
Pov. Yanna.
Memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu itu memang sulit. dan sangatlah sulit, dengan rasa marah dan kecewa teramat dalam dengan orang orang terdekat.
Memang bisa memaafkan, tapi sulit untuk di lupakan. Bukan berarti kita bisa lagi seperti dulu karena sudah memaafkan, hubungan tak akan bisa kembali lagi seperti semula saat mereka begitu dekat. Akan ada sedikit jarak, meskipun kita sudah mencoba untuk baik-baik saja.
Padahal, sulit.
Jangan menyalahkan sepihak saja. Semua itu juga bukan kemauan kakak ipar, memp*kosa ibunya Nana. Dan semua, murni kecelakaan. Kecelakaan yang mengakibatkan adik kakak, terputus Persaudaraan. Dan mengakibatkan kesalahpahaman. Serta sulit untuk orang tua memihak pada siapa.
Orang mabuk berat, mudah tergoda hawa nafsu dan juga mudah marah.
Tapi seiringnya waktu dan kedewasaan, mungkin mereka sedikit sadar. Dan sedikit menurunkan ego demi kebaikan serta permohonan wanita yang sudah mengandung dan merawatnya penuh kasih sayang.
Tidak ada yang di bedakan. Semuanya sama, tidak ada yang memihak dan tidak ada yang membela kebenaran atau kesalahan. Cukup permasalahan mereka yang mengatasi sendiri, tapi bila sudah terlalu lama. Orang tua tidak akan bisa diam. Ikut terlibat agar semua bisa baik-baik saja. Tidak ingin larut dalam kesediham atau pun dalam pertengkaran begitu panjang.
Jangan sia-siakan waktu keluarga hanya karena keegoisan.
Malam ini, Mas Rama mengabulkan permintaan mamanya. Datang bersama denganku dan anak-anak ke rumah mama. Menghadiri undangan mama makan malam bersama.
Wajah mas Rama seperti biasa, tidak ada yang berubah dari expresinya.
Datar dan tenang.
Tidak perlu menaiki mobil, cukup naik motor matic ku dengan Naufal duduk di depan. Rumah Mama mertua hanya beda komplek saja, tidak perlu naik mobil dan pastinya juga gak akan kemana-mana setelah ke rumah mama.
Di sambut hangat Mama, yang sudah menunggu tidak sabar di depan pintu rumah terbuka. Sekilas melihat di belakang mama. Ada Kakak ipar dan juga istrinya, menyambut kehadiran kami.
Membalas senyuman istri kakak ipar dengan hangat. Aku rasa mama sudah menceritakan akan kedatangan kami ke rumahnya. Hingga itu istri kakak iparku begitu antusias. Mungkin karena aku dan istri kakak ipar sudah pernah bertemu dan juga pernah mengobrol tanpa sengaja saling bertabrakan di swalayan.
Tapi berbeda dengan expresi kakak iparku. Sama seperti suamiku. Diam dan sangat sulit di tebak tatapannya.
Begitu pula saat menatap Nana.
Dan ternyata, wajah kakak ipar terlalu mirip dengan Nana. Sangat kentara sekali. Mungkin terlalu membenci saat hamil Nana, atau hanya ingin di akui saja bila itu memang benar anaknya.
__ADS_1
Anak yang pernah membuatnya menyesal.
" Kamu datang juga Nak?" Riang Mama, memeluk Mas Rama. Seakan lama sekali tak. pernah bertemu.
" Kerena Mama." jawab Mas Rama.
" Makasih sayang." Senyum indah menghiasi bibir mama mertuaku. " Ayo masuk Yan, Mama sama Anggun sudah masak banyak hari ini. Spesial juga buat makan malam keluarga." Imbuh mama dengan semangat.
Istri kakak iparku, mbak Anggun. Nama yang cantik, sama seperti wajahnya.
" Iya ma." Jawabku mengangguj tersenyum, saling bertatapan dengan mbak Anggun yang menatapku dengan senyum. Aku balas senyum mbak anggun.
" Nana, Naufal. Salim dulu Nak sama tante sama Om." Perintahku, membuat Naufal mengangguk. Tapi tidak dengan Nana.
Tatapannya begitu marah dengan pria yang ada di hadapannya.
" Nana?" Panggil Mas Rama, membuat Nana menoleh ke arah papanya.
Mas Rama hanya tersenyum dan mengangguk. Aku bisa melihat raut wajah Nana, hanya pasrah dan tidak mau memberontak kala Mas Rama menyuruhhya.
Berganti ke Mas Ryan. Tatapan saling bertemu, melihat Kakak ipar sampat ragu untuk mengulurkan tangan. Antara takut atau merasa bersalah karena perbuatannya dulu. Mbak Anggun menyentuh lengan mas Ryan, dengan senyuman Mas Ryan pada akhirnya mengulurkan tangan kehadapan Nana. Menyalimi Mas Ryan dengan cepat dan berbalik menuju Papanya.
Menggenggam tangan papa Rama, seakan Nana menunjukkan bila dirinya lebih sayang dengan Papa Rama.
Pasti hati sakit bila melihat anak lebih akrab dengan orang lain. Tapi memang kesalahannya, dan tak mungkin menyalahkan anak kecil seperti Nana.
Mulai kaku kembali, tidak seperti awal bertemu. Yang mengalir begitu saja, tanpa paksaan. Mungkin belum merasa percaya diri berhadapan dengan calon ipar. Atau karena Mas Rama.
Mama dan Mbak Anggun, benar-benar menyiapkan makan malam begitu banyak dan sempurna untuk kedatangan kami.
Begitu antusiasnya mama dan juga senang akan malam bersama dengan anak-anaknya serta menantu dan cucunya.
Seperti sudah begitu lama mama mertua tidak makan bersama keluarga. Melayani putra-putranya dengan penuh kasih sayang. Para menantu di larang untuk ikut membantu meyani putra dan cucunya. Aku dan Mbak Anggun di layani sepenuh sayang juga. Tidak ada yang di bedakan, antara anak dan menantu.
" Mama senang bisa berkumpul makan malam bersama seperti ini. putra-putra mama, menantu dan cucu-cucu mama. Kalau bisa Mama pengen seperti ini setip minggu atau setiap hari. Mama sedih kalau makan selalu sendirian." Kaluh Mama.
__ADS_1
Aku bisa merasakan bagaimana mama benar-benar kesepian di rumah sebesar ini sendiri. Tanpa anak-anaknya yang sudah menikah dan keluar dari rumahnya karna ingin hidup mandiri.
Mungkin Nanti aku juga akan seperti mama mertua, bila anak-anakku besar dan sudah memiliki pasangan sehidup semati.
Dan aku membayangkan ibuku, yang akan di tinggal sigit menempuh pendidikan tinggi di kota.
Pasti ibuku juga kesepian.
Hari tua yang akan menjadi kesendirian, di saat anak-anak sudah bahagia.
" Mama cuma pengen kalian saling menjaga, saling menyayangi seperti dulu. yang lalu sudahlah berlalu. Jangan di bawa lagi menjalani hidup yang baru. Mama sudah lelah, mama juga pengen hidup damai bersama anak menantu dan cucu mama. Itu saja permintaan di hari tua mama." Imbuhnya.
Terasa dalam hingga membuat mbak Anggun menunduk. menggelinang air mata. Tak kuasa mendengar ucapan mama mertua.
Mungkin yang di rasakan mbak Anggun sangat berat, tidak sanggup lagi bila tegar di hadapan semua orang.
Kehilangan seorang anak tunggal, seperti kehilangan separuh jiwanya. Yang sangat sulit untuk di iklaskan. Mungkin ini memang sudah takdir, atau balasan dari Tuhan karena perbuatan suaminya tempo dulu. Membuat seorang anak berpisah pada ibunya untuk selama-lamanya.
" Maafkan Aku Ram. Maaf karena perbuatanku yang dulu." Ucap Mas Ryan, menatap Mas Rama dengan mata yang memerah. " Aku salah, tidak bisa menjadi kakak yang bijak, baik dan juga pria yang tidak bertanggung jawab."
Aku melihat mas Rama menatap kakaknya dengan lekat.
" Nana? Ajak adik ke dalam kamar ya, adik keliatannya ngantuk." Perintahku pada Nana, yang tak ingin putriku mendengar percakapan orang dewasa.
Yang sebenarnya Nana juga sudah tau, di mana naraha pembicaraan orang dewasa. Antara Papanya, papa kandungnya dan juga neneknya.
Nana mengangguk, mengiyakan perintahku. berjalan bersama Naufal menuju kamar di atas dulu. Sedangkan aku. Aku tidak ingin meninggalkan Mas Rama, yang mungkin tak akan bisa menahan amarah bila melihat kakaknya.
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃