
Pov. Rama.
Rasa lelahku menjadi berkurang, kala aku sudah sampai rumah dengan istriku yang menungguku pulang di depan teras. Menyambutku dengan senyum hangat.
" Capek ya Mas?" Tanya Yanna, mengambil tas kerjaku dan menyalimiku.
" Capeknya sudah hilang kalau lihat istriku." Godaku, membuat Yanna hanya tersenyum datar. " Anak-anak mana?" Tanyaku.
" Sedang nonton tv." Jawab Yanna, membuatku mengangguk dan berjalan masuk di ikuti Yanna dari belakang.
" Lagi asyik nonton apa sih!! Sampai papa datang di cuekin?" Ucapku dari dari belakang sofa. Melihat Naufal dan Nana serius menonton kartun sore.
" Papa?" Sapa Nana, berbalik ke belakang dan menyalimi tanganku, di ikuti Naufal yang juga menyalimiku.
" Oohh.. nonton si kembar? Mangkanya serius amat." Ucapku. " Nana sama Naufal sudah makan?" Tanyaku.
" Belum." Jawab bersamaan sambil menggelengkan kepala.
" Nungguin Papa." Imbuh Nana.
" Ya sudah Papa mandi dulu, habis ini kita makan bersama. Mama pasti sudah nyiapin makanan." Nana dan Naufal hanya mengangguk bersamaan dan kembali menonton tv. membuatku gemas dengan dua anakku ini. Hingga aku mengacak rambut mereka.
Tapi sedikit ada yang berbeda dengan Nana. Yang biasanya aku datang dari pulang kerja, Nana pasti akan bergelayut manja denganku. menanyakan aku bawa apa, dan menanyakan kenapa telat pulang. Apa karna sudah ada Naufal, Nana tidak manja lagi denganku dan sedikit dewasa menjadi seorang kakak.
Lucu sekali.
Aku melangkah menuju kamar, melihat istriku yang sedang berdiri di depan lemari baju.
" Mas?" Pekik Yanna, terkejut saat aku memeluknya dari belakang.
" Bau ih! Mandi dulu sana." Imbuhnya, memukul tanganku yang masih melingkar di perutnya. Sambal aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya.
Wangi?
" Mandiin?" Godaku, sambil menciumi leher Yanna.
" Dih!! kayak anak kecil saja. Tu anak-anak, sudah pintar mandi sendiri. Ya, meskipun gak bersih." Gerutu Yanna. Membuatku tertawa pelan.
" Terus kamu mandiin lagi?"
" Kalau Nana gak perlu di omeli, sudah pintar mandi sendiri. Tu anak laki kamu, busa di rambut gak hilang-hilang. Makai sampo banyak banget. bisa-bisa satu botol gak sampai sebulan habis karna Naufal." Keluh Yanna. semakin aku tertawa mendengarnya keluhan istriku tentang anak-anak.
Ini yang aku inginkan, hidup dengan wanita yang ingin menjadi ibu rumah tangga. Sibuk mengurus aku dan anak-anakku dan selalu mengeluh tentang kelakuan anak-anak kepadaku setiap malam.
" Kamu enggak capek?" Tanyaku pada Yanna, masih setia memeluknya dari belakang. Meskipun Yanna sedang menata baju di lemari.
__ADS_1
" Enggak. malah aku senang sibuk begini. dari pada, tidur makan tidur makan. Nanti gak sehat, badan tambah mekar."
" Itu tandanya hidup makmur." Timpalku.
" Makmur sih makmur mas, tapi jangan sampai terlalu mekar. Aku takut nanti kamu ngelirik cewek lain." Jawab Yanna, membuatku tersenyum.
" Enggak akan. Meskipun kamu mekar, aku tetap cinta kamu." Jawabku. sambil mencium pipinya
" Gombal." Ucap Yanna. "Sudah sana mandi, kasihan Nana sama Naufal nunggu Papanya dari tadi."
" Hhmm, iya iya sayang! ." Jawabku, mencuri kembali ciuman di pipi Yanna sebelum melepas pelukan dan pergi ke kamar mandi.
" Mas?" Panggil Yanna, sebelum aku masuk ke kamar mandi.
" Iya?"
" Nanti setelah selesai makan, aku ingin tanya sesuatu sama mas. Tentang Nana." Ucap Yanna dengan wajah yang serius.
" Kenapa enggak sekarang, mau tanya apa?" Tanyaku, merasa ada yang aneh pada Yanna.
" Nanti saja? Sudah sana mandi. Aku siapin makanan dulu." Pamit Yanna pergi dari kamar, dan membuatku merasa penasaran.
Apa yang ingin di tanyakan Yanna tentang Nana?
Aku bergegas mandi, tapi isi kepalaku selalu memikirkan Yanna. Yang sukses membuatku semakin penasaran. Dan tidak biasanya wajah Yanna seserius ini.
" Makan dulu? Baru makan buah." Ucapku, membuat dua anakku mengangguk dan menaruh kembali garbu di samping piring buah.
Aku tatap Nana, yang makan dengan lahap tanpa berbicara, tanpa manja seperti di rumah mama.
Ada apa dengan Nana ini?
Apa Nana memang sudah berubah karena punya adik baru, atau ada yang lain. Aku kembali melihat Yanna, yang sama melihat Nana. Tapi, dengan wajah sedih.
Selesai kami makan malam, aku menemani Nana dan Naufal kembali menonton tv sambil bermain. Biasa Nana yang cerewet, banyak tanya kini diam tanpa ada suara. Sama seperti Naufal yang juga diam serta sibuk dengan mainannya sendiri.
" Sudah malam? minum susunya, cuci tangan sama kaki, terus tidur. Besok mbak Nana sekolah harus bangun pagi." Ucap Yanna, membawa dua gelas susu untuk Nana dan Naufal.
Tanpa bantahan apapun dari bibir Nana. Nana yang biasanya sangat sulit sekali minum susu, seakan nurut dengan Yanna. Dan mau mengambil susu serta minum hingga habis tanpa berkata atau mengeluh sama sekali.
Dulu di rumah mama, Nana sulit sekali minum susu bila tidak di paksa dan bujuk agar Nana mau menghabiskan segelas susu. Tapi ini, luar biasa. Pikirku.
" Selamat malam pa?" Ucap Nana, setelah selesai minum susu.
" Selamat malam sayang?" Jawabku, mencium kening Nana. " Bobok yang nyenyak, jangan lupa berdoa." Imbuhku, membuat Nana mengangguk tersenyum.
__ADS_1
" Selamat malam." Ucap Naufal padaku.
" Selamat malam jagoan." Ucap balik pada Naufal, sambil Mengacak rambutnya. meskipun anak lelakiku masih belum terbiasa memanggilku papa. Setidaknya Naufal mau menerimaku.
" Jangan lupa berdoa juga." Imbuhku, membaut Naufal juga mengangguk dan pergi bersama-sama dengan Nana menuju kamar mereka di ikuti Yanna dari belakang yang selalu mengantarkan anak-anak ke kamarnya.
Aku kembali tekun dengan laptopku. Memeriksa hasil penjualan dan pengeluaran toko. Serta membalas beberapa pelanggan mengirim pesan, untuk memesan kain yang akan di kirim atau bisa di ambil sendiri di gudang.
" Tehnya mas." Ucap Yanna, membuatku menoleh ke arahnya.
" Makasih sayang. Sudah tidur Anak-anak." Tanyaku, mengambil teh di tangan istriku.
" Hhhmm, mungkin sudah." Jawab Yanna, membuatku mengerutkan kening.
" Kalau aku ada di sana, anak-anak pasti tutup mata. Tapi kalau gak ada aku, mungkin mereka belum tidur." Imbuhnya dan duduk di sampingku.
" Mungkin masih pengen main." Ucapku, tersenyum menggelengkan kepala.
Masih setengah sembilan? " Pikirku dalam hati.
" Ada yang di sembunyikan dari kita." Kata Yanna, membuatku kembali mengerutkan kening. " Termasuk Mas, yang gak cerita ke aku siapa sebenarnya Nana."
" Maksudnya?" Tanyaku, masih belum jelas Yanna bertanya apa.
" Apa Mas gak perhatikan perubahan Nana? Apa mas gak lihat wajah Nana yang muram, gak lihat kalau dia senyum maksa. gak lihat anak perempuanku selalu menangis setiap malam sampai adiknya menenangkannya! Aku seperti ibu bodoh, ibu yang gak peduli penderitaan anak, yang gak peduli anak tertekan dan menyimpan semuanya sendiri. Aku ini ibu tiri yang jahat mas! Jahat." Ucap Yanna, menutup wajahnya dengan ke dua tangannya dan mendengar tangisan Yanna kembali.
" Yan? Hay, sayang. tenang, tenang. Ada apa?" Ucapku yang langsung memeluk tubuh istriku.
" Ada apa? Bicara yang pelan. Jangan menangis." Imbuhku, sambil menenangkan Yanna.
" Nana bilang ke aku, kalau setiap malam dia selalu menangis. Selalu di tenangin sama Naufal. Aku tanya, 'Kenapa?' Tapi Nana gak jawab mas." Ucap Yanna. " Aku tanya ke Naufal, kalau memang Nana sering nangis setiap malam, tapi penyebabnya bukan Naufal." Imbuhnya dan diam kembali menangis.
" Terus apa penyebabnya Yan?" Tanyaku, semakin penasaran
" Nana bilang ke Naufal. Kalau dia bukan anak Papa Rama." Jawab Yanna, membuat tubuhku tegang, mataku lurus menajam dan jantungku seakan berhenti mendengar jawaban Yanna.
Bukan anak papa Rama?
Nana?
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃