Luluh

Luluh
Episode 50


__ADS_3

Keesokan paginya Mira pun terbangun dari tidurnya. Ia pun sesikit terkejut saat dirinya berada di dalam kamarnya dan pakaiannya pun sudah diganti dengan pakaian tidur.


"Perasaan semalem aku...". Ucap Mira lirih dan mencoba untuk mengingat.


Namun rasa pening dalam kepalanya membuatnya berhenti mengingatnya dan segera bangun untuk membersihkan diri.


Saat Mira hendak ke kamar mandi dengan langkah pelan. Pintu kamar Mira pun di ketuk oleh seseorang. Mira pun lalu membukanya dan berdirilah Royan dengan membawa satu gelas air putih di tangannya.


"Kak Roy ?". Tanya Mira bingung.


"Masih terasa pusing ?". Tanya Royan yang langsung dibalasi anggukan oleh Mira.


"Minum lah". Titah Royan seraya menyerahkan satu gelas air mineral.


Mira pun menerimannya dan langsung meminumnya hingga tandas. Kebetulan memang tenggorokannya terasa sangat kering. Sedangkan Royan hanya diam seraya melihat Mira dengan tatapan iba.


"Dia memang adik iparku. Aku sudah menganggapnya seperti adik kandung. Lalu atas dasar apa Maya menudingku dengan tuduhan telah mencintai Mira. Sungguh tudingan yang konyol". Batin Royan merasa sedikit sakit hati dan kecewa atas kecemburuan istrinya itu. Royan rasa Maya sudah banyak berubah setelah tahu jika tuan Yash mendekati Mira.


"Aku harus menyelidiki sesuatu. Tidak mungkin Maya berubah sederastis ini". Batin Royan lagi.


"Kak ?". Tanya Mira yang melihat kakak iparnya melamun.


"Ya". Ucap Yash yang tersadar dari lamunannya.


"Apa kak Maya sudah bangun ?". Tanya Mira dengan nada sedikit lemas.


"Dia bahkan sudah berangkat ke kantor WO nya. Ada job baru yang harus dikerjakan". Ucap Royan memberi tahu. Dan Mira pun hanya mengangguk.


"Hari ini kencan dengan siapa ?". Tsnya Royan santai.


"Dengan Daren Abraham sama tuan Heri Kurniawan Setiaji". Ucap Mira menjawab.


"Setiaji.... hmmm si duda yang terkenal awet muda dan kaya raya itu ?". Tanya Royan memastikan dan Mira pun mengangguk membenarkannya.


"Kalau Daren, dia pelukis muda yang terkenal". Ucap Mira memberi tahu.


"Semoga kencanmu lancar ya. Bersiap lah, kita sarapan bersama. Ayub dan Lili sudah menunggu". Titah Yash dengan santai.


"lima belas menit aku akan turun untuk sarapan". Ucap Mira dan di balasi anggukan oleh Royan lalu pergi menuju ruang makan.


Setelah sarapan pagi Mira pun langsung mengerjakan pekerjaan rumahnya seperti mencuci pakaian dan mensetrika pakaian yang telah menumpuk sembari menunggu siang.


Dan setelah siang Mira pun mendapat satu pesan masuk dari Daren dan satu pesan masuk lagi dari nomor baru.


**Jalan Kenanga timur simpang lima. Sekolah seni mentari.


From : Dareen Abraham.


Resto Milenial meja nomor 4. pukul 19:00 .


From : Setiaji**.


Begitu lah isi pesan dari kedua lelaki yang akan berkencan dengan Mira hari ini. Keduanya memberikan alamat masing-masing kepada Mira. Namun tidak ada satu pun yang berniat menjemputnya untuk pergi bersama.


Mira pun hanya menghembuskan nafas lelah dan mulai beranjak dari kegiatanya untuk membersihkan diri dan bersiap. Seteoah tiga puluh menit. Mira pun telah selesai dengan pakaian santainya dan mulai mengecek ponselnya untuk melihat taksi onlinenya sudah sampai atau belum.


Taksi pun sudah datang dan Mira langsung bergegas menghampurinya lalu menaiki taksi online itu dan taksi pun melaju dengan kecepatan sedang mengantarkan Mira kealamat yang sudah di tuju.


Sesampainya di alamat tujuan. Mira dibuat takjub atas bangunan sekolah seni yang terlihat megah dan unik. Para muridnya pun beragam. Ada yang berusia 5 tahun sampai 17 tahun. Sekolah itu pun dimulai dari jam 1 siang sampai jam 5 sore.


"Hai". Sapa Daren ramah.


Mira pun hanya tersenyum ramah menanggapi sapaan dari Daren. Dan Daren pun mendekat kearah Mira yang berdiri di depan gerbang.



"Cantik". Ucap Daren dengan tersenyum kearah Mira.


Dan Mira pun hanya menunduk saja. Biar bagaimana pun Mira sangat canggung jika harus bertemu dan mengobtol dengan orang baru.


"Ayo kita masuk. Maaf ya aku tidak bisa menjemputmu. Dan kencen pertama kita di sini". Ucap Daren dengan sedikit senyuman.


"Iya, tak apa". Ucap Mira lembut.


Daren pun membawa Mira ke taman sekolah. Yang di msna disana sudah banyak sekali anak-anak yang menunggu di bawah pohon rindang yang sejuk.


"Selsmst sisng anak-anak !". Seru Daren dengan ramah dan ceria.


"Siang kak Daren !". Seru seluruh anak yang berusia antara 7 sampai 9 tahun yang jumlahnya ada 20 anak.


"Hari ini kita belajar melukisnya di temani kak Mira ya. kenalin nih temen kakak namana Mira". Ucap Daren memperkenalkan Mira.


"Hallo kak Mira". Sapa seluruh anak-anak didik Daren.


"Hallo semua". Ucap Mira dengan tersenyum.


"Ok. Karena semuanya sudah hadir. Yuk keluarkan alat lukisnya. Hari ini kaka ingin kalian mencoba melukis satu objek pemandangan yang menurut kalian menarik. Lalu coba kalian lukis. Kalau ada kesulitan coba panggil kakak. Nanti biar kakak bantu". Ucap Daren menjelaskan.


"Mengerti semuanya ?". Tanya Daren memastikan.


"Mengerti kak !". Seru seluruh anak.


"Ok yuk mulai !". Seru Daren dengan semangat. Dan seluruh anak pun memulai melukis dan mencari objek pemandangan yang menarik.


"Kamu mau melukis juga ?". Tanya Daren kepada Mira.


"Hmm. Aku tidak bisa melukis". Ucap Mira dengan malu.


"Aku ajarkan. Kemari". Ucap Daren seraya menepuk kursi yang ada di sebelahnya.


Mira pun mulai berjalan mendekat. Sementara Daren mulai sibuk menyiapkan alat lukis. Saat Mira sudah mendekat. Mira di bust takjub atas lukisan seorang wanita ysng tersenyum seraya mencium setangkai bunga lily putih.


"Cantik sekali". Ucap Mira dengan meraba lukisan itu.


Daren yang melihatnya pun hanya tersenyum simpul. Ia lalu mendekat kearah Mira dan berdiri di sebelah Mira yang terlihat terpesona oleh lukisannya.


"Namana Lestari Ayuning Tiyas. Bisa dipanghil Tari". Ucap Daren memberi tahu sosok wanita yang Mira kagumi di lukisan itu.


"Namanya sesuai dengan parasnya yang cantik. Dia bak seorang dewi. Pasti dia sangat anggun dan berkarismatik" Ucap Mira memuji.


"Ya, dia sangat lembut, pendiam, cerdas, multitalen dan murah senyum. Seperti dirimu". Ucsp Daren dengan tersenyum.


"Kau ini ada-ada saja". Ucap Mira membantah. Membuat Daren tertawa.


"Kau tahu Mira. Semua anak-anak disini tidak semuanya sehat. Ada sebsgian yang memiliki riwayat sakit". Ucap Daren memberi tahu. Membuat Mira langsung menatap Daren.


"Duduk lah". Titah Daren yang kembali menepuk kursi yang ada di sebelahnya. Dan Mira pun menurut saja.


"Kau lihat anak perempuan yang di kepang dua itu". Tunjuk Daren krpada seorang anak perempuan berkepang dua yang tengah bergurau dengan temannya. Mira pun mengangguk seraya melihat kearah anak perempuan yang di tunjuk oleh Daren.


"Dia mengidap kangker hati stadium empat. Dokter bilang umurnya tidak akan lama lagi. Dan lihat, dia masih bisa tertawa lepas. Itu yang membuat ku kagum". Ucap Daren dengan menatap kearah Mira dengan tatapan sendu.


"Lalu anak lelaki yang bertopi itu". Tunjuk Daren lagi. Dan Mira pun lagi-lagi melihat kearah anak yang ditunjuk Daren.


"Dia juga mengidap kanker otak stadium satu. Tetapi dia sangat aktif dan energik. Seperti tidak ada beban meski sering berkata sakit di kepala dan seluruh tubuhnya". Ucap Daren memberi tahu.


"Mereka masih sangat kecil. Rasanya tidak adil". Ucap Mira sedih.


"Semua sudah tertulis Mira. Tidak ada yang mau dan ingin. Tetapi harus di jalani". Ucap Daren santai.


"Jadi, kamu ingin belajar melukis atau tidak ?". Tanya Daren memastikan. Dan Mira pun hanya mengangguk.


"Boleh". Ucap Mira santai.


Daren pun tersenyum dan membimbing Mira untuk duduk di kursinya. Daren pun berdiri di belakang Mira. Lalu ia pun membungkuk dan menaruh kepalanya di pundak Mira.


Mira sedikit terkejut dan canggung. Dia tidak pernah sedekat itu dengan seorang lelaki yang baru di kenalnya. Kecuali Yash dan Marko.


"Tatap kanvas itu Mira". Ucap Daren memerintah yang langsung di lakukan oleh Mira.


"Fikirkan satu orang yang special di kepalamu". Ucap Daren memerintah.


"Sudah ?". Tanya Daren memastikan. Dan Mira pun hanya mengangguk. Dalam fikirannya ia telah memikirkan kakak pertamanya yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Coba lukis matanya dulu". Ucap Daren seraya membimbing dan mengarahkan tangan Mira untuk melukis mata seseorang yang Mira fikirkan.


"Hmmm...Mata yang tajam dan indah". Puji Daren setelah selesai menintun Mira untuk menggambar kedua mata seseorang.


"Coba lanjut yuk". Ajak Daren lagi dan mulai memegang tangan Mira. Dan Daren pun duduk di belakang Mira seraya membimbingnya melukis.


Sekilas bagi sebagian orang yang melihat. Mira dan Daren seperti pasangan yang romantis. Dan menganggap mereka berdua adalah sepasang kekasih.


Selang lima belas menit lukisan itu pun selesai. Namun di luar dugaan, Mira malah di buat sadar dan terkejut akan lukisannya itu.


"Ini kan....". Ucap Mira terkejut.


"Orang special itu kan ?". Ucap Daren dengan tersenyum jenaka.



"Tidak mungkin. Kenapa aku melukisnya ?". Lirih Mira dengan bingung. Daren pun hanya tersenyum lebar melihat kelinglungan yang sedang Mira alami.


"Memangnya tadinya kau akan melukis siapa ?". Tanya Daren menahan tawa.


"Kakak ku". Lirih Mira dengan sedikit cemberut.


"Tetapi ini kan lukisanmu sendiri. Sosok ini yang ada di fikiranmu. Apa dia kakak mu ?". Tanya Daren dan di balasi gelengan lemah Mira. Dan seketika tawa Daren pun meledak.


"Kau mentertawaiku". Ucap Mira dengan sedikit cemberut. Dan Daren pun masih tertawa.


Saat Mira hendak membalas tawa dari Daren dengan menginjak kakinya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan saat Mira melihatnya. Nama Yash lah yang tertera di layar. Membuat Mira sedikit mengernyit.


"Aku angkat telfon dulu". Ucap Mira dan langsung beranjak meninggalkan Daren yang masih tertawa di tempat.


Saat Mira sudah benar-benar pergi Daren pun terdiam seraya memandangi lukisan yang dilukis oleh Mira. Ia sexikit terdiam dan menatap lukisan itu dengan tatapan yang beragam.


"Aryasha Leonard. Mungkin kah kau akan melepaskanya untuk ku seperti dulu. Atau aku yang akan memberikannya untukmu". Ucap Daren lirih.


Sedangkan di kursi taman Mira pun sudah terduduk dan langsung mengangkat panggilan dari Yash.


"Lama sekali. Apa kau tengah sibuk ?". Tanya Yash setelah panggilan itu di terima oleh Mira.


"Emm. Ya tuan maaf. Memangnya kenapa tuan ?". Tanya Mira balik.


"Aku ingin mampir ke warung mang Unang. Apa kau ada waktu hari ini ?". Tanya Yash lagi.


"Saya sedang sibuk tuan maaf". Ucap Mira dengan canggung.


"Kalau nanti malam ?". Tanya Yash lagi.


"Nanti malam saya juga ada acara penting tuan". Ucap Mira memberi tahu.


"Hmmm benar-benar sibuk ya. Dengan para calon suamimu kah ?". Tanya Yash menebak dan Mira pun hanya diam saja.


"Ya sudah kalau begitu. Semoga lancar acara kencannya". Ucap Yash santai dan Mira pun lagi-lagi hanya terdiam saja.


"Mira ?". Panggil Yash setelah lama mereka saling diam.


"Ekhem...Ya tuan ?". Tanya Mira balik.


"Aku cemburu melihat kau sedekat itu dengannya. Apa kau tidak pernah memikirkan aku disana". Ucap Yash dengan nada kecewa yang otomatis membuat jantung Mira berdebar dan gelisah.


"Apa anda ada disini tuan ?". Tanya Mira seraya melihat ke arah jalan dekat taman dan keseluruh penjuru taman.


Yash pun hanya terdiam melihat Mira dari jarak yang cukup dekat tengah kebingungan mencari keberadaanya.


"Kau cantik hari ini Mira. Aku merasa tak rela". Ucap Yash lagi dengan lirih.


"Anda dimana tuan ?". Tanya Mira bingung.


"Kenapa mencariku. Bukanya kau tengah sibuk ?". Tanya Yash lembut.


Mira pun terdiam dan entah mengapa tangannya reflek menggenggam kalung berlian yang ia kenakan. Dan seperti mantra, Mira dapat melihat Yash berada di dalam mobil hitam yang terparkir tak jauh di depannya. Dan keduanya pun saling tatap menatap.


"Cepat sekali kau menemukanku". Ucap Yash di telfon itu dan tersenyum simpul kearah Mira.


Saat Mira hendak berjalan menghampirinya justru malah Yash langsung menancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan mematikan panggilan telfonnya. Membuat Mira sedikit tertegun di tempat. Hatinya merasa sakit dan bersalah. Namun semua itu ia lakukan untuk kebaikannya juga keluarganya.


Dan tanpa Mira sadari Daren telah melihat dan mendengar semua ucapan Mira juga swmua drama yang seperti dejavu untuknya.


"Mira memang seperti Mentari. Tetapi hatinya sudah menjadi miliknya. Dulu Mentari lah yang memilihku dan meninggalkannya. Tetapi sekarang....". Ucap Daren lirih dan menggantung.


"Mungkin ini saatnya aku mengembalikannya". Ucap Daren lagi dan mendekat kearah Mira.


"Mira" Panggil Daren ramah.


"Ekem..Ya Daren ?". Tanya Mira sedikit terkejut.


"Sudah selesai angkat telfonya ?". Tanya Daren memastikan.


"Sudah". Ucap Mira dengan berusaha untuk tersenyum.


"Ayo anak-anak sudah menunggu untuk memamerkan hasil lukisannya kepada mu". Ajak Daren dan langsung di balasi anggukan oleh Mira.


Dan Mira pun akhirnya menghabiskan waktu siangnya bersama Daren dan anak didiknya. Juga makan es cream bersama dengan sendau gurau.


Sore harinya Mira pulang pukul lima diantar sendiri oleh Daren. Dan Daren pun sempat mengobrol drngan Royan dan Maya bahkan Daren bersedia mengantar Mira ke resto yang sudah di tentukan untuk Mira berkencan atau melakukan pengenalan dengan tuan Setiaji. Calon suami Mira berikutnya.


Daren juga sempat bercanda dan akrab dengan Lili. Sedangkan dengan Ayub hanya say hai saja dan Ayub lebih banyak diam atau bermain game.


Tepat pukul setengah tujuh Mira pun sudah siap dengan dandananya yang terlihat sangat cantik dan elegan. Baju, kakeup, dan asesorisnya pun tidak berlebihan. Sebab Mira fikir bertemu dengan pria matang apa lagi duda beranak satu seperti tuan Setiaji tidak lah perlu berlebihan macam anak muda pada umumnya.



Semua orang yang berada disana pun memandang Mira takjub. Penampilannya malam ini sungguh sangat sederhana namun cantik dan berkelas.


Daren pun bersiul dan terswnyum jenaka kearah Mira. Dan di balasi delikan tajam dari Mira. Royan dan Ayub yang melihatnya pun saling pandang. Sepertinya ayah dan anak ini tengah mengamati sedosok Daren. Dan menyimpulkan jika Daren bisa menjadi teman baik Mira. Terbukti dari cara Daren yang seperti kakak bagi Mira.


"Hitam dan putih. Hmmm petpaduan yang sempurna. Duda kaya raya itu pasti akan terpesona nanti. Lihat saja". Ucap Daren dengan penuh rasa yakin.


"Lalu, jika duda kaya raya itu menyukai Mira. Kau sanggup bersaing dengannya ?". Tanya Ayub sinis. Mendengar hal itu, Daren pun tersenyum penuh arti ke pada Ayub.


"Jika hatinya dan fikirannya belum terpaut oleh seseorang. Tentu aku sanggup. Karena seorang Mira tidak hanya memandang harta. Ya kan sayang ck". Ucap Daren dan mengedip genit kearah Mira yang di balasi lemparan tisu oleh Mira.


"Sudah-sudah, ayo Mira berangkat. Sudah mau jam tujuh. Kakak engga mau nanti calon mu memandang mu buruk karrna tidak tepat waktu. Dan Daren, aku titip adik ku ya. Antarkan dia dengan baik". Ucap Maya sedikit tegas dan mengingatkan.


"Siap ibu komandan yang cantik !". Seru Daren dengan bergaya seperti perajuri perang. Membuat Lili, Maya, dan Mira tertawa sedangkan Ayub hanya menandang kearah lain dan Royan hanya tersenyum tipis.


Daren dan Mira pun langsung pamit dan pergi dengan mobil Daren. Sedangkan Maya dan Royan yang masih menunggu di luar pun saling pandang.


'Calon suami yang mengantarkan perempuannya berkencan dengan lelaki lain. Heh sungguh konyol". Ucap Royan sedikit sinis.


"Jika cemburu bilang saja". Ucap Maya tak kalah sinis.


Royan pun langsung mencekal tangan Maya dan menatapnya tajam.


"Sepertinya kita perlu bicara Maya. Dan mulai besok akan ku tunjukkan apa itu cemburu". Ucap Royan dan langsung menarik Maya sang istri kedalam.


"Ayub temani Lili. Papah akan berbicara penting dengan momy mu". Ucap Royan kepada sang anak dan di balasi anggukan singkat dari Ayub tanpa memandang mereka.


Sementara di tempat lain. Mira dan Daren pun sudah sampai di parkiran Resto Milenial. Daren melihat Mira sedikit gugup dan gemetar. Dan Daren langsung menggenggam tangan Mira yang sayangnya langsu di tepis oleh Mira dengan reflek.


"Maaf Daren, aku sedikit gugup dan terkejut". Ucap Mira lirih.


"Tak apa. Aku hanya ingin membuatmu relax". Ucap Daren dengan tersenyum lembut.


"Sudah jam tujuh. Ayo hampiri calon mu itu. Buat dia terpesona denganmu ok". Ucap Daren dengan tersenyum lembut. Dan Mira pun mengangguk dengan penuh swmangat.


"Daren, terima kasih". Ucap Mira lembut dan di balasi senyuman lembut oleh Daren.


Mira pun turun dari mobil Daren dan berjalan menuju kearah pintu resto. Semantara Daren langsung melajukan mobilnya setelah melihat Mira sudah memasuki restoran.


"Maaf apa benar anda nona Miranda ?". Tanya pelayan wanita di restoran itu.


"Iya benar". Ucap Mira membenarkan.


"Mari nona, saya antar". Ucap si pelayan dengan ramah dan sopan.

__ADS_1


Mira pu mengikuti sang pelayan resto itu kelantai dua dan benar disana sudah ada sosok lelaki yang sudah duduk menunggu.


"Silahkan nona, anda sudah ditunggu oleh tuan Setiaji". Ucap sang pelayan memberi tahu. Dan Mira pun berjalan mendekati seseorang itu setelah berterima kasih.


"Tuan muda Setiaji". Sapa Mira sedikit gugup.


Heri pun menoleh kearah Mira dan meneliti penampilan Mira yang terlihat dewasa dan sederhana. Menambah kesan anggun di mata Hari.


"Nona Mira, mari silahkan duduk". Ucap Heri seraya berdiri dan menggeser kursi yang ada di sebelahnya untuk duduk. Mira pun mengangguk dengan canggung dan duduk dengan hati-hati.


"Terima kasih tuan". Ucap Mira dengan lembut.


"Aku sudah memesan menu. Mari kita makan. Nona Mira pasti suka".


Ucap Heri dengan memperlihatkan beberapa porsi daging tipis berserta saus, sambal, dan bumbu. Juga alat panggang tang berada di tengah meja. Tidak hanya itu ada juga satu wajan besar kuah yang meletup-letup kemerahan seperti kuah tom yam Seperti makan barbequan ala korean dan jepang.


Heri sangat mengerti kecanggungan Mira dan mengerti akan kebingungan dari Mira pun mencoba untuk mendekati diri dan membantu Mira untuk memasakan daging.


Setelah matang, Heri pun meniupi daging itu dan menceluokannya ke bumbi lalu ia sodorkan kearah Mira. Lebih tepatnya menyuapi Mira.


"Coba lah". Ucap Heri dengan kalem. Mira pun dengan ragu dan canggung mencoba daging yang disuapkan kearahnya. Dan rasanya sungguh enak dan lezat.


"Enak ?". Tanya Heri lembut dan Mira pun hanya mengangguk karena mulutnya yang penuh.


"Aku memesan daging sapi terbaik dan segar". Ucap Heri memberi tahu.


Saat Heri hendak menyuapi Mira lagi. Mira sedikit menolaknya dan ingin melakukannya sendiri setelah tahu dan mengerti cara memasaknya. Dan Heri pun membiarkannya dan menurutinya.


Diam-diam Heri pun memandangi wajah Mira yang terlihat cantik dan manis. Namun kecantikan serta keluguan yang di miliki Mira tidak sedikit pun membuatnya merasakan sesuatu. Justru malah eajah istrinya semakin terbayang.


"Tuan saya...". Ucapan Mira menggantung saat Hari menyela.


"Apa kau benar-brnar belum memiliki kekasih Mira ?". Tanya Heri sedikit serius dan Mira pun menggeleng menjawab ucapan dari Heri.


"Padahal kamu cantik dan manis". Ucap Heri jujur.


"Mungkin karena saya terlalu fokus kepada satu orang dan mengabaikan orang lain sehingga aku belum memiliki kekasih setelah lulus dari SMA". Ucap Mira jujur.


"Lalu kenapa kamu malah memilih pencarian jodoh. Katanya kamu sedang fokus ke satu orang ?". Tanya Heri ingin tahu.


"Mau bagaimana lagi tuan. Dia sudah menjadi miliknya orang". Ucap Mira santai dan tersenyum lembut namun tidak sampai matanya.


Heri pun mulai paham dan mengangguk. Sudah di pastikan Mira adalah seseorang yang baru saja patah hati. Makanya tak heran jika wanita secantik Mira belum memiliki kekasih.


"Aku melihat dirimu beberapa kali bersama tuan Yash". Ucap Heri dengan tersenyum jenaka.


"Itu... Karena saya mengenalnya". Ucap Mira gugup.


"Kalung itu adalah simbol dari marga Leonard. Kamu pasti sangat berjasa sekali ya bagi mereka. Aku kira kamu adalah calon menantunya paman Jo". Ucap Hari dengan tersenyum ramah.


Mira pun hanya diam. Ia tak menyangka jika Hari sangat tahu betul akan kalung yang ia kenakan itu. Sedangkan Hari hanya bisa tersenyum saja.


"Hhhh...Sejujurnya sulit bagiku untuk melupakan Kimberly Reichan. Istriku yang telah wafat duapuluh tahun lalu". Ucap Heri mulai bercerita.


"Dia pergi meninggalkan banyak kenangan di hatiku. Aku masih merasa sangat bersalah kepadanya". Ucap Heri dengan sendu.


"Ini yang membuatku sulit menggantikan posisi Kim. Binar pun juga sulit untuk menerina kehadiran ibu baru. Karena selama dua puouh tahun ini. Aku dan kedua orang tuaku lah yang merawatnya". Ucap Heti lagi.


"Bolrh aku tahu nama putri anda tuan ?". Tanya Mira lembut. Dan Heri pun langsung menatap serius kearah Mira.


"Binar Zalimara Setiaji. Usianya dua puluh tahun. Lebih muda lima tahun dari mu". Ucap Heri dengan tersenyum lembut.


"Nama yang indah". Ucap Mira santai.


"Tuan, aku tidak ingin menggurui atau memaksa tuan untuk memilih ku. Hanya saja, nona muda Binar memvutuh kan sosok ibu. Meskibpun usianya sudah dua puluh tahun. Tetap sosok ibu harus ada dalam kehidupannya". Ucap Mira dengan penih hati-hati


"Karena itu aku ikut ajang perjodohan ini. Agar,aku dapat memberikan sosok ibu bagi putriku juga istri bagi diriku". Ucap Heri menuangkan fikirannya.


"Sepertinya lucu jika ibu tiri dari putriku adalah diri mu Mira".Ucap Heri dengan tersenyum konyol.


"Orang aka mengira jika aku adalah teman anak anda". Ucap Mira menimpali dengan tersenyum lucu. Dan mereka berdua pun saling tertawa.


BYUUURRRR !!!


Satu gelas air lemon tea telah membasahi wajah Mira. Mira yang kaget pun hanya bisa tergagap. Sedangkan Heri langsung berdiri di tempat dan memandang sang penyiram dengan tajam.


"BINAR apa yang kamu lakukan !". Ucap Heri dengan nada tinggi.


"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa papah bisa berada dengannya. Perempuan muda ini siapa pah. Apa calon mamaku. Yang sering papah sebut itu ?". Tanya Binar tak kalah tinggi. Membyat beberapa pengunjung resto pun melihat kearah mereka.


"Iya. Dia adalah calon mamamu. Papah sudah lelah Nar. Sikap mu itu membuat papah pusing. Kamu sangat urakan, egois, keras kepala, dan susah untuk diatur". Ucap Heri meluapkan segala keluhnya.


Tak lupa ia pun membantu Mira untuk mengelap wajahnya dengan penuh kehawatiran. Karena Mira adalah kesayangan dari marga Leonard. Apa pun bisa terjadi jika seorang Mira sampai kenapa-kenapa.


"Maaf kan prilaku anak semata wayangku Mira. Dia benar-benar keterlaluan kepadamu". Ucap Heri lembut.


Binar pun tidak tinggal diam. Dia pun mengacak-acak hidangan yang tersaji di meja hingga semuanya pun tumpah dan pecah. Dan secara tidak sengaja kaki Mira terciprat Minyak yang digunakan untuk memanggang serta kuah tomyam yang madih mengepul. Membuat Mira berteriak sakit.


"Akhh uff uff panas !". Seru Miraseraya terduduk di lantai. Sexangkan Hari sibuk menenangkan sang anak yang kalap seperti kesetanan.


"Lepaskan aku pah !". Triak Binar dengan kasar.


"Wanita jalang itu pantas mendapatkannya. Dia itu menjijikan dan tidak tahu diri. Papah juga sama menjijikannya. Papah ingin menikah dengan seorang yang umurnya lebih muda. Dia itu pantasnya menjadi anak papah bukan istri papah !". Teriak Binar lagi.


"Binar kendalikan dirimu nak !". Seru Heri yang sedikit kewalahan.


Yash yang sedari tadi menonton pun merasa tak tahan akan penghinaan yang di lontarkan dari anak bar-bar itu. Ia pun lalu berdiri dan melangkah mendekati Mira yang diikuti oleh Jio di belakangnya.


Yash pun memakai topi hitamnya dan menyuruh Jio untuk mengerahkan dua orang-orangnya untuk meringkus gadis bar-bar itu. Dan Jio pun langsung menjalankan tugasnya.


Terliha dua orang bodyguar berbadan besar menghampiri Binar dan Heri. Lalu dua bodyguar itu mendorong Heri ke sisi lain dan menangkap Binar yang sedang kalap.


Binar pun tambah berontak saat tahu dan menyangka jika ayahnya menyewa bodyguard untuk menahannya. Dia semakin beringas dan tak terkendali membuat Yash langsung turun tangan dan Menampar Binar dengan keras.


PLAAAKK !!!


Suara tamparan itu pun mengejutkan seluruh pengunjung, pelayan resto serta Mira, Heri dan Binar. Binar pun langsung diam dan merasakan terkejut karena baru kali ini ia merasakan sebuah tamoaran.


"Tuan !". Seru Mira dan Hari secara bersamaan.


"Nona Mira, anda tak apa ?". Tanya Jio lemnut.


"Jio, tuan Yash. Dia menampar Binar". Ucap Mira panik.


"Itu pantas ia dapatkan nona. Apa ada yang sakit ?". Tanya Jio memastikan.


"Kaki ku tergores beberapa. Dan sedikit melepuh Jio. Rasanya sakit dan perih". Ucap Mira seraya memegang lukanya.


Jio pun memeriksanya dan benar saja. Ada tiga luka goresan di pergelangan kaki, betis dan punggung kak kanani. Serta luka melepuh hampir berair pada punggung kaki kiri. Jio pun langsung terpejam melihatnya. Sudah di pastikan tuan mudanya pasti akan kalap jika melihat ini.


Yash pun mendekat kearah Binar dan mengangkat wajah Binar dengan kasar seraya menekan kedua pipu Binar denga tangan kanannya.


"Berani kau menghinanya. Berani kau menyskitinya". Ucap Yash dengan nada rendah.


"Tuan Leon aku mohon maaf kan putriku. Aku yang bersalah disini. Hukum aku saja tuan aku mohon". Ucap Heri seraya berlutut di hadapanya.


Binar yang mendengarnya pun sedikit terkejut. Ternyata orang yang menamparnya itu adalah tuan Leon. Si serigala malam yang terkenal itu.


Heri pun yang notabenya adalah pria terkaya dan banyak di segani itu pun tunduk di hadspan seorang Leon.


"Aku tidak perduli Heri. Putrimu sudah sangat keterlaluan kepadanya. Menyakitinya dan menghinanya sama saja kau mencari masalah denganku". Ucap Yash tajam dan penuh amarah. Membuat Binar, Hari dan semua orang yang berada disana pun merasa takut akan aura Yash yang lain.


Saat Yash hendah menyiramkan air kepada wzjah Binar. Mira pun berteriak memanggil nama Yash dengsn sebutan Leon.


"Leon cukup. Ku mohon !". Pinta Mira yang langsung du dengar oleh Yash. Dan Yadh pun langsung menghentikannya.


"Ajari putrimu dengan benar Heri. Atau bawa saja putrimu ke pesikiater". Ucap Yash memperingati. Dan langsung berjalan menuju kearah Mira yang tengah terduduk di lantai bersama Jio yang menemani.


Yash pun lalu menggendong Mira ala bridal style dan membawanya keluar resto menuju mobilnya. Setelah itu saat mobil sudah sisp. Yash lalu membawa Mira masuk kedalam mobil. Dan mereka pun langsung tancap gas menuju kerumah sakit Harapan.


"Tahan sedikit. Kita akan kerumah sakit untuk mengobati luka mu.


"Itu tidak perlu tuan". Lirih Mira lemas.

__ADS_1


"Sttt..Diam la. Luka mu memang tidak terlalu parah tetapi aku ingin memberikan yang terbaik untukmu dan memastikannya". Ucap Yash sembari ngobrol. Dan Mira pun hanya diam Pasrah setelah mendengarya,


__ADS_2