
" Mbak! Mbak Amel!" Ketuk keras pintu kamar Amel siang hari dari luar. membuat Amel yang mendengar terasa terusik dan mengerjabkan mata sambil menguap.
" Apa sih dek!" Teriak Amel dari dalam, masih berbaring di atas ranjang tanpa mau membuka pintu kamar untuk adik kembarnya.
Rasanya, ia baru saja tertidur begitu nyenyak dan di usik oleh si kembar yang menyebalkan. kepala pun masih sedikit pusing dan mata sulit untuk terbuka.
" Bangun mbak! Mbak Amel gak kerja apa." Kata Si kembar, Fadli. masih sambil mengetuk pintu, mewaraskan kesadaran kakaknya yang pastinya masih rebahan di atas kasur.
" Aku masuk siang Fadli!"
" Ini sudah siang mbak! Mbak gak lihat jam."
Amel membuka mata, mencari ponselnya di atas meja rias dengan meraba tangannya.
" Hp mbak mati? Jam berapa sekarang." Tanyanya, sambil memijat kepalanya.
" Fadli?" Tegur Ayah, membuat Fadli menoleh ke arah Ayahnya.
" Mbak kamu kelihatannya sakit." Kata Ayah.
" Mbak amel sakit Yah?" Fadli sedikit terkejut, dan membuka pintu kamar kakaknya yang ternyata tidak di kunci seperti biasanya.
" Mbak Amel sakit?" Tanya Fadli, sambil berjalan menghampiri kakaknya. Menempelkan tangannya di dahi Amel untuk beberapa saat.
" Cuma sedikit pusing saja." Jawab Amel, duduk dari tidurnya dan merenggangkan kepala serta punggungnya.
" Kalau pusing gak usah kerja mbak, istirahat saja. Ijin kerja gak apa-apa kan?"
" Nanggung, besok juga libur. Nanti minum obat juga udah hilang pusingnya."
" Lebih baik libur saja Mel? Nanti kalau tumbang di tempat kerja gimana?" Sela Ayah Amel di ambang pintu.
" Gak akan tumbang juga kali pak? Amel kan kuat." Cibik Amel. " Udah ah.. aku mau mandi dulu. Anterin aku ke tempat kerja ya dek."
" Motor kakak memang kemana?" Tanya Fadli.
" Masih di parkiran Mall. Kemarin aku di anterin sama teman."
" Ya sudah nanti aku anterin kak, pulangnya aku jemput juga. Biar motor kakak nanti di ambil Fadlan." Kata Fadli, membuat Amel mengangguk saja.
__ADS_1
Mungkin sebaiknya begitu, meminta tolong pada adik kembarnya yang masih sekolah di bangku smp kelas tiga. Yang mungkin orang kira adik kembarnya itu adalah kekasihnya, karena tingginya sudah melebihi tinggi dirinya.
Adik kembarnya juga mandiri. Mengerti kesusahan keluarga dan juga sedikit membantu meringankan baban keluarganya.
Tapi kali ini, uang ujian si kembar sedikit mahal lantaran menunggak uang buku yang belum sepenuhnya di bayar. Bukan keinginan si kembar menyusahkan kakaknya, tapi mau gimana lagi. Fadli dan Fadlan hanya mempunyai simpanan uang sedikit dan masih kurang sisa untuk melunasi pembayaran sekolah. Dan mau tidak mau, Fadli hanya bisa mengeluh ke Amel dan tidak ingin membebani ibunya. Takut bila ibunya akan nekat lagi meminjam uang pada bank jalan.
" Ibu belum pulang Yah?" Tanya Fadli, sambil memanaskan motornya di halaman rumah.
" Belum, katanya ada tambahan di rumah majikannya." Jawab Ayahnya dinambang pintu rumah, melihat putranya yang kini sudah menginjak remaja.
" Yah, Aku berangkat kerja dulu." Pamit Amel, tepat berada di belakang ayahnya. membuat ayahnya menoleh ke belakang dengan senyum.
" Hati-hati kalau bekerja. Istirahat sebentar kalau capek."
" Iya?" Jawabnya, menyalimi tangan Ayahnya yang tak lagi kekar.
" Ayo?" Tepuk bahu fadli yang sudah di atas motor bebek ayahnya.
" Hmm. Pak, berangkat dulu!" Seru Fadli, pamit pada ayahnya.
" Jangan ngebut Fad?" Wanti ayahnya, di anggukkan fadli sebelum menyalakan motornya.
Fadli dan Fadlan dua anak kembar dengan sifat yang bertolak belakang. Meskipun begitu, dua anak kembarnya saling sayang dan saling membantu keluarga serta kakaknya dengan cara tersendiri.
Melihat kepergian dua anaknya, hanya bisa tersenyum, menundukkan kepala. Masih miris meratapi kesehatannya yang entah kapan akan sembuh atau malah sebaliknya. Berharap tak akan lagi menyusahkan istri dan anak-anaknya.
****
" Aku gak janji ya ma? Aku coba usahakan bujuk mas Rama dulu. Aku juga gak bisa maksa mas Rama mau atau tidak datang ke rumah mama. Mama tau sendiri kan, gimana mas Rama.Iya, nanti aku kabari mama."
" Iya, walaikum salam ma." Yanna, mematikan layar ponselnya. menatapnya dengan senduh ponsel yang di genggamnya.
Obrolan dengan mama mertua lewat saluler dan juga permohonannya sungguh membuatnya saat ini sulit dan gundah.
Dimana mama mertuanya memohon padanya untuk datang ke rumah bawa Rama dan juga Nana. Padahal bilan tidak di suruh atau memohon pun Dirinya dan Rama serta anak-anaknya pastinya setiap hari sabtu akan menginap di rumah mama mertuanya.
Tapi ini sangat berbeda, mama menceritakan semuanya tanpa harus ada yang di tutup-tutupi darinya tentang Suaminya dan Ryan, kakak iparnya. Yanna yang sudah tau terlebih dulu cerita Rama, Ryan dan Nana tak sebegitu terkejut kala mama mertuanya menceritakannya lagi.
Tapi yang membuatnya tak bisa di percaya, Kakak iparnya yang belum pernah ia lihat sama sekali, datang ke rumah mama mertuanya. di saat Rama sudah pindah dari rumah mamanya. Dan pastinya tebakan Rama memang benar dan sangat benar. Hingga itulah yang di khawatirkan suaminya sampai sekarang.
__ADS_1
Nana.
Apa itu tujuannya.
" Apa ini ketakutan mas Rama? Tidak, Ya allah. gimana aku harus bilang ke mas Rama?" Gumam Yanna, menutup mata dan memijat kepalanya yang mulai pening akhir-akhir ini.
Terdengar suara pagar rumah yang terbuka, membuat Yanna membuka mata dan menatap luar jendela.
" Mas Rama pulang?" Yanna berdiri, berjalan menuju teras menyambut suaminya yang sudah pulang lebih awal dari biasanya.
" Mas? Kok sudah pulang." Tanya Yanna, menyalimi tangan suaminya seperti biasa dan ikut duduk di kursi teras samping suaminya.
" Kangen kamu?" Jawab Rama, membuat alis Yanna terangkat.
Bisa-bisanya suaminya pulang cepat hanya karena rindu dengannya. Setiap malam selalu di gempur, selalu di dekap seperti guling, bilang kangen?
" Ini pasti ada maunya?" Tuduh Yanna. Hingga suaminya itu tertawa.
" Udah janji loh mas! Satu hari, istirahat. Mau aku suruh anak-anak tidur di kamar kita kayak dulu?"
" Enggak enggak." Potong Rama cepat, kalau benar itu terjadi. Rama tidak akan bisa memeluk istrinya bila akan tidur, apa lagi seperti bayi kecil di pelukan istrinya.
Seminggu saja Rama seperti ular keket, karena istrinya datang bulan. Apa lagi ini, tidur bersama anak-anaknya tanpa ada adegan ranjang bersama istrinya dan itu terjadi sangat lama, hampir dua minggu. dan membuat si junior berpuasa.
" Aku mau ngajak kamu sama anak-anak, jalan-jalan. Sekalian belikan baju buat ibu sama sigit kalau nginap di sini lama." Kata Rama.
Membuat Yanna teringat bila esok ibu dan adiknya akan datang ke rumahnya. Serta dirinya teringat bila persediaan makanan tinggal. sedikit, tidak mungkin bila menyambut kedatangan ibu dan adiknya tanpa makanan di atas meja.
" Anak-anak mana?"
" Lagi liat tv mas. Nanti sekalian belanja bahan makanan ya mas?" Pinta Yanna.
" Iya." Jawab Rama mengangguk dan tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃