Luluh

Luluh
obrolan suami istri


__ADS_3

Masih terpikirkan ucapan Rama, terkulai lemas di atas tubuhnya. Rasa ingin bertanya, apa yang di ucapkan itu. Tapi itu semua tidaklah di tanyakan, kala Rama kembali menghujani lagi cumbuannya untuk ke dua kalinya.


Untuk yang pertama, Rama melakukannya sedikit tergesa-gesa dan juga keluar secepat kilat. Dan untuk yang kedua, Rama mencoba melakukan dengan lembut serta menikmatinya begitu santai. Terbuai dengan perlakuan Rama, Yanna seakan melupakan ucapan suaminya dan kembali menikmati malam pertamanya dengan Rama. Mengikuti gerak suaminya dan menikmati sentuhan-sentuhan yang mulai memabukkan pikirannya.


Cukup lama, dan sangat lama untuk yang ke dua. Hingga manuver menambah kecepatan saat di rasa suami istri sudah berada di puncak nirwana.


Rama menggeser tubuhnya di samping Yanna, Mengambil selimut di bawah kakinya dengan kaki, menyelimuti tubuhnya dan istrinya, membawa Yanna ke dalam pelukannya, menciumi puncak kepalanya dan tidak lupa mengucapkan ' Terima kasihnya' Setelah puas dengan dua ronde di malam pertamanya.


Yanna yang tak sanggup membalas karena lelah dan mengantuk. Hanya bisa membenamkan wajahnya di dada suaminya yang berkeringat dan berdetak kencang. Sungguh, ini pengalaman yang ke duanya di saat yang pertama ia terpaksa melakukannya dan juga takut akan tindakannya.


Yanna tau bila yang pertama hanya percobaan dan salah di lakukan tanpa ikatan resmi. hingga itu dirinya menerima balasan dari pencipta dan harus menjalaninya dengan iklas.


Tak pernah di benak Yanna untuk menikah kembali. Dalam pikiran Yanna hanya ingin fokus membesarkan putranya dan juga pendidikan anaknya. urusan pacaran atau ingin mencari pendamping Yanna sungguh tidak memikirkan itu.


Dulu dengan atasannya, yang terang-terangan menyukainya. Yanna tidak merespon dan hanya menganggapnya sebagai temn tidak lebih, meskipun pernah mencoba membuka hati, tetap saja Yanna tidak berminat untuk pacaran.


Tapi dirinya salah, terjerat dengan Duda membuat jantungnya sedikit debar dan sedikit ada rasa yang sulit sekali di ungkapkan. kala Papa Nana itu membawanya jalan-jalan malam, di mana dirinya sedang ingin menyendiri karena ketakutannya sendiri.


Semua itu Yanna tepis dari pikirannya dan tetap, tujuannya fokus dengan putranya. Meskipun Duda satu anak itu tetap berusaha mengejarnya.


Ketakutan yang membuatnya semakin takut dan nyata adanya. Putranya di ambil mantan suami, pikiran yang terbagi saat bekerja membuatnya tidak fokus dalam bekerja.


Dirinya hanya ingin pulang ke kampung, mengambil putranya kembali dari lelaki brengs*k yang dulu tak pernah mengakui kebejatannya serta tidak mengakui Naufal putranya.


Tidak ada dalam pikirannya untuk meminta tolong pada teman atau orang terdekatnya. Hingga satu keajaiban yang mungkin Tuhan kasihani melihatnya seperti orang gila menangus di jalan. Rama memaksa Yanna mengantarkannya ke desanya.


satu kata yang membuat Yanna terenyuh. ' Anak kita' di hadapan mantan suami dan mantan ibu mertua. Bukan hanya ucapan itu saja, tapi tindakannya yang melindungi Yanna serta putranya membuat dirinya semakin tersentuh hatinya.


Dinding pertahan Yanna roboh dan hati yang keras seakan luluh dengan lelaki duda yang memintanya pada ibu dan juga pakleknya sebagai istrinya.


Siapa yang tidak terkejut mendapat lamaran secara mendadak, dan mendapat restu dari ibu, paklek dan juga adiknya Sigit. Mungkin ini hadiah dari Tuhan buah dari kesabaran yang di laluinya dulu saat mendapatkan hinaan dari semua orang.


Dengan keyakinan dan juga rasa yang sedikit mulai tumbuh karena pengorbanan Rama. Yanna menerima lamarannya dan mau menjadi istrinya. Tidak di sangka, ibu Rama wanita yang bijak dan baik. Apapun keputusan putranya yang baik, Ibu Rama akan mendukungnya. Tidak mempedulikan status Yanna, ibu Rama menerimanya dengan tangan terbuka.


Menikah dengan Rama tidak menyangka, mendapatkan seserahan begitu banyak dan juga mahar rumah atas namanya di kota, di tambah dua sapi untuk Naufal putranya. Satu lagi uang dapur pernikahan begitu banyak, hingga dirinya dan ibu tidak mengeluarkan uang sepersen pun. Sungguh ini di luar pikirannya. Yanna, tidak pernah memikirkan mempunyai suami kaya. Tapi ini bonus yang sangat luar biasa, pikir Yanna. Mendapatakan suami tampan, baik, tanggung jawab dan plus kaya.


" Jangan ngelamun?" Tegur ibu menepuk pelan bahu Yanna saat mengelap piring.


" Apa sih buk? Ih, ngagetin saja." Jawab Yanna, kembali tersadar saat dirinya ternyata sedang di dapur bersama ibunya.

__ADS_1


mungkin efek semalam yang sangat memabukkan dan ingat-ingat seterusnya.


" Dari tadi ngelamun, gak selesai-selesai ngelap piringnya itu." Kata Ibu, piring satu yang sudah hampir dua puluh menit di genggam Yanna dan di lap begitu kinclong. Sampai lupa dengan piring yang lain hingga sudah tidak terlihat dimana tumpukan piring di hadapannya.


" Sini, sudah selesai. Sudah siang juga, tawarin suami kamu makan sana." Imbuh ibu, meminta piring di tangan Yanna. membuat Yanna meringis dan menyerahkan piringnya.


" Ibu mau kemana?" Tanya Yanna, melihat ibunya membawa ranjang ranjang sayur.


" Mau bagi-bagi beras sama gula ke tetangga yang sudah bantu pernikahan kamu." Jawab Ibu.


" Aku bantu ya buk."


" Enggak usah, biar Sigit yang bantu ibu." Kata ibu, melihat Sigit yang baru datang dari halaman depan, mencuci motor kesayangan.


" Eh! Kok aku sih buk." Protes Sigit.


" Jangan protes, mau ibu jual itu motor. dari tadi gak selesai-selesai di elus-elus motornya." Gerutu Ibu, membuat Yanna mengulum bibirnya.


" Jangan buk! Motor keberuntungan itu?" Kata Sigit, sambil mengerucutkan bibir.


" Keberuntungan apa? Ibu saja sampai encok kalau di gonceng motor mu itu." Sungut ibu. menatap kesal motor satria Sigit yang boncengannya terlalu nyungging ke atas.


" Jual saja tu motor buk!"


" Jangan kompor deh mbak!" Sungut Sigit, mengambil kranjang sayur di tangan Ibunya.


" Ayo buk." Ajaknya lagi, berjalan terlebih dulu meninggalkan dapur.


" Ikut gak Fal." Ajak Sigit, berpapasan dengan Naufal dan Rama yang bergandengan tangan.


" Kemana?" Tanya Rama.


" Anterin ini ke tetangga-tetangga mas, Sama ibuk." Jawab Sigit.


" Ikut Om." Kata Naufal.


" Ayo." Naufal melepas tangan Rama, berjalan mengekori Sigit dari belakang.


" Ibu tinggal dulu, sudah siang jangan lupa makan." Kata Ibu, membuat Rama mengangguk tersenyum.

__ADS_1


" Mas, Mau makan?" Tanya Yanna, membuat Rama beralih menatapnya. dan berjalan menuju ke arah meja makan, duduk di samping Yanna dengan senyum.


" Nanti saja, aku belum lapar." Jawab Rama. " Lagi ngapain?" Tanyanya.


" Baru selesai lap piring. Mau cemilan?" Tawar Yanna, mengambil piring penuh dengan berbagai jajanan pasar mengarahkannya pada Rama.


Mengambil jajan lemper bakar. " Gak capek?" Tanya Rama sambil mengunyah makanan.


" Sedikit." Jawab Yanna, menuangkan air putih ke dalam gelas dan mengarahkan di depan suaminya. " Nana gimana kabarnya mas?"


" Barusan tadi telpon, tanya kapan pulang sama mama Yanna. Katanya adik Naufal di ajak apa enggak." Jawab Rama, membuat Yanna tersenyum.


Nana sudah begitu akrab dengannya, dan tidak perlu menjelaskan lagi tentang mama baru. Hingga Nana sendiri yang memanggilnya mama tanpa di ajarkan atau di minta.


" Terus mas jawab apa?"


" Kamu maunya pulang kapan ke surabaya." Tanya balik Rama.


" Aku terserah mas saja, kapan enaknya pulang. takut juga kerjaan mas nanti terbengkalai." Jawab Yanna.


" Naufal ikut kan?" Tanya Rama.


" Ibu kayaknya berat, kalau Naufal kita ajak ke surabaya. Tadi ibu sudah bilang, gak pengen pisah sama Naufal." Lirih Yanna.


kala ibunya menyuarakan isi hatinya. tidak ingin berpisah dengan cucunya. Seperti tidak ingin cucunya di bawa ke kota. Karena sayangnya terhadap cucu melebihi sayangnya anak. Rela berjauhan dengan anak, tapi tidak rela berpisah dengan cucunya.


" Ibu juga gak mau di bawa ke kota." Lirih Yanna. membuat dirinya semakin bingung.


" Nanti coba kita bicara pelan-pelan sama ibu, sama Naufal juga. Maunya sama siapa? Anak kan juga butuh di tanya, dan berhak memilih." Kata Rama. Membuat Yanna mengangguk setuju.


Dan mungkin dalam pikiran Yanna, anaknya akan lebih memilih tinggal bersama ibunya di banding dengan dirinya. Karna dua puluh empat jam, kesehariannya Naufal bersama dengan ibu dan Sigit. Serta memulai lingkungan yang baru rasanya sedikit sulit bagi naufal.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2