
Pagi harinya pukul 6 pagi. Mira pun terbangun dengan perasaan yang lebih ringan. Awalnya ia senpst bingung akan kamar yang berubah mewah namun saat diingat-ingat. Ia pun menjadi sesikit lega dan tenang. Setiddaknya ia berada bersama orang yang ia kenali.
Saat Mira mulai bangun dab mendudukan dirinya di atas tempat tidur berukuran besar. Netra matanya melihat seseorang tengah berdiri menghadap kearah jendela tengah melihat penandangan dengan serius.
Rambutnya yang vasah. Mungkin sehabis mandi atau terkena keringat. Namun indra penciuman Mira mencium bau wangi sabun yang berarona segar menambah semangat Mira untuk terus melihatnya. Pria itu juga bertelanjang dada. Menunjukan otot-otot punggung dan tangannya yang indah.
"Ehh tunggu. Dia tidak memakai baju. Ya tuhan". Batin Mira menjerit seraya menelusupkan kepapanya di bawah selimut.
"Siapa dia. Kenapa dia ada di kamar ini. Sedang apa dia disana". Lirih Mira di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala.
Seseorang yang berdiri itu pun tersenyum lucu. Ia sejujurnya tahu jika gadisnya sudah bangun dan melihatnya. Namun saat ia berbalik. Rupanya sang gadis menutupi seluruh tubuhnya hingga keatas kepaka.
Ia pun lalu berjalan mendekat dan mulai merangkak diatas gadis itu dengan perlahan. Sedangkan Mira yang tengah menerka itu pun dibuat panik saat ada pergerakan seseorang tang merangkak diatadnya. Dan Mira langsung memejamkan matanya kuat-kuat serata menegang dan memegang selimut dengan erat.
Dan sedetik kemudian si pria itu langsung menarik selimut yang menutupi Mira hingga ke batas dadanya. Mendapati Mira yang masih terpejam. Pria itu pun terkekeh diatas Mira. Ia pun langsung menjitak ringan kening Mira hingga kedua mata indah itu terbuka dengan lebar.
Tentu saja Mira sangat mengenali sentipan keras di keningnya itu. Dan benar saja, saat ia membuka mata jelas wajah Yash lah yang ada di hadapannya. Dengan netra hitam yang menghanyutkan, wajah segar yang menawan dan juga tubuh atletisnya yang rupawan.
"Tuan Yash" Ucap Mira dengan pipi yang merona.
"Ya Mira. Kau sudah bangun. Lalu kenapa kamu menyelimuti tubuhn mu hingga keatas kepalamu hmm ?". Tanya Yash dengan menggoda.
"Itu....Tuan". Ucap Mira ragu.
Yash pun langsung menatap Mira dengan fokus dan tajam. Menaikkan sebelah alisnya dengan sempurna dan lebih dekat kearah wajah Mira.
"Apa ?". Tanya Yash dengan suara khasnya yang sedikit membuat Mira meremang.
"Anda tidak memakai baju". Ucap Mira dengan menunduk. Namun niatnya menunduk untuk mengalihkan pandangannya justru malah matanya harus melihat perut Yash yang terdapat empat kotak tahu. Dan Mira pun langsung terpejam kembali.
"Aku takut khilaf". Batin Mira mencoba untuk terap sadar.
Yash pun sejujurnya tahu gerak gerik Mira yang berusaha untuk tidak memperdulikan tubuhnya. Namun entah mengapa, ekspresi Mira itu sungguh mengagumkan. Membuat Yash semakin ingin dan ingin terus menggodanya hingga sisi lain dari seorang Mira keluar dengan beraninya.
"Lalu, kau ingin aku bagaimana ?". Tanya Yash menggoda.
"Pakai bajumu". Ucap Mira sedikit meninggi karena terlalu gemas dengan seorang Yash.
Yash pun hanya terkekeh di tempat menanggapi ucapan Mira yang terlihat sedikit kesal. Ia lalu membaringkan tubuhnya di sisi kanan Mira dan memeluk Mira dengan erat. Sehingga indra penciuman Mira mencium lebih dekat wangi segar dari sabun yang Yash gunakan. Sedangkan Yash merasa damai saat memeluk Mira layaknya sebuah bantal guling. Ia merasa enggan untuk melepas Mira dan ingin terpejam kembali seraya memeluknya.
"Tuan". Ucap Mira di sela pelukannya. Yang membuat darah Yash semakin berdesir karena hembusan nafas Mira dan bibir Mira yang bergerak di dadanya.
"Hmm". Guman Yash yang berusaha untuk mengontrol perasaannya mati-matian.
Ini lah mengapa ayahnya mengultimatum dirinya untuk tidak berbuat jauh dengan Mira. Ayahnya ingin dirinya segera menjadikan Mira istri. Namun ayahnya lupa jika sangat sulit untuk bisa meluluhkan hatinya.
Dirinya tidak sepandai Mira yang dapat membuatnya tersentuh dan sedikit goyah akan cintanya denga adiknya sendiri yaitu Raina. Namun untuk cinta, Yash masih ragu. Ia juga belum bisa meyakinkan dirinya sendiri. Tetapi ia tidak ingin melepaskan Mira untuk orang lain. Justru ia sangat menginginkan Mira untuk berada disisinya. Seperti sekarang ini. Memeluknya dengan damai.
"Pagi ini saya ada kencan. Bisakah anda membiarkanku pergi ?". Tanya Mira dengan sedikit ragu.
Yash pun menghela dalam pelukannya dan lsngsung meregangkan pelukannya lalu menatap Mira dengan dalam dan intens. Dalam matanya ada sedikit rasa kecewa dan tidak rela. Ia ingin bersikap posesif, namun hubungannya dengan Mira pun entah seperti apa.
Ingin sejujurnya dengan sepenuh hati Yash mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Mira miliknya seutuhnya. Namun ia sendiri juga masih merasa ragu. Ia takut perasaannya itu hanya sesaat dan dirinya kembali mencintai Raina. Sungguh dia tidak sanggup jika harus membuat seorang Mira patah dan hancur karenanya.
"Bersiaplah. Aku yang akan mengantar rmu berkencan hari ini". Ucap Yash lembut.
"Bagaimana saya akan bersiap tuan. Jika anda masih memeluk ku dengan erat seperti ini". Eluh Mira dengan memberengut dan menatap Yash kesal.
Yash pun lalu tersenyum lucu dan malah tambah mengeratkan pelukkannya dan membuat Mira berteriak kesal lalu memukuli Yash dengan tangannya yang bebas. Sehingga Yash tertawa dengan lepas karena berhasil menjahili Mira.
Tepat pukul 7 Mira dan Yash pun sudah bersiap. Yash dengan pakaian santainya sedangkan Mira dengan pakaian olahraganya. Celana trening panjang berwarna hitam bergaris putih di pinggirannya dan kaos lengan panjang berkerah V-nek warna biru muda.
Yash yang melihat penampilan Mira pun serasa enggan untuk pergi mengantarkannya kencan dengan pria penyuka giym itu. Apa lagi saat melihat leher jenjang Mira yang terlihat jelas kemulusannya sebab Mira mengikat rambutnya. kali ini.
"Gadis ini. Boleh tidak aku kunci dan rantai. Agar tidak berkeluyuran dan bertemu siapapun selain aku". Batin Yash sedikit geram dan gemas.
"Ekhem Mira, aku rasa kau terlihat pucat. Bagaimana jika kau tunda saja kencanmu menjadi besok". Ucap Yash dengan serius.
"Emm...Tetapi saya tidak merasa tak enak badan tuan. Mungkin karena riasanku terlalu tebal". Ucap Mira jujur.
"Kau berias diri ?". Tanya Yash sedikit tak suka. Dan Mira pun membalas pertanyaan Yash dengan mengangguk seraya memakan roti isinya.
"Kenapa beriasa. Kau ini benar-benar !.". Ucap Yash sedikit meninggi dan membuat Mira langsing menatap bingung kepada Yash.
"Ahh sudah lah.Lupakan saja. Habiskan sarapanmu". Ucap Yash ketus dan terlihat menahan marah.
"Maaf.." Ucap Mira lirih. Yang merasa bingung dan entah memiliki salah apa.
"CK... Memangnya kamu salah apa ?". Tanya Yash yang masih dengan nada seru.
Mira pun terdiam menunduk dan entah harus berkata apa. Yash memang benar. Dirinya memang memiliki salah apa sampai harus meminta maaf. Dan lagi tuan muda itu juga kenapa menjadi ketus dan galak kepadanya. Sehingga membuatnya merasa bersalah tanpa adanya alasan aps pun.
Menyadari akan Mira yang melamun. Yash pun langsung menghela dan berdiri. Membuat Mira langsung mendongak bingung dan sedikit takut-takut.
"Ayo kita berangkat". Ucap Yash singkat dan langsung berjalan meninggalkan Mira yang masih terdiam bingung.
Mira pun akhirnya beranjak dan berjalan dengan sedikit pincang sebab luka melepuh pada kakinya belum mengering. Dan di luar pun sudah terparkir mobil sport warna hitam yang tengah di senderi oleh Yash.
"Kaki mu masih sakit ?". Tanya Yash sedikit jutek.
"sedikit tuan". Lirih Mira dengan rasa canggung.
"Masuk". Titah Yash seraya membukakan pintu mobil untuk Mira.
Mira pun masuk ke kursi yang berada di sebelah kursi kemudi. Sedangkan Yash memasuki kursi kemudi. Ya kali ini Yash lah yang mengendarai mobilnya sendiri untuk mengantarkan Mira berkencan dengan calon suami berikutnya itu.
Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Terjadi keheningan diantara mereka berdua. Mira yang tak tahu harus mencairkan suasana dengan cara apa. Sedangkan Yash masih merasa tidak rela.
Diantara keheningan mereka. Ponsel Mira berbunyi menandakan jika ada panggilan masuk. Mira pun mengeceknya dan sedikit mengerutkan kening saat melihat dilayar ponselnya tertera nomor baru yang tengah memanggilnya.
"Angkat saja". Ucap Yash singkat.
"Lospeeker". Ucap Yash lsgi saat Mira hendak menekan tombol hijau di layar ponselnya.
Mira pun sedikit bingung akan perkataanya dan lalu menuruti ucapan Yash untuk melospeekernya.
"Hallo Mira". Terdengar suara lelaki yang langsung bersuara setelah Mira mengangkatnya.
"Ys. Maaf siapa ya ?". Tanya Mira ingin tahu terlebih dahuku dengan siapa ia berbicara.
"Reino". Ucap Reino memberi tahu.
"Aaahh, Reino.". Ucap Mira dengan lembut.
Yash yang mendengatnya pun hanya melirik tajam kearah Mira. Yash merasa sangat kesal saat seseorang yang bernama Reino itu menelfon Mira. Di tambah bahasa bicaranya seperti seseorang yang tidak sabaran.
__ADS_1
"Ini sudah jam berapa Mira. kenapa belum sampai juga ?". Tanya Reino dengan sedikit khawatir.
"Maaf. Aku sedikit terlambat. Dan mungkin aku juga tidak bisa berolahraga denganmu Rei. Kakiku sedikit cidera". Ucap Mira memberi tahu.
"Ya sudah tak apa. Kau temui aku di tempat gyim saja. Di jalan senopati 5 yang bertuliska Osaka Gyim". Ucap Reino memerintah.
"Emm iya aku akan kesana". Ucap Mira sesikit gugup. Yash pun tak sengaja batuuk untuk melegakan tenggorokannya yang gatal. Dan suara batuk Yash pun di dengar oleh Reino.
"Mira... Kau sedang bersama siapa ?". Tanya Reino sedikit curiga.
"Emm...Dengan tuan Yash Rei". Ucap Mira jujur.
"Belum apa-apa kamu sudah bersama laki-laki lain Mira. Sunggu menarik sekali ya". Ucap Reino dengan nada dingin.
"Dia....Teman ku Rei. Dia juga yang akan mengantarku kesana". Ucap Mira mencoba menjelaskan..
"Jika butuh jemputan kau kan bisa bilang padaku Mira. Tak perlu lah meminta antar padanya. Aku tidak suka jika wanita yang hendak ku nikahi bersama pria lain. Turun saja nanti biar aku yang jemput. Posisimu di mana ?". Tanya Reino bertubi-tubi.
"Aku yang menawarkan diri bukan Mira yang meminta. Dan aku yang nemaksa". Ucap Yash membuka suara.
"Diam kau Aku tidak berbicara denganmu". Ucap Reino ketus. Membuat Yash langsung tersenyum miring.
"Mira. Turun kau dari mobil itu. Biar aku yang akan menjemput mu". Ucap Reino memerintah.
"Tetspi Reino..". Ucapan Mira pun terhenti saat Yash dengan tiba-tiba merebut ponsel Mira dan melemparkannya ke belakang mobil dan mendarat entah kemana.
Membuat Mira sedikit terkejut dan menatap Yash dengan mata yang melotot antara terkejut, kesal dan tak menyangka.
"Tuan...Kenapa anda.....". Ucap Mira terhenti saat Yash menengok kearahnya dengan tatapan tajam.
"Akan ku ganti. Aku hanya tidak suka dengannya. Terlalu memaksa dan over. Dan lagi panggil saja aku Yash atau Leon jika sedang berdua". Ucap Yash memerintah.
Mira pun sedikit terdiam saat Yash nemerintahkannya untuk memanggil Leon atau Yash. Dia sedikit ragu saat memikirkan nama Leon yang akan di swbut oleh mulutnya. Sebab sosok Yash akan menjadi sangat dingin dan menyeramkan saat nama itu keluar dari mukutnya atau mulut siapapun. Dan lagi Mira pun sempat berfikir. Jika Yash memiliki kepribadian ganda.
"Aku akan tetap memanggil anda dengan sebutan tuan muda Yash". Ucap Mira tetap kekeuh dan membuat Yash terseyum miring.
Ia pun lalu melajukan mobil sportnya dengan kecepatan penuh menembus jalan tol yang terbilang ramai lancar. Membuat Mira sedikit takut dan berpegangan erat pada tali pengaman pada jok mobil.
"Tuan...Ap apa tang anda lakukan". Ucap Mira dengan sedikit ketakuran saat melihat cara Yash menyalip dengan cepat hampir bersengholan.
"Melatih jantung". Ucap Yash singkat dan dingin.
"Melatih jantung gundulmu. Ini sih akan mematikan jantungku dengan tiba-tiba. Mungkin jantungku juga aka copot nantinya". Batin Mira sedikit kesal kepada tuan mudanya itu.
"Ya tuhaan....Ya tuhaan...Tuaaann !".
Teriak Mira saat mobil sport itu menyalip dua kontainer yang tengah melaju berjejeran dan hampir menjepit mobil Yash jika saja salah satu supir kontainer itu tidak melihat di kaca spionnya. Dan Yash pun hanya bisa tertawa mendengar teriakan Mira yang ketakutan itu. Rasanya sangat lucu sungguh.
Dan tidak ada pilihan lain. Mira benar-benar harus membuat Tuan muda itu lunak. Setidaknya waras setelah ini. Mira pun tanpa sengaja memegang paha Yash dan mencengkramnya. Yash yang merasakan itu langsung menoleh kearsh Mira yang tengah ketakutan melihat kearah depan.
"Kau ingin menggodaku Mira. Sungguh ?". Tanya Yash dengan tarapan mata nakalnya.
"Tidak tuan. Aku merasa takut. Tolong pelankan laju mobilnya". Ucap Mira dengan suara bergetar takut. Mira pun mematap kearah Yash dan sangat takut teramat sangat saat melihat Yash menoleh kearahnya tanpa melihat kearah depan.
"Tuan kau ingin mati atau bagaimana !". Teriak Mira dengan ketakutan. Dan Yash malah menaikan sebelah alisnya dengan santai.
"Lihat kearah depan tuan. Perhattikan jalananya !". Seru Mira dengan takut-takut. Namun Yash tetap mengabaikannya dan malah semakin mempercepat laju mobilnya tanpa melihat kedepan.
"Tuan ku mohon !". Ucap Mira berteriak.
"Yash ku mohon". Pinta Mira dengan lembut dan tatapan mata yang mengiba. Membuat Yash yang melihatnya pun langsung memejamkan mata dan mengambil nafas dan membuangnya perlahan.
Yash lalu membuka mata dan tatapan dinginnya pun berubah menjadi melembut. Ia pun lalu memperlambat sedikit laju mobilnya. Pada saat Yash hendak menengok kearah depan tiba-tiba saja dari arah samping Yash melihat sebuah mobil tengahh menodongkan pistol kearah Mira dan hendak menembaknya.
***DOORRR !
DORRR*** !
Yash yang melihatnya pun tak tinggal diam. Ia pun langsung membanting stirnya kearah samping. yang membuat mobilnya berbelok kearah semak-semak yang berada di pinggiran jalan tol.
Mobil itu pun melaju tak tentu arah dan berputar dengan cepat. Membuat Yash dengan sigap menahan laju stirnya juga menahan badan Mira dengan lengannya saat mobil itu menabrak pohon besar yang membuat laju mobil Yash yang tak terkendali itu berhenti.
BRAKKKK !
Suara benturan antara mobil Yash dan pohon besar itu pun berdentum dengan keras. Dan Yash pun langsung membuka pintu mobil yang ada di sebelah Mira.
"Mobil ini akan meledak Mira". Ucap Yash serius membuat Mira yang masih merasa berdengung pun di buat linglung dan hanya menatap bingung kearah Yash.
"Buka tali pengaman itu. Dalam hitungan ketiga kita keluar bersama. Tetapi kau harus menahan rasa sakit. Karena kemungkinan. Kita akan jatuh berguling kearah jurang". Ucap Yash memberi tahu.
Yash lalu dengan sigap memadukan dua buah pistol kecill kesaku jaketnya. Dan mulai melepas tali pengaman yang ada di jok kemudinya dan Mira.
"Sudah waktunya Mira. Kau siap ?". Tanya Yash serius. Dan Mira pun hanya mengangguk dengan paniknya.
"1 2 3 let's go". Ucap Yash dan langsung membawa tubuhnya dan tubuh Mira melompat kearah samping dan mereka pun berguling dengan saling berpelukan.
BOOOMMM !!!".
Mobil Yash pun meledak saat Mira dan Yash jatuh berguling kearah jurang. Dan tubuh Yash pun membentur pohon yang menganai bahu kirinya.
BRUUK.... !
"Arrrgghhh !". Teriak Yash sat bahunya membentur pohon dengan keras.
Sementara Mira yang menindih tubuh Yash sangat terkejut melihat Yash yang kesakitan akibat bahunya yang membentur pohon untuk melindungi dirinya.
"Tuaan hiks...Hikss". Ucap Mira menangis.
"Sttt jangan menangis. Apa kau baik-baik saja hmm ?". Tanya Yash lembut dan Mira pun hanya mengangguk dengan derai air mata.
"Syukur lah.... Aku berjanji kau akan baik-baik saja Mira". Ucap Yash lirih membuat Mira menggeleng dan langsung memeluk Yash.
"Anda terluka karena aku tuan. Karena ingin menggantikan posisiku. Aku mohon bertahan lah aku mohon". Ucap Mira memohon dalam pelukannya.
Yash pun balik memeluk tubuh Mira dengan menahan rasa sakit yang ada di bahunya. Sungguh kemungkinan bahunya mengalami cidera. Karena untuk menggerakan tangan kirinya pun rasanya sangat sakit dan ngilu. Namun harus ia tahan karena tidak ingin membuat Miranya merasa bersedih dan bersalah. Ia juga ingin meyakinkan Mira bahwa dirinya baik-baik saja.
"Mira kita harus pergi dari sini. Aku tidak ingin mereka menemukan kita. Biarkan saja mereka mengira kita terbakar di dalam". Ucap Yash drngan tenang.
"Mereka siapa tuan kenapa...". Ucap Mira terhenti saat tangan kanan Yash membekapnya dan memperlihatkan tanda peringatan untuk Mira tidak bersuara.
"Jangan bersuara Mira. Ada yang mendekat. Tutupi tubuh kita dengan dedaunan kering cepat". Ucap Yash memerintah dan Mura pun langsung beranjang merangkak menutupi seluruh tubuhnya dan tubuh Yash dengan dedaunan kering.
Dan benar saja. Ada beberapa orang yang tengah mencari keberadaan Mira dan Yash. Langkah mereka pun semakin dekat dengan keberadaan Mira dan Yash. Mereka pun tengah mencari-cari apakah kefua orang yang berada di dalam mobil itu benar-benar terbakar atau mungkinkah berhasil meloloskan diri.
"HEH. Mungkin mereka berdua sudah tewas terbakar. Jika pun lolos, lihat lah. Disana itu jurang yang amat dalam. Mereka pasti akan mati juga". Ucap salah satu orang itu.
__ADS_1
"Kau benar. Ayo saatnya kita melaporkan hasil kerja kita ke nyonya bos. Nyonya bos pasti akan senang mendengarnya". Ucap salah satunya lagi dengan nada puas dan senang. Dan mereka pun pergi dengan tertawa senang.
Yash dan Mira yang masih berada disana pun sedikit bernafas lega dan mulai mencoba untuk bangun dan terduduk.
"Tidak mungkin orang-orangku mengabaikan sinyal bahaya yang sudah ku kirim. Kalung yang kau kenakan pun tidak membuat orang-orang ku datang". Lirih Yash merasa curiga dan sedikit cemas.
"Lalu apa yang harus kita lakukan tuan ?". Tanya Mira takut dan cemas..
"Yang jelas kita harus pergi dari sini. Jio pasti sudah tahu jika ada yang janggal dengan ku dan kau. Dia pasti akan mencari cara". Ucap Yash dengan serius.
"Lalu kita akan kemana ?". Tanya Mira bingung.
"Ayo ikuti aku Mira". Ucap Yash yang sudah mulai berdiri dan berjalan menyusuri jalan terjal dengan hati-hati dan sedikir mengendap.
"Kenapa kita harus seperti ini tuan ?". Bisik Mira merasa lelah dan tak mengerti.
"Karena aku tak yakin. Kita akan baik-baik saja jika berada di atas". Ucap Yash memberi tahu.
Lama mereka berjalan akhirnya mereka pun sampai di sebuah tanah lapang yang begitu luas. Mereka pun berjalan kearah lapang itu dan menelusurinya hingga saat mereka berbalik. Di depan mereka sudah ada sekelompok gengster yang menghadang dengan berbagai macam senjata.
"Sial". Ucap Yash dengan penuh amarah.
"Tuan". Lirih Mira takut-takut.
"Tenanglah". Ucap Yash dengan dingin.
"Apa urusan kalian dengan ku !". Seru Yash mencoba untuk mengulur waktu dengan permainan katanya.
"Untuk melenyapkan mu tuan Yash yang terhormat. Heh bahkan tanpa orang-orangmu. Kau hanyalah cecurut yang lemah dan menjijikan". Ucap salah satu orang itu yang diperkirakan adalah ketua dari orang-orang yang menghadang Yash.
"Atas perintah siapa kau ?!". Tanya Yash penasaran.
"Nyonya bos". Ucap ke sepuluh orang itu dengan kompak.
"Lagi-lagi nyonya bos yang mereka ucapkan. Sial aku tidak bisa terima ini". Batin Yash kesal dan marah.
"Tangkap mereka dan bawa kehadapan nyonya bos dalam keadaan sekarat. Ayoo". Titah sang ketua dan di turuti oleh ke tujuh orang yang yang langsung maju melawan.
"Tuan bagaimana ini ?". Lirih Mira dengan panik.
"Panggil aku Leon Mira". Ucap Yash dengan tatapan kosongnya.
"Apa ?". Tanya Mira tak mengerti.
"Teriakan nama Leon dengan keras Mura ayo". Ucap Yash lagi. Namun Mira tetap tidak mengerti. Hingga akhirnya salah satu pria berbadan besar itu menerjang Yash dan lalu membuat Yash tersungkur dab terkapar.
BUGHH
"TUAAN !!!". Teriak Mira histeris.
Kedua tangan Mira pun telah di cekal oleh dua orang jahat itu. Membuat Mira meronta-ronta memanggil nama Yash.
Kedua orang itu pun menghajar tubuh Yash dengan keras sehingga sudut bibir dan hidung Yash mengeluarkan darah.
Mira yang nelihatnya pun semakin histeris dan meronta sehingga membuat salah satu yang mencekal tangan Mira merasa geram dan nenampar pipi Mira dengan keras. Sehingga membuat tubuh Mira terhuyung kesamping dan terjatuh tepat tak jauh dari keberadaan Yash.
Yash yang melihatnya pun langsung memandang Mira dengan penuh amarah di matanya. Yash merasa tak terima jika Miranya tersakiti. Dan mencoba untuk membuat Mira memanggil namanya dengan terys menatao Mira yang tengah menangus dengan bergetar.
"Hiksss hiksss tuan". Ucap Mira dengan sesenggukan.
"Dasar,wanita lemah. Kau ingin memberontak untuk apa huh. Untuk menolongnya, atau apa huh. Coba kata dengan jelas". Ucap salah satu orang yang menampar Mira dengan menjepit kedua pipi Mira menggunakan tangan kanannta.
"Hmmm hikss hikss". Eluh Mira yang merasa sakit pada kedua pipinya yang tengah di jepit itu.
Merasa percumah, akhirnya orang itu pun menghempas tubuh Mira hingga telungkup ke arah tanah bebatuan. Membuat pelipisnya membentur batu dan berdarah.
"MIRAAAGGGHHH....!". Teriak Yash penuh emosi dan langsung merangkak kearahnya.
"Mira....Mira....". Ucap Yash panik saat tubuhnya merangkak kearah Mira yang tergeletak.
Yash pun langsung duduk dan metengkuh tubuh Mira dan menepuk pipi kiri Mira dengan kembut seraya mmenyebut nama Mira berkali-kali.
"Mira...Bangun. Buka matamu Mira. Jangan berani-beraninya kau pergi dari ku". Ucap Yash dengan serius dan penuh amarah.
"Tu....Tuaan. Le...onhhh". LIrih Mira yang madih bisa didengar oleh Yash.
Dan seketika aura Yash berbeda. Matanya menajam, garis wajahnya tegas dan lurus, parasnya pun dingin. Membuat ke tujuh pria yang tengah tertawa puas itu pun menjadi terdiam.
"Beraninya kalian membuat ku marah. Menyentuh milikku dan menyakitinya". Ucap Yash dingin dan menusuk.
Ketujuh pria itu pun sedikit tak asing akan aura,yang dipancarkan oleh Yash itu. Wajah dingin Yash pun terasa mirip dengan master Leon. Si ketua dari ranah dunia gelap yang sangat di takuti itu.
Yash pun langsung maju dan memulai berkelahi dengan ketujuh orang itu. Dan dalam beberapa menit ketujuh orang itu pun tumbang. menyisakan sang ketua dengan dua orang bawagannya.
"Kau...Aku hafal betul dirimu. Gautama Haedar. Pemimpin gengster dari Black Lion. Hari ini aku menandaimu di daftar merah ku". Ucap Yash yang jika sudah menjadi Leon sangat mudah baginya untuk mengingat latar belakang dari musuhnya itu.
"Kauu....Tuan muda Leon. Master Leon ?". Tanya Gautam terkejut.
"Ya". Ucap Yash singkat.
"Heh tidak mungik. Jangan mencoba-coba untuk menipuku". Ucap Gautam tak percaya dan malah mengacungkan pistolnya kearah Yash.
"Hanya anak kecil yang menggunakan swnjata untuk berduel. Kau oemenang sabuk hitam dari perguruan Elang bukan. Lawan aku dengan tangan kosong mu itu ". Ucap Yash menantang
"Anda jual saya beli". Ucap Gautam tak kalah dingin. Membuat Yash langsung tersenyum miring.
Keduanya pun lalu adu perkelahian. Dan disini Gautam merasa sedikit kualahan menghadapi serangan Yash yang terlihat tenang namun cepat dan sangat terasa menyakitkan itu. Gautam pun sedikit yakin jika dia memang si master itu.
Dan dalam sekejap Yash pun dapat mematahkan kaki Gautam dan kedua tangannya dengan mudah dan tak terbaca. Membuat Gautam berteriak keras dan hampir pingsan.
Kedua orang Gautam yang tengah menyaksikan pun merasa ketakuran dan perlahan berjalan mundur mencoba untuk kabur. Namun sayang Yadh telah menembak kedua kaki orang itu dan akhirnya mereka pun tumbang tak bisa menggunaksn kedua kakinya untuk kabur.
Dan tak lama suara helikopter pun mulai terdengar. Dan muncul lah Jio dan Roni yang membawa masing-masing helikopter tengah menemukan keberadaaan Yash dan Mira setelah Mereka mengecek langsung kesumber kecelakaan.
"Aaaa...Ampun tuan. Maaf kan saya. Saya hanya di suruh oleh nyonya bos untuk melenyapkan anda bersama nona itu". Ucap Gautam mengiba setelah menyaksikan sendiri bahwa Jio orang kepercayaanya datang bersama salah satu temannya yang masing-masing membawa helikopter sendiri.
Setelah sampai divdarat Jiobdan Roni pun langsung menghampiri Yash dan nenunduk hormat.
"maafkan atas jeterlambatan saya tuan". Ucap Jii hormat.
"Bawa orang-rang ini Jio. Tempatkan mereka di gudang rahasia kita. Cari tahu siapa itu nyonya bos. Karena dia lah otak di balik kerusuhan yang aku alami". Ucap Yash memerintah.
"Baik tuan. Akan saya laksanakan". Ucap Jio sopan.
Yash pun lalu berbalik menghampiri tubuh Mira yang pingsan dan menggendongnya. Membawanya kearah helikopter yang di tumpangi Roni dan memerintahkan Roni untuk segera terbang ke rumah sakit tempat dimana dokter Jordan berada.
__ADS_1
Sedangkan Jio sibuk mengurus dan membawa kesepuluh orang itu menggunakan mobil gunung dan menempatkan atau mengurung kesepuluh orang itu untuk diintrogasi oleh Yash selanjutnya.