
Pov. Yanna.
Kelemahan orang tua, ada pada anak. Dan kebahagiaan anak, ada pada orang tua. Dan itulah yang aku lihat sekarang serta yang aku alami menjadi orang tua. Bukan aku saja yang mengalaminya, tapi juga Mas Rama. Mengalami yang sama, berperan menjadi orang tua tunggal dari anak yang bukan darah dagingnya.
Untuk pertama kali, aku melihat mas Rama menangis. Untuk pertama kali aku melihat Mas Rama rapuh, tapi mencoba tegar di hadapan sang anak. Dan aku melihat Mas Rama, begitu menyayangi anak yang bukan darah dagingnya.
Sayang yang sangat tulus.
Dan aku beruntung mendapatkan Mas Rama, yang menyukai anak kecil, serta menyayanginya sepenuh hati. termasuk dia yang menyayangi anakku juga. meskipun, Naufal masih sedikit kaku saat bertemu dengannya dan belum mau memanggilnya papa. Mas Rama tetap sabar dan tidak masalah dengan panggilan Om dari bibir putraku.
Rahasia yang selama ini Mas Rama dan mamanya sembunyikan dari Nana, terbongkar tanpa sengaja saat saudara mama kembali mengungkit masa lalu mas Rama. Dan Nana mendengarnya saat dirinya yang akan ke dapur untuk mengambil air dingin.
Nana jelas mendengar semua ucapan saudara Neneknya. mendengar semua cerita masa lalu Mas Rama dan mendengar siapa ayah kandungnya.
Om Ryan, Apa dia orang tuaku pa.
Om Ryan? Siapa pria itu dan apa hubungannya dengan Nana dan Mas Rama. Dan aku melihat jelas perubahan wajah Mas Rama yang memerah saat mendengar nama pria itu. seakan ada dendam dan juga kemarahan yang selalu dia pendam untuk pria yang bernama Ryan.
Ada yang belum aku ketahui tentang Mas Rama dan Ryan.
Aku yang melihat perubahan Mas Rama segera menghampirinya. menyentuh bahu Mas Rama, membuat Mas Rama menoleh ke arahku bersamaan dengan Nana.
" Lagi cerita apa? Mama sampai di lupakan gitu?" Ucapku, berbohong untuk tidak mengetahui apa yang sedang di bicarakan antara anak dan ayah.
" Ini kenapa putri mama nangis? Habis di apakan sama Papa." Ujarku kembali, mengusap pipi Nana yang basah.
" Enggak di apa-apain sama Papa, Ma?" Jawab Nana.
Dan aku mengerti, Nana belum siap untuk menceritakan semuanya padaku. Tapi setidaknya, wajah Nana sudah merasa lega saat mengungkapkan kesedihan dan masalahnya pada Papanya.
" Yakin? Papa gak ngapa-ngapain Nana?" Tanyaku sekali lagi, membuat Nana mengangguk tersenyum.
" Kalau sampai buat putri mama nangis. nih, nih."
" Ampun Ma. Astaga! Sakit." Pekik Mas Rama dengan senyum. Entah memang sakit atau geli, saat aku mencubit gemas dad*nya.
" Mana ada yang sakit." Cibirku setengah menahan senyum. Membuat mas Rama tersenyum menggoda padaku dan beralih mengode mata pada Nana.
Eh.. Apa ini maksudnya?
Tanganku di tarik Mas Rama membuatku terjatuh di kasur dan Anak serta bapak kompak menggelitik pinggangku hingga membuatku menggeliat serta tertawa karena ulah anak dan bapak.
__ADS_1
" Hahaha... Ampun ih ampun! Curang ih!!" Pintaku, hampir menangis tak kuasa gelitikan yang tidak henti-henti dari Mas Rama dan Nana.
" Sekarang giliran Papa!!" Seru Nana, aku pun mengangguk cepat.
dengan Nana beralih sudah menindih tubuh Mas Rama dan mulai menggelitik tubuh Papanya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah berhasil lolos dan membalas menggelitik pinggang Mas Rama.
Sejenak aku bisa membuat anak dan bapak kembali tertawa. melupakan kesalapahaman antara Nana dan Mas Rama.
" Sudah, sudah. Sudah malam." Ucapku, membuat Nana dan Mas Rama menatapku. Dan beralih melihat jam, yang sudah menunjuk angka sepuluh.
" Tidur di kamar Mama dan Papa ya sayang, Adik Naufal sudah tidur di kamar Mama Papa." Pintaku pada Nana.
Tanpa menunggu lama, Nana mengangguk cepat dan tersenyum merekah di bibirnya.
" Ayo Papa gendong. Kasihan Mama, sudah gendong adik tadi." Kata Mas Rama dan menggendong Nana seperti anak koala yang manja. hingga aku gemas, mengacak rambut putriku.
Rasanya sudah tidak perlu lagi di bahas tentang siapa Nana. Sudah berakhir dan tutup untuk memulai cerita yang baru. Dan aku tidak akan memaksa Mas Rama menceritakan siapa Om Ryan dan siapa ibunya Nana. Biarkan Mas Rama yang akan cerita sendiri bila Mas Rama memang sudah siap.
Ranjang yang lebar, cukup untuk kami berempat tidur bersama. Nana di sampingku dan Naufal di samping Mas Rama.
" Selamat malam Ma? Miss you." Ucap Nana tersenyum.
" Selamat malam Nana sayang. Miss you too." Jawabku, mencium kening Nana sambil menepuk-nepuk paha Nana.
" Love you." Ucap Mas Rama, menggenggam tanganku dengan lembut.
" Love you too." Jawabku, dengan mataku yang mulai terpejam sambil membalas genggaman tangan Mas Rama.
Aku terbangun, saat merasakan pergerakan Nana yang ada di pelukan dan tangan Naufal yang memeluk Nana.
Aku tatap jam dinding, masih menunjuk angka dua pagi. Mataku ingin kembali menutup saat aku melihat sisi Naufal yang tidak ada Mas Rama di sana.
Kemana Mas Rama?
Aku membenarkan tidur Naufal, memberi pembatas guling antara Nana dan Naufal. dan menyelimuti tubuh mereka sebelum beranjak dari tempat tidur untuk mencari Mas Rama.
Aku mencari mas Rama di ruang tamu, tidak ada mas Rama di sana dan mencari di ruang keluarga pun tidak ada. Aku menaiki tangga menuju lantai atas dan melihat Mas Rama yang duduk di sofa sambil menyesap sebatang rokok dengan jendela yang terbuka.
" Mas?" Panggilku, membuat Mas Rama menoleh ke arahku.
" Kenapa bangun?" Tanya Mas Rama, mematikan batang rokok masih tersisa banyak saat melihatku yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Aku lihat bungkus rokok yang terbuka dan tinggal satu batang rokok saja di dalamnya dan beralih ke asbak yang terdapat putung rokok begitu banyak.
Mas Rama menghabiskan satu bungkus rokok?
" Tinggal satu, tidak mau di habiskan lagi?" Tanyaku.
Bukan tidak suka, hanya saja aku tidak ingin kesehatan Mas Rama buruk karena rokok yang dapat membunuhnya secara perlahan.
" Sini?" Perintah Mas Rama, menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Aku pun menurut dan duduk di sampingnya, yang bau dengan asap rokok di tubuhnya.
" Bajuku bau rokok ya. Sebentar aku lepas." Ucap Mas Rama setengah meringis. dan melepas bajunya, yang kini bertelanjang dada.
Masih terlihat kentara sedihnya.
Sedikit terperanjat kala kepala mas Rama tidur di pangkuanku. " Aku enggak bisa tidur Yan." Ucap Mas Rama lirih.
" Kenapa?" Tanyaku, sambil mengusap kepala Mas Rama. " Masih memikirkan Nana?"
" Iya. aku juga takut menceritakan Mamanya pada Nana." Jawabnya, sambil menutup mata dan tangan meremas lututku.
" Jangan di ceritakan ke Nana kalau itu sangat menyakitkan. Dan jangan buat Nana semakin marah serta benci dengan ayahnya nanti." Kataku.
" Tapi memang orang itu seharusnya pantas di benci sama anaknya. Karena pria itu sudah membuat ibunya menderita dan meninggal." Jawab Rama dengan nada marah.
Ibu Nana menderita karena ayahnya dan membuatnya meninggal?
" Ibu Nana meninggal, selang dua jam melahirkan Nana." Imbuh Mas Rama.
" Mas?"
" Aku tau? Tak seharusnya aku membuat anak membenci ayahnya. Tapi, aku tidak rela bila suatu saat nanti ayahnya datang dan mengambilnya dari aku. Aku tidak mau itu Yan. Karena dia sudah tidak punya anak lagi saat ini. " Sela Mas Rama.
" Maksud Mas Rama?" Tanyaku yang belum paham ucapan Mas Rama.
" Ayah Nana. adalah kakakku. Dan ibu Nana calon istriku dulu. dia memperkosa ibu Nana di saat mabuk berat. Dan dia tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya, karena dia sudah punya istri dan anak waktu itu." Jawan Mas Rama. Membuatku terkejut mendengarnya.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃