Luluh

Luluh
Healing


__ADS_3

" Mau jalan-jalan kemana?" Tanya Amel pada Sigit.


Saat menyanggupi permintaan adik sahabatnya, kala memintanya untuk mengantarkan keliling kota surabaya dengan dirinya yang memang sedang berlibur kerja dan juga membutuhkan pikiran jernih saat ini.


" Yang paling bagus di mana mbak?" Tanya balik Sigit.


" ke luar kota." Jawab asal Amel. Bingung juga harus bawa kemana adik sahabatnya ini.


" Ide bagus." Saut Sigit dengan senyum lebar, menatap Amel dari pantulan spion kaca. Dengan dirinya yang memaksa untuk menjadi tukang ojek.


" Hi! di sini-sini saja."


" Ke luar kota saja mbak, sekalian healing? Malang gitu?"


" Lagi bokek." Bohong Amel.


" Tenang mbak, kan ada aku. Bensin juga pasti full. berangkat, pergi, pulang. Dan gak akan kelaparan. Tiket masuk ke wisata, juga sudah ada." Ucap bangga Sigit, membuat Amel menggelengkan kepala.


Adik sahabatnya, berbeda dengan kakaknya. Yang ternyata lebih ceriwis dari Yanna yang pendiam.


Menyebalkan.


Bila bukan karena Yanna, mungkin Amel juga malas sekali jalan-jalan di siang hari bersama Sigit yang terlalu semangat dan berpakaian sangat keren.


" Nanti mbak kamu marah, aku bawa kamu ke luar kota. keliling surabaya saja."


Alasan yang bijak, tapi belum tentu selamat dari rayuan Sigit.


" Gak akan marah mbak? Kan sudah ijin." Jawab cepat Sigit. menoleh ke belakang saat motornya berhenti di lampu merah.


" Ayo mbak? Ya, ya. ke luar kota ya.?" Melas Sigit. " Aku gak pernah kemana-mana loh mbak?" Imbuhnya.


Gak pernah kemana-mana? Oh.. pembohong handal.


Mengendus sebal, sama seperti adiknya bila merengek dan meminta sesuatu.


" Iya." Jawab Amel, membuat Sigit senang dan tersenyum lebar.


" Oke. Kita kemana ini mbak?" Tanya Sigit. mulai melajukan motornya pelan kala lampu merah berubah warna hijau.


" Air terjun gimana? Mau?"


" Oke. Tunjukin jalannya mbak." Semangat Sigit.


" Iya." Sedikit senyum, melihat Sigit semangat. Dan mulai menunjukkan jalan arah ke luar kota menuju air terjun yang terkenal di kota mojokerto.


Dalam perjalanan, Sigit tak henti-hentinya mengoceh. Mengajaknya mengobrol dan bertanya ini itu tanpa henti. Tapi masih tetap menjawab dan sebal bila tanya yang tidak Amel tau. Hingga membuat Sigit tertawa karena jawabannya sedikit ketus.

__ADS_1


Mengasikkan berjalan dengan bocah.


Satu setengah jam perjalan, dengan mengendara sedikit kencang. Perjalanan yang membelok dan juga naik turun tak membuat semangat Sigit menyerah menuju tempat air terjun yang di sebutkan Amel.


Benar! meskipun bukan hari libur, sedikit ramai akan pengunjung menikmati pemandangan alam yang indah. Suara burung dan juga pepohonan membuat suasana semakin asri saja.


" Cari duduk dulu, haus. capek juga." Keluh Amel. padahal bukan dirinya yang menyetir.


" Iya." Jawab Sigit. Dirinya juga sedikit lelah, tapi juga sangat semangat untuk kembali melanjutkan jalan kakinya nanti menuju air terjun.


" Mbak sering ke sini?" Tanya Sigit.


" Gak, cuma tiga kali ini ke sini." Jawabnya. " Es teh dua buk. Mau makan sekalian gak." Tanyanya, menoleh ke Sigit yang sudah duduk di sampingnya.


" Boleh. mbak mau makan apa?" Tanya balik Sigit, merasa senang mendapatkan perhatian manis dari wanita yang di sukai. Apa lagi sekarang liburan berdua saja.


" Top mie yang kuah. Kamu?"


" Gak makan nasi mbak?"


" Nanti saja pulangnya. Ini kan belum ke air terjun. Naik, turunnya capek. Nanti malah sakit perut." Terang Amel.


Mungkin pernah merasakan berjalan kaki ke tempat air terjun sangatlah lelah. Apa lagi di saat posisi perut kenyang. Pastinya lebih tidak enak.


" Ya sudah samakan kayak mbak saja kalau begitu." Jawab Sigit.


Sesuai janji Sigit. Sigit yang membayar semuanya meskipun amel sudah melarangnya untuk tidak membayarnya. Tetap saja, Remaja yang sudah menginjak dewasa itu ingin menunjukkan bahwa dirinya bertanggung jawab serta menepati ucapannya. Bila akan membayar semua perjalanan liburan bersama Amel.


Berjalan beriringan kembali menuju air terjun yang sudah ada petunjuk arah. Jalanan yang sedikit licin tak membuat semangat Amel dan Sigit menyerah menuju ke air terjun. Beberapa kali Sigit memegang tangan Amel agar sahabat kakaknya itu tidak tergelincir. Amel pun juga menerima bantuan Sigit, toh itu adik sahabatnya yang berarti juga sama seperti adiknya sendiri. Tidak merasa malu ataupun bermaksud tertentu.


Yang di pentingkan sekarang, Amel ingin menjernihkan pikirannya dulu.


Sebab, tawaran dua hari lalu dari pria yang telah membantu keluarganya membuat hati dan pikirannya buntu serta gelisah.


Menerimanya atau tidak.


Sungguh pilihan yang sulit. Cinta tidak bisa di paksa, tapi seiringnya waktu bisakah dirinya mencintainya. Takut, bila tidak bisa atau dia yang tidak akan bisa mencintainya. Dan takut bila akan saling menyakiti. Terutama dia, yang mungkin karena terpaksa ingin menikahinya. Atau Mungkin untuk pelarian saja. Amel tau tak mungkin dia semudah itu melupakan sahabatnya. Atasannya itu benar-benar mencintai sahabatnya hingga rela menunggunya begitu lama, tapi sayang cinta sahabatnya bukan untuk atasannya.


Memandang sedikit jauh dari air terjun yang sudah terlihat. Hanya sedikit orang yang menikmati keindahan air terjun dan ada sebagian memilih untuk menikmati pemandian air panas atau kolam renang yang berada di pos pertama.


" Capek mbak?" Tanya Sigit, berada di samping Amel.


Cantik." Gumam Sigit, menatap lekat wajah Amel.


" Lumayan. Kamu?"


" Sama, sedikit. Kita foto mbak."

__ADS_1


" Sini Aku fotoin."


" Sama mbak juga."


" Gampang? Sini, kamu dulu." Sambil meminta ponsel Sigit dan memulai menyuruh Sigit untuk berpose.


Memfoto Sigit beberapa kali, hingga merasa puas dengan hasilnya. Dan mendapat tarikan dari tangan Sigit untuk foto bersama. Mau tidak mau, Amel berfoto berdua dengan Sigit dua kali.


" Mau turun?" Tanya Amel.


" Hhmm, ayo." Semangat Sigit. Kembali melangkah turun menuju air terjun. serta sungai tak mengalir deras.


Bebatuan besar-besar berada di tengah-tengah sungai, di padu suara air terjun tak begitu deras di depan mata. Amel memilih duduk di bebatuan besar, sambil merendam kaki dan melihat orang-orang asyik dengan air.


beberapa kali Sigit mengabadikan foto lewat ponselnya. Dan memfoto Amel yang sedang duduk mendongak melihat air terjun.


Manis.


" Ihh... Sigit!" Seru Amel, memalingkan muka kala Sigit memercikkan air ke arahnya.


" Sigit!!" Serunya kembali, dengan Sigit yang tak mempedulikan Amel memanggil Namanya.


Amel mulai turun dari duduknya, membalas perbuatan Sigit memercikkan air padanya.


Saling membalas hingga tawa Amel pecah saat Sigit menyerah dengan bajunya yang sudah basah kuyup.


" Bawa baju ganti?" Tanya Amel. memperhatikan Sigit memeras bajunya.


Tidak terlalu berisi.


" Enggak. Cuma ada jaket tadi di jok motor."


" Ya sudah, nanti ganti bajunya saja di toilet. Biar gak masuk angin juga."


" Iya." Jawabnya mengangguk. " Mbak juga basah."


" Gak seberapa. Ada jaket juga di jok." Jawab Amel. " Sudah yuk kembali, cari yang hangat-hangat. Lapar juga."


" Yok." Ucap Sigit, kembali mengulurkan tangan pada Amel. menggenggamnya dan berjalan hati-hati melewati bebatuan licin.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2