklum melihat kelakuan sang kakak yang seperti kucing anggora itu.
Saat memasuki gedung, semua mata terjudu kepada mira dan marko yang tengah berjalan bergandengan itu layaknya sepasang kekasih.
Banyak yang berbisik dan ada juga yang berbinar senang melihat marko dan mira. Serta ada pula yang terlihat ingin mengamuk dari tatapan para wanita di pesta itu.
Mira pun sedikit mempereratkan pegangan tangannya di lengan marko.
"Relax ra, ada kaka disini". Bisik marko.
"Pacar marko kah atau calon istrinya mungkin". Ucap salah satu tami perempuan yang tengah berkerumun.
"Akhirnya si pejantan tangguh mendapatkan betinanya".
"Woahh ternyata dia normal juga".
"Ciih ****** mana lagi itu. Nora, cantikan juga aku".
Dan masih banyak lagi perkataan yang seliweran di telinga mira. Membuatnya sedikit tak nyaman.
Marko pun berjalan kearah salah satu kerumunan yang terdiri dari lima orang pria 1 sedikit berumur, 2 orang pria dewasa dan 2 lagi seperti remaja. Serta satu orang wanita berumur yang terbilang sangat cantik dan anggun.
"Selamat malam tuan dan nona Leonard. Selamat malam para tuan muda Leonard". Sapa marko dengan hormat kepada anggota keluarga leonard.
Sapaan marko pun dianggugi dengan baik oleh tuan jonathan.
"Terima kasih sudah hadir di pesta perusahaanku marko. Bersenang-senanglah dengan kekasihmu itu". Ucap jonathan dengan ramah.
Marko pun tersenyum canggung dan berkata "Dia adik bungsuku tuan, namanya Miranda Nur". Sahut marko memberi tahu.
"Bukannya adikmu bernama Mayya Sanggita. Istri dari orang ternama itu ?". Tanya sang nona kepada marko.
"Ya nona yasmine. Mayya dan miranda keduanya adalah adik ku". Sahut marko kepada sang nona.
"Nikmati pestanya ya cantik. Senang berkenalan dengan mu". Ucap sang nona kepada mira dengan lembut.
"Teeima kasih nona leonard". Jawab mira dengan hormat. Lalu mira dan marko pun pamit pergi meninggalkan keluarga leonard.
"Mereka adalah orang yang berjasa di hidup kaka. Tuan jhonatan sangar baik kepada kaka". Ungkap sang kaka dengan raut harunya seraya berjalan.
"Yang perempuan itu istrinya. Hati-hati saja dengan sikap mu jika berada di depannya. Dan ketiga lelaki itu adalah anak-anaknya dari istri yang berbeda. Masih ada satu anak lagi yang belum terlihat. Dia perempuan dan sangat cantik". Jelas marko kepada sang adik.
Mira yang tidak mengerti harus berbuat apa pun hanya terdiam mendengarkan sang kakak bercerita.
"Kau tidak tertarik dengan tuan muda yash ?". Tanya marko dengan raut menggoda.
"Tuan muda yash. Yang mana ?". Tanya mira sedikit linglung. Karna sedari tadi yang ia lihat hanya banyaknya orang yang berseliweran.
"Yang memakai blezer hitam dan kaus polos warna hijjau armi". Ucap marko memberi tahu.
"Entah lah ka, aku pusing melihat orang-orang yang berseliweran. Terlalu banyak dan bau parfumnya tak ada yang normal". Keluh mira dengan raut tak enaknya.
Marko yang melihat itu pun hanya tersenyum maklum. Adiknya baru pertama kali dibawa ke acara pesta perusahaan seperti ini. Wajar jika reaksi mira sampai separah itu.
"Sebenarnya ini ruangan bagi para colega kecil. Ada lagi ruang yang lebih bagus. Tempatnya para putri dan pangeran. Serta orang-orang terhormat. Ayo ikut kakak". Ucap marko seraya menuntun sang adik ke lantai gedung atas.
__ADS_1