
Pagi harinya dikediaman hardian. Mira yang tengah terlelap dengan pulasnya itu terbangun dengan perlahan.
Seakan baru tersadar dengan tidurnya yang cukup menyenangkan ia pun mulai membuka matanya perlahan. Terlihat gorden kamar yang sudah terbuka lebar dan menampakan cahaya matahari yang mulai terik. Menandakan bahwa hari itu sudah menjelang siang.
Saat hendak bangun, mira tersadar seperti ada sesuatu yang menempel pada dahinya. Dan setelah ia periksa ternyata itu adalah sebuah handuk kecil yang masih basah dan terasa hangat.
"Selamat pagi menjelang siang Miranda ku sayang". Ucap sang kakak perempuanya yaitu Maya. Dengan membawa nampan berisikan makanan dan obat.
Sementara mira yang masih bingung pun hanya diam melihat sang kakak perempyannya itu.
"Gimana keadaan kamu mir, sudah enakan belum ?". Tanya maya memastikan.
"Memangnya aku kenapa ka ?". Ucap mira masih kebingungan.
"Semalam kamu demam tinggi mira. Kakak sampe panggil dokter dion kerumah". Jelas mayya seraya menaruh nampan makanan diatas meja.
"Sana cuci muka dulu sama gosok gigi. Habis itu ini dimakan sarapannya sama obatnya. Kata dokter dion kamu itu kelelahan, jadi harus banyak istirahat". Ucap mayya menasihati.
"Untung hari ini dan besok jadwal libur ku". Lirih mira,merasa tenang dan beranjak pergi ke kamar mandi dengan tubuh yang memang terasa lemah.
Saat mira,kembali ke kamar. Teenyata maya masih ada di sana tengah terduduk di kursi panjang dekat jendela sembari membaca majalah.
Mira pun mendekat mengambil nampan lalu duduk di samping mayya dan memakan sarapannya.
"Kakak harus mastiin kamu makan dan minum obatnya. Kaka tahu gimana kamu kalau lagi sakit. Pasti maunya tidur terus tanpa makan dan minum obat". Ucap Mayya masih dengan melihat-lihat foto majalah.
Mendengar ucapan sang kakak yang setengah menyindir itu membuat mira langsung memberingut tak suka.
15 menit pun berlalu, dan mira pun sudah menghabiskan makanannya juga meminum obatnya.
"Sudah ?". Tanya mayya memastikan dan di balasi anggukan oleh mira.
"Kaka boleh tahu kan yang terjadi sama kamu kemarin ?". Tanya mayya dengan lembut.
Mendengar pertanyaan sang kakak, mira pun hanya mengangguk lesu.
"Aku kena hukuman oleh madam kak. Sebab aku telat masuk kerja. Soalnya aku masuk hampir mendekati waktu mau istirahat siang". Jelas mira dengan suara parau khas orang sakit.
"Apa hukumannya ?". Tanya mayya dengan kernyitan di wajah.
"Beresin gudang belakang". Ucap mira dengan sedikit senyum masam.
"Gudangnya segede apa si, ko bisa sampe kamu kaya letih banget ?". Tanya maya lagi dengan penasaran.
"Ya gede lah kaya aula. Tapi untungnya aku di bantuin sih sama temen-temen kerja". Jelas mira.
"Dibantuin kok kamunya sampe tumbang gitu. Kenapa juga hukumannya sampe segitunya. Kamu kan telat kerja cuma hari itu aja kan ?". Tanya ka mayya sedikit kesal.
"Iya ka, tapi ya udah lah. Dari pada aku di pecat. Kan masih mending dihukum. Soalnya madam Ghi itu orangnya sangat disiplin". Jelas mira menenangkan.
"Terus kenapa kamu sampai telat ?". Tanya kak may lagi.
Dengan gerakan menarik nafas panjang mira lalu berkata.
"Motornya mogok ka, untung pas itu aku sudah mengantar lili ke sekolah". Jelas mira dengan lembut.
Mendengar hal itu mayya pun hanya bisa bernafas lelah. "Besok ganti aja motornya. Motor itu udah lama mira. Pokoknya besok ganti motor. kalau ngga, engga usah kerja lagi di butik itu titik". Ucap mayya tanpa bantahan.
"Ya jangan gitu lah kak, itu motor penuh kenangan. Terus kalo aku ngga kerja ya ngga mau. Aku pengin mandiri kak". Pinta mira dengan raut memohon.
"Mira, kamu itu punya kaka ipar pengusaha properti. Kamu juga punya kaka seorang owner wedding terkenal juga cetring terbesar. Jujur kakak ngga ikhlas loh melihat kamu bekerja sebagai seorang pelayan butik. Pake motor yang kadang ngga bisa diajak sahabatan. Belum lagi kamu harus dimarah-marahin sama orang".
Ucap mayya dengan muka frustasinya. Membayangkan sang adik yang begitu kekeh untuk mandiri.
"Ya ngga papa. Aku have fun ko ka. Malah aku merasa kalau ini nih yang dinamakan nikmatnya hidup. Kalau aku punya kakak dan kakak ipar yang sukses itu suatu kebanggan buat aku. Dan, memotivasi aku buat lebih giat lagi menjalani hidup". Jelas mira dengan rasa bangganya.
Mendengar ucapan sang adik. Mayya pun diam-diam tersenyum bangga. Adiknya memang seperti ini. Selalu dewasa, berfikiran positif, sangat gigih dan mandiri.
Disaat orang lain memanfaatkan kesuksesan saudaranya lain halnya dengan mira. Ia malah ingin berjuang sendiri untuk hidupnya. Ini yang membuat mayya selalu menghawatirkan mira disetiap detiknya.
Takut jika tidak bisa menjaga adiknya dengan baik seperti amanah kedua orang tuanya. Takut jika adiknya tersakiti karna mira adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Sejujurnya selain mira, mayya memiliki satu lagi kaka laki-laki yang bernama Marko Manuel. Namun sayang sang kakak lelakinya sedikit berbeda. Hidupnya selalu berada di dunia malam dan selalu menyusahkan kedua adik perempuannya.
Biippp Biippp
Suara dering telfon terdengar memecah lamunan kedua kakak beradik itu. Mira yang merasa bunyi deringan telfon mikiknya itu pun mulai mengambil handphonenya yang tergeletak di atas tempat tidur. Lalu ia pun mencoba melihat siapa yang menelfonnya. Setelah dilihat ternyata itu sang kakak lelakinya Marko Manuel.
"Siapa ra, ko langsung asem gitu mukanya ?". Tanya mayya penasaran.
"Kak marko". lirih mira.
"Biarin aja lah ra. Dia paling lagi butuh bantuan. Bantuan yang merugikan tentynya". Cibir mayya dengan kesal.
"Sialnya aku tidak bisa menolaknya. Kalau tidak kak marko pasti bakalan nekad". Ucap mira dengan raut sedih.
"Apa yang kak marko minta darimu ra ?". Tanya mayya penasaran. .
"Hhhhh....Dua hari yang lalu kak marko meminta bantuanku buat menemaninya pergi keacara ulang tahun perusahaan ternama. Sekalian mau dikenalkan sama teman-temannya". Ucap mira memulai ceritanya.
Mayya pun mulai heran dengan kata ( dikenalkan ) itu dan berkata "Dikenalkan maksudnya gimana ra. Ka marko mau menjodohkan kamu ketemannya gituh ?".
Dengan raut masam mira pun mengangguk lemah.
"Mungkin sih ka, tapi entahlah kata dikenalkan itu rumit artinya. Apa lagi yang mengatakan itu kak marko".
"Acara ulang tahun perusahaan. Hmmmm kapan itu ra ?". tanya mayya dengan raut berfikir.
"Dua hari dari sekarang kak. Hari sabtu malam di gedung putih. Nama perusahaannya LeonGrup". Jelas mira.
"LEONGRUP !!!". Teriak mayya dengan rau kagetnya.
"Ya ampun ka, berdenging telinga ku ini". Ucap mira seraya menutup telinganya.
"Sejak kapan kak marko berurusan dengan perusahaan raksasa itu". Lirih mayya dengan rasa khawatirnya.
Mengingat bahwa perusahaan itu adalah perusahaan yang tidak bisa dianggap remeh mayya pun menerka-nerka apa maksud kakaknya menbawa sang adik kesana. Betulkah untuk dijodohkan atau untuk yang lain.
Saat mereka tengah melamun. Terdengar suara ketukan pintu menyapa dari luar.
TOOKK TOK TOK
__ADS_1
Mendengar ketukan pintu itu maya pun beranjak dari duduknya lalu membukakan pintu.
"Loh mas roy. Udah pulang ?". Tanya maya kepada sang suami.
"Mau makan siang dirumah. Aku cariin kamu tadi. Ternyata kamu disini". Jelas roy seraya mencium kening istrinya.
"Lagi ngawasin mira buat makan sama minum obatnya. Terus keterusan deh ngobrol". Ucap mayya dengan lembut.
Royan pun melirik kearah sang adik ipar dan dibalasi senyuman hormat oleh sang adik ipar.
"Gimana keadaanya ra ?". Tanya roy memastikan.
"Mendingan ka". Ucap mira dengan tersenyum.
Mengangguk mengerti tentang keadaan sang adik ipar royan pun meminta sang istri menemaninya makan siang. Namun sebelum benar-benar pergi dari kamar mira royan pun berkata.
"Tadi ada yang mengantar paket di depan. Sudah kakak bawa ke dalam ada di ruang tamu. Atas nama kamu ra". Ucap royan dan berlalu pergi bersama sang istri.
Mendengar hal itu mira pun bergegas keruang tamu guna melihat isi paket itu berserta pengirimnya. Dan ternyata nama pengirimnya itu tak lain ialah Marko Manuel kakaknya sendiri.
"Kak marko". Lirih mira dengan raut murungnya.
Penasaran dengan isinya, mira pun membuka bingkisan yang diberikan olehnya. Dan ternyata isinya satu stel gaun berwarnah merah maroon yang memiliki lengan panjang, namun sepertinya bisa memperlihatkan bahu putihnya. Serta memiliki panjang gaun diatas lutu
Foto ini aku ambil dari google.
Saat mira tengah melamun, tiba-tiba sang kakak dengan kaka iparnya datang menghampiri.
"Kamu pesan baju baru ra ?". Tanya kak may seraya duduk di kursi ruang tamu tepat di sebelah mira.
"Dari kak marko kak. Ini pesannya". Lirih mira dengan tak bersemangatnya.
Sementara,rotan yang sedari tadi menyimak pembicaraan pun akhirnya ikut mendekat kearah sang istri.
"Pakai ini di pesta nanti. Kakak akan menjemputmu. Bay the way, merah maron sangat cocok dikulitmu yang cantik mira. Kaka sudah tidak sabar rasanya. Tolong bantu kaka marko ya".
Begitulah isi surat yang tengah maya baca bersama sang suami.
"Pesta apa ?". Tanya royan sedikit mengernyit curiga.
"Ulang tahun perusahaan LeonGrup mas. Ka marko mengundang mira untuk ikut. buat nemenin dia juga memperkenalkan mira kepada teman-temannya ka marko". Jelas mayya kepada sang suami.
"Tumben". Guman royan dengan nada heran.
"Ngomong-ngomong mas juga ada undangannya. Acaranya dua hari lagi kan". Ucap royan dengan santai.
"Serius mas. Ko bisa perusahaan itu ngundang mas". Tanya mayya penasaran sekaligus antusias.
"Iya. Ada kerja sama antara mas dengan pimpinan LeonGrup tentang pembangunan mall di daerah pusat". Jelas royan dengan nada santai.
"Emmm gitu. Tapi aku masih heran mas, apa hubungannya ka marko dengan LeonGrup". Ucap mayya penasaran.
"Marko kan pemilik dunia malam ternama sayang. Tidak heran jika LeonGrup menggundangnya. Mungkin mereka juga cukup senang dengan marko". Jelas sang suami kepada mayya.
"Baik buruknya gimana nanti. Yang jelas kamu tidak usah takut atau cemas ra. Kak roy dan kak may pasti bakalan mengawasi kamu dengan marko". Jelas royan kepada mira.
"Tapi kalai kalian kepesta. Bagaimana dengan lili dan ayub kak ?". Tanya mira dengan khawatir.
"Kebetulan mamah sama papah kangen sama kedua cucunya. Naah nanti pulang dari pesta kita kesana menginap. Kebetulan hari minggunya ada acara keluarga. Kita semua wajib datang termasuk kamu juga ra". Imbuh royan.
Mayya dan mira pun hanya mengangguk mensetujui usulan royan juga permintaan royan unruk menginao sekaligus ikut serta dalam acara keluarga. Mengingat bahwa setahun belakangan ini mayya dan royan tidak dapat mennghadiri acara keluaega karna kesubukan masung-masing.
"Ya sudah kalau gitu, aku berangkat ke kantor lagi ya sayang. Jaga diri baik-baik di rumah". Pamit sang suami kepada sang istri.
"Iyah. Ya udah ayok aku antar kedepan mas". Sahut mayya dengan senyuman manja.
Mira yang melihat hal itu pun hanya tersenyum memaklumi kemesraan sang kakak dengan kakak iparnya yang melebihi anak remaja sedang kasmaran itu.
Apa lagi saat mira melihat adegan di mana kak mayya mencium punggung tangan sang suami lalu dilanjut dengan kak royan yang mencium kening sang istri dan beelanjut berciuman sembari berpelukan. Membuat mira mengeluarkan ekspresi datarnya.
"Iya deh dunia emang milik mereka berdua. Yang lain mah ngontrak". Lirih mira dengan muka cemberut lucunya.
"Tapi aku pengen. Terus kapan donk bisa kaya gitu. Ahhhh nasib setatus ngga jelas mah gini. Ngga ada manis-manisnya. Asem mulu". Oceh mira sembari beranjak pergi kekamarnya seraya membawa bingkisan lalu lanjut tidur siang.
Saat malam harinya. Mira yang baru saja selesai makan malam di rumah bersama keluarga kakanya di buat terkejut atas kedatangan kelima teman kerjanya.
"Kalian ngapain kesini malam-malam ?". Tanya mira dengan muka bodohnya.
"Mau numpang ke WC. Ya kita mah mau jengukin lu lah mira". Oceh shila dengan suara oktafnya.
"Suara shil kondisikan. Rumah orang ini bukan hutan apa lagi kebun binatang". Ucap imelda menasehati.
"Ya soalnya mira kalau lagi sakit begonya nambah mel. Gemes jadinya gua". Sahut shila dengan santainya.
"Huss ney jangan gitu lo. Ntar kalau ney diusir sama yang punya rumah. Kita-kita ngga mau ikut campur ya ney". Ucap ozi dengan logat kemayunya.
Ucapan ozi pun sukses membuat shila bungkam dan nencebik kesal kepada ozi. Sementara mira yang melihatnya pun hanya tersenyum maklum.
"Ya udah ngga apa-apa si. Yuk masuk kita ke taman belakang yah kebetulan disana ada gazebonya". Ajak mira kepada kelima teman kerjanya yang langsung diangguki setuju oleh mereka.
Saat sampai di taman belakang memang benar terdapat gazebo yang berbentuk rumah kayu yang unik serta tak jauh dari sana ada kolam renang kecil juga tanaman bunga dan kolam ikan hias milik kak may.
"Gila capeknya gua. Mau rebahan akhh". Ucap shila sembari tiduran dalam gazebo. Disusul oleh nuri yang ikut-ikutan tiduran.
Sementara ozi dan imelda tengah sibuk memandangi kolam ikan yang begitu banyak ikan emas hiasnya. Tak jarang merrka pun memberi makan ikannya.
Sedangkan mira dan koko El duduk di salah satu kursi dekat gazebo.
"Lu mah curang ra. Ngakunnya anak konplek biasa ngga taunya komplek perumahan elit. Ini yang **** gua apa dia si". Celetuk shila dengan gemasnya.
Mira yang mendengar celetukan shila pun tertawa dengan renyahnya dan berucap "Aku kan disin juga numpang shil. Ini itu rumah kakak iparnya aku". Jelas mira kepada,shila. Membuat shila semakin manyun di buatnya.
"Tau gini tadi gua bawa oleh-oleh kue yang rada mendingan gitu. Bukannya roti warungan kann ngga enak gua ama kaka lu". Sahut shila lagi dengan muka masam.
"iya nih, mana aku beli buahnya di tukang buah pinggir jalan lagi. Tau gini kan mampir ke supermarket apa toko buah gitu. Biar bisa di bingkis cantik. Bukanya pake keresek item". Ucap imelda menambahkan membuat nuri dan ozi merasa tidak enak hati.
"Apa lagi aku. Beli vitamin sama minuman kesahat dan cemilan gini". Ucap koko er dengan raut menyesalnya.
"Apa sih kalian. Itu semua juga layak makan. Malah aku sangat bersyukur banget punya temen kerja kaya kalian. Makasih ya udah pada mau bela-belain ngejengukin aku". Ucap mira dengan tulus dan memeluk nuri, imelda dan shila.
__ADS_1
"Ayok-ayok inih di minum dulu minumannya mumpung masih hangat. Ada juga cemilannya sama mira nanti kalau pada kepengin minuman dingin kamu ambil aja di kulkas ya". Ucap mayya dengan antusias dan ramahnya.
"Makasih ka, jadi ngerepotin kakak". Ucap mereka berbarengan.
"Panggil saja kak may sama kaya mira". Sahut kak may dengan senyum lembutnya.
Kelima teman mira pun mengangguk mengerti dan tersenyum canggung.
"Ya udah, kaka tinggal ya. Jangan sungkan-sungkan disini ya". Ucap kak may masih dengan keramahannya.
"Iya kak terima kasih". Ucap kesemuanya dengan sopan.
Mayya pun beranjak pergi meninggalkan mira dan teman-temannya yang masih merasa canggung plus kagum.
"Gilaa kaka lu ra. Cantik banget, mulus banget kulitnya, wangi pula. Sama senyymnya itu bikin adem". Ucap shila dengan nada mengiba.
"Iya bener tuh. Ramah lagi sama baik banget. Sama kaya kamu ra". Ucap koko er seraya mengerling. Membuat mira menjadi salah tingkah.
Lalu semuanya pun memakan makanan yang disuguhkan oleh kak mayya dengan nikmat dan tak jarang juga ada yang ribut dan bercanda gurau.
Saat mira dan koko er tengah duduk bersamaan koko er memylai pembicaraan "Maaf buat kemarin aku pulang bareng martha. Dia ngambek ingin dianterin pulang". Jelas koko er.
"Iya ngga apa-apa koh. Aku juga di jemput sama ka roy dan ayub suami dan anak pertamanya kak may". Ucap mira memaklumi.
"Syukurlah". Ucap koko er dengan nada lega.
"Kenapa bisa sampai sakit. Telat makan lagi ya ?". Tanya koko er penasaran.
Mira pun hanya tersenyum canggung lalu mengangguk nembenarkan pertanyaan dari sang koko.
"Sepulang dari butik aku langsung bersihin badan dan tidur. Terus malemnya kata kak may aku denam. Tapi udah mendingan sih cuma kelelahan aja sama perut kosong". Jelas mira kepada sang koko.
"Jaga kesehatan kamu baik-baik ra. Jangan sakit lagi". Ucap koko er dengan lembut.
"Iya ka, akan aku usahakan". Lirih mira dengan muka sedikit merona.
Dalam hati mira merasa sangat nyaman berada di dekat lelaki bernama erlangga ini. Selain sikapnya yang santun cara bicaranya pun nyambung dan bisa membuat mira merasa cocok.
Terkadang juga mira sering tidak kuat menatap mata sang koko. Seperti ada makna lain yang sulit mira artikan juga ragu untuk mengartikannya.
"Kenapa koko er ?". Tanya mira dengan heran. Membuat yang ditanga hanya mengernyit bingung.
"Ko liatin akunya gitu banget. Wajah aku ada yang aneh yah ?". Tanya mira dengan was-was.
Mendengar hal itu erlangga pun tersenyum senang dan merasa lucu di buatnya.
"Engga ko, cuma merasa kagum aja ke kamu ra". Ucap erlangga dengan jujur.
Sementara mira yang mendengarnya pun di buat bingung tentang ungkapan kata kagum yang diucapkan oleh erlangga kepadanya.
"Kamu menyimpan semua kemewahan kamu di balik kesederhanaan yang kamu miliki. Aku sampai sekarang masih tidak percaya bahwa yang di depanku ini adalah mira si pelayan toko. Kamu berbeda dari wanita-wanita yang lain. Akuu...jadi semakin suka". Ungkap erlangga kepada mira. Membuat mira menjadi tambah merona dibuatnya.
"Seandainya peejodohan itu tidak pernah terjadi. Aku pasti sudah memilihmu". Batin koko erlangga.
"Wanita yang selalu aku kagumi dari awal kita bertemu dan sampai sekarang. Rasa itu semakin bertambah". Batin erlangga lagi.
"Aku tidak mengerti mengapa aku merasa sebahagia ini. yang pasti ucapanmu itu sudah membuatku merasa ingin berteriak sekencang-kencangnya. Menyeruakan kata bahwa aku sangat bahagia". Batin mira mengucapkan rasa kebahagiaannya.
Tak jauh dari mereka ada empat pasang mata yang memperhatikan gerak gerik serta gestur dari dua insan yang tengah memendam rasa itu.
"Sepertinya mira sangat bahagia dengan lelaki itu". Ucap mayya kepada sang suami. Roy pun hanya tersenyum lalu meneluk istrinya dari belakang dengan sayang.
"Namun sayangnya dia sudah dijodohkan dengan anak teman dari ayahnya". Sahut royan seraya mengendus leher jenjang sang istri.
Terkejud mendengar ucapan dari sang suami. Mayya pun langsung membalikkan badannya menghadap ke syaminya.
"Sungguh ?". Tanya mayya penasaran dan di balasi anggukan oleh sang suami.
"Mira sudah ku anggap sebagai adik kandungku sendiri mayya. Aku sangat senang memiliki seorang adik perempuan. Kau tahu aku adalah anak tunggal. Adik angkatku juga sudah meninggal saat insiden peranpokan itu terjadi". Jelas Royan mulai bercerita.
"Kehilangan Sonya membuat ku down. Aku baru saja mendapatkan seorang adik perempuan. Lalu ia meninggalkanku bersama kedua orang tuaku. Dan pada saat itu aku mulai nemohon agar aku diberikan satu kesempatan untuk menjadi seorang kaka. Aku berjanji akan melindunginya dengan caraku. Dan akhirnya tuhan mengabulkannya. Dia memberikan ku seorang adik perempuan melalui mu". Jelas royan dengan tersenyum senang membuat mayya pun ikut tersenyun senang.
"Bahkan tuhan pun dengan baiknya memberikanmu kepada ku. Seorang istri yang penyayang, ranah, caantik, dan juga seksi. Membuat ku jatuh cinta lagi dan lagi". Goda royan kepada sang istri. Membuat mayya langsung mencubit kecil perut sang suami.
"Jadi untuk masalah dari mana aku tahu jika lelaki itu sudah dijodohkan yaa itu karna mata-mata ku. Kau dan mira adalah dua wanita yang sangat berharga untuk ku". Jelas royan kepada sang istri.
"Emmm dasar prosesif. Aku cemburu loh. Kamu memperlakukan mira segitunya". Ucap mayya bermaksud menggoda.
"Kamu yang paling tahu. Seberapa prosesifnya aku kepadamu sayang. Jelas kau dan mira itu berbeda. Dia adik ku dan kau istri ku. Dan aku tidak mau sampai ada yang menyakiti kalian berdua". Ucap sang suami kepada maya dan di balasi ciuman mesra dari sang istri.
"Eh udah jam 9 malem nih. pulang yuk besok masih ada kerja kan kita". Ajak nuri kepada teman-temannya.
Mereka pun akhirnya tersadar dan mensetujui usulan nuri untuk pulang lebih awal.
"Iya kasihan juga mira, belum sembuh betul. Harus banyak istirahat". Ucap erlangga dengan lembut.
"Iya deh ayok. Daddaah mirambul ku kita pamit pulang ya". Ucap shila seraya memeluk mira.
"Iya. Yuk aku anter kalian sampai depan". Ucap mira seraya berjalan beriringan dengan tefman-temannya.
Saat di ruang tamu hendak menuju pintu keluar mereka pun berpapasan dengan mayya dan royan.
"Eh pada mau kemana ini ?". Tanya mayya dengan ramah.
"Kita mau pulang kak, udah malam. Makasih nih kak buat cemilannya enak banget. Maaf kalau kita-kita pada ngerepotin". Ucap Shila dengan sopan.
"Iya sama-sama. Sering-sering main kesini yah semua biar rame juga banyak silaturahim". Ucap kak may dengan senyum senangnya.
"Siap kaka". Ucap mereka berbarengan dan mulai keluar rumah menuju kekendaraan mereka masing-masing.
Shila dan erlangga dengan motor vixtionnya. Imelda dan nuri dengan honda secupinya dan ozi dengan motor metik N-maxnya. Kesemuanya pun keluar dari gerbang rumah kak royan. Menembus jalan masing-masing.
Sementara mira, maya dan royan yang tengah diluar pun mulai memasuki rumah.
"Aku kunci pintu dulu. Kalian berdua masuk saja duluan". Suruh royan kepada mira dan mayya.
Kedua wanita itu pun langsung memasuki rumah dan mira pun meminta izin untuk pergi ke kamar duluan.
"Ka aku kekamar duluan yah. Mau istirahat ngantuk. Selamat malam kak maya". Ucap mira seraya mencium pipi kanan mayya dengan sayang dan berlalu pergi ke kamar.
Sementara mayya pun menuju kamarnya menunggu sang suami untuk tidur bersama.
__ADS_1
Tetap stay baca di LULUH ya guys. Jangan lupa vote, komen dan kasih lophe lophenya yaaahh 😘😘.
Tunggu episode berikutnya 🙋♀🙋♀🙋♀🙋♀