Luluh

Luluh
Episode 57


__ADS_3

Dua hari setelah weeken yang membosankan. Tepatnya di awal bulan juli ini. Mira tengah mempersiapkan diri untuk masuk kerja lagi di bitique Ghina's Colection. Masa libur selama satu minggu untuk para pekerja telah usai. Dan kini waktunya merrka untuk kembali bekerja.


Di pukul lima pagi Mira sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapan pagi untuknya dan untuk Maya, Royan dan kedua keponakannya. Tidak lupa ia pun membuat bekal untuk kedua keponakannya dan dirinya.


Setelah satu jam berkutat. Semua hidangan pun sudah siap. Untuk sarapan pagi Mira pun membuat senwich isi, roti bakar dan omlet untung mereka pilih. Sedangkan untuk Mira sendiri membuat sarapan pisang dan alpukat yang ia tim bersama tepung beras.


Mira pun bergegas sarapan sendirian dan setelah sarapannya habis. Ia pun langsung bergegas ke kamarnya untuk members8hkan diri dan bersiap dengan pakaian kerjanya.


Setelah siap dengan seragamnya dan riasan sederhananya. Mira pun bergegas turun. Dan rupanya Maya, Royan, dan kedua keponakannya sudah duduk di kursi makan masing-masing. Mereka pun melihat Mira dengan tatapan heran dan bertanya-tanya.


"Ekhem sudah rapih sekali kamu Ra. Dan kamu apa mau berkerja kembali ?". Tanya Royan penasaran.


"Iya kak, cuti untuk merayakan honeymoonnya nona Martha dan tuan Erlangga sudah berakhir. Dan ini saatnya kami berangkat kerja lagi kak". Ucap Mira memberi tahu.


"Apa kau yakin untuk berkerja lagi Mira. Bagaimana dengan kesehatanmu. Kau belum mempertanyakan hal ini kepada dokter Jordan kan ?". Tanya Royan bertubi-tubi.


"Belum kak, aku bingung mau tanyanya. Ponsel ku juga tidak ada. Emmm mungkin nanti aku pinjam ponsel Shila untuk menghubungi dokter Jordan dan mempertanyakan masalah kesehataku. Apa diperbolehkan untuk bekerja atau tidak". Ucap Mira jujur.


"Bagaimana bisa ponselmu tak ada ?". Tanya Royan heran.


Mira pun hanya bisa terdiam seraya sesekali melirik kearah Maya yang tengah memakan senwich dengan santai.


"Mama yang umpetin pah. Lili melihatnya kemarin ya kan kak. Kak Ayub juga lihat". Ucap Lili memberi tahu.


Maya yang mendengarnya pun mendengus pelan dan menatap kearah Lili dengan tajam. Ia merasa kesal karena perbuatanya akhirnya di ketahui bahkan oleh kedua anak-anaknya.


"Apa itu benar Maya?". Tanya Royan dengan tegas.


"Yaah untuk jaga-jaga saja. Mana tahu ada suami orang yang mengirimkan pesan ke ponselnya atau diam-diam menelfonnya. Dan bisa juga tuan Yash si anak mafia itu juga menelfon Mira". Ucap Maya santai.


Toyan pun mendengus ringan. Dia bensr-benar sudah tidak bisa mengenali Maya lagi. Istri cantiknya itu sudah benar-benar berubah terlalu jauh.


"Kembalikan ponsel Mira. Kamu tahu, kamu itu sudah melanggar privasi seseorang Maya. Lagian ponsel itu di beli dengan uang jerih payahnya sendiri". Ucap Royan dengan tegas membuat Maya semakin merengut.


"Dan apa sudah ada suami orang yang menelfonnya atau mengirimkan pesan mesra kepadanya ?". Tanya Royan dengan alis terangkat membuat Maya langsung merah padam.


Msya pun lalu menaruh ponsel Mira diatas meja dengan cara membanting sedikit. Dan Mira pun mengambilnya dengan ragu-ragu.


"Mingkin saat ini memang belum ada. Tetapi entah lain hari. Suami orang jaman sekarang kan pintar". Ucap Maya sinis dan lalu memakan kembali sarapannya.


"Bagaimana bisa aku berhubungan dengan suami orang kak. Kalau pasanganku saja masih ditentukan oleh mu. Apa ada diantara mereka ysng memiliki istri. Dan suami orang mana yang kak Maya maksud ?". Tanya Mira sedikit marah kepada sang kakak.


Maya pun hanya tersenyum sinis dan mengendikan bahunya secara acuh tanpa menjawab sedikit pun pertanyaan yang Mira lontarkan. Merasa percuma Mira pun akhirnya mengalah dan mulai meredam amarahnya. Ini haribpertamanya memulai bekerja jangan sampai masalah ini dibawanya sampai kepekerjaan.


"Hhhhh..... Ya sudah aku pamit dulu. Swlamat menikmati sarapannya". Ucsp Mira yang langsung berlalu pergi. Sementara Ayub pun lalu berdiri bersamaan dengan Lili dan berjalan kearah Royan untuk berpamitan.


"Pah, kami sudah kenyang. Ayub dan Lili pamit ke sekolah dulu". Ucap Ayub sersys mencium punggung tangan kanan sang Ayah. Begitu pun dengan Lili yang juga mencium punggung tangan sang ayah lalu mencium kedua pipi sang ayah.


"Tunggu sebentar, mamah bawakan bekal buat kalian". Ucap Maya antusias seraya mengambil senwich isi kedalam wadah.


"Nih sudah jadi bekelnya. Jangan lupa dimakan Yah sayang". Ucap Maya seraya menyudorkan dua kotak bekal kepada kedua anaknya.


Namun sayang, kedua anaknya justru malah mengeluarkan kotak bekal mading-mading dari tangan mereka. Yang artinya bekal mereka sudah terlebih dahulu di siapkan.


"Kami sudah mendapatkannya mah. Simpan saja yang itu. Selamat pagi". Ucap Ayub yang langsung berlalu pergi meninggalkan Maya yang terlihat mematung.


"Bahksn mereka pun sudah tidak ingin berpamitan dengan ku. Juga bekal ini juga tidak mereka sentuh. Aku keduluan oleh Mira". Batin Maya merasa sedih.


"Tunggu di mobil. Kalian berangkat sama papah !". Seru Royan kepada kedua anaknya yang hanya di balasi tanda ok melalui kefua tangan masing-masing dari kedua anaknya.


Royan pun berdiri merapikan dasinya memakai jasnya dan menatap Maya yang terdiam di tempat dengan tatapan sedih.


"For your information. Jika aku ingin berselingkuh tentu aku akan berselingkuh dengan wanita sseleraku. Dan Mira, bukan lah tipeku Maya. Kau seharusnya ingat. Sebelum aku bersama mu, aku telah melalui msa-masa panjang. Aku mengenal begitu banyak wanita dan kau tahu seleraku itu seperti apa". Icap Royan sinis membuat Maya langsung tersenyum pahit.


"Berhenti lah berteman dengan Zoya. Kau berubah sejak berteman dengannya. Kau seperti orang asing untuk ku. Dan jangan sampai kau menyesal Maya". Ucap Royan lagi dan langsung meninggalkan Maya tanpa ucapan juga peluk cium yang biasa mereka lakukan setiap pagi.


Maya pun lalu mengacak-acak meja makan hingga berserakan dan beberapa piring berjatuhan kelantai. Ia merasa kesal, marah dan sedih juga emosi yang menjadi satu. Royan pun melihatnya. Namun ia kembali berjalan meninggalkan sang istri. Membiarkannya meluapkan amarahnya dan merenungi kesalahannya. Namun ia pun tidak begitu saja,acuh. Karena,diam-diam ia pun menyuruh bi Nah yang baru saja datang untuk mengawasi Maya.


"Bi, awasi Maya ya. Jika terjadi hal buruk hubungi saya segera. Saat ini biarkan dia begitu. Dan yah satu lagi bi. Jika Zoya datang kemari, tolong usir saja. Bilang saja ini atas perintah ku jika Maya marah kepa bibi". Ucap Royan memerintah.


"Iya tuan, baik akan saya ingatvpesan-pesannya tuan". Ucap bi Nah sopan.


"Ya sudah saya pamit dulu bi". Ucap Royan berpamitan.


"Iya tuan, silahkan". Ucap bi Nah sopan dan Royan pun mulai menyalakan mobilnya dan pergi untuk mengantarkan kedua anaknya kesekolah juga membawa dirinya ke kantor.


Mira pun sampai di tempat kerjanya lebih awal. Terlihat juga beberapa petugas bersih-bersih tengah membersihkan ruangan dengan sedikit terburu-buru. Merasa tak ingin mengganggu kerja para tukang bersih-bersih. Mira pun akhirnya memilih duduk di kursi tunggu yang berada di luar butique. Dan tak berapa lama kemudian Shila, Nuri, Imelda dan Oji pun datang. Mereka pun menghampiri Mira yang tengah duduk di kursi tunggu di luar butique.


"Selamat pagi Mira !". Ucap keempatnya secara bersamaan. Membuat Mira yang tadinya tengah merenungi masalahnya pun teekejut.


"Ya ampun, kalian tuh bikin kaget saja". Ucap Mira kepada keempat teman kerjanya itu.


"Sory Ney, habis kita-kita lihat kamu tadi melamun sih Ya terpaksa kita-kita kagetin dikit ko. Ospek jantung diawal ney". Ucap Oji dengan nada kemayunya.


"Ospek jantung. Kalian ini ada-ada saja". Ucap Mira seraya menggeleng heran.


"Ngomong-ngomong nih kita berangkatnya rada kepagian apa ya ?". Tanya Nuri yang merasa heran.


"Tau nih. Tumben banget masih sepi. Cuma beberapa tukang bersih-bersih juga". Ucap Shila yang ikut merasa heran.


"Ya udah lah, kita tunggu saja disini. Oh iya aku satu minggu kemarin habis dari rumah nenek di lembang. Aku bawa bolu susu nih cobain". Ucap Imelda seraya menyodorkan satu kotak besar yang isinya roti bolus susu coklat yang di taburi keju parut diatasnya.


"Wih kebetulan nih gua laper banget belum sempet sarapan tadi". Ucap Shila yang langsung mengambil satu potong kue.


"Lah tumben ney, kan lu tinggal di rumah Atmaja. Emang para pembantu di sana belum pada bangun sampai-sampai Lu engga sempat sarapan ?". Tanya Nuri heran.


"Hhhh.... Kalian tidak tahu saja suasana rumah itu. Sangat menegangkan". Batin Shila yang tidak bisa nyeplos seperti biasanya.


"Ck gua buru-buru lah. Tahu sendiri kan ini awal masuk kerja". Ucap Shila beralasan.


"Emang nona Martha engga tinggal di rumah itu ya Ney. Sampai-sampsi lu buru-buru gituh. ?". Tanya Oji lagi.


"Emang. Nona Martha kan udah suami ya otomatis tinggal di rumah suami lah atau runah mertuanya. Makanya aku buru-buru ginih. Ya kali saja setelah tinggal bareng suami dan mertua ada peeubahan. Kita kan engga pernah tahu ya toh". Ucap Shila santai.


"Bener juga sih". Ucap keempatnya secara berbarengan.


"Loh Ra, ayo ini di makan. Ko dien saja sih. Kamu kan paling sama kue bolu". Ucam Imelda yang menyadari sedari tadi Mira hanya diam tanpa mengambil kue yang ia sodorkan seperti yang lainnya.


"Iya nih Ney nanti keburu habis loh sama si Shila". Ucao Oji yang mulai memancing keributan.


PLAAKKK !!!!


Suara keplakan tangan Shila pun sukses mengenai bahu kiri Oji yang membuat Oji seketika menjerit kesakiran dengan nada kemsyunya.


"Lu pikir gua semaruk itu !". Ucap Shila dengan nada,satuvoktafnya.


"Sakit tahu ney". Ucap Oji seraya mengusap-usap bahusnya.


"Rasakan". Ucap Shila sinis. Membuat Oji langsung cemberut manja.


"Ra, ayo di makan" Ucap Nuri menawari.


"Maaf ya semuanya. Aku belum di perbolehkan makan tang berat-berat dulu. Nih bekalku saja harus seperti ini untuk makan siang". Ucap Mira seraya menunjukan bekal makan siangnya.


"Yeakk.... Itu kan bubur bayi Ra". Ucap Shila yang merasa jijik.


"Iya, ko kamu makannya kaya gituan sih Ra. Kamu mau diet atau gimana ?". Tanya Imelda penasaran.


"Cerita dong cerita sama kita-kita Ney". Ucap Oji penasaran yang langsung di angguki setuju oleh Shila, Nuri, dan Imelda.


"Tiga hari yang lalu aku sakit terus pas di periksa ternyata lambungku bermasalah jadi ya dokter menyarankan aku untuk mekan seperti ini dulu selama satu bulan secara bertahap". Ucap Mira memberi tahu.


"Satu bulan ney ?". Tanya Oji yang tak bisa membayangkan. Membuat Mira mengangguk pasrah.


"Waah, yang sabar ya Ra". Ucap Imelda merasa perihatin.


"Yang semangat ya Ra, kita-kita jadi ikutan sedih dengernya. Tpi kok bisa sih lambung kamu bermasalah gitu. Apa selama satu bulan full kamu makan-makanan yang super pedas semua ?". Tanya Shila merasa heran.

__ADS_1


"Emm engga sih, aku juga engga tahu kenapa". Ucap Mira berbohong. Imelda pun mendekat kearah Shila dan membisikan sesuatu kearah Shila dengan suara pelan.


"Shil..". Bisik Imelda.


"Apaan Mel ?". Tanya Shila.


"Mungkin engga kalau sakitnya Mira itu karena patah hati. Dia jadi susah makan terus banyak fikiran terus sakit". Bisik Imelda.


"Bisa jadi sih. Ya udah nanti kita bilangin kepada para pekerja lain untuk tidak terlalu menforsir Mira. Terus kita bantu diam-diam pekerjaan Mira". Usul Shila kepada Imelda.


"Ide bagus tuh. Eh tapi kita hrus hati-hati. Engga semua pekerja itu pada tulus-tulus loh. Jangan sampai rencana kita sampai ke telengi madam Ghin dan nona Marta". Ucap Imelda menimpali.


"Iya gua setuju. Lagian si Mira lagi sakit masih mau bekerja. Tapi ya mau gimana lagi ya. Bos kita itu kan kejamnya setengah mati". Ucap Shila dongkol.


"Emang Shil...". Ucap Imelda yang ikut merasa kesal.


Tak berapa lama para pekerja pun mulai berdatangan dan memasuki butique. Begitupun dengan Mira dan keempat teman lainnya. Saat mereka tengah bersiap memulai bekerja para pekerja pun pada heboh saat nona Marta dan meneger Er memasuki butique.


"Berbaris-berbaris. Nona Martha dan meneger Er sudah datang !". Ucap salah satu pekerja berseru dengan heboh.


"Ck apaan sih gitu saja heboh. Kaya kedatangan presiden saja". Sungut Shila merasa jengkel dan ikut berbaris di depan pintu masuk.


Para pekerja pun berbaris dengan rapih dan sopan. Para lelaki di seberang kanan dan para pekerja perempuan di seberang kiri. Martha dan Erlangga pun memasuki ruangan dan kesemua pekerja pun menunduk hormat termasuk juga dengan Mira.


"Selamat datang nona Martha dan meneger Er". Ucap para pekerja dengan serempak.


"Apa-apaan ini ?". Lirih Erlangga dengan raut tak suka.


"Engga apa sayang, mereka memang harus begitu". Bisik Martha dengan mesra tepat di hadapan Mira.


"Terimakasih untuk sambutannya. Saya sangat berbahagia sekali". Ucap Martha dengan elegan.


"Hari ini saya mau mengumumkan. Bahwa madam Ghin tengah berada di luar kota untuk mengembangkan dan mengurus cabang butique Madam Ghin untuk waktu yang cukup lama". Ucap Martha memberi tahu. Namun di balasi senyuman sinis oleh Shila dan Erlangga.


"Heh cabang butique. Are you seriously". Lirih Shila dengsn Sinis.


Mira sebenarnya mendengar perkataan lirih Shila dan sedikit tidak yakin atas pendengarannya. Makannya ia menengok kearah Shila yang tengah menatap Msrtha dengan benci.


"Jadi, saya dan suami saya yang akan mengambil alih sementara butique ini. Dan otomatis hari ini kbos besar kalian adalah tuan Erlangga. Dan aku adalah kepala pengawasnya". Ucap Martha memberi tahukan kekuasaan dsn jabatan penting di butique milik madam Ghin. Milik ibunya sendiri.


"Dan untuk meneger baru di butique ini. Seperti yang kita tahu. Bahwa nona Monikca Elandra adalah pekerja terbaik di butique ini. Dia cerdas, gesit, menarik dan memiliki kepribadian baik dan santun. Jadi nona Mo. Anda siap untuk menjadi meneger baru di butique ini ?". Tanya Martha dengan serius.


Semua mata pun tertuju kepada Monika. Mereka pun penasaran atas jawaban yang akan Monika lontarkan. Mengingat jika Monika baru satu tahun bekerja namun memang dia sangat gesit, cerdas dan santun. Sangat cocok untuk di jadikan atasan sekelas meneger.


"Jika itu sudah menjadi keputusan dari bu Martha. Maka saya siap untuk menjadi meneger bu". Ucap Monika sopan. Dan kesemua pekerja pun bertepuk tangan.


"Baiklah, tanpa mengulur waktu lebih banyak lsgi. Saya minta untuk kalian kembali ke tempat kerja masing-masing. Berkerjalah dengan giat dan semangat untuk butique madam Ghin". Ucap Martha dengan penuh semangat dan ambisi.


"Semangat !!!". Seru para pekerja dengan kompsk dan bertepuk tsngan serays membubarkan diri.


Terjadi satu adegan dimana Mira dan Erlangga saling pandang diantars para pekerja yang melewati mereka. Erlangga pun masih menatap Mira dengan dalam tanpa memperdulikan Martha yang bergelayut manja di sampingnya. Memamerkan kemesraan secara sepihak. Sementara Mira melihat Erlangga dengan tatspan heran. Ia merasa Eelangga sedikit berbeda. Dia lebih banyak diam dan kaku. Tidak ada lagi senyuman ramah seperti sebelumnya. Namun setelshnya Mira hanya mengendik acuh dan berbalik badan berjalan menuju arah tumpukan baju yang harus ia rapihkan dan jajarkan dipatung baju.


"Mira apa kabarmu. Apa kamu bsik-baik saja setelah aku menikah dengan Martha. Jujur aku tidak baik-baik saja. Aku merindukan mu". Ucap Erlangga dalam batinnya yang masih melihat kearah Mira ysng telah berjalan menjauh.


Martha yang menyadari tatapan dari Erlangga pun lsngsung mengarahkan muka Erlangga kearshnya dan menatap Erlsngga dengan dalam.


"Er, aku disini bukan disans. Dan aku adalah istrimu sekarang. Berhentilah untuk menatsp wanita lain. Itu sangat menyakiti hatiku". Ucap Martha memohon.


Erlangga pun langsung menurunkan tangan Martha ysng berada di pipinya dengan kasar dan sedikit mendorong tubuh Msrtha yang tengah bergelayu dan menempel di tubuhnya. Ia pun lalu membersihkan bsjunya dengan angkuh seperti ada kotoran yang mengotori bajunya dan lalu pergi begitu saja meninggalkan Martha yang berdiri kesal serays menghentakan kakinya dengsn kuat.


"Apa-apaaan kau ini Er. Tidak bisakah kau lembut pada ku. Kita ini suami istri". Ucap Msrtha seraya mengekori langkah Erlangga dari belakang. Erlangga pun tidak mengindahkan perkataan Martha dan masih berjalan acuh.


"Er, tunggu. Er !". Seru Martha yang sedikit lelah mengikuti langkah lebar sang suami.


Sesampainya di lantai tiga tepat dimana ruangab sebagai bos besar berada. Bsru lah Msrtha menarik lengan Erlangga dan lalu mencium bibir Eelangga dengan sedikit memaksa.. Membuat Erlangga sedikit terkejut dan langsung mendorong tubuh Martha hingga menabrak dinding.


"KAU.... !". Seru Erlangga dengan penuh amarah.


"Kenapa. Bukannya itu wajar. Kan kita sudah sah di mata hukum dan agama Er". Ucap Martha dengan tatapan polosnya.


"Berhenti menjadi murahan Martha. Bagi ku kau itu sangat menjijikan. Dan apa tadi, pernikahan. Heh hanya kau yang mengakuinya. Tidak denganku karena aku tidak mencintaimu". Ucap Erlangga dengan amarahnya.


"Itu karena kau yang menjebakku menggunakan minuman itu. Dasar wanita jalang. Tidak tahu diri kau. Pergi dari hadapanku sebelum aku melakunan penyiksaan yang lebih dari semalam. Apa kau lupa Martha. Perlu aku ingatkan HAH !". Ucap Erlangga dengan emosi ysng menyulut. Membuat Martha langsung mrnggeleng takut dan berjalan mundur.


"Pergi kau dari hadapanku !". Seru Erlangga lagi dan lsngsung berlalu memasuki ruangan dengan membanting pintu.


Martha pun langsung meroso lemas dan menangis pilu di depan ruangan Erlangga. Sungguh ia merasa jika hidupnya penuh dengan kesialan. Dulu ia sangat mencintai Vikran dan rela menentang ibunya hanya untuknya. Lalu apa yang ia dapstkan. Rasa kecewa karena ditinggalkan secara sepihak. Dan sekarang ia mencintai sahabat kecilnya sendiri namun hatinya yidak bisa ia sentuh sedikit pun. Sehingga cara-cara kotor pun harus ia lakukan demi memilikinya. Dia hanya ingin di cintai. Seorang Marthania Putri Atmaja sangat butuh di cintai.


Dihari pertama Mira bekerja, selalu saja ada pekerjaan berat yang harus ia bawa. Seperti menyimpan berkodi-kodi baju batik dari depan menuju ke gudang baju yang berada di ruang belakang. Namun Mira pun merasa aneh saat beberapa pekerja justru malah membantunya secara diam-diam.


Ada yang membawanya dengan troli yang di gunakan untuk mengangkut galon secara dism-diam dan berlarian seperti Oji contohnya yang berlarian bersama tukang pengantar galon membawa dua tumpuk baju yang jumlahnya lebih dari satu kodi. Dan dengan terburu-buru mendorongnya ke gudang.


"Ney ini aku taru sini ya...". Mengangkat tumpukan baju dan menaruhnya di lantai.


"Nanti hhh...hhh...Ney tinggal atur rapihkan ok". Ucap Oji dengan nafas memburu.


"Iya Ji, makasih ya baik banget deh kamu". Ucap Mira lembut.


"Sama-sama Ney". Ucap Oji tulus.


"Yuuk pak capcus kita keluar. Tapi inget pa, harus lari ok". Ucap Oji dengan gaya kemayunya.


"Ok sis". Jawab sibpengantar galon dengan semangat.


"Yuk Mari one, teo, go..... Aaaaaaa lari pa cepet cuuss!". Seru Oji seraya menggeret sang petugas pengantar galon.


GEDUBRAKK !!!!!


"YA AMPUN OJI !". Teriak Martha yang melihat tingkah Oji sang desainer yang terlihat terjatuh dengan bokong yang terlebih dulu mendarat di lantai.


Mira yang melihatnya dari jauh pun sedikit ingin tertawa namun merasa kasihan sebab sudah capek-capek menolongnya malah terjatuh di lantai.


"Kamu ngapain sih larian kaya anak kecil gitu ngapain HAH ?". Tanya Martha setengah gemas kepada Oji dengan penuh emosi.


"Maaf bu Martha... Ini nih si bapaknya pake nakutin segala kalau ada hantu. Ya saya lari lah bu takut hiiii". Ucap Oji beralasan.


"Iya maaf sis maaf". Ucap sang petugas galon.


"Heeeh ada-ada saja kalian. Tunggu kamu tadi dari arah gudang ngapain. Oh jangan-jangan kamu habis bantuin Mira ya ngaku !". Ucap Martha dengan nada galaknya.


"Em... Ehh... Eng... Engga ko bu, saya kegudang itu karena eeehhh itu ngecek kain. Ya ngecek kain bu untuk desain bajunya nyonya Rumi itu loh heehee". Ucap Oji yang langsung menemukan ide untuk memberi alesan.


"Awas ya kalau ketahuan bantuin Mira. Kamu aku keekkss !". Ucap Martha seraya memperagakan gaya memotong leher dengan tangannya. Membuat Oji langsung mendelik takut.


"Udah sanah pergi. Ini juga tukang galon ikut-ikut saja. Pergi sana". Usir Martha dengan judesnya dan langsung membuat Oji dan si petugas pengantar galon langsung pergi dengan buru-buru.


Setelah itu Martha pun berjalan menghampiri Mira yang berada di gudang. Dengan gaya angkuh dan jumawanya. Martha pun bersilang tangan di atas perutnya.


"Gimana, udah beres tuh baju-bajunya. Yang rapih loh ya awas kalau engga rapih". Ucap Martha sinis.


"Semua sudah saya pindahkan dan saya rapihkan bu. Bu Martha bisa lihat swndiri". Ucap Mira lembut dan sopan. Martha pun masuk kedalam gudang dan melihat pekerjaan Mira.


"Heh bagus deh. Jangan lupa kuncing tuh gudang". Ucap Martha memerintah dan melenggang pergi.


Namun sebelum Martha benar-benar berjalan pergi Mira seperti melihat wajah Martha yang terlihat sembab seperti habis menangis.


"Martha...". Panggil Mira dengan nada serius. Membuat Martha menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kearah Mira.


"Kamu habis nangis ya ?". Tanya Mira dengan raut khawatir.


Martha pun berjalan mendekati Mira dengan tatapan benci. Ia pun menatap Mira dengan raut kesalnya sedangkan Mira hanya terdiam bingung di tempat.


"Bukan....Urusan...Elu". Ucap Martha seraya mendorong tubuh Mira dengan kuat. Membuatnya terjatuh dengan posisi terduduk seraya memegangi perutnya.


Mira merasa perutnya sangat ngilu sekali karena terjatuh dan tidak bisa untuk berdiri. Martha yang melihatnya pun hanya tersenyum sinis dan lalu pergi meninggalkan Mira yang tengah kesakitan.


Sekepergiannya Martha dari gudang. Shila dan Imelda yang merasa khawatir akan Mira yang baru saja diceritakan oleh Oji tengah berada di depan gudang pun diam-diam menyelinap dan masuk kedalam gudang. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Mira tengah terduduk dengan kesakitan memegangi perutnya.

__ADS_1


"Ya tuha MIRA !". Ucap keduanya secara bersamaan dan berlari mendekati Mira.


"Lu kenapa Ra, Lu diapain sama itu lampir heh ?". Tanya Shila dengan nada tinghi setengah emosi.


"Stttt, Shila pelanin suara kamu itu". Hardik Imelda dengan sesekali melihat keluar.


"Shil, Mel. Perut aku sakit banget tadi aku jatuh". Ucap Mira berbohong.


"Ahh elu mah da ya suka nutup-nutupin kesalahan orang. Engga percaya gua. Dah lah pokonya yuk kita keluar keruang kesehatan. Emang bener-bener tuh lampir satu". Oceh Shila yang merasa tak terima.


Shila dan Imelda pun akhirnya memapah Mira keruangan kesehatan. Dan secara kebetulan juga hal itu dilihat oleh meneger Mo yang tak sengaja lewat. Dengan buru-buru meneger Mo pun langsung memaduki ruang kesehatan.


"Mira kenapa Shil, Mel ? Tanya meneger Mo panik. Membuat Shila dan Imelda pun saling pandang merasa heran.


"Engga apa ko meneger Mo. Perut saya sedikit sakit tadi". Ucap Mira dengan nada lemas dan muka pucet.


"Kamu yakin ?". Desak meneger Mo merasa tidak percaya. Dan Mira pun hanya mengangguk saja.


"Aduh mati aku". Lirih meneger Mo dengan panik. membuat Shila dan Imelda yang mendengar nada panik meneger Mo pun semakin penasaran.


"Shil, itu meneger baru kenapa sepanik itu ya ke Mira. Padahal kan mereka engga saling kenal ya". Bisik Imelda kepada Shila.


"Iya, heran deh". Ucap Shila menimpali.


"Kerumah sakit saja ya. Biar langsung di periksa sama dokter Jordan". Ucap meneger Mo keceplosan.


"Dokter Jordan". Ucap Shila, Imelda dan Mira bersaaamaan. Membuat meneger Mo langsung menutup mulutnya.


"Emmm iya, dokter Jordan. Dokter langganannya saya". Ucap meneger Mo buru-buru memberi alasan. Membuat ketiganya pun beroh ria.


"Engga apa ko meneger Mo. Saya hanya butuh istirahat saja sebentar. Shil bantu aku duduk ya". Ucap Mira meminta pertolongan.


Shila pun langsung dengan sigap membantu Mira untuk duduk. Namun setelah duduk mereka berlima pun terkejut saat melihat noda darah yang terdapat di sprei.


"Ra, kayanya Lu mens deh". Ucap Shila memberi tahu seraya melirik kearah seprei.


"Iya kah... Ufff mana aku engga bawa baju ganti dan pemb**ut lagi. Gimana ya ?". Ucap Mira panik.


"Ohh saya bawa. Kebetulan saya juga lagi datang bulan. Sebentar saya bawakan tunggu ya". Ucap meneger Mo dengan terburu-buru lalu keluar ruangan.


Mira, Shila dan Imelda pun hanya bisa melongo. Mereka merasa jika meneger Mo terlalu khawatir dan takut. Namun mereka bingung dengan alesannya. Sebab mereka juga jarang berkomunikasi banyak dengan sang meneger baru yang dulunya hanya pekerja biasa.


Meneger Mo pun langsung memasuki ruangannya dan mengeluarkan ponselnya yang sudah bergetar sejak ia hendak memasuki ruangan. Ia pun lalu menjawab panggilan teleponnya dengan takut-takut.


"Ha..Halo tuan". Ucap meneger Mo gugup.


Seseorang yang menelfon sang meneger pun mengernyit kala mendengar suara orang pesuruhnya seperti tergagap. Seolah ia tengah melakukan kesalahan.


"Apa terjadi sesuatu dengannya. Katakan ?". Desak seseorang itu dengan tegas dan dingin.


"Iya ya tuan. No...Nona Mira tengah berada di ruang kesehatan. Sa...Saya belum tahu pasti penyebabnya. Tetapi nona juga tenga emm... itu tuan emm". Ucap meneger Mo sedikit bingung.


"Tengah apa. Berbicaralah yang bena !r". Ucapnya tak sabaran.


"Datang bulan tuan". Lirih sang meneger Mo dengan malu-malu.


"Hhhh....Aku fikir tengah apa. Ya sudah bantu dia untuk mengurus segala keperluannya. Ingat cari tahu apa penyebabnya swlain hanya datang bulan. Karena aku merasa sesuatu terjadi kepadanya". Ucapnya memerintah.


"Baik tuan Yash. Perintah anda akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya". Ucap meneger Mo sopan dan patuh.


Benar, seseorang yang tengah menelfon meneger Mo adalah Yash. Ia sengaja menggunakan Monika yang notabennya anak dari pekerjanya yang kebetulan bekerja di butique yang sama dengan Mira untuk membantu dan mengawasi Mira. Sebab Monika menjadi meneger pun juga karena permainan Yash.


"Aku harap tidak terjadi hal yang buruk" Lirih Yash sedikit resah dan hawatir.


"Tuan saatnya terapi". Ucap salah satu pelayan dengan bahasa jepang.


"Baik lah". Balas Yash juga dengan bahasa jepang.


Meneger Mo pun kangsung bergegas menuju ruang kesehatan kembali. Ia membawa satu bungkus pemb**ut ukuran sedang juga baju seragam ganti yang dulu pernah ia punya sebelum diangkat menjadi meneger.


Saat neneger Mo hendak mengetuk pintu. Ia tak sengaja mendengarvocehan Shila yang terdengar dari luar karena pintu ruang kesehatan pun tidak tertutup rapat.


"Keterlaluan banget itu si Marthobak. Pake acara ngedorong-dorong elu Ra. Maksud dia apa coba. Mentang-mentang bos gitu". Ucap Shila merasa kesal.


"Aku juga tidak tahu Shil. Aku hanya bertanya apa dia habis menangis. Karena aku lihat mukanya sembab sedikit dan dia malah mendorongku dengan berkata jika itu bukan urusanku". Ucap Mira memberi tahu.


"Jadi, semua ini karena nona Martha. Hhhh wanita manja dan ambisius itu memang sebelas dua belas kejamnya dengan sang ibu". Batin meneger Mo yang juga ikut merasa kesal.


"Tapi memang benar juga yang dikatakan oleh bu Martha. Akunya saja yang terlalu penasaran". Ucap Mira yang mengakui kesalahannya.


"Tapi bisa kan ngingetin kamu dengan cara halus. Bukan barbar macam pereman". Ucap Imelda yang juga angkat bicara.


Meneger Mo pun langsung mengetuk pintu dan ketiga perempuan itu pun langsung diam seribu bahassa dengan gestur mencurigai.


"Mati aku, mana ajudannya Martha dateng lagi. Dia denger engga ya, pembicaraan gua dan Mira". Ucap Shila dengan melotot garang.


"Bido amat lah kalau pun denger terus diaduin juga. Kalau Marthobak ngelabrak juga gua ladenin pokoknya Martha doang mah engga takut gua". Batib Shila lagi yang langsung masa bodo.


"Meneger Mo denger engga ya tadi ?". Batin Mira bertanya-tanya.


"Hhh...Mudah-mudahan meneger Mo tidak mendengar pembicaraan tadi". Ucap Imelda dengan was-was.


"Mira, ini saya bawakan kepeeluanmu. Dan saya berikan seragam saya yang dulu buat kamu pakai". Ucap meneger Mo seraya menyerahkan peperbag yang ia bawa.


"Terima kadih meneger Mo. Anda sangat baik sekali". Ucap Mira lembut.


"Sama-sama Mira". Ucap meneger Mo dengan tersenyum tulus.


Mira pun langsung bergegas ke kamar mandi yang ada di ruang kesekatan dan lalu mengganti bajunya juga mengenakan keperluannya.


"Pantas saja tuan Yash sangat tergila-gila kepadanya. Mira gadis yang lembut dan keibuan. Dia juga tulus dan baik". Batin meneger Mo memuji.


"Dan wajar saja tuan Erlangga pun tidak bisa move on darinya". Batin meneger Mo lagi dengan tersenyum misterius.


Meneger Mo pun langsung menatap kearah Shila dan Imelda yang sedari tadi berdiri canggung dan menatap sang meneger dengan curiga.


"Kalian tenang saja, saya tidak akan melaporkan apapun kepada bu Martha. Saya berada di pihak kalian". Ucap meneger Mo dengan tersenyum meyakinkan.


"Serius nih meneger Mo ?". Tanya Imelda tak yakin. Dan meneger Mo pun hanya mengangguk yakin.


"Saya juga tidak begitu suka dengan bu Martha. Karena sebelum ini, ia sangat menyebalkan intuk saya". Ucap meneger Mo dengan memberengut tak suka.


"Huuff.... Syukur lah. Kami fikir anda akan satu spesies dengan bu Martha". Ucap Shila mensyukuri. Dan meneger Mo pun hanya tersenyum saja.


Mira pum keluar dari dalam bilik mandi. Ia pun terlihat rapih dan seragam yang Mira kenakan pun sangat pas malah terlihat bagus dengan lekuk tubuh Mira. Karena meneger Mo tubuhnya lebih kecil sedikit dari Mira. Dan Mira pun selama ini memakai seragam kerja yang sedikit kebesaran.


"Wiiihhh body mantan dencer mah beda ya sama orang biasa. Bener-bener mantap". Ucap Shila yang sedikit mengagumi lekuk tubuh Mira.


"Kamu terlihat beda Ra. Tapi bagus sih gila". Ucap Imelda dengan antusias.


"Maaf ya Mira, bajunya sangat pas ya di badan kamu. Soalnya saya sedikit lebih kecil badannya dari kamu". Ucap meneger Mo merasa tak enak.


"Tak apa ko meneger Mo. Ini lebih baik dari pada kesempitan dan susah untuk bergerak. Lebih baik pas dan nyaman kan". Ucap Mira lembut dan memaklumi.


"Syukurlah jika kamu mengerti. Ya sudah ayo kembali bekerja lagi. Di luar lagi ramai pengunjung. Di layani dengan baik Ya". Ucap meneger Mo dengan sopan.


"Baik bu meneger". Ucap ketiganya kompak.


Mereka bertiga pun berjalan keluar ruangan kesehatan menuju ke bagian para pengunjung butique. Dan alhasil para penginjung butique pun terpana saat Shila, Mira dan Imelda memasuki ruangan. Kecantikan ketiganya menghipnotis para pengunjung.


"Wiihh kaya girl band blac pink. Cuma kurang satu personil saja". Ucap beberapa ibu-ibu.


"Eh denger-denger yang dua itu tuh yang tengah sama yang kiri itu yang melayani para pengunjung loh. Dan yang poni itu yang rada tomboi itu kasirnya". Ucap salah satu ibu-ibu pengunjung yang lainnya.


"Waahh kalau gitu aku mau lah di layani sama dua itu. Mereka cantik-cantik. Pasti tahu benar masalah fasshion". Ucap salah satu pengunjung lagi.


"Eh ya udah samperin saja yuk. Keburu nanti mereka melayani yang lain". Ajak ibu-ibu yang bertubuh gemuk dan di setujui oleh ibu-ibu satu gengnya.

__ADS_1


Dan bisa di pastikan Mira dan Imelda dapat menarik pembeli lebih banyak hari itu. Dan hal itu pun di perhatikan penuh oleh Erlangga yang memantau dari balkon lantai atas.


__ADS_2