
Satu minggu sudah Miranda dirawat dirumah sskit Harapan. Dan dokter pun sudah memperbolehkan Mira untuk di rawat di rumah . Sekarang pun waktunya Miranda untuk bersiap pulang kerumah. Di temani Mayya, Royan dan Yash.
Namu wajah Mira seakan murung. Gerak geriknya seolah tengah menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
"Kenapa murung Ra. Kan kita juga aka pulang ?". Tanya Mayya sang kakak dengan lembut.
Mira pun hanya diam membisu dan kembali menunduk melihat ubin lantai dengan wajah yang terbengong.
"Sini kak May keringin rambut mu. Setelah ini kakak sisir biar rapih". Perintah Mayya seraya mendekat kearah Mira dan langsung menyalakan alat pengering rambut.
Mayya pun mengeringkan rambut Mira dengan hati-hati seraya bersenandung riang. Semendara Royan dan Yash hanya duduk sembari menikmati secangkir kopi hangat tak jauh dari sana.
Mira lagi-lagi mengecek ponselnya dengan penasaran menunggu jawaban dari sang kakak sulungnya. Sedari tadi Mira terus mengabari sang kakak dan sudah sejak tiga hari lalu ia selalu menanyakan kabar sang kakak melalui ponselnya namun tak ada jawaban.
"Pesannya terkirim semua. Sambungan panggilannya pun aktif. Tapi kemana kak Marko". Batin Mira berucap dengan gelisah.
Mira pun sekali lagi mencoba intuk memanggil ulang sambungan telepon kakaknya dari ponsel dan hasilnya pun sama. Panggilannya tak kunjung di jawab oleh sang kakak. Mayya yang mulai paham dengan kegelisahannya sang adik pun merasa jengkel atas tindakan kakaknya itu.
"Sudah lah Ra, tidak usah kamu khawatirkan kakak lelakimu itu. Kalau dia ingat kamu pasti dia bakalan menemuimu". Ucap Mayya memberi nasihat.
"Lagian manusia macam apa sih dia. Kamu lagi keritis saja malah dia asyik berburu. Sampai sekarang engga ada kabarnya sama sekali. Tewas di makan kingkong kali ya". Ucap Mayya sedikit menggerutu.
Sementara Yash yang mendengarnya pun sedikit tersenyum singkat mendengar perkataan Mayya tentang tewas dimanan kingkong. Sejujurnya saksi dari perbuatan Marko untuk Mira adalah Yash sendiri. Dia lah yang paling tahu apa yang di perbuat Marko untuk Mira dan soal ketidak hadirannya Marko pun Yash juga tahu betul.
Selain tengah dimabuk cinta Marko juga tengah menjaga keselamatan dari orang-orang yang ia sayangi. Sebab Yosa Maravin sudah memulai penyelidikan atas kematian dari putri ketuanya Hellena Geraldi.
Ini Mungkin akan membuat Mayya dan Mira membenci Marko namun apa boleh buat. Yash yakin jika untuk Mira, Marko pasti memiliki cara tersendiri untuk memberikan pengertian. Namun lain halnya dengan Mayya. Si wanita keras kepala ini sangat susah untuk diberi tahu. Apa lagi jika sudah terlanjur membenci.
Dan kini saatnya Yash menjalankan tugasnya untuk membuat kedua kakak beradik itu tenang atau justru sebaliknya.
"Kau menunggu Marko datang ?".
Tanya Yash kepada Mira. Membuat Mira seketika langsung melihat kearah Yash dengan tatapan bingung.
"Bagaimana dia tahu ?". Pikur Mira dengan heran.
"Dia tidak akan datang".
Ucap Yash dengan nada serius. Membuat Mayya langsung mematikan alat pengering rambut yang tengah di gunakan dan memandang Yash dengan serius.
Yash pun mengeluarkan sebuah foto dari saku jas kerjanya yang dersampir di sofa rumah sakit dan memberikannya kepada Mira.
Mira pun menerimanya dengan raut penasaran dan melihat foto itu dengan intens. Terdapat dua sejoli yang tengah bermoto dengan mesra disana. Siapa lagi kalau bukan Marko Manuel dengan seorang wanita cantik berkulit eksotis berambut pirang dan berwajah khas orang timur.
"Namanya Noela sasmitha si penari eksotis dari timur tengah. Dia kekasih dari Marko.". Ucap Yash memberi tahu.
Sementara Mayya da Mira pun berdecak kagum melihat kecantikan dari seorang Noela yang bak dewi khayangan itu.
"Dia asli keturunan Timur tengah ?". Tanya Mayya dengan tatapan yang madih memuja.
"Ya keturunan dari Ayahnya. Ibunya dari indonesia tepatnya di jakarta". Ucap Yash Lagi.
"Tapi dia sudah berkeluarga. Memiliki dua orang anak dan usianya seumuran dengan mu nona Mayya". Ucap Yash lagi memberi tahu.
Namun informasi yang terakhir ini sukses membuat Mayya dan Mira langsung berteriak secara bersamaan dengan raut syoknya.
"APAAA !". Teriak Mayya dan Mira secara bersamaan.
"Emang dasar tuh orang begonya kebangetan. Engga ada akhlak. Idiot. Biang masalah. Hhhhhhh ya tuhan kenapa aku harus mempunyai seorang kakak yang kerjaanya membuat ku malu setengah mati. Tidak bisakah ditukar dengan yang lebih baik. Setidaknya tidak selalu membuat masalah dalam hidup ku dan Mira". Ucap Mayya berkeluh kesah sendiri.
Yash pun membawa satu buah amplop sedang berisikan semua data diri tentang Noela kepada Mayya dan Mira.
"Bacalah. Semua informasi tentangnya ada di sana. Dia memang ikut berburu dengan ku. Tapi setelah acara berburu selesai. Dia pun menghilang". Ucap Yash memberi tahu.
Mira dan Maya pun membaca semua informadi itu dengan baik tanpa terlewat sedikit pun dan langsung menghela dengan tidak enaknnya saat selesai membacanya.
"Kenapa kak Marko menjadi seperti ini". Lirih Mira dengan raut sedihnya.
"Sudah lah Ra. Jangan fikirkan lagi manusia tak waras itu. Dia memang selalu hobi sama yang namanya masalah". Sungut Maya dengan kesal seraya merapikan rambut Mira.
"Naah selesai. Sudah seger, wangi, cakep lah. Yoo saatnya kita pulang". Ajak Mayya kepada Mira.
"Mas urus administrasinya dulu ya sama tebus obatnya Mira kalian tunggu aja di mobil nanti baju kotornya Mira biar Mas yang bawa". Ucap Royan seraya berdiri hendak melangkah keluar namun sebelum sampai pintu. Pintu itu pun sudah di buka terlebih dahulu oleh seseorang.
"Selamat siang semuanya. Maaf mengganggu. Saya hanya akan mengantarkan obat untuk nona Miranda serta baju-baju nona Miranda yang sudah di bersihkan oleh petuga". Ucap seorang suster muda kepada Mira.
"Loh sus, kan obatnya belum di tebus sama saya ?". Tanya Royan kebingungan.
"Semua sudah di tebus tuan. Biaya administrasi dan obatnya sudah lunas. Ini bukti pelunasannya tuan". Ucap sang suster seraya menyerahkan surat bukti pelunasan.
__ADS_1
"Siapa yang membayarnya ?". Tanya,Royan heran.
"Saya yang membiayainya". Ucap seseorang diujung pintu.
Semua pun melihat kearah sumber suara dan terkejut seketika saat melihat tuan besar leonard bersama putrinya yang duduk di kursi roda datang mengunjungi Mira.
"Ayah. Raina... ?". Ucap Yash dengan heran.
"Tuan besar, nona muda selamat siang". Ucap Mayya, Mira, dan Royan secara bersamaan.
Jonathan pun mulai berjalan masuk kedalam ruangan seraya mendorong kursi roda milik Raina dan mendekat kearah Mira yang tengah duduk di ranjang pasien.
"Bagaimana kondisimu Mira. Maaf karena saya baru bisa mengunjungimu sekarang". Ucap Jonathan dengan suara khas orang tua.
"Saya merasa lebih baik tuan besa. Terimakadih atad kunjungannya. Anda sangat baik kepada saya tuan besar". Ucap Mira sedikit canggung.
"Kau boleh memanggil ku dengan sebutan Ayah jika kau mau sama seperti putriku". Ucap Jonathan dengan tulus membuat Mira seketika tertegun di tempat.
Mira pun melihat kearah Raina yang juga melihat Mira dan tersenyum mengannguk menandakan jika Raina,tidak masslah dengan sebutan itu.
Namun Mira tetao lah tidak enak hati dan merasa tak pantas akan panggilan itu kepada tuan besar seorang Leinard.
"Saya merass tidak pantas tuan besar. Biarkanlah saya memanggil anda dengan tuan besar saja". Tolak Mira denga halus.
Jonathan pun tersenyum menanggapi sikap Mira yang lembut dan sedikit canggung itu. Memang sudah tak asing lagi bagi Jonathan jika ia banyak menemui orang-orang seperti Mira yang merasa canggung atas wibawa dari seorang Jonathan.
"Terserah kau saja. Yang pasti aku sudah menganggap mu sebagai putri kedua ku. Jadilah kakak yang baik untuk Raina dan bantu lah dia". Ucap Jonathan dengan tersenyum senang.
"Aku senang jika kau menjadi kakak perempuan ku Mira. Apa lagi di tambah dengan embel kakak ipar". Goda Raina dengan tersenyum senang.
Membuat Mira langsung tesenyum malu dan Yash melihat tajam tepat kearah Raina. Sementara Raina yang di beri pelototan tajam dari Yash malah terkesan cuek dan tak perduli.
"Apa-apa mereka ini. Ayah dan anak ini benar-benar". Batin Yash merasa kesal.
"Tuan besar terimakasih atas kemurahan hati anda telah membiayai semua pengobatan adik saya". Ucap Mayya dengan sopan.
"Itu tidak sebanding dengan perbuatan adik anda yang selalu menolong putri ku nona Mayya. Seharunya saya berterima kasih kepada adik anda. Kami berhutang nyawa kepadanya". Ucap tuan Jonathan drngan nada harunya.
"Tuan besar, anda terlalu berlebihan. Itu hanya kebetulan berterima kasihlah kepada tuhan. Mungkin ini juga,salah satu dari rencananya". Ucap Mira merasa tak pantas.
"Oiya Mira aku membawakan mu ini". Ucap Raina seraya menyerahkan buket bunga liliy putih segar.
"Terima kadih nona muda Raina. Indah sekali bunganya". Ucap Mira dengan senang.
"Sungguh, pantas sekali rangkaiannya cantik. Yang merangkai juga cantik". Goda Mira kepa Raina nembuat Raina tersenyum senang.
Ini pertama kalinya ia menemukan seseorang yang memuji rangkaian bunga buatannya. Selama ini selain ibu dan ayahnya serta keempat kakaknya. Tak ada yang memuji seperyi ini. Bahkan ibu tirinya dan teman-temannya pun tidak suka.
"Oh ya aku juga membelikan mu beberapa fitamin sana sama susu dan buah diminum dan dimakan Yaa swmoga cepat sembuh". Ucap Raina dengan senangnya.
"Siiaap captain". Ucap Mira dengan senyumannya.
Keakraban antara Mira dan Raina pun tak luput dari pandangan Yash dan Jonathan. Sebab baru kali ini Putrinya sangat bisa akrab dengan orang yang masih tergolong baru di hidup Raina seperti Mira.
Sedangkan Royan dan Mayya pun ikut merasa senang. Sebab kedatangan Raina dapat membuat Mira tersenyum kembali dan melupakan kesedihannya terhaadap sang kakak sulungnya.
Akhirnya Mira, Mayya dan Royan pun berpamitan pulang. Di pelataran rumah sakit mereka pun berpisah dengan kendaraaan mading-masing.
Jonathan, Yash, dan Raina dengan mobil luminus hitamnya sementara Mayya, Royan dan Mira dengan mobil kijang inova putih.
Sesampainya di rumah Mira pun disambut hangat oleh keempat teman kerjanya Shila, imelda dsn jojo, Oji, dan Nuri. Selain itu beberapa pekerja catering, ibu mertua dari Mayya, dan kedua keponakannya Liliana dan Ayub.
Rumah pun disulap menjadi ramai orang dan Mira pun begitu banyak di perhatikan disana.
"Kak Mira semoga cepet sembuh yah. Biar bisa main lagi sama lili". Ucap Lili dengan suara khas anak kecilnya.
"Iya sayang, tante pasti cepet sembuh. Tante juga kangen sama lili sama ayub juga emm sini peluk sini". Ucap Mira seraya merentangkan satu tangan kirinya.
"Hati-hati loh meluk tante Miranya. Jangan sampai kena luka di lengan atas tangan kanannya ya". Ucap Mayya memberi peringatan dengan lembut.
"Iya maah". Ucap Ayub dan Lili secara bersamaan.
Lalu mereka pun berpelukan dengan manjanya melepas rasa kangen antara keponakan dan tantenya. Lili dan Ayub pun saling menciumi pipi Mira dengan gemas dan sayang.
Hal itu pun tidak luput dari pandangan keempat teman kerja Mira yang tengah duduk melingkar di salah satu meja dan melihat keakraban Mira dengan dua keponakannya.
"Mira pantes ya kalau udah punya anak". Ucap Nurida.
"iya tuh, anak kecil aja banyak yang nempel". Ucap imelda
__ADS_1
"Ya kan yang paling dewasa sama kalem diantara kita ya Mira". Ucap Shila lalu menyeruput teh hangatnya.
"Emang lu ney, engga bisa diem pecicilan bae kaya bocah". Ucap Oji dengan menyindir.
"Diem Lu bencong. Lagi di rumah orang ini. Jangan sampe lu buat gua malu ya". Sungut Shila yang tengah berusaha meredam suara dan emosinya.
"Udah deh kalian tuh engga bisa apa kalau akur sebentar saja". Lerai Nuri dengan nada memelas.
"Makannya bilangin tuh ke mulut lemes. Engga usah cari gara-gara sama gua". Ucap Shila sedikit kesal.
"iya udah dong. Udah nih tuh makan aja makan". Ucap Imelda seraya menjejali Shila dan Oji kue basah yang di suguhkan untuk mereka.
Mira yang baru ingat jika ada teman kerjanya yang datang pun langsung menghampiri meja dan menyapa.
"Hai maaf yah dianggurin". Ucap Mira dengan raut melas.
"Santai lah Ra, kita juga ngerti ko. Eh ngomong-ngmong ko lu belum siap-siap sih Ra. Bentar lagi kan acara tasakuran lu. Siap-siap gih". Ucap Nuri mengingatkan.
"Iya ini juga mau siap-siap. Tapi aku boleh minta tolong ?". Tanya Mira memastikan.
"Tolong apa sih Ra, bilang sok". Ucap Imelda.
"Bantuin aku buat siap-siap. Soalnya tanganku yang kanan belum bisa banget buat gerak". Ucap Mira dengan jujur.
"Oohh itu toh. Ya udah ayok tunjukin kamar lu ntar biar kita bantu". Ucap Shila.
"Ya udah yuk". Ajak Mira sembari berjalan.
"Mas, aku tinggal dulu yah. Mau bantuin Mira boleh kan ?". Izin Imelda dengan lembut kepada sang tunanga.
Jojo pun akhirnya mengannguk mensetuhui Imelda untuk pergi meninggalkannya membantu Mira.
Saat keempatnya mulai berjalan tiba-tiba saja Shila berhenti dan berbalik kearah Oji yang mengikuti mereka dari belakang.
"Mau ngapain lu ?". Tanya Shila dengan berkecak pinggang.
"Ya ikut lah ney, aku kan juga ingin bantuin Mira". Jawab Oji tanpa rasa malu.
"Ngga usah. Mending diem disini. Ini urusan cewek. Lu cewek bukan ?". Tolak Shila dengan tanpa perasaan membuat Oji langsung cemberut seketika.
"Diem disini". Perintah Shila dengan tegas lalu berjalan pergi menyusul Mira dan yang lainnya.
"Shila ikkhh kan aku pengin ikuuut. Shil ney Shilaaa !".
Rajuk Oji yang sialnya tanpa di gubris oleh Shila. Dan Al hasil Oji pun menyerah dan duduk kembali di meja bersama Jojo. Tunamgan Imelda yang sedari tadi asyik dengan game di ponselnya.
Sesampainya di kamar Mira pun langsung bersiap-siap di bantu oleh ke tiga teman perempuannya.
"Bajunya mau yang mana Ra. Mau gamis atau apa. ?". Tanya Imelda yang tengah memilah.
"Pakai itu long dres yang ada kancingnya saja deh mel. Yang warna hijau almond biar enak dipakenya". Jawab Mira sambil menunjuk kearah baju long dres berlengan panjang.
"Iya ya Ra. Tangan lu pan susah buat gerang yang satu. Kalau pke yang ada kancingnya kan enak ya engga ribet". Ucap Shila.
"Ya udah bersih-bersih gih dulu Ra. Bisa kan apa mau dibantu. ?". Tanya Nuri memastikan.
"Kalau untuk urusan itu biar kak May yang bantuin". Ucap Mayya diujung pintu kamar Mira. Membuat yang lainnya pun melihat kearah Mayya.
"Kak May". Sapa ketiga teman Mira dengan ramah.
Mayya pun menanggapi sapaan ramah teman-teman Mira dengan tersenyum lembut. Lalu ia pun membantu Mira untuk Mmandi di dalam kamar mandi.
Setelah selesai bersih-bersih Mira pun akhirnya memakai Long dres lengan panjang berkancing itu serta kerudung motif warna hitam polos diatas dan bergambar bunga rose merah di bagian belakang serta celana leging hitam untuk dalaman.
"Eh lanjutin dulu ya, kakak mau ngurusin yang dibawah takut ada yang kurang". Izin Mayya kepada yang lainnya.
"Iya kak, tenang saja. Pasti Mira kita bantu ko". Ucap Imelda dengan ramah.
Mayya pun akhirnya keluar ruangan setelah mengucapkan terimakadi kepada ketiga teman Mira.
"Beb kamar lu nyaman juga ya. Rapih, wangi, terlihat segar dan natural banget. Kalem lagi warna sama modelnya. Engga berlebihan". Ucap Imelda memuji kamar Mira.
Mira pun hanya tersenyum senang menanggapi ucapan dari imelda. Memang sejak dulu Mira tidak pernah suka kamar yang bernuansa mewah. Dia suka kamar yang simpel dan elegan.
"Emmm kalian pada mau pake kerudung engga. Kalau mau ambil saja punya ku. Aku pinjemin". Ucap Mira menawarkan.
"Iya sih kita rada canggung kalau ngga pake kerudung. Untung baju kita-kita panjang". Ucap Nuri.
__ADS_1
Memang mereka datang demgan baju sopan seperti Shila dengan kemeja levis serta celana pensil moderen namun tidak sobek-sobek hanya,saja kesan tomboynya dapet. Sementara Nuri dan Imelda memakai atasan blous lengan panjang dan celana jeans moderen. Tinggal di pake kerudung juga masih pantes. Jadinya gaya model hijab masa kini.
Tepat pukul tuju malam acara pun berlangsung dengan khidmad. Semua tami undangan pun datang saling mendoalan dan bersyukur atas berhasilnya Mira melewati masa keritisnya dan meminta doa agar Mira cepat pulih dan sehat kembali.