Luluh

Luluh
makan keluarga


__ADS_3

" Loh, kok sendirian Nak Rama? Yannanya mana?" Tanya Ibu Yanna, melihat Rama yang sudah duduk bersila di samping Sigit dan Naufal. mengacak rambut Naufal dengan gemas.


" Yanna sedang di kamar mandi buk." jawab Rama, tersenyum ramah dengan dengan para sanak saudara ibu Yanna. Ikut berkumpul untuk makan malam bersama sebelum pulang, dan ingin berkenalan dengan suami baru Yanna.


Sungguh di kagumi suami baru Yanna, sudah tampan di tambah kaya lagi. komplit sudah pada diri pria ini dan beruntung sekali Yanna janda satu anak di persunting pria kaya dari kota.


Sanak saudara ibu Yanna yang mempunyai anak perempuanpun rasanya juga sangat ingin mempunya menantu seperti suami Yanna.


" Mas Rama, berapa saudara?" Tanya saudara perempuan ibu Yanna.


Rama hanya tersenyun simpul. " dua saudara. Saya anak bungsu." Jawab Rama.


" Oh, berarti punya Mas to. Masnya mas Rama tadi yang mana?" Tanyanya lagi.


" Ada di jakarta buk, masih ada pekerjaan yang belum selesai, jadi enggak bisa datang." Jawab Rama.


" Masnya sudah menikah?" Tanya lagi.


" Iya, sudah." Jawab datar Rama.


Bohong bila gak bisa datang, bukan tidak bisa datang. Tapi Rama tidak mengundangnya dan tidak juga pernah berkomunikasi dengan kakaknya. Hubungan antara kakak dan adik sangatlah renggang, dan bisa di artikan tidak seperti saudara kandung pada umumnya. Rama pun seperti tidak ingin lagi menganggapnya kakak. Tapi bila di tanya, ia akan menjawab seperi tadi ' dua saudara', tinggal di jakarta, ada pekerjaan dan sudah menikah.


Entah menikah dengan wanita siapa.


Rama sudah tidak peduli, selama enam tahun ini dengan saudara. Dan rasanya Rama sudah menutup mata serta telinga untuk tak mendengar kabar dia dari siapapun meskipun itu dari bibir mamanya sendiri.


Muak, kecewa dan masih marah dengan saudara itu. Yang membuat dirinya benar-benar menutup hati dan belajar untuk menerima keadaan meskipun sebenarnya itu masih berat di terima. Semuanya tidak bisa di sesali dan semua itu memang sudah takdir Tuhan yang sulit untuk di tebak.


" Yang tadi panggil kamu papa, itu siapa Mas Rama?" Tanya kembali saudara ibu yanna yang satunya.


" Makan dulu? Tanyanya nanti-nanti, Kayak gak ada waktu saja." Tegur Ibu Yanna, membuat para saudara ibu Yanna diam. Dan mulai mengambil piring untuk di isi nasi dan juga lauk makanan begitu banyak.


" Nak Rama ayo makan?" Ajak ibu.


" Nanti saja buk, saya nunggu Yanna." Jawab Rama.


" Yanna ini sudah tau suaminya belum makan, kok malah di tinggal mandi." Gumam Ibu Yanna, menggelengkan kepala melihat putrinya yang baru menikah sudah membuat kesalahan.


" Naufal sudah makan belum." Tanyanya pada Naufal.


" Belum." Jawab Naufal.

__ADS_1


" Mau makan? Om suapin ya." tawar Rama.


" Kok om? Harusnya kan panggil papa." Protes saudara ibu Yanna.


" Masih pendekatan budhe, nanti kalau sudah tau Naufal pasti manggilnya papa." Bela Sigit, sedangkan Rama hanya tersenyum.


" Mau makan Om." Pinta Naufal, membuat Rama mengangguk.


" Mau lauk apa?" Tanya Rama, awal pendekatan pada putra Yanna. Ya, meskipun Naufal merasa belum sedikit nyaman dengan kehadirannya. Tapi anak ini tau tentang menghormati orang tua, seperti dirinya.


" Soto daging aja." Jawab Naufal.


" Makan ndiri om." Imbuhnya, Rama tidak bisa memaksa. Menaruh piring nasi di depan Naufal dan sekali-kali membenarkan makanan naufal yang sedikit berantakan.


" Kebiasaan mandinya lama." Gerutu Ibu, melihat Yanna sudah segar dan menghampirinya


" Rambutku kaku buk, mangkanya kramasnya lama." Jawab Yanna, duduk di samping Rama yang sabar menemani putranya makan sedikit berantakan.


" Ambilkan suami kamu makan, dia belum makan nunggu kamu soalnya." Kata ibu.


" Makan Mas." Tawar Yanna.


" Iya." Jawab Rama tersenyum menatap istrinya yang cantik dan wangi sampo.


" Soto saja kayak naufal." Ucap Rama. " Kamu enggak makan." Imbuhnya, setelah mengambil piring di tangan Yanna.


" Gak perlu di tawarin, mbak Yanna pasti makan mas. Kan itu doyan makan. Siap nyetok dua karung beras mas di rumah." Kata Sigit. Yanna yang mendengar hanya bisa berdecak sebal.


Mana ada dirinya makan begitu rakus, apa lagi sampai menghabiskan dua beras karung dalam sebulan. Ya, kecuali kalau penghuni rumah banyak. Dirinya pasti percaya, lagian makan sedikit rakus juga kalau pulang ke rumah ibunya sebulan sekali. Itu pun juga kangen masakan ibunya. Yanna pastinya akan menambah makan, sehari bisa lima sampai enam piring. Tapi tubuh tak pernah gemuk meskipun makan banyak.


" Gak pa-pa mbak kamu suka makan banyak, yang penting mbak kamu gak kelaparan. makan kenyang, hati senang." Jawab Rama. Membuat Yanna yang di bela suaminya merasa senang dan menjulurkan lidahnya ke arah Sigit.


Yanna yang mengingat tentang dua sapi untuk Naufal, mencubit lengan Sigit sampai sigit mengaduh kesakitan.


" Sakit mbak?" Ringis Sigit, mengusap lengannya dengan cemburut.


" Buk! Mbak Yanna loh!" Adu Sigit pada ibu yang menggelengkan kepala menatap anak-anaknya selalu saja jail.


" Kamu ngajarin apa sama Naufal?" Tanya sengit Yanna. tidak mempedulikan saudara dan suaminya sekarang.


Sigit pastinya akan menghindar bila dirinya teringat kembali akan dua sapi pemberian Rama. Dan ini kesempatannya untuk memarahi Sigit.

__ADS_1


" Ngajarin apa? Ya ngajarin biasanya, jadi anak yang baik. gak boleh nakal." Jawab Sigit.


" Naufal?" Sapa Yanna lembut menatap putranya di samping Rama.


" Ya Ma?"


" Siapa yang ngajarin Naufal minta sapi sama Papa Rama." Tanya Yanna. Sigit melebarkan mata mendengar pertanyaan Yanna pada Naufal.


" Yanna?" Tegur Rama.


" Sebentar mas." Sela Yanna, membuat Rama sedikit meremas lutut istri yang rasanya tak perlu untuk di tanya soal sapi pada Naufal, apa lagi di hadapan semua orang. Karena bukan Naufal yang meminta, tapi dirinyalah yang inisiatif membelikannya sendiri.


Apa salah memberikan hadiah yang di inginkan anak lelaki yang sekarang menjadi putranya. Tidak salahkan, karena Rama juga ingin adil untuk dua anaknya.


Seakan tidak peduli dengan tangan Rama yang meremas lututnya. Yanna masih menatap putranya yang mulai diam menunduk takut karena tatapan mamanya.


" Maaf Ma?" Ucap Naufal, tanpa mau menyalahkan Omnya. Karena sepenuhnya juga bukan salah Omnya.


" Minta maaf kenapa Nak? Naufal kan gak salah, Om kan memang ingin belikan Naufal sapi. Biar Naufal bisa belajar ternak sapi perah nanti sama emak." Kata Rama, mengangkat tubuh Naufal untuk di duduk di pangkuannya dan menenangkan Naufal yang merasa bersalah.


" Yan?" Tegur Rama lagi, membuat Yanna mendesah berat dan kembali melayangkan pukulan di lengan Sigit yang meringis karena salah juga.


" Makan lagi ya?" Pinta Rama lembut, membuat Naufal mengangguk.


Pemandangan yang sangat terharu untuk di lihat. Begitu sabar, perhatian dan sayangnya suami baru Yanna pada anak tirinya. Pandangan itu juga tidak luput dari Ibu Yanna, Yanna dan Sigit yang melihat Rama menyuapi Naufal hingga meninggalkan makanannya yang masih banyak.


" Biar aku saja Mas yang nyuapi Naufal. Mas makan saja."


" Sedikit lagi Naufal sudah habis. baru aku lanjut makan. Kamu makan, dari tadi belum makan nanti sakit." Ucap Rama, tersenyum ke arah Yanna.


Di perhatikan kecil seperti itu siapa yang tidak terenyuh dan malu di dengar semua saudara. Senua yang melihat pun tersenyum mengarah Yanna dan Rama.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Maaf terlambat up.🙏🙏


__ADS_2