
Mira pun lalu memposisikan barisannya dan langsung memulai gerakan tariannya dengan lemah gemulai. Membuat para penonton pun terkesima di buatnya termasuk Yash.
"Gila gua insecure kalau gini. Si Mira ternyata multitalen". Ucap Imelda yang kala itu tengah melihat Mira menari seraya menggandeng sang tunangan bersama ke ketiga temannya.
"Iya Ney, engga nyangka gua. Rupanya ada keindahan d8 balik raut tenangnnya Mira. Huuh mana sexy, uuhh cucok nih buat model gaun karya ku". Oceh Oji si pria kemayu.
"Udah suaranya bagus, pinter ngedansa, pinter ngedence juga, pinter masak, body bagus, emang paket komplit si Mira". Ucap Shila dengan tatapan kagumnya.
"Emangnya Ney, Shila. Wanita jadi-jadian gaya pun sudah kaya rock and rool ginih. Untung buah kembar lu bagus". Ucap Oji mrnyindir cara berpakaian Shila yang terkesan berwarna hitam dengan aksen taburan berlian kecil dan makeup serba kontras.
Mendengar sindiran dari Oji. Shila pun langsung naik pitam dan memukuli Oji dengan tas miliknya yang terbuat dari kulit buaya yang super berat dan keras itu.
"Lu ngomong apa Oji. Buah kembar kata lu. Mata lu minta dicolok rupanya ya. Mesum...Mesum...Mesumm. Rasain". Ucap Shila yang kalap.
Nuri dan Imelda pun langsung memisahkan perkelahian diantara Oji dan Shila. Mereka tidak ingin diusir dari pesta bosnya itu hanya gara-gara tom and jerry versi manusia satu ini.
"Udah donk Ji Shil lu pada jangan bikin keributan di sini. Kita engga mau diusir gara-gara lu berdua". Ucap Nuri dengan menggeret Shila.
"Iya nih Oji Shila. Lu berdua engga bisa,apa akur bentaran. Malu-maluin. Tuh liat madam Ghina udah melotot kearah kita". Ucap Imelda seraya menunjuk kearah tempat dimana madam Ghina berada melalui ekor matanya.
Otomatis Nuri, Oji, Shila dan Jojo tunangan Imelda pun mengalihkan pandangannya kearah sang madam. Dan benar, sang madam tengah melihat kearah merrka dengan melotot tajam.Membuat keempatnya pun langsung kicep dan salah tingkah.
"Tariam yang sangat romantis". Ucap Yash dengan nada tajamnya saat Vikram sudah duduk di kursi bar dekat Yash.
"Cemburu eeh ?". Tanya Vikram dengan tatapan menggoda.
"Aku masih normal Vik". Ucap Yash dengan menatap tajam.
Vikram pun hanya tertawa terbahak saat mengerti tingkah Yash yang sangat gengsi itu. Sulit memang membuat seorang Yash untuk mengakui sesuatu.
"Aku tak menyangka Mira benar-benar sangat sexy malam ini. Kau tahu Yash kulit perutnya sangan lembut. Dan punggungnya sangat halus dan harum ahhh andai saja....". Ucapan Vikram terhenti sebab Yash langsung menarik kerah baju Vikram dengan kuat.
"Kau ingin mencari mati dengan ku Vik. Jangan sampai aku membuat mu menyesal".Ucap Yash kesal dan langsung menghempas tubuh Vikram sampai menabrak pinggiran meja bar.
"Kau sudah mabuk berat kah Yash. Aku hanya memberi tahu mu. Kenapa kau bisa semarah ini huh. Kau benar-benar cemburu atau bagaimana ?". Tanya Vikram dengan nada santainya.
Yash pun lalu menghela dan duduk tenang kembali seolah tidak terjadi apa pun. Membuat orang-orang di sekitar yang melihatnya pun menggeleng. Ada yang memakluminya ada juga yang merasa heran dengan persahabatan yang Yash dan Vikram jalani itu.
"Sial. Jika bukan di arena kerumunan. Sudah ku pastikan habis wajahmy Vik". Batin Yash dengan kesal.
Vikram pun hanya tersenyum masam saat tahu jika ucapannya yang memuji Mira itu akan membuat sahabatnya semarah itu. Seolah tak rela jika Mira di sentuh olehnya. Benar-benar menggemaskan.
Mira yang selesai dengan tariannya pun langsung menunduk mengucapkan terima kasih setelah melempar senampan besar kelopak bunga kearah panggung dan penonton sehingga diruangan itu pun langsung tercium wangi semerbak bunga warna warni.
Seluruh penonton pun bertepuk tangan dan bersiul dengan kompaknya. Mereka merasa takjub akan tarian yang Mira lakukan bersama beberapa penari lainnya itu.
Dan Mira pun berjalan menuruni panggung dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru guna mencari keberadaan seseorang yang ia kenali. Namun hanya Vikram dan Yash lah yang ia lihat.
Vikram pun lalu melambai kearah Mira untuk beemaksud menggajaknya bergabung. Raina yang datang entah dari mana pun langsung menggandeng tangan Mira. Beruntung ia tidak reflek dan melihat dulu siapa yang menggandengnya. Dan mereka berdua pun berjalan saling bergandengan.
"Ahh senangnya, kedua bidadariku berjalan bergandengan layaknya kakak adik". Ucap Vikram dengan raut berbinar cerah. Membuat Yash langsung melempar kulit kacang kearah Vikram dengan tatapan tajam.
"Hhhh... Ini yang sangat di sayangkan. Pesta boleh saja bernuansa atau bertema bollywood. Sayangnya makanan disini tak ada nuansa bollywoodnya. Sungguh mengesalkan". Ucap Vikram seraya melirik kearah kacang asin yang tengah Yash makan itu.
"Tarianmu sangat bagus kak. Aku suka hiihii". Puji Raina dengan senangnya.
"Terima kasih nona Raina". Ucap Mira dengan tersenyum tulus.
Mereka pun sampai kehadapan Yash dan Vikram. Raina pun berdiri di samping Vikram. Dan Mira hanya berdiri menunduk. Sebab tatapan Yash seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Apa salah ku...". Batin Mira bingung.
"Minum lah. Kau pasti lelah sehabis menari tadi". Ucap Yash namun dengan nada dingin seraya menyerahkan satu gelas minuman berwarna merah.
Mira pun menerimanya dengan ragu-ragu seakan minuman itu terasa racun yang harus ia telan dengan segera.
"Ini tidak memabukkan. Hanya rasanya seperti kau tengah meminum soda". Ucap Yash memberi tahu.
"Minum lah". Ucap Yash lagi dengan nada tampa bantahan. Membuat Mira langsung meminumnya dengan sekali teguk.
"Benar-benar haus rupanya". Ucap Yash begitu sinis.
Raina dan Vikram pun saling pandang. Mereka merasa jika nada bicara Yash sungguh berbeda. Seperti ada kemarahan tersendiri di diri Yash.
Yash pun merasa begitu aneh kepada perasaannya sendiri. Mengapa rasanya ia sangat ingin meledak-ledak dan mengunci Mira hanya berdua dengannya. Lalu ia meluapkan semuanya kepada Mira. Kekesalannya, amarahnya dan rasa yang seperti meninju ulu hatinya yang membuatnya tak nyaman bernafas.
Mira yang merasa tak imgin dan tak mau melihat tuan Yash terus saja berkata dingin dan sinis kepadanya itu pun memberanikan diri untuk bertanya dan menatap mata Yash yang sedari tadi menatspnya.
"Tuan, apa salah ku. Mengapa anda seperti ini. Apa aku melakukan sebuah kesalahan, apa aku ahhh...". Teriak Mira setelah pergelangan tangannya di cekal Yash dan di bawanya Mira menuju ke tempat lain.
"Kak mau kemana ?". Tanya Raina yang penasaran dan hendak menyusulnya.
"Stttt Rain, sudah biarkan saja". Cegah Vikram seraya menggeret lembut tangan Raina.
"Tetapi kak. Kak Yash itu seperti marah. Aku...". Ucapan Raina terhenti saat jari telunjuk Vikram berada di bibir Raina.
"Aku yakin kali ini Yash akan lebih hati-hati menggunakan emosi dan amarahnya. Jika pun tidak bisa, dia swndiri yang nantinya akan bertanggung jawab. Katanya ingin Mira menjadi kakak ipar, maka biarkanlah".
__ADS_1
Ucap Vikram dengan menoel hidung Raina dengan mesra. Membuat Raina tersipu malu dan tersenyum mengangguk menuruti larangan dari Vikram.
"Maaf mengganggu". Ucap seseorang dari samping. Membuat Raina dan Vikram langsung menengok kearah sumber suara.
"Boleh kah aku berbicara berdua dengan anda tuan Vikram ?". Tanya seseorang itu dengan tatapan tajam.
Vikram dan Raina pun saling pandang. Dan Vikram pun langsung mengelus lembut pipi kanan Raina dan berkata.
"Sebentar ya princess, aku ada urusan sedikit".Ucap Vikram lembut dan memuja. Membuat Raina mengangguk dengan enggan.
Vikram pun tersenyum lembut dan melihat kembali kearah seseorang itu dan mengangguk mensetujui pertanyaannya.
Seseorang itu pun langsung menggandeng Vikram dan membawanya ke gedung atas dengan tatapan yang penuh amarah seraya mengingat perkataan seseorang yang kini telah memenuhi ruang hatinya.
"Tak ku sangka kekasih mu akan kembali Martha. Ia kembali di hari pernikahanmu denganku. Kau senang huh. Harusnya begitu kan. Pergi lah, temui dia dan bicara baik-baik dengannya. Aku ingin kau pergi dengannya dan membatalkan pernikahan ini. Lalu aku bisa berbahagia dengannya, mengejarnya kembali dan menjadikannya milik ku. bukan kau". Begitu lah derentetan kata yang terus terngiang di saat ia berjalan menyeret Vikram sang mantan kekasih.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkan mu Er. Hatiku, jiwaku dan perasaanku murni untukmu. Kau yang ku inginkan. Aku tidak perduli atas penolakan dan bencimu. Sumpah demi nyawaku. Aku Marthania Putri Atmaja akan selalu mencintai Erlangga Firmansyah sampai kapan pun. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki mu selain aku". Batin Martha dengan bersungguh-sungguh.
"Tuan, kau membawa ku kemana". Tamya Mira takut.
Yash yang masih berjalan dengan penuh amarah itu pun tak pernah menjawab pertanyaan Mira. Ia masih saja terus berjalan menyeret tangan Mira.
Dan sampai lah mereka di atas gedung yang memilik angin seperti di bibir pantai. Membuat Mira sedikit menggigil dan cemas. Ia pun lalu munduk saat melihat mata tajam Yash yang menatapnya dengan intes itu.
Yash pun mendekatkan tubuhnya kearah dinding pembatas gedung yang tingginya hanya sepinggang Yash dan lalu melihat ke seluruh pemandangan kota malam yang memiliki lampu kemerlip.
Dengan ragu Mira perlahan mendekat kearsh Yash dan memandang keindahan kota yang menurut Mira sangat keren itu. Dan sesekali melirik kearah Yash yang tengah terpejam menikmati semilir angin yang menerpanya.
"Entah mengapa aku merasa sangat kesal mendengar Vikram memuji keindahan tubuh mu. Apa yang sedang ia fikirna". Ucap Yash masih dengan emosinya.
"Memangnya apa yang tuan Vikram katakan ?". Tanya Mira penasaran.
"Kulit perutmu sangat lembut dan punggung mu sangat indah. Rupanya kain panjang dan rambut panjangmu tidak bisa menutupinya. Benar-benar sialan". Ucap Yash seraya mengepalkan tangannya.
"Tetapi, tuan. Tuan Vikram tidak menyentuhku di area perut ku. Dia hanya memegang pinggangku dan tanganku. Seperti ini". Ucap Mira seraya mengarahkan tangan kanan Yash ke pinggangnya dan tangan kira Yash ke arah tangannya.
Lama mereka terdiam dengan posisi saling memandang. Menyelami di kedua mata masing-masing. Hingga akhirnya Yash pun memojokan tubuh Mira dinding dan menguncinya dengan kedua tangan Yash sisi kan di kanan dan kiri tubuh Mira.
"Kamu ingin menggoda ku Mira ?". Tanya Yash dengan tatapan intensnya.
"Ti..Tidak tuan. Aku hanya memperagakannya. Dan mengatakan yang sebenarnya". Ucap Mira gugup.
Tanpa aba-aba dan meminta izin, dengan secara mengejutkan. Yash memeluk erat tubuh Mira dengan bernafas lega. Seolah beban berat yang ada di tubuhnya hilang terbawa angin malam yang menerpanya.
Sementara Mira, sudah tidak karuan merasakan jantung yang ingin melompat dari tubuhnya. Namun wangi dari parfum Yash seolah menenangkannya dan menyihirnya kealam ketenangan. Sehingga tanpa sadar Mira pun membalas pelukan Yash.
Ucap Mira yang tanpa swngaja mengutarakan fikirannya.Yash pun tersenyum senang dan menghirup dalam bau rambut Mira yang segar dan memabukan.
"Bau rambutmu sangat unik Mira. Aku fikir aroma greentea, gingseng dan strawberry lah yang lebih di gemari para wanita. Tetapi kau sungguh berbeda. Aku suka wangi mint yang memabukan dari rambutmu ini". Ucap Yash seraya menciumi puncuk rambut Mira.
Kalian bayangkan saja 180 cm dengan bobot 70 kg dengan 165 cm di tambah wedges hells dengan bobot 50 kg jika berpelukan seperti apa.
"Jangan marah lagi ya tuan. Anda sangat menyeramkan jika marah. Aku merasa takut. Tuan Vikram hanya ingin membodohi anda saja". Ucap Mira seraya mengusap-usap punggung lebar Yash. Dan Yash pun merespon dengan anggukan.
"Bersama Mira, aku merasa setenang dan senyaman ini. Aku seperti menemukan cahayaku, udaraku, dan tempat nyamanku.". Ucap Yash dengan terpejam.
"Tuan, anda sungguh berat". Ucap Mira yang sedikit menyandar di tembok. Membuat Yash terswnyum dan melepas pelukannya.
"Huufff syukurka tuan Yash melepaskan pelukannya. Jika tidak, mungkin jantungku sudah pecah karena berdegup terlalu kencang". Batin Mira merasa bersyukur.
"Sejak kapan kamu bisa menari ?". Tanya Yash merasa penasaran.
"Sejak umur delapan tahun tuan. Saat itu aku sangat suka sama tarian radha krisna yang aku lihat di televisi. Dan mendiang ibuku langsung mendaftarkanku ke sekolah menari. Dan jadwalku diatur antara sekolah dan sekolah menari". Ucap Mira memulai bercerita.
"Pantas saja, gerakan mu luwes. Tetapi apa tarian dari negri orang saja yang kamu bisa. Bagaimana dengan tarian tradisional dari negri ini ?". Tanya Yash lagi.
"Bisa tuan. Jaipong, rama sinta, kecak, dan tari ronggeng pun bisa". Ucap Mira dengan tersenyum lucu.
Yash pun hanya menaikan alisnya sebelah menanggapi ucapan dari Mira. Dan tersenyum seraya memindai anak rambut yang menutupi wajah Mira akibat tiupan angin malam.
"Aku ingin melihatnya di lain waktu". Ucap Yash seraya menatap kedua manik mata Mira dengan begitu dalam.
PLAAKKKK !!!
Suara tamparan yang begitu keras dan menggema itu pun mengejutkan Mira dan Yash. Mereka pun memutar arah pandang ke seluruh penjuru gedung dan menemukan Vikram dan Martha yang tengah berdiri tak jauh dari Yash dan Mira. Namun tidak di ketahui oleh Vikram dan Martha.
"Benar-benar sialan kau Vik. Apa tujuanmu datang di hadapanku setelah pergi tanpa ada kabar dan sebab huh. Apa yang sebenarnya tengah kau rencanakan huh APA !". Seru Martha setengah memaki Vikram dengan suara lantang.
"Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya memenuhi undangan dari ayah mertuamu. Tuan Ferdinan". Ucap Vikram tenang.
"Kau mencoba membohongiku. Untuk apa kau mempersembahkan semua itu. Lagu itu, tarian itu, dansa itu dan semuanya. UNTUK APA !". Seru Martha dengan penuh emosi.
"Apa kau masih berharap bahwa aku akan berlari kepadamu dan memilihmu begitu. Heh tidak akan Vik. Hati ku, cinta ku, perasaan ku, dan jiwa ku hanya untuk Erlangga. Aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya". Ucap Marta begitu dingin dan tegas.
Vikram yang mendengarnya pun memandang Martha penuh luka dan kecewa dalam diam. Ia pun tersenyum pedih dan menggeleng seperti orang tak waras. Mira dan Yash pun hanya bisa memandang iba dari kejauhan.
"Apa secepat itu kau mencintainya Tha. Benarkah itu cinta atau hanya obsesimu". Ucap Vikram dengan tatapan lukanya.
__ADS_1
"Kau tidak ingin tahu. Sebab aku menghilang ?". Tanya Vikram dengan nada terluka.
"Buat apa aku tahu. Lelaki seperti mu memang sudah jelas tidak pernah ada kepastian. Setelah berhasil mematahkan lalu meninggalkan begitu saja. Dan setelah itu, datang kembali untuk mematahkan lagi. Itu lah dirimu Vikram D Latthore". Ucap Martha dengan angkuhnya.
"Jadi nona Martha tahu siapa itu tuan Vikram". Lirih Mira kepada Yash. Dan Yash pun hanya mengangguk saja.
"Bagaimana jika aki katakan bahwa. Hilangnya aku tanpa sebab dan kabar. Adalah campur tangan dari ibu mu dan ayah mertua mu. Apa kau akan mempercayainya Martha ?". Tanya Vikram dengan begitu dingin.
"Hhhh, jika kau adalah pemuda biasa. Aku pasti akan percaya, tetapi kau adalah seorang Latthore. Tidak akan pernah masuk akal jika kau sampai berada di tangan mereka dengan mudah. Dasar pembohong". Ucap Martha yang tidak mempercayai.
"Aku memang seorang Latthore. Namun aku, adalah seorang manusia Martha. Aku tidak bisa selamanya awas. Dan aku berbicara yang sesungguhnya". Ucap Vikram dengan bersungguh-sungguh.
"Hidup mu tidak akan sebahagia yang kau bayangkan Martha. Hidup dengan seseorang yang tidak mencintaimu, dan memiliki seseorang yang ambisius. Aku rasa, kau terlalu gegabah dalam menafsirkan perasaanmu". Ucap Vikram mencoba untuk menasihati Martha.
"Aku datang kemari selain untuk memenuhi undangan ayah mertuamu, aku juga ingin mempertanyakan perasaanmu dan kesediaanmu untuk ikut denganku. Jika kau memilih ku dan hidup bersama ku. Kau akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dari ku". Ucap Vikram memberi penawaran.
"Tidak akan pernah. Aku tidak akan meninggalkan Erlangga demi lelaki sepertimu. Licik, pengecut, dan dungu. Bisa-bisanya aku dulu pernah menaruh hati kepada peria sepertimu". Ucap Martha dan berlalu pergi meninggalkan Vikram. Namun langkah Martha terhenti saat lengannya di cekal oleh Vikram dengan kuat sehingga membuat Martha berbalik dan langsung menampar pipi kiri Vikram dengan kuat.
"Tidak bisakah kau mengerti Vik. Tamparan itu adalah jawaban dari rasa benciku pada mu. Berhentilah menggangguku dan pergi dari acara ini !". Ucap Martha lantang dan sangat angkuh. Membuat Vikram semakin sadar bahwa Marthanya telah berubah begitu jauh dan tak terjangkau.
"Jangan sampai aku. Menamparmu untuk yang ketiga kalinya. Aku tidak ingin hena ku yang tertulis nama Erlangga yang ku cintai pudar begitu saja. Pergi dan jangan pernah menggangguku". Ucap Martha penih emosi dan meninjuk-nunjuk kearah muka Vikram.
"Baik. Jika itu mau mu. Ingat lah, jika aku sudah tidak melihatmu maka sekali pun kau merangkak di kaki ku. Aku tidak akan pernah menganggap mu Martha. Ku pasti kan kau akan menyesal. Pergilah bersama mereka yang kau anggap layak dan pantas untukmu. Hari ini aku mengikhlaskan mu". Ucap Vikram dengan sorot mata tegasnya.
Martha pun hanya terswnyum sinis dan langsung berbalik pergi meninggalkan Vikram begitu saja tanpa menengok kebelakang lagi. Setelah tubuh Martha menghilang tak terlihat lagi Vikram pun berbalik kearah pinggiran gedung dan berteriak lantang kelangit malam. Meluapkan segala sakit hatinya, rasa kecewanya, dan segala rasa yang membuatnya rapuh di malam itu.
Mira yang tak tega pun ingin menciba mendekati Vikram. Namun langkahnya di halang oleh cekalan tangan Yash yang membuat Mira merasa heran dan tak mengerti.
"Tuan, ada apa ?". Tanya Mira heran.
Yash yang ditanyai pun tak menjawabnya. Ia malah fokus menatap Raina yang berjalan kearah Vikram dengan linangan air mata. Mira pun baru menyadarinya swtelah ia juga melihat keberadaan Raina yang berjalan menuju kearah Vikram.
Dengan air mata yang berlinang ia pun memegang pundak Vikram. Merasa ada yang menyentuh pundaknya. Vikram pun langsung berbalik dan menatap Raina dengan pandangan yang terluka.
"Bodoh. Benar-benar bodoh kau kak. Kau adalah seorang pangeran Latthore. Hanya karena satu wanita seperti Martha. Kau sampai serapuh ini. Siapa ini siapa yang ada di hadapanku hah ?". Ucap Raina mencoba untuk menyemangati Vikram.
Vikram pun langsung memeluk Raina dan menangis bersama disana. Sementara Yash yang melihatnya pun langsung emosi dan marah. Raut wajahnya begitu mengerikan. Ia pun lalu meninju dinding dengan kepalannya sehingga membuat kulit tangannya mengeluarkan darah segar.
"Ya tuhan. Tuan, tangan mu !". Seru Mira yang langsung menarik tangan Yash dan lalu membelitkan selendang yang di buat untuk menutupi sebagian perutnya lalu mengikatnya di telapak tangan Yash. Guna memberhentikan darah segar yang mengalir pada tangan Yash yang di buat untuk meninju dinding.
Suara krak tari jati-jati Yash begitu nyaring. Namun anehnya tidak ada raut kesakitan sama sekali pada wajahnya. Mira pun sedikit khawatir akan sikap Yash yang seperti di bakar api cemburu itu.
Dan dengan tiba-tiba Yash pun pergi meninggalkan Mira dengan langkah lebarnya. Membuat Mira harus mengejar Yash dengan setengah berlari.
Jio yang melihatnya pun berusaha untuk menghentikan Mira. Namun karena posisinya yang Jauh. Ia pun harus berusaha keras untuk mengejar Mira.
"Aki tidak akan membiarkan nona Mira untuk ikut dengan tuan Yash. Amarah tuan Yash begitu besar. Akan sangat berbahaya jika ia sampai berada di dekat tuan Yash". Batin Jio seraya berlari kencang.
"Tuan tunggu. kau ingin kemana. Tuaaann.... !". Seru Mira tanpa menyerah.
Yash pun berhenti di sisi mobilnya dan menunggui Mira untuk menyusulnya. Setelah Mira sampai di sisi Yash dengan nafas yang terengah. Yash pun langsung mendorong Mira ke kursi depan untuk duduk di sana.
"Pakai sabuk penfamannya". Ucap Yash dingin. Membuat Mira buru-buru untuk memakai sabuk pengaman itu.
Yash pun langsung masuk kebagian kursibpengemudin dan langsung menggeber-geberkan mobilnya guna membuat mesin mobil itu sedikit panas dan langsung menancapkan gas begitu kuat.
Jio yang terlambat pun mengumpat dengan kesal. Dan langsung menuju kearah mobil lain lalu menancap gas menyusul sang tuan muda yang mengemudi seperti orang kesetanan itu.
"Semoga nona Mira tidak apa-apa di sana". Ucap Jio penuh uarap.
Sedangkan Mira pun berteriak kencang saat mobil yang ia tumpangi melesat begitu kencang dan langsung menutup mata seraya berpegangan pada sabuk pengaman dengan kuat.
"Tuan aku mohon pelankan....Aku tidak ingin mati. Apa anda sudah tak waras !". Ucap Mira dengan takut membuat Yash semakin tersenyum setan.
Beruntung jalanan yang mereka lewati sedikit lengang dan memasuki area tol. Yash pun semakin kencang menancap Gas mobilnya menyalip beberapa mobil dan kendaraan besar lainnya.
Jantung Mira pun seperti melompat pada tempatnya dan ia merasa akan mati saat ini juga. Sedangkan Yash hanya tersenyum evil dan terkadang tertawa setan.
Dan tanpa ada sebab apa pun mobil yang Yash tumpangi ia rem dengan tiba-tiba membuat Mira sedikit terhuyung kedepan dan panik saat menyadari jioa Yash sengaja memberhentikan mobilnya di area tol.
"Tuaann, apa ini. Kenapa anda berhenti. Jika tadi di belakang ada mobil lain dan anda berhenti secara tiba-tiba seperti ini. Maka tamatlah riwayat kita". Ucap Mira dengan bergetar takut.
Yash pun tidak menghiraukan ucapan Mira. Ia hanya terdiam dengan raut emosi yang madih belum padam. Mira pun tidak tinggal diam. Ia menggoyangkan tubuh Yash untuk menyadarkannya dari lamunan.
"Tuan, apa anda mendengarku ?". Ucap Mira seraya menarik dan mengguncangkan tubuh Yash.
Sudah beribu-ribu kelakson mobil yang berbunyi. Bahkan mobil besar yang melewati mobil Yash pun seolah mengguncang mobil yang Mira dan Yash tumpangi membuat Mira merasa semakin takut.
"YASH apa kau sudah GILA !". Seru Mira dengan emosi membuat Yash langsung menengok kearah Mira dengan sedikit terkejut namun dengan raut cool.
"Aku mencintainya. Tetapi dia mencintai sahabatku sendiri. Memeluk sahabatku di depan mataku. Apa aku harus bersikap waras Mira". Ucap Yash dengan menatap kearah manik mata Mira yang hitam sehitam malam.
"Siapa yang anda maksdu ?". Tanya Mira ingin memastikan sendiri dari mulut Yash.
"Raina". Ucap Yash begitu jelas di telinga Mira.
Mendengar itu Mira pun langsung menutup mulutnya karena terkejut dengan pengakuan dari Yash yang mencintai adik kandungnya itu.
__ADS_1