
Pagi harinya Mira pun terbangun dengan rasa lapar yang luar biasa pada perutnya dan ia pun berjalan menuju ke dapur setelah mencuci muka dan menggosok gigi.
Dilihat bahan makanan yang tersedia sudah habis. Roti tawar dan selai pun sudah kosong. Mira pun menghela nafas dengan lelah.
"Ke mini market apa yah yang buka 24 jam. Beli roti tawar, selai, mie, susu, telur, sama yogurt. Hemmm naik si merah ahh, sudah lama ngga jalan sama si merah".
Batin Mira dengan melangkah mengambil jaket mengganti baju oblong dan celana trening serta dompet kecil.
Mira pun melangkah keluar dengan ringan dan mengeluarkan si merah dari garasi. Motor metic miliknya keluaran lama tahun 2015. Setelah itu Mira pun membuka pintu garasi dengan pelan dan membuka pintu gerbang lalu melajukan motornya sebentar sampai keluar gerbang setelahnya menutup gerbang kembali.
Setelah memastikan pintu gerbang tertutup rapat Mira pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang sembari menghirup udara pagi buta yang terasa segar.
Saat di jalan raya Mira pun melajukan motornya dengan hati-hati karena meskipun pagi buta jalanan yang Mira lewati masih tergolong ramai lancar.
Sementara Yash yang baru pulang dari klub malam pun tengah menyenderkan kepalanya merasa pusing akibat terlalu banyak meminum minuman beralkohol guna menghilangkan rasa setres di fikirannya.
"Rumah sialan keluarga bangsat !". Racau Yash dengan setengah sadar.
Memang semalam saat ia pulang dari mengantar Mira. Ia melihat pertengkaran yang selalu di perbuat oleh kedua orang tua ayahnya, ibu tirinya, dan ayahnya mengenai Raina dan dirinya.
"Sampai kapan aku bisa membuat manusia-manusia pembuat masalah itu hilang. Aaarrghhhh SIALAN !". Racau Yash lagi dengan penuh amarah.
Sementara sang supir pribadi dan Jio pun hanya bisa diam mendengarkan racauan sang tuan muda. Sejujurnya Yash bisa mencari ketenangan dan kebahagiaanya sendiri dengan tinggal di apartemen miliknya. Hidupnya bebas tanpa kekangan dan tuntutan. Apa lagi nasihat-nasihat gila dari kakek neneknya. Dia hanya ingin menjadi manusia yang hidup sederhana tanpa ada keributan.
Adanya Yash dirumah besar itu juga karena Raina. Dia merasa tidak bisa meninggalkannya di rumah besar itu. Apa lagi ada kakek nenek dan ibu tirinya yang sangat berambisi sekali untuk menyingkirkannya. Pikirannya tak tenang jika harus meninggalkan Raina terlalu lama.
Seperti contohnya tadi malam. Raina ditemukan hampir tenggelam dikolam renang akibat perbuatan ibu tirinya. Beruntung adik tirinya Jasson melihat Raina yang kesulitan berenang diair akibat kakinya yang tidak bisa dibolehkan untuk bergerak sementara dan menyelamatkannya. Jika tidak entah apa yang bakal terjadi kepada Raina.
Yash yang mendengarnya pun sangat murka kala itu dan bertengkarlah ia dengan ibu tirinya yang masih saja tidak mengakui perbuatannya. Dan kakek neneknya pun selalu membela serta mendukung apa yang diblakukan oleh menantunya itu.
Sementara sang ayah pun hanya bisa marah tanpa bisa mengambil tindakan apapu. Dan itu sangat Yash benci. Ayahnya terlalu lemah jika sudah berhadapan dengan orang tuanya. Berbeda jika tengah berhadapan dengan orang lain.
Saat motor Mira melewati mobil Yash dari samping tepat dimana Yash tengah melihat jalanan kota dengan muka merah padam. Saat itu pula Yash seperti menemukan sebuah obat penawar di kala amarahnya yang memuncak. Melihat wajah segar Mira yang tengah berkendara menembus jalan membuat Yash merasa sesikit tenang.
Dengan tatapan tajam menusuk Yash memandang Mira intens. Namun fikirannya pun mencoba untuk menepis penglihatannya.
"Tidak mungkin itu dia. Sepertinya aku terlalu banyak minum". Batin Yash berucap.
"Jio...". Ucap Yash memanggil.
"Ya tuan muda".
Sahut Jio dengan melihat kearah Yash dan sedikit terkejut saat melihat wanita yang tengah berkendara di samping mobil tuan Yash itu adalah Mira.
"Bisa kebetulan gini". Pikir Jio.
"Wanita yang mengendarai motor ini Mirip dengan Mira. Hhhhh aku rasa terlalu banyak minum kali ini". Ucap Yash seraya terkekeh di akhir kalimat.
"Itu memang nona Mira tuan". Ucap Jio membenarkan.
Yash pun kembali tertawa kali ini tawanya meledak seperti orang gila namun terasa mengerikan di telinga.
"Khauu ini...Buat apa dia keluar di tengah pagi buta Jio. Kau pun sama sepertinya denganku terlalu banyak minum". Ucap Yash merasa tidak percaya.
"Anda yang paling tahu tuan. Seberapa banyak saya minum". Ucap Jio dengan kalem.
"He..Lebih banyak aku". Ucap Yash dengan meracau.
Setelah motor Mira melaju melewati mobil Yash dan meninggalkannya. Yash pun merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Sehingga tanpa sadar Yash pun berucap kepada sang supir.
"Ikuti dia". Ucap Yash seraya menendang kursi sang supir dengan keras.
"Baik tuan". Ucap sang supir denfan hormat.
Hal ini pun membuat Jio sedikit khawatir. Masalahnya Yash si tuan muda itu sedikit bar-bar jika sedang mabuk. Dan Jio kali ini berharap semoga saja sang tuan muda tidak melakukan kesalahan fatal.
Mira pun membelokan motornya kearah mini market dan mengambil parkir di sana. Setelah itu ia pun turun dari motornya dan berjalan hendak memasuki mini market. Namun langkahnya terhenti saat ada seseorang yang mencekal pergelangan tangannya dengan kuat membuat Mira sedikit terkejut dan mengaduh.
"Aww..! Tangan ku...". Teriak Mira dan sedikit menahan ucapannya saat melihat Yash lah yang mencekal pergelangan tangannya.
"Tuan..!!!". Seru Jio dari jauh.
Membuat Mira menengok kearah Jio yang terlihat khawatir kepada Mira dan tuan mudanya.
"Tuan Yash". Sapa Mira dengan sedikit menahan nyeri.
"Sedang apa kau disini". Ucap Yash dengan tatapan dingin menusuk.
"Saya....Merasa lapar tuan Makannya saya ke mini market ini untuk membeli beberapa makanan". Ucap Mira dengan jujur dan sedikit takut akan sikap Yash kali ini.
Mendengar perkataan Mira serta raut wajah Mira yang sedikit ketakutan akhirnya Yash pun mengendurkan cengkraman tangannya dan menunduk lesu.
"Ada apa tuan, anda baik-baik saja ?".
Tanya Mira dengan penasaran. Setelah melihat mata Yash yang sedikit memerah dan sayu serta bau alkohol yang menguar di mulutnya.
Yash pun memandang Mira dengan tatapan tak terbacanya dan dengan reflek mengarahkan tangan kanannnya kearah leher samping kiri Mira dan menariknya kedepan. Membuat Mira sedikit terhuyung kedepan membentur dada bidang Yash dan terdiam saat tangan kiri Yash melingkari pinggang Mira dan memeluknya dengan erat serta menghirup aroma wangi khas Mira yang terasa berbeda meskipun telah bangun tidur.
"Tuan Apa Yang...". Ucap Mira dengan raut terkejut di pelukan Yash.
"Bisa kau temani ku makan pagi ini". Ucap Yash di pelukan Mira.
Kali ini Mira yakin apa yang dilakukan Yash pasti mengundang ketertarikan pada orang-orang yang berlalu lalang. Ini akan jadi tontonan bagi mereka dan menganggap jika Mira dan Yash adalah sepasang kekasih.
"Anda ingin makan apa tuan. Tapi sebelumnya tolong lepaskan dulu ini". Ucap Mira dengan sedikit berusaha melepaskan pelukan Yash.
"Yang menurutmu enak saja". Ucap Yash seraya melepas pelukannya pada Mira.
Mira pun mulai berfikir makanan apa yang buka di jam lima pagi seperti ini. Karena rencana Mira hanya membeli makanan saja untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Mira pun melihat tempat duduk kosong di depan minimarket yang berfungsi untuk tempat nongkrong anak-anak muda. Dan Mira pun dapat ide.
"Bagaimana jika kita beli sesuatu yang mengenyangkan dan pas di makan waktu pagi sambil duduk disana". Ucap Mira seraya menunjuk kearah tempat duduk yang du maksud oleh Mira.
__ADS_1
Yash pun menengok kearah yang di tunjuk Mira dan ia pun merasa tertarik untuk merasakan lagi makan di tempat terbuka seperti itu. Sudah lama ia tidak melakukan hal semacam itu.
"Ya sudah, ayo kita beli makanan ke dalam". Ucap Yash sersya merangkul bahu Mira dan menggiringnya untuk masuk kedalam.
Saat sudah didalam mini market. Mira pun berinisistif untuk mengambil keranjsng belanjaan namun gerakannya terhenti saat Yash ysng melskukannya duluan. Mengambil keranjang belsnjaan lebih dulu.
Namun Mira merasa was-was akan cara jalan Yash yang terlihat tidak beraturan dan ingat jika bisa,saja sang tusn muda tengah mabuk berat.
Dan dengan tiba-tiba bahu Mira pun di tepuk oleh seseorang dari belakang. Saat Mira menengoknya ternyata itu adalah Jio sang asisten pribadi Yash.
"Tuan muda sangat mabuk berat nona. Tolong bantuannya. Bawa saja tuan duduk di sana". Tunjuk Jio kepada tempat duduk yang tadi Mira tunjuk kepada Yash.
"Biar nanti saya yang akan membelikan banyak makanan untuk anda dan tuan muda. Anda tinggal bilang saja apa yang anda inginkan". Ucap Jio dengan sopan.
"Baik lah tuan Jio. Saya hanya ingin yogurt, air mineral dua botol, roti isi, selai, beberapa bungkus mie, beberspa botol susu segar dan telur satu kilo". Ucap Mira memberi tahukan pesanannya kepada Jio.
"Baik nona Mira. Tolong panggil saya Jio". Ucap Jio dengan sopan membuat Mira mengangguk mengertI.
Jio pun akhirnya bergegas memgambil pesan yang diinginkan Mira dan untuk tuannya. Sedangkan Mira langsung menghampiri Yash yang tengah berdiri sempoyongan memamdangi deretan minuman soda.
"Tuan muda". Panggil Mira dengan lembut.
Merasa ada yang memanggilnya secara samar-samar Yash pun akhirnya menengokkan kepala kearah sumber suara. Dan setelah melihat dengan kepala pening Yash pun akhirnya merangkul bahu Mira dengan sempoyongan. Membuat Mira sedikit ikut terhuyung menahan bobot berat tubuh Yash yang seperti kingkong baginya.
"Kau ingin minuman apa hmm ?". Tanya Yash dengan suara paraunya.
"Jio yang akan mengambilkannya tuan. Sekarang lebih baik kita duduk saja di tempat duduk yang tadi saya tunjuk". Ajak Mira kepada Yash.
Yash pun akhirnya mengangguk dengan wajah tersenyum bodoh akibat pengaruh minuman beralkohol. Dan akhirnya mereka pun duduk di tempat duduk luar minimarket.
Yash duduk dengan posisi kepala menyadar pada sandaran kursi dengan tangan terkepal yang ia taruh di atas kening. Yash merasa pusing akibat terlalu banyak minum semalam.
Semrntara Mira hanya melihat Yash dengan raut prihatin sekaligus khawatir. Melihat muka Yash yang memerah dan bibir pucat kering. Sangat jelas sekali jika Yash perlu meminum air putih yang banyak.
"Kau tahu Mira....". Ucap Yash madih dengan posisi yang sama.
Mendengar ucapan Yash yang seperti akan memulai bercerita ia pun mulai memperhatikan Yash dengan raut penasaran.
"Semalam aku merasa sangat kesal mendengar seseorang yang aku cintai diperlakukan buruk oleh perempuan licik itu. Dan sialnya aku terlambat menolongnya. Aku tidak bisa membantunya saat itu aku sedang tidak ada di tempat. Amarahku langsung memuncak. Rasanya...Aku ingin sekali mematahkan leher wanita licik itu". Ucap Yash dengan suara dinginnya.
Ia lalu membuka matanya dan memposisikan duduknya dengan tegap dan pandangan mata yang lurus menatap kemanik mata Mira yang terlihat tenang untuk Yash selami.
"Semenjak kehadirannya di kehidupan ku. Wanita itu telah merubah segalanya. Ketenangan, kehangatan dan keharmonisan. Semua hilang karenannya. Aku telah kehilangan dua wanita berharga dalam hidupku. Dan sekarang wanita berharga satu-satunya dalam hidupuku juga akan dia hilangkan". Ucap Yash dengan tatapan mata terlukanya.
Ucapan Yash dan ungkapan rasa sedihnya membuat Mira sedikit tersentuh. Ia pun reflek menggenggam tangan Yash dan mencoba memberikan kekuatan melalui sentuhanya. Dan perlakuan Mira yang menyentuh tangan Yash secara tiba-tiba membuat Yash merasakan gelenyar aneh pada tubuh dan jantungnnya. Tangan hangat Mira seolah mampu menyalurkan hawa hangatnya sampai kerelung hati Yash. Membuat Yash sedikit menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan dengan mata tertutup.
"Tuan...". Panggil Mira dengan lembut.
Memdengar suara lembut Mira, Yash pun langsung membuka matanya merasa tersadar akan kenyamanan yang Mira berikan padanya. Yash pun akhirnya melihat kearah Mira dengan tatapan sayunya.
"Sungguh mengapa aku menjadi ingin tertidur karenanya".
Batin Yash merasa bingung dengan perlakuan sederhana Mira yang mampu membuatnya merasa setenang ini. Rasanya semua amarah, kekesalan dan bencinya menguar begitu saja.
"Jika boleh saya beri saran, lebih baik fokuslah kepada orang yang menurut anda berharga dalam hidup anda. Masalah perempuan licik itu sejujurnya bisa anda atasi asal anda fokus kepada orang-orang yang berharga intuk anda. Karena jika anda fokus semua yang anda anggap masalah bisa anda atasi". Ucap Mira denga tersenyum.
"Janganlah anda mengotori tangan anda tuan. Tangan anda terlalu berharga begitu pun dengan diri anda. Anda sangat berharga untuk orang-orang yang anda sayangi dan menyayangi anda". Ucap Mira dengan tersenyum.
Dan entah mengapa kata-kata Mira sangat berkenan di hati Yash. Seolah sebuah mantra yang ampuh. Suasana hati Yash pun seolah membaik dan terasa tenang. Perssaan ini sangat Mirip ketika ia tengah mengadukan rasa kesal dan keluh kesahnya kepada mendiang ibu sambungnya dulu.
Mira pun tersenyum saat melihat Yash tersenyum dengan senang. Sepertinya sang tuan mudanya itu sudah terlihat membaik suassna hatinya. Hal itu pun sukses membuat Mira merasa bersyukur dan senang. Setidaknya ia bisa berguna walaupun sedikit.
"Maaf nona dan tuan Yash ini pesanan anda". Ucap Jio dengan sopan.
Yash dan Mira pun akhirnya menengok kearah Jio yang tengah membawa tiga kantung besar keresek putih berisikan makanan, minuman dan pesanan Mira.
Mira yang mulai tersadar dan merasa canggung akan sikapnya yang menggenggam tangan sang tuan muda dengan tiba-tiba pun mulai melepas genggamannya. Namun entah mengapa seolah tak rela dengan genggaman yang perlahan terlepas. Yadh pun menarik kembali tangan Mira dan menggenggamnya dengan erat. Membuat Mira,sedikit terkejut dan sang asisten yang bernama Jio sedikit tersenyum senang.
"Sepertinya nona Mira telah berhasil mengambil hati tuan Yash. Semoga ia juga bisa membuat tuan muda luluh". Harap Jio dalam hatinya.
Dengan mata yang seolah bertanya Yash pun memberi kode kepada Jio untuk menjelaskan apa saja yang ia bawa. Jio yang hafal betul dengan kode dari sang majikan pun mulai memberi tahu.
"Ada beberapa bungkus roti, cemilan, dua botot air mineral, beberspa botol yogurt dan susu segar, serta telur satu kilo milik nona Mira tuan". Ucap Jio memberi tahu.
Yash pun merasa aneh dengan telur satu kilo yang Jio ucapkan. Ia pun menengok kearah Mira dan menatapnya dengan pandangan bingung.
"Sebenerannya tadi saya terbangun dengan rasa lapar yang luar biasa tuan. Saat saya melihat kedapur ternyata semua bahan makanan habis. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar ke mini market buat beli roti gandum, selai, telur, dan susu segar untuk sarapan". Ucap Mira menjelaskan.
Yash pun akhirnya tersenyum lucu melihat ekspresi Mira yang terlihat lucu serta kekonyolannya yang memang seperti tiada batas.
"Lain kali, jika lapar ada kan aplikasi gofood. Kamu bisa pesan disana. Itu selain peraktis juga aman buatmu. Dari pada harus keluar pagi-pagi buta begini. Jika terjadi sesuatu denganmu bagaimana".
Ucap Yash dengan ekspresi seperti menahan senyum saat melihat ekspresi bodoh Mira yang baru tersadar akan ucapannya Yash tentang gofood.
"Ya tuhan, aku ingin tenggelam saja". Batin Mira dengan raut memelasnya.
Tengah asyik dengan rasa malunya yang luar biasa tiba-tiba satu botol yogurt dingin mendarat di pipi gembul Mira membuat Mira merasa terkejut dan memelototkan matanya merasakan dinginnya botok yogurt rasa stroeberry yang Yash tempelkan di pioi Mira.
"Tuan...". Ucap Mira dengan sedikit merengut.
Yash pun terkekeh melihat kekesalan yang Mira perlihatkam kepada Yash yang disebabkan oleh ulahnya itu. Entah mengapa rasanya sangat lucu dan menyenangkan.
"Salah siapa melamun".
Ucap Yash dan membuka tutup botol yogurt rasa strawberry itu dan memberikannya kepada Mira.
"Minum lah". Ucap Yash kepada Mira.
Mira pun menerimanya dengan sedikit canggung dan teringat jika dulu Erlangga pun selalu seperti Yash. Saat mereka tengah meminum sesuatu Erlangga selalu saja mengambil botol minum duluan. Membuka tutup botol itu dan menyerahkannya kepada Mira.
"Terima kasih tuan". Ucap Mira dengan lembut dan meminumnya.
Yash pun masih setia melihat Mira yang tengah meminum yogurt. Entah mengapa Mira terasa sangat seksi jika tengan meminum dari botol membuat fikiran Yash sedikit traveling dibuatnya.
__ADS_1
Yash pun membuka satu bungkus roti sisir dan menyerahkannya lagi kepada Mira untuk di makan dan Mira pun menerimanya dengan canggung.
Baru setelah itu Yash meminum satu botol air mineral dengan rakus dan tandas. Namun cara minum Yash yang seperti iklan susu untuk peria itu seolah membius mata semua wanita yang ada disana termasuk juga Mira ysng seolah tersihir dengan Yash.
Mira pun menelan satu potong besar roti sisir yang ada dimulutnya dengan bulat-bulat dan susah payah. melihat cara minum Yash yang mengajak fikirannya untuk kemana-mana. Apalagi saat melihat jakun Yash yang naik turu dengan seksi.
Dan semua kelakuan Yash dan Mira ditonton dengan puas oleh sang asisten Yash. Ia pun tersenyum lucu dan meninggalkan Yash dan Mira untuk saling mendekati satu sama lain.
Yash pun menghela nafas panjang seusai menghabiskan satu botol air mineral itu. Dan Mira pun mulai menormalkan ekspresi mukanya saat tersadar akan keterpanaanya itu.
"Apa itu enak ?".
Tanya,Yash dengan menunjuk roti yang tengah Mira makan. Mira pun mengangguk menjawab pertanyaan sang tuan muda.
"Coba..".
Ucap Yash seraya menarik tangan Mira yang tengah memegang roti sisir yang baru ia makan sepotong.
Apa yang dilakukan Yash pun sukses membuat Mira melotot melihat Yash yang menarik tangannya dengan cepat dan memakan roti bekas gigitannya itu.
"Enak..".
Ucap Yash dengan tersenyum lucu dan mengambil satu bungkus roti sisir yang baru. Membukanya dan memakannya.
Lama mereka terdiam dengan fikiran masing-masing dan dengan makanannya. Setelah kenyang Mira pun melihat Jam tangannya yang sudah menunjukan angka enam itu.
"Sudah jam enam pagi tuan, saya pamit pulang dulu. Belum bikin sarapan buat orang rumah sama siap-siap berangkat kerja". Jelas Mira kepada Yash.
"Biar saya antar". Ucap Yash dan berdiri.
"Tidak tuan terimakasih. Anda pasti lelah dan butuh istirahat. Saya juga bawa motor sendiri". Tolak Mira dengan lembut.
"Ya sudah, hati-hati dijalan". Ucap Yash dengan tersenyum.
"Siap laksanakan". Ucap Mira dengan terkekeh.
Mira pun membawa satu kantung belanjaannya namun Yash memintanya untuk membawa semua kantung plastik berisikan makanan dan cemilan itu.
"Bawa saja semua. Dirumah besar masih banyak makanan". Perintah Yash tanpa bantahan. Membuat Mira lagi-lagi tersenyum canggung.
"Ini terlalu banyak tuan". Ucap Mira dengan terkejut.
"Memangnya kenapa. Kurang, mau di tambahin ?". Tanya Yash dengan santai.
"Ti...Tidak tuan". Tolak Mira dengan gugup.
"Ya sudah". Ucap Yash dengan tersenyum lucu.
Yash pun mendekat kearah Mira yang masih derduduk dan berbisik di telinga Mira dengan lembut seraya memegangi leher belakang Mira.
"Bawa saja, buat stok saat kau merasa lapar. Agar kau tidak keluyuran lagi di pagi buta atau tengah malam. Bahaya, saya tidak suka". Bisik Yash di telinga Mira. Membuat Mira sedikit merona malu.
Yash pun menjauh kan tubuhnya dari Mira dan mulai membereskan kantung keresek yang terletak di atas meja lalu membawanya kearsh motor Mira.
Setelah berada tepat di motor metik merah Mira, Yash pun mulai memposisioan semua kantung. Ada yang di tengah, ada di bagasi motor dan samping motorvyang Yash gantungkan pada bagasi motor.
"Waduuhh ko aku ngerasa kaya lagi ngeborong. Asli semua ini setengah dari gajih ku".
Ucap Mira dalam hati. membayangkan berapa total semua makanan yang Yash berikan padanya.
"Lain kali pakai helem ya. Buat keselamatan". Ucap Yash dengan mengacak rambut Mira yang telah duduk di atas motor dengan gemas.
"Iya tuan, saya permisi dulu. Selamat pagi tuan". Ucap Mira seraya melajukan motornya.
Yash pun melambai dengan tersenyum dan berubah menjafi raut dingin saat jio menghampirinya.
"Ikuti dia". Ucap Yash seraya berjalan menuju mobilnya.
"Baik tuan ". Ucap Jio dengan sopan.
Sast sudah memasuki mobilnya Jio pun memerintahkan sang supir untuk mengikuti Mira dari jauh. Sejujurnya Yash merasa khawatir mengingat luka tembak Mira yang belum sembuh total.
Setelah beberapa menit Mira pun sampai di rumah kakak iparnya dan langsung masuk untuk menaruh barang belanjaanya di dapur.
Yash yang sudah memastikan Mira pulang dengan selamat pun akhirnya memerintahkan sang supir untuk mrlajukan mobilnya kembali pulang. Saat di mobil Yash pun sudah merasa yenang dan ia pun tertidur dengan damainya menuju alam mimpi.
Sementara Mira yang sudah rapih dengan pakaian kerja pun bergegas membuatkan omelett untuk sarapan bersama dan susu segar.
Beberapa menit kemudian Royan, Mayya dan kedua anaknya pun turun dengan pakaian masing-masing. Royan dengan setelan kantornya, Mayya dengan dres selutut warna biru mudanya dan kedua anak mereka dengan seragam sekolahnya.
"Selamat pagi semua". Sapa Mira dengan semangat.
"Pagi kak". Sapa Lili.
"Pagi tante". Sapa Ayub.
"Pagi Ra". Sapa Maya dan Royan.
Mereka pun duduk dan memulai sarapannya dengan khidmat.
"Tadi pagi kamu kemana Ra ?". Tanya Royan dengan santainya.
"Emmm membeli bahan makanan kak. Maaf ya engga pamit. Takut belum pada bangun". Ucap Mira merasa tak enak.
"Ooo iya kakak lupa belanja soalnya". Ucap Mayya dengan terkejudnya.
"Nanti belanja ya sayang uang bulanannya udah mas transfer. Jangan sampai lupa". Ucap Royan.
"Iya Mas". Ucap Mayya dengan tersenyum.
"Kalau cemilan engga usah beli kak. Aku ada banyak soalnya cukuo buat sebulan kayaknya". Ucap Mira memberi tahu.
"Lah tumbe ra ?".
__ADS_1
Ucap Mayya merasa heran. Namun Mira hanya tersenyum bodoh menanggapi pertanyaaan sang kakak.
Akhirnya setelah selesai sarapan Mira pun berangkat duluan dengan membawa satu kantong sedang pelastik putih yang berisikan makanan untuk ia makan sebagai bekal makan siang dan makan bersama teman-teman kerjanya.