Luluh

Luluh
Episode 54


__ADS_3

Pagi harinya Mira pun tersadar dari pingsannya. Bau obat-obatan serta ruangan yang mendominasi berwarna putih itu sukses membuat Mira langsung terduduk di tempat.


"Ahhh aww". Rintih Mira seraya memegangi pelipisnya yang terdapat perban kecil.


Mendengar rintihan Mira. Roni pun langsung terjaga dengan sempurna dari tidurnya dan berjalan mendekat kearahnya.


"Nona, anda sudah sadar ?". Tanya Roni seraya memegang pundak Mira.


"Ahhh siapa kau ?" Tanya Mira yang langsung menepis tangan Roni dengan panik.


Roni pun sedikit terkejut atas perlakuan Mira yang seolah ingin melindungi dirinya. Namun Roni pun memakluminya saat melihat pada kedua mata Mira yang terlihat takut itu.


"Tenang lah nona. Saya Roni, salah satu asistennya tuan Yash ingat ?". Tanya Roni untuk memastikan.


"Ro...Roni ?". Tanya Mira balik dan seperti mengingat-ingat.


"Ya, yang tempo lalu datang bersama tuan Yash di kencan pertama anda dengan tuan Satya Adiguna. Ingat ?". Tanya Roni lagi.


"Aaah, ya aku ingat". Ucap Mira yang langsung merubah rasa takutnya menjadi lebih tenang dan relax.


"Lalu dimana tuan Yash. Apa dia baik-baik saja ?". Tanya Mira sedikit khawatir.


"Ahh, tuan muda Yash ya..". Ucap Roni lalu mendudukkan dirinya pada kursi yang berada di dekat ranjang pasien .


"Dia berada di ruangan lain. Kondisinya sedikit menghawatirkan. Tangan kirinya tidak diperbolehkan untuk bergerak dulu selama tiga bulan dan tulang bahunya sedikit retak". Ucap Roni memberi tahu.


"Ya tuhan...". Ucap Mira dengan raut syoknnya.


Seketika itu pun hati Mira merasa sangat bersalah. Karena Yash bisa seperti itu karena dirinya. Karena menolongnya dan mengorbankan tubuhnya untuk membentur pohon besar itu.


"Seharusnya aku yang berada disana, bukan dia". Lirih Mira dengan sedih.


"Tuan Yash sangat melindungi anda nona. Saya rasa tuan mencintai anda". Ucap Roni dengan seriusnya. Membuat Mira langsung terbengong di tempat.


"Tidak mungkin, tuan sangat mencintai adiknya. Dan meskipun itu benar, aku....". Ucap Mira menggantung karena,entah mengapa lidahnya sangat kelu dan hatinya,terasa,sakit.


Roni pun sedikit mengernyit bingung akan perkataan Mira yang menggantung itu. Ia merasa seolah Mira tengah berusaha untuk tidak memperdulikan perasaan tuan mudanya itu. Dan Roni pun paham semua itu terjadi karena seseorang.


"Aku tidak bisa bersamanya. Aku memiliki janji kepada seseorang. Dan.....Aku juga tengah menjalani sebuah perjodohan". Ucap Mira sedikit gamblang.


"Itu terserah kau. Yang menjalani juga kau kan nona. Aku hanya menyampaikan pemikiranku. Karena tuanku Yash tidak pernah seperti ini sebelumnya terhadap wanita mana pun. Terlebih saat ia menjadi tuan Leon". Ucap Roni kalem.


"Leon, apa tuan Yash memiliki kepribadian ganda ?". Tanya Mira sedikit penasaran. Roni pun tersenyum misterius.


"Anda cari tahu saja sendiri". Ucap Roni santai dan langsung berjalan nenuju pintu keluar.


"Ahh ya, ini sudah saatnya untuk sarapan dan minum obat. Setelah itu suster akan membantu anda untuk membersihkan diri dan setelahnya ada dokter yang memeriksa. Tunggu lah, aku mau pergi sarapan dulu". Ucap Roni panjang lebar dan lalu berlalu pergi meninggalkan Mira yang terdiam di tempat.


Di tempat lain tepatanya di ruangan Yash ia pun tengah duduk distas ranjang pasien dengan tangan kiri yang di gendong depan.


"Anda yakin dengan mimpi anda tuan ?". Tanya Jio merasa ragu.


"Sangat yakin Jio. Aku juga akan memberi tahukan mimpiku ini kepada ayah. Dan akan meminta saran darinya. Untuk ku membuktikan bahwa mimpiku itu benar. Wanita rubah itu harus ku beri pelajaran jika mimpiku itu benar". Ucap Yash begitu yakin.


"Itu artinya anda harus menjadi tuan muda Leon. Karena saat anda menjadi tuan Leon lah semuanya akan berjalan lancar". Ucap Jio menebak.


Yash pun hanya tersenyum misterius di tempat. Dan Jio pun tahu pasti dalam otak cerdas seorang Yash tengah tersusun sebuah rencana apik untuk membuktikan dan mengungkap jati diri dari seorang Yasmine Reigatha istri ketiga dari tuan Jonathan sekaligus ibu sambung kedua bagi Yash.


TOK....TOK....TOK.


Terdengar sebuah ketukan yang diketuk dari luar. Membuat Jio dan Yash pun mengernyit secara bersamaan. Sebab orang mana yang berkunjung sepagi ini. Sedangkan sarapan pagi plus pemberian obat serta pemeriksaan tuan muda Yash sudah di lakukan di pukul enam pagi tadi.


Dengan langkah hati-hati Jio pun berjalan mendekati pintu dan mulai bersiap memegang senjata. Begitupun dengan Yash yang terduduk dengan awas seraya memandangi pintu.


Dan dengan segera Jio pun membuka pintu seraya menodongkan pistolnya kearah seseorang yang berada di luar pintu. Pada saat Jio menodongkan pistolnya tepat di kepala Mira yang langsung membuat Mira melotot kaget dan gemetaran.


Jio yang menyadarinya pun langsung menurunkan pistolnya dengan segera dan menunduk hormat kearah Mira.


"Nona Mira, maafkan saya". Ucap Jio dengan segera.


"Ada apa denganmu tuan Ji. Kenapa anda menodongkan pistolvanda kepada nona Mira. Dia hanya ingin bertemu dengan tuan Yash". Ucap Roni yang merasa heran akan tingkah Jio yang seolah waspada.


Mendengar nama Mira di sebut oleh Jio. Yash pun langsung menurunkan dirinya dari atas ranjang pasien dan berjalan perlahan.


"Biarkan dia masuk Jio". Ucap Yash sedikit lemas karena memaksakan tubuhnya untuk berjalan.


Jio yang melihatnya pun langsung berlari dengan hawatir kearah Yash. Sedangkan Mira dan Roni pun ikut masuk dan berjalan cepat kearah Yash.


"Tuan, kondisi anda belum pulih betul". Ucap Jio memperingati.


"Tuan Yash". Panggil Mira saat sudah berada di hadapan Yash.


Yash yang melihat Mira berada di hadapannya pun sedikit mematung. Ia tak menyangka bahwa Miranya begitu nyata. Dia masih berada di hadapannya dengan raga yang utuh. Kedua ibunya tidak benar-benar membawanya pergi. Dan saat itu pula Yash langsung memeluk Mira dengan tangan kanannya yang ia eratkan di pinggang belakang Mira dan menaruh kepalanya di bahu kanan Mira dengan terpejam dan mengucapkan syukur beribu-ribu kali.


"Mira, tak akan aku biarkan sesuatu terjadi kepadamu. Tidak akan aku biarkan mimpi itu menjadi nyata. Dan tak kan aku izinkan kau pergi dariku, dari hidupku dan juga dunia ini". Batin Yash dengan keyakinannya yang penuh.


"Ya tuhan, hatiku bergetar saat tuan Yash memeluku. Aku merasakan kehangatan seorang ayah, seorang kakak juga seseorang yang spesial dalam hidupku. Tuan Yash itu satu, tetapi mengapa aku merasakan sosok ayah dan kakak di diri tuan Yash. Inikah jawaban dari doa dan harapanku. Lalu, bagaimana dengan janjiku". Batin Mira merasa begitu bimbang.


Roni dan Jio yang melihatnya pun sedikit terswntuh. Mereka tahu dan percaya jika keduanya itu saling mencintai. Hanya saja keduanya masih merasa ragu. Satu ragu karena hatinya masih bimbang dan yang satu lagi ragu karena ketidak percayaaanya akan perasaan tuan Yash. Di tambah sebuah janji dan komitmen yang akan Mira jalani. Sungguh kisah cinta yang rumit.


"Tuan Yash !". Seru Roni dan Jio secara bersamaan.


Tak kuat menahan tubuhnya yang terasa gemetaran den lemas, Yash pun akhirnya terjatuh bersamaan dengan Mira,yang tak mampu menahan bobot tubuh Yash. Mereka pun terjatuh dengan pisisi terduduk.


"Tuan nona, anda berdua tidak apa-apa ?". Tanya Jio dengan nada khawatir.


"Aku tak apa Jio, tolong bawa tuan Yash untuk berbaring di atas ranjang pasien. Tubuhnya berkeringat dingin". Ucap Mira yang merasa khawatir.


"Baik nona. Mari tuan". Ucap Jio dan di bantu dengan Roni.


"Mirahhh....Kau tetap disini kan". Ucap Yash dengan nada lemah.


"Iya, aku akan disini. Istirahatlah tuan". Ucap Mira mencoba untuk menenangkan Yaah.


"Kemari lah". Ucap Yash masih dengan nada lemas.


Mira pun berjalan mendekat dan berdiri di sisi kanan Yash. Yash pun lalu mengulurkan tangannya kearah Mira. Dan Mira pun menyambut dengan menggenggam lembut tangan Yash.


"Jangan kemana-mana sampai pengaruh obat sialan ini berhenti bekerja. Aku ingin berbicara banyak dengan mu". Ucap Yash meminta dan di balasi anggukan oleh Mira. Lalu Yash pun tertidur karena pengaruh obat yang di minumkannya itu.


Setelah Yash tertidur. Terjadi lah keheningan antara Mira, Roni dan Jio. Mengerti akan situasi yang canggung. Roni pun melirik kearah Jio yang kebetulan juga tengah melirik kearahnya. Dengan melalui kode lewat mata diantara keduannya. Roni dan Jio pun sepakat untuk memberi ruang kepada Mira dan Yash.


"Ekhem. Nona Mira, saya dan Jio hendak keluar sebentar. Apa nona tidak keberatan ?". Ucap Roni meminta izin.


Mira pun terdiam sesaat dan melihat kearah Jio dan Roni dengan tatapan polos. Membuat Jio dan Roni menerka-nerka jawaban apa yang keluar dari mulut nona yang tengah di cintai oleh tuan mudanya itu.


"Tidak apa, biar nanti saya yang menemani tuan muda Yash disini". Ucap Mira dengan nada lembut. Jio dan Roni pun merasa lega mendengarnya dan mereka pun pamit keluar ruangan.


Kini tinggallah Mira dan Yash di ruangan itu. Mira pun sedikit termenung melihat tangan kanan Yash yang begitu erat menggenggam tangan kiri Mira. Mata Mira pun sedikit naik mengamati wajah lelap Yash yang terlihat pucat. Dan seketika perasaan bersalahnya itu pun muncul.


"Lucu ya tuan. Kita tidak saling mengenal awalnya. Lalu tuhan mempertemukan ku dengan Raina dan sekarang kita berakhir disini". Lirih Mira yang mulai mengungkapkan isi pikirannya.


"Anda terlalu tinggi untuk ku gapai. Kita pasti sulit untuk bersama. Jika pun bersama pasti akan ada banyak orang yang tidak menginginkannya. Dan akhirnya salah satu dari kita akan terluka". Ucap Mira dengan air mata yang berkaca-kaca.


"Dan aku....Tidak ingin tuan terluka. Apa lagi karena aku. Harusnya aku yang mendapatkan semua yang tuan rasakan. Lihat tangan ini, sampai harus di perban dan di gendong seperti ini". Ucap Mira yang tanpa sadar meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Maafkan aku tuan, harusnya anda tidak melindungiku". Ucap Mira yang langsung menangis seraya menumpukan keningnya pada punggung tangan kanan Yash.


Yash pun sejujurnya mendengar semua perkataan Mira karena pada saat Mira mengutarakan semua pikirannya dan rasa bersalahnya. Yash sudah terbangun namun berpura-pura tidur. Ia pun merasa gemas akan perkataan Mira. Sebab ia yang ingin melindungi Mira. Hati dan tubuhnya selalu tergerak dengan sendirinya saat melihat Mira. Rasa ingin melindunginya pun begitu kuat.


"Bodoh". Ucap Yash dengan suara lemahnya. Membuat Mira yang tengah menangis pun menghentikan isakannya dan mendongak melihat kearah Yash.


Yash pun langsung mengulurkan tangan kanannya dan menghapus butiran bening yang membasahi pipinya dengan lembut.


"Apa ini, kau menangis hmmm ?". Ucap Yash dengan suara lemasnya. Mira pun hanya diam menunduk karena merasa malu sebab ketahuan tengah menangis.


"Hhhh.... Bisa kau bantu aku untuk duduk Mira. Aku ingin duduk". Ucap Yash meminta bantuan.


Mira pun langsung membersihkan sisa air matanya dan mengangguk. Ia pun lalu membantu Yash untuk bisa duduk bersandar dan mengatur posisi ranjang pasien agar terasa nyaman untuk Yash.


"Ekhem.... Aku merasa haus sekali". Ucap Yash yang seperti ingin minum. Mira pun lalu mengambil botol air mineral yang tersedia di meja nakas pasien dan memberikannya kepada Yash. Tepatnya membantunya untuk minum.


"Hhhhh....Terima kasih ya". Ucap Yash masih dengan suara lemasnya. Dan Mira pun lagi-lagi hanya menngangguk saja dengan raut bersalah.


"Duduk lah disini". Titah Yash seraya menepuk samping ranjang pasien yang terlihat kosong. Mira pun sedikit ragu dan terdiam di tempat.


"Aku ingin berbicara lebih dekat denganmu". Ucap Yash to the poin. Merasa tak tega, Mira pun dengan perlahan mendudukan dirinya di samping Yash. Yang artinya mereka saling duduk bersebelahan di satu ranjang yang sama.


Yash pun tersenyum lemah dan langsung menggenggam tangan kiri Mira lalu menyandarkan kepalanya di bahu Mira dengan nyamannya. Dan hal itu pun sukses membuat Mira sedikit terkejut.


"Kau bicara apa Mira. Kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri atas semua yang terjadi padaku". Ucap Yash mulai berbicara dan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Mira.


"Kau berarti di hidupku Mira. Harus berapa kali aku mengatakannya kepada mu hmm". Ucap Yash sedikit geram akan Mira yang selalu saja menampik perasaannya itu.


"Tuan, aku...". Ucap Mira terhenti saat jari telunjuj kanan Yash berada tepat di bibirnya.


"Jangan bicara,apa pun lagi Mira. Aku tidak ingin mendengarmu menampik perasaan mu itu. Dengarkan aku". Ucap Yash yang langsung membingkai pipi kanan Mira dengan tangan kanannya dan menatap Mira dengan dalam.


"Biarkan aku mendekatimu, biarkan aku membuktikan perasaanku kepadamu, dan jangan berusaha untuk menjauh dariku. Lupakan janji itu. Biarkan aku yang berjuang untuk meluluhkan mu. Karena jujur, kamu telah meluluhkan hati dan perasaanku Mira. Kamu telah membuatku tersadar akan perasaanku sesungguhnya". Ucap Yash begitu dalam.


"Lalu, kenapa anda tidak pernah lagi menemui nona Raina. Kenapa anda mendiamkannya. ?". Tanya Mira ingin tahu sekaligus memastikan. Memmbuat Yash terdiam sesaat.


"Dari mana kamu tahu ?". Tanya Yash penasaran.


"Sebelum aku kemari, Roni memberikan ponselnya atas perintah noba Raina. Dan nona Raina menceritakan semuanya kepadaku. Apa itu karena anda masih nerasa sangat marah dan cemburu. Atau sakit hati. Apa tuan hmmpphh...".


Ucapan Mira terhenti karena dengan tiba-tiba saja Yash langsung menarik tengkuk Mira dan menciumnya dengan dalam. Membuat Mira langsung melotot tak percaya. Selang lima menit Yash pun menyudahi ciumannya. Namun tidak dengan Mira yang masih terpaku dengan menahan nafas.


"Bernafaslah Mira. Kau bisa mati jika tidak bernafas seperti ini". Ucap Yash dengan tersenyum lucu. Dan Mira pun mulai tersadar dan langsung bernafas.


"Tuan, kenapa anda menciumku. Sudah beberapa kali anda seperti ini kepada ku". Ucap Mira dengan muka yang memerah antara kesal, terkejut, malu dan senang yang menjadi satu.


"Cantik". Ucap Yash dengan tersenyum penuh makna.


"Apa ?". Tanya Mira yang tak mengerti.


"Lupakan saja. Hhhhh.... Aku bukannya tidak ingin menemui Raina atau marah, atau cemburu atau apapun itu Mira. Aku hanya belum sempat menemuinya karena sibuk mencari cara untuk bisa bersamamu. Toh ada Vikram yang selalu menemaninnya dan menjaganya". Ucap Yash jujur dan tersenyum lembut kearah Mira. Mira yang mendengarnya pun langsung bersemu merah.


"Ekhem....pipi mu kenapa Mira. Merah merona sekali". Ucap Yash yang terlihat menggoda Mira.


"Tidak tuan...". Ucap Mira dengan mengalihkan pandangannya ke luar jendela guna menghindari tatapan menggoda dari Yash.


Yash pun tak tinggal diam. Ia pun langsung mengapit kedua pipi Mira dan memaksanya untuk menatap kearahnya membuat Mira langsung merajuk dan memukul tangan Yash dengan kesal. Sementara Yash justru tertawa dengan puasnya seakan beban di pundaknya seketika hilang.


Mira yang melihat Yash tertawa keras tanpa beban pun tertegun. Sebab terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari sebelumnya.


TOK TOK TOK....


Terdengar bunyi ketukan dari luar yang membuat Yash dan Mira saling pandang. Saat Mira hendak turun dari ranjang pasien Yash. Tiba-tiba saja Yash menahan pinggang Mira dengan melingkarkan tangan kanannya di area pinggang dan nenahannya. Membuat Mira langsung memandang Yash dengan tatapan memohon. Namun tidak di hiraukan oleh Yash.


"Masuk !". Ucap Yash dengan nada tegas.


"Tuan Roni, ada apa. Kenapa anda seperti itu ?". Tanya Mira yang heran akan tingkah Roni.


"Panggil saja dia Roni. Jangan pakai embel-embel tuan. Karena dia berkerja untuk ku". Ucap Yash tegas dan sedikit mengeratkan rangkulannya di pinggang Mira.


"Masuk lah". Titah Yash kepada Roni.


Dengan perlahan dan raut yang begitu melas. Roni pun berjalan memasuki ruangan. Sungguh bagi seorang Roni. Memasuki ruangan seorang Yash yang tengah berbahagia dan mengganggu waktunya adalah hal yang menyeramkan sepanjang hidupnya. Karena tatapan Yash sungguh sangat mematikan.


"Maaf mengganggu tuan. Saya hanya ingin mengingatkan jika sudah waktunya tuan dan nona untuk makan siang dan meminum obat". Ucap Roni memberi tahu.


"Dan untuk nona Mira, setelah makan siang nanti anda akan di periksa keadaanya oleh dokter Jordan. Dan dokter Jordan juga ingin mempertanyakan sesuatu tentang lambung anda". Ucsp Roni lagi.


Yash yang mendengarnya pun mengernyit dan menatap kearah Mira yang meunduk. Dalam hati Mira pun sedikit merutuki ucap Roni yang terakhir tentang lambungnya itu.


"Ada apa dengan lambungmu ?". Tanya Yash to the poin.


"Emhh...Itu aku...". Ucap Mira sedikit gelagapan.


"Bawakan saja makan siang Mira beserta obatnya keruangan ini. Aku akan makan siang bersama dengannya di sini. Dan panggilkan dokter Jordan kemari. Periksakan Mira di ruangan ini. Aku ingin tahu lebih jelas". Ucap Yash yang langsung diangguki Roni.


"Emm...Tidak tuan. Biarkan aku kembali keruangan pasienku saja". Ucap Mira menolak dengan panik.


Yash pun langsung menatap Mira dengan tatapan memperingati yang membuat Mira langsung menelan ludahnya dengan susah payah.


"Tetap disini atau aku akan menghukummu". Ucap Yash dingin dan tajam.


"Hu...Hukum ?". Ucap Mira dengan tergagap.


Yash pun langsung memandang Roni dengan tajam dan langsung memberi kode untuk Roni agar segera melaksanakan perintahnya.


Sedangkan Roni pun langsung menunduk hormat dan bergegas pergi. Namun sebelum pergi tatapan Roni langsung mengarah ke Mira dengan tatapan swperti meminta maaf. Dan Mira pun hanya bisa merengut kearah Roni.


Saat Roni sudah berada di luar Yash pun langsung menarik dagu Mira dengan lembut untuk menatap kearahnya. Tepatnya kearah mata kelam milik Yash.


"Ada yang kau sembunyikan dari ku. Mira ?". Tanya Yash dingin dan serius. Membuat Mira terdiam dengan tatapan bersalahnya. Seperti maling yang ketahuan mencuri.


"Katakan. Aku ingin mendengar langsung dari mulut mu". Ucap Yash dengan tanpa bantahan.


"La...Lambungku membengkak tuan. Aku sebenarnya tidak mengerti mengapa lambungku bisa membengkah. Padahal setahuku makan ku sudah teratur juga aku pun jarang makan makanan pedas. Hanya saja terkadang terasa nyeri di perut". Ucap Mira mulai bercerita.


"Sejak kapan ?". Tanya Yash dengan tatapan seriusnya.


"Emmm satu bulan yang laalu tuan. Aku sempat keapotik dan meminta obat untuk lambung. Dan aku rutin meminumnya". Ucap Mira memberi tahu.


"Kau hapal nama obat itu ?". Tanya Yash lagi. Dan Mira pun hanya mengangguk saja.


"Bagus. Beri tahu doktee Jordan tentang obat itu. Aku rasa obat yang kamu minum itu sangat mencurigakan". Ucap Yash yang merasa yakin dengan instingnya itu. Dan Mira pun lagi-lagi hanya mengangguk saja.


Tak berapa lama makan siang untuk Yash dan Mira pun datang diantar oleh suster. Saat Mira menerima mangkuk makan siangnya yang teeisi hanya bubur cair juga sup kuning tanpa isian apa pun. Sementara milik Yash lebih baik dari makan siang milik Mira. Yang terdapat sup bihun lengkap dengan isian ayam suir juga nasi lembek buah yang sudah di potong-potong dadu dan puding.


"Kau tidak salah memberikan makan siang seperti ini untuknya suster ?". Tanya Yash dengan tatapan tajamnya seraya mengacungkan mangkuk yang berisi bubur cair kearah sang suster.


"Ma...Maaf tuan, itu rekomendasi dari doktee Jordan tuan. Lambung nona Mira harus diistirahatkan dulu dengan makanan seperti ini tuan. Sampai dokter Jordan tahu penyebabnya dan baru lah ia nanti yang akan merekomendasikan makana dan minuman apa yang di perbolehkan untuk nona Mira makan tuan". Jelas sang suster dengan takut-takut.


"Buah pun tidak boleh ia makan ?". Tanya Yash lagi.


"Tidak tuan". Ucap sang suster menjawab. Membuat Yash langsung menghela dan menatap Mira dengan frustasi.


Mira pun langsung menggenggam tangan kanan Yash dengan lembut untuk menenangkannya yang terlihat frustasi itu.

__ADS_1


"Tak apa tuan. Ini enak ko. Aku bisa menghabiskannya. Ayo makan, aku sudah lapar sekali". Ucap Mira dengan tatapan tenangnya. Membuat Yash semakin merasa sedih dan tak berguna.


"Tangan sialan.. Kenapa harus cidera. Lihat, aku jadi tidak bisa menyuapinya gara-gara kau. Jika kau tidak cidera mungkin aku bisa memperhatikannya dengan baik. Dasar sialan". Batin Yash begitu kesal seraya melihat kearah tangan kirinya yang ia gendong dan perban itu.


Yash pun dengan reflek menggerakan tangan kirinya dengan raut kesal. Namun itu malah membuatnya mengerang karena rasa ngilu yang luar biasa menderanya. Membuat Mira langsung mengelus lembut tangan kiri Yash yang di gendong itu.


"Anda tak apa tuan, mengapa anda seperti itu. Kan berbahaya tuan". Ucap Mira dengan lembut. Yash pun hanya menghela lelah dan wajahnya pun terlihat pucat akibat menahan ngilu dan rasa sakit secara bersamaan.


"Argggghhh sial sial sial !". Racau Yash dalam hati.


"Minum lah tuan". Ucap Mira seraya menyodorkan satu gelas air mineral ke arah Yash dan Yash pun meminumnya di bantu oleh Mira yang memegang8 gelasnya.


"Anda sudah merasa baikan tuan. Atau masih sakit. Panggil dokter saja ya ?" Tanya Mira bertubi-tubi dengan nada khawatir.


"Aku tak apa, tenang lah". Ucap Yash dengan nada lemas seraya menangkup pipi kanan Mira dengan tangan kanannya.


"Sungguh tuan ?". Tanya Mira merasa tak yakin. Dan Yash pun mengangguk memastikan seraya menggenggam lembut tangan Mira.


Setelah bebeerapa menit Yash meng istiirahatkan tubuhnya guna meredam rasa sakit. Akhirnya mereka pun makan dengan tenang. Dan sesekali Yash memandang prihatin kearah Mira yang harus makan dengan bubur lembek dan kuah kuning yang setelah Yash cicip sungguh sangat jauh dari di katakan layak konsumsi.


Selain itu sang suster yang sedari tadi melihat dan menyaksikan keakraban antara dua insan ysng saling menguatkan dan memperhatikan satu sama lsin. Sungguh membuat sang suster dism-diam tersenyum kagum.


"Mereka pasangan yang sangat serasi. Saling menguatkan dan memperhatikan satu sama lain. Semoga mereka berjodoh sampai maut memisahkan". Ucap sang suster dalam hatinya.


Selang tiga puluh menit, Yash dan Mira pun akhirnya menyelesaikan makan siangnya dan meminum obat masing-masing. Dan tak berapa lama datang lah dokter Jordan dan dokter Regan serta dua suster yang hendak memeriksa keadaan Yash dan Mira. Di susul dengan Roni dan Jio yang juga memasuki ruangan.


"Selamat siang tuan Yash dan nona Miranda". Sapa dokter Jordan mewakili.


"Siang dokter Jo". Ucap Yash dengan nada tegas.


"Langsung saja ya, mari kita periksakan keadaan anda berdua". Ucsp doktee Jordan meminta izin.


"Aku ingin tahu keadaan Mira. Jadi periksalah dia terlebih dahulu". Ucap Yash memerintah.


Dokter Jordan lalu mengangguk saja dan mulai memeriksa keadaan Mira juga memeriksa kembali keadaan lambungnya di bantu dengan dokter Regan.


"Ini adalah keadaan lambung anda nona. Masih terlihat membengkak dan tidak sehat". Ucap dokter Jordan seraya menunjukan kondisi lambung Mira di layar yang seperti komputee.


Mira pun sedikit tertegun melihatnya. Keadaan lambungnya sangat parah. Dan Yash pun terlihat khaeatir yang kentara di air mukannya.


"Separah itu ?". Ucap Yash tak menyangka. Sedangkan Mira hanya terdiam di tempst dengan tatapan kosong.


"Nona, apa sebelumnya anda mengkonsumsi obat-obatan pereda nyeri perut dan sebagainya ?". Tanya dokter Jordan memastikan.


"Iya dok. Satu bulan yang lalu magh ku kambuh. Karena itu di tempat kerja dan obat yang biasa juga sudah habis. Aku pergi keapotik untuk membeli obat yang biasa ku minum". Ucap Mira memulai bercerita.


"Lalu ternyata obat itu sedang kosong. Jadi pegawai apotiknya merekomendasikan obat lain dok. Nama obatnya itu obat A, Obat B dan obat X untuk vitaminnya dok". Ucap Mira memberi tahu.


Dokter jordan dan dokter Regan pun lalu mengernyit saat mendengar obat yang di bicarakan oleh Mira. Bukan apa, hanya saja obat-obatan itu tidak layak konsumsi untuk penderita sakit magh sepeeti nona Mira. Memang dari segi rasa dan bentuk hampir mirip dengan obat magh pada umumnya. Dan obat itu juga dikonsumsi sesuai anjuran dokter.


"Dimana anda membeli obat itu nona ?". Tanya dokter Regan merasa penasaran.


"Di apotik X tak jauh dari tempat ku bekerja dok". Ucap Mira memberi tahu.


"Apotik itu bukannya milik dari tuan muda Attalarick tuan. Itu apotik terbesar dan ternama. Tidak mungkin para pegawainya bisa seceroboh itu". Ucap dokter Jordan memberi tahu.


"Emm.....Memangnya ada apa dokter ?" Tanya Mira penasaran.


"Obat yang anda minum itu bukanlah obat magh pada umumnya nona. Itu sangat berbahaya jika di konsumsi jsmangka panjang. Akibatnya bisa fatal. Anda bisa saja tiada jika terus menerus mengkonsumsi obat itu". Ucap dokter Regan menjelaskan.


"Ya tuhan, tega sekali pegawai itu kepada ku". Ucap Mira merasa syok.


Yash yang sedari tadi menyimak pun hanya diam termenung. Sementara Jio dan Roni yang juga mendengarnya pun terus menatap kearah Yash yang terdiam. Mereka tengah menunggu perintah dari sang tuan mudanya itu.


Yash pun lalu menatap kearah Jio dan Roni saat Mira dan para dokter tengah berbincang. Melalui mata tajamnya. Yash pun memberi kode kepada Jio dan Roni untuk menjalankan tugas. Tentu Jio dan Roni pun mengangguk dengan hormat. Dan langsung melangkah pergi dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Mira dan para dokter.


"Sebentar lagi kita akan tahu. Apa alasan pegawai itu memberikan obat yang salah untuk Mira". Ucap Yash dengan nada dinginnya. Membuat kedua dokter dan Mira langsung menatap Yash dengan raut tertegum.


Dan benar saja, selang tiga puluh menit. Kelima pegawai terpercaya dari apotik X telah di bawa keruangan pasien milik Yash. Mereka datang dengan kepala tertunduk takur. Tuan muda Atta pun ikut bergabung dan langsung melayangkan tatapan bingung dan tanya kepada Yash yang tengah duduk bersandari di atas ranjang pasien dengan keadaan tangan di perban dan di gendong. Seperti luka patah tulang.


Dan lagi Mira yang terlihat memakai baju pasien yang tengah duduk di kursi pasien milik Yash. Membuat Atta semakin mengkerut bingung. Namun ia tidak ingin menyela. Melihat tatapan mata tajam milik Yash yang Atta pahami itu.


"Maaf tuan, kelima orang ini tidak ada yang mau mengaku. Mereka mengelak. Maka dari itu saya bawa saja kemari kehadapan nona Mira dan anda tuan. Biarkan nona Mira yang memberi tahukan siapa orangnya". Ucap Jio menjelaskan.


"Kau masih mengingatnya Mira ?". Tanya Yash memastikan.


"Tentu tuan, dia sangat cantik dan mungil. Berponi rapih dan berambut warna dark brown". Ucap Mira dengan tersenyum misterius seraya menatap kearah seseorang yang Mira maksud.


Keempat orang yang berdiri itu pun menatap tak percaya kearah gadis muda yang di kenal santun dan ceria itu. Begitu pun dengan Atta yang melotot tak percaya. Sedangkan seseorang Mira maksud itu pun menunduk dalam dan mulai menangis dan berlutut.


"Maafkan aku nona. Aku terpaksa melakukannya hikss...hikksss". Ucap gadis itu dengan terisak.


"Apa yang kau lakukan Airin ?". Tanya Atta dengan nada tegasnya. Sebab Airin sudah Atta anggap seperti adik sendiri.


"Jika aku mengatakannya. Apa kau dapat menjamin keselamatanku tuan ?". Tanya Airin kepada Atta sang bos dengan nada gemetar.


"Aku yang akan menjaminnya". Ucap Yash dengan sungguh-sungguh.


"Katakan siapa yang menyuruhmu merekomendasikan obat yang berbahaya untuk Mira. Karena kau tahu tidak. Obat itu membuat lambungnya membengkak !". Ucap Yash dengan tegas membuat Airin langsung terbengong di tempat merasa tak menyangka.


"Ap...Apa ?". Ucap Airi tergagap.


"Beruntung ini diketahui oleh para dokter. Akibatnya bisa fatal jika Mira terus-menerus mengkonsumsinya. Dia bisa mati secara perlahan". Ucap Yash dengan air muka yang tersirat akan amarahnya.


Membuat Airin langsung terduduk di tempat dengan muka yang terlihat syok berat. Karena dalam benaknya tak pernah terfikirkan untuk menjadi seorang pembunuh.


"Pada saat saya berada di ruang obat-obatan. Ada seseorang yang menelfonku tuan. Dia tahu keberadaan adikku. Dia mengancam dengan suara adikku yang menangis saat itu. Dia ingin aku menukar obat milik nona itu dengan obat lain. Maafkan saya tuan saya tidak menyangka akan seperti ini. Karena setelah pulang ada satu tumpuk uang dan pengasuh dari adik ku mengalami luka-luka dan adik ku juga mengalami terahuma. Dan aku pun mendapat surat ancaman agar aku tutup mulut. Karena jika aku jujur adik ku dalam bahaya tuan hikkss hiiksss". Ucap Airin dengan tangisan pilunya.


"Jadi itu sebabnya. Selama satu bulan ini kau terlihat berbeda Ai". Batin Atta yang mengetahui permasalahan yang tengah di hadapi oleh Airin.


"Siapa seseorang itu. Apa dia menyebutkan namanya ?". Tanya Yash dengan raut penasaran.


"Ddia seorang wanita tuan. Dia menyebut namanya sebagai...... Nyonya bos". Ucap Airin memberi tahu.


Yash yang mendengarnya pun langsung mengepalkan tangan kanannya dengan kuat. Wanita yang mengakui dirinya swbagai nyonya bos itu telah bermain-main dengan seorang Aryasha Leonard. Jika sudah begini Yash memang benar-benar harus bertindak.


"Jio bawa dia beserta adiknya kepada Vikram. Dia aman jika ditangannya. Bilang jika dia adalah orang pentingku yang harus ia lindungi". Titah Yash kepada Jio.


"Baik tuan". Ucap Jio patuh.


"Dann kau Roni. Kau pasti tahu tugasmu kan". Ucap Yash kepada Roni.


"Tentu tuan". Ucap Roni dengan patuh.


"Dan kau. Kali ini aku akan memaafkanmu. Tetapi jika kau berhianat satu kali lagi. Maka terimalah akibatnya. Aku akan mengawasimu". Ucap Yash dengan menatap Tajam kearah Airin yang mengangguk patuh dengan raut ketakutan.


"Lalu kau Atta. Urus keempat pegawaimu dengan baik. Awasi mereka juga". Titah Yash kepada,sang adik. Membuat Atta langsung mengangguk patuh.


"Dan aku ingin obat terbaik untuk menyembuhkannya dokter". Ucap Yash seraya melihat kearah dokter Jordan.


"Akan saya usahakan tuan". Ucap dokter Jordan dengan sopan.


Dan akhirnya Jio, Roni, dan Atta pun pergi melaksanakan tugasnya. Sedangkan para dokter pun telah kembali kepekerjaannya masing-masing begitupun dengan para suster.


Sedangkan Mira, sudah tertidur dengan pulas diranjang pasien milik Yash dengan Yash yang merengkuh tubuh Mira dengan lembut dan melihat ekspresi tidur Mira yang terlihat nyenyak.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkannya melukaimu. Aku pasti bisa memberikannya pelajaran. Dan mengungkap identitas dari seorang yang mengaku sebagai nyonya bos". Ucap Yash dengan penuh tekad dan semangat.


__ADS_2