
Suara tepuk tangan dari Yash, vikram, jodi, Sinta dan ketiga anak Jodi yang menurut Mira entah kapan Jodi dan keluarganya bergabung mendengarkan Mira yang bernyanyi seraya terpejam mengingat kilas balik kebersamaanya denga mendiang kedua orang tuanya juga kedua kakaknya.
PROOK PROOK !!!
Mereka pun bertepuk tangan dengan bangganya setelah mendengar suara Mira yang bernyanyi dengan merdunya.
"Waah Mira, suarami benar-benar merdu. Membuatku ingin menari dengan gembira. Ehh ngomong-ngomong itu lagunya Shreya Goshall kan". Ucap Sinta istri dari Jodi dengan nada terkesan cerewet.
"Nona Sinta bisa saja, saya hanya sekedar bernyanyi biasa. Iya itu lagunya penyanyi bollywood idola saya nona". Jawab Mira dengan lembut.
"Waah kalau begitu sama. Aku juga mengidolakannya apa lagi si tampan tiger slof uuhh badanya itu kekar, tampan, pintar menari dan jago action". Ucap Sinta dengan nada girangnya.
"Sayang, Tiger Slof itu bukan seorang penyanyi". Ucap Jodi dengan gemasnya kepada sang istri.
"Aku tahu, tetapi kan dia ganteng, maco, tampan lagi". Ucap Sinta tanpa rasa takut didepan sang suami.
Membuat Mira dan yang lainnya menjadi tersenyum bodoh. Sebab melihat raut muka Jodi yang sedikit merah padam namun masih ia tahan.
"Ganteng dengan tampan apa bedanya". Ungkap Jodi dengan kesal dalam hatinya.
"Ok aku sudah mendengar suara khas darimu. Beaok akan aku kasih tahu lagu yang harus kita nyanyikan". Ucap Vikram menyela.
Mira pun sedikit bernafas lega. Ia pun mengangguk senang dan mulai menyibukan matanya kearah pemandangan di sekitar.
"Dan latihan yang kedua.....". Ucap Vikram menggantung membuat Mira yang tadinya tengah menikmati pemandangan menjadi terbengong seketika.
"Ya...Yang ke dua ?". Tanya Mira dengan tampang bodoh.
"Yapp yang kedua adalah kita menari bersama dengan romantis". Ucap Vikram seraya tersenyun evil kearah Yash.
"Hentikan ulahmu Vick. Kau mau membawa-bawa Mira dalam bahaya yang kau buat huh". Hardik Yash dengan garangnya.
"Ck kalau begitu biarkan Raina saja yang menjadi patner menariku. Jika seperti itu kan Mira aman. Tidak ada yang mengira dia teman khusus ku kan". Ucap Vikram dengan tersenyum.
"Apa aku sebodoh itu. Tidak akan pernah aku izinkan kau menari dengan Rainaku". Ucap Yash dengan tatapan tajamnya. Membuat Vikram lagi tersenyum remeh.
"Ya sudah biarkan Mira yang menjadi patnerku. Lagi pula ada kau yang siap melindunginya dengan nyawamu kan". Ucao Vikram jujur. Membiat Yash langsung mendelik tajam kearahnya yang akhirnya membuat Vikram tersadar dan sesikit menutup mulut.
Mira, Jodi, dan Sinta yang mendengarnya pun hanya dapat memandang bingung atas ucapan dari keduanya.
"Apa maksudnya tuan ?". Tanya Mira seraya melihat kearah Yash dan Vikram secara bergantian.
"Ammm...Bukan apa-apa. Melihat betapa Yash selalu di dekatmu jadi yaa, membuatku berbicara demikian heehee". Ucap Vikram dengan tersenyum bodoh.
"Bicara pakai otak jangan pakai dengkul. Bodoh". Ucap Yash dengan sadisnya dan berlalu pergi begitu saja kearah Jio yang kala itu tengah datang dan berjalan mendekat.
Yash pun akhirnya terlihat berbbicara serius dengan Jio. Mengabaikan Mira yang terlihat sedikit sedih dan syok atas ucapan Yash kepada Vikram yang entah nengapa seperti menusuk ulu hatinya.
"Mira, mengapa kamu terlihat murung. Apa ada sesuatu yang mengganggumu ?".Tanya Sinta dengan lembut.
"Hatiku...Rasanya sakit". Ungkap Mira dalam batinnya.
Mira adalah tipikal wanita yang terkadang perasa. Dibalik wajah tenangnya terkadang ada rasa sensitif dalam hatinya.
"Tidak nona, mingkin saya sedikit lelah". Ucap Mira bohong.
Sementara,Vikram yang memperhatikan pun hanya tersenyum lucu. Yash itu memang terkadang pedas dan Mira itu terkadang perasa. Sangat cocok jika disatukan untuk perang.
"Jadi. Kau akan berlatih menari denganku sekarang kan ?". Tanya Vikram. tanpa tahu perasaan. Membuat Mira sedikit kesal namun tidak ia perlihatkan
"Jangan bilang kau tidak bisa menari ya. Jika tidak ingin aku ingatkan semuanya. Kejuaraan, festifal, pentas, perjuntukan....". Ucapan Vikram terpotong saat suara Mira menyela.
"Ya saya siap untuk latihan kedua" Ucap Mira cepat dengan satu tarikan. Membuat Vikram tersenyum puas.
"Anda yakin ingin pulang sekarang tuan. Lalu bagaimana dengan nona Mira ?".
Tanya Jio saat mendengar Yash ingin segera kembali pulang saat ia berjalan menghampuri sang tuan mudanya itu untuk melaporkan swbuah pekerjaan.
"Ada kau disini. Kau bisa menggantikanku". Ucap Yash dingin. Membuat Jio sedikit bingung.
"Ya tuan, saya siap menerima perintah". Ucap Jio akhirnya menyerah untuk menerima perintah dari Yash.
Yash pun akhirnya berjalan kearah mobilnya tanpa berpamitan dulu dengan swmua orang. Sebab entah mengapa hatinya merasa,kesal dan menolak saat Vikram berkata jika ia selalu berada didekat Mira. Seolah jika ia tengah mengejar Mira dan melupakan Raina.
Ia pun lalu memasuki mobilnya dan duduk dengan angkuhnya di joj belakang supir. Sang supir pun melajujan mobilnya saat Jio sudah menekan tombol untuk menutup pintu tengah mobil. Dalam ponsel sang supir. Jio pun sudah mewanti-wanti sang supir agar tetap diam dan tidak boleh bertanya apa pun kepada sang tuan mudanya. Jio pun juga memberi tahu sang supir tujuan untuknya membawa sang tuan muda.
Di perjalanan, Yash yang tengah duduk melamun seraya bersandar pada pinggiran kaca mobik yang memperlihatkan berbagai macam perpohonan pinus dan karet itu pun seketika teringat akan ucapan Mira tempohari.
"*Sejujurnya saya takut tuan jika melewati jalana hutan. Saya menjadi teringat dengan film-film yang banyak darah".
"Banyak darah. Seperti apa contohnya".
"A...aaaah tuan, sudah lah jangan dibahas. Saya jadi merasa semakin takut sungguh".
"Vampir, pembunuhan, mutilasi, hantu*...".
Bayangan Mira yang menutup telinga dengan takut serta tawa Yash yang meledak pun terus terngiang di kepala Yash.
Ia pun menjadi teringat sesuatu. Vikram itu kelihatanya,saja baik, ramah dan mudah tersentuh atau welasan. Tetapi hatinya yang sejujurnya itu batu. Keturunan dari seorang mafia tidak pernah memandang itu.
Lalu Jodi. Si dokrer psikiater itu sexikit gila. Dan sama sekali tidak akan pernah mau meninggalkan istrinya meskipun demi mengantarkan Mira.
Sesangkan Jio....Masa lalunya. Dan rahasianya adalah yang paling Mira takuti. Jio juga terkadang sering kambuh dan hampir tidak bisa mengendalikan dirinya. Bagaimana jika Mira melihat sesuatu yang lain dari Jio.
"Akhhh!!! Sial. Benar-benar sialan". Batin Yash dengan geram dan lalu ambil keputusan.
"Putar balik". Ucap Yash dingin. Membuat sang supir sedikit terkejut namun tidak sampai reflek mengerem mobilnya.
"Baik tuan". Ucap sang supir dengan sopan dan lalu memputar balikan mobilnya menuju kearah vila Jodi kembali.
Sementara Jio yang tengah berjalan mendekat kearah gazebo pun di buat terheran saat mobil yang tuan mudanya naiki datang kembali. Ia pun lalu berjalan kearah mobil seraya menahan senyum. Sang supir pun lalu menekan tombol buka pada pintu tengah mobil. Dan turun lah Yash dengan angkuhnya dan berdiri di hadapan Jio.
"Tuan muda". sapa Jio seraya menunduk hormat. Namun tidak ada anggapan apapun dari Yash. Ia malah berlalu saja meninggalkan Jio yang tengah menunduk di hadapannya.
Jio pun memakluminya dan ia pun ikut berjalan dibelakang sang tuan muda. Swmentara,sang supir pun hanya menggeleng heran akan kelakuan si bos mudanya yang kelewat batas.
Dan semua tindakan Yash pun terekam jelas di mata Vikram dan Jodi yang kala itu memang duduk menghadap kearah Yash dan Jio berada. sementara Mira membelakangi dan Sinta menyamping. Tentu Mira dan Shinta tidak mengetahui hal lucu apa yang tengah Vikram dan Jodi tertawakan.
Yash pun lalu duduk kembali di samping Mira disusul dengan Jio yang berdiri di belakang Yash. Merasa tidak tahan, akhirnya Vikram dan Jodi pun tertawa kembali dan kini lebih keras dari yang tadi.
"Kalian mentertawakan apa ?". Tanya Sinta heran.
"Ahaaahaa haaahaaa haah haahh lucu sangat lucu sekali sayang". Ucap Jodi masih dengan gelak tawanya.
"Apa yang lucu ?". Tanya Sinta lagi.
"Itu tadi kami melihat burung kecil yang terbang pergi dari induknya. Namun kembali lagi saat mengetahui jika tidak kembali maka ia akan tamat". Ucap Vikram beralasan bohong..
"Dasar. Begitu saja tertawanya seperti tengah menonton kartun saja". Ucap Sinta seraya memberengut sebab jawaban Vikram yang tak beralasan
Merasa tak tahan Yash pun akhirnya sesikit menendang meja dengan sedikit hentakan membuat Mira yang tengah bingung melihat tingkah Jodi dan Vikram pun di buat terkejut dan menengok kearah Yash yang entah mengapa sudah merah padam.
"Ada,apa dengan tuan Yash ?". Ucap Mira,dalam hati.
"Mira..". Panggil Sinta dengan berbisik. Membuat Mira pun menengok kearah Sinta.
"Ya nona, ada apa ?". Tanya mira kepada Sinta.
"Sebentar lagi petang. Bantu aku siapin makan malam ya". Ajak Sinta kepada Mira.
__ADS_1
"Baik nona". Ucap Mira mensetujui.
Keduanya pun beranjak dari kursi gazebo. Namun pada saat Sinta dan Mira hendak melangkah. Tangan kanan Mira di cekal oleh Yash dan tangan kiri Sinta pun di tahan oleh Jodi.
"Mau kemana ?". Tanya,Jodi dan Yash berbarengan. Keempatnya pun saling pandang satu sama lain.
Di dalam fikiran mereka masing-masing ada benak tanya tentang perkataan dan tindakan yang sama oleh kedua pasangan itu.
"Membantu nona Sinta menyiapkan makan malam tuan". Jawab Mira takut-takut.
"Iya, sebentar lagi petang. Sudah waktunya untuk kita makan malam. Dan untuk latihan menari Vikram dan Mira di ruang atas saja sekalian kita santai". Ucap Sinta memberi usul.
"Ohh, ya udah. Siapin makan malam yang enak ya sayang". Ucap Jodi seraya mrmbelai surai rambut sang istri dengan sayang.
"Pasti...". Seru Sinta dan langsung menggandeng Mira dan berbicara mengenai masakan apa yang akan mereka masak.
Sementara Yash yang menyadari ekspresi takut dari Mira pun merasa bersalah dan menyadari akan perkataanya yang mungkin menyakiti Mira tanpa ia sadari.
"Ck aaaiiss semua gara-gara dia. Dasar mafia idiot". Geram Yash dalam hati.
Sementara di dapur yang super mewah itu berdirilah Mira dan Sinta seraya memilih bahan makanan yang tertata rapik bak minimarket dadakan. Mira yang baru mengetahui hal itu pun dibuat terbengong takjub.
"Jadi, kita mau masak apa nih Ra ?". Tanya Sinta dengan akrab.
"Saya tidak tahu nona. Saya bingung. Semua ada disini". Ucap Mira seraya terbengong.
Sinta pun tertawa lucu melihat ekspresi takjub Mira. Ia pun menggeleng maklum seraya mengambil dua bungkus ayam yang berisikan lima paha dan sayap.
"Jodi dan anak-anaku paling suka ayam goreng madu. Jadi aku mau masak ayam goreng madu" Ucap Sinta dengan penuh semangat.
Mira pun tersenyun senang melihatnya. Seakan dirasa bahwa dunia rumah tangga semenyenangkan itu. Seakan cinta dan kebahagiaan selalu hadir terus menerus.
"Mira, kau bisa memasak sup ayam. Ini ada beberapa ceker ayam dan bakso ayam. Di buat sup enak kali ya. Apa lagi cuaca malam hari itu dingin banget disini". Ucap Sinta memberi usul.
"Emmm...Bisa sih nona. Tetapi saya takut masakan saya tidak berkenan nona". Ucap Mira merasa sedikit gugup.
"Pasti enak ko. Adiknya Sanggita si pemilik cattering terkenal. Masa sih ngga bisa masak enak. Padahal anak-anaku paling suka luh sup ayam jamur buatan kanu. Yang di lebeli sup dua bersaudara itu kamu kan yang bikin hayoo ngaku". Ucap Sinta telak membuat Mira merasa skakmat dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Itu dulu nona. Sebelum saya diterima kerja di butique. Saya sempat bantu-bantu kak Mayya di catteringnya. Setelah saya diterima kerja saya hanya membuaynya saat ada libur kerja saja". Ucap Mira jujur.
"Pantes, adanya satu bulan sekali itu sup. Ternyata yang masak sibuk kerja toh. Aku aja kadang sampe telat loh pas mau ngeborong pasti kalau engga tinggal dua ya kosong. Kan ngeselin". Sungur Sinta dengan raut lucunya. Membuat Mira tersenyum lucu.
"Ya udah, hari ini kamu masakin saja sup itu disini. Di jamin pasti pada suka. Aku juga mau ngerasain supnya lagi Ra. Nyidam nih udah dua bulan mantengin postingannya Sanggita tapi ngga ada tuh posting sup lagi. Masakin yaaa pliiis plisss pliiss". Rayu Sinta bak anak kecil yang meminta sesuatu kepada ibunya.
"Sujud nih kalau ngga mau juga". Ancam Sinta telak membuat Mira langsung menatap Sinta horor..
"Saya akan memasakannya nona. Anda tidak perlu sampai seperti itu. Suatu kebanggaan tersendiri untuk saya pribadi karena masakan saya berkesan dihati anda nona". Ucap Mira tulus membuat Sinta bersorak senang dan langsung memeluk Mira erat.
"Ya udah yuk kita eksekusi semua bahannya. Come... Come...Come...". Seru Sinta dengan bersemangat.
Setelah sudah lewat setengah enam.Yash, Jodi, Vikram, Jio dan Ram yang telah datang menyusul pun mulai memasuki ruangan santai di lantai satu seraya bermain game.
Jodi, Yas dan Vikram bermain game adu tembak sementara Jio dan Ram bermain game pedang yang banyak darah dan pembunuhan.
Dan pada pukul tujuh Mira dan Sinta pun selesai memasak dan menyiapkan berbagai makanan berat untuk makan malam.
Ada ayam goreng madu, udang goreng tepung dan cah kangkung bikinan Sinta, Ada juga sup ayam bakso bikinan Mira. Kesemuanya tertata rapih beserta nasi satu bakul, piring plus sendok, gelas di masing-masing piring, dan aneka buah-buahan segar.
Setelah di rasa siap Sinta pun mengajak Mira untuk membersihkan diri sebab mereka sudah berkeringat ria di dapur. Awalnya Mira menolak dengan alasan tidak membawa baju ganti. Namun bukan Sinta namannya jika tidak bisa membujuk seseorang.
Dan akhirnya Mira pun menyerah. Ia pun diajak ke kamar Sinta untuk bergantian membersihkan diri dan Mira pun di kasih dres lama milik mendiang adik perempyannya yang telah tiada satu tahun lalu.
Dres itu berwarna peach dengan leher v-nek serta lengan tiga perempat yang memiliki panjang diatas lutut. Shinta yang melihatnya pun di buat terpana akan keanggunan yang ada di diri Mira. Ia pun lalu mendandani Mira dengan makeup tipis miliknya dan mengganti sepatu kerja Mira dengan sepatu wedges warna hitam yang memiliki tali di belakang kaki. Rambutnya pun dibuat sesikit bergelombang seeta parfum wangi milik mendiang adik dari Sinta.
"Perfect...Cantik banget kamu Ra ya ampun. Jadi ngga pantes deh kalau dibilang pelayan butique. Pantesnya itu Nyonya Leonard atau Latthore". Ucap Sinta menggoda membuat Mira langsung memerah.
"Saya tidak berani bermimpi setinggi itu nona. Jatuhnya sakit'. Ungkap Mira seraya mengalihkan pandangan.
"Jodoh tidak ada yang tahu Mira. Yukk kita kelantai bawah untuk makan malam". Ajak Sinta lembut membuat Mira pun langsung mengangguk.
Di ruang keluarga terdengar sangat ramai oleh suara game dan suara berisik dari jodi dan Vikram yang entah tengah berdebat apa. Membuat Sinta yang tengah berjalan mendekat dengan Mira pun menggeleng jengah.
"Dasar pria-pria tua". Lirih Sinta dengan gemas membuat Mira sedikit tersenyum lucu mendengarnya.
"Ok boy...Waktunya makan malam !". Seru Sinta layaknya anggota Militer.
"Yes maamm". Seru kelima pria itu tanpa sadar membuat Sinta langsung melotot horor.
"WHAT...Are you..Arggghh seja kapan anaku menjadi tua semua huh". Hardik Sinta dengan berkecak pinggang membuat kelimanya pun tersenyum bodoh.
Mira yang sedari tadi berada di belakang Sinta pun keluar dengan malu-malu dan berdiri di samping Sinta. Yang sukses membuat keempat pria kecuali Jodi terkaget-kaget. Vikram pun akhirnya bersiul genit dan mendekat kearah Mira dengan gaya santainya.
"WaaaW Bidadari mana yang kamu bawa ini. Manis sekali". Goda Vikram dengan berkedip genit.
"Tuan, anda jangan seperti itu". Sergah Mira mulai angkat bocara.
"Wait emmm...Kau..Mira ?". Tanya,Vikram memastikan.
Mira pun mengangguk meng iyakan.
"Oh my godes...You are very beauty sweet". Sanjung Vikram merasa tak percaya.
Yash pun di buat terpukau oleh penampilan Mira yang berbeda Itu. Ia pun diam-diam tersenyum merasa tertarik akan penampilan Mira.
"Sudah jangan di pandangi terus. Ayuk keruang makan. kita makan malam bersama. Selagi makanannya masih hangat". Ajak Sinta kepada semuanya.
Jodi pun lalu mendekat kearah sang istri lalu merangkulnya seraaya berjalan keruang makan diikuti oleh Yash, Mira, dan Vikram di belakang serta Ram dan Jio di belakang Yash dan Vikram.
Setelah itu mereka pun duduk di meja makan panjang yang berjumlah dua puluh kursi. Jodi sebagai si tuan rumah berada di ujung. Di samping kanannya ada sang istri Yaitu Sinta, ketiga anak-anak Jodi dan Sinta di temani susternya masing-masing. Jarak antara anak-anak Jodi hanyala dua tahun saja. Makannya masih diperlukan babysister untuk membantu Sinta mengurusnya.
Sementara di samping kiri Jodi ada Yash, Mira, Vikram, Ram dan Jio. Mira yang merasa canggung duduk diantara,Yash dan Vikram pun hanya menunduk diam.
"Mom, kakak itu kan yang tadi bernyanyi sangaaat bagus ?". Tanya Zello anak kedua dari yang usianya sekitar lima tahunan.
"Iya sayang. Kenapa ?". Tanya Sinta dengan lembut.
"Cantik seperti cinderella". Jawab Keysang Anak pertama Jodi dan Sinta dengan raut dingin.
Memang anak Jodi satu ini benar-benar berbeda dari Sinta dan Jodi yang terlihat riang dan ramah. Dia cenderung kalem dan datar.
Mira pun sedikit tersenyum menanggapi ucapan dari Keysang. Dalam hati ia pun membenarkan ucapan anak itu. Bahwa dirinya memang seperti Cinderella. Hidup tanpa kedua orang tua, wanita yang sederhana, bertemu dengan banyaknya pangeran, namun sayang semuanya itu hanya semu. Ada saatnya semua pasti akan meninggalkannya sendirian.
"Sayang, kamu mau lauk apa ?". Pertanyaan Sinta kepada sang suami pun berhasil membuyarkan lamunan Mira.
"Ayam goreng madu dong sayang, sama sup ayam". Ucap Jodi lembut. Sinta pun lalu mengambilkannya dengan telaten. Membuat keempat lelaki yang tengah duduk disana melihat dengan nelangsa.
Ketiga anak mereka pun jiga sama berebut untuk segera meminta diambilkan makanan setelah sang ibu selesai mengurus8 ayah mereka. Dan semua aktifitas itu mengingatkan Mira kepada keluarga kecil sang kakak perempyannya.
"Jadi rindu pulang. Kapan terakhir kali aku makan bersama seperti itu". Batin Mira nelangsa.
Begitupu dengan Yash, ia rindu kebersamaanya dengan keluarga bahagianya dulu tanpa adanya Yasmine di kehidupannya. Sementara Vikram juga merindukan kebersamaan semacam itu. Semenjak ibunya tiada diusia kecil. Suasana kebersamaaanya hilang digantikan rasa kesepian yang mendalam.
Sedangkan Jio dan Ram pun juga merasakan rindu yang sama terlebih Ram yang sedari bayi hidupnya penuh dengan kekerasan. Tiada sedikitpun ia merasakan lembutnya sesosok ibu atau betapa menyenangkannya memiliki sosok ayah.
"Mira, bisa kau ambilkan lauk untukku ?". Tanya Vikram dengan tatapan memelas.
"Bisa tuan. Anda ingin lauk apa ?". Tanya Mira lembut.
"Sepertinya sup itu terlihat enak". Ungkap Vikram seraya menunjuk sup kuah panas yang berada,di panci besar di tengah meja.
__ADS_1
Mira pun mengambilkannya di mangkup dan menaruhnya berdekatan dengan piring nasi pilik Vikram
"Segini cukup, atau mau di tambah lagi ?". Tanya Mira memastikan.
"Ck jika merasa kurang ambil sendiri saja. Tak perlu ditanyakan balik. Manja sekali". Ucap Yash menyela membuat semua orang yang berada disana berfikir masing-masing.
"Yaa aku tahu Yash kau pun ingin diambilkan juga kan. Sabar, aku dulu baru kau ok". Ucap Vikram santai yang akhirnya membuat Yash terdiam kesal.
"Oopps tidak Mira. Aku alergi udang". Ucap Vikram saat melihat Mira hendak menambahkan udang di piring nasi milik Vikram.
"Aaaa, baik lah". Ucap Mira lembut.
Merasa jika dirinya tengah diperhatikan iapun menengok kearah Yash yang sedari tadi memandangi Mira dengan tatapan membunuhnya.
Mira pun dengan sigap mengambilkan nasi untuk Yash. Setelah itu ia mengambilkan paha ayam untuk Yash juga udang goreng tepung di satu piring yang sama. Tak lupa menaruh satu mangkuk dmsedang sup ayam disamping piring beserta satu gelas air putih.
"Selamat makan tuan Yash". Ucap Mira dengan tersenyum lembut.
Membuat semua orang disana pun menerkka-nerka sejauh mana mereka berdua saling mengenal. Sebab Mira sangat tahu betul porsi pas serta makanan yang Yash suka tanpa bertanya.
"Jio dan Ram apa ingin saya ambilkan juga ?". Tanya Mira menawari.
Membuat Jio dan Ram saling pandang seketika dan lalu memandang kearah Yash. Namun dimata mereka raut wajah Yash terlihat santai menikmati makanan yang sudah ada di depan matanya. Membuat Ram dan Jio mengangguk.
"Maaf merepotkan anda nona". Ucap Jio dan Ram bersamaan. Membuat Mira tersenyum tulus lalu mengambilkan keduanya makanan seraya berdiri.
Yash yang tak sengaja melihat bagian belakang Mira pun seketika menelan bulat-bulat makanannya saat melihat kaki jenjang Mira yang terlihat putih mulus.
Dan lagi-lagi tindakan Vikram yang mengacungkan ibu jari kepada Yash seraya berkedip menggoda sukses membuat Yash menatap tajam dan melayangkan jari tengah kearah Vikram. Membuat Vikram tertawa lucu di buatnya.
Setelah selesai mengambilkan makanan untuk Jio dan Ram. Mira pun duduk kembali dan mulai mengambilkan lauk untuk dirinya sendiri. Satu mangkup sup ayam dengan cah kangkung serta sedikit udang goreng tepung.
"Kenapa tidak mengambil sayapnya. Kau suka sayap kan ?". Tanya Yash yang sedari tadi memperhatikan. Membuat Mira seketika menengok kearah Yash dengan raut terkejut.
"Nanti saja tuan, setelah saya menghabiskan supnya. kebetulan ada cekernya". Ucap Mira dengan tersenyum.
Mendengar hal itu Yash pun memakan kembali makanannya dengan khidmat.
"Supnya enak sekali sayaang. Mirip dengan sup buatan dua bersaudara. Kamu pesen atau masak sendiri ?". Tanya Jodi setelah mencicipi sup yang senaja Sinta sandingkan.
"Kalau pesan ya engga keburu kali yang. Ini buatanya Mira". Ucap Sinta jujur.
"Kok Mirip ya rasanya sama sup yang terkenal itu ?". Tanya Jodi heran.
"Ya memang. Sebab Mira lah si dua bersaudara itu sayang. Dia adiknya Mayya Sanggita. Pemilik cattering ternama itu". Ucap Sinta jujur membuat Jodi memandang Mira dengan terkejut.
"Weeh engga nyangka nih. Pasienku ternyata seorang pemasak terbaik". Puji Jodi kepada Mira.
"Saya hanya membantu saja tuan. Masakan saya masih kalah enak dengan chef terkenal di dunia".Ucap Mira dengan bercanda. Membuat Jodi dan Sinta pun tertawa lucu.
"Kau ini...". Ucap Jodi dengan gemas.
Sementara Yash hanya tersrnyum saja tanpa ada raut terkejut. Memang dalam hal ini ia sudah tahu lebih dulu.
"Ekhem...Sudah cantik, pintar memasak, bersuara emas, pintar menari. Hmmmm paket complit buat dijadikan seorang istri idama". Ucap Vikram dengan berkedip genit kepa Mira. Membuat Mira menjadi tersenyum canggung.
"Tetapi saya hanya seorang wanita yang sederhana tuan. Saya tidak pintar dan cerdas, saya juga tidak berpendidikan tinggi, juga tida memiliki darah biru". Ucap Mira telak membuat Vikram melirik kearah Yash seraya tersenyum.
"Tetapi cinta seorang laki-laki tidak akan memandannya demikian Mira. Yang ia butuhkan hanyalah seberapa sanggupkah kau berada disisinya dan menerimanya tanpa memandangya apa dan siapa. Mereka hanya ingin ketulusan". Ucap Yash seraya melihat Mira dalam.
"Seperti hanya cinta ayahku kepada mendiang kedua ibuku". Ucap Yash dalam hatinya.
"Saya mengerti tuan". Ucap Mira lembut seraya menggenggam tangan Yash di atas pahanya Yash tanpa sadar. Membuat Yash sedikit tersentak namun menormalkan kembali ekspresinya lalu tersenyum tulus kepada Mira.
Semuanya pun akhirnya menikmati makan malam dengan khitmat dan tenang. Tak jarang sebuah gurauan pun mereka layangkan untuk mencairkan suasana.
Selepas itu, sesuai dengan ucapan dari Sinta. Mereka semua kecuali ketiga anak Jod. Diboyong kearah balkon vila Jodi Yang di mana terdapat tempat duduk santai dan berbagai alat musik. Di temani angin malam yang menusuk juga banyaknya minuman hangat serta cemilan ringan di sana.
"Ok jadi Mira, disini kita akan berlatih menari. Ada tiga sesi menari dan durasinya antara lima sampai sepuluh menit. Ada Dansa, tarian eksotis dan yang terakhir adalah tarian penutup". Ucap Vikram memulai mengarahkan informasi kepada Mira.
"Untuk dansanya sendiri menggunakan musik piano. Ammm...Kau tahu kan lagu bollywood kuch kuch hota hai ?". Tanya Vikram memastikan.
"Tentu". Jawab Mira dengan mantap.
"Bagus, kita akan menggunakan musik itu. Namun disini musiknya kebanyakan dari piano. Nanti kau dan aku menari di sorot oleh lampu putih di kegelapan. Jadi kau harys benar-benar jeki ok". Ucap Vikram memperingati membuat Mira nenganggup mengerti.
"Ayo kita mulai. Ram nyalaka musiknya". Titak Vikram kepada,Ram asisten pribadinya.
"Baik tuan". Ucap Ram dan berlalu kearah piano di depan.
"Ram yang akan mengiringi musiknya ?". Tanya Mira terkejut.
"Yapp dia itu pianis hebat sweety". Ucap Vikram begitu dekat di telinga Mira.
Musik pun mulai berbunyi dan Mira pun dibuat terpana,akan alunan musik yang Ram mainkan.
"Bayangkan saja Mira. Kau adalah seorang cinderella yang tengah berdansa dengan seorang pangeran. Pangeran impuan mu".
Ucap Vikram begitu dekat pada sisi telinga kanan Mira dan lalu mulai merayapi perut rata Mira lalu memutar tubuh Mira menghadapnya dan mulai lah Vikram dan Mira berdansa.
Memang di setiap dansa yang mereka lakukan tidak selalunya berjalan mulus. Kadang kaki Mira menginjak kaki Vikram. Kadang pula Mira tidak fokus dan berakhir hampir jatuh Dan latihan itu mereka kerjakan selama dua jam dengan beristirahat di beberapa kali.
"Ahhh baiklah. Malam ini cukup dulu latihannya. Untuk Dansanya kita sudah benar-benar bisa menguasainya. Dan untuk tarian erotis dan tarian penutupnya nanti aku kirim kan beberapa di emailmu. Pilih dan peragakan dulu ya. Setelah dua hari kita bertemu lagi dis8ni untuk berlatih. Kita hanya memiliki waktu satu minggu untuk ini. Semoga kita,bisa ya". Ungkap Vikram dengan bersemangat.
"Ya, semoga tuan". Ucap Mira,menyemangati.
"Hhhhh...Kau ini Vik. Seperti akan melakukan perlombaan saja. Kasian tuh anak orang kamu buat capek". Ucap Sinta dengan sedikit ketus.
"Yaah, mau gimana lagi Sin. Totalitas tanpa batas. Aku ingin semuanya sempurna". Ucap Vikram dengan berapi-apik.
"Terserah kamu lah Vik. Engga,ada,yang dapat menebak jalan fikiranmu. Suka-suka mu saja lah". Ucap Sinta menyerah.
"Kalau begitu, aku dan Mira pamit pulang dulu. Sudah sangat larut". Ucap Yash seraya berdiri disusul dengan Mira dan Jio.
"Hati-hati dijalan ya". Ucap Sintan dan Jodi berbarengan. Membuat Yash dan Mira mengangguk secara bersamaan.
Dan mereka pun beranjak pergi keluar dari vila Jodi dan mulai masuk kedalam mobil yang telah standbye di depan.
Di dalam mobil Yash yang tengah duduk di sebelah Mira yang tengah duduk bersender pun mulai mengerti jika Mira tengah merasa kelelahan.
"Julurkan kedua kakimu kemari". Titah Yash kepada Mira seraya menepuk pahanya.
"Untuk apa tuan ?". Tanya Mira heran.
"Julukan saja". Titah Yash sedikit memaksamembuat Mira menjulurkannya dengan ragu-ragu.
Setelah itu Yash pun langsung melepas weddges hills dari kaki Mira. Dan terlihatlah telapak kaki Mira,yang sedikit membengkak.
Yash pun mengeluarka fresscare dari saku jasnya dan mengoleskannya,kekaki Mira,lalu sedikit memijatnya dengan pelan.
Mira yang memang benar-benar merasa tidak enak pada kakinya itu pun seketika melenguh merasakan pijatan tangan Yash pada kedua kakinya dengan mata terpejam.
Dan tanpa sadar pun Mira malah tertidur sebab terlalu menikmati pijatan dari Yash yang membuat Yash tersenyum senang. Setidaknya apa yang ia lakukan dapat mengurangi rasa bersalahnya.
Dan seperti biasa saat Mira sudah tertidu. Suda dipastikan jika Yash kembali menggendong Mira ke dalam kamarnya dan membaringkannya di sana.
"Sepertinya menggendong mu adalah aktifitas yang akan ku lakukan setiap kita bertemu. Selamat malam Mira. Mimpi indah dan tidur yang nyenyak".
CUP
__ADS_1
Kecup Yash dengan lembut di kening Mira dan lalu pergi meninggalkannya di dalam kamar untuk bermaitan pulang kepada Mayya yang kala itu terbangun membukakan pintu untuk Yash dan Mira.