Luluh

Luluh
Episode 32


__ADS_3

Mira pun dibuat melongo atas kemewahan tempat tinggal Yash. Ia merasa jika dirinya tengah berada di negri dongeng. Rumah yang bisa di sebut mansion bergaya kelasik itu sungguh menakjubkan di mata Mira.


"Aku fikir kediaman dari mertuanya kak May. adalah yang termewah. Ternyata kediaman tuan muda Yash lebih dari kata mewah. Apa itu namanya...Aahh yaa sultan. Tuan Yash seperti anak sultan yang banyak di bicarakan oleh kalangan media". Batin Mira seraya melihat-lihat bangunan megah itu.


Yash pun akhirnya turun dari mobilnya yang sudah di bukakan oleh Jio yang sedari tadi sudah siap menjemput di pintu utama.


"Selamat sore tuan, anda sudah ditunggu di ruang keluarga oleh tuan besar dan yang lainnya". Ucap Jio sopan.


"Parkirkan mobil ku". Ucap Yash memerintah dan Jio pun mengangguk patuh.


Yash lalu memutari mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk Mira. Dan Mira pun turun dari mobil Yash dengan perlahan dan mengangguk berterima kasih kepada Yash.


Setelah itu, mobil yang Yash dan Mira tumpangi pun diparkirkan oleh Jio. Sementara Yash dan Mira pun mulai berjalan untuk masuk kedalam rumah melalui pintu utama. Pintu yang di buat khusus untuk para tamu.


Pintu itu pun terbuka dengan sendirinya menampakan sederet pelayan yang menunduk hormat dan satu orang paruh baya yang berdiri di tengah seraya menunduk hormat.


"Selamat sore tuan muda Yash, dan nona muda Mira. Selamat datang di mansion ini". Ucapnya sopan menyambut kedatangan Yash dan Mira. Mira pun tersenyum sopan.


"Dia paman Gun bisa juga di panggil Mister Gun. Kepala pelayan disini". Ucap Yash mempeekenalkan. Mira pun hanya mengangguk mengerti.


"Mari tuan muda, tuan besar sudah menunggu". Ucap paman Gun mempersilahkan.


Yash dan Mira pun berjalan memasuki ruangan yang ternyata menurut Mira sangat besar dan luas. Mira pun merasa disini ia bisa bebas berlari kemanapun bahkan bisa juga untuk bermain bola.



Sedangkan Raina yang tengah duduk seraya mengotak atik ponselnya melihat-lihat aplikasi yang banyak disukai orang dengan tersenyum pun di buat berbinar tak kala sang pelayan pribadinya memberi tahukannya tentang kedatangan Mira.



"Rie bantu aku untuk berjalan". Perintah Raina lembut.


"Mari nona". Ucap Riena seraya menyerahkan tongkat jalannya dan berjalan perlahan di bantu oleh sang bodyguardnya.


Saat sudah berada diujung tangga Raina pun melihat Mira berjalan beriringan dengan Yash yang diikuti oleh paman Gun hendak berbelok kearah kanan menuju ruang keluarga.


" Kak Mira....!". Panggil Raina dari ujung tangga atas.


Mira, Yash dan paman Gun pun berhenti berjalan saat mendengar Raina meneriakan memanggil nama Mira dengan cukup keras.


Mereka semua pun akhirnya menengok ketangga atas dan melihat Raina yang tengah berdiri dengan satu tongkat di temani sang bodyguard dan dua pelayan lainnya.


"Nona Raina". Ucap Mira dengan tersenyum lembut.


Mira pun hendak pergi untuk membantu Raina menuruni anak tangga. Namu entah mengapa Yash mencegahnya dan membuat Mira mengernyit heran.


"Hari ini Raina sangat sensitif sekali. Dia selalu marah jika ada yang membantunya tanpa ia suruh atau izinkan.Jadi, tetap diam disini. Dan tunggulah disini". Bisik Yash mencoba menjelaskan membuat Mira pun mengangguk paham.


Saat sudah sampai di lantai bawah, dengan langkah yang perlahan Raina pun menjulurkan tangannya meminta Mira untuk mendekat kearahnya. Dan Mira pun mendekat seraya menggenggam tangan Raina yang terasa sedikit dingin.


Raina yang merasa sentuhan lembut dari tangan hangat Mira pun tersenyum senang dan lalu memeluknya begitu erat. Selayaknya seorang adik yang lama tak jumpa.


"Nona Raina apa kabar. Bagaimana keadaan kaki nona ?". Tanya Mira lembut masih dengan berpelukan.


"Baik kak, kakiku juga sudah bisa untuk berjalan. Ya walau pun masih harus menggunakan tongkat. Setidaknya itu lebih baik dari pada duduk terus di kursi roda. Rasanya panas". Ucap Raina jujur seraya melepas pelukannya dan sedikit bergurau.


Membuat Mira sedikit terkekeh akan ungkapan Raina yang terakhir. Sedangkan Yash dan lainnya pun menatap haru akan perubahan mood dari Raina yang kini sudah membaik sepertinya. Karena dari dua hari lalu semua merasa jika Raina terlihat murung dan pendiam.


"Ayo kita lanjutkan bicaranya di ruang keluarga. Ayah dan yang lainnya sudah menunggu disanaa". Ajak Yash lembut seraya membelai rambut Raina dengan sayang. Membuat Mira sedikit teringat akan kakak pertamanya.


Raina pun langsung menggandeng lengan Mira dengan manja mengabaikan Yash yang tadinya ingin memegang tangan kiri Raina guna membantunya berjalan.


"Kak, bantu aku buat berjalan ya". Pinta Raina kepada Mira. Dan diangguki oleh Mira dengan senang hati.


Raina itu memang mungil dan pendek. Namun tubuhnya berisi dan memiliki pipi yang chubby disertai poni tipis yang kadang orang kira usianya bukanlah gadis dua puluh tahun melainkan remaja lima belas tahun.


Di bandingkan Mira yang tinggi mendekati kata semok membuat Mira dan Raina bisa di katakan pas sebagai kakak adik. Membuat Yash tersenyum senang saat melihat adik yang ia cintai sangat bahagia bersama Mira.


Mereka pun akhirnya sampai di ruang keluarga yang ternyata sudah banyak sekali orang. Ada sepasang kakek nenek, ada tuan besar dan nyonya besar Jonathan, ada tuan Vikram dan Ram, ada dokter Jodi dan sang istri, ada juga tiga orang lelaki yang Mira rasa pernah melihtnya di malam pesta gedung tempo lalu.


"Selamat datang Mira, mari bergabung bersama". Ucap Jonathan dengan lembut.



Mira pun mengangguk hormat kearah semuanya dan duduk bertiga bersama Yas dan Raina. Raina di kiri Mira dan Yash di kanan Mira. Di susul dengan Jio dan paman Gun yang berdiri di belakang Yash.


"Gun, siapkan makan malam untuk kita semua. Buat yang sepesial malam ini". Peeintah Jonathan kepada sang kepala pelayan.


"Baik tuan, akan saya laksanakan". Ucap paman Gun dan berlalu pergi.


Tak berapa lama muncul lah empat pelayan wanita. Dua diantaranya membawa nampan yang berisi satu poci keramik teh hijau dan gelas beserta nampannya. Dan Nampan satunya lagi berisikan kue kering dan cake coklat.


Mira pun sedikit berubah. Ia merasa keringat dingin dan bayangan saat dirinya datang kerumah Erlangga pun muncul. Ia menjadi sangat khawatir dan tidak ingin hal buruk terjadi lagi pada dirinya.


Jodi yang melihatnya pun mengerti akan sikap diam Mira yang tiba-tiba dan terlihat berkeringat itu. Yang pada akhirnya Jodi pun berdehem seolah-olah tenggorokannya terasa gatal yang beruntungnya dilihat oleh Yash. Akhirnya Jodi pun memberi kode melalui ekor matanya untuk melihat Mira dan memperhatikannya.


Yash pun menuruti kode dari Jodi dan benar saja. Yash sedikit terkejut saat melihat Mira yang terdiam berkeringat seraya meremas ujung dress yang Mira kenakan dengan kuat.


Yash pun akhirnya mendapat pesan masuk dari Jodi yang memberitahukan jika Mira tengah mengingat sesuatu yang akan membuat terahumanya kembali. Dan Jodi pun menyuruh Yash untuk menenangkannya sebisa mungkin. Awalnya Yash menolak karena ini di mansionnya dan di depan keluarganya juga didrpan Raina sang pujaan hatinya. Namun Jodi tetap memaksa karena Mira bisa mengenali sentuhan Yash dan itu lebih baik dari dirinya yang tidak Mira kenali sentuhannya. Jika tetap memaksa maka akibatnya akan mempermalukan Mira. Ia bisa saja histeris lagi.


Yash pun akhirnya kalah dan lalu langsung menggenggam tangan Mira yang tadinya meremas ujung baju dressnya. Mira yang merasakan sentukan serta remasan halus di tangannya pun sedikit terkejut dan tersadar. Maka di tataplah wajah Yash dengan mata takutnya.


"Ini aku Yash. Ingat, aku Yash Aryasha Leonard". Ucap Yash dengan berbisik pelan. Membuat Mira yang tadinya menatap takut pun mulai sedikit menatap sendu dan berkaca.


Sementara semua yang hadir kecuali Yasmin dan kedua orang tua Jonathan. Telah di beri tahu oleh Jodi dan Vikram masalah Mira dan terahumanya. Maka dari itu semua pun berusaha untuk tidak memperhatikan kondisi Mira. Malah seolah sibuk sendiri. Ada yang main gane, main ponsel ada juga yang berbicara dan bergurau. Jonathan pun sebisa mungkin mengalihkan perhatian sang istri ketiganya dan kedua orang tuanya untuk membicarakan masalah untung rugi sebuah perusahaan.


"Tolong jangan sakiti aku. Aku tidak melakukan apa pun disini". Ucap Mira dengan berkaca. Membuat Yash langsung memegang pipi kiri Mira dan menatapnya dengan lembut.


"Ini rumahku,. Milik ku. Tidak ada yang bisa menyakitimu disini. Aku adalah Aryasha Leonard. Semua tunduk dibawah kuasa ku. Semua menurutiku. Aku adalah Yash bukan dia. Ini adalah rumah ku. Bukan rumahnya". Ucap Yash meyakinkan membuat Mira langsung menutup matanya dan mengatur nafasnya seraya mengingat trik yang di beritahukan oleh Jodi saat dirinya mulai dilanda rasa terahuma.


Yash pun lalu menurunkan tangannya kembali dan menggenggam kembali tangan Mira. Dan kali ini kedua tangan mereka pun saling menggenggam. Sampai tangan Mira kembali menghangat dan mata itu pun terbuka normal saat itu juga genggaman mereka saling terlepas perlahan.


"Terima kasih tuan, maaf jika saya selalu merepotkan anda". Ucap Mira dengan rasa canggung dan di balasi senyum serta anggukan dari Yash.


"Silahkan tuan muda tehnya". Ucap salah satu pelayan yang membawa nampan berisi teh hijau yang bertugas membawakanya.


Yash pun mengambilnya dan pelayan itu pun bergantian menuju kearah Mira dan menbawa teh hijau itu.


"Silahkan nona, teh hijaunya". Ucap sang pelayan sopan


Mira pun mengambilnya dengan tenang dan berterima kasih setelah mengambilnya. Membuat pelayan itu sedikit terkejut akan sikap Mira yang santun walau dengan seorang pelayan. Membuat sang pelayan yang bekerja puluhan tahun itu pun sedikit mengenang mendiang nyonya peetama dan keduanya yang sama santunya dengan nona Mira.


Mira pun meminumnya dengan perlahan dan merasa jika moodnya kembali baik saat meminum teh hijau itu yang rasanya manis seperti di campurkan madu.


"Enak ?". Bisik Yash di telinga Mira.


"Iya, manisnya pas. Ini pemanisnya pakai madu ya tuan ?". Tanya Mira memastikan.


"Bagaimana kamu tahu ?". Tanya Yash balik


"Rasa manisnya beda". Jelas Mira santai. Membuat Yash tersenyum senang.


"Gadis pintar". Batin Yash senang.


Tanpa mereka sadari semua yang Yash dan Mira lakukan di perhatikan penuh oleh ketiga adik lelaki Yash. Mereka pun juga jadi teringat mendiang ibu kedua mereka saat melihat Mira. Dan merasa jika Mira lah jawaban dari Tuhan atas doa dan harapan yang selama ini mereka inginkan teruntuk Yash.


Satu pelayan lagi pun menawarkan beberapa kueh yang alhasil satu piring diambil oleh Raina yaitu cake coklat dan di makannya bertiga dengan Yash dan Mira membuat Jasson, Attala, dan Artaniel memberengut kesal menatap Raina.


"Apa ?!". Seru Raina sedikit meledek ketiga kakak lelakinya.


"Bagi engga". Ucap Jasson demgan gemas.


"Engga". Ucap Raina seraya menjulurkan lidah. Membuat ketiganya mendelik tajam.


Sementara Mira yang melihatnya pun hampir tertawa namun sengaja di tahannya. Dan yang lainnya hanya menggeleng maklum. Namun tidak dengan kedua orang tua Jonathan dan Yasmine yang menatap Raina dengan kesal.


Dan tanpa kata pun ketiga lelaki itu langsung menghampiri Raina dan menggelitiknya tanpa ampun. Membuat Raina tertawa terbahak merasa geli.


"Ahaahaa ah ahaha kak hhh Yash tolong ahaku haahaa". Ucap Raina dengan tertawa.


"NO diam kau kak. Jangan ikut campur". Ucap Jasson yang melarang Yash saat hendak membantu Raina.


Namun Yash adalah Yash. Apapun perintah dari Raina selalu ia turuti. Maka dari itu Yash pun langsung menarik telinga kanan Jasson dan telinga kiri Attalarik serta menendang bokong Arthaniel hingga terduduk. Membuat Mira seketika meledakan tawanya bersama Sinta dan Raina.


"Haahaa Rasain". Ucap Raina begitu puas.


"Aaaa sakit kak adawww". Ucap Attalarik seraya memegang tangan Yash.

__ADS_1


"Aduuh aduh iya kak ampun adaw". Ucap Jasson memohon.


"Buset gua ditendang lagi". Ucap Arthaniel seraya mengusap bokongnya.


Vikram pun tak mau kalah ia pun malah menggendong Raina di depan dan memutar-mutarkannya membuat Raina berteriak senang dan membuat Yash berteriak marah.


"VIIKK awas jika sampai Rainaku terjatuh. Aku potong senjatamu". Ucap Yash nyalang membuat semuanya terbahak keras.


Dan Mereka pun akhirnya bermain layaknya anak kecil. Ada yang mengejar ada yang menggelitik ada jg yang memarahi. Seperti Yash yang selalu berteriak marah memperingati keempat adiknya dan Jodi yang memarahi istrinya jika keterlaluan bercanda dengan Jasson. Serta Mira yang diajak lari oleh Attalarikl yang di kejar Artaniel. Sementara para tetua hanya diam memperhatikan. begitu pun dengan Ram dan Jio yang turut senang. Setidaknya malam ini dilewati penuh canda tawa tanpa ada keributan yang entah mengapa membuat kedua orang tua Jonathan pun diam tidak memulai dan mengusik duluan.


Tak berapa lama paman Gun pun datang meng menghampiri Jonathan dan istrinya dengan menunduk hormat.


"Makan malamnya sudah siap tuan besar". Ucap kepala pelayan dengan sopan.


Jonathan pun mengangguk lalu ia pun berdiri dan meniupkan sebuah peluit yang entah dari mana ia dapatkan lalu meniupnya dengan keras. Membuat Yash, Mira, Raina, Jasson, Vikram, Arta dan Atta pun terdiam kaget.


"Ayo semuanya kita lanjut makan malam. Mari Mira berjalanlah disamping ku". Ucap Jonathan mengajak Mira untuk berjalan bersamanya.


Mira yang merasa canggung pun melihat kearah Yash dan Raina secara bergantian. Dan mereka pun mengangguk mempersilahkan. Membuat Mira mendekat perlahan kearah Jonathan. Setelah dekat Jonatan pun merangkul Mira layaknya seorang ayah kepada anaknya dan berjalan beriringan menuju keruang makan bersama di susul oleh kelima anaknya berserta Jodi dan sang istri.


Namun tidak dengan Yasmine dan kedua orang tua Jonathan. Mereka bertiga masih duduk terdiam di tempat.


"Jadi gadis itu yang bernama Miranda Nur. Si dewi penyelamat bagi anak haram itu ?". Tanya Johan ayah dari Jonathan. Kakenya Yash.


"Iya pah,, dia orangnya. Yang selalu dibicarakan olehnya". Ucap Yasmine murung.


"Kenapa kau tidak bertindak. Biasanya kau paling bisa". Ucap Mariana istri dari Johan ibu dari Jonathan sekaligus neneknya Yash.


"Dia adik dari Marko Manuel mam. Aku tidak bisa gegabah. Ada banyak bukti dan rahasia ku yang tak sengaja ia dengar dan lihat. Aku harus cari cara untuk melenyapkan kakaknya. Namun ia pun sekarang menghilang enrah kemana. Benar-benar sialan". Ucap Yasmine dengan geram. Membuat kedua orang tua itu menghela nafas.


"Tindakan mu sudah sangat jauh Yasmine. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk melindungimu terus. Fisikku sudah tua dan kami sudah tidak muda lagi. Jangan pernah berbuat lebih jauh dari ini". Ucap Johan dan lalu berdiri menggandeng Maria.


"Itu sebabnya kalian juga menjadi terdiam. Tidak melakukan apa pun dengan gadis itu ?". Tanya Yasmin dengan tajam.


"Dia tidak memiliki masalah dengan kami dan dia begitu disayangi oleh putra ku. Selagi dia tidak berbuat memalukan dan santun. Kami tidak ada masalah". Ucap kedua orang renta itu dan berlalu berjalan menuju ruang makan.


"Aku hawatir dengan kehadiran gadis itu. Sikap keanggunannya dan santunya sangar Mirip dengan Cinthiyana. Postur tubuh dan cara senyumnya juga mirip dengan Rianthi. Sungguh perpaduan yang membahayakan untuk ku". Ucap Yasmin begitu lirih.


"Bisa-bisa dia mencuri kedudukan ku dari Jonathan. Atau bisa jadi dia akan merebut hati Yash. Tidak. Aku tidak ingin mempunyai menantu yang di dukung oleh Jonathan. Aku ingin menantu yang dapat ku kendalikan sendiri. Agar Yash benar-benar merasakan apa yang aku rasakan". Ucap Yasnine penuh benci.


"Yash, ibu mu dulu sangat menyebalkan. Dia lebih memilih memberikan Jonathan kepada wanita sialan itu. Ibu dari anak haram itu ketimbang denganku. Yang jelas sekali adalah sahabat kecil Jonathan". Ucap Yasmine penuh kebencian.


"Jangan harap kau dapat menemukan cintamu Yash. Cinta mu itu adalah nerakamu Yash. Dan selamanya akan seperti itu".


Ucap Yasmine penuh percaya diri dan langsung berdiri seraya menyenggol guci yang bertengger di meja besar dengan sengaja. Membuat dua pelayan yang baru memasuki ruangan untuk mengambil cangkir kotor pun terkaget.


"Apa lihat-lihat ?!". Ucap Yasmine penuh amarah. Membuat kedua pelayan itu menunduk takut.


"Bereskan semua atau taman riwayat kalian. Mengerti !". Ucap Yasmin begitu angkuh dan berjalan melenggok layaknya model.


Tanpa Yasmine sadari ada Ram dan Jio yang sedari awal mendengar serta merekam pembicaraan Yasmin dari balik sofa ruang keluarga yang menutupi mereka. Ram dan Jio memang sengaja bersembunyi diam-diam di balik sofa saat semua orang tengah lengah.


Ram dan Jio pun saling pandang dengan tersenyum puas. Setidaknya rasa curiganya akan ketiga orang itu yang terdiam tanpa ada sentilan sedikit pun mulai terkuak. Nyonya besarnya memang terkadang ceroboh walaupun tingkat kelicikannya dan wajah manipulatifnya tergolong mumpuni.


Ram dan Jio pun memasukan alat perekam itu kembali dan berjalan berbarengan kearah ruang makan.


Disamping itu Raina yang tengah berjalan pelahan di bantu dengan Vikram dan Jasson pun mulai di ledek oleh Jasson mengenai ayahnya.


"Uwww ada yang engga dianggep nih sama ayah". Ucap Jasson meledek.


"Ayah kayanya punya puti baru deh yaah. Kasian yang onoh engga dianggep". Imbuh Atta dari belakang yang berjalan bertiga dengan Yash dan Artha.


"Biarin, yang penting aku punya kakak perempuan baru. Yang pastinya ngalahan sama nyenengin. Engga kaya kalian semua yang hobinya ngeledek mulu". Ucap Raina membalas.


"Yaahh palingan juga satu dua hari Rain nyenenginnya. Percaya deh entar kamu pasti bakal nyesel, mewek, terus sakit hati". Ycap Jasson memanasi. Membuat Yash yang tak tahan mendengarnya langsung mencekik Jassin menggunakan lengannya yang ia kalungkan pada leher Jasson dari belakang.


"Jasson Wiliam Leonard. Hati-hati dengan ucapanmu terhadap Mira. Atau ku patahkan lehermu". Ancam Yash dengan sedikit tegas. Membuat Jasson sedikit gelagapan.


"Wees bercanda bos elaah. Sensi banget si kalau menyangkut soal Mira". Ycap Jasson seraya berusaha melepas belitan tangan Yash.


Yash pun lalu menjitak keras kepala Jasson dan melepaskannya dengan cepat membuat Jasson jatuh terduduk dengan terbatuk.


"Hati-hati kak. Kesayangan mama Yasmin itu". Ucap Atta seraya tersenyum evil.


"Heh memangnya aku perduli". Ucap Yash sinis dan berjalan mendahului dua adik kembarnya.


Sementara itu kedua adik kembar itu pun mendekati Jasson dan menepuk bahu Jasson dengan kuat. Sementara satunya lagi memberikan satu botol minum.


"Bukan Raina y\ng kak Yash bela". Ucap Jasson setelah meminum rakus botol mineral yang di berikan Artha.


"Tapi gadis cantik itu. Mata kak Yas menyiratkan peringatan keras. Sikap lain dari yang biasanya kak Yash lakujan saat membela Raina". Ucap Jasson lagi.


"Gua hampir mati sialan ".Ucap Jasson dengan nafas lelahnya.


"Jangan ulangi lagi hal semacam ini Jass. Ini juga berlaku untukmu Atta. Jika kak Yash sudah sangat marah. Kalian pun bisa tamat olehnya. Tanpa memandang kalian adalah adiknya". Ucap Artha memperingati. Membuat keduanya pun mengangguk paham.


"Ayo jalan lagi". Ucap Artha mengajak kedua adikya berjalan menyusul yang lainnya.


Disisi lain ada Jonathan yang berjalan dengan Mira seraya merangkulnya dengan lembut.


"Bagai mana kabarmu nak ?". Tanya Jonathan kepada Mira.


"Kabar saya baik tuan besar". Ucap Mira santun.


"Aku tidak keberatan jika dipanggil dengan sebutan ayah olehmu. Sama seperti Raina memanggilku dengan sebutan itu. Karena kau sudah ku anggap seperti putri kandungku". Ucap Jonathan sendu.


"Aaammm maaf tuan besar, tetapi saya tidak terbiasa. Bagaimana dengan sebutan paman". Ucap Mira setengah canggung.


"Hmm...Yaa lebih baik dari pada tuan besar. Memangnya tubuhku ini besar".Ucap Jonathan bergurau membuat Mira tersenyum senang.


Jonathan pun sempat melihat kalung yang ia berikan berada di leher jenjang Mira dan itu pun membuat Jonathan merasa lega dan tenang.


"Maafkan paman mu ini Mira. Yang tidak bisa melindungimu saat itu. Dan maafkan atas keterlambatan Yash putra sulungku untuk menolongmu. Seandainya saat itu paman tahu kau di ganggu oleh anak buah pria ambisius itu. Sudah paman pastikan dia tamat ditangan paman". Ucap Jonatan penuh dendam.


"Tuan emm... Maksud saya, paman tahu masalah itu ?". Tanya Mira heran.


"Apa..Tuan Yash yang mengatakannya ?". Tanya Mira lagi.


"Tidak. Yash bukanlah tipe anak yang mengadu. Aku mendapatkan informasi itu dari Darko. Asisten pribadiku". Ucap Jonathan jujur. Membuat Mira sedikit mengernyit.


"Sudah, tidak usah fikirkan hal itu. Yang terpenting tidak terjadi apa pun kepadamu itu yang membuat ku sangat bersyukur". Ucap Jonathan tulus.


"Tetap semangat menjalani terapinya Ya, agar kau bisa sembuh dari rasa trahumamu. Jodi sudah menjelaskan semuanya kepadaku. Ayo silahkan duduk nak".


Ucap Jonathan mempersilahkan Mira duduk di kursi makan ujung dekat dengan Jonatha yang duduk di ujung.



Mira yang melihatnya pun seketika terpukau melihat kursi dan meja makan serta ruangannya yang sungguh mengagumkan.


Mira pun akhirnya duduk di kursi yang di persilahkan Jonathan disusul ole Yash yang duduk di samping Mira, di tambah Vikram duduk di samping yash dengan Raina di sebelahnya Vikram dan kursi terakhir di isi oleh Sinta dan Jodi.


Di susul oleh Yasmin yang duduk di kursi ujung samping Jonathan dan disusul olah Jasson, Artha, Atta, nenek Mariana dan kakek Johan di ujung berhadapan dengan Jonathan.


Sementara itu muncul lah asisten pribadi dari masing-masing orang. Ada Ram yang berdiri di belakang Vikram, Riena yang juga berdiri di kursi belakang Raina, ada paman Gun yang berdiri di belakang Mira, Ada seisa asisten pribadi dari Yasmine, Ada dua pelayan dewasa untuk tiga putra Jonatha dengan Yasmine, ada satu pelayan berdiri di belakang Sinta dan Jodi, dan dua pelayan yang berdiri di kursi Nenek Mariana serta kakek Johan. Dan yang terakhir ada Darko yang berdiri tepat di belakang Jonathan.


"Mira. Perkenalkan ini Darko asisten pribadi paman. Kau boleh memanggilnya Darko. Sama seperti Jio". Ucap Jonathan memperkenalkan. Darko pun mengangguk hormat sedangkan Mira hanya tersenyum santun yang membuat Darko sedikit terkejut.


"Senyumnya Mirip dengan nona besar pertama. Dan wajahnya pun terlihat Mirip dengan nona besar kedua. Sungguh perpaduan yang luar biasa. Aku seperti nelihat kedua nona besar berada di satu tubuh. Pantas saja tuan besar dan tuan muda dapat berdekatan dengannya". Batin Darko dengan raut heran. Paslnya dulu Darko hanya melihat Mira diam tanpa senyuman. Dan sekarang saat melihat senyuman itu dari dekat ia malah dibuat setengah terkejut.


Kesemua asisten pun melayani tuan dan nonanya Masing-masing. Terkecuali Jonatha yang dilayani oleh Yasmine, Sinta yang melayani Jodi, dan nenek Maria yang melayani sang suami yaitu kakek Johan.


Menu yang tersaji pun ada beragam sampai-sampai membuat Mira merasa bingung memilihnya dan pilihanya akhirnya jatuh pada capcai goreng dan cumi asam manis yang diambilkan langsung oleh paman Gun.


"Silahkan nona". Ucap Paman Gun sopan seraya menaruh piring berisikan makanan yang Mira pilih.


"Terima kasih paman Gun".


Ucap Mira lembut yang membuat kesemuanya yang dilayani merasa tertohok dan lalu mengikuti Mira untuk mengucapkan terimakasi kepada para pelayannya termasuk Jonathan yang untuk pertama kalinya bagi Yasmine mengucapkan kata-kata syakrat itu dengan baik.


Membuat Yasmine yang mendengarnya pun sedikit terharu dan berkaca. Namun ia sembunyikan dengan berkedip-kedip ringan seolah tengah mengerjap biasa. Dan akhirnya semuanya pun makan malam dengan khidmat dan damai tanpa adanya keributan seperti biasa.


Para asisten pun mulai bernafas lega akan hal ini. Setidaknya malam ini sangat tenang dan damai Seolah sang dewi keberuntungan tengah masuk untuk memberi keberuntungan rasa damai di mansion yang lengkap dan identik dari masalah.


Setelah selesai, satu persatu dari pelayan dan asisten pribadi masing-nasing orang itu pun pamit undur diri. Begitu juga dengan Sinta dan Jodi juga pamit pulang karena tidak bisa lebih lama lagi meninggalkan anak-anak mereka.


"Ekhem katanya kak Mira dan Kak Vikram mau latihan. Aku boleh ikut lihat latihannya kan ?". Tanya Raina yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Latihan apa memangnya ?". Tanya Yasmin dengan mengerut.


"Menari. Kebetulan aku dan Mira ada kerja sama". Jawab Vikram santai.


Yasmin pun hanya mendesih singkat dan pergi begitu saja tanpa pamit. Membuat Mira merasa sedikit tak enak dan terkaget akan sikap Nyonya besar yang baru ia ketahui.


"Jo, kami ingin istirahat dulu. Untuk Mira salam kenal dari kami kakek dan nenek dari Yash. Semoga kau senang dengan makan malamnya dan jangan kapok untuk bermain kemari lagi ya". Ucap Mariana dengan lembut dan terbuka.


Membuat kelima cucunya termasuk Jonathan sedikit terheran akan sikap kedua orang renta itu yang lain dari biasanya. Jonatha hanya meminta untuk tidak membuat masalah saat gadis yang bernama Mira datang. Tapi Jonathan tak menyangka akan sebaik ini kedua orang tuanya dalam mengabulkan permintaannya.


"Iya tuan besar dan nyonya besar. Terima kasih atas makan malamnya. Dan salam kenal kembali". Ucap Mira sopan.


"Panggil saja kami oma dan opa. Seperti cucu ku yang lain". Pinta Johan sang kakek dengan tatapan tak terbacanya. Membuat Mira terdiam sesaat dan lalu mengangguk dengan tersenyum lembut.


"Kami pamit istirahat dulu ya. Selamat malam". Ucap Mariana seraya melihat kearah semua orang.


"Malam juga oma, opa". Ucap kesemuanya dengan berbarengan terkecuali Jonathan dan Yash yang terdiam dengan mata yang awas dan menyelidik. Yash dan Jonathan pun akhirnya saling pandang satu sama lain. Menyalurkan rasa curiga yang bersamaan untuk kedua orang renta itu.


"Jadi dimana kalian akan berlatih ?". Tanya Raina dengan antusiasnya.


"Aku belum tahu, sebab disini juga tak ada alat musik dan sebuah speker untuk musiknya.


"kata siapa disini tidak ada alat musik. Tuh keempat kakak ku pandai main musik dan masing-masing dari mereka punya alatnya. Dari gitar, piano, drum band, bahkan biola pun ada". Ucap Raina jujur.


"Benarkah ?". Tanya Miranterkejut.


"Ita bener. kalau kamu mau musik biola, piano dan gitar yang bagus kak Yash jagonya. Kalau seruling merdu dan harmonika tuh ka Artha jagonga, musik rock, gitar listrik, musik DJ tuh ka Atta jagonya dan Musik gendang kaya yang di adakan saat tari perut timur tengah, angklung, kentrung ya itu kak Jasson tuh jago gitar juga". Ucap Raina dengan bangganya membuat keempat orang yang tengah di bicarakan hanya menggeleng saja.


"Dan kamu cuma bisa ngerecokin". Ucap Atta dengan sadisnya membuatnya dapat lirikan tajam dari Raina.


"Tau gitu ngga usah aku sebut tadi". Lirih Raina dengan sebal.


"Kalau gitu kalian latihanya di ruang pianonya kak Yash saja. Gimana kak, boleh kan. Boleh yaah please". Ucap Raina memohon. Membuat Yash menatap tajam sang adik.


Ia pun mulai berfikir dan menimang. Masalahnya ruangan itu adalah ruangan penuh kenangan. Dimana ia dulu sering bermain piano bersama sang ibu keduanya. Dan sampai sekarang masih Yash rawat dan mainkan. Namun Yash tidak pernah mengizinkan siapapun terkecuali Raina dan jio yang boleh memasukinya. Dan kini Yash berada dalam dilema besar. Jika diizinkan otomatis semua akan ikut namun jika tidak pasti Raina akan kecewa.


Melihat dilema yang kentara di raut Yash membuat Jasson, Artha dan Atta pun mengerti. Mereka pun angkat bicara.


"Semuanya aku duluan yah mau cek email dulu di ruang kerja. Untuk Mira salam kenal ya. Aku Arthaniel adik kedua dari kak Yas". Ucap Artha dan berlalu pergi setelah mendapat anggukan sopan dan senyuman lembut dari Mira.


"Pamit juga deh mau nerusin game Among AS dadah Raina. Mira salam kenal ya. Ngomong-ngomong gua Jasson adik keempatnya kak Yash kita seumuran looh. Kalau di jalan ketemu gua timpuk ssaja pasti nengok ok". Ucap Jasson dan berlalu pergi. Membuat Mira tersenyum lucu.


"Aku juga pamit dulu ya mau lanjutin kerja. Numpuk soalnya. Salam kenal Mira. Aku Attalarik. Adik ketiga kak Yash dan kembarannya Artha". Ucao Atta.


"Iya kak, salam kenal juga".Ucap Mira santun. Dan Atta pun segera pergi menuju kamarnya.


"Ayah juga ada main catur dengan darko, paman Gun dan Wahyu. Kalian latihan lah dengan baik. Mira, jangan sungkan ya disini. Anggap saja rumah sendiri". Ucap Jonathan lembut.


"Iya paman, terima kasih". Ucap Mira dengan tersenyum. Dan Jonathan pun akhirnya berlalu.


"Kak, ayo tunjukin ruang pianonya. Udah mau jm tujuh nanti mereka kemalaman lagi". Ucap Raina terus mendesak.


"Ekhem, ikut aku". Ucap Yash dan berjalan dahulu.


Mira pun ikut berdiri hendak menyusul Yash namun langkahnya terhenti saat ingat jika Raina berjalan dengan tongkat dan perlahan. Membuatnya langsung berbalik hendak membantu Raina yang di tuntun oleh Vikram.


"Engga usah kak. Ada kak Vikram inih. Kak Mira susul saja kak Yash". Ucap Raina seraya berkedip lucu membuat Mira sedikit heran.


"O...Oke. Aku tinggal ya. Hati-hati ya tuan". Ucap Mira dan pergi menyusul Yash yang telah berjalan jauh meninggalkan Mira yang harus celingukan mencarinya.


"Isshh mana si. Rumah segede lapang kalau jalan cepet banget lagi. Engga sadar apa kakinya selebar apa". Batin Mira kesal.


"Ekhem sepertinya kau harus ku gendong Rain". Ucap Vikram lembut.


"Engga usah kak aku berat soalnya hehe". Uxap Raina menolak.


Namun Vikram adalah Vikram. Jika sudah di dekat Raina sangat lah manis dan memanjakan Raina seperti yang sudah-sudah. Dan Vikram pun menggendong Raina ala bridal menuju kearah ruang piano.


"Tahu kan ruangannya ?". Tanya Vikram memastikan. Membuat Raina mengangguk malu-malu.


Vikram pun akhirnya berjalan seraya menggendomg Raina dan terkadang melihat wajah Raina yang terlihat semakin dewasa malah semakin cantik saja. Membuatnya sedikit terkesan dan gemas.


"Kak Vikram kemana saja selama ini. Tidak pernah main kerumah. Aku...Jadi hawatir". Ungkap Raina jujur dan malu-malu.


"Ada urusan penting yang tidak bisa aku tinggalkan. Jadi, maaf ya sudah membuatmu khawatir. Princess". Ucap Vikram lembut dan berbisik di akhir kata di telinga Raina.


"Siapa yang membuat kaki mu menjadi seperti ini ?". Tanya Vikram sedikit tajam.


"Helenna". Ucap Raina mengadu.


"Sudah ku duga. Dia bukan teman yang baik untukmu Rain. Apa lagi jika dijadikan sahabat. Syukurlah sekarang dia sudah tiada. Jika masih ada, akan ku buat kedua kakinya patah sekaligus". Ucap Vikram sedikit marah membuat Raina langsung mempererat pegangannya dan memeluk Vikram dalam gendongannya. Membuat Vikram terdiam dan sedikit merasa aneh. Ada perasaan lain yang baru ia ketahui.


Sementara itu Mira yang kehilangan jejak dari Yash pun merasa kebingungan akan kemana ia melangkah. Sebab banyak sekali pintu dan jendela. Membuatnya celingukan seperti orang bodoh.


Dan pada saat ia hendak berbalik untuk kembali tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang. Membuatnya sedikit terkejut dan meronta dengan kuat.


Mira pun merasa tubuhnya di seret keruangan gelap yang entah itu ruangan apa. Namun mencium wangi parfum khas yang sangat ia kenal membuatnya sedikit mengernyit.


Mira pun merasa tubuhnya seperti dipojokkan kedinding dan tak berapa lama cahaya terang yang masuk dari jendela yang terbuka membuatnya langsung memejamkan matanya.


Dan dalang dari semua itu adalah Yash. Entah mengapa ide untuk menjahili Mira terlintah begitu saja di otaknya. Namun saat cahaya bulan menyinari wajah Mira membuatnya sedikit terpaku seraya membekap mulut Mira.


Mata yang terpejam, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, dan Yash pun langsung membuka bekapannya pada mulut Mira lalu melihat bibir ranum Mira yang terlihat sedikit terbuka. Membuat Yash seakan sulit untuk menelan ludah.


Iya merasa terpaku di tempat dan hasratnya pun seolah naik saat ini. Wajah Mira yang terpancar sinar rembulan membuatnya terpana di tempat. Dan perlahan mata yang terpejam itu pun terbuka. Memperlihatkan wajah Yash yang berada tepat di hadapan Mira.


"Tuan Yash". Ucap Mira yang terdengar sangat menggoda di telinga Yash.


"Jikackau merasa ingin memiliki dengan sangat seseorang di bawah sinar bulan. Maka percayalah nak. Alam sedang menujukan kepadamu tentang seseorang yang akan menjadi teman hidupmu".


Ucapan itu entah mengapa terlintas di fikiran Yash. Ucapan dari ibu keduanya yang sangat memuja bulan. Bahkan ibu keduanya pun sanggup berjam-jam menatap bulan dengan senyuman.


"Kenapa harus kau Mira. Kenapa bukan dia yang alam tunjukan untukku". Lirih Yash sedikit bingung. Nembuat Mira yang nendengarnya pun mengernyit.


"Aku...Aaa apa ?".Tanya Mira bingung. Yash pun menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba mengenyahkan hasrat itu dari dalam dirinya.


"Lupakan, ini adalah ruang piano yang Raina bicarakan". Ucap Yash mengalihkan pembicaraan.



"Kau mau mendengar suara pianu dari jari jemari ku ?". Tawar Yash.


"Aku lebih penasaran dengan suara biola itu". Tunjuk Mira saat melihat biola di sudut ruangan. Yash pun tersenyum dan melangkah mengambilnya. Lalu duduk di kursi panjang.


"Kemari". Ajak Yash serata menepuk kursi panjang di sampingnya. Mira pun mendekat dan duduk di samping Yash.


"Dengarka ini baik-baik". Ucap Yash tegas dan Mira pun mengangguk dengan siap.


Yash pun mulai mengalunkan biolanya menjadi nada-nada indah yang seperti tak asing di telinfa Mira.


"Tahu tidak, lagu apa yang sedang ku mainkan ?". Tanya Yash dengan tersenyum tajam.


"Tahu, yang di film mohabatein kan. Humko hamise curalo". Ucap Mira dan sedikit bernyanyi. Membuat Yash tersenyum senang.


"Aku pernah mendengarnya saat tak sengaja lewat di depan kamar Raina. Ada musik biolanya dan terdengar bagus". Ucap Yash jujur.


"Emmmbisakah anda memainkannya lagi. Ku mohon". Ucap Mira dengan mata memohonnya.


"Tentu, kemari lah". Ajak Yash yang langsung duduk memposisikan dirinya di belakang Mira dan menempatkan biolanya di di leher samping kiri Mira.


Tangan Yash pun membimbing tangan Mira dan lalu memainkannya bersama-sama. Keduanya pun hanyut dalam alunan melodi yang nereka mainkan. Dan tanpa sadar Yash pun menempelkan hidungnya di ceruk leker kanan Mira lalu menghirup kuat aroma wangi tubuh Mira.


Mira yang terbuai pun hanya bisa diam seraya merasakan sensasi berbeda dari yang ia rasakan saat ini. Hembusan nafas Yash seolah menggelitiknya dengan perlahan. Saat mereka tengah asyik merasakan sensasi perasaan dari masing-masing. Tiba-tiba saja awan pun berubah menjadi gelap dan petir pun mulai bergema. Membuat Yash dan Mira terkejut dan jari telunjuk Mira pun berdarah terkena senar biola yang tak sengaja ia gesek kuat karena terkejut.


"Awww shhh jari ku". Ucap Mira seraya mengibaskan tangannya dengan gemetar.


Yash yang melihatnya pun langsung memeriksanya dan mengemut jari mira yang berdarah dengan kuat.


"Tak apa sebentar lagi darahnya pasti berhenti keluar. Aku ambil hansaplas dulu ya sebentar". Ucap Yash dan lalu berjalan kearah laci, menyalakan lampu mencari kotak P3K. Setelah ketemu ia pun lalu mengambil hansaplas itu dan menerapkannya di jari Mira yang terluka.


"Hufff sepertinya akan ada hujan badai". Ucap Vikram yang telah sampai seraya menurunkan Raina dari gendongannya.


"Kalau begitu, kak Mira dan kak Vikram menginap saja. Kak Mira tidur dengan ku dan kak Vikram tidur dengan kak Yash". Usul Raina.


"Aku sih tak masalah. Biar nanti aku yang minta izin kepada kakakmu Ra". Ucap Vikram santai dan Mira pun mengangguk pasrah.


"Ya sudah yuk latihan. Dansa dulu ya. Yash kau bisa main pianonya kan. Nadanya yang Ram mainkan kemarin". Ucap Vikram memerinta membuat Yash hanya berdehem saja. Sementara Raina hanya duduk menonton.

__ADS_1


Setelah 1 jam akhirnya dansa itu pun berhasil dengan baik. Kini Mira dan Vikram pun tengah berlatih dence dengan lagu bollywood yang betjudul Panghat .


Dan latihan itu pun berakhir di jam sebelas malam. Yang akhirnya hujan lebat disertai petir tak kunjung reda. Dan pada akhirnya Mira pun diharuskan untuk menginap dengan izin dari kakaknya dan paman Jonathan. Ayah dari Yash sendiri.


__ADS_2