
" Permisi pak?" Santun Amel, membuka pintu setelah mendapatkan ijin dari dalam untuk masuk.
" Ya, kamu duduk di sana dulu." Perintah Akbar, menunjuk sofa panjang di ujung ruangannya tidak terlalu besar.
Amel mengangguk mengikuti perintah Akbar dan duduk tenang di sofa panjang yang empuk. Rasanya Amel sedikit lega bisa duduk enak saat ini, dan mencoba menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Nikmat?
Terasa nikmat saat punggungnya menyandar serta sedikit merenggangkan badan kala atasannya masih sibuk di meja kerjanya. Ingin dirinya merebahkan kepalanya juga di sandaran sofa, tapi itu tidak mungkin. jika dirinya lakukan pastinya akan malu bila atasannya mengetahuinya.
Amel di panggil, karena Akbar memintanya untuk membantunya. Tapi tidak tau apa yang akan Akbar berikan pekerjaan untuk dirinya. Kepalanya semakin berdenyut, tubuhnya semakin panas dan mata semakin perih untuk melihat. Amel ingin sekali menutup mata dan bersandar sebendar saja di sofa.
Tidak ada pergerakan dari Akbar yang masih setia menatap map duduk di meja kerjanya, Amel sedikit kesal. Di tambah mengantuk, sudah sepuluh menit masih tetap sama. Akbar begitu fokus.
Amel tidak sanggup lagi, menyandarkan kepalanya di sofa sambil memijat-mijat kepalanya yang berdenyut. Menutup matanya tanpa sadar dirinya mulai nyaman dan terlelap begitu gampangnya. Mungkin memang sangat mengantuk, sakit dan juga tidak tahan lagi untuk beristirahat.
dua puluh menit Akbar akhirnya berani menatap Amel yang sudah memejamkan mata, bersandar di sofa. Memang dirinya sengaja tidak melihat Amel dan fokus terhadap pekerjaannya di atas meja kerja.
Akbar melakukan itu agar Amel bisa beristirahat di ruangannya. dan tak mungkin membiarkan dia beristirahat di ruang loker dengan hanya menggelar alas kardus dalam kondisi sakit seperti itu. melihat yang kemarin rasanya sangat sedih apa lagi ini.
Memanggil untuk ke ruangannya pun juga ada artinya tersendiri. Kasihan dan tak tega melihat wajah Amel yang sangat pucat, memaksa bekerja karena tidak enak hati pada karyawan lain bila Amel beristirahat.
Akbar berjalan ke arah Amel, melihat wajahnya lebih dekat. memastikan bila gadis itu memang sudah terlelap.
Memberanikan diri menyentuh dari Amel.
" Panas sekali?" Gumam Akbar. " Apa dia sudah minum obat."
Tidak mungkin membiarkan Amel sakit dalam keadaan tertidur dan belum minum obat. Dengan berani mencoba menyentuh lengan Amel.
" Amel?" Panggil lembuut Akbar.
" Mel... Amel?" Panggilnya lagi, sambil menepuk pelan lengan Amel.
" Hhmm." Racaunya. Seperti tak sanggup untuk bangun.
" Sudah minun obat?" Tanya Akbar. Amel hanya bisa menggeleng tanpa berbicara.
" Sudah makan?" Tanyanya lagi. dan Amel hanya menggeleng lagi, tanpa mau membuka mata.
menghembuskan nafas berat, menatap Amel yang merespon lemah.
__ADS_1
" Makan sedikit dulu, minum obat terus istirahat." Perintah Akbar.
Amel mulai tersadar, membuka mata lebar-lebar dengan mata sangat merah dan menoleh ke samping kala Akbar juga menatapnya.
" Pak Akbar." Pekik Amel, duduk tegap dan menghadap Akbar mengerutkan kening.
" Makan dulu, minum obat terus istirahat di sini." Kata Akbar. Membuat Amel semakin melebarkam mata.
" Cepat makan!" Perintahnya lagi, menggeser makanan dalam kardus yang di belinya dan belum sempat di makan Akbar.
" Tap-,"
" Jangan ngebantah. Tubuh kamu perlu istirahat. Tenang saja, aku juga gak akan ngapa-ngapain kamu." Sela Akbar. berpindah tempat duduk di sofa tunggal, agar Amel tidak berpikiran aneh pada dirinya.
Meskipun begitu, Amel tetaplah Amel. Sulit percaya pada ucapan pria. Apa lagi Akbar mengatakan ' Tidak akan ngapa-ngapin kamu'. Entah itu seperti peringatan atau hinaan.
" Bapak nyuruh saya ke sini, untuk ini atau perlu bantuan?" Tanya Amel menelisik.
" Untuk buat kamu istirahat." Jawab Akbar jujur.
" Enggak mungkin saya nyuruh karyawan saya bekerja dengan wajah pucat seperti kamu ini. Di kiranya saya nanti atasan yang jahat. Sudah cepat makan, terus minum obatanya. Saya kasih waktu satu jam untuk kamu istirahat di sini." Imbuhnya lagi, berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya, kembali lagi menekuni kertas menumpuk di atas meja.
" Jangan ngebantah. Atau saya potong gaji kamu." Ancam Akbar. " Mau kamu saya di ghibahin sama teman-teman kamu, saya pilih kasih karena saya ijinin kamu istirahat satu jam lamanya. Sedangkan di luar masih banyak pengunjung." Imbuhnya. membuat Amel terdiam.
Ada benarnya ucapan Akbar, bila dirinya istorahat dalam keadaan resto ramai pasti akan ada yang cemburu dan iri. Ada juga yang pastinya akan tak suka dengannya hanya karena Akbar mengijinkannya istirahat.
Tapi tunggu!
Bukannya atasannya itu sering mengijinkan dan memberikan pengertian pada bawahannya untuk istirahat bergantiam bila lelah bekerja. Tapi kenapa kini dirinya di ancam! Dan malah menakut-nakutinya.
" Cepat habisakan, jangan di buat nglamun." Ucap Akbar. membuat Amel menghembuskan nafas kasar.
Tidak apa lah, dirinya istirahat di ruang atasannya. Toh Amel sudah tau sifat Akbar selama bekerja bersamanya. Tak mungkin Akbar akan macam-macam dengannya. Dulu mengejar Yanna pun Akbar orang penyabar dan juga sangat baik.
Jadi tidak perlu di khawatirkan bukan! Lagian, dirinya juga perlu istirahat. Meskipun cuma sebentar, setidaknya bisa meringankan rasa sakitnya.
Amel makan dengan susah payah, daj tidak bisa menghabiskan. Mengambil obat di atas meja yang sudah di siapkan oleh Akbar.
Bukan tidak mau merebahkan diri di sofa, tapi karena tidak nyaman saja. Tidur di ruang atasannya, kala atasannya ada bersamanya dan fokus dengan pekerjaannya.
Amel hanya berani memejamkan dengan posisi duduk dan menyamankan kepalanya bersandar kembali di sandaran sofa.
__ADS_1
Itu sudah lebih dari nyaman.
****
" Kalian sudah pulang?" Sambut Mama Rama, melihat putra dan menantunya pulang dengan membawa dua kantong plastik di tangam Ryan.
" Apa ini?" Tanya mama Rama.
" Kesukaan mama?" Jawab Anggun. membuka bungkus plastik berisi kue kesukaan Mamanya.
" Wah.. Makasih." Ucap tulus mama, ternyata menantu dan putranya tidak melupakan makanan kesukaannya.
Simple dan sangat bermakna.
" Sudah makan?" Tanya mama.
" Belum ma." Jawab Ryan.
" Ya sudah ayo kita makan malam. Mama juga belum makan." Ajak Mama Rama. " Mbak!" Panggilnya sedikit keras saat dirinya berada di ruang tv.
" Mbak, tolong ini di siapin ya. Taruh di meja makan saja. Saya sama anak-anak juga mau makan sekalian." Pinta mama Rama dengan ramah.
" Iya buk." Jawab Artnya, membawa bungkusan plastik ke dapur.
" Ma?" Panggil Anggun ragu. Mama Rama menoleh dan menatapnya dengan senyum.
" Tadi Aku dan Mas Ryan. Gak sengaja bertemu Nana di supermarket." Lirih Anggun. Membuat Mama Rama sedikit terkejut mendengarnya.
Menatap Ryan yang diam menunduk.
" Aku bertemu dengan istrinya Rama. Tapi aku juga gak menyangka bertemu Rama Ma di sana." Imbunya lagi.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1