
Satu biuan pun berlalu. Kini Mira telah bisa membawa bekar seperti biasa. Kondisi lambungnya pun sudah membaik. Hari ini Mira memasak bekal makan siangnya dengan semangat. Ia pun memasak banyak hari ini untuk ia bawa ke tempat kerjanya. 3 kotak bekal ukuran sedang pun telah terisi dengan 1 kotak nasi penuh, 1 kotak egg rool dan tahu aci, juga 1 kotak sayur brokoli di campur dengan sosis, bakso, dan udang.
Mira pun membuat sarapan pagi yang berbeea-beda. Dua mangkuk sereal coklat berbentuk bulat dan satu satu gelas susu putih untuk Lili dan satu gelas susu coklat untuk Ayub. Juga dua piring roti isi telur mata sapi dan sayuran untuk Maya dan Royan, satu cangkir kopi hitam untuk Royan dan satu cangkir teh hijau untuk Maya. Sementara Mira membuat sarapan roti tawar yang ia olesi dengan slai kacang dan satu gelas susu coklat.
Ia juga membuatkan dua bekal makan siang untuk Ayub dan Lili. Satu kotak bekal berisikan nasi dan sayur brokoli serta beberapa goreng tahu aci dan sosis goreng untuk Ayub. Dan satu kotak lagi berisikan nasi dan lauk egg rool seeta sosis goreng untuk Lili. Tak lupa dengan tempat minumnya. Mira pun langsung memasukkan kotak bekal dan botol minum ke dalam Tas milik Ayub dan Lili yang sudah bertengger rapih di kursi makan. Karena Swmalam sudah di bereskan dan di rapikan. Jadi tadi pagi-pagi setelah Mira mencuci motornya. Mira pun mengambil tas kedua keponakannya lalu membangunkan kedua keponakannya itu. Menyiapkan seragam sekolah keduanya dan setelah siap Mira pun turun lagi untuk memasak seraya membawa tas milik kedua keponakannya itu di kursi makan mading-masing.
Seperti biasa, tepat pukul stengah tujuh pagi. Semuanya pun sudah siap dengan seragam masing-masing dan duduk di kursi makan masing-masing.
"Hari ini kamu berangkat kerja bawa si merah Ra ?". Tanya Royan yang saat bangun pagi sudah melihat Mira mencuci motor metiknya dan membiarkannya berada di luar garasi.
"Iya kak, boros kalau harus pakai taksi online$. Ucap Mira dengan tertawa lebar.
"Kenapa engga minta anterin Dareen saja Ra ?". Tanya Maya dan lalu memakan roti isi yang di buat oleh Mira.
"Dareen punya kesibukan sendiri ka, lagian engga enak kalau harus bergantung ke Dareen. Kalau bisa sendiri ya why not". Ucap Mira dengan tersenyum lembut.
"Ya sudah lah terserah kamu saja. Asal jangan minta antar ke suami orang saja". Ucap Maya sedikit menyindir.
"Maksud kakak Erlangga ?". Tanya Mira memastikan. Dan Maya pun hanya mengendikan bahunya dengan gamlang.
"Aku tahu batasannya kok ka. Lagian aku tidak ingin kena karma". Ucap Mira santai. Lalu memakan roti tawarnya dengan lahap
"Good girl". Ucap Royan dengan tersenyum bangga kepada,Mira. Membuat Maya langsung melirik tajam kearah suaminya.
"Lalu kapan kamu mau melanjutkan kencan yang selanjutnya. Masih ada enam pria lagi". Ucap Maya mengingatkan lalu meminum teh hijau buatan Mira dengan anggun.
Mira pun tersenyum misterius kearah sang kakak dan meminim susu coklatnya dengan rakus.
"Terserah kak Maya saja. Atur saja waktu dan tempatnya". Ucap Mira santai.
"Lalu yang kemarin sudah kamu tetapkan mau pilih yang mana. Ingat kamu harus nentuin lima orang". Ucap Maya mengingaykan.
"Hmmmm..... Untuk Satya Adiguna, dia memiliki sesuatu yang menyimpang. Dia penyuka sesama jenis dan kita sudah sepakat untuk membataljan perjodohan ini. Dia tidak bisa meninggalkan kekasihnya". Ucap Mira memberi tahukan kebenarannya.
Membuat Maya langsung terbengong di tempat saat mengetahui kebenarannya tentang Satya Adiguna yang telah ia pilih. Rupanya pilihanya tidak waras. Hanya terlihat bagus di luar saja. Namun dalamnya dia memiliki sex yang menyimpang.
"Untuk Rico Orlando. Dia terlalu sombong dan arogan. Meskipun dia tergolong cerdas dan meripakan dokter gigi ternama. Bagi ku tidak lah cocok aku dengannya. Dia awala pertemuan saja, dia lebih banyak menghinaku. Penampilanku, cara berpakaianku juga aku ysng tidak bisa meminun anggur terbaik". Ucap Mira lagi.
Ucapan Mira pun langsung membuat Maya marah dan naik pitam. Ia pun menggebrak meja dengan tiba-tiba dan membuat Lili ketakutan.
BRAKKK !!!!
"Kenapa kamu tidak memberi tahukan kakak sih Ra. Lelaki macam itu harusnya di beri pelajaran. Kurang ajar sekali dia !". Ucap Maya dengan marah.
"Memangnya kau ada waktu untuk memperhatikan adikmu itu. Kau kan hsnya memikirkan cara bagaimana agar bisa mendepaknya dengan halus dan tidak terlihat egois". Ucap Royan mrnyindir dengan tenang.
"Ngomong apa kamu Mas. Kalau Mira cerita keaku sudah pasti aku akan mendatanginya dan menghajarnya". Ucap Maya menyangkal.
"Memang lelaki yang bernama Rico itu pilihannya siapa. Kamu Ra ?". Tanya Royan yang madih santai.
__ADS_1
Mira pun menggeleng dengan lesu dan melirik kearah Maya. Dan Maya pun langsung terdiam. Dia baru ingat jika Rico adalah pilihannya Zoya.
"Heh... Sudah lah tidak perlu kamu marah-marsh. Toh sudah berlalu. Beruntung saja malam itu Mira di temukan oleh pria baik dan membawanya pulang dengan selamat. Jika tidak, wanita dalam kondisi setengah mabuk di malam hari. Yaa kamu bayangkan sendiri lah Maya". Ucap Royan memberi tahukan kebenarannya.
"Jadi kamu tahu tentang keadaan Mira malam itu Mas. Terus kenapa kamu tidak membangunkanku sih Mas. Dan kenapa kamu juga tidak langsung bercerita saat besok paginya ?". Tanya Mays bertubi-tubi.
"Jawabanya hanya satu Maya. Kamu.... Terlalu sibuk". Ucap Royan santai membuat Maya semakin heran akan sikap Royan yang sedikit berbeda.
"Sudah lah ka, engga usah senewen gitu. Lihat tuh Lili sampai ketakutan". Ucap Mira menadihati.
Maya pun langsung melihat kearah Lili yang ketakutan dan menunduk dalam. Merasa bersalah Maya pun langsung menghampiri sang anak dan memeluknya dengan sayang.
"Maafin mamah ya sayang, mamah engga maksud marah-marah ko. Mamah hanya sedikit tidak terima saja tadi. Masf ya ?". Ucap Maya lembut dan langsung diangguki oleh Lili.
Maya pun langsung memeluk Lili dengan sayang dan memangkusa di kursi seraya menyuapi Lili dengan lembut.
"Dan untuk Dareen. Aku mungkin akan memilihnya karena dia baik dan sopan. Sementara tuan Setiaji aku bingung kak. Dia sebenarnya baik dan sangat menghormatiku. Di pertemuan itu juga dia sangat dewasa dan memperlakukanku dengan baik. Tetspi...". Ucap Mira sedikit menggantung.
"Tetapi apa Ra ?". Tanya Maya penasaran.
"Anak semataesysngnya yang bernama binar itu. Dangat urakan dan bar-bar. Di malam itu juga fia datsng dan lsngsung mengamuk di tempat. Memecahkan segala ysng ada dan mengacak-acak tempat itu dengan brutal. Tuan setiaji saja sampa kualahan di buatnya. Dan aku pun terkena sedikit serpihan kaca dan air panas". Ucap Mira memberi tahu.
"Apa ?". Ucap Maya begitu syok.
"Iya kak. Untuk saja secara kebetulan tuan Yas ada disana. Dia tengah mengadakan pertemuan penting dengan rekan bisnisnya dan membawa pengawal karena rekan bisnisnya sangat penting". Ucap Mira lagi.
"Tuan Yash. Si anak mafia itu ?". Tanya Maya sefikit mengerutkan kening.
"Dia itu ledernya. Kak Maya pasti tidak akan menyangka jika tahu hal itu". Batin Mira dengan was-was.
"Tuan Yash membantu tuan Setiaji untuk membekuk anaknya itu. Dan membawanya pergi bersama pengawalnya. Meninggalkan aku yang terluka dan syok. Tuan Yash langsung membawaku ke dokter dan mengobati luka-luka ku". Ucap Mira melanjutkan ceritanya.
"Setelah pulang dari rumah sakit, tadinya tuan Yash akan mengantarkan ku pulang. Tetapi di perjalanan yang sepi kami di hadang oleh sekelompok gengster. Mobik yang kan8 tumpangi di tabrak dari belakang. Jio kehilangan kendali dan mobil yang ditumpangi kami menabrak pohon. Dan terjadilah perkelahian diantara tuan Yash dan asistenya Jio. Mereka adu tembak malam itu". Ucap Mira masih dengan ceritanya namun tidak sederail kenyataaanya. Karena Mira merasa ia harys menyembunyikan dulu identitas dan setatus Yash.
"Tuan Yash brgitu melindungiku saat itu. Dan beruntungnya kami selamat. Karena mobil hancur dan sudah larut malam. jadilah kami pulang ke vila tuan Yash yang tidak jauh dari area itu. Dan beberapa mobik bantuan pun datang". Ucap Mira.
"Paginya saat aku akan berkencan dengan Reino. Tuan Yash mengan tarkan aku pagi itu. Namun di tengah jalan. Ada dua buah mobil yang mengikuti kami. Mereka mencoba untuk menembak ku. Namun tuan Yash selalu berhasil menyelamatkan ku. Hingga pada akhirnya mobil kami terperosok ke jurang". Ucap Mira.
"Ya tuhan..". Ucap Maya dengan syoknya.
"Berita tentang ditemukannya mobil sport yang terbakar di jurang itu adalah mobil tuan Yash yang kami tumpangi waktu itu". Ucap Mira seraya menyerahkan ponselnya dan memutae ulang berita satu bulan yang lalu.
"Lalu bagaimana bisa kamu selamat Mira ?". Tanya Maya dengan raut tak menyangkanya.
"Tuan Yash tahu jika mobil itu akan meledak. Jadi kami memutuskan untuk terjun dari mobil melalui pintu yang ada di sebelahku. Kami terjun dan berguling kebawah dengan saling berpelukan. Dan saat tubuhku hendak menabrak pohon besar. Tuan Yash langsung mengambil alih dan mengorbankan tubuhnya untuk menabrak pohon dengan begitu keras sampai tulanya sedikit retak saat itu". Ucap Mira dengan raut berkaca-kaca.
"Kami berusaha untuk bersembunyi karena pada saat itu orang-orang itu masih mencari kami. Dan kami berlari menuruni bukit dan sampai di tanah lapang yang luas. Namun sialnya kami tertangkap dan tuan Yash berusaha untuk melawan mereka yang berjumlah banyak dengan kondisi tangan yang parah". Ucap Mira yang langsung meneteskan air matanya. Membuat Maya langsung merasa bersalah.
"Saatcitu aku di sandra mereka. Aku memberontak dan aku di tampar sampai kepalaku membentur batu dan semuanya gelap. Saat bangun-bangun aku sudah berada di rumah sakit di temani oleh asistennya tuan Yash yang lain yang bernama Roni". Ucap Mira.
__ADS_1
"Kata Roni mereka datang tepat saat aku pingsan. Tuan Yash pun berhasil mengalahkan beberapa dan sisanya di tangani oleh Jio, Roni dan beberapa orang lainnya. Mereka kesulitan mencari kami yang berada di jalan curam menuju jurang. Dan saat kita berada di dataran luas, baru lah mereka mengetahui keberadaan ku dan tuan Yash melalui kalung ya aku kenakan ini". Ucap Mira seraya menunjukan kalung itu yang melingkar di lehernya.
"Kau masih menyimpannya. Kau tidak mengembalikannya ?". Tanya Maya.
"Aku tidak ingin mengecewakan seseorang yang sudah benar-benar menganggap ku putrinya. Ini pemberian dari paman Jonathan. Dan ini berguna untukku jika aku mengalami kesulitan dalam hal apa pun". Ucap Mira tegas. Membuat Maya langsung mengerjap.
"Dan kata para perawat rumah sakit yang menyaksikan kedatangan ku dengan tuan Yash dengan hellikopter milik tuan Yash pada area belakang rumah sakit menjadi bahan perbincangan disana. Karena katanya tuan Yash mati-matian menggendongku meskipun tangan kirinya cedera parah. Dia tidak mempercayai siapa pun saat itu termasuk Roni, orang kepercayaaanya. Dia memastikan menjaga ku saat itu". Ucap Mira seraya menatap Maya dengan serius.
Membuat Maya terdiam di tempat dengan tatspan kosong. Namun sedikit ada raut tidak terima saat ternyata seseorang yang Maya musuhi justru malah menolong adiknys dan menjaganya dengan nyawanya.
"Itu layak kau dapatkan Mira. Kau pernah mrnyelamatksn nyawa adik perempuannya. Anggap saja itu sebagai rasa balas budi. Jangan terlalu jauh untuk memaknai arti dari sikapnya kepadamu". Ucap Maya mengingatkan. Membuat Mira langsung menghela nafasnya.
"Ya sudah aku sudah memilih untuk empat orang itu. Aku memilih Dareen saja. Yang lainnya tidak aku pilih". Ucap Mira seraya beranjak berdiri.
"Tambahkan juga tuan setiaji. Dia terlalu berharga untuk di lewatkan". Ucap Maya santai.
"Lalu bagaimana dengan anak perempuannya itu Maya. Diawal pertemuan saja dia sudah berani membuat onar dan tuan Setiaji tidak bisa mengatasinya. Lalu bagaimana nanti jika Mira terus bersamanya ?". Tanya Royan merasa tidak terima akan keputusan Maya.
"Yang terpenting tuan setiaji tidak menolak Mira dan melakukannya dengan baik. Untuk masalah anaknya yang bar-bar itu. Mira lah yang harus bisa menaklukkannya. Dia harus berusaha dengan caranya". Ucap Maya kekeh.
"Kau benar-benar egois Maya". Ucap Royan kesal.
"Apapun yang terbaik untuk Mira dan bisa menjamin kehidupannya Mira. Aku akan menjadi seseorang yang egois demi masa depa Mira". Ucao Maya angkuh dan percaya diri.
"Aku berangkat kerja dulu". Ucap Mira dingin.
"Mira...". Panggil Maya saat Mira sudah berbalik hendak pergi. Mira pun berhenti berjalan tanpa menoleh kearah Maya.
"Sebaik apapun tuan Yash terhadap mu. Kakak tetap tidak mengizinkanmu bersamanya. Dan perjodohan itu tetap berlanjut sampai kau memilih satu diantara kelima pria yang nanti ksu pilih dari kesepuluh pria yang kau kencani". Ucap Maya tegas dan terlihat tanpa bantahan.
"Aku mengerti". Ucap Mira dingin dan langsung berjalan pergi.
"Ayo Frans, Lili. Kita berangkat". Ucap Royan mengajak kedua anaknya. Dan langsung berlalu pergi.
"Mamah siapin bekal dulu ya untuk kalian". Ucap Maya seraya berdiri dan mendudukkan Lili pada kursi makan.
Dan seperti biasa Ayub dan Lili pun memperlihatkan bekal yang sudah di siapkan oleh Mira. Membuat Maya sedikit kecewa.
"Tante Mira sudah mempersiapkannya Mah. Mamah tidak perlu repot-repot. Urusi saja urusan mamah". Ucap Ayub dengan santai.
Ayub dan Lili pun berpamitan dengan mencium tangan Maya dan keduanya berlalu begitu saja tanpa kata. Meninggalkan Maya yang terdiam kecewa.
"Mah..". Panggil Ayub saat berada diujung pintu ruang makan. Maya pun menatap Ayub dengan tatapan bertanya.
"Sesuatu yang di paksakan itu tidak akan baik. Ayub melihat kekecewaan dimata tante Mira. Aku hanya berharap semoga tante Mira tidak membenci mamah". Ucap Ayub menyuarakan kata-katanya.
"Kau hanya bisa melihat perasaan tantemu saja Frans. Apa pernah kamu memikirkan perasaan mamah". Ucap Maya bersedih.
"Aku belajar dari mamah. Yang tidak memperdulikan perasaan orang". Ucap Ayub telak dan lalu berjalan pergi meninggalkan Maya yang tertohok di tempat.
__ADS_1
Maya pun langsung mengusap mukanya dengan lelah dan frustasi. Ia benar-benar harus cepat menikahkan Mira. Sebelum Yash kembali dan semuanya kacau balau.