
Meja makan di rumah Mama Rama, kini bertambah dua orang malam ini. Dan kehadirannya sangatlah membuat Mama Rama bahagia. Menantu baru dan juga cucu laki baru.
Mama Rama tidak mempermasalahkan siapa menantunya. Apa statusnya dan bagaimana keluarganya. Yang terpenting hanya satu, menantunya baik. Dan bisa membuat Rama menghilangkan trauma masa lalunya.
Kebahagiaan anak, kebahagiaan ibunya juga. Kesedihan anak kesedihan ibunya juga. Sebab itu Mama Rama, tau benar kesedihan kehancuran dan kebahagian anaknya. Tidak bisa untuk memilih dan membela di antara dua anaknya.
Salah, tentu ada yang salah. Tapi tidak juga harus menyalahkan semua sepenuhnya pada anaknya. Bukan berarti membela kesalahan, hanya saja ingin menjadi penengah di antara anak-anaknya yang sudah renggang persaudaraan. Dan juga tidak akan menyalahkan pihak ke tiga atas kerenggangan di antara anak-anaknya.
Sifat anak tidak akan ada yang sama meskipun sedarah, tapi rasa sayang masih tetap sama. Hanya saja gengsi untuk mengungkapkannya.
Malam ini, Mama Rama melihat Rama yang dulu. Melihat wajah ceria putra bungsunya lagi, melihat tawa lepas tanpa paksaan dan juga nyamanya saat bersama dengan wanita yang sudah menjadi istrinya.
Anaknya kembali tersenyum, anaknya kembali ceria dan anaknya kembali merasakan bahagia. Ibu mana yang tidak terharu melihat anaknya sudah bahagia dengan hidup barunya sekarang. Semua ibu pasti merasakan bahagia, Seperti Mama Rama sekarang, turut bahagia dengan kehidupan putra bungsunya yang sekarang.
Berharap dan berdoa, semoga ke depannya nanti tak akan ada masalah berat dalam kehidupan Rama yang baru. Semoga menantunya akan tetap setia menemani putranya hingga menua bersama.
Dan kini hanya tinggal satu permasalahan, dan juga keinginannya. Ingin memperjuangkan putra-putranya rukun kembali seperti dulu.
Semoga ada keajaiban.
" Ma? besok pagi, aku mau bawa Yanna ke rumah barunya. Sekalian ngambil baju-bajunya di kostnya dulu." Kata Rama.
" Naufal sama Nana jangan di ajak, biar di sini temani mama. sebelum kalian pindah dari rumah Mama, mama pengen habiskan waktu sama cucu." Kata Mama Rama.
" Ma? Rumah Yanna gak terlalu jauh dari rumah mama? Yanna sama anak-anak pasti akan ke rumah mama setiap hari."
" Mama tau? Tapi ya pasti sepi lagi kalau mereka gak tidur sini." Jawab Mama. Membuat Rama dan Yanna terdiam.
Bukan maksud Rama untuk meninggalkan mamanya sendiri di hari tuanya. Bukan, Hanya saja dirinya ingin mandiri dengan istrinya di impiannya dulu. Dan ingin keluar dari rumah orang tuanya saat dirinya sudah mempunyi rumah sendiri.
Apa dirinya egois, meninggalkan mamanya sekarang. Rasanya memang dirinya egois, seperti mementingkan diri sendiri. Tanpa mempedulikan mamanya lagi. Dulu, mama selalu ada untuknya, selalu ada di saat senang maupun sedih. Di saat dirinya rapuh, mama membangkitkannya, memberikan pengertian dan memberikan dukungan apapun yang dirinya lakukan. Agar tidak terlalu larut dalam masalahnya.
Yanna, sebagai menantu bisa juga merasakan kesedihan ibu mertuanya. Merasakan bagaimana di tinggal sendiri tanpa anak di sisinya. Bila ibunya ada Sigit yang menemaninya, lantas Ibu mertuanya dengan siapa? Dengan para pekerja di rumah. Sungguh keterlaluan, menitipkan ibu mertuanya pada para pekerja rumah. Seperti menantunya tak mau menerima kehadiran ibu mertua, tak mau merawatnya dan tak mau tinggal bersamanya.
" Aku ke kamar dulu Ma?" Pamit Rama, selesai sarapan pagi dan pergi menuju anak tangga untuk ke kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
" Nana habiskan ya makannya. Naufal juga?" Ucap Yanna, membuat dua anaknya mengangguk mengerti. Melanjutkan makan dalam diam.
Menatap ibu mertuanya yang diam dan masih mengaduk makanannya. " Ma?" Panggil Yanna. membuat mama mertua menatapnya.
" Aku bujuk Mas Rama dulu ya ma. biar aku, Nana dan Naufal bisa tinggal di sini sama mama." Kata Yanna.
" Kamu mau tinggal sama Mama mertua?" Ucap Mama Rama sedikit tak percaya.
" Hhmm, Iya. Aku mau tinggal sama mama." Jawabnya yakin. dan seulas senyum harapan mengembang di bibir Mama Rama.
Entah ini benar atau salah. Tapi setidaknya di coba dulu tinggal bersama mertua, apa susahnya. Mama Rama menerimanya dengan tangan terbuka dan sayang padanya. Bukankah seharusnya dirinya membalas kebaikan mama mertuanya dan menganggapnya sebagai orang tuanya sendiri.
Yanna masuk ke dalam kamar Rama dengan Rama yang sudah menunggunya duduk di sudut dekat jendela kamar. Tidak perlu kagum lagi, bagaimana luasnya kamar Rama. Kamar bernuansa putih, kasur super king, kamar mandi dalam, pendingin ruangan dan lemari tiga pintu menjulang tinggi.
" Mas?" Panggil Yanna, membuat Rama menoleh tersenyum ke arahnya dan menariknya untuk duduk di pangkuannya.
Memeluk Yanna dan menyandarkan kepalanya di dad* istrinya sambil menutup mata seperti ini, membuatnya kecanduan. Entah mulai kapan dirinya menyukainya.
" Nanti anak-anak masuk Mas?" Tegur Yanna.
" Makanannya gak di habiskan tadi? Gak suka?" Tanya Yanna, sambil mengusap punggung suaminya. Yang berbeda sifat saat berdua dengannya.
Manja.
" Sudah kenyang." Jawab Rama. " Kamu kenapa ke kamar, makanan kamu sudah habis." Tanyanya, yang mulai menatap istrinya.
" Masih tinggal banyak malahan."
" Kenapa gak di habisin?" Sambil mengerutkan kening.
" Maunya aku habisin, tapi lihat suamiku gak habis makan, aku jadi gak mood makan juga. Kalau di lihat Naufal pasti bilang gini, 'Nanti ayamku mati kalau gak di habiskan makannya Pa?" Tiru Yanna ucapan anak lelakinya.
" Ya sudah sebelum mati, aku sembelih dulu ayamnya. Bisa di makan kan."
" Eh! Enak aja di sembelih. Ayam kesayangan anak kamu itu." Seru Yanna, membuat Rama tertawa.
__ADS_1
" Mas?"
" Hhmm." Gumam Rama.
" Kita tinggal di rumah mama saja ya? Kasihan kalau mama sendirian di rumah. Aku gak tega, mama kesepian tanpa anak sama cucu-cucunya." Kata lembut Yanna. membuat Rama sedikit berpaling darinya dan menghembuskan nafas berat.
" Kenapa? Mas enggak ma-,"
" Bukan aku gak mau tinggal sama mama, Yanna?" Potong Rama cepat.
" Terus kenapa?"
" Masih ada kakakku yang akan pulang ke rumah ini. Aku tau dia juga ingin tinggal sama mama."
" Apa masalahnya mas?"
" Masalahnya, aku enggak ingin tinggal satu atap sama dia. Walaupun sekedar menginap atau selamanya di rumah mama. Meskipun aku tau dia sudah berubah." Jawabnya.
Masih ada rasa luka yang sulit sekali untuk di obati, meskipun sudah memaafkannya. Tetap saja masih membekas di hati.
Yanna yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa mengerutkan kening. Apa maksud yang di ucapkannya.
Tidak mau satu atap dengan kakaknya?
Apa ada masalah di antara kakak dan adik. Apa sebegitu besar masalahnya. Sungguh, Yanna ingin sekali bertanya lagi tentang masalah suami dan kakaknya itu apa. Tapi dirinya tidak berani saat melihat perubahan wajah Rama yang mengeras saat membahas dirinya dan kakaknya.
Tak ingin menjadi bomerang dalam rumah tangga yang baru saja di mulai. Yanna mengusap d*da Rama dengan lembut untuk menenangkan hatinya yang mulai panas. Dan tak lupa memberikan kecupan manis di bibir suaminya. Hingga membuat suaminya menahan tengkuk lehernya dan menyesap bibirnya lebih lama. Hanya ini yang bisa memedamkan amarah suaminya.
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃