Luluh

Luluh
Episode 51


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Yash langsung membawa Mira keruangan dokter Jordan yanpa ada pemberi tahuan terlebih dahulu. Membuat dokter Jordan sedikit terkejut di tmpat yang tengah memakan makan malamnya di ruangan itu.


"Priksa dia paman. Kakinya tergores kaca dan teekena cipratan minyak serta kuah panas". Ucap Yash cepat tanpa ada jeda sedikit pun.


Dokter Jordan yang baru saja memasukan sesuap makanannya pun langsung mengunyahnya terlebih dahulu dengan santai dan menaruh wadah seterofom itu dan meminum air beberapa teguk lalu berdiri dan berjalan mendekati Mira.


Dokter Jordan pun mulai memeriksa Mira juga luka-lukanya. Memang terdapat beberapa goresan yang cukup dalam juga kulit kaki yang melepuh dan berair. Dokter Jordan pun menghela dan mulai melakukan tindakan untuk menangani dan mengobati Mira.


"Apa suster Indira ada di tempat ?". Tanya dokter Jordan saat menggunakan ponselnya.


"Suruh dia kemari untuk membantuku". Ucap Dokter Jordan lagi dan langsung mematikan ponselnya.


Sementara Yash masih setia duduk di pinggiran bangkar pasien yang Mira tempati. Dan Mira hanya diam membisu. Ia masih sedikit syok akan kejadian yang menimpanya barusan.


Dokter Jordan pun lalu menuangkan satu gelas air mineral yang terdapat di ruangannya dan memberikannya kepada Mira.


"Minum lah nona". Ucap Dokter Jordan.


Yash pun langsung mengambil alih dan mulai membimbing Mira untuk bamgun dan meminum air mineral itu.


Setelah itu Mira pun menidurkan kembali tubuhnya dengan nafas yang tenang. Yash pun mulai mengelus rambut Mira dengan tatapan sedih. Dirinya terlambat menyadari jika anak perempuan dari Setiaji yang terkenal biang onar itu datang. Dia sunggung menyesal saat ini dan akan memperikan anak nakal itu pelajaran. Melihatnya Yash jadi teringat akan mendiang Helena.


"Ya tuhan, kenapa ya selalu ada saja yang terjadi. Kenapa tidak berjalan lancar saja". Keluh Mira merasa lelah.


Tak lama kemudian suster Indi pun datang dan mulai lah Jordan dan sang suster mengobati luka Mira. Mira pun sesekali meringis merasakan perih di lukanya yang terkena cairan infus untuk membersihkan luka dan darah serta mematikan kuman yang terdapat di luka.


"Tahan lah sebentar". Ucap Yash seraya menyeka air mata Mira yang diam-diam lolos dari sudut matanya.


Tak tahan melihatnya. Yash pun langsung membuat Mira menjadi terduduk dan langsung memeluknya dengan lembut. Berharap jika pelukannya mampu meredakan rasa perih yang sedang Mira rasakan.


"Tidak bisakah kau memberinya suntikan penghilang rasa paman". Ucap Yash tajam. Membuat dokter Jordan tersenyum lembut.


"Bisa saja jika kondisi Mira tidak sedang syok. Aku tidak ingin mengambil resiko dan akhirnya akan menjadi sasaran kemarahanmu atau pun Jonathsn". Ucap Dokter Jordan santai.


Sedangkan Jio hanya diam sembari berdiri bersandar pada dinding. Ia juga merasa kasihan saat melihat nonanya kesakitan. Namun ia tidak bisa berbuat apa pun selain diam dan memperhatikan.


Akhirnya selang beberapa menit Mira pun dapat bernafas lega saat dokter dan suster itu sudah. menyelesaikan tugasnya.


"Saya kasih resep obat dan salep ya untuk luka melepuhnya agar cepat kering dan sembuh". Ucap Dokter Jordan dan langsung menulisnya.


"Berikan saja kepada Jio. Biar dia yang pergi untuk menebus obat". Titah Yash dan langsung diangguki oleh Jio. Dan dokter Jordan pun menyerahkannya krpada Jio.


Jio pun segera pamit undur diri bersama suster Indi. Dan tinggallah kini Ysdh, Mira dan sang Dokter di ruangan itu. Sementara Mira sudah tertidur dalam pelukan Yash entah sejak kapan.


"Sebenarnya apa yang terjadi Yash ?". Tanya dokter Jordan penassran.


"Karena putri semata wYang dari Heri Setiaji". Ucap Yash singkat dan langsung membuat Jordan paham.


"Ada hubungan apa Mira dengan marga Setiaji. Terlebih dengan putrinya tuan Heri". Ucao Jordan penasaran.


"Karena Mira telah berkencan dengan ayahnya dan melakukan ajang biro jodoh yang di daftarkan oleh Maya". Ucap Yash memberi tahu dan membuat Jordan semakin menggeleng.


"Di jaman sekarang. Masih ada saja orang yang percaya akan perjodohan". Ucap Jordan merasa tak habis fikir dan heran.


"Gadis yang malang". Ucap Jordan seraya mmemandang Mira penuh prihatin.


"Kau tidak ingin melakukan sesuatu Yash ?". Tanya sang dokter memastikan.


"Belum saatnya paman. Aku masih ingin meyakinkannya terlebih dahulu". Ucap Yash dengan tatapsn menerawang.


"Apa ksu sendiri sudah yakin. Bukan maksud apa'apa. Hanya saja, cinta mu kepada Raina sangat kuat dan kokoh. Aku hanya tidak ingin kisah ayahmu terulang kembali". Ucap Jordan dengan menatap Yash penuh rasa sedih.


"Itu yang sedang aku fikirkan paman. Aku tidak bisa gegabah dalam bertindak. Karena ini masalah hati dan masa depan". Ucap Yash dengan bersandar di sandaran bangkar yang masih setia memeluk Mira.


Jordan pun lalu duduk kembali di kursinya dan melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda. Sedangkan Yash masih setia memeluk Mira seraya menaruh dagunya di puncuk kepala Mira.


"Ayah, ibu, kak Marko". Ucap Mira mengigau yang di dengar jelas oleh Yash dan dokter Jordan.


Yash pun akhirnya memukan sebuah ide. Yang nantinya akan membuatnya mempermudah mendekati Mira dan meyakinkannya untuk bersama Yash. Dan Yash pun langsung mencium kening Mira dengan lembut.


"Aku memang tidak akan pernah bisa mempertemukan mu dengan kedua orang tuamu yang sudah berada di sisi sang pencipta. Tetapi untuk Marko. Aku akan berusaha untuk mencarinya dan membawanya kembali. Bersabar lah". Ucap Yash lirih.


Tak berapa lama Jio pun sudah kembali dengan sekantung obat yang bisa di bilang cukup fantastis hanya dengan satu buah salep ukuran 70gr saja di bandrol setengah juta dan obatnya yang hanya sepuluh butir juga vitamin satu botol saja sudah mendekati satu juta.


Namun semua itu tidak akan menjadi masalah untuk srorang Yash. Asal obat itu obat terbaik dan benar-benar menyembuhkan dengan baik. Apa salahnya. Yash tahu mana yang menipu dan mana yang tidak. Juga mana yang akan menguntungkan dan mana yang tidak menguntungkan baginya.


"Tuan, obatnya sudah saya tebus". Ucap Jio memberi tahu.


"Taruh saja di meja itu. Mira masih tertidur". Ucap Yash memerintah dan Jio pun menurutinya.


"Ekhem. Ngomong-ngomong Yash. Ruanganku ini bukan tempat penginapan. Satu jam lagi aku akan pulang". Ucap Jordan memberi tahu.


"YA aku tahu. Lagian siapa yang akan menginap di sini". Celetuk Yash sedikit keras. Membuat Jordan langsung tertawa lebar tanpa suara.


Yash pun lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Dan di deringan ke lima seseorang itu pun menerima panggilan Yash.


"Ck lama sekali kau ini tertidur atau apa ?". Tanya Yash pada seseorang di seberang telfon dengan sedikit membentak.


"Maaf tuan, saya habis dari kamar mandi. Dan ponsel saya tinggal di atas tempat tidur". Ucap seseorang itu.


"What ever. Ada pekerjaan untuk mu. Cari dan lacak keberadaan Marko Imanuel. Cari dia di ranah dunia hitam. Banyak yang mengenalnya dengan nama El. Aku butuh segera. Lakukan dengan cepat". Ucap Yash memerintah.


"Baik tuan muda. Akan saya usahakan". Ucap seseorang itu dengan sopan. Dan Yadh pun langsung mematikan panggilan telfonnya.


Jio yang sedari tadi diam memperhatikan pun tahu dengan siapa tuan mudanya berbicara. Memang jika menyangkut orang-orang yang bernaung di dunia kriminal dan dunia hitam. Yash pasti akan mengandalkan Troy. Si pria pucat yang memiliki kecerdasan IT yang mumpuni.


"Siapkan mobilnya Jio kita akan mengantar Mira pulang". Ucap Yash memerintah dan Jio pun mengangguk lalu berjalan pergi untuk menyiapkan mobil.


Sedangkan Yash dengan hati-hati menggendong kembali tubuh Mira yang terasa sedikit ringan dari sebelumnya.


"Paman aku pamit pulang dulu. Terima kadih atas bantuanya". Ucap Yash berpamitan.


Jordan pun hanya mengangguk saja seraya mengacungkan ibu jarinya seraya menikmati makan malamnya.


"Yash, aku sarankan agar kau memberi Mira makan terlebih dahulu sebelum nanti kau meminumkan obatnya. Aku rasa Mira sedikit kurusan dari yang aku lihat beberapa hari lalu". Ucap Jordan saat Yash hendak membuka pintu.


"Ya paman. Terima kasih atas sarannya. Akan aku ingat dengan baik". Ucap Yash dan langsung keluar dari ruangan dokter Jordan.


Sepanjang perjalanannya menuju ke arah mobil yang sudah menunggu di depan. Banyak pasang mata yang melihat Yash tengah menggendong Mira dengan raut datarnya. Dan sesampainya di depan rumah sakit. Yash langsung memasuki mobil yang langsung melaju kencang menembus jalan.

__ADS_1


Di perjalanan yang sunyi nan gelap itu Yash merasa ada sesuatu yang ganjil dan sedikit was-was. Sedangkan Jio dan sang supir pun merasakan hal yang sama.


"Jio". Panggil Yash dengan tegas.


"Ya tuan muda". Ucap Jio sopan.


"Bersiap lah. Aku merasa ada sesuatu yang mencurigakan di jalanan ini". Ucap Yash dengan awas dan mengamati sekitar.


"Baik tuan muda". Ucap Jio sigap.


Dan benar saja. Dari arah belakang ada yang dengan sengaja menabrakan kendaraannya dengan mobil belakang Yash.


**DUAAKKK !!!


BRAAKKK** !!!


Hantaman itu seketika membuat mobil yang Yash tumpangi sedikit goyang dan sang supir pun berusaha untuk mengimbangi dan mengendalikan mobil itu.


CiiiiTTTT....


Suara decitan ban mobil itu pun menggema di jalanan aspal yang sunyi nan gelap. Membuat Mira langsung terbangun seketika dengan rau panik.


"Aaaa...Ada apa ini tuan ?". Tanya Mira panik.


"Tenang lah, kita akan baik-baik saja". Ucap Yash berusaha untuk tetap tenang dan fokus.


Jio yang sigap akan arah depan yang kemungkinan jurang. Langsung reflek menatik setir ke kanan dan membuat mobil itu berputar lalu menabrak pohon dengan keras. Membuat sang supir terbentur stir dan pingsan di tempat. Sementara Jio, Mira d\n Yash Masih selamat dan bernafas secara sadar.


"Kau tak apa Mira ?". Tanya Yash yang langsung memeriksa keadaan Mira. Dan Mira pun hanya menggeleng takut.


"Hhhh syukur lah". Ucao Yash lega dan memeluk Mira erat.


DORR DORR !!


Suara tembakan pun sukses membuat Jio, Yadh dan Mira langsung menunduk di mobil. Dan benar saja dua buah peluru menembus kaca mobil Yash yang sudah retah menabrak pohon.


"Brengsek. Siapa yang berani-beraninya menyerang. Jio siapkan senjata". Titah Yash dengan penuh amarah.


jio pun mengangguk dan langsung mengambil pistol di dasbok mobil. Sedangkan Yash mengambil pistol sniper di bawah jok mobilnya. Lalu Jio dan Yash pun langsung mengisi pistorlnya dengan peluru.


"Tetap lah di belakangku Mira. Jangan sekalipun kamu lepas dari ku. Karena akan ada bahaya yang mengancam". Ucap Yash memperingati.


"Tuan aku takut". Ucsp Mira dengan menangis ketakutan.


"Yatap aku Mira...". Ucap Yash yang langsung membawa Mira untu menatapnya.


"Semua akan baik-baik saja. Aku dan Jio akan berusaha melindungimu. Percaya lah". Ucap Yash meyskinkan dan langsung di baladi anggukan oleh Mira.


"Jio, saatnya kita bermain". Ucap Yash dengan tersenyum setan. Sedangkan Jio hanya mengangguk penuh minat.


Ketiganya pun turun dari mobil dan langsung berpura-pura ketakutan dengan mengangkat kedua tangan di atas telinga.


"Haahaahaaa sungguh mangsa yang empuk". Ucap salah satu pria yang mungkin saja ketua dari kelompok itu.


"Mereka gengster macan api. Ada masalah apa mereka dengan ku ?". Batin Yash bingung saat tahu jika yang menodongnya adalah gengster macan api.


"Untuk harta yang ku bawa akan aku serahkan. Tetapi untuk wanita ini. Tidak akan pernah aku serahkan". Ucap Yash dingin dan tajam.


"Heh kami memaksa kalau begitu". Ucap gengter itu lagi.


"Dengan senang hati". Ucap Yash santai.


"Sialan kau. Ayo serang mereka !". Ucap grngster itu dan langsung mengomando.


Mereka yang tak tahu jika Yash dan Jio membawa senjata pun sedikit terkejut dan kuwalahan menghadapinya. Ada sebagian yang tumbang dan ada juga yang terluka.


Semua di babat habis oleh Yash dan Jio. Namun saat Yadh sedikit lengah. Ada yang mencekal tangan Mira dan menariknya. Membuat Mira berteriak dan langsung dengan reflek Yash juga menarik tangan Mira.


"Lepaskan dia !". Ucap Yash penuh amarah.


"Tidak. Kau yang seharusnya melepaskannya dan berikan kepadaku". Ucapnya membantah.


"Kau ingin bermain-main denganku rupanya". Ucap Yash tajam dan langsung menunjukan jati dirinya nengenai tato kecil yang ada di dada kirinya bergambar sayap hitam yang langsung membuat orang itu melepas Mira dengan reflek.


"Tu.... Tuan Leon". Ucap orang itu drngan terbata.


"Kau ingin aku keluarkan dari naunganku huh. Pergi dan jangan lagi berada di dalam naunganku". Ucap Yash mulai marah.


"Ampun tuan muda. Maafkan saya. Saya hanya melakukan perintah dari bos besar Hendra. Dia menyuruh sebagian gengster untuk menjarah, mencuri, dan mengedarkan barang terlarang tuan". Ucap orang itu dengan gemetar takut.


Yash pun menatsp Jio dengan penuh tanda tanya. Lalu menatap orang itu dengan seksama. Jio seperti menyimpan sesuatu. Sedangkan orsng yang berlutut itu mengatakan kejujurannya.


"Lama tidak ku kunjungi dan pantau. Ternyata sekacau ini. Bisa kau jelaskan Jio ?". Tanya Yash mengibtimidasi.


"Saya memang mendapat kabar saat berada di paris bahwa Mahendra Qaram sudah berbuat terlalu jauh tuan" Ucap Jio mencoba untuk menjelaskan.


"Dia membuat sebagian kelompok yang berada di bawah naungan anda melakukan banyak sekali tindak kejahatan yang mencolok. Alasannya demi dana yang semaki menipis untuk membiayai hodup para kelompok yang berada di bawah naungan Leon in crime". Ucao Jio memberi tahu.


"Kekurangan dana. Ksu yang benar saja Jio. Bahkan perbulannya aku mensruh dana dua miliyar kesana. Tidak mungkin bisa kekurangan. Apa mungkin ada suatu kecurangan yang terlewat". Ucap Yash merasa curiga.


"Otaknya ada di Mahendra sendiri tuan. Kelicikannya sudah mulai keluar beberapa tahun ini" Ucap Jio memberi tahu.


Yash pun lalu menghela dengan kesal dan menghampiri Mira yang sedari tadi mematung dan lslu menyampirkan jaketnya ketubub Mira yang dapat menutupi paha mulus Mira dari rasa dingin.


"Kau ikut aku sekarang. Nyalakan mobil mu dan bawa aku ke rumah di jalan gading putih. Kita bahas itu disana".Titah Yadh dan langsung dipatuhiboleh pria itu dan beberapa temannya yang selamat.


"Dan kau Jio. Hubungi Roni untuk mengurus semua ini. Termasuk supir yang pingsan itu".Titah Yash kepa Jio yang langsung diangguki olehnya.


"Mira, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Ini juga sudah sangat larut. Ikutlah denganku ke vila dan bermalam lah disana. Masalah kakakmu akan aku urus nanti". Ucap Yash dan Mira pun hanya mengangguk pasrah.


Dan mereka pun pergi ke vila gading milik Yash yang terletak agak jauh dari kota dan masih termasuk vila rahasia untuk Yash.


Sesampainya di vila itu Mira dibuat takjub akan bangunan vila yang terlihat megah. Yash pun menaruh sidik jarinya di alat kecil seperti cctv di depan gerbang


dan gerbang itu pun terbuka lebar. menampilkan jejeran manusia yang menunduk hormat kearah mobil yang ditumpangi Yash.


"Mereka kan anggota Drak Angel yang terkenak itu". Ucap salah satu gengster yang ikut dengan Yash.


Mira yang tidak mengerti pun hanya diam saja. Dia hanya butuh istirahat untuk menghilangkan rasa lelahnya itu.

__ADS_1


Saat memasuki ruang utama. Sudah banysk pelayan wanita yang berjejer rapih menunduk hormat kepada Yash dan yang laimya.


"Antarkan satu nampan makan malam kekamarku. Dan Jio tolong jamu mereka dan bawa ke ruangan ku setelahnya. Aku akan membawa Mira istirahat dulu". Ucap Yash memerintah.


Jio dan pelayan yang di perintsh pun saling menunduk dan mengangguk hormat dan mereka pun pergi ke tujuannya masimg-mading.


Yash lalu membawa Mira menuju kamarnya dan menyuruh Mira untuk bersih-bersih lalu mengenakan pakaian tidurnya yang terlihat seksi. Membuat Yash harus konsentrasi dan fokus.


Sang pelayan pun langsung mengantarkan makan kearah Mira dan Mira pun langsung memakannya di bantu dengan Yash yang sesekali mengelap sudut bibir Mira yang belepotan.


"Jika sudah minum obatnya". Ucap Yash seraya menyodorkan dua butir obat, disusul dengan satu sendok sirup vitamin lalu Yash juga mengoleskan salep di luka Mira dengan hati-hati.


Mira fikir salep itu akan terasa perih. Ternyata dugaanya salah. Justru sangat dingin dan membuatnya relex. .


"Tidur lah, besok pagi kau ada kencan kan. Tidur dan jangan fikirkan apa pun". Ucap Yash memerintah.


"Tuan...". Ucap Mira dengan menggenggam tangan Yash.


Yash yang tadinya hendak pergi pun kembali mendudukan dirinya di sisi ranjang. Memandang Mira intens.


"Terimakasih atas pertolongannya dan bisakah kau berada disini sampai ku tertidur. Aku rasa, aku takut berada di kamar yang besar ini sendirian". Ucap Mira drngan sedikit malu dan canggung.


"Boleh, asal kau mau memanggilku dengan sebutan Leon atau Yash". Ucap Yash menawari.


Mira pun menunduk mencoba untuk menimang dan lalu mengangguk mensetujua syarat dari Yash. Toh hanya memanggil namanya kan.


"Coba katakan. Aku ingin mendengarmu mengucapkan yang mana untuk ku". Ucap Yash menggoda. Dan Mira pun langsung bersemu merah.


"Yash...Aryasha Leonard". Ucap Mira dengan lembut.


"Ulangi'. Ucap Yash seraya mencindongkan wajahnya.


"Yash". Ucap Mira,mengulang.


"Lagi". Titah Yash yang semakin mendekatkan majahnya.


"Yash". Ucap Mira yang rupanya sudah mulai terlena,akan wajah tampan dari Yash sertama manik mata hitam yang sangat memabukkan.


"Sekali lagi". Bisik Yash lirih tepat di deban bibir Mira yang merekah.


"Yash...Emmmhh". Erang Mira saat bibirnya menyatu dengan bibir Yash. Dan membuatnya sedikit melayang.


"Sial...Aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus menahannya. Tahan Yash tahan". Batin Yash mencoba untuk tetap fokus dan menahan sesuatu yang bergejolak.


Saat dirasa nafas Mira sedikit teratur dan tidak tersengal dalam ciumannya. Yash pun menyudahinya dan memastika jika Mira sudah tertidur. Karena dalam obat yang Yash berikan mengandung obat yang dapat membuat si pengonsumsinya tertidur. Naka dari itu dokter Jordan menyarankan di minum malam hari sebelum tidur pada plasti pouc.


Yash pun lalu tersenyum puas dan menciumi seluruh wajah Mira dengan gemas dan cepat. Ia merasa enggan untuk meninggalkan Mira. Namun ada sesuatu yang harus ia selesaikan malam ini juga. Demi naungannya dan para kelompoknya.


"Mimpi indah Mira. Aku menyayangimu". Ucap Yash tanpa beban dan tanpa keraguan sedikit pun.


Yash lalu beranjak dari duduknya dan mulai menyelimuti tubuh Mira dan mengatur mesin pendingin agar pas dan nyaman untuk Mira. Lau ia pun kelyar kamar dan berjalan menujubruangan khusus dengan tatapan dan garus wajah tang berbeda dari sebelumnya. Sebua tatspan yang tajam penuh ambisi dan kelicikan serta garis wzjah yang tegas dan berwibawa.


Saat memasuki ruangan banyak anggota yang menunduk hormat. Dan Yash lalu duduk di kursi kerjanya seraya menatap para anggota dengan tajam.


"Sudah beberapa tahun aku tidak berkunjung. Dan rupanya sudah banyak sekali yang melceng dari aturan. Apa kalian ingin menentangku". Ucap Yash dengan nada dingin. Membuat semua yang berada di sana pun terdiam dan tertunduk takut.


"Ada kah yang mau menjawabnya ?". Tanya Yash dengan serius.


"Rudi...Apa kau bisa mengatakan sesuatu ?". Rudi yang ditanyai pun hanya bisa menggeleng takut seraya menatap kearah Mahendra yang tengah menatapnya santai namun tersirat makna memperingati.


Dan semua itu terbaca oleh Yash yang diam-diam memperhatikan. Seeta insting yang tajam bakat dari lahirnya lah yang sangat membantu.


Yash pun tersenyum sinis saat melihat penghianatan Mahendra yang sungguh terang-terangan itu. Bahkan raut wajahnya pun tidak menyiratkan rass takut.


"Kau fikir mampu untuk melawanku Mahen. Kita lihat saja". Batin Yash dengan tatapan sinis diam-diam.


Para anggota yang sebagian sudah mengenal Yash atau Leon itu pun sudah paham dan mengerti. Mereka sangat lega mengetahui jika tuannya sudah di hianati dan di curangi oleh orang kepercayaannya.


Semua tidak ada yang bisa mengadu dan melapor. Sebab gerak gerik mereka sudah di pantau dengan baik oleh Mahendra sendiri. Jika ada yang hendak melapor dan membocorkannta sudah pasti orang itu akan lenyap saat itu juga. Mahendra tidak akan segan-segan untuk membunuh dan mengancam.


Padahal jika boleh memilih. Aturan dari Yash lah yang paling baik. Meski pun tidak mencuri, merampok, membegal dll. Tetapi naungan Yash di butuhkan untuk sebagai bodguard, sebagai mata-mata, swbagai penagih hutang, dan aja juga yang bekerja sebagai montir, otomotif, dan lainnya. Yash tidak mengizinkan naungannya berurusan dengan pihak berwajib. Yash adalah ketua yang royal. Nereka juga di bebaskan untuk bekerja bahkan ada yang di beri modal untuk usaha. Asal sesuai perjanjian saat Yash membutuhkan mereka. Ya mereka harus siap lahir batin.


"Mahen. Kemari lah. Aku ingin memberika suatu penghargaan untuk mu". Ucap Yash memerintah dengan raut bangga.


Mahendra pun langsung berbinar tanpa berfikir ulang dan rasa curiga. Ia pun langsung mendekat kearah Yash dengan sombong dan gagah berani.


Saat sudah ada di depan Yash. Mahendra pun di buat terkejut atas foto dan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa dirinya bersalah.


**DUAKKK


BRRuUUKKK**


Tendangan dari Yash pun berhasil membuat Mahen terjungkal dan kepalanya pun membentur lantai dengan kuat. Namun karena fisik Mahen ysng terkenal kuat ia pun bangkit dan langsung menodongkan pistol kearah Yash tepat ke arah kepalanya.


"Wow....Sudah mulai berani rupanya". Ucap Yash santai.


"YA aku memang muak dengan mu. Pemimpin yang bodoh dan sesenaknya. Sok baik dan pengecut !". Ucap Mahen lantang. Membuat Yash langsung menaikan sebelah alisnya.


"Begitu ya". Ucap Yash santai.


"Lalu kau fikir kau merasa hebat telah menghianatiku. Mengacaukan naunganku dan membuat kacau kelompok ku. Begitu ?". Tanya Yash dengan sinis dan tajam.


"Well aku memang sehebat itu Leon. Jika kau berani lawan aku satu lawan satu dengan tangan kosong. Aku siap melawan mu malam ini. Dan akan aku pastikan ini adalah malam terakhirmu berada di sini haahaahaa" . Ucap Mahen dengan percaya dirinya. Membuat Yash tersenyum tipis di buatnya.


"Jika kau kalah. Maka nyawamu taruhannya Mahen. Apa kau siap dan sanggup ?". Tanya Yash santai.


"Heh aku siap". Ucap Mahen remeh.


"Baik lah". Ucap Yadh santai dan lalu berdiri seraya meregangkan otot.


Dan pertarungan itu pun berlangsung sengit. Yash pun terkena pukulan di sudut bibirnya saat dirinya lengah. Namun Mahen pun tak kalah parah. Selain giginya ada sebagian yang copot. Luka rusuk yang patah pun membuatnya sedikit kesulitan.


Mahen fikir tuannya terlena akan dunia luar yang menyibukannya. Sehingga membuatnya jarang berlatih dan lupa akan bela dirinya. Ternyata dugaanya salah. Tuannya masih sama seperti dulu.


"Aku sudah tidak ingin bermain-main lagi Mahen". Ucap Yash dan langsung kembali duduk ke kursi kebesarsnnya.


"Bawa dia ke pihak berwajib. Dan serahkan semua buktinya. Aki tidak ingin mengotori tanganku yang berharga hanya karena satu orang penghianat seperti dia". Ucap Yash santai dan langsung memerintahkan Jio untuk membawa Mahes ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan swmua perbuatanya itu.


Memang Yash lah tuannya, tetapi Mahes selaku kepercayaan Yash. Telah menyalah gunakan wewenangnya. Jadi ini lah akibat yang harus Mahes alami. Menderita patah tulang dan hampir cacat seumur hidup. Lalu mendapat hukuman dari pihak berwajib yaitu di tembak mati.

__ADS_1


__ADS_2