
Didalam mobil yang melaju cukup kencang itu. Yash pun tak henti-hentinya tersenyum senang. Membayangkan wajah lucu Mira yang sungguh luar biasa menggemaskan itu. Membuatnya tak tahan untuk menciumnya dengan gemas.
Jio yang menyaksikannya dari kaca kemudi pun hanya menggeleng saja menyaksikan tuan mudanya yang tengah di landa asmara.
"Jio. Apa kau tahu. Seberapa dekat hubungan Raina dengan Vikram ?". Tanya Yash santai.
"Haruskah aku mengatakannya. Apa tak apa jika aku memberi tahukannya ?". Batin Jio sedikit ragu dan berfikir.
"Saya tidak tahu pasti tuan. Hanya saja terkadang saya beberapa kalli melihat mereka berdekatan. Entah itu mengobrol, bertutur sapa dan kebiasaan lainnya yang menurut saya wajar tuan". Ucap Jio penuh hati-hati.
Yash pun sedikit terdiam mendengar pengakuan dari Jio. Memang sudah bukan rahasia lagi jika Raina dan Vikram itu dekat. Sebab mereka sudah saling kenal saat kecil. Waktu itu usia Vikram 10 tahun dan Raina saat itu masih bayi merah. Dia juga menganggap Raina adiknya setelah usia Raina 5 tahun dan sering bermain bersama Vikram. Jadi wajar saja banyak yang menganggap jika kedekatan Raina dan Vikram itu wajar.
"Lalu bagaimana denganku. Vikram saja masih di bilang wajar. Kenapa aku tidak. Bahkan banyak yang mempermasalahkannya". Batin Yash merasa tak terima.
"Ada berapa tugas untuk ku di kantor dalam satu minggu kedepan Jio ?". Tanya Yash mengalihkan pembicaraan.
"Lusa anda harus terbang ke paris tuan. Menghadiri sekaligus meresmikan anak cabang LEONgrup disana. Diperkirakan anda berada disana lima hari tuan". Ucap Jio memberi tahu.
"Lima hari...Hmmmm waktu yang tepat". Batin Yash dengan tersenyum jenaka.
"Tidak biasanya tuan muda akan tersenyum dan biasa saja atas jadwal terbangnya untuk keluar negri. Biasanya tuan akan uring-uringan". Bstin Jio merasa heran.
"Jio....Kau tahu. Mira tadi mrnyampaikan sesuatu kepada ku". Ucap Yash dengan tersenyum lucu.
Jio pun hanya diam bersiap mendengarkan cerita tuan mudanya itu dengan baik dan sedikit penasaran.
"Dia berkata hari ini adalah hari terakhirnya berada di dekatku. Setelah hari ini. Dia akan menjauh dari ku beserta orang-orang berada di dekatku. Termasuk ayah ku dan Raina". Ucap Yash dengan tersenyum di akhir kalimat.
"Lalu apa yang tuan katakan ?". Tanya Jio penasaran.
"Mira telah mencuri perhatian dariku, darimu, dari ayahku, dari Raina dan dari Vikram juga ketiga adik lelakiku. Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja". Ucap Yash dengan tersenyum licik. Jio pun ikut tersenyum senang mendengarnya.
"Istri cantik dari Royan Rahardian sedang ingin berperang denganku". Ucap Yash seraya menatap tajam kearah jalanan kota.
"Maksud anda, nona Maya Sanggita tuan. Sungguh ?". Tanya Jio merasa takjub.
"Ya. Dia yang meminta Mira untuk menjauhiku berserta kelurgaku. Setelah misinya dengan Vikram selesai". Ucap Yash memberi tahu.
"Pantas saja nona Maya terlihat begitu sangat marah saat anda mencium nona Mira didepannya. Dia dangan terang-terangan menentang anda tuan". Ucap Jio memberi tahu.
Yash pun hanya tersenyum acuh dan melihat tangannya yang terbalut perban itu. Sambil mengingatnya Yash pun tersenyum candu. Dan menciumi tangannya yang di perban itu layaknya sesuatu yang berharga.
"Sepertinya aku tidak bisa melepasmu Mira. Kau bagaikan angin segar di hidupku. Sangat lembut dan menyejukan. Aku pun sampai terbuai dan terjatuh karena mu". Lirih Yash seraya membelai perban itu layaknya orang tak waras.
"Sekarang kau pun merasakan sendiri tuan. Cinta memang membuat seseorang menjadi gila. Kau kini sama saja gilanya. Bahkan seperti orang yang tak waras". Batin Jio dengan tersenyum maklum melihat sang tuan mudanya yang tengah kasmaran.
"Suruhlah Roni untuk mengawasi Mira secara khusus. Jika aku tidak membutuhkanmu di paris. Sudah ku pastikan kau yang kusuruh untuk mengawasinya Jio". Ucap Yash memerintah.
"Baik tuan". Ucap Jio sopan.
"Mari kita lihat, aku atau dia lah yang menang". Ucap Jio dengan tersenyum licik.
Keesokan harinya tepat pukul dua belas siang. Mira pun baru membuka matanya akibat semalaman ia tidak bisa tidur. Baru lah saat pagi menjelang matanya terasa berat dan kepalanya pun berdenyut pening dan ia pun tertidur dengan sendirinya.
Beruntung hari ini adalah hari cuti kerjanya selama 1 minggu kedepan guna menghormati sang anak bos yang tengah berbahagia dengan pernikahan barunya.
Mira pun lalu terduduk diatas tempat tidurnya dan menghela nafasnya. ia pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian santai.
20 menit berlalu dan Mira pun sudah segar dengan pakaian santainya. Dengan memutar musik era 2000 an di aplikasi yutubenya. Mira pun mulai merias diri di depan ceemin riasnya.
Saat Mira hendak memoles lip tin warna merah ke bibirnya. Ia pun teringat saat Yash menciumnya dengan lembut malam tadi. Dan Mira pun langsung menutup mukanya merasa malu dan mukanya pun sudah memerah.
"Kenapa aku harus mengingatnya". Rengek Mira merasa tak terima.
Ia pun lalu menggeleng dan mengenyahkan pikirannya dengan keras lalu memoles bibir itu dengan apik dan rapih lalu menyisir rambutnya.
Deringan ponselnya pun terdengar nyaring. Membuatnya terpaksa menunda menyisir rambut dan melihat siapa yang menelfonya. Dan ternyata kakaknya lah yang menelfonnya. Kak Maya.
"Iya kak, kenapa ?". Tanya Mira setelah menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
"Kamu sudah bangun kan. Udah bersih-bersih badan belom ?". Tanya Maya di sebersng telfon yang sepertinya tengah duduk di depan kasir toko kuenya.
"Sudah kak. Ini aku lagi menyisir rambut. Kenapa ?". Tanya Maya santai.
"Bisa ketoko kue engga Ra. Kita makan siang bareng di kafe seberang toko kue kakak. Setelah itu temani kakak jualan di toko kue yaa". Ucap Maya.
"Boleh, dua puluh menit lagi aku akan sampai ka". Ucap Mira mensetujui ajakan sang kakak
"Pakai taksi online saja Ra. Jangan bawa si merah". Ucap Maya memerintah.
"Siap kak". Ucap Mira bersemangat dan lalu panggilan itu pun berakhir.
Setelahnya Mira pun mulai memesan taksi online di aplikasi ponselnya dan mematut diri di cermin lalu menakai sepatu ketsnya yang berwarna putih itu.
Setelah terdengar bunyi kelakson pada mobilnya yang terdengar dari luar. Mira pun lalu bergegas mengambil tas selempang kecil miliknya dan berlari keluar. Mengunci pintu rumah lalu mendekati mobil yang sudah berdiri seseorang di bagian pintu belakang mobil.
"Dengan nona Miranda Nur ?" . Tanya seseorang itu.
"Iya, saya Miranda Nur". Ucap Mira memberi tahu.
"Oh kalau begitu silahkan masuk nona. Saya Roni Indrawan supir taksi online yang anda pesan". Ucapnya sopan dan membuka pintu belakang kemudi. Dan Mira pun memasuki mobil itu dengan tersenyum sopan.
"Cantik. Pantas saja tuan muda Yash sampai mau repot-repot menyuruhku untuk menjaganya dan mengawasinya. Senyumnya lembut, mirip dengan mendiang kedua nyonya besar". Batin Roni dengan tertegun.
Tersadar akan lamunannya Roni pun langsung memasuki mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Sesua tujuan di aplikasi ya nona". Ucap Roni sopan dan Mira pun mengangguk menjawab pertanyaan Roni.
Di tengah perjalanan. Mira mendapat pesan masuk dari Maya untuk menjemput Lili di sekolahnya karena sudah waktunya ia pulang. Dan Mira pun mengiyakan perintah Maya.
"Mas, bisa antarkan saya ke jalan rinjani ke TK pertiwi 7 ?. Saya mau menjemput keponakan saya dulu". Tanya Mira memastikan.
"Baik nona". Ucap Roni sopan.
"Terima kasih". Ucap Mira tulus dan kembali melihat jalanan kota yang ramai.
"Sudah sampai nona". Ucap Roni memberi tahu.
Mira yang sedari tadi melamun itu pun setengah terkejut dan tak menyangka jika perjalanannya akan secepat ini.
Mira lalu mengedarkan pandangannya dan menemukan Lili yang sedang duduk menunggu di bangku pos satpam di temani satpam dan guru cantik yang Mira ketahui bernama ibu Yanti.
"Sebentar ya Mas". Ucap Mira dan hendak turun dari mobil. Namun di cegah oleh Romi.
"Nona tunggu sebentar". Ucap Roni mencegah lalu buru-buru turun dari mobil dan memutari mobilnya membukakan pintu mobil untuk Mira.
Melihat itu, Mira pun sedikit terheran dengan sikap Roni yang sedikit berlebihan itu. Dengan raut mengernyit Mira turun dari mobil dan mengangguk berterima kasih lalu berjalan menghampiri sang keponakan yang sudah melambai senang.
"Kak Miraaaa !". Sapa Lili dengan senang dan langsung berhambur memeluk Mira.
"Hey, cantiknya kakak. Gimana sekolahnya hari ini ?". Tanya Mira dengan lembut seraya mengurai pelukannya dan menatap Lili lembut.
"Menyenangkan. Aku dapat nila A di matematika dan bahasa inggris". Ucap Lili dengan bangganya.
"Woow anak pintar. Sini cium sayang dulu". Ucap Mira dan lalu mengecup kedua pipi Lili sang keponakan dengan sayang.
Roni yang melihatnya pun terkesima di buatnya dan diam-diam memotret Mira dengan sang keponakan lalu mengirimkannya ke Yash.
"Hari ini nona Mira menjemput seorang anak kecil tuan. Namanya Lili di TK Pertiwi 7". Lapor Roni setelah mengirimkan beberapa foto yang hanya di baca saja opeh Yash.
"Ck. Ya sudah lah. Yang terpenting pesanku sudah di baca oleh tuan muda Yash". Lirih Roni masa bodo akan sikap dingin dari bosnya itu.
Setelah berpamitan dengan satpam sekolah dan guru dari Lili. Mira pun berjalan kearah Roni dengan menggendong Lili yang menemplok seperti koala.
"Silahkan nona". Ucap Roni sopan seraya membukakan pintu mobil.
"Terima kasih. Emmm antar aku ke tempat yang tadi aku pesan ya". Ucap Mira memberi tahu.
"Baik nona". Ucap Roni sopan. Dan langsung memutari mobil dan melajukan mobilnya setelah Mira duduk dengan nyaman di bangku penumpang.
"Kak, kita mau kemana ?". Tanya Lili polos.
"Ke tempat mama sayang, Nanti kita makan siang bareng disana. Di cafe Horizon kamu suka kan ?". Tanya Mira memastikan.
"Oh di kafe itu. Suka dong kak, aku jadi bisa bermain sepuasnya disana setelah makan hehe". Ucap Lili bersemangat. Mira pun lalu tersenyum senang setelah mendengar ungkapan Lili.
Setelah dua puluh menit perjalanan. Roni pun mulai memelankan laju kendaraannya dan Lili dengan hebohnya menunjuk kearah sang mama yang sudah berada di depan cafe Horizon.
"Eh iya sayang. Eh loh mas ko...Tempatnya kelewatan". Ucap Mira yang curiga dengan sang supir taksi yang tidak berhenti di depan toko kue milik kakaknya itu.
"Seseorang yang di tunjuk oleh adik anda berada di seberang jalan sana nona. Saya hanya bermaksud menurunkan anda di penyeberangan jalan itu". Tunjuk Roni mengutarakan maksud baiknya.
"Ooh, ya mas makasih ya". Ucap Mira canggung karena sempat berfikiran buruk tentangnya. Dan gelagat Mira pun terbaca oleh Roni yang sesekali melihat Mira dari kaca kemudi.
"Mana mungkin saya akan bermacam-macam dengan anda nona. Anda adalah pawang dari serigala liar. Jika saya macam-macam. Tamatlah riwayatku". Batin Roni yang merasa lucu.
"Sudah sampai nona". Ucap Roni memberi tahu.
Mira pun hanya mengangguk dan menuruni mobilnya setelah Roni membukakan pintu mobil itu. Dan berjalan menyeberangi jalan bersama beberapa orang setelah ia mengucapkan terimakasih kepada Roni.
Roni pun mengangguk sopan dan terus memantau Mira sampai ia berada di hadapan sang ibu dari anak yang bernama Lili itu. Mereka pun terlihat saling sapa dan bergandengan masuk kearah dalam cafe.
"Nona Mira sekarang sedang makan siang bersama ibu dari anak kecil yang bernama Lili itu tuan". Lapor Roni kepada Yash.
"Ikuti mereka dan dengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Laporkan dengan detail kepadaku". Titah Yash dari seberang.
Roni yang mendapatkan perintah pun menghela nafas lelah. Sudah seharian ini ia banyak sekali menyamar. Dari mulai menjadi tukang sampah keliling, tukang sayur, tukang galon dan sopir taksi online. Dan sekarang Roni pun sepertinya tengah memikirkan cara untuk penyamarannya. Agar ia dapat mendengar dengan jelas apa yang tengah mereka bicarakan.
"Ahh sepertinya aku harus menyamar menjadi kakek tua dan menyewa seorang anak kecil untuk menjadi cucu ku". Ucap Roni dengan tersenyum masam.
"Hhhh...Membuat anak saja belom. Sudah harus mendapat cucu. Sial". Lirih Roni dan mulai memasuki mobilnya guna menjalankan rencana penyamarannya.
Mira dan Maya pun mulai memilih spot tempat duduk yang mengarah kearah pegunungan dan pesawahan di balik pertokoan dan cafe yang berdiri megah itu. Pemandangan yang asri serta angin siang yang mendayu-dayu sangat cocok untuk bersantap siang. di meja dan kursi panjang itu.
"Mira pun memesan satu mangkok besar ramen pedas isan lengkap yang halal serta satu botol air mineral dingin juga jus alpukat. Sedangkan Maya memesan steak daging lengkap dengan kentang goreng dan satu gelas orange jus. Lili pun memesan ayam krispi dengan nasi serta kentang goreng, sosi dan bakso bakar, eskrim coklat dan jus alpukat. Biasa, ana kecil lapernya mata bukan perut.
Mereka pun makan dengan khidmat dan sesekali mendengarkan Lili yang tak henti-hentinya berceloteh ria mengenai sekolahnya dan berbagai macamnya dengan sesekali mengunyak ayam krispi dan nasi.
Terkadang pula Lili pun mengambil sosis bakar dan menghabiskannya satu tusuk juga kentang goreng yang hanya di makan separuh.
"Momy, Lili mau main". Rengek Lili yang terlihat tak sabaran melihat area permainan di depan mata.
"Lima menit lagi ya sayang, kan kamu baru selesai makan banyak. Biar engga muntah nanti yah". Ucap Maya membujuk dengan lembut dan Lili pun hanya mengangguk lesu.
"Engga habis ya kak makanannya Lili ?". Tanya Mira seraya melihat nasi dan ayam yang tinggal setengah.
"Iya nih, kamu mau habiskan ?". Tanya Maya balik.
"Iya deg Sayang juga kalau engga di habiskan mubazir ntar". Ucap Mira dan langsung mengambil piring nasi milik Lili.
"Sekalian tuh bkso bakar sama sosis bakarnya. Kentang gorengnya juga es krimnya. Bantuin kakak buat menghabiskannya. Soalnya kalau cuma kakak yang menghabiskan engga sanggup". Ucap Maya dan langsung diacungi jempol oleh Mira.
__ADS_1
"Permisi nak, apa saya boleh duduk di sini dengan cucu ku ?". Tanya seorang kakek yang menggandeng seorang anak lelaki sebaya dengan Lili.
Maya yang melihatnya pun sedikit mengernyit tak suka dan diam saja tanpa menanggapi sang kakek. Sedangkan Mira lalu tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan kek. Tempat duduk disini bebas ko untuk siapa saja". Ucap Mira sopan.
"Ahhh...Terimakasih ya nak". Ucap sang kakek dengan bernafas lega seraya mendudukan diri di tempat duduk panjsng dekat Maya.
"Ken, pesan apa saja yang kamu mau. Biar kakek yang bayar. Mau main pyn boleh bebas kalau kamu bersama kakek. Tetapi ingat. Jangan membuat kakek capek ya cu". Ucap sang kake kepada sang anak lelaki yang bernama Ken itu.
"Dasar pak tua". Lirih Ken dengan kesal dan lalu memesan aneka macam jajanan seperti burger, hotdog, kentang goreng, eskrim tiga rasa, jus alpukat, roti bakar dan banyak lagi. Membuat Roni terpaksa harus memelototkan matanya diam-diam memperingati sang keponakan.
"Dasar anak kecil. Jika bukan karena misi ku. Mana sudi aku membawa anak kecil yang berlaga dewasa sepertimu. Hhhhh... anak dan ayah memang sama saja". Keluh Roni dalam batinnya.
Anak kecil yang Roni bawa dalam misi penyamarannya itu adalan Kenandra Gutama. Anak pertama dari kakak pertamnya yang menduda. Mungkin karena sudah di tinggal sang ibu ke hadapan tuhan sedari bayi. Membuat Ken sungguh dewasa dari umurnya. Hobinya pun membaca dan bermain komputer serta mengotak atik rubik.
Dengan bujuk rayu yang alot dan menegangkan. Akhirnya Roni pun dapat membawa Ken dalam penyamarannya itu. Dan ikut serta dalam penyamaran yang mengharuskannya untuk begini dan begitu.
"Aku kenyang kek. Aku mau mai". Ucap Ken seraya berdiri. Dan berjalan menghampuri Lili yang terduduk lesu.
"Hai aku ken. Siapa nama mu ?". Tsnya Ken berbasa basi dengan kaku.
"Lili". Ucap Lili lesu.
"Kau mau main kesana tidak. Kalau mau ayo kalau tidak ya sudah aku tinggal. Pilih saja". Ucap Ken dengan nada setengah memaksa.
Lili yang sebenarnya sangat ingin sekali bermain pun menatap Maya. Sang mama dengan pandangan memohon. Lalu Maya pun mengangguk dengan tatapan lembut. Mengizinkannya bermain bersama Ken.
Dengan berbinar Lili langsung mengajak Ken bermain dengan menggandengnya dan berlari kearah permainan.
"Hhhh dasar anak itu. Paling ijo sama yang namanya permainan". Ucap Maya sedikit mengeluh.
"Namanya juga anak-anak ka". Ucap Mira lembut.
"Kamu masih ingat kan Ra sama janji kamu untuk menjauhi tuan Yash berserta keluarganya dan semua yang berkaitan dengannya ?". Tanya Maya memastikan.
"Iya ka, kan semalam juga itu yang terakhir". Ucap Mira santai.
"Yang dia mencium mu itu ?". Tanya Maya sakratis.
"APA ! Tuan muda Yash memcium nona Mira. Sungguh ?". Batin Roni terkejut.
"A.... Aaah, sudah jangan di bahas kak. Aku tidak ingin mengingatnya". Ucap Mira dengan canggung.
PUUKKK.....
Maya pun menaruh lima puluh lembar foto kehadapan Mira. Dan kesemuanya adalah foto lelaki dari ragam ras dan budaya. Ada yang bule, ada yang blesteran, ada yang hitam manis, dan masih banyak lagi dengan berbagai pose dan gaya rambut.
Mira pun mengernyit tak mengerti dengan kelima puluh foto itu. Dan lamgsung melihat kearah Maya dengan tatapan tak mengerti.
"Pilih lah sepuluh orang yang menurutmu menarik". Ucap Maya santai.
"Lalu ?". Tanya Mira penasaran.
"Nanti bakalan kita tes dan uji. Yang menurutmu paling bagus dan cocok. Itu yang nanti bakalan menjadi calon suami mu". Ucap Maya memberi tahu.
"A... Ap...APAAA !". Seru Mira yang tak percaya,akan tindakan dari Maya.
"Tapi kenapa secepat itu kak ?". Tanya Mira setengah syok.
"Kamu itu sudah 25 tahun Ra. Dua bulan lagi adalah ulang tahunmu yang ke 26. Kakak hawatir saja sama kamu. Harusnya seusiamu itu sudah menikah dan punya anak. Engga selamanya juga kan kamu hidup bareng kakak". Ucap Maya tegas.
"Apa selama ini kakak keberatan jika aku berada dan tinggal bersama kakak ?". Tanya Mira sendu.
"Tidak sama sekali. Kaka hanya ingin kamu memiliki pasangan dan hidup bahagia. Toh rasa terahuma kamu jiga sudah membaik kan. Madih bisa di tangani kan ?". Tanya Maya memastikan dan Mira pun menjawabnya dengan anggukan.
"Ya sudah. Apa salahnya mencoba. Kakak ingin kamu bahagia. Tetapi bukan dengan tuan muda Yash. Ingat itu". Ucap Maya tegas.
"Kenapa ?". Lirih Mira dengan tertunduk lesu.
"Hhhh...Ada banyak hal yang membuat kakak takut Ra. Tuan muda Yash itu bukan lah orang biasa. Dia bukan orang sembarangan. Hidupnya swlalu penih dengan bahaya dan tantangan. Sedangkan kamu, kamu itu Mira. Gadis biasa yang tidak memiliki latar belakang yang mumpuni". Ucap Maya mencoba membuka pikiran Mira.
"Mimpi boleh Ra. Tetapi jangan terlalu tinggi. Kakak takut kamu tidak bisa menselaraskannya. Jika tuan Yash hanyalah seorang pengusaha bisa. Mungkin kakak akan mempertimbangkannya. Dan mencoba untuk membuatmu selaras dengannya". Ucap Maya tegas.
"Orang kamu saja kuliah untuk dapat minimal S1 saja tak mau. Malah memilih jadi seorang pelayan toko. Dengan lulusan SMA pula". Uxap Maya kesal dan ngedumel. Membuat Mira semakin terdiam sedih.
"Saki kan, perih kan Ra. Itu baru omongan dari kakak. Coba layangkan saja. Omongan itu dari orang lain. Apa kamu sanggup menerimanya ?". Tanya Maya dengan menggenggam lembut tangan Mira.
"Beri aku waktu kak. Aku bingung jika harus memilih lima puluh orang dalam sehari". Ucap Mira dengan tersenyum kaku.
"Kau benar-benar akan memilihnya ?". Tanya Maya mulai berbinar.
"Iya kak". Ucap Mira singkat.
"Oh syukurlah. Emm ok. Kalau begitu tiga hari cukup engga. Nanti biar kakak kasih data dirinya dari semua lelaki ini. Biar kamu gampang milihnya ya ". Ucap Maya antusias membuat Mira hanya mengangguk dengan lesu.
"Gampang apanya kak, malah senewen iya". Ucap Mira dalam hati.
Saking senangnya Maya pun langsung memeluk Mira dengan erat dan berkali-kali mengucapkan syukur dengan bahagia. Lalu melepas pelukannya dan langsung sibuk dengan ponsel pintarnya. Mengabaikan Mira yang terdiam memandang hamparan alam dengan sayu.
"Waah nona Maya. Anda dalam masalah besar. Bersaing atau memusuhi tuan Yash. Sama saja anda menggali lubang kuburmu sendiri". Batin Roni seraya mengirimkan rekaman audio ke tuan mudanya dan langsung bercentang biru dengan cepat.
Roni pun tersenyum senang. Sudah di pastikan tuan Yash akan mengamuk di sana dan membuat Jio akan kuwalahan di buatnya.
__ADS_1
Maya Sanggita....