Luluh

Luluh
Sakitnya Nana


__ADS_3

Keputusan Rama sudah bulat, meskipun dirinya di cap sebagai anak durhaka pada ibunya. Rama tidak peduli, dan tidak akan berpengaruh dalam pikiran serta hatinya.


Memang tidak tega, tapi ini adalah pilihan. Karena hati masih terasa sakit bila harus berhadapan kembali dengan masa lalu. Dan beruntungnya, lagi-lagi mamanya mengerti. serta tidak marah padanya, ya meskipun Rama tau Mama sedikit kecewa dengan keputusannya meninggalkan rumah mamanya.


" Rumah Yanna tidak jauh dari rumah mama, masih sama satu perumahan. Cuma beda komplek saja."


" Tolong mama jangan marah sama Rama, bukan Rama tidak sayang mama. Bukan ma? Tapi dia pasti juga ingin sama mama."


" Sudah cukup mama hukum dia, dan sudah cukup mama nyimpan rindu mama dengan dia. Aku tau kalau mama juga kangen banget sama dia, pengen tinggal bareng lagi sama dia. Tapi, maaf ma. Aku gak bisa tinggal sama dia. Mama kan tau sendiri bagaimana sifatku."


" Aku memang sudah memafkannya ma? Tapi hatiku masih belum sepenuhnya sembuh. Apa lagi aku lihat Nana. Sakit ma? Sakit."


" Rama janji, tidak akan melarang Yanna pergi ke rumah mama sama Nana dan Naufal. Setiap hari, mereka akan ke rumah mama."


" Suatu saat aku akan bilang yang sebenarnya pada Nana, sebelum Nana tau terlebih dulu dari orang lain."


Lagi dan lagi, Mama Rama tidak bisa menghalangi keinginan putra bungsunya. Mama Rama mengangguk, memperbolehkan putranya hidup mandiri bersama dengan istri dan anak-anaknya. Tidak ingin memaksanya untuk bertahan, karena keras kepala putranya pasti akan tetap nekat melakukannya.


Dan ada benarnya, sudah cukup dirinya menghukum putra sulungnya. Mengirimnya jauh darinya dan tidak pernah bertemu dengan putra sulungnya selama enam tahun. Hanya lewat komunikasi telpon tanpa mau bertemu langsung.


Meskipun begitu Mama Rama masih adil dalam memberikan kasih sayang dan perhatian untuk putra sulung dan bungsunya. Ya walaupun banyak Mama Rama curahkan sayangnya pada Rama dan beralih pada Nana, cucu pertamanya yang penuh dengan tangisan.


Sore ini, mama Rama ikut ke rumah baru putra dan menantunya yang akan di tempati nanti malam. Rama sudah membawa sebagian pakaian dirinya dan Nana di rumah barunya. Dan sudah menata rapi kamar anak-anaknya di lantai dua. sedangkan kamarnya dan Yanna ada di lantai bawah. Kini untuk keperluan rumah, Rama akan menyerahkannya pada Yanna.


Rumah sederhana, jauh lebih megah dari rumah Mamanya. meskipun begitu rumah hasil jerih payahnya sangatlah nyaman.


" Nanti biar mama carikan pembantu buat kamu Yan, biar kamu gak capek." Ucap Mama, duduk di sofa ruang tamu.


" Kalau bisa gak perlu menginap Ma?" Ujar Yanna.

__ADS_1


" Kenapa?" Tanya Mama Rama mengerutkan kening.


" Aku cuma pengen jadi ibu rumah tangga Ma. Kan aku sudah enggak kerja, cuma pengen fokus sama anak-anak dan suami saja." Jawab Yanna. Dirinya tak senang harus diam diri di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun.


" Ya Sudah aku carikan ibu-ibu yang kerjanya sampai sore saja. Nyuci, setrika sama bersihkan rumah." Kata Mama Rama. " Berarti enggak perlu baby sister lagi ya." Imbuhnya.


" Enggak usah Ma? Kan sekarang sudah ada aku yang nemenin Nana sekolah nanti." Kata Yanna, membuat Mama Rama tersenyum.


" Iya, Nana katanya pengen sekolah di antar jemput mamanya. kayak teman-temannya katanya. Bisa jalan-jalan berdua juga sama mamanya." Ucap Mama Rama, mengingat ucapan cucunya dulu. Yang ingin sekali seperti teman-temannya.


" Mama mau nginap di sini?" Tanya Rama, turun dari tangga setelah mengantar anak-anaknya ke dalam kamarnya. Dan meninggalkannya di dalam kamar saat mereka mulai asyik bermain bersama.


" Mama pulang saja? Lain kali saja nginapnya." Jawab Mama. "Jangan lupakan janji kamu Ram. setiap sabtu cucu-cucu mama harus nginap di rumah mama sampai hari senin." Imbunya. Membuat Rama berdecak.


" Iya Ma?Iya." Jawab Rama, Sudah berapa kali mamanya mengingatkan akan janjinya. seakan mamanya takut dirinya mengingkari janjinya.


Sedangkan di dalam kamar lantai dua, Nana dan Naufal sedang mewarnai gambar. Dalam kediaman Nana kembali dengan wajah murungnya. Bukan karena kehadiran Naufal, bukan pula takut dengan kasih sayangnya di bagi dengan Naufal. Tapi kenyataan yang di sembunyikan nenek serta papanya selama ini membuatnya sedih dan selalu di ingatnya dalam otaknya.


" Mbak sedih?" Tanyanya lagi. membuat Nana menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca.


" Jangan nangis lagi?" Ucap Naufal, mengusap mata Nana yang berembun.


Selama dua hari bersama Nana, Naufal tidak melihat wajah Nana yang ceria seperti pertama kali bertemu di pernikahan Mama dan Om Rama. Banyak wajah murung dan sedihnya yang di tunjukkan Nana pada dirinya. Tapi tidak di tunjukkan pada Mama dan Om Rama. Yang berusaha tersenyum dan ceria seperti biasanya.


" Kamu masih mau jadi saudara aku kan?" Lirih Nana.


" Iya." Jawab Naufal.


" Meski aku bukan anak Papa Rama." Tanyanya lagi, membuat Naufal terdiam. tidak tau apa maksud Nana.

__ADS_1


" Enggak mau ya." Lirih Nana, dengan air mata kembali menetes.


" Mau?" Jawab cepat Naufal dan menghapus kembali mata Nana.


Bocah kecil ini masih tidak mengerti apa kata Nana, tapi melihat Mbak barunya menangis membuat Naufal tidak tega. dan cepat-cepat menjawab 'Mau', karena Naufal tidak ingin Nana menangis.


" Janji?" Kata Nana. memajukan jari kelingking ke hadapan Naufal.


Kata 'Janji', tidak perlu Naufal tanya pada Nana apa itu janji. Karena Naufal sudah tau akan kata 'Janji' yang pernah di ajarkan oleh mama, nenek dan om Sigit.


" Janji?" Balas Naufal, melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Nana dengan senyum mengembang. Membuat Nana ikut tersenyum. Setidaknya Nana bisa sedikit tenang saat ada teman yang mau menghiburnya dalam sedihnya.


Entah dari mana Nana tau dirinya bukanlah anak lelaki yang selama ini sudah di panggilnya papa. Yang sudah memberinya kasih sayang, dan juga memanjakannya sepenuh hati.


Bila orang lain yang bilang, dirinya bukan anak Papa Rama pasti Nana tidak akan percaya. Tapi ini? dari orang yang sangat dekat dan sangat menyayanginya saat tau dirinya bukan anak Papa Rama.


Ingin marah, tentu saja. Ingin bertanya langsung pada Papa Rama, tentu saja ingin. Tapi Nana takut bila itu benar kenyataan. Dan bagaimana hatinya nanti, menerima kenyataan dari bibir papa Rama yang memang benar dirinya bukan anaknya. Bukan anak kandungnya, melainkan anak kandung dari lelaki yang hanya sekali bertemu dengannya di saat liburan bersama keluarga besar neneknya tanpa adanya Papa Rama di sampingnya.


" Om Ryan."


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Maaf, Doble upnya malam 🙏🙏


__ADS_2