
Keesokan harinya, tepat di hari ketiga dimana hari yang sudah di tentukan oleh Maya untuk Mira mencari dan memilih pasangan hidupnya. Calon suami untuk hidipnya.
Mira yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya pun dengan enggan memasuki kamar mandi lalu membasuh muka dengan malas. Setelah selesai ia pun duduk di closet yang tertutup dengan menghela nafas lelah.
"Pagi ini rasanya sungguh berat". Keluh Mira seraya menyandarkan tubuhnya dengan lesu.
Deerrrrrrtt Drerrrttt !!!....
Suara ponsel Mira yang bergetar membuyarakan lamunan Mira dan memaksakannya untuk melihat siapa yang menelfonnya sepagi ini.
"Nomor asing. Nomor luar negri menelfon ke nomorku. Siapa ya ?". Batin Mira dengan kening berkerur curam.
Merasa sangat penasaran. Mira pun akhirnya mengangkatnya dan seketika panggilan yang tadinya telefon biasa pun menjadi videocall dan terpampang lah wajah tampan yang akhir-akhir ini memenuhi fikirannya dan menggangguk mimpinya. Dengan tersenyun manis dia pun menyapa Mira yang setengah terkejut dan tak disangka-sangka itu.
"Hallo Mira. Apa kabar mu ?". Tanyanya dengan suara khasnya yang membuat Mira tercengang.
"Tu..Tuan muda Yash ?". Ucap Mira setengah bertanya dan tak percaya itu.
"Yapp...Apa kau merindukanku. Sudah dapat belum cara menghindar dari ku. Aku masih menunggu loh". Ucap Yash dengan tersenyum penuh makna.
Mira yang masih syok itu pun hanya mengatup dan membuka mulutnya yang seperti hendak berbicara namun tertahan dan tak jadi untuk berbicara.
"Ngomong-ngomong Mira. Kau sedang apa di dalam kamar mandi ?". Tanya Yash dengan tersenyum setan.
"Sudah berani untuk nakal ya. Apa kau berniat untuk menggodaku hmm ?". Goda Yash kepada Mira yang sukses membuat Mira merah padam.
"Tuan, ada apa anda menelfon. Saya sangat sibuk hari ini. Maaf..". Ucap Mira mengalihkan pembicaraan dan mencoba untuk menghindar.
"Sibuk untuk memilih jodoh. Kan sudah jelas jodoh mu itu aku Mira". Ucap Yash dengan tersenyum genit.
Mira yang mendengarnya pun sedikit heran dan seakan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Antara percaya dan tidak. Itu lah yang sedang Mira rasakan saat tahu seorang Yash yang terkenal dingin dan cuek. Bisa seperti sekarang ini. Merayunya dan menggombalinya dengan senyuman yang super manis.
"Anda baik-baik saja tuan ?". Tanya Mira dengan tatapan heran. Dan Yash yang tadinya tersenyum pun merubah mimik wajahnya menjadi diam dan menatap Mira tajam.
"Ya sebelum mengenalmu aku memang baik-baik saja. Dan setelah mengenalmu aku rasa aku sedang tidak baik-baik saja". Ucap Yash dengan nada dan tatapan seriusnya.
"Akuu...Apa salah ku tuan ?". Tanya Mira merasa ingin tahu.
"Karena kau...Telah mengubah perasaan ku. Kau telah membuat ku candu dan sangat ingin memiliki. Aku rindu bibir ranum mu". Ucap Yash dengan tatapan menggoda.
Mira yang mendengarnya pun seketika merona dan teringat akan ciuman itu. Ia pun menghela dan nenggeleng aneh mengabaikan perkataan Yash yang berusaha untuk menggodanya.
"Hhh...Tuan. Anda benar-benar tidak waras. Sudah jika tidak ada sesuatu yang penting akan aku tutup telfonnya". Ucap Mira berpura-pura acuh dan ingin menghindar sebelum jantungnya copot dari tempatnya.
"Mira...". Panggil Yash saat Mira hendak mematikan panggilan telfonnya Yash.
Tanpa melihat kearah Yash. Mira hanya diam menunggu Yash untuk berbicara. Karena sepertinya tuan muda yang berubah menjadi genit itu hendak mengatakan sesuatu yang penting.
"Pilih lah seseorang yang membuat hati dan fikiranmu sejalan. Hati mu memilihnya, tubuh mu meresponnya dan fikiranmu tertuju padanya. Jangan memaksakan sesuatu yang nantinya akan membuatmu merugi. Cinta mu tak dapat, kebahagiaanmu pun hilang". Ucap Yash menasehati. Membuat Mira menunduk diam mencerna perkataan yang terlontar dari mulut Yash.
"Kau ingin membahagiakan satu orang. Tetapi kau mengorbankan kebahagiaanmu untuk selamanya. Aku marah sangat narah jika itu terjadi kepadamu Mira". Ucap Yash dengan tegasnya.
"Tuan, maaf jika saya lancang. Saya rasa ini bukan urusan anda. Anda tidak berhak untuk marah atau apa pun itu. Saya...Saya bahagia...Saya sangat menyayangi dan menghormati kakak saya. Tolong jangan mempengaruhi saya untuk mengingkari janji saya dan membuat kakak saya kecewa". Ucap Mira dengan nada tegas dan formal kembali.
Yash pun hanya tersenyum singkat dan lalu terdiam seraya memandangi langit kamar mandi milik Mira yang sengaja Mira arah kan kesana sedari ia hendak mematikan ponselnya.
"Perlihatkan wajahmu". Titah Yash setelah lama terdiam. Mira pun menurutinya dan memperlihatkan wajahnya.
"Tatap aku". Titah Yash lagi dan lagi-lagi Mira pun hanya menurutinya.
Ia pun menatap Yash yang juga menatapnya intens. Seolah Yash ingin mencari tahu akan kebenaran tentang Mira yang berkata jika dirinya bahagia itu. Namun lama Yash menatap. Tidak ada satu pun binar bahagia seperti yang ia lihat beberapa hari lalu.
Matanya penuh dengan kebimbangan. Garis wajahnya penuh dengan tekanan dan keraguan. Dan ada sedikit embun di pelupuk mata Mira.
"Di mana aku dapat melihatnya Mira. Wajahmu sungguh mengatakan sebaliknya. Kau ini sungguh keras kepala juga ternyata". Batin Yash menggeleng heran.
"Bersiaplah...Bukan kah kau harus memilih hari ini. Semoga kau menemukannya. Kebahagiaan yang sejati". Ucap Yash dengan tersenyum lembut. Namun ada gurat kekecewaan pada matanya. Membuat Mira dilanda rasa bersalah yang mendalam.
Hatinya merasa sangat sakit saat melihat netra hitam Yash yang terlihat kecewa dan patah. Dia seakan ingin berkata sesuatu namun lidahnya kelu dan hanya bisa terdiam di tempat.
Yash pun tersenyum perih dan melambai kearah Mira. "See you Mira". Ucap Yash dan mematikan panggilan videocallnya.
Setelah panggilan itu terputus. Yash pun tersenyum licik di sofa duduknya. Ia pun memandang foto Mira yang tersenyum saat diam-diam ia memfoto Mira di pesta itu.
"Kau fikir aku benar-benar akan menyerah dan melepasmu begitu saja. Tidak akan Mira. Kau adalah candu ku. Dan aku adalah kebahagiaanmu. Akan kupastikan jika semuanya akan BOOMM....Gagal". Ucap Yash dengan tertawa senang memikirkan rencana yang akan ia buat untuk memberikan pelajaran teruntuk istri cantik Royan dan candunya Mira.
Sementara Mira yang masih larut dalam rasa bersalahnya pun mencoba untuk mengkesampingkannya dan langsung bergegas mandi dan mempersiapan diri. Dengan dres warna soft pink dan rambut terurai Mira pun siap untuk memilih mereka yang digadang-gadang akan menjadi calon suaminya nanti.
Mira pun menuruni tangga dengan santai dan menuju ke ruang dapur untuk mengambil air untuknya minum. Dan secara tak sengaja Mira menemukan 4 buah kertas kecil yang berisikan tulisan dari orang-orang. yang berada di rumah itu.
"Ra, nanti berangkat ke toko kue kakak ya. Pemilihannya kaka adain di sana di taman belakang toko kue kakak. Kamu berangkat dengan taksi online ya. Ingat dandan yang cantik ok". Ucap Maya yang tertulis di secarik kertas tempel itu.
"Kak Mira semangat ya". Ucap Lili yang menulis di carik kertas itu yang di bubuhi gambar orang tersenyum.
__ADS_1
"Tanteu, ingat. Jangan sampai memilih lelaki yang bernama Dio Praharja. Jika ada om ganteng itu yang mau memakan cireng molotof buatanku. Aku pasti setuju sangat setuju. Tetapi selain itu pun mungkin aku juga akan setuju. Asal tidak dengan Dion". Ucap Ayub yang tertulis di kertas yang tertempel di kulkas.
"Senangat Mira". Tulis singkat Royan di kertas itu.
Mira pun tersenyum lucu. Dan mulai duduk di kursi makan. Mengambil ponselnya dan memesan taksi online untuk mengantarnya.
Selang 15 menit. Taksi online itu pun tiba dan langsung membunyikan kelakson mobilnya. Mira pun bergegas keluar menghampiri taksi itu dan keluarlah supir taksi itu dan membukakan pintu mobil untuk Mira.
"Silahkan nona". Ucap sang supir taksi dengan sopan.
"Loh mas Roni ya ?". Tanya Mira memastikan.
"Iya nona, saya yang tempo hari mengantarkan anda dengan taksi online". Jawab Roni membenarkan.
Mira pun mengangguk dan tersenyum ramah. Ia pun lalu memasuki mobil dan duduk dengan tenang di jok belakang kemudi.
"Ke tempat kemarin ya mas. Toko kue Sanggi". Ucap Mira memberi tahu Roni setelah Roni memasuki mobilnya di jok kemudi.
"Baik nona". Ucap Roni patuh.
Di perjalanan yang memakan waktu setengah jam. Keduanya pun hanya terdiam. Roni yang fokus ke jalanan dan Mira yang tengah merenung memikirkan perkataan Yash yang selalu membisiki telinganya dan melintasi fikirannya terus menerus.
"Sudah sampai nona". Ucap Roni sopan dan membuat Mira sadar dari lamunannya.
"Ya, terima kasih". Ucap Mira dan langsung turun dari mobil.
Roni pun melajukan mobilnya dan membelokan mobil itu di pertigaan jalan. Melihat keadaan sekitar dan langsung memakirkan mobilnya di depan ruko kosong. Ia pun lalu memulai aksi penyamarannya sebagai bapak-bapak yang ingin membeli kue atau sekedar duduk-duduk saja sambil membaca buku untuk menyempurnakan penyamarannya itu.
Roni lalu berjalan santai menuju toko kue milik Maya setelah menyelesaikan aksi menyamarnya yang terlihat ahli dan sangat tidak di curigai sedikit pun. Ia juga harus mewarnai rambutnya juga alisnya dengat cat rambu warna putih. Juga baju ayahnya yang ia ambil dari tempat baju yang baru saja pembantunya bereskan.
Dan disini lah Roni . Dudik di meja nomor 13 dekat dengan taman belakang yang telah banyak di penuhi para peria yang duduk rapih. Sedangkan Mira, Maya, satu wanita tua yang Roni kira itu adalah ibu dari tuan Royan juga satu wanita sekitar 20 tahun nan yang memakai gaun ketat dan seksi.
"Tan, harus ya kita ikut menilai ?". Tanya Zoya anak pertama dari adik nyonya Hera.
"Harus dong Zo.. Kita ini kan termasuk keluarganya Mira". Ucap Hera lembut dan Zoya pun hanya mendengus geli.
"Ck menjijikan. Kau itu seperti wanita yang tak ada harganya. Memangnya sebegitu engga lakunya ya sampai harus pake cara kaya gini". Ucap Zoya kesal dan sinis.
Mira pun hanya menunduk saja. Ia merasa jika perkataan Zoya memang ada benarnya. Tetapi mau bagaimana lagi. Ia sudah terlanjur mensetujui ide kakaknya.
"Mira bukannya tidak laku Zo. Dia hanya ingin menurutiku. Ide ini juga dari ku. Jika kamu mau memaki. Harunya makian itu kamu tujukan ke aku". Ucap Maya dengan memandang tajam kearah Zoya.
Zoya pun hanya mengerling enggan dan dan mendengus sebal. Dia sejujurnya enggan jika harus berada bersama Maya yang sangat ia benci. Sebab ia,telah merebut Royan datinya. Meskipun Royan adalah anak dari kakak orang tua angkatnya. Toh dia bukan anak kandung dari marga hardian. Jadi wajar-wajar saja kan jika ia mencintai Royan. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan karena Royan yang menolaknya mentah-mentah sedari dulu.
"Sudah lah Zo, jangan memcari keributan. Nanti kamu yang akan di marahi. Bukanya kamu sendiri yang merengek meminta ikut. Ingat kan janji kami sebelum kita berangkat". Ucap nona Hera dan langsung membuat Zoya bertambah kesal.
Roni yang melihatnya pun tersenyum lucu mendengar perkataan Zoya yang menganggap Mira itu tidak laku. Karena buktinya saja, seorang Yash malah ingin tahu semua tentang Mira. Bahkan dirinya pun dibuat repot oleh misi konyol tuan mudanya itu. Roni yang biasanya menyelidiki kasus-kasus kriminal, menyamar untuk membunuh dan memata-matai orang-orang yang berhianat kepada tuannya. Tiba-tiba harus beralih profesi untuk menjaga, mengawasi dan memata-matai seorang gadis yang sungguh menurutnya sangat tidak menantang.
"Dasar wanita pirang yang pendek. Belum tahu saja kamu siapa yang menginginkan nona Mira. Jika kau tahu, aku pastikan kau akan malu seumur hidup mu" Ucap Roni lirih seraya memandang tajam kearah Zoya yang berjalan menuju toilet itu.
Maya, Mira, Hera dan Zoya pun duduk di kursi sofa melihat 50 pria yang duduk dengan tatapan penasaran ingin melihat langsung sesosok Mira yang asli bukan sekedar di foto saja.
"Selamat siang para peserta". Ucap mba Dini selaku owner perjodohan yang Mira ikuti.
"Siang !!". Seru para peserta dengan kompak.
"Sudah pada penasaran ya, seperti apa sih sosok Miranda Nur itu.... Ok langsung saja ya, nona Miranda perkenalkan diri anda di samping saya". Ucap Dini yang langsung membuat Mira tertegun.
Maya pun langsung menyikut lengan Mira. Menandakan Mira untuk maju kedepan bersama Dini untuk memperkenalkan diri ke para calon suaminya itu.
Dengan langkah pelan Mira pun berdiri dan berjalan menuju kearah Dini. Membuat sebagian calon peserta berbisik.
"Wiihh masih muda banget bro". Bisik salah satu calon yang berambut pirang karena cat rambut itu.
"Gua fikir Mira itu yang pake dres ketat itu". Tunjuk salah satu peserta kearah Zoya. Mengira bahwa Zoya lah si Mira itu.
Memang umur Zoya lima tahun lebih muda dari Mira. Usianya 20 tahun. Namun wajah dan penampilan Zoya begitu sangat dewasa. Ditambah makeup tebal dan dandanan gelamornya. Membuat kebanyakan orang yang melihatnya pun seolah sudah benar-benar dewasa dan matang.
Sedangkan Mira sendiri yang usianya sudah hampir 25 tahun justtu terbalik dengan Zoya. Banyak yang mengira dirinya madih berusia 20 tahun bahkan banyak yang menebak jika Mira masih pelajat sekolah menengah atas.
Badannya memang tidak terlalu mungil. Tingginya saja 159 dengan bobot 50kg. Namun gaya dan penampilan Mira jauh dari kata matang. Seperti halnya Maya yang sudah terkenal istri cantik dari Royan Rahardian.
"Ekhem...Hallo, selamat siang semuanya". Sapa Mira lembut dan tersenyum sendu.
"Widih....Suaranya empuk sekali". Puji salah satu peserta dengan raut berbinar.
"Siang Miranda !". Seru seluruh peserta dengan kompak dan sedikit bersiul genit. Membuat Mira menghela nafasnya untuk memperkuat dan meyakinkan diri.
"Seperti yang kalian tahu. Saya Miranda Nur, berusia hampir 25 tahun dan ingin mencari pasangan yang tepat. Saya harap dapat menemukannya disalah satu para calon peserta. Terima kasih". Ucap Mira sedikit kaku.
"Ok apa ada yang ingin para calon peserta tanyakan mungkin sebelum dilanjut ke acara berikutnya ?". Tanya Dini memastikan.
Ada sepuluh orang yang angkat tangan membuat Dini bersorak senang dan memilih salah satu calon peserta untuk memberikan pertanyaanya kepada Mira.
__ADS_1
"Waww banyak ya. Kalau begitu akan aku ambil tiga saja. Ahh ya itu cowok yang berjaket biru muda silahkan ingin bertanya apa ?". Tunjuk Dini kepada pria blesteran arab itu.
Pria itu pun berdiri dan tersenyum ramah kearah Mira dan Mira pun membalas senyumannya dengan ramah pula dan mengangguk.
"Pekenalkan Saya Aksa Maulana. Pertanyaan saya adalah apa warna faforit anda nona ?". Ucap Aksa dengan tersenyum menawan.
Mira pun sedikit terdiam di tempat. Ngomong-ngomong tentang warna. Mira teringat dengan Yash yang sangat tampan jika memakai baju, jas, kemeja dan jaket warna hitam dan biru tua.
"Hitam dan biru tua". Ucap Mira tanpa sadar membuat Maya mengernyit heran.
"Loh, bukannya Mira sangat menyukai warna baby blue dan hijau muda". Lirih Maya dengan tatapan bingung.
Aksa pun tersenyum simpul dan mengangguk paham. Ia pun lalu duduk kembali memberikan kesempatan yang lainnya untuk bertanya.
"Yap selanjutnya saya pili emmmm nah itu yang berambut coklat dengan jaket hitam". Tunjuk Dini lagi.
Seseorang yang di tunjuk oleh Dini pun berdiri dan tersenyum canggung kearah Mira. Dan Mira pun membalasnya dengan senyyman lembut.
"Perkenalkan nama saya Rico orlando. Pertanyaan saya ialah. Apa hobi anda nona dan makanan faforit anda apa. Alasan saya bertanya seperti ini karena saya seorang chef yang sudah go international dan ingin menyajikan sesuatu hidangan yang lezat dan berkesan untuk anda nona". Ucap Rico dan mengerling kearah Mira.
Mira pun menunduk dengan tersenyum penuh arti menanggapi ucapan Rico. Ia seolah buntu akan makanan faforinya. Entah mengapa Mira seolah bingung dan tidak ingat apa makan\n faforinya.
"Hobi saya... Banya Rico. Saya sangat suka musik apapun genrenya asal bukan Rock. Saya juga sangat suka membaca novel genre romantis Nonton film horor. Saya suka menari karena kebetulan juga saya bersekolah di sekolah tari dari usia 8 tahun. Makanan faforit saya...". Ucap Mira merasa buntu dan tak ingat akan makanan kesukaannya.
Semua para calon pun menunggu dengan seksama akan ucapan Mira yang terlihat bingung itu. Padahal pertanyaan Rico sangat mudah.
"A...Ayam bakar mafu dan berbagai jenis olahan udang". Ucap Mira yang hanya mengingat dua menu makanan itu. Dan lagi-lagi Maya pun mengernyit.
"Kamu kenapa Mira, bukanya makanan faforitmu itu olahan ceker ayam, Sup ayam, seblak dan bakso juga berbagai macam olahan kentang. Sejak kapan ia menyukai ayam bakar madu dan udang". Keluh Maya merasa jika Mira itu tidak fokus.
Mira pun terpejam setelah mengucapkannya. Ia merasa jika dirinya benar-benar di buat bodoh karena Yash. Buktinya semua yang ia sebutkan itu adalah warna dan meni faforit dari Yash. Hanya hobi yang benar.
"Ekhem....Bisakah kau menunjukan tarianmu. Seperti dence atau salsa atau apa pun itu nona ?". Tanya Rico dengan tersenyum menantang
Karena bagi Rico sangat tidak mungkin jika wanita berwajah kalem dan selalu tertunduk malu itu memiliki hobi menari. Ayolah menari itu kan sesuatu yang bebas. Sedangkan Mira adalah seorang wanita yang sepertinya sangat pendiam dan penurut itu.
"Bagaimana,Mira, apa kau mau menunjukan tarianmu. Banyak yang penasaran akan hal itu". Ucap Dini memadtikan. Dan Mira pun mengangguk samar.
"Hanya lima menit". Ucap Mira kalem dan semua calon pun langsung antusias dan heboh.
Musik pun mulai mengalun dan lagu pun mulai berbutar. Lagi-lagi semua hal tentang Yash pun ia ingat. Contohnya sekarang, lagu yang berputar adalah lagu senyorita yang lagi hit. Dan sembari menari Mira pun sembari mengingat saat dirinya berdansa dengan Yash menggunakan lagu itu. Di pesta gedung beberapa bulan lalu.
Semua calon yang menonton pun terbukau melihat dence yang Mira tunjukan. Ada yang melongo, ada yang tersenyum, terpesona bahkan ada yang diam-diam menikmati setiap lekuk tubuh dan gerakan Mira.
Setelah lagu berhenti, semua pun bertepuk tangan dan bersiul dengan hebohnya. Membuat Mira sedikit salah tingkah dan menunduk diam.
"Ciihh benar-benar murahan sekali". Ucap Zoya dengan tatapan benci dan kesal. Melihat Mira menjadi pusat perhatian dan pujian.
"Bagaimana Rico. Apa anda sudah puas dengan jawsbannya ?". Tanya Dini memastikan dan Rico pun mengangguk puas lalu terduduk kembali.
"Ok pertanyaan terakhir...Saya tunjuk anda yang di depan dengan hodi hitam silahkan bertanya". Ucap Dini kepada seorang peria yang memakai hodi hitam dengan tatapan polos bak anak kecil.
Seseorang itu pun berdiri dan menatap Mira polos. Dia tergolong sangat muda dan Mira sedikit tak asing dengan sesrorang itu.
"Namaku Dio Praharja". Ucap Dion dengan nada seperti anak kecil. Membuat kesemua calon peserta pun tertawa mengejek. Namin tidak dengan Mira dan Maya yang terkejut karena pemikiran masing-masing.
"Dion Praharja kan putra sematawayang dari keluarga ningrat. Yang terkenal menjafi lemah mental karena kecelakaan itu kan ?". Batin Maya menebak.
"Dia kan seseorang yang Ayub wanti-wanti untukku agar tidak memilihnya". Batin Mira dengan tatapan ramahnya.
"Pertanyaan Dion adalah. Keriteria lelaki seperti apa yang kak Mira idamkan. Apa....kak Mira bahagia ?". Tanya Dion polos dan langsung menohok hati Mira.
Semua orang pun terdiam saat pertanyaan Dion di lontarkan. Dan semua pun ingin tahu jawaban dari Mira. Karena benar kata Dion. Si pria cacat mental itu. Meskipun Mira tersenyum ramah, namun matanya selalu sendu dan bimbang.
"Tentu seoarang lelaki yang mapan, bisa melindungi dan bertanggung jaeab. Saya pun bahagia. Karena ada banyak orang yang menginginkan aku bahagia". Ucap Mira santai dan langsung membuat Dion mengangguk dengan tersenyum penuh arti.
"Ok karena hari sudah semakin siang. Maka maribkita keacara selanjutnya ya. Ayo nona Mira, anda bisa duduk kembali". Ucap Dini sopan dan langsung diangguki Mira dan lalu berjalan menduduki kursi sofa diapit oleh Maya dan nyonya Hera.
"Dan saatnua babak pengenalan. So, untuk pata calon peserta. Persiapkan Diri anda". Uvap Dini penuh semangat dan langsung duduk kembali saat Maya sudah mengambil alih.
Semua pun berjalan lancar dari tahap pengenalan, hobi, pekerjaan dan lain sebagainya. Mira pun hanya diam membisu saat banyak sekali tingkah polah para peserta.
Dsn pada sore menjelang akhirnya Mira pun dapat sepuluh calon pria dan di pria yang terakhir ada sedikit perdebatan antara Mira dan Maya.
Maya kekeh inhin memilih Dion Praharja sebagai kandidat kesepuluh. Namun Mira menolak karena Ayub sudah mewanti-w\ntinya untuk tidak memilihnya dan menceritakan semua percakapannya dengan Ayub
"Ayub itu masih kecil Ra, Dia hanya belum bisa membedakan. Sudah pokoknya kaka mau Dion srbagai kandidat kesepulih titik". Ucap Maya tsnpa bantahan. Membuat Mira pun lagi-lagi harus menurut dan menghela nafasnya.
"Maafkan tante Ayub. Tante tidak bisa menolak keinginan dari momy mu". Lirih Mira merasa sedih.
"Tuan, kesepuluh orang sudah nona Mira dapatkan. Dan besok nona Mira sudah berkencan selama lima hari dengan dua peserta calon untuk menyisakan lima orang untuk diuji lagi sampai nona Mira merasa cocok memilih calon suami tuan". Lapor Roni kepada Yash.
"Kirimkan aku data diri kesepuluh pria itu. Kirimkan secepatnya drngan detail Ron". Titah Yash dari seberang sana.
__ADS_1
"Baik tuan. Dan saya juga sudah merekamnya. Silahkan ditonton tuan". Ucap Roni dan mengirim beberapa rekaman video untuk Yash.
Yash pun menerima kiriman video itu lalu memutarnya dan tersenyum senang saat melihat dan mendengat Mira menyebutkan warna dan makanan faforinya itu.