Luluh

Luluh
Episode 62


__ADS_3

Hari ini Mira mendapat libur kerja selama empat hari. Sebab ia telah bekerja dengan baik di butique. Maka dengan itu menejer Mo pun memberikan cuti empat hari. Dua hari cuti biasa dan dua hari lagi cuti bonus.


Seperti biasa di pagi hari Mira sudah sibuk d dapur membuat sarapan pagi untuk semua orang yang berada di rumah yang Mira tempati.


"Pagi Ra". Sapa Royan yang sepertinya baru selesai olahraga.


"Pagi kak". Ucap Mira menyapa balik.


Royan pun duduk di meja makan dengan melenguh lelah. Ia pun lalu mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dan mulai membuka ponselnya.


Mira yang masih sibuk di depan kompor pun sesekali melihat kearah sang kakak ipar yang terlihat serius dengan ponselnya.


"Tumben bukan game". Lirih Mira yang sedikit mengintip ponsel sang kakak iparnya.


Royan pun kemudian beranjak dari kursinya menuju kulkas dan mengambil kotak susu yang khusus untuk pria. Ia lalu membuatnya dengan santai seraya menggerakan lehernya kekanan dan kekiri merasa pegal.


" Nanti buatin kakak sarapan roti gandum dengan selai alpukat ya Ra. Biasa kan? ". Pinta Royan kepada sang adik iparnya.


" Bisa kak. kak Roy mau program diet lagi ? ".


Tanya Mira penasaran. sebab dulu sebelum ada frans Ayubia. Sarapan pagi Royan pasti selalu roti gandum dengan selai alpukat yang di kocok.


Royan pun mengangguk membenarkan pertanyaan Mira seraya meminum susu coklat khusus pria itu dengan berjalan ke meja makan dan mendudukan dirinya di kursi makan.


Mira pun sedikit heran akan sang kakak iparnya itu. Ada sedikit perubahan yang di lakukan sang kakak iparnya itu. Namun seolah enggan berfikir yang tidak baik. Mira pun mengenyahkan pikiran buruknya dan mulai berkutat lagi.


Selang lima belas menit sarapan yang Mira buat pun sudah tersaji di meja makan. Bekal dan tempat minum untuk kedua keponakannya pun sudah ia siapkan.


"Kak, sarapannya sudah siap. Aku mau ke kamar Lili ya. Bantuin dia rapih-rapih". Ucap Mira meminta izin kepada sang kakak ipar yang masih setia berada di kursi makan yang tengah fokus dengan ponselnya.


"Iya Ra, makasih ya sudah mau repot ngurusin keluarga kakak". Ucap Royan mengangguk mengizinkan sekaligus berterima kasih.


"Engga apa kok kak. Aku malah seneng ngelakuinnya. Keluarga lebih penting". Ucap Mira dengan tersenyum ikhlas. Dan Royan pun ikut tersenyum juga.


Mira pun lalu berjalan kearah kamar Lili untuk mengecek apakah ia sudah rapih atau belum. Dan saat sudah berada di kamar kamar Lili, putri bungsu Royan dan Maya. Mira pun tersenyum lembut saat melihat sang keponakan sudah rapih dengan seragam sekolahnya. Hanya rambutnya yang masih belum tertata.


"Pagi Lili". Sapa Mira lembut.


" Pagi juga kak". Sapa balik Lili dan berlari kearah Mira lalu mengecup kedua pipi Mira dengan sayang.


"Udah rapih Li, tinggal rambutnya yang belum rapih. Mau tante bantu engga ?". Tanya Mira menawarkan.


"Mau kak. Kepang kaya princess elsa ya". Ucap Lili meminta.


"Boleh, sini tante kepangin rambutnya". Ucap Mira dengan semangat.


Selang sepuluh menit Mira pun selesai merapihkan rambut Lili dengan di kepang ala princess elsa. Dan langsung mengajak Lili untuk sarapan pagi.


Ternyata di meja makan sudah ada Frans dan Maya yang tengah duduk diam dengan aktifitas masing-masing pada ponselnya. Maya dengan pakaian kerjanya yang casual sementara Frans dengan seragam sekolahnya.


"Pagi mah, kak". Ucap Lili seraya mengecup pipi Maya dan Frans secara bergantian.


"Pagi juga Li, tante Mira". Sapa balik Frans.


Tak lama Royan pun ikut bergabung dan sudah rapih dengan pakaian kantornya yang formal. Namun sedikit berbeda dari penampilannya yang terlihat seperti pada biasanya.


" Pagi semua". Ucap Royan dengan ramah.


"Pagi pah". Sapa balik Frans dan Lili.


" Pagi kak". Sapa balik Mira.


"Pagi Mas". Ucap Maya dengan cuek tanpa melihat kearah sang suami seraya mengoleskan selai kacang di roti tawar.


Mira pun sedikit sedih akan hubungan kakaknya dengan kakak iparnya yang terlihat semakin renggang. Biasanya Royan tidak akan lupa untuk mencium kening Maya dan pipi Maya dengan gemas dan sedikit bersendau gurau. Namun kali ini keduanya seolah asing.


" Hari ini cuti Ra ? ". Tanya Maya membuka suara.


" Iya kak. Dapet bonus dua hari. Jadi empat hari cuti kerjanya". Ucap Mira memberi tahu.


"Kapan mau mulai kencan lagi. Masih ada enam orang lagi loh. Reino juga bertanya terus ke kakak". Ucap Maya sedikit mengingatkan.


" Hari ini kak, mumpung ada cuti dan cuti bonus". Ucap Mira memberi tahu. Membuat Maya langsung berbinar senang.


"Mau kakak bantu engga buat dandannya. Harus cantik ya, jangan buat mereka kecewa". Ucap Maya antusias.


"Engga lah kak, Mira bisa ko sendiri". Tolak Mira lembut.


Maya pun sedikit mengernyit saat Royan tidak ikut bicara atau sekedar menyindirnya akan Mira. Malah Royan terlihat santai dan tidak perduli.


" Sarapan roti gandum Mas. Tumben banget". Ucap Maya yang menyadari menu sarapan Royan yang kembali seperti dulu.


"Ya". Ucap Royan singkat membuat Maya sedikit merengut.


" Jadi hari ini kencan sama siapa Ra ?". Tanya Maya antusias.


"Sama tuan Reino Osaka nanti di jam tujuh kak di tempat giym dia buat giym bareng. dan tuan Ardiansyah Fernando di jam makan siang kak". Ucap Mira memberi tahu.


" Tumben udah atur jadwal. Emang udah saling konfirmasi ? ".Tanya Maya heran.


" Udah kak". Ucap Mira santai seraya memakan salad sayurnya.


"Hmm bagus deh. Semoga kencannya lancar ya. Engga ada masalah apa pun sama kejadian apa pun". Uacap Maya yang berharap.


" Iya kak. Semoga saja". Ucap Mira santai.


Dering ponsel Royan pun berbunyi menandakan ada telefon masuk di ponselnya. Royan pun langsung mengangkatnya dengan tersenyum senang.


"Ya fan.... Oh kamu udah di bandara. Ya udah nanti aku jemput. Lagi sarapan dulu sama keluarga. Kamu sudah sarapan belum ? ". Tanya Royan dengan lembut pada seseorang yang menelfonya. Membuat Maya sedikit penasaran akan seseorang yang di sebut Fan itu.


" Ya udah aku siap-siap nih. Tunggu ya, yuk see you". Ucap Royan mengakhiri percakapan pada ponselnya.


"Siapa Mas ? ". Tanya Maya penasaran.


" Fanya Ghiselda. Anaknya tante Erna sahabatnya mamah. Ya udah aku mau jemput dulu ya. Frans, Lili mau ikut bareng papah atau nungguin bus sekolah ? ". Tanya Royan kepada kedua anaknya.


" Bareng pah,. Lagi males nunggu soalnya". Ucap Frans dan diangguki oleh Lili.


"Ya udah yuk berangkat". Ajak Royan kepada kedua anaknya.


Frans dan Lili pun akhirnya bersiap. Tak lupa sebelum pergi merekapun mencium tangan kanan Maya dan Mira dengan bergantian. Lalu pergi bersama meninggalkan Maya yang terdiam mematung.


" Kak, kenapa ? ". Tanya Mira yang menyadari keterdiaman Maya.


" Engga apa Ra. Kakak berangkat ya udah siang juga jalanan macet. Semoga kencannya lancar. See you Mira". Ucap Maya dan beranjak pergi.


"See you kak". Ucap Mira balik.


" Fanya Ghiselda". Lirih Mira seeaya mengernyit. Seperti nama yang tak asing bagi Mira. Namun seolah enggan berfikir buruk ia pun mulai beberes memberesksn meja makan lalu pergi untuk bersiap.


Dengan jaket huddie warna hitam, dalaman baju oblong polos warna merah maron dan celana trening lejing warna hitam, juga tas gendong kecil warna hitam serta rambut dikuncir kuda dan sepatu olahraga warna putih bercorak hitam. Mira pun mulai berangkat menuju ke rumah giym milik Reino Osaka.


"Lapor tuan, pagi ini nona Mira tengah menuju ke rumah giym milih Reino Osaka untuk olahraga pagi sekaligus berkencan". Ucap Roni pada pesan suara yang ia kirim untuk tuan mudanya itu. Lalu mulai mengikuti Mira diam-diam.


Sesampainya di tempat tujuan. Mira pun sudah ditunggu di depan pintu oleh Reino. Dengan tersenyum ramah Reino pun menghampiri Mira.


" Mira". Sapa Reino dengan tersenyum.


Mira pun tersenyum ramah dan keduanya saling berjabat tangan.


"Akhirnya kita bisa ketemu juga". Ucap Reino senang. Dan Mira pun hanya tersenyum dan mengangguk membenarkan ucapan Reino.


"Emmm, kamu udah sarapan. ?". Tanya Reino memastikan.


" Udah Rei. Sebelum kesini aku sarapan bareng keluarga di rumah". Ucap Mira santai.


Terlihat Reino sangat berbinar saat Mira berbicara kepadanya. Bagi Reino suara Mira adalah candu. Sebab itu terkadang ia selalu mengirimkan banyak pesan suara agar di balas oleh Mira dengan pesan suara juga.


"Umh kalau begitu kita mulai sekarang olahraganya atau gimana ?". Tanya Reino.


"Boleh, tapi aku engga bisa olahraga yang berat-berat Rei. Kondisi tubuhku masih belum pulih sempurna". Ungkap Mira menjelaskan.


"Engga masalah ko Ra. Disini banyak ko alat olahraga yang ringan. Yah berkeringat sedikit lebih baik kan". Ucap Reino dengan sedikit kerlingan. Dan Mira pun hanya tersenyum simpul.


"Yuk masuk". Ajak Reino lembut seraya menggandeng tangan Mira masuk kedalam tempat gym.


Didalam rupanya sudah banyak yang tengah berolahraga. Mengingat jika hari ini adalah hari sabtu sudah pasti banyak yang meluangkan waktunya untuk berolahraga di akhir pekan.


"Umh rame juga". Lirih Mira sedikit canggung.


" Iya, maklum lah weekend". Ucap Reino santai.


"Mau coba yang mana ?".Tanya Reino dengan melihat kesegala arah.


Dari pertama masuk, Mira sudah tertarik dengan alat olahraga yang seperti sepeda. Namun ia sedikit canggung dengan Reino. Meskipun sikap dan perlakuannya sangat ramah dan welcome.


"Ahamm. Aku tahu. Kamu pasti mau olahraga yang itu kan". Ucap Reino menebak seraya menunjuk kearah alat olahraga yang mirip seperti sepeda.


Mira pun mengangguk membenarkan dengan malu-malu sementara Reino tertawa senang dan mencubit kedua pipi Mira dengan gemas.


"Kenapa engga bilang". Ucap Reino gemas. Dan Mira pun hanya tersenyum simpul seraya mengusap kedua pipi nya yang terasa pegal.


" Ehh sory Ra, sakit ya. Sory ya duh jangan nangis ya". Ucap Reino sedikit panik saat tahu kedua pipi Mira memerah akibat perbuatannya.


"Engga ko engga apa-apa Rei". Ucap Mira menenangkan.


" Serius nih ?". Tanya Reino memastikan dan Mira pun hanya mengangguk.


"Huff syukur deh. Ya udah yuk kita kesana". Ajak Reino kearah alat olahraga yang Mira inginkan.


Mereka pun berolahraga bersama seraya menikmati keindahan taman yang berada di bawah sana. Terkadang sesekali Reino mengajari cara berolahraga Mira yang terlihat kaku dan tak beraturan.


Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang mengawasi gerak gerik mereka dan memotret nya secara diam-diam lalu mengirimkannya ke tuannya.


"Heh.Tuan Yash pasti tengah kebakaran jenggot melihat semua ini". Lirih Roni yang kalau itu tengah melakukan penyamaran di tempat dimana Mira dan Reino berada.

__ADS_1


Reino pun dengan sengaja membuka bajunya memperlihatkan otot perutnya yang terbentuk di hadapan Mira.


"Uff engga kerasa ya udah dua jam kita olahraga. Gerah rasanya". Ucap Reino seraya tersenyum genit dan berjalan kearah depan dimana tas dan botol minumnya berada.


Reino pun meneguk minumannya dengan santai dan terlihat seksi. Banyak pasang mata para kaum hawa yang tergiur dan mencuri pandang kearah Reino. Namun Mira seolah terlihat biasa saja akan pesona seorang Reino. Dan malah lebih banyak diam memandang kearah pemandangan taman.


"Ahh, otot perut segitu sih kecil. Belom tahu saja otot perutnya tuan Yash lebih bagus dari itu". Ucap Roni dengan gerutuan. Yang orang lihat seperti tengah melakukan videocall dengan seseorang.


"Aneh, biasanya wanita mana pun pasti akan terpukau jika melihat ku seperti ini. Tapi kenapa Mira terlihat biasa saja".


Batin Reino merasa heran sekaligus penasaran akan Mira yang terlihat lain dari wanita yang sering ia kencani.


"Setelah ini mau kencan dengan siapa lagi Ra ?". Tanya Reino membuka obrolan.


" Dengan tuan Ardiansyah Fernando". Ucap Mira santai.


"Sial".Lirih Reino merasa sedikit terusik.


" Hum. Kenapa Rei ?". Tanya Mira memastikan sesuatu sebab ia seperti mendengar kata-kata yang samar.


"Engga ko. Tadi aku cuma mengeluh saja*. Ucap Reino beralasan. Mira pun hanya mengangguk saja. Tidak memerdulikan lagi perkataan Reino.


"Ardiansyah kemenakan dari marga Firmansyah. Heh, sainganku unggul juga". Batin Reino dengan simrik tengilnya.


" Mau ketemuan jam berapa Ra. Terus dimana biar aku antar nanti". Ucap Reino menawarkan.


"Jam makan siang di cafe paradise. Emm engga usah Rei rencanannya nanti Ardi yang akan menjemput". Ucap Mira menjelaskan.


" Oh udan saling komunikasi rupanya". Ucap Reino sedikit cemburu. Membuat Mira paham jika seorang Reino adalah si pencemburu.


"Iya Rei". Ucap Mira santai.


" Gimana rasanya kencan sama banyak pria ?". Tanya Reino dengan nada sesikit sinis.


"Biasa saja. Kebanyakan malah jadi masalah". Ucap Mira dengan tersenyum kecut.


"Masalah kenapa ?". Tanya Reino penasaran.


"Banyak. Engga bisa aku ceritain juga. Intinya dari semua yang aku temui banyak yang menyakiti. Banyak kejadian yang bikin aku sakit". Ucap Mira dengan tersenyum kecut.


"Sabar saja Ra. Toh engga semuanya bikin sakit. Setelah ini kamu harus lebih hati-hati lagi". Ucap Reino yang sedikit menormalkan mimik sinisnya menjadi tatapan iba. Dan Mira pun hanya tersenyum simpul lalu mengangguk.


"Satu jam lagi menuju makan siang. Mau jalan-jalan ke taman itu engga. Mumpung cuacanya mendung engga panas banget". Ucap Reino menawarkan diri.


"Boleh. Bosen juga disini. Banyak yang memperhatikan kearah kita. Terutama para wanitanya. Aku jadi risih Rei". Ucap Mira mengutarakan rasa risih nya.


" Emm bilang saja cemburu kamu". Ucap Reino menggoda.


"Engga lah buat apa cemburu. Cuma engga enak aja rasanya". Ucap Mira jujur.


" Ya udah, yuk jalan. Bentar aku pake baju dulu". Ucap Reino yang langsung mengambil bajunya dan memakainya.


Lalu mereka pun ber jalan-jalan disekitar taman dengan bercerita banyak. Lebih tepatnya Reino yang selalu bercerita. Mira hanya sebagai pendengar saja dan sesekali menimpali ucapan Reino dengan seadanya.


Saat keduanya tengah duduk di bangku taman. Ponsel Mira pun berdering. Menandakan ada panggilan masuk dari seseorang.


Mura pun mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas kecilnya dan melihatnya. Ternyata panggilan telefon dari Ardi. Mira pun melihat kearah Reino yang tengah terdiam dengan raut masam.


"Angkat saja lah. Mungkin dia sudah ada di depan". Ucap Reino mengijinkan dengan nada sedikit ketus dan seolah cemburu.


Mira pun lalu menerima panggilan telefon dari Ardi.


" Ya Ar ?". Tanya Mira menyapa Ardi yang berada di seberang telfon.


"Ck mengganggu saja. Kenapa juga waktu cepet banget rasanya". Keluh Reino dengan lirih.


" Oh aku lagi di taman dekat tempat gym Ar. Bareng Reino. Kesini saja kalau mau. Atau aku yang kesana ?". Tanya Mura memastikan.


"Lah malah disuruh kesini. Males banget". Ucap Reino dongkol.


" Oh ok deh". Ucap Mira santai dan lalu menutup panggilan telfonnya.


"Ardi mau kesini katanya. Mau mastiin kalau Reino yang bareng aku itu Reino tang dia kenal atau bukan". Hcap Mira menjelaskan. Yang malah menambah masam wajah Reino.


"Kalian berdua saling kenal ?". Tanya Mira penasaran.


"Engga kenal". Ucap Reino singkat dan sedikit jutek. Membuat Mira sedikit mengernyit bingung.


" Miranda Nur kan ?". Tanya seseorang dari balik punggung Mira.


Merasa namanya di pertanyakan. Mira pun akhirnya berbalik arah dan melihat seseorang yang menanyai namanya itu.


"Ya.. ". Ucap Mira sedikit bingung.


"Aku Ardi". Ucap seseorang itu memberi tahu.


Dan Mira pun sedikit mengernyit saat tahu jika yang dihadapannya itu Ardi. Alasanya saat Mira melihat foto Ardi dan melihat kenyataannya sungguh berbeda.


Difoto Ardi telihat rapih dan sedikit dewasa. Namun dikenyataanya. Baju yang terlihat acak-acakan, rambut yang sedikit tak beraturan, serta dasi kantor yang tidak diikat dengan rapih seakan menambah kesan badboy pada diri seorang Ardi.


Ardi pun melirik kearah Reino yang berdiri mesilangkan kedua tangan di dada dengan tatapan membunuh kearah Ardi yang tengah melihat kearah Reino dengan tatapan sinis.


"Kalian berdua udah saling kenal ya ?". Tanya Mira memastikan. Sebab dilihat dari tatapan masing-masing seolah saling mengenal sekaligus membenci.


"Engga".


" Ya".


Ucap keduanya, Ardi dan Reino dengan bersamaan membuat Mira semakin bingung akan keduanya.


"Yang benar yang mana ?". Lirih Mira dengan bingung.


" Udah lah. Udah siang laper. Mau ikut ayok engga juga engga apa". Ucap Ardi dengan nada cuek kearah Mira.


"Kan emang jadwalmya". Ucap Mira heran.


" Ya udah". Ucap Ardi dan langsung pergi meninggalkan Mira yang terbengong di tempat.


"Aku pamit ya Rei. Makasih buat waktunya". Ucap Mira berpamitan dan Reino pun hanya mengangguk santai. Mira pun lalu pergi menyusul Ardi yang sudah menunggu di dalam mobilnya.


Saat Mira sudah berada di dalam mobil. Ardi pun melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota yang ramai lancar menuju ke cafe yang telah ditentukan.


Mereka pun masuk dan duduk di meja nomor 13. Yang membuat Mira sedikit ngeri akan nomor yang terbilang sakral itu.


"Semoga tidak terjadi masalah lagi". Batin Mira berharap dan merasa was-was.


" Pesan gih. Aku ikut yang mau kamu pesan saja". Ucap Ardi memerintah.


Mira pun lalu membuka buku menu dan mulai memilih. Dan akhirnya pesanannya tertuju ke paket ayam bakar madu dengan porsi ekstra.


Setelah pesannannta di pesan dan di catat oleh sang pelayan. Terjadi keheningan diantara keduanya. Mira yang menunggu Ardi bicara duluan sedangkan Ardi yang hanyut dalam pikirannya yang tengah memikirkan banyak hal.


Tak lama pesanan yang dipesan Mira pun datang. Dan mereka pun makan siang dengan keheningan. Sesekali Ardi melihat cara makan Mira yang terlihat natural. Tidak dibuat menjaga image atau di buat sebaik mungkin. Membuat Ardi sedikit tersenyum kecil.


Selang tiga puluh menit. Makanan yang mereka makan pun habis tak tersisa. Dan baru lah Ardi mulai membuka suara.


"Kamu kenapa mau dijidohin gini. Engga laku atau gimana ?". Tanya Ardi sedikit nyelekit.


" Menuhin keinginan kak Maya". Ucap Mira jujur.


"Heh yang mau rumah tanggaan emang siapa. Kak Maya itu atau kamu ?".Tanya Ardi merasa lucu.


"Aku". Ucap Mira santai.


"Ya terus". Ucap Ardi sedikit ketus.


" Kamu sendiri kenapa mau daftar ?". Tanya Mira balik.


"Terpaksa". Ucap Ardi cuek dan singkat.


" Karena...?". Tanya Mira penasaran.


"Biasa lah ibu-ibu suka khawatir kalo putra semata wayangnya banyak teman wanita. Aku ngga bisa berkomitmen soalnya". Ucap Ardi jujur.


Mendengar ungkapan itu Mira pun hanya tersenyum maklum dan mengangguk mengerti. Membuat Ardi langsung mengernyit heran. Sebab biasanya wanita akan langsung berdebat soal komitmen. Namun Mira hanya tersenyum dan mengangguk seolah memahami dan mengerti.


"Kenapa kamu engga menghakimi saat ada laki-laki yang tidak ingin berkomitmen ?". Tanya Ardi heran.


" Untuk apa. Toh itu sudah menjadi keputusannya. Jika tidak ingin ya tinggalkan. jika ingin ya bertahan sebisa mungkin". Ucap Mira santai yang menambah rasa kagum dalam diri Ardi.


"Ardi !". Teriak seseorang dari arah samping.


Ardi dan Mira pun menoleh kearah sumber suara. Terlihat seorang wanita memakai setelan casual yang terlihat berkelas dengan dandanan yang sedikit mencolok berjalan cepat menghampiri Mira dan Ardi.


Ardi pun sedikit mengernyit bingung akan seseorang yang memanggil namanya itu. Dia sama sekali tidak ingat kepada seseorang itu.


"Siapa ?". Tanya Ardi dengan alis yang terangkat sebelah.


"Siapa kamu bilang. Kamu lupa Ar, aku Nisya Pacar kamu. Bisa-bisanya kamu tanya aku siapa". Ucap Nisya dengan raut tak percaya.


Mira yang mendengarnya pun sedikit meringis. Dalam fikirannya bertanya-tanya seberapa banyak pacar yang seorang Ardi miliki sampai-sampai ia tidak ingat kalau yang menghampirinya itu pacarnya sendiri.


Nisya pun melihat kearah Mira dengan pandangan menilai yang begitu krntara di wajah Nisya.


"Oh, jadi karena dia kamu jadi susah buat di hubungin Ar. Bahkan kamu kaya hilang dari bumi karena kamu dekat dengan dia". Ucap Nisya menuduh.


"So, kenapa memangnya". Ucap Ardi santai dan angkuh.


"Kenapa kamu bilang. Ardi aku ini pacar kamu. Kamu lupa atau pura-pura". Ucap Nisya sedikit geram.


"Lupa". Ucap Ardi singkat membuat Nisya tertihok keras di tempat.


"Ardi". Sebut seseorang lain yang datang dari arah belakang Nisya.


Dari kejauhan Roni pun tersenyum senang saat satu persatu kekasih Ardi saling bermunculan dan saling tahu masing-masing. Semua itu atas perintah tuan mudanya yang ingin menunjukan sisi buruk dari seorang Ardiansysh Fernando.

__ADS_1


" Dasar playboy cap kadal. Makan tuh pacar-pacar mu yang kamu tampung kaya ikan. Lupakan yang mana pacarmu". Ucap Roni dari kejauhan.


"Ko kamu disi Ar. Bukanya kamu lagi ada kerja di luar kota. Terus mereka berdua siapa ?". Tanya seseorang itu dengan raut bingung.


"Aku Nisya pacarnya Ardi. Kami udah satu tahun pacaran". Ucap Nisya menjelaskan.


"Apa. Jangan ngaku-ngaku ya kamu. Aku yang pacarnya Ardi. Kami bahkan udah tunangan". Ucap seseorang itu dengan menunjukan cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Jelasin Ar kamu tunangan aku kan. Kita udah jalanin ini lama. Lima tahun". Ucap seseorang itu dengan sedikit berkaca.


Kesal dengan ungkapan seseorang itu. Nista pun mendorongnya dengan kasar. Dan seseorang itu pun sedikit terhuyung ke belakang. Mira pun sedikit terkejut melihatnya dan mulai berdiri panik.


"Sudah diam !". Bentak Ardi dengan geram karena kesal. Keduanya telah mengganggunya dan membuat keributan.


"Aku tidak ada hubungan apapun lagi dengan kalian. Karena aku sudah menjalani perjodohan dengan Mira". Ucap Ardi seraya merangkul pundak Mira dengan lembut,


" Hah ?". Ucap Mira yang merasa kaget akan ucapan dan tindakan Ardi.


"Kami tengah melakukan pendekatan". Ucap Ardi lagi. Membuat kedua wanita itu melongo merasa tak Terima dan sakit hati.


" Tega kamu Ar. Lima tahun loh kita jalani hubungan. Semua udah aku beri. Kamu janji bakalan nikahi aku". Ucap seseorang itu dengan rau kecewa.


"Aku tidak ingat apa pun. Kamu siapapun aku juga engga ingat". Ucap Ardi santai. Membyat seseorang itu langsung membekap mulutnya sendiri. Merasa syok dan tak menyangka akan perkataan calon tunangannya itu.


" Aku Celine Ar, ya Tuhan. Semudah itu kamu lupa". Ucap Celine tak habis pikir.


"Ayo Ra kita pergi dari sini". Ucap Ardi seraya menggandeng tangan Mira. meninggalkan Celine dan Nisya yang terdiam di tempat.


Merasa marah dan meradang Nisya pun akhirnya menyusul Ardi dan Mira. Dengan kesal Nisya langsung saja menarik rambut Mira dan menyeretnya ke belakang. Membuat Mira mengaduh merasakan perih karena jambakan kuat dari Nisya.


"Dasar wanita muraha. Engga tahu diri kamu !". Ucap Nisya dengan marah.


" Awww. Lepas sakit". Ucap Mira yang kesakitan.


Melihat itu Atdi pun mulai melerai dan berusaha melepaskan jambakan dari Nisya. Sementara Celine pun ikut melerai karena kasihan melihat Mira.


"Lepasin dia Nis. Kamu akan menyesal nanti". Ucap Ardi dengan tatapan memperingati.


"Lepaskan. Heh tidak akan Ar. Gara-gara dia kamu jadi jauh dari aku. Kamu jadi melupakan aku dan hubungan kita !". Ucap Nisya yang langsung mendorong Mira hingga terjerembab ke lantai dan dahinya pun membentur lantai hingga sedikit berdarah.


Celin pun langsung membantu Mira untuk duduk dan mengecek keadaan Mira yang sedikit berdarah keningnya.


" Ya Tuhan. Kening mu berdarah mba". Ucap Celine panik. Mira pun memegangi pelipisnya yang terasa nyeri dan benar saja ada sedikit darah yang mengenai tangannya.


Mira pun mulai menarik nafasnya dalam-dalam mencoba untuk bersabar menanggapi sikap Nisya. Dia harus mengerti jika seseorang yang tengah cemburu bisa saja nekad.


Sementara Ardi masih memegangi Nisya yang mengamuk ingin memburu Mira. Dan dengan rasa yang emosi Ardi pun mendorong tubuh Nisya hingga jatuh terjerembab ke aspal. Membuat sikunya lecet, lututnya lecet, dan pelipisnya berdarah.


"Itu pantas kamu dapatkan sebab kamu sudah keterlaluan. Jangan pernah muncul di hadapan ku lagi atau kamu akan menyesal. Ingat itu !". Ucap Ardi membentak dan menunjuk tepat kearah wajah Nisya di akhir kalimatnya.


Membuat Nisya langsung terdiam dengan tatapan marah dan nafas memburu menahan rasa marahnya. Nisya pun menatap Ardi tajam sedangkan Ardi pun sama menatap Nisya tak kalah tajam.


Roni yang melihat dari kejauhan pun hanya bisa diam. Tanpa perintah dari Yash dia tidak bisa membantu Mira. Dia hanya bisa memantau dari kejauhan. Toh sikap Ardi sudah benar. Dia sudah membalas perlakuan Nisya lebih parah dari yang Mira rasakan.


"Jangan pernah kamu menyentuhnya. Atau sedikit saja kamu menyentuhnya kamu akan Terima akibatnya. Dan itu juga berlaku untuk kamu juga". Ucap Ardi memperingati dan menunjuk kearah Celine di akhir kalimat.


Celine pun hanya bisa mdnunduk pasrah. Dia memang sakit, hatinya penuh dengan rasa kecewa. Tetapi dia tidak bisa untuk marah dan mengamuk. Apa lagi melampiaskan amarahnya ke wanita yang bersama Ardi. Karena Celine berfikir bisa saja wanita yang bernama Mira itu korbannya Ardi yang selanjutnya.


Terlihat dari raut wajah Mira yang biasa saja tanpa amarah sedikit pun karena Ardi telah memiliki dua kekasih sekaligus membuat Celine sedikit berfikir jika memang benar Ardi dan Mira sedang menjalani perjodohan yang salah satu dari keduanya merasa enggan.


"Keterlaluan kamu Ar. Aku tidak akan pernah menerima ini. Tidak akan pernah !". Teriak Nisya dan langsung berlari pergi meninggalkan Ardi yang terdiam mematung.


Sementara Celine mengajak Mira untuk duduk di bangku cafe dan meminta pelayan cafe untuk membawakan kotak obat untuk mengobati luka bekas cakaran Nisya di lengan kiri dan luka kecil di pelipis Mira.


"Tahan ya mba. Sedikit perih soalnya". Ucap Celine lembut dan menempelkan cairan dingin di luka Mira.


Mira pun sedikit meringis kecil menahan perih. Sungguh kuku milik Nisya begitu tajam sehingga dapat menggores tangannya dengan dalam.


" Kamu engga ikut menghakimi saya ?". Tanya Mira saat melihat wajah tulus Celine.


"Kenapa harus mbak. Emang mbak salah apa?". Tanya balik Celine.


Mira pun diam tidak tahu harus menjawab apa. Sebab memang dia pun juga tidak tahu salahnya dimana. Jika di bilang merebut, toh yang mendaftar itu kan Ardi dia mana tahu jika Ardi sudah punya pacar banyak.


"Mbak engga salah. Disini yang salah Ardi. Dia memang playboy mbak. Aku sebenernya sudah tahu lama. Cuma aku cinta ke Ardi mba dan berharap dia bisa berubah dengan kesabaranku". Ucap Celine jujur.


Mira yang mendengarnya pun merasa iba ke Celine. Ketulusan cintanya tidak pernah dihargai oleh Ardi. Dan tanpa mereka sadari Atdi pun mendengar percakapan mereka berdua.


Ardi pun mengakui dalam hatinya. Celine memang wanita penyabar dia sangat tulus menghadapi sikap Ardi yang dia sadari sendiri sangat egois dan kekanakan. Celine sangat dewasa dan mudah memaafkan. Ardi menjadi merasa salah. Dia baru tahu jika Celine setulus itu kepadanya.


Ardi pun mendekat kearah Mira dan Celine seraya membawakan satu botol kecil air mineral dan menyershkannta kearah Mira.


"Minum biar enakan". Ucap Ardi kepada Mira. Ardi pun membuka segel plastik juga tutup botolnya lalu menyershkannta ke Mira.


" Makasi Ar". Ucap Mira dan mengambil botol minum itu lalu meminumnya.


Celine pun hanya bisa menunduk saat mata Ardi melihat kearahnya. Dia rasanya sudah enggan melihat kearah Ardi.


"Makasih juga ya Celine. Kamu udah obati luka aku". Ucap Mira tulus membuat Celine langsung menatap Mura lembut.


" Iya mbak, Sama-sama". Ucap Celine.


Tak berapa lama ada kendaraan online yang menghampiri Mira, Ardi, dan Celine. Dan rupanya itu Roni yang kembali menyamar menjadi supir online dengan tampilan lain.


"Maaf disini ada yang namanya mbak Mira ?". Tanya Roni dengan suara khas orang Jawa.


" Saya Mira Mas. Mas nya supir online yang saya pesan ya ?". Tanya Mira balik.


"Iya mbak betul". Ucap Roni membenarkan.


"Sebentar ya Mas". Ucap Mira meminta untuk sang supir menunggu.


"Kamu mau pulang Ra ?". Tanya Ardi memastikan. Dan Mura pun hanya mengangguk saja.


"Tadinya mau aku antar. Maaf ya udah buat kamu luka gini karena ulah Nisya". Ucap Ardi merasa tak enak. Dan Mira pun hanya tersenyum maklum.


"Iya engga apa ko. Hari apes emang engga ada di kalender soalnya". Ucap Mira sedikit melucu dan membuat Ardi dan Celine tersenyum.


"Pamit ya, selesaikan masalah kalian dengan baik. Ar Celine itu dewasa dan pengertian jangan sampai kamu menyesal nanti". Ucap Mira menasehati dan Ardi pu hanya mengangguk mengerti.


Mira pun melambaikan tangan dan memasuki mobil yang sudah di buka pintu mobilnya dengan sigap oleh Roni. Membuat Celine dan Ardi sedikit mengernyit heran akan perlakuan Roni.


Setelah mobil yang Mira tumpangi menjauh. Ardi pun mulai menghadap kearah Celin yang menunduk enggan untuk menatap Ardi. Dan saat Celine hendak beranjak pergi Ardi pun mencekal tangan Celine. Menahannya untuk tidak pergi.


"Lepasin aku Ar". Ucap Celine yang masih enggan melihat kearah Ardi.


" Mira benar, kita perlu bicara". Ucap Ardi dengan serius.


"Pergilah. Aku sudah ikhlas jika kamu mau menjalani perjodohan itu. Tetapi tolong jangan jadikan mbak Mira korban kamu yang selanjutnya". Ucap Celine dengan menahan rasa sakitnya.


" Kami hanya sebatas perkenalan. Jodoh tidaknya itu urusan Tuhan. Aku hanya tidak bisa untuk berkomitmen". Ucap Ardi dengan raut sendu.


"Dan aku sangat ingin sebuah komitmen untuk mempertegas suatu hubungan". Ucap Celine yang langsung menatap kearah Ardi.


Ardi pun tersenyum senang dan memindahkan anak rambut Celine dengan lembut ke telinga.


" Itu sudah aku lakukan". Ucap Ardi seraya mengangkat tangan kirinya yang tersemat sebuah cincin yang sama yang Celine kenakan.


Celine pun hanya terdiam membisu. Berusaha untuk menerka-nerka arah dan tujuan yang sebenarnya. Karena jujur seorang Ardi sangat sulit untuk di mengerti jalan fikirannya.


"Lalu perjodohan itu ?". Tanya Celine meminta kejelasan.


"Hanya menuruti keinginan mamah". Ucap Ardi santai dan mengulurkan tangannya kearah Celine.


"Mau engga aku kenalin ke mamah. Sudah waktunya mamah tahu". Ucap Ardi dengan tersenyum. Membuat Celine langsung berkaca-kaca dan memeluk Ardi. Keduanya pun saling berpelukan dengan rasa yang ada di hati masing-masing.


" Hhhh, Mas saya mau istirahat. Nanti tolong bangunkan kalau sudah sampai di tujuan ya". Ucap Mira meminta.


"Baik mbak". Ucap Roni dengan suara khasnya.


Mira pun lalu memejamkan matanya dan tak lama ia pun terlelap ke alam mimpinya. Terlihat raut lelah yang kentara dari wajah Mira membuat Roni sedikit merasa iba akan wanita yang dicintai oleh tuan mudanya itu.


Selang tiga puluh menit akhirnya mobil yang Mira tumpangi pun sampai di tujuan. Roni pun dengan sopan membangunkan Mira yang baru Roni ketahui sangat sulit untuk di bangunkan. Dan pantas saja dari cerita yang ia dengar dari Jio kalau tuan mudanya sering menggendong Mira masuk ke rumah kakak iparnya untuk mengantarkannta langsung ke kamar.


"Mba. Sudah sampai tujuan". Ucap Roni yang sedikit keras. Membuat Mira langsung terperanjar kaget dan bangun dari alam mimpinya.


" Umhh sampai ya Mas. Makasih ya, ini uangnya". Ucap Mira dengan suara parau.


Mira pun turu dari mobil itu dan berjalan masuk. Di dalam sudah ada Royan, Maya, Frans, dan Lili yang tengah duduk di meja makan untuk makan malam.


Saat Mira tiba dengan luka yang terlihat. Maya pun langsung menghampiri Mira dengan raut khawatir.


"Ini kenapa Ra ?". Tanya, Maya seraya menunjuk kening Mira dan juga lengan Mira.


" Kena amuk". Ucap Mira santai dan duduk di kursi makan lalu menuangkan air putih dan meminumnya.


"Sama siapa. Kenapa bisa ?". Tanya Maya bertubi-tubi.


"Bisa lah kak, orang pacarnya banyak". Ucap Mira santai.


"Siapa ?". Tanya Maya penasaran.


"Ardi kak". Ucap Mira memberi tahu. Membuat Maya terdiam di tempat.


"Mau bersih-bersih dulu ya kak gerah banget rasanya lengket juga". Ucap Mira meminta izin.


"Engga makan malem dulu Ra ?". Tanya Royan membuka suara.


"Nanti kak masih kenyang". Ucap Mira menolak dan Royan pun hanya mengangguk saja.


"Jangan sampe lupa. Kamu punya magh soalnya Ra. Sakit nanti repot. Kencan mu ketunda lagi". Ucap Maya mengingatkan dengan nada sedikit ketus.


"Iya kak. Aku keatas dulu ya". Ucap Mira santai dan berlalu kearah kamarnya.


Akhirnya makan malam di rumah itu pun berjalan dengan keheningan. Mereka tengah berfikir dengan fikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2