
" Baiklah sampai di sini? dan selamat bekerja kembali." Akhiri Akbar dalam briefing di pagi hari, bersama bawahannya di siff pagi.
" Siap Pak!" Ucap bersamaan semua karyawan dengan semangat. Briefing tak begitu lama dan membuat semua karyawan tersenyum bahagia.
Bagaimana tak bahagia. Bulan ini mereka akan mendapatkan uang bonus tambahan. Kala pencapaian pendapatan melebihi target. Bonus yang di tunggu-tunggu dan bisa membuat semua karyawan akan merasakan shooping tanpa menunggu disconan akhir bulan.
" Eh! aku lihat-lihat Pak akbar sudah kembali ceria ya. Gak kusut kayak dulu lagi." Ucap Dinda, melihat Akbar yang sudah memasuki ruang kerjanya kembali.
" Iya, iya. Udah gak sedih lagi tu wajah pak Akbar." Timpal Sari, juga memperhatikan Akbar yang berceramah di pagi hari dengan wajah terlihat ceria.
" Sudah dapat pengganti baru mungkin." Kata karyawan lain.
Dan mereka kembali menuju ruang dapur, untuk memulai bekerja.
" Ah!! Masak sih!" Seru Dinda. " Cepet banget kalau memang udah dapat yang baru!"
" Ya bagus dong, itu berarti sudah move on dari Yanna." Kata Eko, yang ikut mendengar percakapan para wanita.
" Move on sih gak apa-apa, tapi jangan cari yang baru dulu! Kan aku jadi sulit ngejar cinta pak Akbar lagi!" Rengek Dinda, tidak terima bila atasannya sudah ada pengganti.
" Aku juga!" Tambah Sari dengan cemberut.
" Juga apa!" Tanya Eko pada Sari.
" Juga pengen dapat cinta pak akbar." Jawabnya dengan senyum, membuat mata eko sinis menatapnya dan pergi melanjutkan pekerjaannya.
" Ciye!! Ada yang cemburu nich!" Goda Dinda dan yang lainnya.
" Cemburu tu loh Sar, ekonya?" Goda Karyawan lain pada Sari. Sedangkan Sari hanya acuh sambil mengangkat bahu.
" Mel!"
" Apa?" Jawab Amel, yang hanya mendengar celotehan teman-temannya tanpa mau ikut berkomentar.
" Diem bae, ada apa?" Tanya Dinda. Membuat Sari menatap Amel yang juga penasaran akan diamnya sahabatnya itu.
" Lagi puasa kamu mel?" Tanya yang lain.
" Enggak."
" Terus kenapa?"
" lagi sariawan." Jawabnya malas. Membuat semua ber o ria dan mengangguk-anggukkan kepala. Tidak termasuk Sari, yang curiga dengan sahabatnya itu.
Amel tidak peduli dengan teman-temannya yang sedang membicarakan perubahan Akbar. Yang dia pikirkan saat ini adalah cara bagaimana harus membayar rentenir. Kala sudah jatuh tempo pembayaran.
Rumit, sungguh rumit. Ibu Amel terpaksa menggadaikan sertifikat rumahnya untuk membayar biayai operasi ayahnya, karena penyakit batu empedu yang di derintanya selama ini. Dua tahun sudah Amel mengangsur cicilan bank seorang diri. Bukan orang tua tidak mau ikut membantu biaya cicilan bank. Tapi ekonomi keluarganya masih belum stabil dan masih membelendung dalam hutang yang tak tahu kapan akan berakhir.
__ADS_1
Ayah yang sudah tidak lagi kerja karena umur sudah menua dan ibu yang bekerja serabutan demi biaya makan serta sekolah ke dua adik kembarnya. Sedangkan dirinya, untuk membayar tagihan bank dan juga sedikit membantu meringankan kehidupan keluarganya.
Lelah, tentu saja lelah. Lelah pikiran dan juga lelah fisik. Ingin mengeluh pun juga tak ada gunanya. Buat apa mengeluh, belum tentu juga ada yang berempati kecuali orang yang sangat dekat dengannya. Seperti Sari, Yanna dan juga Indri.
Tapi yang namanya Amel, orang yang sangat tertutup dan tak pernah mengeluh sama sekali dengan ke tiga sahabatnya. Orang yang pandai menutupi masalahnya dan terlihat baik-baik saja di hadapan mereka. Padahal dirinya juga sangat rapuh, sama seperti tiga sahabatnya.
Uang yang seharusnya di bayarkan oleh rentenir itu, terpakai setengah. saat adik kembarnya meminta uang untuk biaya ujian sekolah.
Bingung, kini dirinya harus mencari pinjaman kemana untuk menggantikan setengah dari uang bank itu.
" Kamu ada masalah?" Tanya Sari, saat berada di ruang loker. Di mana jam kerja telah berganti, dengan mereka yang sif pagi boleh pulang.
" Masalah apa?" Tanya balik Amel, tanpa menatapnya dan fokus mengambil tas di dalam lokernya.
" Jangan ngelas deh Mel! Dari tadi aku lihat kamu diam saja. Ada masalah apa?" Desak Sari, yang sangat tau bila Amel hanya menghindarinya dalam pertanyaannya.
" Kan sudah aku bilang, lagi sariawan! Mangkanya meles sekali aku ngomong." Jawabnya sambil tersenyum menggelengkan kepala.
Sari menatap lama Amel, menelisik wajahnya hingga dirinya masih sangat curiga dengan Amel.
" Ko! Pacar mu kesurupan tu. Dari tadi lihatin aku mulu gak kedip-kedip." Kata Amel, menutup lokernya dan melihat Eko yang baru datang.
Sari yang tak terima pun memukul lengan amel dengan keras, membuat amel hanya meringis dan tertawa. " Pacar, pacar. aku masih jomlo dan masih pengen cari keturunan yang cakep." Ketus Sari.
" Buat apa cari yang cakep kalau gak modal. Tuh! Eko, gak ganteng tapi modalnya bisa banyak. Gak pelit lagi." Puji Amel.
Sari melihat ke arah Eko, mendesah dan berpaling cepat saat Eko tersenyum padanya.
" Aku duluan. Mau pulang." Pamit Amel. meninggalkan Sari dan Eko yang masih berada di ruang loker.
" Apa!" Ketus Sari.
" Jangan ketus-ketus. Jatuh cinta sama aku baru tau rasa kamu."
" Amit-amit!!"
" Amin-amin!!"
" Eko!!" Seru Sari dengan cemberut. Kini membuat eko tertawa.
***
" Nenek!!" Teriak Nana, berlari bersama Naufal ke dalam rumah Mama Rama.
" Asalamualaikum." Ucap Yanna di dikuti Rama dari belakang. berkunjung sore hari ke rumah mamanya.
" Walaikum salam." Jawab bersamaan mama Rama dan wanita yang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Yanna kembali mengerutkan kening, melihat wanita yang menyukai Suaminya datang ke rumah mertuanya.
Siapa lagi kalau bukan tante genit.
" Mas Rama?" Panggil manja Aurel. berdiri dan tersenyum manis menatap Rama.
" Ooh.. Aurel." Sapa balik Rama sekilas tersenyum.
" Ada apa kemari." Tanyanya.
" Ke sini di suruh mamanya, ngasih undangan syukuran." Jawab mama Rama.
" Iya di suruh Mama, nganterin undangan. Sekalian ingin ngobrol sama tante. Lama soalnya aku gak main ke sini." Imbuh Aurel.
" Oh!!" Gumam Rama.
" Anak-anak mana Ma?"
" Langsung ke kamarnya, katanya gak sabar mau cobain mainan baru." Jawab Mama Rama.
" Yanna? Kenalin, ini Aurel anak teman mama. Dan Aurel, ini menantu tante. Namanya Yanna." Kata Mama. membuat Aurel menatapnya.
Yanna mulai mengulurkan tangan ke arah Aurel. " Yanna." Ucapnya ramah.
" Aurel." Balasnya dengan ketus tanpa membalas senyuman Yanna.
" Mas Rama apa kabar?" Tanya Aurel, tak peduli bila ada Yanna sebagai istri Rama.
" Alhamdulillah baik." Jawab Rama. " Ma aku mau ke kamar dulu." Pamit Rama, membuat Mama Rama mengangguk dan tersenyum.
" Ayo sayang." Ajak Rama pada Yanna.
" Aku ke atas dulu Ma?" Pamit Yanna.
" Iya Nak."
Rama dan Yanna, berjalan bersama menuju kamar. Tidak mempedulikan Aurel yang menatapnya dengan sebal.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1