Luluh

Luluh
Putra pertama


__ADS_3

" Makasih pak sudah di antar pulang." Ucap Amel, melepas sabuk pengaman dan menatap senyum ke arah akbar.


" Yakin kamu gak mau di antar periksa ke dokter?" Masih menatap cemas Amel, terlihat pucat tapi masih bisa saja tersenyum.


" Gak perlu, minum obat apotik juga pasti sudah sembuh." Jawab Amel.


Hingga terdengar hembusan nafas lelah membujuk Amel yang sulit sekali di bawa ke rumah sakit terdekat, untuk memeriksa keadaannya. Hingga Amel sendiri memutuskan berhenti sebentar di apotik terdekat. Untuk membeli obat yang sering di pakainya saat kondisi sakit seperti ini.


Resep dokter dulu yang selalu dia ingat, dan tak perlu lagi memeriksakan keadaannya di rumah sakit atau klinik terdekat.


" Besok masuk apa?" Tanya Akbar.


" Masuk siang."


" Kalau masih sakit, ijin gak masuk kerja saja."


" Hhmm, Iya." Sedikit mengangguk serta tersenyum samar.


" Aku masuk dulu, sekali lagi makasih. Hati-hati di jalan." Kata Amel.


" Iya, sama-sama. jangan lupa minum obat, istirahat yang banyak." Perhatian Akbar, hanya mempu membuat Amel menangguk dan tersenyum tanpa mau membalasnya.


Toh atasannya juga sering bilang seperti itu pada semua karyawannya yang sedang sakit. Jadi tak perlu salting atau pipi bersemu merah seperti cewek-cewek lain. Hanya termakanan ucapan dan perhatian manis dari cowok idanan atau kekasihnya. Tidak berlaku untuk Amel. Yang notabe cuek dan juga tak terlalu menye-menye seperti cewek lain.


keluar dari mobil Akbar, tanpa lagi menunggu sang atasannya yang mungkin ingin menceramahinya kembali. Atau seperti wanita pada umumnya, menunggu sang pria pergi dari hadapannya sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar.


Tentu saja, Amel tidak seperti itu. Berjalan dengan pelan, tanpa mau menoleh ke belakang. Yang sedang memperhatikannya hingga dirinya mengetuk pintu rumah berlampu tamaram. tidak peduli sang atasan masih setia menatapnya dari kejauhan atau mengumpat kesal karena dirinya tidak ada sopan santunnya sama sekali. Dirinya memang sudah sangat lelah dan pusing kembali melanda kepalanya hingga berjalan sedikit sempoyongan.


Dan bukan wanita lemah yang ingin di perhatikan, atau di antar hingga menuju depan pintu rumah. Jika bukan karena paksaan, mungkin Amel akan menaiki ojek di malam hari tanpa di antar atasannya.


Dari kejauhan Akbae Melihat pria tua dengan tubuh kurus yang membukakan pintu rumah untuk Amel. Terlihat jelas wajah pria tua itu khawatir dengan putrinya kala pulang begitu malam. Sudah di pastikan pria tua itu adalah ayah Amel yang menunggu anaknya pulang dari kerjanya. Dan ada rasa prihatin dengan keadaan ayah amel.


Hanya bisa menatap jauh, dan kembali menjalankan mobilnya menuju rumahnya kala Amel dan Ayahnya sudah masuk ke dalam rumah.


Tak ada yang istimewa dari Amel, tapi entah kenapa Akbar mulai penasaran dengan gadis itu. Yang seakan-akan ada yang menarik dalam diri Amel.


" Kamu kenapa?" Tanya Ayah Amel, melihat putrinya langsung berbaring di tempat duduk.

__ADS_1


" Gak apa-apa Yah, cuma pusing sedikit." Jawab Amel. " Ibu mana Yah?"


" Sudah tidur, tadi ibu juga ngeluh pusing kepalanya. Tapi sudah Ayah pijat, sudah di belikan obat juga sama adik kamu. Kamu mau ayah pijat juga." Kata Ayah Amel.


" Enggak perlu Yah, makasih. pusingku sudah mendingan juga, soalnya habis minum obat di tempat kerja." Jawab Amel.


" Sudah makan?"


" Sudah? Ayah."


" Sudah juga." Jawab Ayah Amel. " Cepat tidur, gak usah mandi sudah malam."


" Iya. Ayah juga cepat tidur, sudah malam."


" Iya." Jawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Mengusap kepala Amel saat berbaring di sofa sebelum masuk ke dalam kamar.


Merasa bersalah, dan berbalik keadaan. Yang seharusnya menjadi pulang punggung keluarga, kini hanya diam di rumah karena penyakit yang di deritanya tak kunjung membaik. Dan kini, istri serta putrinya yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga serta harus membayar hutang yang belum juga kapan lunasnya.


Ayah Amel sungguh merasa jadi kepala keluarga yang tak becus dan tidak berguna. Beliau seperti lelaki yang tidak bertanggung jawab pada keluarga.


Istri yang seharuanya tidak perlu bekerja dan anak perempuan yang seharusnya tidak perlu menanggung biaya hidup keluarganya. membuatnya benar-benar tidak berguna sekali.


" Jangan terlalu banyak pikir, biar ayah cepat sembuh. Aku sama ibu enggak apa-apa, Yah." Imbuhnya lagi, Ayah Amel hanya bisa tersenyum serta sedikit mengangguk.


" Ayah ke kamar dulu."


" Iya." Jawab Amel.


Punggung Ayahnya tak lagi segagah dulu, wajah ayahnya tidak lagi semuda dulu Kesehatan ayahnya juga tidak seperti dulu. Tapi Amel tau, Ayahnya berusaha untuk bangkit dan sembuh. Agar tidak lagi membebani anak serta istrinya.


Bagi amel tidak masalah, dirinya bekerja juga demi keluarga, demi membantu ke dua orang tuanya dan juga seharusnya Amel bekerja di saat sudah menginjak dewasa bukan anak-anak lagi.


Amel berjalan ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di atas kasur. tubuhnya malam ini benar-benar butuh istirahat, agar esok pagi ia bisa bekerja kembali. dengan tubuh yang sudah kembali segar.


****


" Siapa mbak?" Tanya Mama Rama, mendengar suara bel rumah di pagi hari.

__ADS_1


" Anu buk, i.. tu."


" Asalamualaikum Ma?" Sapa dari ambang pintu dengan senyum manis.


Mama Rama yang di panggil dan mengenali suaranya sempat terkejut. Dengan mata membulat dan jantung yang berdebar.


" Ryan?" Lirih Mama Rama.


Tersenyum lebih lembut, menghampiri mama Rama yang mamatung. Tepat di depannya, Mama rama tak percaya bila tamunya putra pertamanya. Tidak percaya bila anaknya berani datang menginjakkan kakinya lagi di rumahnya.


" Ryan?"


" Ma?" Sapa balik Ryan.


Mama Rama menghambur ke tubuh putranya. Memeluknya dengan erat. menumpahkan semua tangisannya dalam putranya.


Putra pertamanya pulang, putra yang mengajarkannya sebagai seorang ibu ada di pelukannya. Putra yang mengajarkannya harus memihak siapa itu pulang ke rumahnya saat ini. Mama Rama seperti mimpi, seperti ibu yang sungguh sangat merindukan putranya pulang ke rumahnya.


Ryan membalas pelukan mamanya, mencium puncak kepala mamanya. Meneteskan air mata kerinduan pada ibunya, dan juga beban rasa bersalahnya pada keluarga serta masa lalunya.


" Kamu pulang sendiri?." Tanya Mama Rama, melepas pelukan dan mengusap ke dua pipi putranya.


" Enggak, sama istriku ma?" Jawabnya, dan menoleh ke arah pintu. Di mana istrinya berdiri dengan air mata yang membasahi pipinya.


Mama Rama menghampiri istri putra sulungnya, memeluknya, mengusap-usap punggungnya dan sama-sama menangis dalam berpelukan.


" Jangan menangis Nak? Yang sabar, semua sudah takdir. Ikhlas ya Nak." Kata Mama Rama, semakin membuat istri Ryan memeluk erat ibu mertuanya.


" Anggun, masih mencoba untuk iklhas ma." Jawabnya.


" Jangan saling menyalahkan ya Nak, jangan bertengkar juga." Kata mama Rama, saling melepas pelukan dan mengusap air mata menantunya. " Harus saling menguatkan dalam keadaan apapun. Harus iklhas biar Rangga tenang di sana. " Imbuhnya. membuat Anggun, istri putranya mengangguk tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2