Luluh

Luluh
Episode 24


__ADS_3

Dirumah sakit Harapan tepatnya di ruangan pasien bernama Vikram Davis yang masih belum juga menunjukkan tanda-tanda siuman paska tragedi dua hari lalu.


Disana sang asisten Raman pun dengan setia menunggui sang tuan mudanya. Terkadang Yash dan Jio pun ikut bergantian menunggui begitupun dengan Arnando.


Raman yang tengah duduk di sebelah tempat tidur pasien pun tak henti-hentinya memandangi sang tuan muda dengan raut sedih. Sungguh ia merasa iba melihat sosok laki-laki di drpannya itu.


Sedari kecil hidupnya tidak pernah bisa dikatakan bebas. Belajar dan berlatih yang ia tahu. Otaknya terus dipaksa untuk bekerja dan mentalnya selalu diuji. Semua pertarungan pun selalu ia pelajari. Hidupnya pun penuh dengan tekanan dan tuntutan.


Raman lah ysng tahu betul emua sisi gelap seorang Vikram Davis Laathore dan segala yang ia rasakan. Sebab Raman memang sudah mengenal Vikram saat usia Vikram 5 tahun. Dan dirinya 8 tahun.


Saat itu dirinya yang di selamatkan oleh ayah dari Vikram. Ibunya dan ayahnya menjualnya untuk di jadikan budak. Demi mendapat uang untuk kesenangan mereka. Bermain judi, berbelanja, dan lain sebagainya.


Raman fikir, menjadi seorang budak akan lebih buruk dari pada hidup dengan kedua orang tuanya. Meskipun sering di bentak, di pukul dan dijadikan sasaran amarah oleh kedua orang tuanya dari semenjak usianya 1 tahun.


Nyatanya semenjak ia di bawa oleh ayah dari Vikram hidupnya beeubah. Dia memang tidak lagi merasakan pukulan dan sayatan atsu sundutan dari kuntum rokok yang terasa perih. Hidupnya hanya menemani dan melayani sang tuan muda kecil. Entah itu bermain, belajar, dan berlatih.


Dulu Raman tidak sedingin seperti sekarang dia anak yang ceria dan murah senyum. Vikram pun sangat menyukai Raman dan menganggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri. Namun pada saat nyonya Laksmetha meregang nyawa di depan mata kepalanya dan Vikram. Semua keceriaan itu perlahan lenyap. Raman saat itu berusia 9 tahun dan Vikram 7 tahun.


Nyonya Laksmetha meregang nyawa saat dia menyelamatkan putra semata watangnya dan dirinya dari para musuh. Saat itu mereka terjebak dan dikepung oleh musuh dari ayah Vikram.


Raman menyaksikan sendiri semua kejadian itu dengan tangan bergetar sembari memeluk Vikram yang kala itu menangis memanggil sang ibu yang tengah disiksa dan dianiaya beramai-ramai.


Semua jeritan dan tangisan dari sang nyonya pun tardengar begitu menyayat. Membuat Raman ikut menangis sembari bergetar. Dia bingung, dia linglung dan merasa lemah. Dan saat semuanya usai dengan merangkak sang nyonya pun mendekati Raman dan Vikram yang berada di pojokan dengan pisisi duduk saling memeluk.


"Ram, kau...Sudah ku anggap sebagai putraku. Berjanjilah kepadaku untuk selalu menjaganya". Ucap sang nyonya dengan suara lemahnya.


"Ya nyonya, saya berjanji". Ucap Raman dengan suara bergetarnya.


"Pergilah kau kearah sana Ram. Larilah secepat yang kamu bisa. Bawalah putraku bersamamu. Disana melalui jalan hutan kau akan menemukan jalan besar pada ujungnya. Minta bantuanlah kepada orang disana dan beeitahu ayah Vikram bahwa aku sangat mencintainya". Ucap sang nyonya dengan tangisan.


"Nyonya tidak ikut ?". Tanya Raman dengan raut polosnya.


"Tidak Ram, pergilah. Bawa putraku". Ucap Laksmi dengan mendorong Raman.


Raman pun berdiri dan menggendong Vikram yang berusia tujuh tahun itu di punggungnya. Laksmetha pun mencium kening sang putra dengan sayang juga Raman dengan penuh hasih.


Lalu ia pun menyerahkan selendang gaunnya untuk diikatkan pada tubuh Ram dan Vikram. Agar Vikram tidak terjatuh dari gendongan Raman.


"Setelah ini berjanjilah Ram. Berjanjilah untuk selalu melindungi putraku. Dan buat ia membalas semua ini". Ucap Laksmetha dengan tatapan tajam penuh dendamnya.


Ram pun mengangguk mulai berjalan kearah hutan yang ditunjuk oleh Laksmetha setelah mendengar jeritan penuh kesakitan dari Laksmetha. Raman pun mempercepat jalannya menjadi setengah berlar. Sementara Vikram pun hanya bisa menangis dan i sambil menyebut nama ibu dalam gendongan Ram.


Sejak saat itulah hidup kedua anak itu berubah. Mereka menjadi sosok yang lain. Satu berwajah dingin dan irit bicara. Yang satu berwajah ramah namun sangat berbahaya.


"Maaf kan saya nyonya". Lirih Raman saat mengingat janjinya kepada mendiang ibu dari Vikram.


**CEKLEEEK


BLAAM**


Suara pintu yang terbuka dan tertutup dengan ringan membuat Raman langsung menormalkan raut wajahnya menjadi datar dan menengok kearah pintu masuk.


"Pagi Ram". Sapa Yash dengan santai seraya berjalan kearah rsnjang pasien.


"Pagi tuan Leon dan Jio". Jawab Raman dengan sopan.


"Bagaimana, keadaannya ?". Tanya Yash.


"Tuan masih belum membuka matanya". Ucap Raman dengan ekspresi datar.


Yash dan Jio pun menghela nafas merasa sedih dan cemas. Pasalnya obat yang selama ini di suntikan pada Vikram dapat membahayakan nyawanya.


"Istirahatlah Ram, kau sudah semalaman menjaganya. Hari ini biar saya dan Jio yang menjaganya.". Ucap Yash.


Raman sebenarnya enggan untuk jauh dari tuan mudanya. Namun rasanya ia tidak boleh egois. Kesehatannya sangat penting, tubuhnya perlu untuk istirshat.


"Saya akan kembali nanti malam. Mohon bantuannya tuan". Ucap Raman dengan sopan.


Yash pun mengangguk dengan raut bersahabat dan ia pun duduk di kursi dekat dengan ranjang pasien. Semeentara Raman pun keluar untuk pulang mengisirahatkan tubuhnya.


Jio yang menerima telfon penting pun pergi keluar guna menerina panggilan penting itu setelah meminta izin kepada tuannya.


Dan kini tinggallah Yash dan Vikram di dalam ruangan pasien itu. Yash dengan duduk menyilangkan tangan diatas perutnya pun memandang Vikram yang terbaring dengan tatapan tak terbaca.


"Kau tidak ingin membuka mata mu Vik. Tidak inginkah membalas perbuatan mereka". Ucap Yash dengan nada dingin.


"Dua minggu lagi. Martha akan melangsungkan pernikahan". Ucap Yash memulai bercerita.


Namun tanpa Yash sadari jari teluntuk dan tengah Vikram terlihat bergerak sedikit ketika Yash menyebut nama Martha.


"Dengan Erlangga Firmansyah. Anak dari Fredi. Seseorang yang berambisi sekali untuk menyingkirkanmu dan membuatmu seperti ini. Pedro Sudah membeberkan segalanya kemarin". Ucap Yash lagi dengan memandang lurus kearah wajah Vikram.


"Kau tahu Vik. Nona Ghina pun ikut andil atas penyekapan yang kau alami. Heh, sungguh calon ibu mertua yang buruk". Ucap Yash dengan sinisnya.


"Apa kau masih mencintai Martha Vik ?". Tanya Yash kepada Vikram yang terbaring.


"Sayangnya dia sudah tidak mencintaimu lagi. Dia bahkan sangat tergila-gila dengan anak dari Fredi itu. Cintanya telah berubah halauan dengan cepat. Dan kau malah terbaring disini". Tutur Yash sedikit sinis.


"Lemah". Ucap Yash dengan pedasnya kearah Vikram.


"A...Ku tidak selemah itu sialan". Ucap Vikram dengan nada lemas dan lirih..


Yash yang mendengarnya pun tersenyum senang dan menatap kearah Vikram yang mulai membuka matanya dengan perlahan.


"Ck lama sekali kau siuman. Menyusahkan". Ucap Yash dan lalu memencet tombol peringatan pada samping nakas guna memanggil para dokter dan suster untuk memasuki ruangan memeriksa keadaan Vikram yang tengah siuman.


Begitulah cara mereka bersahabat. Tidak ada perkataan manis atau sopan diantara mereka. Justru saling membuat kesal dan beradu kata-kata lah yang mereka lakukan. Seakan terkesan jika mereka bermusuhan satu sama lain.


Seperti Yash dengan kata'kata pedasnya, Arnando dengan ketengilannya dan Vikram yang diam-diam mrnghanyutkan. Namun diantara mereka Yash lah yang paling menyebalkan bagi mereka berdua.


Tak lama kemudian dokter dan suster pun datang menghampiri mereka. Melihat Vikram yang sudah membuka matanya dengan sayu, sang dokter pun langsung memeriksanya dengan cekatan. Sementara Yash hanya berdiri santai seraya melihat dokter dan suster bekerja.


Jio yang masuk dengan raut panik pun, seketika berubah menjadi lega saat tahu jika tuan Vikram sahabat dari tuannya itu telah siuman.


"Syukur lah pasien sudah sadar dan merespon dengan baik tuan". Lapor sang dokter kepada Yash.


Yash yang mendengarnya pun turut senang namun hanya,dalam hatinya saja. Karena lagi-lagi sikap pendiamnya muncul dan hanya mengangguk saja menimpali laporan dari sang dokter.


"kalau begitu kami permisi dulu tuan. Jika ada sesuatu dengan pasien anda harus cepat memberi tahu. Karena belum ada kepastian tuan Vikram bisa normal dalam waktu singkat". Jelas sang dokter kepada Yash.


Dan lagi, Yash pun hanya mengangguk menjawabnya. Lalu dokter dan suster itu pun pamit keluar dengan sopan dan teratur. Meninggalkan Yadh, Jio dan Vikram disana.


"Jelaskan Yash". Ucap Vikram dengan tatapan sayu dan lemas.


"Akan aku jelaskan besok setelah kau benar-benar baik. Aku tidak ingin menjelaskan sampai dua kali". Uca Yash dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Saat hendak membuka pintu. Yash pun berbali kearah Jio dan berkata.


"Temani dulu. Aku ingin beristirahat sebentar". Ucap Yash kepada Jio.


"Baik tuan muda". Ucap Jio dengan sopan.


Yash pun mulai membuka pintu dan berjslan keluar meninggalkan Jio dan Vikran. Vikram pun langsung menghela nafasnya dengan lelah dan lalu tertidur secara perlahan. Dan Jio pun duduk di sofa tak jauh dari ranjang pasien seraya mengecek tabnya mengenai pekerjaan dan laporan.


Saat Yash berada di luar dan berjalan di lorong rumah sakit menuju kantin. Tak sengaja ia melihat siluet orang yang ia kenal. Dan Yash pun mulai berjalan untuk mendekatinya.


"Tuan Rahardian". Sapa Yash dengan sopan. Membuat Royan yang kala itu tengah mengecek ponsel langsung menengok kearah Yash.


"Oh, tuan muda Yash. Anda berada,disini juga ?". Tanya Royan tak kalah Ramah.


"Salah satu kerabatku ada yang tengah dirawat disini". Jawab Yash dengan memasukan satu tangannya di saku celana.


Royan pun mengangguk paham atas jawsban dari Yash. Ia pun lalu memasukan ponselnya ke saku celana dan menatap Yash yang terlihat ingin bertanya serius.


"Bagaimana keadaanya ?$. Tanya Yash ambigu.


Royan yang paham betul akan pertanyaan dari Yash pun mulai menghela lelah dan duduk di salah satu kursi tunggu dalam rumah sakit di susul dengan Yash yang ikut duduk juga.


"Aku rasa, sikisnya mulai terganggu. Sikapnya menjadi berubah. Dingin dan tak tersentuh. Anak-anaku saja sampai takut melihatnya". Ucap Royan dengan tertunduk sedih.


"Kami sudah menyarankan untuknya pergi ke pesikiater. Namun dia selalu bilang bahwa dia tidak gila. Padahal tidak ada yang menganggapnya demikian". Ucap Royan lagi dengan berkaca-kaca.


Dari raut Royan yang Yash tangkap. Ada rasa bersalah dan menyesal dalam diri Royan mengenai Mira. Dia seolah benar-benar hancur dan sedih. Layaknya seorang kakak yang menyesali keteledorannya dalam menjaga adik kandungnya.


"Apa anda bisa membujuknya tuan. Saya rasa mungkin Mira akan merasa nyaman dengan anda". Ucap Royan merasa putus asa.


"Akan aku coba". Ucap Yash dengan nada serius.


"Maaf jika merepotkan". Ucap Royan merasa tak enak.


"Tak masalah". Ucap Yash dengsn santai.


"Lalu anda kesini hendak menemui seseorang atau ?". Tanya Yash merasa penasaran.


"Aku ingin menemui Zoe sandi. Memintanya untuk menceritakan semua yang dialami Mira dan rencana apa saja yang di perintahkan pria ambisius itu kepada Mira". Ucap Royan menjelaskan.


"Memangnya dia tidak menceritakan sendiri kejadiannya ?". Tanya Yash merasa heran.


Royan pun hanya menggeleng lesu dan menunduk mengingat kembali sikap dan perilaku Mira yang benar-benar berbeda itu.


Yash pun merasa aneh dan penasaran akan sikap Mira yang katanya berbeda dari biasanya itu. Ia pun menjadi ingin menemui Mira dan melihatnya.


"Hhhh...Saya keruang rawat Zoe dulu. Senang bertemu dengan anda". Pamit Royan dan berlalu pergi setelah Yash mengangguk mengizinkan.


Melihat Royan pergi Yash pun juga pergi kearah luar rumah sakit dan melihat sekeliling. Terlihat ada satu orang yang baru saja mematikan mesin kendaraan roda duanya. Yaitu sebuah motor sport berwarna merah keluaran terbaru dari perusahaan ternama.


Yash pun mulai tersenyum miring dan langsung mendekati seseorang itu fan menepuk pundaknya dengan cukup keras membuat seseorang itu sedikit meringis dibuatnya.


"Aiisss sialan kau. Ku kira siapa". Gerutu seseorang itu dengan kesal.


Yash pun hanya memandang acuh dan langsung mengambil kunci motor itu dengan cepat membuat orang itu sedikit terkejut dan membuka helemnya.


"YAKK apa-apaan kau ini. Tidak cukup kah deretan motor sport di rumahmu itu sehingga kau ingin motor punyaku huh". Ucap seseorang itu dengan garangnya.


"Berisik sekali. Aku hanya meminjam. Jika boleh aku akan membawanya dan jika tidak aku pun tetap akan membawanya". Ucap Yash dengan mendorong seseorang itu hingga terjatuh.


Seseorang itu pun memasuki rumah sakit dengan sediiit terpincang dan merasakan pegal di bagian pinggang akibat terpelanting dari atas motornya sendiri.


Saat membuka pintu ruangan pasien yang ia tuju. Terlihat Jio yang tengah memandangnya dengan raut heran. Pasalnya seseorang itu berjalan layaknya seorang gadis yang baru saja diperawani.


"Apa ?!". Bentaknya dengan garang.


Jio pun langsung menunduk menahan tawa. Dan berusaha untuk tidak bertanya apa pun. Karena Jio tahu siapa yang membuatnya sekesal dan semiris itu.


"Bagaimana keadaanya ?". Tanya seseorang itu setelah berhadil duduk di sofa.


"Tuan Vikram sudah sadar dan baru saja tertidur kembali karena masih dalam pengaruh obat tuan". Ucap Jio memberi tahu.


"Hhh...Syukur lah. Ahh badan ku rasanya mau patah. Dasar Yash sialan. Sudah menjatuhkan anak orang, bawa lari motor orang, tidak bertanggung jawab pula. Kau tahan bekerja dengannya selama dua puluh tahun hidup mu aiisss". Ucapnya seraya meringis ngilu.


"Tuan Arnando sendiri tahan bersahabat dengan tuan Yash selama dua puluh tahun hidup tuan. Mengapa saya tidak tahan". Jawab Jio membalikan kata-katanya.


Membuat Arnando yang mendengarnya pun teramat ingin menendangnya jika bujan asisten pribadi dari Yash.


"Bos dan asistennya sama saja". Batin Arnando dengan melirik tajam kearah Jio yang tersenyum remeh.


Sementara di tempat lain tepatnya di rumah kediaman Rahardian. Mira yang tengah duduk melamun di kursi teras depan rumah di temani dengan Mayya yang tengah berceloteh ria mencoba untuk menghibur sang adik di kejutkan oleh sebuah motor yang melenggang masuk dalam area parkir rumah sang kakak.


Mayya dan Mira yang melihatnya pun mulai was-was dan bertanya-tanya. Siapakah orang itu dan apa tujuannya kemari. Sebab Mayya tidak merasa mengundang seseorang untuk kerumah. Begitupun dengan Mira.


Yash yang sadar di tonton dengan ekspresi wajah lucu dari kedua wanita itu pun tersenyum lucu dibalik helem yang ia kenakan.


Ia pun lalu melepaskan helem yang ia kenakan lalu turun dari motor itu. Membuat Mayya sedikit melongo dan Mira tertegun.


"Selamat Pagi nona Rahardian dan Mira ?". Sapa Yash dan merasa aneh sendiri dengan sikapnya. Karena biasanya orang-orang lah yang menyapanya terlebih dahulu bukan dirinya.


"Pagi tuan muda Leonard. Mari silahkan duduk. Saya buatkan minum dulu sama ambilkan cemilan. Mira, temani tuan Yash yah". Ucap Mayya dan berlalu pergi karena merasa mungkin Yash butuh bicara berdua dengan Mira. Dan Mayya pun tidak ingin mengganggunya.


Mira pun menjadi bingung dan hanya bisa melongo kecil seraya melihat sang kakak pergi ke dalam rumah meninggalkannya.


Yash pun duduk di kursi seberang. Dan melihat kearah Mira tepatnya ke wajah dan ekspresi mata Mira yang memang terlihat berbeda. Saat ia menyapa pun hanya Mayya yang tersenyum hangat. Sementara Mira hanya tersenyum sedikit namun tak sampai matanya.


"Bagaimana kabarmu ?". Tanya Yash dengan ramah.


"Baik tuan". Jawab Mira seadanya.


Yash pun hanya tersenyum dan memang benar jika Mira sedikit berbeda.


"Hari ini aku lapar. Dan ingin makan siang di tempat yang bagus sekaligu enak. Kau tahu dimana tempatnya. Bisa beri tahu aku ?". Ucap Yash mencoba berbicara lebih banyak.


Namun Mira hanya diam seolah tengah berfikir. Entah mengapa tuan muda satu ini selalu bisa membuat Mira berfikir penuh.


"Anda ingin makan siang apa ?". Tanya Mira merasa bingung. Pasalnya dia seorang tuan muda. Tidak mungkin kan sultan doyan bakso pinggir jalan atau mie ayam dan swbagainya. Itu pasti akan menghinanya mungkin. Dan Mira enggan membuat masalah lagi.


"Apapun yang menurutmu enak. Dan bisa untuk mengobrol". Ucap Yash dengan tersenyum.


"Kalau bakso mang ujang apa tuan mau ya ?". Lirih Mira merasa ragu. Yash yang memang memiliki pendengaran tajam pun langsung menjawab dengan mantap.


"Tentu aku suka jika itu enak menurutmu". Ucap Yash dengan kedipan dan senyuman mautnya.


Membuat Mira merasa canggung dan bingung melihat sikap tuan mudanya yang sungguh genit dari biasanya.

__ADS_1


"Dia benar-benar lapar kah ?". Batin Mira merasa heran.


Tak berapa lama keluarlah Mayya yang membawa nampan berisi minuman dingin dan dua piring kue lupis serta cireng isi. Melihat suguhan yang Mayya berikan kepada Yash membuat Mira nerasa dejavu.


"Silahkan di cicipi tuan. Maaf ala kadarnya". Ucap Mayya dan ikut duduk di kursi sebelah Mira.


Yash pu langsung mengambil minunan dingin dan langsung meneguknya karena merasa haus. Dan iapun melihat kearah piring yang berisikan cireng isi lalu mengambilnya dan melihatnya dengan heran.


"Ra, kaka dapat telfon dari mas Roy. Kakak tinggal lagi yah ngga apa-apa kan ?". Tanya Mayya dengan penuh hati-hati.


Mira yang sejujurnya enggan pun hendak menggeleng mengatakan jangan tinggalkannya. Tetapi jika mengingat bahwa tuan muda Yashvlah yang sudah menolongnya waktu itu. Ia pun merasa tak enak dan kurang ajar. Lalu Mira pun mengangguk mengizinkan Mayya untuk kedalam rumah menerima telefon. Mayya pun langsung berjalan kedalam dengan terburu-buru.


"Ini apa ?". Tanya Yash dengan raut aneh seraya memencet-mencet cireng yang terlihat gembul dan kenyal.


"Itu cireng tuan. Didalamnya ada isi ayam suir pedas dan bakso sosi pedas juga". Ucap Mira lalu tersenyum lucu melihat ekspresi Yash.


"Aku pernah melihatnya di beberapa iklan di ponsel. Tapi bentuknya tidak seperti ini". Ucap Yash dengan mengernyit.


"Memang banyak variannya tuan, dan kalau yang itu cireng isi namanya. Coba saja rasanya enak ko ngga kalah sama pastel isi". Ucap Mira menjelaskan.


Yash pun mulai mencobanya dan menggigitnya dengan perlahan. Dan hasilnya isian dari cireng itu sedikit berlumeran membuat Mira melotot kagrt.


"Ya tuha, mengapa isianya menjadi sebanyak itu ?". Batin Mira merasa kaget.


Yash yang merasa isiannya itu terlalu banyak pun mencoba untuk menahannya agar tidak berjatuhan kenana-mana. Sementara Mira pun langsung mengambil tisu dan menangkup tangan Yash yang berlumuran isian cireng.


"Maaf tuan Yash. Saya tidak tahu jika isiannya akan sebanyak ini". Ucap Mira merasa khawatir dan takut jika tuan mudanya akan marah.


Yash yang kaget akan tindakan reflek Mira yang menangkup tangannya menggunakan tisu dan terlihat begitu dekat dengan wajahnya pun sedikit tertegun melihat mata takut Mira yang terlihat menarik itu. Dan jantungnya pun seakan berdegup menyesakkan.


Mira yang merasa dilihat begitu dekat oleh Yash pun menfongak menatap wajah Yash guna memastikan jika tuan mudanya itu benar-benar marah atau tidak. Tetapi saat ia mendongak ternyata Yash tengah melihatnya dengan tatapan lain. Seolah tengah menatap sesuatu yang menarik baginya. Dan adegan saling tatap itu pun terjadi.


Selang beberapa menit mereka pun menyudahi saling tatap itu dengan rasa canggung. Yash yang merasa belum mengunyah cireng yang masuk kedalam mulutnya pun langsung menggunyahnya dan merasakan rasa enak dan pedas gurih pada cireng itu.


"Enak siapa yang membuatnya ?". Tanya Yash seraya membersihkan tangannya yang belepitan saus dengan tisu kering dan basah.


"Saya tuan". Jawab Mira seraya menggaruk tengkuknya yang merasa tak gatal karena canggung.


"Jadi siapa yang hendak kau kerjai sebelumnya melalui cireng ini ?". Tanya Yash menggoda dan memakan pitongan cireng satunya lagi.


"Itu..Saya...Emmm. Sebenernya saat saya membuatnya di bantu oleh Lili dan Ayub. Saya baru ingat kalau itu perbuatan Ayub. Dia ingin mengerjai orang-orang yang disuguhi cireng isi itu. Saya mohon maaf tuan atas kejahilannya". Ucap Mira mmerasa bersalah.


"Selagi rasanya enak. Tak masalah bagi ku". Ucap Yash dan lalu melahap cireng itu dengan lahapnya.


Mira pun ikut memakannya dan terdiam saat rasanya benar-benar pedas seperti memakan cabe. Is pun melihat kearah Yash yang bibir dan hidungnya sudah memerah. Mira pun buru-buru mengunyahnya dan meminum minumannya dengan rakus.


Benar-benar yang namanya Frans Ayubia itu sangat jahil dan menyebalkan. Membuat Mira merasa canggung dan tak enak hati kepada sang tuan muda.


"Ini terlalu pedas tuan, apa anda tak apa jika nemakannya ?". Ucap Mira dengan was-was.


"Aku pecinta pedas dan itu tidak menjadi masalah. Lihat...Aku sudah menghabiskannya". Ucap Yash santai seraya membuang ingusnya menggunakan tisu.


Yash pun lalu berganti memncicipi kue lupis yang tersedia dipiring dan merasa heran saat rasanya benar-benar legit dan lembut. Ia kira kue buatan chef terkenal yang menjadi langganannya lah yang paling the best untuk lidahnya. Namun anggapannya terbantahkan oleh kue lupis yang tengah ia makan.


"Itu buatannya kak Mayya". Ucap Mira memberi tahu.


"Lain waktu saya akan memesan kue ini lagi. Sangat lembut, empuk dan legit. Aku suka". Ucap Yash sembari tersenyum.


"Pesan saja di Sanggi cake and kukus tuan. Itu kue buatan kak May semua". Ucap Mira memberi tahu.


"Oh ya, kalau begitu bisa kan yang mengantarkannya adik dari pemilik toko kue terkenal itu". Goda Yash seraya tersenyum jahil membuat mira tersenyum singkat dan menunduk.


"Ok...Sudah mau jam makan siang. Jadi dimana tempat makan yang enak itu. Kau sudah menemukannya ?". Tanya Yash seraya berdiri mendekat kearah Mira.


"Saya...Tidak tahu tuan". Ucap Mira menunduk.


"Kalau begitu....Mari ikut say". Ucap Yash sersya menarik lembut tangan Mira. Membuat Mira langsung Reflek ketakutan..


"Oh tidak....Jangan sentuh saya. Ku mohon". Ucap Mira dengan terduduk dan mata terpejam serta raut pucat pasi yang Mira tunjukan.


Membuat Yash mengernyit bingung dan merasa ada yang janggal denga Mira.


"Tadi saat tanganku belepotan saus isian cireng. Ia merasa biasa saja menangkup kedua tangannya. Bahkan tidak setakut itu. Tapi sekarang...". Bati Yash dengan tatapan heran.


Ia pun lalu mengguncang pundak Mira dengan kuat guna menyadarkannya akan ketakutan yang dialami Mira saat ini. Namun bukanya membuka matanya. Mira malah semakin histeris dan tak terkendali. Membuat Yash langsung memundurkan tubuhnya.


Yash melihat dengan seksama perilaku Mira yang hampir sama dengan Raina pasca pembulian dan kekerasan seksual yang dialami oleh adiknya.


Dari sini Yash pun tahu apa yang tengah dialami oleh Mira. Terahuma akan sentuhan dengan tiba-tiba. Terutama jika yang menyentuhnya laki-laki.


Mayya yang mendengar keributan di luar pun langsung berlari dan menghampiri Mira dengan muka panik luar biasa.


"Apa yang terjadi. Kamu kenapa Ra. Ada apa heumm Ra. Miranda ?". Tanya Mayya dengan panik.


"Jangan sentuh aku, jangan dekati aku. Ku mohon". Lirih Mira dengan tangisan dan badan yang menggigil takut.


"Maaf tuan, saya akan nembawa Mira kedalam dulu. Kondisi Mira saat ini sedang tidak baik. Maaf jika saya lancang dan tidak sopan". Ucap Mayya merasa tak enak untuk menyuruh Yash pergi.


"Tak apa nona Mayya. Saya mengerti. Bawa lah ia masuk kedalam dan saya pamit pergi dulu". Ucap Yash dengan sopan dan menatap Mira dengan sendu.


"Terima kasih tuan, saya permisi". Ucap Mayya dan berlalu pergi kedalam rumsh mengantarkan Mira ke kamarnya dan meminumkannya obat penenang.


Yash pun langsung membalikan badannya seraya mengeluarkan ponsel di saku jaket kulitnya Ia pun menekan layar yang bertuliskan DR. Jodi Fernabdes dan langsung menekan tombol panggilan.


Dideringan ketiga panggilan itu pun dijawab oleh sesrorang yang beenama Jodi itu.


"Ya Yash kenapa ?". Tanya Jodi di sebrang telfon.


"Kau sibuk ?". Tanya Yash saat mendengar suara orang ramai di sana.


"Hanya acara keluarga di tempat keluarga istriku. Ada masalah kah ?". Tanya Jodi lagi.


"Ada pasien baru untukmu. Aku ingin nembuat jadwal pertemuan pertama untuk pasien itu. Tetapi aku ingin merencanakan sesuaru dulu. Kau bisa tidak". Ucap Yash memastikan.


"Jika untuk tuan muda Yash aku tidak akan pernah bilang untuk tidak bisa. Raina histeris lagi kah ?". Tanya Jodi penasaran.


"Bukan. Dia teman wanita ku". Ucap Yash singkat.


"Realy ?". Ucap Jodi dengan nada sedikit terkejut. karena baru kali pertama ini seorang Yash Leonard memiliki teman wanita.


"Aku baru bisa balik lusa. Saat ini aku sedang berada di bali. Kau bisa menunnggu atau menyusul ?". Tanya Jodi dengan terkekeh.


"Aku tunggu lusa". Ucap Yash dan langsung mengklik tombol mengakhiri pada ponselnya.


Membuat Jodi yang berada di seberang telfon pun menggeleng maklum akan kelakuan teman masa SMA nya itu.

__ADS_1


Sementara Yash pun langsung menancap gas motor dengan kencang membelah jalan menuju kerumah sakit.


__ADS_2