Luluh

Luluh
Episode 58


__ADS_3

Satu minggu pun telah berlalu, kini Mira sudah dapat memakan makanan yang lebih baik seperti bubur ayam, puding dan jus buah lainnya. Kondisi lambungnya pun cukup membaik setelah kemarin di periksa oleh dokter Jordan. Kini hari-hari Mira lalui dengan semangat seraya menunggu sang tuan muda kembali.


Pagi ini Mira pun melakukan aktifitasnya seperti biasa. Menyiapkan sarapan pagi dan bersiap untuk pergi bekerja. Namun pagi ini Mira cukup terkejut saat tiba-tiba saja ada motor sport warna hitam berhenti tepat di depannya yang telah keluar dari gerbang untuk menugui taksi online.


Mira pun sedikit mengernyit bingung dan mulai menerka-nerka siapa pengendara motor sport itu. Jika itu Shila, tidak mungkin. Gestur tubuhnya berbeda. Juga motor Shila kan bukan sport warna hitam. Tetapi sport warna merah.


Seseorang itu pun membuka helemnya dan terlihatlah wajah ganteng milik seseorang yang Mira kenali. Dengan tersenyum Mira pun mendekat kearahnya.


"Dareen...!". Seru Mira dengan antusias.


"Hai princess". Sapa Daren dengan senyum lesung pipinya yang khas.


"Ya ampun kamu apa kabar Reen. Dan kamu pakai motor ini. Hmmm tumben nih". Ucap Mira bertubi-tubi.


"Aku baik, soryy engga pernah kasih kabar. Aku dua minggu ini ada di paris buat ikutan pameran. Dan yaa motor ini hasil dari pameran ku selama dua minggu". Ucap Dareen mrnjelaskan.


"Selamat ya, atas kesuksesannya". Ucap Mira yang ikut senang. Dan Dareen pun hanya mengangguk santai.


"Ngomong-ngomong, kamu mau berangkat kerja ya ?". Tanya Daren memastikan.


"Iya, lagi nunggu taksi online juga". Ucap Mira membenarkan.


"Batalkan saja. Hari ini aku antar kamu". Ucap Dareen santai.


"Engga usah lah Reen, engga enak sama supir taksinya". Ucap Mira menolak.


Dareen pun langsung mengambil ponsel Mira dengan cepat membuat Mira terkejut dan berusaha untuk merebutnya.


"Eh eh ponsel ku. Dareeen". Ucap Mira sedikit merengek di akhir kalimat.


Daren pun tidak memperdulikannya dan terus mengotak-atik ponsel Mira. Dan setelahnya ia pun menunjukan pembatalan taksi yang jika dilihat belum juga berangkat menuju kediaman Mira.


"Sudah aku batalkan. Ayo sekarang aku antar kamu sampai ke depan tempat kerja". Ucap Dareen dengan santai. Membuat Mira langsung memberengut kesal dan lalu mengikuti ajakan Dareen.


"Dasar tukang maksa". Ejek Mira saat sudah berada di atas motor Dareen seraya memakai helem yang Dareen berikan sebelumnya.


"Dasar cebol yang pemarah". Ejek Dareen balik yang langsung mendapat pukulan keras pada bahu kanannya oleh Mira.


Dan mereka pun akhirnya berjalan menembus jalanan pagi dengan santai dan dengan pikiran masing-masing.


Setelah sampai di butique tempat dimana Mira bekerja. Semua pegawai pun terbengong-bengong melihat motor sport yang di kendarai oleh Dareen. Begitu pun dengan Martha dan Erlangga yang kala itu baru turun dari mobilnya.


"Heh itu siapa ya. Aduh keren banget motornya". Ucap salah satu pegawai wanita dengan heboh.


"Tapi ko dia nganterin pekerja kita ya. Tuh lihat yang di bonceng pakai seragam butique ini kan ?". Ucap salah satu pegawI lainnya.


"Wiihh ada yang menyaingi elu tuh Shil. Mana motornya keren banget lagi". Ucap Imelda mengompori.


"Dasar kompor Lu Mel". Hardik Shila.


"Heh tapi siapa ya ney itu orang. Eh tunggu, itu ngeboncengin salah satu pegawai kita kan ya. Itu lihat seragamnya kan seragam butique ini. Waah kira-kira siapa ya Ney eemmm penasaran akuh". Ucap Oji dengan kemayunya.


"Iya yah, kira-kira siapa ya ?". Tanya Nuri dengan penasaran.


Banyak yang memperhatikan Dareen dan Mira karena rasa penasarannya masing-masing. Dan saat Mira membuka helemnya dan merapikan rambutnya. Semua orang pun terkeju bukan main. Lebih terkejut lagi saat melihat Dareen si seniman muda yang berbakat juga terkenal karya lukisnya oleh dunia.


"Mira ?". Ucap Shila, Nuri, Imelda dan Oji secara berbarengan. Begitu pun para pekerja lainnya juga Martha. Sementara Erlangga hanya diam mematung di tempat dengan raut dinginnya.


"Hhhh.... Akhirnya sampai juga. Makasih ya Reen atas tumpangannya". Ucap Mira lembut.


"Sama-sama". Ucap Dareen seraya mengusap pelan. puncuk rambut Mira dengan sayang.


"Bekerjalah dengan baik dan semangat". Ucap Dareen menasihati.


"Siap pak komandan" Ucap Mira dengan hormat dan tersenyum manis. Membuat Dareen pun ikut tersenyum manis pula.


"Nanti sore aku jemput ya. Sekalian main kerumah. Boleh ?". Izin Dareen kepada Mira.


"Emmm..... Nanti aku izin dulu sama kak Royan. Kan biar bagaimana pun dia yang punya rumah. Aku mah cuma ngontak disana heehee" Ucap Mira dengan leluconnya. Membuat Dareen semakin gemas rasanya.


"Dasar. Ya sudah aku tunggu kabarnya ya". Ucap Dareen lembut.


"Iya". Balas Mira santai.


Dareen pun lalu menyalakan mesin motornya dengan tenang membuat suara bising yang khas pada kendaraaannya. Ia pun lalu memakai helemnya lalu membuka kaca helem.


"Aku pulang dulu ya. Dadaaaah". Ucap Daren seraya melambaikan tangannya dan Mira pun juga membalas lambaian tangan Dareen dengan melambaiksn tangan juga.


Setelah dirasa Dareen sudah menjauh, Mira pun berbalik badan menghadap kearah butique. Dan terlihat lah wajah orang-orang yang menatapnya dengan tatapan yang beragam. Begitu pun dengan kempat teman kerjanya, meneger Mo dan juga Martha dan Erlangga. Merasa tak nyaman, Mira pun berjalan dengan kikuk menuju kearah sekerumunan teman kerjanya.


"Elu hutang penjelasan ke kita-kita Ra". Ucap Shila serius. Yang di balasi anggukan setuju oleh yang lainnya.


"Iya, nanti pas makan siang aku ceritain". Ucap Mira santai dan langsung melenggang masuk kedalam butique.


"Sepertinya dia sudah lebih dulu move on darimu". Ucap Martha sinis. Erlangga pun tidak menghiraukannya ia malah berjalan santai kedalam butique. Namun tatapan matanya begitu kosong dan dingin.


Pada jam makan siang, Mira dan keempat temannya pun makan bersama di gudang kain. Sebab seperti biasa, Mira selalu saja mendapatkan pekerjaaan berat dan selalu saja di tujukan ke gudang. Mereka berlima pun duduk melingkar dengan makan siang mereka masing-masing juga beberapa cemilan seperti gorengan, ciki, kerupuk, rujak, beberapa macam jus buah dan sebagainya. Hanya Mira yang membawa bekal sup jagung yang kental yang sempat di panaskan oleh Shila.


"Ney, sampai kapan kamu makannya gitu terus. Kita-kita yang lihat bosen tahu Ney". Ucap Oji merasa perihatin dan kasihan terhadap Mira.


"Hhhh..... Mau gimana lagi, ini kan juga saran dari dokter". Ucap Mira sedikit lesu.


"Yang sabar ya Ra". Ucsp Imelda yang kebetulan duduk di sebelah Mira dengan mengelus pelan bahu kiri Mira.


"Tapi jus boleh kan Ra ?". Tanya Shila memastikan.


"Boleh, tapi pemanisnya harus pakai susu". Ucap Mira memberi tahu.

__ADS_1


"Makanya, tuh gua beliin beberapa jus buat Elu. Yang jus alpukat, jus jambu biji merah, sama jus melon buat Mira yah. Yang lsinnya terserah mau ambil yang mana saja". Ucap Shila memberi tahu.


"Kok buat aku banyaak banget Shil ?". Tanya Mira merasa heran.


"Ya minum saja salah saatunya untuk sekaraang. Yang dua lainnya simpan buat entar kalau lu merasa lapar lagi". Ucap Shila menyarankan.


"Gua pernah soalnya dulu di rumah sakit satu minggu makannya bubur. Engga aada kenyang-kenyangnya asli". Ucap Shila bercerita.


"Iya udah aku terima ya, Makasih Shila". Ucsp Mira dengan senang.


Kesemuaanya pun mulai makan bersaama dengan lahap dan nikmat. terkadang juga di selingi celotehan-celotehan konyol dari Oji dan Shila yang mirip seperti tom and jerry. Selesai makan pun mereka masih duduk-duduk santai dan ada juga yang memakan cemilan.


"Ra, enggaa lupakan kalau kamu ada hutang penjelasan ?". Ucap Imelda yang memulai bertanya.


"Engga ko Mel. Ekhem.... Jadi ceritanya itu guni...". Mira pun akhirnya menceritakan segalanya dari awal ia bisa bertemu Dareen dan tentang perjodohannya dengan kesepuluh pria dan semua kencan-kencannya.


"Yaah jadi gitu ceritanya dan itu jugaa belum semua aku kencani. Masih ada empat pria lagi. Dan aku engga tahu kapan kencan itu di lanjut lagi. Mungkin nanti setelah aku sembuh baru di mulai lagi". Ucap Mira dengan lesu.


"Gua ko merasa kaaya kakak lu. Kak Maya itu agak beda ya". Ucap Shila meras curiga.


"Iya Ra, dia kaya kelihatan pengin ngedepak Lu tapi pakai cara halus dan aman. Agar terkesan dia itu engga kelihatan egois". Ucap Imelda menambahi.


"Aku juga bingung dan merasa kalau kak Mayaa itu berubah sikap dan sifatnya". Ucap Mira sedih.


Mira hanya menceritakan perjodohannya saja dengan kesepuluh pria yang disarankan oleh sang kakak dan menceritakan beberapa kejadian paska kencannya yang sedikit baik namun banyak buruknya juga.


"Tapi menurut gua sih. Yang nganterin Elu tadi pagi itu kelihatan sayang banget sama elu Ra. Ketimbang yang lainnya. Itu dari cerita yang gua tangkap dari elu sih tadi". Ucap Shila menyuarakan pendapatnya.


"Iya aku juga setuju tuh. Yang nganterin kamu tadi yang menurutku terbaik". Ucap Nuri ikut membenarkan.


Mira pun hanya diam dengan tersenyum misterius. Ia hanya menunduk melihat jus alpukat lalu meraihnya dan meminumnya sambil mendengarkan celoteh dari teman-temannya.


"Sayangnya hati ku sudah terpaut oleh pria dingin yang tengah jauh disana". Batin Mira dengan tersenyum merona.


Dan tanpa mereka sadari, Obrolan mereka di dengar oleh Erlangga yang menguping di dekat pintu. Hatinya merasa sakit dan tak terima jika Mira harus menjalani perjodohan yang nantinya akan merugikan diri Mira sendiri. Erlangga pun lalu pergi dengan mengepalkan tangan menuju ke kamar mandi yang ada di ruangannya. Setelah berada di kamar mandi Erlangga pun membasuh mukanya dengan air yang mengalir di wastafel berkali-kali. Berharap jika bayangan Mira hilang dan kenangan saat mereka saling kenal dulu lenyap.


Namun hal itu tak kunjung berhasil. Membuatnya semakin kesal, terlebih saat bayangan dimana Mira tersenyum dengan lelaki asing itu. Yang dikatakan sebagai calon kandidat untuk suami Mira. Erlangga pun langsung menghajar cermin kamar mandi dengan kuat hingga tangannya berdarah dan kaca itu pun retak tak berbentuk.


Martha yang baru saja masuk keruangan sang suami pun langsung berlari kearah kamar mandi saat mendengar suara gaduh. Dan saat pintu terbuka, betapa terkejutnya ia melihat sang suami tengah menatap cermin yang telah rusak dengan tangan yang mengepal penuh luka dan darah.


"Ya tuhan Er, apa yang terjadi ?". Ucap Martha panik dan langsung menghampiri sang suami dengan khawatir.


"Bukan urusan mu !". Ucap Erlangga dingin dan begitu menusuk.


"Tapi kamu terluka Er". Ucap Martha dengan raut khawatir.


"Heh bukanya ini yang kau inginkan. Luka ini tidak sebanding dengan luka di hatiku karena harus menjalani kenyataan pahit bersamamu". Ucap Erlangga tajam.


"Er, kau bicara apa. Semua akan baik-baik saja jika kau menerimanya". Ucap Martha mencoba menasihati.


"Menerima hidup dengan wanita yang tidak aku cintai. Heh sungguh menjijikan". Ucap Erlangga sinis.


"Kau begini pasti karena dia kan. Karena kamu cemburu dia di antar oleh lelaki itu kan. Dia saja sudah melupakan mu dan sudah menyerah kenapa kamu masih saja mengharapkannya". Ucap Martha menjelaskan sebuah kenyataaan.


"Diam kau. Cinta atau tidaknya aku terhadapnya itu urusan ku !". Seru Erlangga dengan penuh amarah. Membuat Martha langsung terdiam dengan raut kecewa.


"Pergi. Aku muak melihat mu". Usir Erlangga tanpa melihat kearah Martha.


"Aku akan pergi. Setelah aku obati luka-lukamu itu. Ayo keluarlah dari sini". Ucap Martha kekeh dan langsung menarik lengan Erlangga.


Erlangga pun menepisnya dan langsung mendorong tubuh Martha keluar. Dan alhasil Martha pun terjerembab ke lantai dengan siku yang memar dan merintih sakit. Erlangga pun tidak memperdulikannya. Ia lalu menutup pintu kamar mandi dengan keras dan membiarkan Martha menangis sedih sendirian di depan pintu kamar mandi.


"Tidak. Aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap bertahan. Aku tidak ingin di tinggalkan lagi. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku harus kuat, sku harus bertahan. Lambat laun Erlangga pasti akan mencintaiku". Batin Martha dengan penuh tekad.


Ia pun lalu berdiri dan mengambil kotak obat untuk membalut luka memarnya juga menunggui Erlangga keluar dari kamar mandinya. Ia ingin memastikan jika luka di tangan Erlangga dapat ia obati dengan baik.


Selang empat jam Erlangga pun keluar dari kamar mandi dengan baju yang berantakan dan kusut. Merasa ada seseorang ia pun lalu menengok kearah sofa dan tertegun saat melihat Martha tengah duduk dengan tersenyum manis kearahnya.


"Apa perasaanmu sudah membaik sayang ?". Tanya Martha lembut. Namun Erlangga hanya diam membisu.


"Diamnya kamu aku anggap sudah ya. Ayo duduk aku ingin memastikan jika luka mu sudah terobati dengan baik". Ucap Martha seraya menggeret dan mendudukkan paksa Erlangga di kursi.


Martha pun dengan telaten mengobati luka-luka Eelangga. Sembari mengobati ia pun terkadang meniupi luka Erlangga. Dan Erlangga pun hanya diam dengan menatap kosong.


"Hhhh....Sudah. Aku jadi lebih tenang rasanya". Ucap Martha tulus.


Dan Erlangga lagi-lagi hanya tersenyum sinis lalu berdiri hendak melangkah keluar. Namun langkahnya terhenti saat Martha menahan lengannya dengan lembut.


"Mau kemana Er, ini sudah sore.. Saatnya kita pulang". Ucap Martha mengingatkan.


"Aku ingin mencari kesangan lain. Kau pulang lah senderi. Ini kunci mobilnya aku tinggal". Ucap Erlangga cuek seraya menaruh kunci mobilnya di atas mrja.


"Dengan siapa kau pergi Er. Jam berapa kau akan pulang dan apa kau akan makan malam di rumah atau tidak ?". Tanya Martha bertubi-tubi.


"Aku pergi dengan paman Zoe. Dan aku tidak tahu kapan akan pulang. Tidak usah menunggu". Ucap Erlangga acuh dan langsung melenggang pergi meninggalkan Martha yang terdiam lesu dan kecewan


Dilain tempat Mira yang baru saja selesai memasang gaun prngantin di anak patung pun menerima notif pesan dari Royan dan Maya yang memperbolehkan Dareen untuk main kerumahnya dan mengantarnya pulang. Mira pun lalu menscreen shoot notif pesan dari kedua kakaknya lalu mengirimkannya kepada Dareen. Dan mereka pun akhirnya janjian untuk pulang bersama. Terlebih Maya yang langsung mengundang Dareen untuk makan malam bersama.


Dareen pun akhirnya bergegas untuk bersiap-siap menjemput Mira dengan mobil pajeronya. Karena ia pun juga membawa banyak oleh-olah dari paris untuk Mira, Kak Maya, kak Royan dan juga dua keponakan Mira yang salah satunya sangat menggemaskan bagi Dareen.


Tepat pukul lima sore Dareen pun sudah stay menunggui Mira yang sebentar lagi akan keluar dari butique itu. Dan benar saja, Miea pun keluar bersama keempat temannya dengan bersendau gurau. Dareen pun turun dari mobilnya yang langsung di perhatikan penuh lagi oleh para pekerja butique.


"OMG Mira, itu kan yang nganterin kamu tadi pagi kan ?". Tanya Imelda dengan mata berbinar cerah.


"Uwaaah Ney guanteng banget si. Jadi pengin ngarungin deh aahh". Ucap Oji heboh


"Samperin gih Ra. Sebelum tuh laki di terkam tante-tante girang. Tahu sendirikan pekerja cewe disini pada ijo semua kalau lihat cowok ganteng". Ucap Shila memberi saran.

__ADS_1


Pada saat Mira hendak menuju kearah Dareen. Tiba-tiba saja Dareen berjalan kearahnya dengan senyuman mautnya.


"Wiih Ney dia mendekat Ney !". Ucap Oji dengan kelimpungan hevoh membuat Shila langsung saja menggeplak kepala Oji dengan keras.


"Engga usah lenjeh jadi cowok". Ucap Shila pedas dan tajam. Membuat Oji langsung merengut kesal seraya mengusap kepalanya yang terasa panas.


"Hai..". Sapa Erlangga sopsn. Membuat keempat teman Mira langsung membalas hai dengan terpesona.


"Sudah mau pulang atau pada mau nongkrong dulu ?". Tanya Dareen kearah semuanya.


"Oo.. Kita-kita mah pulang heheehee". Ucap Imelda dengan tersenyum yang terlihat terpesona.


"Kenalin Dareen mrreka berempat ini adalah teman kerja aku semua". Ucap Mira memperkenalkan yang otomatis kesemuanya pun ikut berkenalan dengan bersalaman.


"Dareen". Ucap Dareen memperkenalkan diri.


"Imelda". Sapa imelda dengan tersenyum manis.


"Nurinda". Sapa Nuri dengan malu-malu.


"Oji bang, kalau siang kalau malam namaku jadi Mahreen". Ucap Oji dengan kemayunya. Membuat Dareen tersenyum lucu.


"Ashila". Ucap Shila dengan cuek. Membuat Dareen langsung menatap Shila tanpa henti.


"Emm kalau gitu aku duluan ya". Pamit Mira kepada keempat temanya.


"Hati-hati Ra". Ucap Keempatnya kompak.


Mira pun berjalan beriringan dengan Dareen menuju mobil pajero milik Dareen. Dan saat memasuki mobil. Mira pun sedikit terkejut saat di jok belakang banyak sekali barang.


"Kamu mau pindahan atau gimana Reen ?". Tanya Mira seraya melihat kearah jok belakang yangvotomatis membuat Dareen langsung tertawa.


"Tidak, itu semua hadiah dari paris untukmu, kedua kakakmu dan kedua keponakanmu yang yang lucu". Ucap Dareen memberi tahu.


"Sebanyak itu ?". Tanya Mira memastikan.


"Yap tentu". Balas Dareen santai. Membuat Mira langdung menggeleng maklum.


Mobil itu pun kemudian berjalan menembus jalanan kota yang terbilang cukup ramai karena bertepatan dengan para pekerja lainnya yang baru saja pulang.


Lepas pukul enam sore mereka pun sampai di rumah Royan dan keduanyacpun disambut hangat oleh Maya dan Lili. Berbeda denga Royan dan Ayub yang terlihat cuek dan enggan.


Dareen pun duduk di ruang tamu sedangkan bi Nah dan pak Tarno si tukang kebun sibuk menurunkan barang yang di bawa Dareen ke dalam.


"Waah kamu bawa apaan inih ko repot-repot segala sih Reen ?". Tanya Maya antusias dan sedikit berbasa-basi.


"Hanya opeh-oleh dari paris kak". Ucap Dareen sopan.


"Emmm....Daren, kak Maya dan semuanya. Aku mau ke kamar dulu ya mau bersih-bersih badan". Ucap Mira meminta izin.


"Ya udah gih bersih yang wangi yang cantik. Malu ada calon suami dateng ko kamu kucel gitu". Ucap Maya sedikit ketus. Membuat Dareen yang paham situasi pun mengernyit aneh.


"Kak Maya kenapa ya ?". Batin Dareen heran.


Selang tiga puluh menit. Mira pun sydah rapih dengan pakaian dres santainya yang berwarna navy juga rambut panjangnnya yang ia cepol. Mira pun lalu duduk di samping Dareen.


"Cantik sekali princessnya Dareen". Puji Dareen dengan berkedip genit. Membuat Mira langsung menyikut perut Dareen.


"Oh ya aku punya hadiah untuk kak Maya, dan untuk kak Royan". Ucap Dareen seraya menyerahkan dua kotak sedang kehadapan Royan dan Maya. Keduanya pun mengambilnya dan melihat isibkota itu dengan ekspresi masing-masing.


"Waaaww jam tangan keluaran terbaru itu Mas. Pasti cocok deh kalau kamu pakai". Ucsp Maya antusias saat melihat hadiah yang di betikan Dareen untuk sang suami.


"Ekhem terima kasih ya Dareen". Ucap Royan kalem.


Maya pun lalu membuka kotak miliknya dan terpampanglah kalung mutiara yang terkenal dari paris yang kebetulan sudah Maya idam-idamkan sejak lama. Dan Maya pun menerimanya dengan senang hati dan bahagia.


"Dan ini untu Ayub dan Lili". Ucap Dareen seraya menyerahkan masing-masing kotak ke hadapan kedua anak itu.


Lili pun membukanya dan merasa senang bukan kepalang saat melihat banyak sekali buku-buku mewarnai yang lucu dan bagus, serta tiga stek baju khaas anak-qnak paris. Sedangkan Ayub mendapat jam tangan warna hitam dan dron dari Dareen.


"Dan yang besar ini untuk mu Mira". Ucap Dareen seraya menunjukkan satu bingkai besar yang tertutupi kertas.


"Buka lah, kamu pasti suka". Ucap Dareen antusias.


Mira pun membukanya dan terpampanglah lukusan cantik seorang gadis yang tengah duduk sambil tersenyum yang sangat Mirip dengan Mira.


"Ini....Aku. Kau melukisku Dareen ?". Tanya Mira dengan senangnya. Dan Dareen pun hanya mengangguk santai.


"Ada sesuatu di dalam lukisan itu. Kau lihat lah lukisan itu di cahaya yang temaran. Pasti kau sangat menyukainya". Ucap Dareen memberi saran.


"Benaekah ?". Tanya Mira merasa,tak percaya dan Dareen pun mengangguk memastikan.


"Terimakadih Dareen". Ucap Mira dengan tersenyum tulus.


"Dan beberapa bungkus lainnya adalah jajanan ringan khas paris. Beberapa kacang almond pilihan, Coklat untuk little princess Lili, dan beberapa pasta juga kue-kue kering". Ucap Dareeen memberi tahu.


"Baik lah, karena sudah memasuki waktu makan malam. Mari semua kita makan malam bersama". Ajak Royan kepada semuanya yang hadir.


Mereka semua pun langsung berjalan keruang makan dan mulai lah mereka makan malam bersama dengan khidmat. Di selingi juga celotehan-celotehan Lili yang khas dan lucu. Makan malam itu pun berjalan dengan penuh kehangatan.


Tepat pukul sembilan malam. Dareen pun berpamitan untuk pulang. Mira pun langsung memasuki kanarnya seraya nembawa lukisan yang di berikan oleh Dareen setelah memastikan Dareen pulang.


Ia pun memasang lukisan itu di dinding kosong ysng menghadap kearah tempat tidurnya. Dan Mira pun mengikuti saran dari Dareen untuk melihat lukisan itu dengan cahaya temaran. Maka di matikan lah lampu kamarnya dan hanya menyisakan lampu yang terdapat di nakas. Dan betapa terkejutnya Mira saat mengetahui jika lukisan itu tidak hanya Mira seorang. Melainkan ada satu lukisan di sampingnya. Yaitu lukisan Yash yang tengah duduk sembari memeluknya dari samping di bawah pohon besar yang indah berwarna coklat kemerahan seperti pohon Mapel.


Mira pun sangat terharu melihatnya dan sangat berterima kasih kepada Dareen karena telah membuat lukisan yang begitu indah dan unik. Dan malam itu Mira pun tertidur dengan perasaan bahagia yang teramat sangat. Tanpa ia sadari ada notif pesan dari Daren yang mengatakan bahwa.


"Aku harap lukisan itu bisa membuat mu bahagia Mira. Entah siapapun dia. Aku yakin wajah seseorang yang kamu lukis beberapa waktu yang lalu adalah wajah seseorang yang ada di dalam hatimu.

__ADS_1


Good Night my princeess....".


__ADS_2