Luluh

Luluh
gagal


__ADS_3

Pov. Author.


Selepas teman-teman Yanna dari kota berpamitan pulang dan tak lupa memberikan amplop putih yang sudah di isi uang tentunya, serta bingkisan sedikit besar hasil berpatungan dari tiga sahabat laknatnya. Dan amplop coklat sedikit tebal dari Mantan atasannya.


Bukankah undangan pernikahan, identik dengan amplop putih berisi uang. Dan tentunya akan di buka keesokan hari, serta mencatat siapa saja yang memberikan amplop putih beserta jumlah uangnya.


Anggap saja, untuk balik modal. Kalau tidak balik modal bukan rejekinya.


Rama yang sudah sangat gerah, memilih untuk mandi. Di antar Yanna, yang belum tau di mana tempat kamar mandi. Masih ada sebagian para saudara Yanna ada di rumah, dan ingin melihat suami baru Yanna.


Tampan dan tinggi.


Sopan.


Itulah lontaran para sanak saudara Yanna, Yanna yang sama gerahnya pun mulai melepaskan sanggul di kepala, mulai menghapus make up dengan pembersih wajah dan mulai melepas kebaya yang membuatnya sedikit sulit bergerak.


Di saat bersamaan Yanna sudah melepas kebaya serta roknya, meninggalkan tank top putih dan celana hot pans melekat di tubuhnya. Yanna tersentak kecil kala pintu kamar terbuka, dan memperlihatkan Rama masuk ke dalam hingga menutupnya dengan cepat.


Sudah sah, tapi masih saja tetap canggung.


" Kalau mau ganti baju jangan lupa di kunci Yan?" Tegur halus Rama.


Bukan lupa, hanya saja sudah terbiasa bila kamarnya tak pernah di kunci. Meskipun dirinya sedang berganti pakaian. Toh, siapa juga yang akan masuk ke dalam kamarnya sebelum mengetuk pintu dulu.


Tapi ini, Rama? Yanna sangat melupakan bila ada suami barunya yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu di saat dirinya sedang melepas pakaian.


" Ketuk kamarnya dulu mas kalau masuk." Tegur Yanna kembali, merasa dirinya tidak salah.


Bukan tidak mau di salahkan, hanya saja dirinya memang sudah terbiasa di rumah, tidak mengunci pintu kecuali bila di kost. Ia pasti akan mengunci pintu meskipun dirinya tidak melakukan apapun di dalam kamar kost.


" Kan ini kamar istriku, masak aku harus ketuk pintu dulu?" Jawab Rama, membuang baju dan handuk di atas kasur. Menarik tangan Yanna yang akan memakai daster rumahan untuk menutupi tubuhnya, yang di rasa sangat malu kala di lihat Rama seperti itu.

__ADS_1


" Mas!" Pekik Yanna. menahan ke dua tangannya yang hampir menumbruk di dada Rama.


Melingkarkan ke dua tangan di pinggang Yanna, tatapan menggoda kala melihat dada setengah menyembul ke atas. Belahan yang begitu mulus, membuat dirinya merasa ingin menerkamnya.


" Lepas Mas, aku belum mandi?" Ucap Yanna, merasa dirinya tidak nyaman di tatap suaminya seperti tidak sabar.


" Gak bau keringat, masih harum malahan." Jawab Rama, menekan pinggang Yanna semakin merapat ke tubuhnya. Hingga Yanna merasakan jantung Rama berdebar sama seperti dirinya.


" Harum gimana, orang dari tadi pagi belum mandi." Jawab Yanna, menggigit bibir bawah seakan takut untuk melihat Rama dan semakin menekan dada Rama agar tidak terlalu menyentuh dadanya.


Sungguh ini bukan saatnya. Di kala Rama sudah mandi harum sabun mandi, dirinya masih kucel dan bau keringat yang menempel. Kesannya seperti tidak memberikan pelayanan yang baik saat malam pertama.


" Mas belum makan, aku ambilin makan dulu ya." Ucap Yanna, mencoba bernegosiasi agar bisa terlepas dari tatapan Rama dan pelukan yang semakin mengetat.


" Kalau masih belum lapar."


" Dari tadi siang belum makan."


Menyatukan bibir, memberikan gigitan kecil agar Yanna membuka bibirnya. Tidak sulit untuk Yanna memahami, Yanna membuka celah untuk Rama memulai permainan lid*h. Saling mencicipi, saling meresap dan saling Membelit.


Tangan Rama, Semakin menekan punggung Yanna tanpa mau melepaskan ciuman. menurunkan ke dua tangan Yanna agar tali tank top tidak lagi bertanggar di bahu Yanna dan membuat tank top berhasil turun hingga ke bawah perut Yanna. mengusap punggung kuning langsat yang sudah mulai memabukkan pikirannya.


Seakan terbuai dengan usapan lembut Rama, Yanna tanpa sadar mengerang, kembali mencengkram kaos Rama sensasi-sensari panas mulai merasuki tubuhnya. menikmati sentuhan tangan yang menggerilya belakang telinga dan juga punggung yang sudah tidak lagi penutup punggungnya.


Mata mulai berkabut, melepas sejenak untuk mengambil nafas dan kembali lagi mengulang manisnya bibir. Dengan Rama yang kembali berani menyentuh gundukan yang masih tertutup dan hanya menyisahkan setengah gundukan kulit yang mulus.


Kenyal dan pas di tangan, Yanna yang sudah mabuk kepayang akan remes*n lembut di gunduknya, kaki pun seakan lemas untuk berpijak. Rama menahan tubuhnya, menggendongnya seperti anak kecil, ke dua tangan Yanna berpindah melingkar di leher Rama. duduk di pinggiran ranjang tanpa mau melepas pagutannya dengan Yanna berada di atas pangkuanya sekarang. Saling berhadapan, tubuh semakin merapat dan saling menatap mata dalam cium*n yang panjang.


Ciuman terlepas, berganti di leher jenjang yang sedari tadi Rama usap. Mengec*p leher Yanna yang mendongak, merasakan dada naik turun dengan nafas setengah terengah dan ******* kecil keluar dari bibir istrinya.


Semakin merapat, Yanna sedikit meremas rambut belakang Rama. Seakan dirinya tak tahan dengan perlakuan Rama yang memabukkan.

__ADS_1


Beralih mencium dua gundukan yang masih setengah menyembul, menci*mi di sana. Memberikan sedikit hisap*n membuat jejak cinta yang hanya perlu di lihat dirinya dan Yanna saja. punggung begitu tegak, sedikit menekan kepala Rama, seakan dirinya meminta untuk lebih dari ini.


" Yan?" Serak Rama, menatap sayu mata sama hasratnya dengannya.


" Ak-," Belum sempat Rama mengucap kembali, suara ketukan pintu kembali terdengar. hingga tatapan mereka beralih ke pintu yang masih tertutup


" Mbak!! Di tunggu paklek sama ibu di depan. Suruh makan katanya. Cepetan!!" Teriak Sigit. Membuat Rama yang tadinya sudah semangat, kini terlihat lesu dan menyandarkan kepalanya di bahu Yanna.


" Gagal lagi." Gumam Rama, terlihat tak semangat lagi kala gangguan iklan di saat semangat-semangatnya berdua dengan Yanna.


Bila di ganggu begini terus menerus, ia akan pastikan akan membawa Yanna ke hotel saja berdua. Agar tidak ada gangguan lagi di saat seperti ini.


" Sabar ya." Ucap Yanna, menahan tawa melihat frustasinya Rama.


" Saudara- saudara ibu akan menginap di sini." Tanya Rama kembali mendongak menatap istrinya yang masih di pangkuannya.


" Enggak, nanti juga pulang kalau sudah selesai semua. Kenapa?"


" Gak apa-apa, berharap saja gak di ajak begadang sama pak lek." Jawab Rama, kembali membenamkan wajahnya di gundukan Yanna.


" Mas!" Pekik Yanna, sedikit melupakan di posisinya saat ini. dimana dirinya takut Rama mengulanginya saat ibu, paklek, dan kerabat ibu berkumpul untuk makan malam bersama.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2