
Sabtu pagi di pertengahan bulan adalah hari terindah bagi seorang Miranda. Bagaimana tidak, setelah menjalani masa rutinitas kerja yang sialnya kian bertambah berat. Akhirnya masa libur kerja bagi Mira pun tiba.
Ya, di butik madam Ghina selalu memberlakukan libur dua hari untuk semua pekerja secara bergantian. Satu bulan bisa dua kali libur bisa juga satu kali.
"Ra sudah jam delapan pagi nih. Bangun sarapsn dulu. Inget loh kamu punya magh pinter-pinter jaga kesehatan". Ucap Mayya sang kakak seraya membuka gorden jendela kamar Mira.
"Umhhh...Aku masih ngantuk ka". Ucap Mira dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Ya sarapan dulu, setelah itu tidur lagi. Yang penting lambung kamu terisi Ra". Ucap Mayya bersikukuh.
Mira yang tahu betul akan sifat sang kakak perempuannya yang pantang menyersh itu pun mulai mengumpulkan energinya untuk segera bangun. Sungguh keinginan Mira saat ini hanyalah tidur sepanjang hari dengan puas. Namun apa lah daya. Sang kakak benar. Jika perutnya tidak diisi apa pun bisa-bisa magh nya kambuh dan itu akan merepotkan nanti. Mengingat semalam ia pun pulang kerja larut karena lembur.
"Kakak tunggu di meja makan. Bangun loh jangan tidur lagi. Inget sarapan". Ucap Mayya mengingatksn.
"Iya kak". Sahut Mira dengan suara lemasnya.
Mira pun mulai beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mandi pagi agar dapat menyegarkan badanya.
"Ufff semalam aku juga tidak mandi. Rasanya capek banget jadi ketiduran". Lirih Mira dengan suara sayunya di depan cermin wastafel.
Setelah selesai dengan mandi paginya dan berpakaian santai dengan celana trening hitam yang memiliki garis putih di samping kanan kiri serta kaos lengan pende bergambar love berwarna putih dengan tatanan rambut terurai dan makeup natural tipis-tipis.
Sesampainya di meja makan sudah terdapat Mayya yang tengah menyiapkan sarapan dan Royan yang tengah asyik bermain game menemani kak Mayya.
"Pagi kak May dan kak Roy". Sapa Mira lalu duduk di kursi makan.
"Pagi Ra". Sahut Mayya dan Royan secara bersamaan.
Mira pun mulai mengambil satu gelas air putih dan meminumnya sampai tandas. Lalu ia pun mulai memgambil satu buah pisang ambon di piring buah.
"Ayub sama Lili mana ?". Tanya Mira seraya mengupas kulit pisang.
"Ayub tadi ada acara sepeda santai bareng teman-temannya. Kalau Lili lagi sama oma opa nya ke taman bermain". Sahut Mayya memberitahu.
"Dan kalian berdua pasti asyik pacaran". Batin Mira dengan tersenyum simpul.
"Semalam pulang jam berapa Ra ?". Tanya Royan dengan fokus menatap ponselnya.
Mira yang tengah menghabiskan buah pisang itu pun buru-buru menelannya dengan rakus dan berucap.
"Jam sembilan kak. Maaf terlambat pulangnya. Soalnya ada lembur buat ngegantiin dua hari libur kerja. Juga lagi banyak banget stok fashion terbaru yang harus diurus kak". Jelas Mira kepada sang kakak ipar.
"Iya, kakak sampe pegel nungguin kamu engga pulang terus kamu makan engga semalem ?". Tanya Mayya seraya menaruh satu piring nasi goreng sosis sayur kesukaan Mira.
"Engga kak. Aku capek banget jadi cuma ganti baju cuci kaki sama muka terus tidur". Ucap Mira memberitahu.
"Maaf ya semalem kakak engga tahu kamu pulang jadi engga sempet ingetin kamu buat makan malam". Ucap Mayya seraya menaruh satu piring roti isi di depan Royan.
Mira pun hanya tersenyum maklum menanggapi ucapan sang kakak. Bagai mana tidak. Jika saat pulang Mira disambut oleh suara-suara aneh khas pasangan suami istri. Sudah pasti kan jika sudsh begitu mereka pasti akan lupa daratan dan lautan.
"Engga apa kok kak". Ucap Mira dengan tersenyum canggung.
"Kamu mau jus apa Ra hari ini. Kakak sih mau jus alpukat". Ucap Maya seraya mengeluarkan beberapa buah dari kulkas.
"Samain saja lah kak". Ucap Mira dengan mulut penuh khas orang kelaparan.
Royan pun mematikan ponselnya dan berjalan mendekati sang istri seraya memeluknya dari belakang. Membuat Mira sedikit merasa nelangsa dengan kemesraan mereka.
"Aku kapan kaya gitunya...". Batin Mira memelas.
"Biar Mas saja yang buat jusnya sayang. Kamu sudah capek dari semalem. Mas jadi engga tega". Ucap Royan dengan lembut kepada sang istri.
Mira yang tadinya merasa sangat lapar pun berubah menjadi kenyang seketika mendengar ucapan dari Royan kepada istrinya tenta perkataan yang tentang semalam itu.
"Simpan tenaganya buat nanti malam". Bisik Royan di telinga sang istri yang sislnya masih bisa Mira dengar dengan baik.
"Perhatiannya suami ku ini. Jadi makin sayang". Ucap Mayya dengan mengelus pipi sang suami.
"Aku tunggu nanti malam". Bisik Mayya di telinga sang suami lalu mengecup pipi kanan sang suami dengan lembut.
"Jadi pengen punya kantong dora emon biar bisa menghilang". Batin Mira dengan raut mencebik lucu.
Mayya pun duduk di kursi makan samping Mira sambil membawa satu mangkuk salad sayur dan roti tawar gandum.
"Pacaran teruuss...". Sindir Mira sambil melahap besar nasi goreng pada sendoknya.
"Makannya, cepet nikah biar bisa pacaran halal kaya kakak". Ucap Mayya dengan tersenyum jahil.
Skak mat. Mira pun hanya bisa diam sambil menelan bulat nasi goreng yang ada di mulutnya. Sejujurnya Mira pun teringin sangat untuk menjalin hubungan dan menikah lalu hidup bahagia. Namun kenyataanya tidak pernah seindah bayangan.
Baru juga jatuh cinta dan merasa kasmaran. Sudah di tampar dengan kenyataan bahwa si doi dijodohin. Sama anak bosnya pula.
Tak berapa lama Royan pun menyajikan tiga gelas jus alpukat di meja masing-masing. Mayya dan Mira pun mengucapkan terima kasih kepada Royan dan meminumnya.
"Nanti mau ikut kakak Ra ?". Tanya Mayya di sela makannya.
"Kemana kak ?". Tanya Mira balik setelah menghabiskan satu piring nasi goreng.
"Biasa lah, belanja bulanan sama kesalon". Ucap Mayya dengan santai.
"Bagaimana ya. Ikut entar aku jadi nyamuk dan makin nelangsa melihat kemesraan dua pasangan ini. Sudah di pastikan kak Roy pasti bakal ngintil. Tapi kalau engga kitu pasti kak May bakalan maksa. Terus aku mau alasan apa. Teman libur ku cuma Imelda sama Oji . Tapi kan Imelda sudah pasti juga pacaran sama tunangannya. Kalau Oji akhh dia pasti kesalon juga atau engga tidur sepanjang hari". Batin Mira merasa bimbang.
Tsaaakk !!
Suara jentikan jari dari Mayya sukses membuat Mira tersadar dari lamunannya yang tengah bimbang itu.
"kok melamun sih Ra. Gimana mau ikut engga ?". Tanya Mayya yang tak sabaran.
"Aku capek kak, lain kali aja lah". Tolak Mira dengan halus.
"Justru itu kamu itu harus ikut Ra. Biar lelah sama capek mu hilang pas udah disalon. Kita perawatan temenin kakak. Lagian juga nanti Mas Roy bakalan ke tempat lain buat nongkrong sama temen-temennya. Ikut yah, pleasee". Ucap Mayya memohon.
"Lagian kamu itu perlu kesalon Ra. Kamu itu udah penat bekerja engga ada refleshingnya. Ngga jenuh ngga bosen kamu Ra".
Ucap Mayya lagi tak gencar membujuk. Membuat Mira seketika menghela nafas lelah dan mengangguk mensetujui ajakan sang kakak.
"Naah gitu dong. Baru namannya adik kakak". Ucap Mayya dengan senang.
"Ya udah sanah siap-siap Ra kaka tunggu. Kamu juga makannya udah habiskan". Perintah Mayya dengan bersemangat.
"Aku kaya gini saja lah kak. Engga perlu ganti. Paling tambahin jaket, sendal sepatu, sama tas kecil". Ucap Mira dengan santai.
"ok deh, kakak siap-siap dulu ya bentar".
Ucap Mayya lalu berlalu pergi kekammarnya meninggalkan Royan yang sudah menghabiskan sarapannya lalu bermain game lagi diponselnya.
Sementara Mira yang paham betul dengan arti siap-siap versi Mayya pun langsung membereskan meja makan dan mencuci perabotan yang kotor ditemani sang kakak ipar ysng tengah asyik dengan gamenya.
Setelah itu Mira pun mulai berjalan kekamarnya untuk mengambil ponsel, tas selempang, sendal sepatu warna hitam. dan jaket levis warna light blue.
Dan akhirnya mereka pun berangkat menggunakan mobil pribadi yang disupiri sendiri oleh Royan sang kakak ipar.
Setelah tiga puluh menit lebih berada di perjalanan. Akhirnya mereka pun sampai di mal terbesar dan ternama di kota mereka.
Mayya dan Mira pun langsung memasuki mall dan menuju ke tempat kebutuhan rumah tangga seperti kebersihan dapur, alat rumah tangga, dan kebutuhan pokok lainnya.
Sementara Royan pergi memarkirkan mobil dan menuju ketempat teman-teman bisnisnya yang tengah mengadakan pertemuan santai di akhir pekan.
"Apa lagi ya Ra yang belum kita beli. Duuh kakak lupa engga ajak bi Inah buat ikut. Kalau bi Inah ikut kan seengganya kakak ngga takut ada yang kelupaan". Ucap Mayya sedikit menyesal.
"Telfon saja lah kak".
Ucap Mira dengan santai seraya menimang dua botol handbody yang tengah viral dengan aroma wanginya.
"Bener juga..". Ucap Mayya dengan ekspresi puasnya.
Mayya pun akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi bi Inah untuk menanyai kebutuhan apa yang habis di rumah.
Sementara Mira asyik melihat-lihat segala macam jenis keperluan wanita dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Setelah tiga jam memilih dan memutari mall besar dengan beberapa kantung belanjaan yang mereka taruh pada troli belanjaan akhirnya Mayya dan Mira pun bertemu dengan Roy yang tengah mencari keberadaan mereka.
"Mas Roy !!". Teriak Mayya saat melihat sang suami yang tengah celingukan mencarinya.
Merasa ada yang memanggil Roy pun menengok kearah sumber suara dan menemukan seseorang yang ia cari ya itu istrinya dan adik iparnya.
"Sudah belanjanya ?". Tanya Roy seraya mengelus puncuk kepala sang istri dengan sayang.
"Sudah mas. Tapi baru kebutuhan dapur, terus peralatan mandi, sama kebutuhan rumah tangga lainnya Mas". Ucap Mayya dengan tersenyum sumringah.
Ucapan Mayya pun sukses membuat Royan sedikit menaikan sebelah alisnya melihat sepuluh kantong belanja, tiga dus, dan dua karung besar beras.
"ini belanja bulanan atau tahunan ?". Batin Royan merasa sedikit shock.
"Sebanyak ini ?". Tanya Royan memastikan.
"Emm, sebenarnya ada beberapa sih kebutuhan wanita. Terus tadi banyak banget yang lagi diskon Mas jadi aku emm ngeborong deh". Ucap Mayya dengan tanpa rasa bersalah.
Royan pun akhirnya hanya menghela nafas melihat tingkah laku sang istri yang selalu ijo jika melihat diskonan.
Royan pun akhirnya melirik kearah Mira yang tengah berdiri melamun dengan dua kantung kecil belanjaan yang royan tahu kantung merek parfum ternama dan kantung paket komplit prodak ternama.
"Belanjaan kamu hanya itu Ra ?". Tsnya Royan memastikan.
"Iya ka..". Ucap Mira dengan santai.
"Kenapa. Bukanya kakak udah transfer uang bulanan buat kamu ?". Tanya Royan lagi merasa heran.
"Cuma ini yang aku butuhin kak dan udah pada habis stoknya di rumah". Ucap Mira dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Ya lagian itu juga baru beberapa Mas. Aku nnanti mau ajak Mira ke toko perhiasan langganan kita. Disana lagi ada diskon dan keluaran baru Mas. Aku ingin lihat nanti setelah makan siang". Ucap Mayya seraya bergelayut manja kepada sang suami.
Mendengar ucapan dari Mayya membuat Mira dan Royan sedikit mendelik dan merasa lelah.
"Padahal aku cuma ingin rebahan di kamar dan tidur sepuasnya". Batin Mira mengeluh.
"Istriku ini benar-benar". Batin Royan merasa gemas.
"Ya sudah, kamu belanjanya lagi sama Mira yah. Biar Mas pulang dulu nanti setelah makan siang. Mas ada janji buat menemani Ayub main basket. Nanti belanjaan ini semua Mas yang bawa termasuk belanjaanya kamu Ra. Pulangnya Mas jemput". Ucap Royan memberi tahu.
"Emm ya deh Mas. Aku juga lupa di rumah kan ada mamih sama papih. Untung aku tadi udah beli beberapa kue Mas nanti tolong disuguhin yah buat mereka". Ucap Mayya meminta tolong.
"Iya sayang". Ucap Royan dengan tersenyum penuh cinta.
"Terus mau makan sisng apa nih ?". Tanya Royan kepada sang istri.
"Aku pengin banget ramen Mas. Mira juga mau dimsum sama shushi ke lestoran ala jepang atau korea yuk Mas". Ucap Mayya dengan manjanya.
Royan pun langsung memanggil petugas mall yang tengah bertugas berkeliling mall mengawasi setisp orang.
"Pak kesini !". Seru Royan lepada petugas mall.
Sang petugas ysng di ketahui bernama Firman pun mendekat kearah Royan dengan aura tenangnya.
"Ada apa Mas ?". Tsnya Firman dengan sopan.
"Saya mau nitipin semua belanjaan ini di pos keamanan bisa ?".Tanya Royan memastikan.
"Saya mau makan siang dulu bareng istri saya soalnya". Ucap Royan lagi memberi tahu.
"Oohh, bisa-bisa Mas". Ucap Firman dengan sopsn.
"Ok saya nitip ya". Ucap Royan dengan ramahnya.
"Siap Mas". Sahut Firman dengsn santai.
Royan pun langsung berbalik menghadap Mira dan Mayya yang tengah menunnguinya.
"Iya ayok let's go". Ucap Royan seraya menggiring dua perempuan di samping kanan kirinya.
Jadi posisinya Royan merangkul dua wanita di samping kanan kirinya membuat orang-orang yang berlalu lalang pasti selalu menengok kearah mereka dengan tatapan beragam termasuk sang petugas mall.
"Orang ganteng mah bebas ya mau istri berapa pun. heemmm mana cakep-cakep semua lagi. Sisain kenapa, satu buat saya ckckckck". Ucsp sang petugas lalu pergi membawa barang belsnjaan milik istri Royan dan Mira.
Akhirnya mereka pun berhasil menemukan lestoran yang menyajika ramen, dimsum, shushi dan makanan ala jepang dan korea lainnya yang halal tentunya.
Mereka pun memakan makan siangnya dengan khitmad dan aedikit bersendau gurau.
setelah itu sesuai dengan ucapan Mayya. Mereka pun akhirnya menuju ke toko perhiasan langganan Mayya yang berada di mall itu.
Banyak berbagai macam perhiasa unik disana. Mira pun sampai tercengang melihatnya. Tokonya pun sangat besar dan luas serta memiliki pelayanan yang ramah.
"Ini toko langganan kakak Ra. Dulu Mas Roy selalu ajak kakak kesini pas mau nikah buat pilih cincin dan set perhiasan buat seserahan". Ucap Mayya sedikit bercerita dan bernostalgia.
Mira pun hanya tersenyum menanggapi cerita dari sang kakak. Tidak heran jika selera orang elit memang seperti ini. Terlihat sederhana namun berkelas.
"Selamat siang nona Rahardian. Selamat datang di toko perhiasan kami". Sambut salah satu pegawai dengan ramah.
"Siang mba. Saya ada janji temu dengan Miss Noura apa beliau sudah ada di tempat ?". Tanya kak May dengan ramah.
"Kebetulan beliau sudah menunggu nona. Mari saya antar nona". Ucap sang pegawai yang di ketahui bernama Zahira dari name tagnya.
Mereka bertiga pun berjalan kearah sebelah barat ruangan tepatnya di dekat jendela besar ruangan perhiasan yang bertuliskan Tiffany & CEO pada depan etalaste perhiasan.
Mira yang melihatnya pun semakin tercengang akan tulisan itu. Dalam pikirannya sejak kapan kak May mempunyai uang sebanyak itu untuk membeli salah satu perhiasan merek kelas dunia itu.
"Hai May ya ampuun kangen aku tuh". Sapa wanita cantik blesteran yang tengah duduk di sebrang etalaste perhiasan.
"Iya nih, aku juga kangen ya ampuun". Ucap kak May seraya memeluk wanita itu.
"Eh ini siap cantik banget". Tanyanya kepada Mayya saat melihat Mira datang bersama Mayya.
"Adik perempuanku ini, namanya Miranda Nur. Ra, kenalin ini sahabatnya mas Roy dan kakak namanya Noura Anderson pemilik toko perhiasan ternama di kota ini. Naah, mall ini salah satu cabangnya". Jelas Mayya kepada Mira.
"Hallo kak Noura selamat siang dan salam kenal". Sapa Mira dengan tersenyum lrmbut.
"Ya ampuun adek kamu ini may. Aku madunya kamu". Goda Noura dengan tertawa keras di akhir kalimat.
"Sembarangan kamu Noura. Amit-amit duh jangan sampai aku punya madu". Ucap Mayya seraya mengetuk-ngetuk kaca etalaste dengan gemas.
Sementara Noura malah semakin tertawa melihat tingkah Mayya yang seolah-olah jijik dengan kada madu yang ia lontarkan.
"Udah si kan aku cuma bercanda May. Eh ngomong-ngomong berapa usia adek kamu ini ?". Tanya Noura sedikit kepo.
"Dua lima kenapa ?". Tanya Mayya balik.
"Ehh yuk duduk yuk sini". Ajak Noura seraya berjalan ke arah tempat duduk dekat etalaste.
"Kerja apa kuliah kamu Ra ?". Tanya Noura kepada Mira dengan santai. Setelah mereka duduk.
"Kerja kak di butique Ghina's Colection". Jawab Mira dengan santai pula.
"Woow butique cukup terkenal". Ucap Noura sedikit misterius dirautnya.
"Ya tapi aku kasian ke adek ku ini. Kerja di butique tapi kaya kerja kuli bangunan tau ngga. Pulang kerja pasti bau kerinfat lysuh juga kaya lelah. Katanya sih lembur tapi masa lembur sampe segitunya". Curhat Mayya dengan sedikit kesal.
"Sebagai apa si disana kerjanya ?". Tanya Noura penasaran.
"Pelayan kak yang ngelayanin para pembeli sama majangin baju, kasih lebel harga sama bersih-bersih juga". Ucap Mira sedikit tak enak.
Noura pun sedikit mengernyit heran akan pekerjaan adik dari seorang Mayya Sanggita. Terlebih lagi suami dari Mayya ialah Royan Rahardian. Rahardian yang terkenal darah birunya dan lagi terpandang.
"Emang kamu lulusan apa sih sayang ?". Tanya Noura dengan lembut.
"Aku cuma lulus SMA kak". Ucap Mira dengan tersenyum.
"Kebangetan kamu ya jadi kakak May. Bisnis lancar suami tajir melintir nguliahin adek satu aja engga bisa emang". Oceh Noura dengan cerewetnya.
"Mulutnya Noura minta di cabein atau gimana. Bukannya engga bisa Noura. Emang dasar Miranya saja yang engga mauan. Padahal udah aku tawarin mau daftar difakulitas apa sok aku tanggung aku juga mau kali melihat adek ku ini sukses". Ucap Mayya menjelaskan.
"Tapi jawabanya simpel pake banget katanya ingin menikmati hasil keringat sendiri. Dengan dia bekerja tanpa bantuan orang terdekatnya, dia jadi tahu mana yang tulus mana yang engga. Lagiann adek ku ini berbakat dalam hal masakan. Kamu pikir catering aku yang paket nasi kuning itu siapa yang masak, yang menghias dan yang meracik. Adek ku lah". Jelas Mayya lagi dengan bangganya.
"Woow serius itu yang masak adek mu. Gila bener-bener muantep loh sedep itu nasi kuning. Aku saja nyesel engga pesen yang super jumbo waktu itu pas peresmian toko ini. Ludes engga tersisa itu nasi kuning dimakan sama kariawan ku". Ucap Noura dengan antusias.
Mira pun hanya tersenyum lucu mendengar perkataan dari sahabat kakaknya ini tentang masakannya. Padah bumbu yang ia racih hanya sederhana saja, warisan dar mendiang ibunya. Justru sang kakak Mayya lah yang lebih jago dalam hal masakan apa pun.
"Iya adeknya siapa dulu lah. Mayya Sanggita gitu loh". Ucap Mayya dengan bangganya. Membuat Noura sedikit mencebik dan Mira hanya tersenyum maklum.
"kalau kamu engga betah kerja di butique itu bilang aja ya ke kak Noura. Pasti kaka terima kamu dengan senang hati. Kakak tempatin kamu di tempat yang bagus. Eitz ini bukan karena kamu adiknya Mayya yah. Karena kakak merasa cocok saja melihatmu. Kamu juga keliatannya berbakat dan bekerja keras. Kakak salut sama kemandiriannya kamu". Ujar Noura memuji.
"Terima kasih kak Noura". Ucap Mira dengan tersenyum lembut.
"Mana nih perhiasan yang aku pesan sama yang kstanya mau dipamerin ke aku. Jangan lupa diskon ya awaa kalau engga". Ucap Mayya dengan tanpw malunya.
"Ya elah May, May. Kamu beli sepuluh macem perhiasan juga engga bakal bikin suami bangkrut. Malah aku lihat tuh si Roy makin gemilang saja. Banyak nyenengin istri kayanya tuh". Sahut Noura dengan raut herannya.
"Ya dong. Kan katanya kalau banyak nyenengin istri bakal banyak pula pintu rizki yang terbuka. Lagia juga engga cuma Mas Roy doang yang nyenengin aku. Aku juga nyenengin dia kasih tenaga ekstra dan semangat ekstra". Ucap Mayya dengan tersenyum jahil kepada Noura.
"Hmmm saya mencium bau-bau plus-plus nih". Goda Noura.
Mayya pun tertawa puas di tempatnya menanggapi godaan dari sahabatnya itu.
"You know that lah Noura. Sebagai sesama seorang istri kamu pasti tahu dan be like". Ucap Msyya ambigu.
Mira yang sedari tadi diam mendengarkan perkataan dari dua maklluk bersuami itu pun hanya bisa menopang dagu sembari menerawang jauh dengan muka masamnya.
"Kaum emak-emak pkus istri orang mah gini ya kalau ketemu pasti engga jauh-jauh dari persoalan ranjang. Ahhhh kapan ini akan berakhir". Batin Mira merasa jenuh.
"Ini yang bakal aku pamerin ke kamu. Koleksi terbaru dari Tiffany & CEO. Stoknya engga banyak dan udah ada beberapa yang pesan. Mulai dari cincin nikah, cincin tunangan sampai hadiah. Lihat saja May sapa tahu ada yang memikat di hatimu". Ucap Noura seraya menunjukan koleksinya.
"Yang bener aja lah Noura, ini itu Tiffany & CEO. Lu mau nawarin apa mau ngebunih si". Ucap Mayya sedikit kesal.
"Ya kan udah aku bilang, kamu itu mau beli sepuluh perhiasan pun engga bakal bikin suami bangkrut". Bujuk Noura dengan lembut.
"Tspi engga aku tuh Noura. Satu perhiassn sekecil cincin saja harganya hampir sama kaya beli sepuluh perhiasa mahal yang standar". Omel Mayya dengan ketusnya.
"Berarti kamu kalah sama adekmu ini. Masa yang kerjanya di butique saja bisa beli kalung berliannya Tiffany & CEO. Lah kamu yang seorang Mayya Sanggita pengusaha sukses sekaligus istri dari seorang Rahsrdian punya apa ?". Ejek Noura dengan kejamnya membuat Mayya langsung saja menengok kearah Mira dan Mira pun reflek memegangi kalung berlian yang ia kenakan itu.
"Emang bener ini koleksinya Tiffany & CEO ?". Tanya Mayya memastikan.
"Bener lah, itu cuma kalangan orang atas yang punya. Biasanya juga bisa sebagai simbol. Lebih lagi jika ada tulusan kodenya itu bisa swbagai alat mempermudah untuk akses bagi yang memilikinya. Dan yang punya itu cuma keluarga Tuan Leonard yang memilikinya. Orang penting di negara ini". Jelas Noura dengan santainya.
"Akh bisa saja tiruan Noura. Mana mungkin adek aku punya kalung seamazing itu". Elah Mayya dengan yskinnya.
Namun sesaat Mayya pun teringat sesuatu tentang pesta perusahaan tempo lalu di gedung putih milik Tuan Leonard yang baru. Dan Mayya pun kembali ingat tentang hadiah yang di berikan tuan Leonard kepada Mira. Sebuah kalung daan....
"Astaga Mira !". Seru Mayya seakan-akan tengah bangun dari mimpi buruknya.
Mira pun merasa terkejut dengan teriakan Mayya yang seperti heboh itu. Dengan raut bodohnya Mira pun berucap.
'Aaa...Apa kak ?". Tanya Mira gugup.
"Kalung itu kan memang....". Ucap Mayya dengan menujuk kalung yang Mira kenakan.
Mira pun hanya mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya dengan sedikit takut-takut akan kenyataan yang nantinya akan menamparnya hidup-hidup.
"Benerkan milik keluarga Leonard. Aku paham betul ukirannya. Soalnya itu dipesan melaluiku secara khusus. Dan mereka pun sudah berlangganan lama sejak zaman kakekku masi hidup. istilahnya turun temurun gitu". Jelas Noura dengan yakin.
"Aku engga bakal nuduh kamu pencuri kok Ra. Tenang saja, mukanya engga perlu pucat gitu". Ucap Noura lagi dengan terkekeh lucu.
__ADS_1
"Lagian, kalung itu ada padamu itu pasti ada alasannya. Tidak sembarang orang yang memilikinya. Kamu pasti sudah sangat berjasa untuk keluarga mereka". Ucap Noura menenangkan.
Mayya yang tak ingin ada seorang pun mendengar pembicaraan mereka pun mulai celingukan mengawasi keadaan sekitar dan mulai berbisik sedikit keras.
"Dia yang menyelamat kan Nona muda Raina waktu insiden di gedung putih. Sama di sustu tempat karena...".
Ucapan Mayya terpotong saat kaki Mira dengan kuatnya menginjak kaki Mayya bermaksud untuk memperingati sang kakak agar tidak memberitahukan sahabstnya tentang pembulian yang dialami oleh nona Raina.
"Tidak sengaja". Ucap Mayya ambigu saat sadar akan ucapannya yang berbahaya.
"Pantes saja, Nona Rain itu kesayangan ayahnya juga kakak pertamanya. Dia putri satu-satunya keluarga itu. Mereka betul kalau kasih kamu kalung berlian itu. Bahkan jika kamu mau. Kamu bisa ko ambil salah satu perhiasan ini dan tunjukin kode aksesnya keaku. Daan...Boom kalung, gelang, cincin, anting, liontin aaapa pun itu yang kamu suka bisa jadi milikmu. Masalah uang jangan khawatir mereka akan membayarnya". Ucap Noura memberi tahu kegunaan kalung itu.
Mendemgar perkataan dari Noura. Mayya dan Mira pun seketika ternganga hebat. Se keren itu kah hanya dengan sekali tunjuk semua di dapatkan.
"Are you seriously Noura". Ucap Mayya dengan ternganga.
"Serius lah May, bahkan kamu juga bisa beli mall ini beserta isi-isinya. Coba saja tadi pas masuk kamu tunjukin kalung itu ke petugas. Kamu bikang kode aksesnya. Beehh udah pasti kamu dibperlakukan khusus disini. Kaya sultan pokoknya. Engga cuma disi saja sih dimana pun lah pokoknya". Ucap Noura Lagi dengan yakinnya.
"Bagi yang tahu betul mereka pasti tanpa di tunjukin pun hanya sekedar melihat sudah tahu jika kamu perlu di perlakukan khusus. Makannya jangan heran kalau nanti ada yang bersikap anek kepadamu Ra. Seperti ada yang tibs-tiba ramah, sopan dan hormat layaknya orang penting. Itu ya karna kalung itu". Jelas Noura lagi.
Dan seketika Mayya dan Mira pun berfikir ulang tentang diskon yang mereka dapatkan saat berbelanja tadi.
"Mungkinkah.....". Batin Mira dan Mayya secara bersamaan dan saling pandang.
"Aku mau tanya Noura. Kira-kira berapa harga kalung yang dikenakan adekku ini". Tanya Mayya penasaran.
"Seharga tiga mobil Alphard lah". Ucap Noura dengan santainya Membuat Mayya syok berat dibuatnya.
"sesimpel ini harganya tiga mobil Alphard ?". Ucsp Mayya dengan heboh.
"Kok aku merasa kaya tercekik ya memakai kalung ini". Bati Mira merasa resah.
"Ra balikin deh kalung itu. Kakak takut bakal ada masalah besar gara-gara kalung itu. Tahu-tahu entar kamu di begal, di rampok, di culik gara-gara itu kalung terus nyawa mu melayang. Engga deh engga balikin pokoknya".
Ucap Mayya dengan paniknya sementara Mira pun hanya mengangguk mensejutui ucapan sang kakak.
"Mereka lebih milih membuang itu kalung dari pada di kembalikan. Kalian rela gitu membuang kalung seharga tiga mobil Alphard ?". Tanya Noura memastikan dengan pandangan serius.
"Kalung itu memiliki kode. Dan kode itu juga termasuk GPS dan alaram. Kamu ada yang jahatin seperti di begal, ditodong, di rampok atau di curi. Kalung itu akan melayangkan sensor tanda bahaya dan mereka pun aka sigap untuk membantu. Mereka sudah menempatkan orang-orang khusus di setiap kalung itu". Ucap Noura memberi tahu.
"Jadi jangan khawatir soal semua itu. Aku juga engga bermaksud nakut-nakuti ko. Cuma mau kadih tahu saja khusus untuk nona Mira bebas ambil yang anda mau". Ucap Noura dengan tersenyum lembut.
"Mira aja nih. Aku engga ?". Tanya Mayya memastikan.
"Kamu cukup diskon saja. Bisa bangkrut kalau aku kasih bebas pilih untuk mu yang ijo sama yang namanya perhiasan. Apalagi diskon". Ucap Noura dengan kejamnya.
"Ck untung punya suami tajir". Ucap Mayya dengan memberengut seraya melihat-lihat cincin berlian yang terpajang.
Mayya pun langsung jatuh hati kepada satu cincin simpel yang terdapat batu merah delima di ujungnya.
"Wiih aku coba liat yang ini donk". Ucap Mayya seraya menujuk cincin yang di maksud.
"Kamu kalau mau yang itu harus pesan dulu. Kira-kira satu bulan jadi lah. Itu udah ada yang pesen. Harganya sih cuma satu koma lima miliyar buat kamu aku kasih tujuh ratus lima puluh deh. Juta tapi ya buka ribu".
"Engga lah kalau udah ada yang pesan. Aku engga mau disamain. Tapi kalau desainnya sedikit di bedain aku mau eheehee". Ucap Mayya menawar.
"Hee eehh udah minta diskon, nawar, ngelunjak lagi. Untung sahabat coba kalau pembeli baru. Udah aku usri jauh-jauh. Ya udah, dil ya yang itu apa mau pilih-pilih lagi ". Ucap Noura dengan sewotnya.
"Kalau yang koleksinya Tiffany itu saja lah Noura. Aku mau koleksi lain yang engga mencekik Lumayan buat simpenan". Ucap Mayya demgan cueknya.
"Ya ya whatever. Kamu engga ada yang cocok kah. Kok diem saja Ra. Ayo dong pilih. Anting yah nih kamu kalau pakai ini uuhh cantik banget deh Ra engga mahal ko cuma empat miliyar saja". Ucap Noura dengan sedikit merayu.
"Engga kak, antingku masih banyak". Tolak Mira dengan lembut.
Noura pun hanya tersenyum lembut seraya memandang Mira dengan raut menilai dengan baik.
"Tidak salah jika paman Jonathan memberikan kalung itu kepada gadis ini. Selain cantik fisik, hatinya pun cantik. Pembawaanya tenang dan mandiri. Matanya pun indah seakan membawa seseorang untuk menyelam bebas di dalamnya. Dia sangat sederhana dan mandiri namun berkelas. Perpaduan yang sempurna". Bati Noura dengan tersenyum lembut
"Ngomong-ngomong yang tadi itu cincin pesanannya siapa Noura ?". Tanya Mayya sedikit kepo.
"Pesanannya nona Martha Atmaja anak dari pemilik butique tempat Mira bekerja". Ucap Noura dengan sedikit nada tak suka.
"Ooh, anaknya mau tunangan atau nikah ?". Tanya Mayya lagi.
"Engga tahu tuh, bodo amat lah pusing aku sama pelanggan satu itu. Rewel banget banyak maunya". Tutur Noura dengan raut frustasi.
Membuat Mira tersenyum maklum melihatnya. Noura saja yang baru dilangganin saja sudah sefrustadi itu. Apa kabar Mira dan para pekerja lain yang sudah bertahun-tahun bekerja disana dan berhadapan langsung dengan dua makluk rewel ibu dan anak itu.
"Nikah sama siapa Ra. Kamu tahu engga ?". Tanya Mayya semakin penasaran.
Mira pun sedikit murung ditanyai hal seperti itu dan lagi-lagi hatinya merasa sakit namun tak berdarah.
"Sama manager butique kak". Ucap Mira sedikit lesu.
Mayya yang melihatnya pun sedikit curiga dan mengernyit heran melihat tingkah Mira yang berbeda saat memberi tahukan siapa tunangan atau calon suami dari putri pemilik butique tempat adiknya bekerja itu.
"Si ganteng itu siapa ya namanya emmm yah Erlangga. Koko Er itu kan juga manager. Tapi apa mungkin dia calon suaminya Martha. Bukannya disana ada dua manager ya ?". Batin Maya bertanya-tanya.
"Panjang umur banget. Baru aja diomongin udah nongol tuh". Ucap Noura dengan sedikit sinis.
Mayya pun langsung menengok kearah belakang dan terkejut melihat Martha yang datang dengan Erlangga. Sedangkan Mira yang sudah tahu hanya diam meninduk melihat kearah perhiasan yang berjajar rapih.
"Selamat siang Tuan dan Nona. Mari silahkan duduk dulu". Sapa Noura dengan ramah.
"Kita engga lama soalnya Miss. Banyak banget yang harus diurus. Jadi gimana cincinnya aku mau lihat". Ucap Martha dengan angkuhnya.
"Sebentar ya saya ambilkan dulu". Ucap Noura dan berjalan pergi.
"Kak kita pergi saja ya dari sini. Atau kalau engga ke etalaste lain engga enak. Kakak kan juga mau cari perhiasan lain kan". Ajak Mira untuk menghindar.
Seoal tahu dengan perasaan sang adik, Mayya pun tersenyum lembut dan mengangguk. Namun saat hendak pergi langkah mereka di hadang oleh Martha.
"Lo Mira kan. Pelayan di butique gua". Tanya Martha dengan angkuhnya.
"Angkuh bener ini anak". Batin Mayya mengernyit tak suka.
Mira pun langsung menormalkan air mukanya dengan baik dan berucap.
"Nona Martha, tuan Erlangga. Selamat siang. Ya saya Mira nona". Ucap Mira dengan sopan.
"Ngapain Lo disini ?".
Tanya Martha seraya melihat penampilan Mira daribujung sampai ujung yang terlihat sederhana namun cantik.
"Dia menemani saya kesini. Kenapa ya mba ?". Tanya Mayya tak kalah angkuh.
Melihat seorang Mayya Sanggita yang terkenal akan catering dan WO nya yang sukses dan apik membuat Martha sedikit mengernyit heran.
"Kenapa si pelayan menyebalkan ini selalu saja bersama orang-orang penting. Dulu orang terpandang, sekarang wanita karir yang terkenal, dan satu lagi peria tampan yang bernama Yash itu. keturunan Leonard itu. Arrggghhh menyebalkan membuat mood ku rusak saja". Batin Martha merasa kesal.
"Tak apa".
Ucap Martha cuek dan kembali ketempat duduk bersama Erlangga yang tengah memandang sayu kearah Mira.
"Mira jangan lupa datang ke pertunangan ku dan koko Er ya. Aku tunggu keadatangannya". Ucap Martha dengan bangganya seraya merangkul lengan Erlangga dengan manjanya.
"Tentu nona, saya permisi". Sahut Mira dengan tersenyum paksa dan berlalu pergi bersama Mayya.
Mayya pun langsung menggeret Mira keluar dari toko perhiasan mencari tempat duduk yang nyaman guna memastikan sesuatu kepada Mira.
Akhirnya Mayya pun membawa Mira ke stand ice boba. Mendudukan Mira di salah satu bangku dan memesan dua ice boba rasa coklat. Setelah itu Mayya pun menatap Mira dengan serius.
"Kamu engga apa-apa Ra ?". Tanya Mayya memastiksn.
"Hem...Engga papa kak. It's ok". Ucap Mira dengan tersenyum palsu dan menyrdot ice boba dengan pelan.
"Bukannya kalian berdua saling suka ?". Tanya Mayya lagi.
"Hmmm terlalu rumit kak. Kita memang saling suka saling cinta dan saling sayang. Tetapi tidak ada komitmen. Dan mereka juga dijodohkan oleh orang tuanya. Erlangga juga tidak bisa melawan. Terus aku harus apa coba". Jelas Mira dengan sedikit rasa perih yang kentara di matanya.
"Apa Erlangga sudah memperkenalkanmu ke kedua orang tuanya. Setidaknya bilang jika dia mencintai orang lain dan menyuruh orang tuanya untuk mmelihat dulu ?". Tanya Mayya.
"Aku tidak mau kak. Aku takut semuanya akan berantakan. Jadi, dari pada hatiku sakit terlalu jauh lebih baik aku mundur dan berhenti. toh cinta tidak harus memiliki kan". Jelas Mira dengan sedikit berkaca.
"Apa salahnya mencoba Ra. Cinta itu butuh perjuangan. Mana tau hasilnya baik. Kakak engga rela. Lelaki sebaik dan selembut Erlangga harus bersanding dengan wanita seangkuh dan sesombong Martha". Bujuk Mayya dengan lembut.
"Dicoba ya Ra, kasian Erlangga sudah mau loh melawan dan membawamu. Dia serius dan tulus loh. Jangan sampai kamu menyesal nanti". Ucap Mayya lagi lebih meyakinkan.
Sejujurnya Mira pun sudah jengah akan teror dari Erlangga yang selalu tiada henti menghubunhinya untuk ikut bersamanya kerumah orang tuanya untuk diperkenalkan. Namun hati kecil dan perasaan Mira selalu menolak. Seolah-olah ada sesuatu yang menyakitkan nantinya.
Tetapi melihat keinginan dari sang kakak membuat Mira sedikit berfikir ulang. Dan menimang-nimang. Benarkah nantinya akan berujung baik atau malah justru sebaliknya. Hanya tuhan yang tahu.
1 Messegge for manager Er
"Besok pada jam makan siang. Aku siap untuk bertrmu dengan kedua orang tuamu bersamamu ko. Semoga harimu menyenangkan". 💕☺☺
**Sailent.
Pesan. terkirim pada pukul 15.00 WIB**.
Begitulah isi pesan dari Mira kepada sang manager. Dan pesan itu pun di baca oleh Erlangga. Dengan perasaan senang luar biasa ia pun tersenyum puas dan bersemangat untuk besok. Berharsp jika semuanya akan baik-baik saja dan kedua orang tuanya pun merestui mereka sekaligus membatalkan perjodohan yang menjengkelkan ini.
"Yuuk waktunya kita Nyalon buat perawatan diri. Kamu juga harus perawatan biar apik. Kan besok maubketemu calon mertua".
Goda Mayya dengan jahilnya krpada sang adik. Membuat Mira sedikit bersemu merah di buatnya.
"Apa si kak May ini. Udah ahh yuk jalan". Ajak Mira dengan lucunya.
"Cie..Cie...Yang mau ketemu calon mertua". Goda Mayya tiada henti di sepanjang jalan mereka menuju salon langganan Mayya di The Bella's Beauty.
__ADS_1