Luluh

Luluh
Tamaram lampu


__ADS_3

Selesai makan, Rama sedikit berbincang-bincang pada saudara lelaki ibu Yanna. sedangkan para wanita membersihkan makanan dan membawanya ke dapur.


" Beruntung loh Yan kamu dapat suami seperti Rama. Sudah baik, penyayang, sabar dan kaya. Komplit wes." Ucap budhe Yanna, duduk di kursi meja makan memperhatikan Yanna membantu buleknya mencuci piring.


" Iya, beruntung kamu Yan. Dari pada bapaknya Naufal. Benci aku lihatnya." Saut bulek, mengingat perlakuan mantan suami Yanna yang sangat tak bertanggung jawab. hingga membuat gempang satu desa.


" Iyo, gak tanggung jawab, malah menghina. Gak ngakuin juga Naufal anaknya." Timpal budhe. Yang juga sangat marah mengingat masa lalu ponakannya di hina di dapan keluarga mantan suami yanna.


" Sekarang baru ngaku Naufal anaknya, pengen ngerbut juga dari kamu. Rasanya pengen tak buang ke sumur saja. Gak tau malu tu laki." Jawab Bulek satunya, di anggukkan oleh semua saudara ibu Yanna.


" Yang lalu yaw wes biar berlalu, Yanna sekarang sudah bahagia dengan lelaki yang tepat. Mau menerima kekurangan Yanna, mau menerima anak Yanna. Aku sudah sangat bersyukur." Ucap Ibu Yanna.


Merasa sangat bersyukur mempunyai menantu seperti Rama. Menantu yang sabar menghadapi tingkah Yanna, menantu yang perhatian menyuapi anak Yanna dan menantu penyayang, menyayangi Naufal seperti anaknya sendiri.


Dulu Ibu Yanna hanya takut, anaknya tidak mau berumah tangga lagi. Takut anaknya masih trauma dengan lelaki dan takut bila tidak menemukan lelaki yang tepat. Ibu Yanna selalu berdoa, selalu meminta anak-anak dan cucunya bahagia, sehat dan juga menemukan pendamping yang baik. Dan doa-doa ibu Yanna terkabulkan oleh maha pencipta. Sujut syukur dan terima kasihnya pada pencipta selalu ia sematkan dalam doa selesai ibadahnya.


Kini Ibu Yanna tidak perlu takut lagi dengan nasib putri dan cucunya. Karena dirinya yakin Rama pria yang tak pernah mengingkari janjinya.


" Semoga langgeng ya Yan? Bulek turut bahagia lihat kamu bahagia sekarang." Ucap Bulek, mengusap lembut punggung Yanna yang sudah selesai mencuci piring dan mengusap tangannya dengan lap di meja makan.


" Amin, makasih bulek." Jawab Yanna dengan senyum.


Rumah sudah mulai sunyi, malam semakin larut. Para saudara ibu Yanna satu per satu pulang, tidak lupa mengucapkan selamat dan doa untuk penganti baru. Dan esok pagi mereka akan kembali lagi untuk ikut membersihkan rumah ibu Yanna yang sedikit berantakan.


" Naufal tidur buk?" Tanya Yanna.


Iya, Naupal sudah tidur di kamar ibu. Ibu buatin suami kamu wedang jahe di dapur, sana berikan. Ibu tadi lihat wajahnya kecapekan, kasihan." Ujar Ibu Yanna, membuat Yanna hanya mengangguk dan tersenyum.


Membuka pintu kamar dengan pelan, membawa secangkir wedang jahe untuk Rama. Melihat suaminya duduk bersandar di ranjang sambil memijat tengkuk lehernya.


Benar kat ibu mas Rama lelah." Guman Yanna dalam hati.


" Di minum dulu mas wedang jahenya." Ucap Yanna, berdiri di samping Rama. membuat Rama duduk sigap sambil bersila.

__ADS_1


" Makasih." Jawab Rama.


"Capek ya mas." Tanya Yanna, memperhatikan Rama menyesap wedang jahenya.


" Sedikit." menaruh wedang jahe di meja rias Yanna.


" Naufal Mana?" Tanya Rama.


" Naufal sudah tidur di kamar ibu."


" Saudara ibu."


" Sudah pulang." Jawab Yanna, membuat Rama mengangguk tersenyum.


" Sini, sudah malam. Ayo tidur." Ujarnya lagi menarik tangan Yanna untuk segera naik di atas ranjang.


Kesempatan tak boleh di sia-siakan.


Kapan lagi coba.


Rasanya gugup, tapi mencoba untuk biasa saja. Ya walaupun wajah tidak bisa di menyembunyikan expresi.


" Masih muat kok, kalau seperti ini." Jawab Rama, memajukan tubuhnya pada tubuh Yanna dengan tangan melingkar di atas perutnya. . membuat Yanna kembali membulatkan mata.


" Cantik." Lirih Rama, mengusap pipi istrinya dengan lembut. dan kembali membenamkan cium*n di bibir Yanna tanpa persetujuan dulu dengan yang punya.


Kembali memagut manisnya bibir dengan lembut memberikan sesapan kecil, untuk memancing sensasinya gairah tubuh.


Kembali saling membalas, kembali saling merasakan kabut gairah yang sempat tertunda. Cium*n yang merasakan menuntut untuk lebih dalam. Rama menindih tubuh Yanna, tanpa melepaskan ciuam*n yang semakin panas dan rakus.


Tangan Rama mulai menaikkan daster Yanna hingga terlepas, memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna hingga kulit kuning langsat sangat indah.


Bagai lelaki hidung belang yang lama tak di belai. Semuanya begitu rakus dan terburu-buru.

__ADS_1


Memberikan kembali kecupan-kecupan kecil, di leher hingga menurun ke dua gundukan Yanna. Membuka pengait, melepas kain penutup gundukan hingga terpampang sangat jelas warna ujung yang ingin sekali ia hisap.


" Mas?" Lirih Yanna, setengah sadar menikmati belaian Rama memabukkan. menatap pintu kamar sambil menutup dua aset gundukannya. Yang belum tersentuh oleh Rama, tapi melihat tatapannya pun seakan ingin melahapnya.


Seakan Rama tau tatapan Yanna, ia pun bangkit dan mengunci pintu kamar. Katut bila ada yang masuk saat bercinta dengan istrinya. mematikan lampu putih dan menggantinya dengan lampu kuning di meja rias Yanna. Kembali cepat menindih tubuh Yanna setelah melepas semua baju dirinya menyisakan boxer depan semakin mengetat seperti ingin meminta keluar. Sama- sama menyisahkan satu kain di bawah aset berharga yang belum tersentuh.


" Boleh?" Ijin Rama, memandang wajah cantik istrinya di tamaram lampu kuning yang sedang malu-malu kucing.


Menggemaskan.


" Hmm." Gumam Yanna, mengangguk serta tersenyum.


Mendapatkan persetujuan, bibir seakan tertarik melengkung sempurna. Tak ingin menunggu waktu yang lama, kesempatan akan dibuatnya semaksimal mungkin. Berharap tak akan ada gagal yang ke tiga kalinya lagi, untuk melakukan pengalaman pertama baginya.


Kembali menautkan bibir, ke dua tangan Yanna melingkar sempurna di leher Rama. Walau sudah lama tidak berciuman bukan berarti tidak mahir. Cium*n saling membalas, saling menikmati, saling menggigit dan saling membelit. Yanna yang sudah terbuai hanya bisa memejamkan mata, sedangkan Rama tak ingin menutup mata. Dirinya ingin mengenang memori-memori bercinta bersama dengan istri baru untuk melepas perjakanya, dan itu ia serahkan pada wanita janda yang di nikahinya.


Untuk pertama kali baginya, debaran jantung begitu kencang. Rasa ingin cepat melakukan, tapi pikiran ingin menikmatinya terlebih dulu. Memanjakan wanita, yang belum pernah ia manjakan di atas kasur.


Dinginnya malam tidak terasa dengan hawa panas ruang kamar bertamaram. Peluh membanjiri seluruh tubuh. desah*n, erang*n mereka sembunyikan di sela-sela ciuman bibir yang memabukkan. Tak ingin di dengar ******* cinta oleh orang rumah dan tidak ingin di lihat tanda cinta pada orang lain.


Bermanuver lebih kencang, kala terasa ingin membeludak, cengkraman kuat tangan Yanna yang juga ingin sekali keluar lava. sekali lagi, membekap bibir dengan saling bercium*n, suara erang*an panjang keluar begitu lega saat semuanya membeludak menjadi satu.


Terkulai lemas di atas tubuh Yanna, membenamkan wajah di ceruk leher Yanna.


" Makasih Yan, ini pertama kali untuk aku." Bisik Rama.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2