Luluh

Luluh
Ibu dan Sigit.


__ADS_3

" Asalamualaikum!!" Teriak lelaki siang hari di depan pintu pagar rumah Yanna yang tertutup rapat.


" Asalamualaikum, Mbak Yanna!! " Teriak sekali dengan kencang, membuat ibu di sampingnya memukul lengannya dengan keras.


" Jangan keras-keras teriaknya Git!" Tegur ibu. Merasa malu dengan para tetangga Yanna. Apa lagi di siang hari, pastinya akan merasa terganggu nantinya.


" Mbak gak bakalan dengar buk, kalau enggak keras manggilnya." meringis Sigit pada ibunya. " Ini beneran rumah mbak Yanna bukan sih buk! besar, tingkat juga." Gumamnya, memperhatikan Rumah Kakaknya.


" Walaikum salam!" Teriak balik dari dalam rumah.


Muncul wajah wanita cantik memakai daster rumahan, sambil tergesa-gesa membuka pagar rumah.


" Ibuk!!" Riang Yanna. mencium tangan ibunya dan memeluknya di balas ibu Yanna yang juga memeluknya.


" Lama sekali sih mbak!" Gerutu Sigit, menyalimi kakaknya.


Gak perlu bertanya


" Lagian ngapain juga teriak-teriak, orang di samping ada bel." Tunjuk Yanna dengan mata. tepat di samping pintu pagar terdapat bel rumah.


" Bodohnya le ... le." Gumam ibu Yanna, melirik putranya.


" Gak liat buk!" Meringis Sigit, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


Begitu antusiasnya ke kota, ingin bertemu kakak dan ke dua ponakannya. Sigit tidak memperhatikan samping pagar terdapat bel Rumah.


" Gak lihat, apa emang gak ngerti saja." Cibir Yanna. " Ayo buk, masuk." Ajak Yanna, mengambil tas yang di bawa ibunya.


" Di dalam mobil belum di keluarin." Kata ibu Yanna.


" Pak, tolong keluarin barang ibu saya ya. Bawa ke dalam rumah." Pinta Yanna pada sopir toko suaminya.


" Iya buk." Angguk sopir Rama sopan.


" Bantuin bapaknya Git." Perintah ibu pada Sigit.


Sigit hanya mengangguk tanpa mau protes. Kasihan juga bila tidak ada yang membantu, oleh-oleh ibunya dari desa begitu banyak di dalam bagasi mobil.


" Naufal sama Nana mana?" Tanya ibu, memasuki rumah sambil memperhatikan dalam rumah putrinya di kota.


Bersih, rapi dan lebar.


Ada beberapa bingkai foto di dinding. Dari foto pernikahan, foto keluarga Yanna dan juga keluarga Rama. Serta foto ke dua cucunya.


" Nana sama Naufal ada di kamarnya buk. Di atas. Mungkin mereka tidur siang." Jawab Yanna. Membuat ibunya menganggukkan kepala.

__ADS_1


" Rama Mana?"


" Lagi di toko, mungkin habis ini pulang buk. Soalnya ibu sama Sigit sudah datang."


" Kamu suruh pulang! Gak apa-apa, pulang sore. Tokonya nanti gak ada yang ngawasi gimana."


" Ada orang kepercayaannya buk! Lagian juga hari minggu. Biasanya Mas Rama setengah hari di toko." Jawab Yanna.


" Mbak, di taruh di mana ini!" Tanya Sigit, membawa dua kardus besar di ikit tali rafia. di ikuti pak sopir di belakang Sigit, membawa karung besar.


Sedikit terkejut melihat bawaan ibunya dari desa begitu banyak.


" Tinggal satu karung besar mbak belum di keluarin dari mobil." Cetus Sigit, mengerti keterkejutan Kakaknya.


" Taruh di dapur saja." Perintah Yanna. menunjuk dapur berada di belakang. " ibu kenapa bawa banyak banget."


" Gak apa-apa. Sekalian bisa di bagiin ke mertua sama tetangga kamu." Jawab rnteng ibunya.


Bukan mempermasalahkan oleh-oleh ibunya begitu banyak. Tapi pasti ibu sebagian membeli oleh-olehnya di pasar. Dan sebagian di ladang hasil panen.


Di larang pun percuma. Ibunya akan tetap membawa buah tangan dari desa, sebagai silaturahmi pada para tetangga dan mertuanya untuk pertama kali datang ke kota.


" Haus mbak! Minumnya di mana?" Tanya Sigit, selesai membawa karung besar berisi beras bersama pak sopir. Terengah-engah mengangkat karung besar.


" Yang di dingin di kulkas yang biasa di meja makan." Terang Yanna. " Pak, Makan dulu." Tawar Yanna pada sopir.


" Iya. sudah buk, makasih." Tolak halus Pak sopir. " Saya pamit, mau kembali ke toko buk." Imbuhnya.


" Sebentar pak." Cegah Yanna, berdiri dari duduknya, berjalan ke arah dapur dan kembali menuju ruang tamu sambil membawa kantong plastik.


" Ini untuk bapak, sama anak-anak di toko." Yanna mengulurkan kantong plastik berisi dua kardus makanan.


" Makasih buk." Senang sopir, mengambil bungkusan plastik di tangan Yanna.


" Iya, sama-sama pak."


" Mari buk, mas." Pamit pak sopir sopan pada Ibu Yanna dan Sigit.


" Iya Pak, makasih." Jawab ibu bersamaan Sigit.


" Ibu sama Sigit sudah makan? Aku siapin ya Buk?"


" Nanti saja dulu, ibu mau istirahat sebentar."


" Ya sudah, aku antar ke kamar buk."

__ADS_1


" Aku mau makan mbak. Aku ambil sendiri ya di dapur." Ijin Sigit.


" Iya, ambil sendiri sana. Makan yang banyak, aku sudah masak banyak itu." Jawab Yanna, mengantar ibunya ke kamar tamu yang sudah di siapkannya beberapa hari sebelum ibu dan adiknya datang.


" Oh!! Tenang saja." Senang Sigit. Berjalan kembali menuju dapur.


" Wih!! Mbak Yanna masak banyak banget. Gak bangkrut nih mas Rama." Gumam Sigit, membuka tudung saji di meja makan yang berada di dapur.


" Gak bakalan bangkrut Git, mbak kamu malah bingung kalau di rumah gak ada makanan. Apa. lagi ngabisin uang, juga bingung mau di buat beli apa." Ucap dari belakang, membuat Sigit sedikit tersentak dan menatap orang di belakangnya.


" Mas Rama. Ngagetin aja." Seru Sigit. Membuat Rama tertawa dan menghampiri Sigit.


" Nyampek jam berapa?" Tanya Rama, saat Sigit menyaliminya dan duduk di meja makan dapur.


" Setengah jam yang lalu." Jawab Sigit. Ikut duduk di meja makan.


" Ibu di mana?" mengambil air putih dan menyeduhnya.


" Di anterin mbak ke kamar. Ibu mau istirahat katanya."


" Ibu gak makan?"


" Sudah tadi di res area makan bareng sama pak sopir. Mungkin capek, mangkanya gak mau makan lagi. Maunya istirahat." Jawab Sigit. " Mas kapan datang, kok aku gak tau."


" Barusan. mobilnya belum aku masukin ke garasi mangkanya gak kedengeran." Sigit mengangguk mengerti. " Ayo makan, aku laper Git." Ajak Rama.


" Yok Mas, aku juga laper. Padahal udah makan tadi." Ringis Sigit, mengambil piring dan mulai ikut mengambil nasi bergiliran dengan Rama.


" Macet?"


" Gak mas, kan lewat tol." Rama mengangguk. " Mas tambah subur saja. Sama kayak mbak Yanna, tambah gendut." Ucap Sigit, melihat Rama seperti berisi tapi tetap gagah.


" Itu namanya bahagia. Tapi jangan sampai nyinggung mbak kamu, bilang gendut. Nanti mbak kamu marah, terus mogok makan." Tawa Rama, kala mengingat Istrinya sempat mogok bicara dengannya. Saat dirinya menjawab jujur pertanyaan Yanna, bila memang Istrinya sedikit gemuk.


Wanita lebih sensitif, apa lagi soal badan.


" Hahahaha. Pasti mas sudah merasakan kan! Gimana ngambeknya mbak Yanna." Tertawa mengejek Rama. " Sudah merasakan tidur di luar mas!" Tebak Sigit, membuat Rama mengangguk dan semakin pecah tawa Sigit melihat expresi Kakak iparnya.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2