
BRAAAKK !!!!
Suara gebrakan meja yang di lakukan olah putra sulung dari Royan Rahardian di saat sarapan pagi. Sukses membuat Mira dan yang lainya terjengit kaget.
"Kenapa nama Dion Praharja ada di daftar nama kesepuluh calon suami yang dipilih oleh tante Mira ?". Tanya Ayub dengan raut marah dan mengintimidasi.
Remaja berusia 14 tahun itu tengah memperlihatkan sisi marahnya kepada Mira. Ayub merasa kesal dan tidak terima karena Mira menghiraukan permintaannya itu.
"Frans itu...". Ucap Mira sedikit gugup dan bingung.
"Kenapa tante tidak menghiraukan ucapan ku. Papa juga tidak mensetujui jika tante memilihnya. Tetapi kenapa masih tante pilih ?". Tanya ayub dengan nada kesal.
"Apa tante Mira sudah tidak menganggapku lagi. Sudah tidak menyayangiku lagi. Tidak juga menghormati papa lagi ?". Tanya ayub lagi dengan bertubi-tubi.
"Bukan begitu Frans Ayubia, tante bukanya tidak menganggapmu. Dengarkan penjelasan tante dulu". Ucap Mira sedikit terbata dan selalu melihat kearah Maya untuk meminta bantuan.
"Momy yang memilihnya Frans. Bukan tantemu". Ucap Maya dengan acuh.
Membuat Royan bernafas lega dan membenarkan dugaannya. Dan membuat Frans Ayubia memandang sang ibu dengan raut tak percaya.
"Apa momy yang akan menikah disini. Kenapa momy memilih lelaki idiot itu. Momy ingin membuat hidup tante Mira menderita ?". Tanya Ayub dengan raut kecewa.
"Tahu apa kamu tentang seorang Dion Praharja Frans !". Ucap Maya sedikit meninggi.
"Justru karena aku tahu mom, makannya aku melarang tante Mira untuk memilihnya. Secara tidak langsung momy telah membawa tante Mira kedalam masalah besar !". Ucap Ayub tak kalah tinggi.
"Frans Ayubia Rahardian. Tugas mu adalah belajar. Ini masalah orang dewasa, kamu tidak bisa ikut campur disini !". Ucap Maya setengah emosi.
"Makan sarapan pagimu dan cepat lah pergi kesekolah". Ucap Maya tegas.
Ayub yang merasa kesal pun langsung meninggalkan meja makan begitu saja. Membuat Maya berteriak marah dan Mira pun mengejarnya dengan susah payah.
"Frans, tungu. Tunggu dulu Frans". Ucap Mira mengejar.
"Apa lagi !". Ucap Ayub membentak Mira. Membuat Mira terdiam di tempat.
"Tolong jangan seperti ini Frans. Tante minta maaf. Tante hanya tidak bisa menolak permintaan mamamu. Tante sangat menyayangi mamamu lebih dari diri tante sendiri. Tolong mengerti lah". Ucap Mira sedikit mengiba dan berkaca-kaca.
"Aku tidak ingin tante mengalami masalah besar. Aku tahu, tetapi aku tidak bisa mengatakannya. Aku juga menyayangi tante, kau itu sudah seperti kakakku. Tidak bisakah tante mengerti. Aku hanya ingin tante baik-baik saja. Ok aku memang masih anak-anak. Tetapi aku punya mata, punya hati dan punya fikiran. Tidak bisakah kalian mempercayaiku". Ucap Ayub panjang lebar dan penuh kekhawatiran.
"Tante akan baik-baik saja Frans, percaya lah". Ucap Mira mencoba menenangkan.
Dan Ayub pun hanya diam menatap Mira dengan mata penuh keraguan. Bagi seorang Ayub semua tidak akan baik-baik saja jika tantenya yang sangat ia sayangi sudah masuk kedunia seorang Dion Praharja.
"Jangan lagi-lagi kamu membentak mamamu seperti tadi. Setelah ini tante mohon, berbaikan lah denganya dan meminta maaf lah". Ucap Mira dengan menggenggam tangan kanan Ayub dengan tatapan memohon itu.
Ayub pun tidak bisa menjawabnya. Ia masih merasa kesal dengan ibunya yang selalu menganggapnya seperti anak kecil dan meremehkannya. Ia pun merasa kecewa akan tindakan sang mama yang selalu gegabah dan tanpa pikir panjang.
"Aku berangkat tan". Pamit Ayub dan mengeluarkan sepedanya.
"Frans, kamu belum sarapan". Tegur Mira yang malah tidak di hiraukan oleh Ayub. Ia pun langsung menggoes sepedanya dengan kencang menembus jalan.
Tanpa Mira sadari air mata nya pun telah menetes dan tak terbendung. Dia merasa jika dirinya lah sebab dari pertengkaran pagi ini. Dan Mira pun merasa bingung akan hidupnya juga perasaannya itu.
"Ayah, ibu. Aku lelah". Batin Mira terduduk di depan teras rumah dengan air mata yang menetes tak terbendung.
"Kak Marko. Kau dimana aku lelal kak". Keluh Mira lagi yang merindukan kakak pertamanya itu.
Tanpa Mira sadari ada dua pasang mata yang melihat Mira yang menangis dengan diam di depan teras rumah itu. Yahh orang itu adalah Yash dan Roni yang menyaksikan pertengkaran pagi di rumah Royan dengan diam-diam. Maksud hati ingin melihat senyuman manis Mira, malah yang yash lihat justtu sebaliknya.
"Kenapa menangis, tolong bersabarlah sebentar". Batin Yash dengan menatap Mira sendu.
Yash pun lalu menghela nafas dan mengeluarkan ponsel pintarnya mengetik sesuatu dan menempelkan ponsel pintarnya itu ke telinga. Ia mencoba menghubungi seseorang.
"Selamat pagi tuan muda Asha". Ucap Yash setelah sambungan telfonnya di terima.
"Ya, selamat pagi. Dengan siapa saya berbicara ?". Tanya Asha dengan nada lembut yang langsung membuat Yash sedikit mual.
"Dari nada bicaranya saja sudah terilah jelas". Batin Yash dengan kernyitan tak suka.
"Saya Aryasa Leonard, Pimpinan dari LeonGrup. Saya ingin membicarakan masalah proposal yang anda ajukan. Bisa kita bahas dan bertemu di jam makan siang ?". Tanya Yash dengan nada tegas.
"Maaf tuan muda, saya tidak tahu jika itu anda. Bisa tuan saya akan datang tepat waktu". Ucap Asha dengan lembut dan sopan.
"Ok. Untuk tempatnya nanti biar sekertaris saya yang mengabari. See you". Ucap Yash dengan sopan.
"Baik tuan". Ucap Asha lembut dan sopan.
Yash pun lalu mematikan panggilan telfonnya dan kembali memandang Mira yang mulai beranjak untuk masuk kedalam rumah.
"Beri tahu aku dan Asha jika kau sudah menemukan lokasi makan siang Mira dan Satya". Titah Yash kepada Roni.
"Baik tuan muda". Ucap Roni sopan.
"Kau juga yang menggantikan sementara tugas-tugas Jio. Berkerjalah dengan baik". Ucap Yash dengan nada tegas.
"Baik tuan muda. Saya akan berusaha melakukannya dengan baik". Ucap Roni patuh.
Roni pun pamit turun dari mobil yang di tumpangi Yash. Saat ini Roni tengah menyamar sebagai tukang kebun yang sudah berusia tua.
"Jalan. Kita kembali kerumah besar". Titah Yash kepada sang supir pribadinya.
"Baik tuan". Jawab sang supir dengan hormat.
Dan mobil yang Yash tumpangi pun melaju dengan kencang menembus jalan menuju ke kediaman Yash untuknya beristirahat sejenak akibat peejalanan jauh dari Paris ke indonesia.
"Papa, kak Ayub sudah pergi duluan. Lili tidak mau jika harus naik bus sekolah sendirian". Ucap Lili mengeluh.
"Nanti biar papa yang antar. Habiskan sarapanya". Ucap Royan lembut kepada sang anak.
Mira pun kembali mendudukkan dirinya di kursi makan dan melanjutkan sarapan paginya dengan enggan dan malas.
"Hari pertama kencan dengan siapa ?". Tanya Royan seraya melihat kearah Mira dengan santai.
"Dengan Satya Adiguna di jam makan siang dan Rico Orlando di jam makan malam". Ucap Maya menjaeab dengan antusias.
"Yang ku tanya Mira, bukan kau Maya". Ucap Royan santai dan di balasi decihan Maya yang tak suka akan sikap suaminya yang sedikit berubah.
"Benar yang di katakan kak Maya kak". Ucap Mira dengan sedikit senyuman.
"Ahh aku berangkat ke toko ya, sudah ditunggu pelanggan soalnya". Pamit Maya dan mencium pipi Mira, pipi Lili sang anak dan mencium punggung tangan Royan sang suami.
"Hati-hati". Ucap Royan santai.
"Dadah momy". Ucap Lili dengan melambai.
"Iya mas, dadah juga Lili sayang". Ucap Maya seraya kis bye kepada Lili.
Dan Maya pun pergi ke toko kuenya dengan menggunakan taksi online yang sudah dia pesan dan menungguinya sedari lima menit lalu.
Tinggal lah Royan, Lili, dan Mira yang masih setia duduk di ruang makan itu. Royan pun melihat wajah murung Mira dengan seksama. Dan menghela dengan iba.
"Ayub mungkin memiliki firasat tersendiri tentang lelaki itu. Dia begitu menyayangimu dan tak ingin sesuatu yang besar terjadi. Dia seperti tahu sesuatu namun tidak bisa ia bicarakan kepada siapa pun. Termasuk kamu Mira". Ucap Royan mencoba menasehati.
"Iya ka, aku juga merasa begitu. Tetapi aku juga tidak ingin membuat kak Maya kecewa". Ucap Mira dengan tersenyum lembut namun tidak sampai matanya.
"Sebaik apa pun kamu mencoba untuk tersenyum. Tetap saja, matamu tidak bisa untuk berbohong Mira. Semoga suatu hari nanti Maya menyadari betapa besarnya kasih sayangmu terhadapnya". Ucap Royan dengan penuh makna yang langsung membuat Mira terdiam di tempat.
"Kakak pergi dulu. Jaga rumah baik-baik. Dan semogga kencanmu berjalan lancar". Pamit Royan dengan santai. dan Mira pun membalasnya dengan mengangguk.
"Terima kasih kak". Ucap Mira sopan.
"Dadah kak Mira, aku pergi sekolah dulu ya". Pamit Lili dan lalu mencium kedua pipi Mira dengan sayang.
"Hati-hati ya". Ucap Mira seraya memeluk Lili dengan sayang.
Setelah Royan dan Lili pergi, Mira pun hanya terdiam di ruang makan dengan menatap kosong ke luar halaman belakang.
"Bi Nah, maaf aku tidak bisa membantu. Tolong bereskan ini ya. Aku mau kekamar". Ucap Mira dengan malas.
"Iya non. Non Mira kelihatan pucat. Enon sakit ya, istirahat saja non". Ucap Bi Inah pembantu paruh waktu di kediaman Royan.
"Iya bi, aku naik keatas dulu ya". Ucap Mira dan berlalu kelantai atas menuju kamarnya.
Di dalam kamar Mira pun hanya rebahan dengan malas memikirkan hati dan perasaannya juga pertemuannya nanti dengan dua orang calon suaminya itu. Karena lelah, Mira pun akhirnya tertidur dengan damai di tempat tidurnya menuju kealam mimpi.
Tepat pukul 11 siang Mira pun terbangun dari tidurnya. Ia pun meraih ponselnya untuk melihat jam dan notif pesan dari sang kakak yang mengingatkannya tentang kencan pertamanya di jam makan siang.
Mira pun dengan malas bergegas menuju kekamar mandi untuk mempersiapkan diri. Dan selang satu jam Mira pun sudah rapi dengan dres casualnya itu dan sedikit riasan mengingat jika umurnya satya dan dirinya hanya terpaut dua tahun saja. Jadi Mira berdandan dan bergaya biasa namun terlihat dewasa dan elegan.
Tinggg
Satu pesan masuk dari nomor baru yang menunjukan tempat dan lokasi untuk mereka bertemu di jam makan siang.
Cafe Mongolia di jalan Rinjani putih. Satya Adiguna.
Begitulah isi pesan yang tertera di layar ponsel Mira. Mira pun menghela nafas dan mulai memesan taksi online lagi.
Selang lima belas menit. Taksi yang Mira pesan pun sudah menunggu dan Mira pun lalu bergegas keluar rumah setelah berpamitan dengan bi Inah.
"Selamat siang nona Mira. Sesuai tujuan yang tertera dllayar kan ?". Tanya sang supir taksi dengan sopan dan ramah.
"Iya mas". Ucap Mira membenarkan.
Roni pun mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak lupa ia pun mengirim pesan kepada tuan mudanya itu. Menginformasikan tempat dimana nona Mira berkencan.
Yash yang menerima pesan itu pun tersenyum lebar dan langsung bersiap-siap untuk menuju ke lokasi. Tak lupa ia pun menyuruh Roni untuk memberi tahukan Asha di mana lokasi untuk dirinya dan Yash makan siang dan membahas tentang proposal kerja sama.
Sesampainya di cafe Mira pun langsung masuk setelah membayar taksi dan sedikit bingung mencari dimana keberadaan Satya.
"Mana dia. Apa mungkin belum datang ya ". Batin Mira dengan menoleh kesana kemari dengan bingung.
Meja nomor 13 Mira. I see you.
Pesan masuk dari Satya pun membuat Mira sedikit gamblang. Ia merasa tak enak dengan angka nomor 13.
Dengan langkah ragu Mira mendekat kearah meja itu dan menyapa Satya dengan senyuman. Satya pun membalasnya dengan ramah. Ia pun menarik kursi yang ada di sebelahnya dan mempersilahkan Mira untuk duduk.
"Terimakasih Satya". Ucap Mira saat dirinya sudah mendudukan diri dikursi cafe. Satya pun hanya megangguk saja.
"Kau mau pesan apa ?". Tanya Satya seraya menyodorkan buku menu dan mencoba untuk mencatatnya kedalam kertas putih yang sudah di sediakan.
__ADS_1
Mira pun melihat-lihat kesemua menu. menimang makanan apa yang pas untuknya makan siang dan tidak membuatnya merasa enek.
"Aku pesan chiken katsu yang medium juga kentang goreng dan jus alpukat". Ucap Mira santai dan Satya pun langsung menulisnya denga tulisan doble alias menyamakannya dengan pesanan Mira namun bedanya Satya memilih saus keju dan minumannya ia memilih lemon tea tanpa gula dan sedikit es batu.
Setelahnya Satya pun berjalan menuju meja pesanan dan menyerahkan kertas itu ke pelayan dan lalu duduk kembali di sebelah Mira.
"Ekhem, makanannya akan datang sepuluh menit lagi". Ucap Satya santai dan Mira pun hanya mengangguk.
Satya pun terus memandangi wajah Mira dengan tangan yang ia sangga kearah pipinya. Sedangkan Mira dibuat gelisah karena dipandangi seperti itu oleh Satya.
"Apa ada yang salah dengan pakaian ku atau makeup ku ?". Tanya Mira memastikan.
"Tidak ada. Kau malahan terlihat cantik dan dewasa". Ucap Satya jujur.
"Aaa, begitu". Ucap Mira sedikit lega.
Tanpa merrka berdua sadari, Yash dan Roni sudah memasuki cafe dan mendudukan diri di meja nomor 16 yang berhadapan langsung dengan meja Mira.
Mira yang sedikit melamun pun sekilas seperti melihat seorang Yash yang berjalan gagah menuju meja pesanan.
"Hhhh lagi-lagi aku seperti melihatnya". Batin Mira dengan sedikit kesal.
"Mira". Panggil Satya dengan kalem.
"Eh, ya Satya ?". Tanya Mira sedikit linglung.
"Pesanannya sudah datang. Mari kita makan dulu dan setelahnya kita akan berbicara". Ucap Satya dengan nada tegas.
Mira pun hanya mengangguk dan langsung menyantap makanannya dengan perlahan dan anggun. Seperti yang telah diajarkan oleh kakaknya semalam.
Setelah selesai menyantap makan siangnya. Satya pun mencoba untuk menatap Mira lebih dalam dan serius. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi sulit dan berat.
"Kau yakin dengan kencan ini Mira ?". Tanya satya ragu.
"Hmm...Maksudnya ?". Tanya balik Mira dengan bingung.
"Aku, mengikuti ajang pencarian jodoh sampai sekarang aku bisa berkencan denganmu itu karena desakan dari kedua orang tuaku". Ucap Satya jujur.
"Mereka mengetahu rahasia terbesarku". Ungkap Satya lagi.
"Apa... Aku boleh tahu ?". Tanya Mira dengan hati-hati.
"Aku mencintai laki-laki lain. Namanya Rasya Alandra". Ucap Satya jujur.
Bagai di sambar petir di siang bolong. Mira pun sedikit terkejut dan tertegun secara bersamaan. Mira fikir yang dia pilih adalah lelaki normal. Namun sayangnya dia seorang gay.
"Kenapa aku selalu di pertemukan dengan seseorang yang memiliki cinta terlarang seperti ini". Keluh Mira dalam hati.
"Apa kau marah. Atau merasa jijik padaku ?". Tanya Satya dengan tatapan sendu.
"A...Ahhh tidak. Aku hanya sedikit terkejut saja". Ucap Mira dengan tersenyum lembut. Dan untuk mengurangi rasa canggungnya Mira pun meminum jus alpukatnya dengan perlahan.
Satya pun masih memandangi Mira dengan raut santai. Satya merasa jika Mira sedikit berbeda dari wanita yang sering ia temui. Ada kenyamanan tersendiri saat ia berada di dekat Mira.
"Maaf tuan muda Yash saya sedikit terlambat". Ucap Asha dengan ramah dan lembut. Yash pun mengangguk santai dan mempersilahkan Asha untuk duduk di hadapannya.
"Pesan lah, saya sudah memesan makanan saya tadi. Maaf jika saya tidak menunggu anda". Ucap Yash sedikit kaku.
"Tak apa tuan, memang saya yang salah. Saya sudah datang terlambat". Ucap Asha dan langsung membuka buku menu lalu mencatatnya.
"Biar asisten saya yang mengantarkannya". Ucap Yash saat tahu jika Asha henda menuju kearah meja pesanan.
"Oh, kalau begitu terima kasih tuan". Ucap Asha sedikit canggung.
Yash pun mengisyaratkan Roni untuk mengantarkan kertas itu ke meja pesanan. Dan Roni pun mengangguk patuh lalu membawa kertas itu kearah meja pesanan.
"Sambil menunggu, boleh saya lihat profosalnya ?". Tanya Yash kepada Asha.
"Ahhh...Ya tentu tuan". Ucap Asha dengan senang dan bersemangat.
Ia pun lalu mengambil proposalnya yang berada di dalam tas kantornya lalu menyerahkannya kepada Yash. Sedangkan Yash pun menerimanya lalu membacanya dengan teliti.
Asha pun lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah dan menemukan seseorang yang ia rindukan tengah berduaan dengan seorang wanita. Asha pun lalu tertegun di tempat. Ada sedikit rasa sakit dan amarah di hatinya.
"Kau melihatnya ?". Tanya Yash to the poin. Membuat Asha tergagap bingung.
"Kekasih mu". Ucap Yash santai. Seraya menutup kembali proposal yang tengah ia baca.
Asha pun lalu memandang Yash tajam. Sisi lain yang membuat Yash langsung tahu. Asha adalah seorang yang berbahaya.
"Wanita itu adalah Mira. Miranda Nur. Seseorang yang sangat ingin ku miliki". Ucap Yash santai.
"Mereka ada disana karena sesuatu hal. Sebuah kencan perjodohan. Milikku di paksa untuk menentukan masa depannya. Dan milikmu juga sama. Mereka sama-sama dipaksa untuk bertemu". Ucap Yash memberi tahu.
"Saya kira seorang Aryasha Leonard akan mampu mengatasi hal remeh seperti ini. Dia milik mu kalian tidak sama, kalian berbeda. Kau bisa saja membawanya kan". Ucap Asha dengan raut intimidasi.
"Aku bisa saja memaksa. Tetapi tidak untuk Mira. Dia tengah mencoba untuk menjauhiku demi seseorang yang berarti dalam hidupnya". Ucap Yash masih dengan nada santai.
"Karena itu kau memanggil ku kemari atas nama pekerjaan ?". Tanya Asha tajam.
"Itu salah satunya. Akan ku setujui proposal ini. Namun tidak geratis dan cuma-cuma Asha. Kau pasti tahu yang ku inginkan". Ucap Yash dengan tersenyum evil.
"Hhh...Ternyata rumor itu benar. Anda memang sungguh sangat licik rupanya. Senang bisa bekerja sama dengan anda tuan". Ucap Asha dengan mengulurkan tangan.
Asha pun berdiri dan berjalan santai menuju meja nomor 13. Meja dimana Satya dan Mira tengah duduk mengobrol bersama tanpa ada rasa canggung atau kesal yang biasa seorang Satya tunjukan.
"Kau berbeda Mira". Cicit Satya dengan jujur.
Mira yang mendengarnya pun menatap bingung kearah Satya. Ia merasa tidak mengerti akan perkataan dari Satya.
"Wanita lain pasti akan mencemooh diriku, menudingku, dan menatap ku dengan rasa jijik saat aku mengatakan jika diriku adalah seorang gay. Si penyuka sesama jenis. Bahkan ada yang langsung menampar ku atau menyiramku dengan minuman lalu meninggalkanku begitu saja". Ucap Satya seraya terkekeh pahit di akhir kalimat.
"Tidak semuanya seperti itu ko. Mungkin mereka merasa kecewa terhadapmu. Oh ya sudah berapa lama kamu berhubungan dengan kekasih mu ?". Tanya Mira penasaran.
Saat Satya hendak membuka mulut untuk bersuara. Tiba-tiba saja dari arah belakang. Muncul Asha yang menyelip ketengah-tengan antara Satya dan Mira seraya merangkul keduanya dengan tekanan kuat pada Satya dan tekanan lembut pada Mira.
"Lima tahun". Ucap Asha menjawab ucapan Mira.
UHUK....UHUK.. !
Suara batuk dari Satya yang merasakan jika rangkulan Asha itu hampir membuatnya sekarat setengah mati. Dan Mira yang melihatnya pun sedikit panik lalu mencoba untuk berbicara lembut kepada Asha.
"Ya tuhan. Kau bisa membunuhnya". Ucap Mira swdikit panik.
"Memang aku ingin membunuhnya. Agar dia tidak macam-macam lagi". Ucap Asha tegas.
"Kau...Kau kekasihnya. Asha ?". Tanya Mira memastikan. Dan Asha pun hanya tersemyum evil lalu melepas rangkulannya terhadap Satya dengan kuat. Membuat Satya terjatuh dari kursinya dan Asha dengan santainya pun duduk di kursi yang tadinya di duduki oleh Satya.
"Ya. Aku kekasihnya". Jawab Asha dengan santai seraya menatap kearah Mira.
Satya pun bangun dari jatuhnya dan duduk kembali di kursi lain dekat dengan Asha seraya meraba area lehernya yang sudah di pastikan akan memar kemerahan.
"Kau lucu juga ternyata. Jangan cemburu ya, kami hanya mengobrol saja ko". Ucap Mira dengan lembut.
"Mengobrol tentang perjodohan kalian huh". Ucap Asha sinis. Sedangkan Mira hanya tersenyum saja menanggapi ucapan sinis dari Asha.
"Sha, jangan begitu. Mira itu berbeda. Dia wanita baik, kau kenali saja dia baik-baik. Siapa tahu dia bisa menjadi teman untuk kita". Bisik Satya mencoba untuk menasehati sang kekasih.
"Kau memujinya. Sungguh luar biasa. Jangan sampai aku menghukummu dengan berat Satya". Ucap Asha dengan dingin dan tajam.
Satya pun tersenyum manis kearah Asha dan berbisik di telinga Asha dengan sedikit jilatan pada telinga Asha.
"Aku tunggu hukuman dari mu". bisiknya lalu mengedipkan sebelah matanya.
Yash dan Roni yang melihatnya dari kejauhan pun merasa mual dan geli akan kelakuan Satya yang sungguh di luar dugaan itu.
"Aku kira Satya yang seme dan Asha yang uke. Ternyata sebaliknya hiiisss". Ucap Yash sedikit geli.
"Roni. Let's go". Ucap Yash yang berdiri dan berjalan kearah meja Asha, Satya, dan Mira.
"Ekhem maaf menggangu. Tuan Asha ini proposal yang anda ajukan tertinggal tadi. Sudah saya tanda tangani dan mulai minggu depan kita resmi berkerja sama". Ucap Yash setelah berada di meja nomor 13.
Mira pun langsung tertegun di tempat. Rupanya yang ia lihat tadi itu nyata. Yash benar-benar ada di sini. Mira fikir jika yang ia lihat itu hanya halusinasinya saja.
"Ahh...Ya maaf merepotkan tuan". Ucap Asha ramah dan menerima proposal yang Yash berikan itu.
"Boleh saya bergabung ?". Tanya Yash meminta izin.
Membuat Mira berharap-harap cemas. Dan mengharap jika Asha atau pun Satya menolak permintaan Yash.
"Tentu tuan. Silahkan". Ucap Asha memberi izin.
Mira pun langsung menghela dengan kecewa. Sedangkan Yash langsung duduk di kursi sebelah kiri Mira sedangkan Roni duduk di kursi sebelah Yash.
Asha dan Satya pun saling berbicara dan bercerita mengenai proposal yang tengah direncanakannya. Sedangkan Mira hanya diam menunduk mencoba untuk menghindari kontak mata dari Yash yang sedari tadi menatapnya intens.
Yash pun tersenyum lucu dan mendekat ke arah telinga Mira. Ia pun lalu membisikan sesuatu yang membuat Mira sedikit meremang.
"Hai cantik. Apa kabar mu. Kau tahu, aku merindukanmu". Bisik Yash dengan lembut di telinga Mira.
Mira pun sedikit gelisah di buatnya. Ada rasa desiran aneh yang menjalar keseluruh tubuhnya saat bisikan Yash mengalun dengan indah di telinganya. Juga wangi parfum yang menguar pun membuat Mira serasa ingin tenggelam kedalam pelukan hangat Yash.
Mira pun lalu menghadap kearah Yash dengan pipi yang bersemu indah. Membuat Yash semakin ingin menggoda Mira lagi dan lagi.
"Kabar saya baik tuan. Emmmm anda tidak bersama Jio ?". Tanya Mira saat tahu jika yang datang tidak bersama Jio. Asisten pribadinya.
"Jio sedang menjalankan tugas.dari ku Jadi sebagai gantinya aku memilih Roni. Dia juga asisten Jio yang menghendel semua pekerjaan Jio saat Jio tengah melakukan tugas penting dariku. Perkenalkan, namanya Roni Wirawan". Ucap Yash dengan tersenyum penuh arti. Roni pun menengok kearah Mira dan mengangguk sopan menyapa Mira.
"Sepertinya aku pernah melihatnya. Tetapi dimana ya. Dia mirip sekali dengan supir taksi online itu. Tetapi, namanya Roni Irawan. Juga tampilannya sedikit kusam. Tidak seperti asisten tuan Yash yang itu. Tampilannya rapih, putih bersih, dan kaku". Batin Mira seraya melihat kearah Roni yang tengah terdiam kaku.
Mira pun lalu hendak berdiri untuk berpamitan pergi. Namun rupanya tingkahnya terbaca oleh Yash dan dengan cepat Yash pun mengunci kaki Mira. Menjepitnya dengan kedua pahanya dengan kuat. Sehingga Mira pun tidak bisa bergerak dan sedikit terkejut.
"Mau kemana ?". Tanya Yash dengan simrik evilnya.
Mira yang ketahuan pun merasa sedikit kesal dan merengut kearah Yash.
"Tuan kaki ku sakit jika dijepit kuat seperti ini". Ucap Mira sedikit mengiba.
Yash pun tak menghiraukannya. Ia pun masih menjepitnya dengan kuat seolah-olah Mira dapat melepaskan diri dengan mudah.
"Yash, please". Ucap Mira memohon setelah beberapa kali usahanya untuk terlepas dari jepitan paha Yash gagal.
__ADS_1
"Hhh, baik lah". Ucap Yash menyerah dan membuka pahanya dan memundurkannya.
Mira pun mulai bernafas lega. Namun belum lima menit tubuhnya sudah melayang akibat ulah Yash yang menggendongnya tanpa izin dan aba-aba. Membuat Mira menjerit dan mengalungkan kedua tangannya dengan reflek kearah leher Yash.
"TUAN apa yang kau lakukan !". Seru Mira karena terkejut.
"Tuan Asha dan kau tuan Satya. Kami pamit pulang dulu. Kaki Mira sakit katanya. Senang bertemu dengan kalian". Ucap Yash santai.
"Hati-hati ya". Ucap Asha ramah dan Satya yang sedikit bingung.
Yash pu langsung melenggang pergi seraya menggendong Mira keluar cafe. Sedangkan Mira langsung menyembunyikan wajahnya di dada Yash karena malu. Sebab ulah Yash yang sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian dan bahan omongan.
"Kenapa Mira bisa seakrab itu dengannya ?". Tanya Satya bingung.
"Kenapa. Kau cemburu. Mira itu milik tuan Yash". Ucap Asha dengan galak dan tajam.
"Issstt galak sekali. Aku kan hanya bertanya". Ucap Satya dengan cemberut.
"Ikut aku". Ucap Asha seraya menggeret paksa Satya kearah pintu belakang cafe.
Sesampainya di tempat parkir. Yash pun menurunkan Mira pada gendongannya. Dan kesempatan itu pun membuat Mira langsung berlari kabur. Namun sayang, langkah lari Mira kalah jauh dari langkah kaki Yash yang dengan sekejapvdapat merengkuh Mira dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa harus lari. Sudah tahu pendek. Dasar bodoh". Ucap Yash dengan terkekeh di akhir kalimat. Membuat Mira langsung melemas di dalam pelukan Yash yang erat dan hangat.
Yash pun lalu mengurai pelukannya dan menangkup wajah Mira dengan lembut. Mereka berdua pun saling tatap menatap menyelami kedua mata masing-masing.
"Jangan lari dariku. Percuma, aku akan selalu menangkapmu. Dan cobalah menghindariku karena aku memiliki banyak cara untuk mendekati mu Mira". Ucap Yash lembut.
"Apa yang terjadi tuan. Anda tidak boleh seperti ini kepadaku. Anda mencintai nona Raina kan. Adik anda sendiri". Ucap Mira tegas dan sedikit kesal.
"Lalu apa ini tuan ?". Tanya Mira tidak mengerti.
"Kau pandai membuat ku nyaman. Dan aku tidak rela jika kenyamanan itu pergi dari ku. Mira, jika memang cinta ku salah dan terlarang. Tolong bantu aku untuk melupakannya. Karena dia sudah memiliki kebahagiaan lain. Selain aku". Ucap Yash dengan tatapan iba.
"Aku tidak bisa tuan. Mengerti lah, ku mohon". Ucap Mira dengan frustasinya.
Yash yang tidak ingin Mira berkata apa pun lagi. Menarik tengkuk belakang Mira dan mencium bibir Mira dengan lembut.
"Emmhh". Erang Mira yang terkejut akan ciuman tiba-tiba dari Yash.
Mira pun mencoba untuk menolak dan memukul-mukul dada bidang Yash dengan keras. Namun kedua tangan Mira di cekal oleh tangan kanan Yash. Menguncinya ke belakang dengan tangan kanannya dan menekan tengkuk Mira dengan tangan Kiri Yash. Dan Yash pun mendorong tubuh Mira kearah dinding yang berada di belakang Mira.
Perlu di ketahui bahwa tempat parkir yang Yash dan Mira tempati ada di area dalam gedung. Jadi Cafe Mongolia itu adalah salah satu cafe terbesar di kota itu. Tidak hanya sekedar cafe. Ada arena bermain, ruang karaoke, ruang biliar, juga memiliki tempat parkir di dalam gedung.
Ciuman itu pun berhenti saat keduanya mulai kehabisan nafas. Dan Yash menyatukan keningnya dengan kening Mira meresapi setiap nafas dari keduanya dan kembali Yash mencium bibir ranum Mira dengan lembut. Kelembutan itu lah yang membuat Mira akhirnya lemah dan membalas ciuman Yash dengan asal dan tak beraturan.
Yash yang merasakan Mira membalas ciumannya pun tersenyum senang dan membuka matanya. Terlihat Mira yang terpejam menikmati setiap cumbuan dari Yash dengan sedikit erangan saat bibir yash menghisap kuat lidah dan bibir Mira secara bergantian. Dan seperti obat bius yang memabukkan. Mira pun mulai tertidur dalam ciumannya dengan Yash. Beruntung Yash langsung menyadarinya dan memeluk tubuh Mira saat dirasa mulai melemas.
"Heh, tertidur rupanya". Kekeh Yash yang merasa lucu.
"Aku tahu beban fikiranmu sangat berat Mira. Berbagi lah denganku dan sebut lah aku dalam hati mu". Bisik Yash dan langsung menggendong tubuh lemah Mira menuju kearah mobil taksi online yang Mira tumpangi saat menuju kearah cafe.
Yash pun mengantar Mira pulang dengan Roni yang menyupiri. Ia pun membelai surai rambut Mira yang tertidur di pelukanya dan mengecupi puncuk rambut Mira dengan sayang. Berharap jika kecupannya mampu mengusir beban berat di fikiran Mira.
Sesampainya di kediaman Royan. Yash pun turun dengan Mira yang berada di gendongannya. Dan Royan pun sudah stand bye di depan menunggui Yash dan Mira.
"Istrimu sudah pulang ?". Tanya Yash kepada Royan.
"Belum, pekerjaanya masih banyak. Mungkin saat petang ia akan pulang". Ucap Royan memberitahu.
Yash pun lalu mengangguk dan membawa Mira masuk menuju kamarnya dan membaringkannya di tempat tidur Mira. Yash pun membuka weddges hell Mira dan menyelimuti tubuh Mira dengan hati-hati.
Semua yang Yash lakukan pun di saksikan langsung oleh Royan dan Ayub yang kala itu penasaran dengan keadaan tantenya yang digendong oleh Yash.
"Apa dia baik-baik saja ?". Tanya Royan penasaran.
"Dia hanya tertidur. Mungkin dia syok karena seseorang yang ia kencani adalah seorang gay". Ucap Yash menjelaskan.
"Gay ?". Tanya Royan tak menyangka dan Yash pun hanya mengangguk saja.
"Aku pamit pulang dulu. Ada pekerjaan yang menunggu untuk di selesaikan". Pamit Yash seraya berjalan keluar.
"Teeima kasih tuan, Sudah nengantarkan Mira pulang". Ucap Royan dengan sopan.
"Aku hanya kebetulan saja berada di di tempat itu. See you". Ucap Royan pamit dan mengerling ramah kearah Ayub yang di balas anggukan sopan oleh Ayub.
Dan mobil taksi online itu pun melaju dengan cepat menembus jalan. Meninggalkan ayah dan anak yang tengah berdiri dengan fikiran masing-masing.
Setelah sore hari Mira pun langsung di bangunkan oleh Maya dengan mengguncangkan tubuh Mira. Merasa terusik akhirnya Mira pun mulai membuka matanya dan sedikit linglung saat tahu jika dirinya sudah berada,di kamarnya.
"Mira. Cepat bangun. Malam ini kamu kan ada kencan dengan Rico Orlando. Ayu cepat siap-siap. Biar kakak bantu". Ucap Maya yang dengan semangat membangunkan Mira.
"Hmmmhhh...Iya ka". Guman Mira dan langsung melangkah gontai menuju kamar mandinya untuk bersih-bersih badan.
"Jangan lama-lama loh". Ucap Maya menegur.
Tepat pada pukul tujuh malam. Mura pun sudah siap dengan dres merah maron selututnya. denfan lengan tigaperempat yang di selingi brukat di setiap pinggirannya.
"Cantiknya, semoga kencannya sukses ya". Ucap Maya mendoakan. Dan Mira pun hanya tersenyum saja.
Dan taksi online itu pun datang membawa Mira pergi ke Restoran berkelas terbesar di kota itu. Sesampainya disana Mira pun sedikit minder saat melihat tampilan para pengunjung resto yang nampak anggun dan elegan itu.
Saat memasuki resto, Mira pun sudah di sambut dan antar oleh pelayan resto untuk menemui Riko yang sudah duduk dengan angkuh di kursi makan yang berada di pojokan dekat dengan jendela besar yang mengarah ke area pemukiman penduduk..
"Tuan Orlando". Sapa Mira dengan sopan.
Rico pun mulai melihat kearah Mira dan sedikit mengernyit tak suka akan cara berpakaian Mira dan penampilannya yang seperti kencan biasa.
"Apa dirumah mu hanya memiliki baju seperti itu ?". Tanya Rico seraya memindai penampilan Mira.
Mira pun sedikit tertunduk saat penampilannya kurang di sukai oleh Rico teman kencannya malam ini.
"Ya sudah lah. Duduk disana". Perintah Rico dengan angkuh. Mira pun menurut saja dan mendudukkan diri di kursi seberang.
"Pesan apa pun yang kau suka". Ucap Rico dingin.
"Emmm... Aku, ikut yang anda pesan saja". Ucap Mira yang merasa tak mengerti dan bingung pun mulai berinisiatif untuk menyamakan saja pesanannya dengan Rico.
Rico pun menghela dan melirik Mira dengan sebal.
"Tenderlion steak dan anggur merah terbaik". Ucap Rico kepada si pelayan yang langsung diangguki dengan patuh oleh si pelayan..
"Kau tahu Mira. Margaku adalah Orlando. Aku memuja kesempurnaan. Jika kau sanggup belajarlah untuk menjadi sempurna untukku". Ucap Rico dengan tatapan tajam.
Makanan yang di pesan pun datang. Mira pun mulai gugup saat cara makannya itu menggunakan pisau dan garpu. Mira sangat pandai menggunakan sumpit. Tetapi untuk pisau dan garpu. Ia tak yakin jika tidak terjadi sesuatu.
"Bersulam untuk malam ini". Ucap Rico seraya mengangkat gelasnya.
Mira pun mengangkat gelasnya dan melakukan sulam ke gelas Rico dan lalu keduanya pun menikmati anggur merah itu.
Terlihat jelas kernyitan tak suka pada wajah Mira saat mencicipi anggur merah itu. Mira merasa sedikit ada rasa pahitnya dan sangat mencekat tenggorokkannya.
"Habiskan. Ini adalah anggur merah terbaik dan termahal. Kau tidak akan sangguo untuk mencicioinya lagi Mira. Bersyukurlah dan habiskan minumannya". Ucap Rico memaksa.
Dengan terpaksa Mira pun menghabiskan anggur merah itu dan setelah habis Ricobpun menuangkannya lagi ke gelas Mira.
"Makan lah". Ucap Rico dan mulai memakan makanannya.
Mira pun sedikit ragu untuk menggunakan pisau itu dan benar saja. Pisau itu pun berderit saat Mira memotong daging steak itu. Membuat Rico menatap tajam Mira.
"Bisa tidak memotongnya tanpa suara. Ini daging sapi terbaik. Sangat mudah di potong. Begitu saja tidak bisa". Sungut Rico merasa kesal dan jengkel.
"Maaf tuan". Cicit Mira merasa sedikit malu.
Yash yang berada disana mengawasi pun sedikit kesal akan sikap Rico yang terlalu angkuh dan kasar kepada Mira. Ia pun sedikit mengepalkan tangannya yang terasa ingin sekali menghajar pria angkuh itu.
Saat Mira kembali memotongnya untuk kedua kalinya setelah suapan peetama. Namun naas steak itu meleset dan terbang mengotori kemeja putih Rico dan jatuh kearah celana bahannya.
"Yakk MIRA... Kau ini apa-apaan hah !". Seru Rico merasa tak terima.
"Maaf aku tidak sengaja". Ucap Mira mengiba.
"BODOH. Kau telah mengotori pakaianku. Ini pakaian mahal. Kau mengganti dengan harga dirimu pun tak cukup !". Ungkap Rico dengan amarahnya membuat Mira sedikit tertunduk malu.
"Dasar tolol. Idiot kau !". Uxap Rico lagi memaki tanpa henti.
"Pergi sana. Aku tidak butuh wanita bodoh sepertimu. Ini pertemuan kita yang pertama dan terakhir. Pergi sebelum aku menamparmu !". Ucap Rico mengusir Mira yang sudah berderai air mata.
Mira pun pergi dengan berlari. Ia merasa sangat malu di hina di muka umum oleh orang asing yang baruvia kenal. Dan sialnya saat sudah berada di luar. Perutnya seperti bergejolak dan kepalanya pening. Akibat mabuk anggur merah.
Dengan sempoyongan Mira pun berjalan tak tentu arah. Hingga tubuhnya serasa melayang di gendongan seseorang dan semuanya pun gelap. Mira pun pingsan di gendongan seseorang itu.
"Tenang saja. Aku pasti akan membalasnya Mira. Milikku di hina. Heh tunggu tanggal mainnya Rico Orlando". Ucap Yash dengan tatapan penuh dendam.
Yash pun langsung membawa Mira ke mobilnya dan mengantarkannya pulang ke rumah Royan Didalam mobil sesekali Mira pun mengigau dan meracau tak jelas. Bahkan kadang menangis sesenggukan. Membuat Yash mengutuk selalu dalam hatinya kepada seorang RIco Orlando.
Sesampainya di halaman depan kediaman Royan. Yash pun menghubungi Royan dengan ponsel pintarnya itu.
"Istrimu sudah tidur ?". Tanya Yash saat sambungan telefonnya terhubung.
"Ya, sudah dari satu jam yang lalu". Ucap Royan dengan mengernyit.
"Keluarlah, Mira,ada,bersamaku. Dia mabuk berat. Dan aku juga ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu". Titah Yash kepada Royan.
Dengan segera dan hati-hati Royan pun keluar rumah menghampiri Yash yang tengah menunggu di dalam mobil.
"Lihat lah". Ucap Yash saat Royan sudah ada di hadapannya seraya menyodorkan ponselnya yang berisikan sebuah rekaman Mira dan Rico di resto itu.
Royan pun langsung merah padam saat nelihatnya dan ingin sekali menghajar orang itu dengan kedua tangannya.
"Berani-beraninya dia". Ucap Royan kesal dan meradang.
"Aku tidak bisa membawanya kedalam. Bawa lah dia dan suruh lah istrimu untuk menggantikan pakaiannya yang basah" Ucap Yash nemerintah.
"Kirimkan rekaman itu ke pada ku tuan" Uxap Royan dengan raut kesal. Dan langsung menggendong Mira.
"Terima kasih untuk pertolongannya yang kedua kali ini". Ucap Royan dengan tulus.
"Itu sudah menjadi tugas ku". Ucap Yash sendu.
Royan pun menunduk sopan dan melangkah masuk dengan Mira yang berada di gendongannya. Sedangkan Yash langsung memasuki mobilnya setelah Royan maduk kedalam rumah.
__ADS_1
"Hallo Troy...Ada tugas untukmu". Ucap Yash pada telfon pintarnya dengan simrik mengerikan.