
Terkejut, tatapan sulit di percaya dan bibir semua orang terbuka. Kala melihat lelaki dan perempuan di depan mereka tersenyum serta saling menggenggam tangan di atas meja. Membuktikan bila memang benar adanya hubungan di antara mekera.
Sepasang kekasih.
Sulit di percaya.
Bagaimana tidak terkejut dan percaya begitu saja melihat sepasang kekasih di hadapanya ini mengumumkan hal yang sangat mengembirakan di telinga mereka yang mendengarnya. Kerena menang Tidak ada berita ataupun gosip tentang mereka yang menjalin hubungan tanpa ada orang yang mengetahuinya. termasuk sahabat-sahabatnya sendiri. Apa ini semacam pacaran sembunyi-sembunyi.
Benar-benar mengejutkan.
" Kalian mau menikah?" Tanya Indri, menghilangkan rasa terkejutnya dan rasa penasarannya.
Kerena memang tak pernah tau sepasang kekasih ini berpacaran ataupun berdekatan. Yang hanya Indri tau, sahabatnya ini hanya begitu gigih bekerja dan bekerja untuk membayar hutang keluarganya. Tanpa membahas sedikit pun soal cinta.
" Iya. dua bulan lagi kami akan menikah." Jawab Akbar. Tegas dan Yakin.
" Kalian Pacaran? Sudah lama? Kenapa gak pernah cerita?" berondong Sari, yang kini juga merasa penasaran akan kisah Amel dan Akbar.
Diam-diam menghanyutkan.
Sekali mendengarkan pengumuman. Dan pengumuman itu membuat semua para wanita shock dan menangis.
Bagaimana tidak. Akbar yang di bilang, jomlo setelah gagal mendapatkan cinta Yanna karena di tinggal nikah. Kini malah bersanding dengan Amel, sahabat Yanna juga. Dan mengumumkan menikah bulan depan.
Sangat mengejutkan bukan?
" Kita gak pacaran Sar? Kamu tau sendiri aku gak pernah dekat sama cowok. Kalau bukan sama eko saja." Jawab Amel, sediit tidak enak pada temannya.
" Terus kenapa bisa kamu nikah sama Pak Akbar." Saut cepat Sari. sedikit membenarkan ucapan Amel bila sahatnya ini memang tidak pernah berpacaran atau dekat dengan lelaki. Kecuali Eko dan Sigit.
" Namanya juga sudah jodoh. Dan saya yang melamarnya lewat ke dua orang tuanya langsung." Jawab Akbar. Semakin membuat tercengang dua sahabatnya.
" Wah! Jalur tanpa bisa di tolak." Kagum Eko, yang kini malah merasa takjub mendengarnya.
__ADS_1
Terdengar hembusan kasar dari Indri dan Sari. hingga membuat Amel benar merasa bersalah. Bersalah karena belum menceritakan kedekatannya dengan Akbar meskipun tidak di sengaja. Kedekatannya dengan Akbar memang terkesan tak ada yang spesial, karena itu sangat murni saja sebagai pelanggan makanan setiap malam hari.
" Maaf." Lirih Amel, menatap semua sahabatnya.
" Maaf untuk apa?" Tanya Yanna. Yang kini mulai bersuara. karena sedari tadi hanya diam dan mendengar ucapan teman-temannya saja.
Yanna terkejut. Tentu saja sama terkejutnya dengan dua temannya. Dimana Amel dan Akbar akan menikah. Dan ada rasa sangat senang serta bersyukur, bila Amel bersama Akbar. Kerena Pria itu sangatlah bertanggung jawab dengan wanitanya dan juga akan membahagiakannya.
" Maaf, kalau buat kalian kecewa. Aku memang gak pernah bermaksud menyembunyikan ini. Semua berjalan begitu saja." Ucap Amel.
Benar. Semua berjalan begitu saja, bagaimana dirinya bisa terjerat bersama Akbar dan akan menikah dengan atasannya. Semua murni, jalan takdir yang harus di jalani. Tidak ada maksud untuk menyembunyikannya dari sahabat-sahabatnya.
" Hey, hey!" Seru Sari melihat Amel yang sudah mulai sedih.
" Ngapain sih! Minta maaf segala. Kita itu cuma shock saja. Gak marah sama kamu Mel. Lagian ya, teman kita udah gak jomblo lagi dan akan menikah. Siapa yang gak terkejut dan senang coba.."
" Kamu itu gak pernah ganjen ke pak Akbar loh.. Apa lagi aku juga gak pernah lihat kalian saling ngobrol di tempat kerja. Tapi tau taunya udah ngumumin mau nikah segala. Dan lihat... Aku jadi patah hati ke dua kali." Imbuhnya. setengah memanyunkan bibirnya ke atas.
" Beruntung banget Pak Akbar dapatin Amel bukan Sari." Ucap Eko, dan di anggukkan Indri dengan senyum.
" Bener-bener mbak, aku saja pengen sekali nyeburin ini anak ke kali njagir. Manjanya minta ampun!!" Gerutu Eko, dan mendapat cubitan dari Sari hingga mengaduh kesakitan.
" Oke. Kita End." Ketus Sari.
" Memang kapan kita jadian."
" Eko!!!" Setiak Sari, membuat semuanya tertawa. termasuk Amel dan Akbar.
" Mel? Selamat ya." Ucap Yanna, berdiri dari duduknya untuk menghampiri Amel.
Amel pun berdiri dan memeluk sahabatnya. " Makasih Yan." Ucap Amel dalam pelukannya.
" Aku mau ikut peluk!" Sari ikut beranjak dari duduk dan juga ikut memeluk sahabatnya.
__ADS_1
" Aku juga!" Tak mau kalah, Indri pun juga memeluk Sahabat-sahabatnya.
" Jangan kencang-kencang meluk yannanya. Itu di perutnya ada adiknya Nana sama Naufal." Ucap Rama. Membuat Sari, Indri dan Amel melepas pelukan dan menatap bulat ke arah Rama. Yang tersenyum begitu lebar.
" Yan?" Panggil Indri.
" Iya, akan ada calon ponakan baru buat kalian." Senyum merekah di bibir Yanna.
" Ah!!" Seru riang Indri. dan kembali memeluk Yanna " Selamat sayang!!"
" Hhmm.. Hari ini aku di kejutkan dengan dua sahabatku." Serak Sari, ikut memeluk Yanna. " Selamat ya Yan." meneteskan air dari sudut matanya. Mendapatkan kabar bahagia dari dua sahabatnya, sudah seperti saudara sendiri.
" Selamat Yanna." Ucap Amel ikut memeluk Yanna dari belakang Sari.
Kabar kehamilan Yanna sangat di tunggu-tunggu sahabatnya terutama dari sang suami dan dua ibunya.
Yanna teringat dua bulan dirinya tidak mendapatkan datang bulannya. Tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri. Yanna memutuskan membeli tas pack agar dirinya yakin dan benar sebelum mengatakan kabar gembira pada keluarga dan suaminya.
Kehamilan Yanna sangat berbeda saat hamil Naufal. Yanna tidak pernah merasakan mual, lelah atau bau. Nafsu makannya meningkat drastis, apapun yang di masak dan di inginkan selalu habis. Seperti rakus tak pernah makan.
Berbeda dengan Rama. Yang selalu menginginkan makanan manis dan selalu merasakan perutnya berputar-putar, seperti wahana tornado dan menyumbar begitu saja tanpa ada yang tersisa. Hingga membuat dirinya sedikit tersiksa untuk beberapa minggu. Meskipun sudah beberapa kali di kerok oleh istrinya. Tapi tetap saja perutnya tak bisa sembuh-sembuh.
Mendapatkan kejutan dari sang istri di pagi hari dengan hanya memberikan alat taspack dua garis. Membuatnya paham, dan menatap istrinya lama-lama. Hingga seulas senyuman terbit di bibir Yanna. Sujud syukur dan terima kasihnya Rama ucapkan berkali-kali pada sang pencipta, kala mendapatkan hadiah terindah yang tidak bisa di beli dan di gantikan apapun.
Memeluk Yanna dengan erat dan menciumi puncak kepalanya berkali-kali. Hingga tanpa sadar tetesan air mata kebahagiaan turun begitu saja di pipinya.
Rasa bahagainya akan sangat sempurna dengan kehadiran si bungsu yang di nanti-nanti.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃