
" Makasih mbak jalan-jalannya, sudah di antar pulang juga." Ucap Sigit, melepas helm dan berdiri di samping Amel yang sudah berganti duduk jok motor.
" Sama-sama. Makasih juga traktirannya." Jawab Amel dengan senyum. tidak mengeluarkan sepersen pun uang buat liburan bersama Sigit.
Liburan gratis bersama Sigit. Dan sedikit tak enak hati dengan sahabatnya bila tau nanti dirinya tak mengeluarkan uang sepersen pun.
" Sama-sama mbak. Gak mampir dulu masuk ke dalam mbak?"
" Gak usah, makasih. Enggak enak sama suami Yanna. Aku pulang saja, lagian juga sudah malam. Salam ya buat Yanna sama ibu." Pamit Amel. melihat jam tangannya menunjuk di angka tujuh.
"Iya. Hati-hati ya mbak." Ucap Sigit, di anggukkan Amel dengan senyum. Mulai menjalankan motor, pergi dari rumah sahabatnya.
Sigit memperhatikan Amel hingga tak terlihat. Ada rasa senang dan juga ada rasa bersalah. Bersalah karena membuat wanita itu pulang malam.
Kenapa tidak di antar pulang saja, kenapa dirinya yang harus di antar pulang.
Merutuki kebodohannya. Seperti dirinya memanfaatkan wanita yang di sukainya saja. Lain kali Sigit tidak akan mengulangi kesalahan dan akan lebih giat lagi mengejar wanita yang di sukainya. Tidak peduli dengan perbedaan umurnya, terbilang lebih muda dari wanitanya. Tapi jika di lihat-lihat Amel tidak terlihat tua, malah seperti masih lulus seperti baru lulus sekolah.
Amel sudah memarkirkan motornya di depan rumah. Ia mengerutkan kening, kala melihat motor sport yang tak asing baginya parkir di depan rumahnya. Dan melihat pintu rumahnya terbuka lebar.
Amel menepis pikirannya, motor sport itu bukan cuma di miliki satu orang saja. Mungkin, motor itu punya teman adik kembarnya. Amel melangkah masuk dengan wajah sedikit lelah dan kusam.
"Asalamualaikum." Ucap salam Amel, melepas helm tepat di tengah pintu.
" Walaikum salam." Ucapnya bersamaan. membuat Amel tak asing mendengar suaranya. Dan melebarkan mata, menoleh ke arah pria yang sedang duduk di hadapan ke dua orang tuanya.
" Pak Akbar?" Lirih Amel, membuat Akbar berdiri dan tersenyum menatapnya.
" Nak Akbar sudah dari tadi nunggu kamu. Kamu dari mana?" Tanya Ibu Amel.
" Dari rumah teman buk?" Jawab Amel. " Amel ke kamar sebentar buk." Imbuhnya.
" Iya, jangan lama-lama. Kasihan nak Akbar." Kata Ayah Amel. Membuat Amel mengangguk dan cepat berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Perasaan Amel sedikit tak tenang. Kehadiran Akbar tentu saja membuatnya was-was. Pasalnya atasannya itu orang yang sedikit pemaksa, tegas dan juga pemberani.
Duduk bersama ke dua orang tuanya di malam hari. Pastinya akan membahas sesuatu yang sangat membuat jantungnya berdecak kencang. Belum juga menemukan pilihan, menerima atau tidak. Akbar pastinya sudah berani lebih dulu mengucapkan niatnya pada ibu dan bapaknya.
__ADS_1
Pasti.
Tidak mungkin lagi Akbar ke rumah hanya ingin bertemu saja dengannya. Ada yang lain. Ya, pastinya ada yang lain. Dan itu semakin membuat jantung Amel tidak tenang.
Tidak perlu mandi di saat genting seperti ini, Amel hanya mencuci muka dan berganti baju. tak lupa sedikit memakai minyak wangi di tubuhnya. Untuk menghilangkan bau kringat kala seharian keluar rumah.
Duduk di kursi tunggal. Bersebelahan dengan Akbar yang duduk tenang sambil mendengarkan cerita bapaknya dan ibunya. Wajah ke dua orang tuanya begitu berseri, Kehadiran Akbar sungguh membuat ke dua orang tua seperti tak lagi memikirkan beban.
" Fadli sama fadlan mana buk?" Tanya Amel, seharin belum melihat adik kembarnya.
" Fadli ke rumah temannya, Fadlan ada di dalam kamar." Jawab Ibunya. Amel hanya mengangguk, seerti biasa. Fadlan lebih suka menyendiri, berbeda dengan kembarannya. Banyak teman dan suka kelayapan, meskipun gak sering.
" Pak Akbar, Ada apa ke sini." Tanya pelan Amel.
" Ya, jelas nak Akbar ke sini mau ketemu sama kamu? Masak mau ketemu sama ibu sih Mel?" Jawab Ibunya bukan Akbar.
Amel berdecak. " Ih.. ibu!" Seru Amel. Menatap sebal ibunya yang menjawab. Sedangkan Ayahnya hanya menggelengkan kepala.
" Dari mana?" Tanya Akbar di hadapan ke sua orang tuanya.
" Sudah bilang sama bapak, ibu kamu?" Tanyanya lagi.
Tuh kan! Semakin membuat jantung Amel berdetak kencang. Benar dugaannya, Atasannya ke rumah pasti ingin membahas soal malam itu. Amel melirik ayah dan ibunya, yang mengerutkan kening menatapnya. Kembali Amel menatap Akbar sedikit menggelengkan kepala. Karena dirinya memang belum mengatakan pada Ayah dan ibunya. Bila ada yang ingin menikahinya. Dan dirinya juga masih bimbang. Terima atau tidaknya.
" Ada apa nak Akbar?" Tanya Ayah Amel.
Sekali lagi Amel menggelengkan kepala pelan menatap atasannya. Tapi atasannya seperti tidak mempedulikannya.
" Saya ingin melamar putri Bapak. Amel, untuk jadi istri saya." Tegas Akbar. Membuat Ayah dan ibunya terkejut. Amel yang mendengar hanya bisa menghela nafas lemas.
Atasannya sungguh menyebalkan.
" Melamar Amel?" Tanya Ayah Amel.
" Iya pak. Saya suka dengan putri bapak." Jawab Akbar. Membuat Amel menoleh kepadanya.
Suka? Sejak kapan?
__ADS_1
ke dua orang Amel saling memandang. Mereka tidak mendengar putrinya mempunyai pacar, atau berjalan dengan teman pria. Amel lebih menghabiskan waktunya, bekerja dan bekerja hingga lupa kapan dirinya bahagia.
Ada rasa bersalah sebagai orang tua. Melihat putrinya yang melupakan waktunya untuk membahagiakan diri.
" Sebagai Ayah, saya hanya ingin melihat kebahagian anak. Saya juga tidak bisa memaksa menerima lamaran nak Akbar. Ini semua juga harus di putuskan Amel sendiri. Karena kami tau, selama ini putri kami tidak pernah berpacaran." Terang Ayah Amel. Menatap putrinya yang menundukkan kepala dan saling meremas tangannya gugup.
" Ibu juga senang, bila ada pria baik seperti Nak Akbar mau menikahi putri ibu. Tapi lihatlah keluarga kami. Kami hanya orang biasa. Tidak sebanding dengan Nak Akbar. Jadi, Bicarakan lebih dulu dengan keluarga nak Akbar bila memang berniat ingin menikahi putri kami dan menerima putri kami dengan tangan terbuka." Tambah Ibu Amel.
Seakan ada ketakutan dalam hatinya. Akbar bukan orang seperti putrinya. Akbar adalah atasan putrinya bekerja, seorang berpendidikan tinggi dan pastinya keluarga orang kaya.
Takut bila tidak di restui.
Ya. Mungkin itulah yang di takutkan seorang ibu.
" Amel?" Panggil Ayah dengan lembut, membuat Amel mendongak menatap ayahnya.
" Bagaimana?" Tanya Ayahnya. Meminta jawaban putrinya.
Begitu lekat menatap ibu dan Ayahnya bergantian. Dan manatap Akbar yang juga menatapnya.
" Aku ingin bicara sama Mas Akbar dulu pak." Ucap Amel. Tidak ingin gegabah dalam keputusannya untuk seumur hidup.
Mas?
Untuk pertama kali, Amel berani memanggilnya Mas. Dan entah kenapa senyum terukir di bibir Akbar.
" Ya sudah kalau Ayah sama Ibu ke dalam dulu." Ucap Ayah, memberikan ruang bicara berdua dengan Akbar. Akbar Hanya mengangguk dan tersenyum kala ke dua orang tua Amel meninggalkannya berdua.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1